Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

”Imajinasi Penggerak Ilmu” bisa dirayakan ti dak untuk dilaksanakan.

Expand Messages
  • Vincent Liong
    N O T E Baca tulisan asli: ”Imajinasi Penggerak Ilmu” klik:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/04/humaniora/3738655.htm
    Message 1 of 2 , Aug 4, 2007
    • 0 Attachment
      N O T E

      Baca tulisan asli: ”Imajinasi Penggerak Ilmu”
      klik:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/04/humaniora/3738655.htm
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2233

      Ingin membalas email ini? klik e-link:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2235
      http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/22066
      ====================================================



      ”Imajinasi Penggerak Ilmu” bisa dirayakan tidak untuk
      dilaksanakan.

      Kepada Yth: Penulis tulisan ”Imajinasi Penggerak Ilmu”
      di Koran Kompas Sabtu, 04 Agustus 2007 bagian
      Humaniora.
      From: Vincent Liong (Pendiri Kompatiologi).



      Perkenalkan nama saya Vincent Liong, Pendiri
      Kompatiologi (ilmu non sekolahan). Email ini saya
      tujukan untuk mengomentari tulisan anda yang berjudul
      ”Imajinasi Penggerak Ilmu”. Mengapa saya merasa perlu
      mengomentari tulisan ini?

      Kebanyakan tokoh-tokoh yang turut membahas masalah ini
      dalam diskusi seperti yang dilaporkan melalui tulisan
      anda adalah ilmuan dari kalangan sekolahan yang
      mengenyam pendidikan yang memiliki sudutpandang
      metodologi penelitian yang dimulai dari:
      memformulasikan permasalahan, mengkonsepkan disain
      penelitian, membuat instrumen pengambilan sample,
      memilih sample, membuat proposal penelitian, mengambil
      data, memeroses data, hingga membuat laporan hasil
      penelitian. Penelitian kelas ini adalah penelitian
      kelas “tukang” yang tidak memungkinkan adanya kelas
      “penemu”, karena tiap tukang bekerja untuk menjawab
      “why” atas sesuatu yang sudah ada sebelumnya.


      Bagaimanapun membahas masalah penting dalam
      pengembangan ilmupengetahuan seperti yang anda
      sebutkan dalam tulisan anda:

      “Sesungguhnya, imajinasi dan intuisi yang terutama
      menggerakkan terciptanya teori dan temuan ilmiah,
      seperti juga terjadi pada dunia sastra. Sayangnya,
      pikiran dan perasaan serta intuisi sering kali
      dianggap sebagai hal yang berlawanan.”

      "Imajinasi serta rasa keindahanlah yang pertama-tama
      dan terutama menggerakkan penemuan-penemuan ilmiah
      serta pemilihan teori. Bukan rasionalitas bermodelkan
      algoritmik sebagaimana banyak dimunculkan dalam
      risalah-risalah filsafat sains," ujar Karlina.

      : Hal semacam ini hanya bisa dirayakan, tetapi tidak
      bisa dijawab dengan suatu solusi oleh mereka yang
      berbackground system penelitian ala lembaga pendidikan
      (sekolahan) resmi yang memang filsafatnya sudah
      dibatasi oleh filsafat barat yang start dari “why”
      (tugas tukang untuk menjawab).


      Ijinkan saya menceritakan sejarah proses pembentukan
      ilmu saya, Kompatiologi:

      (Dikutip dari: ”Mengembalikan Kompatiologi Ke Jalur
      Semula” e-link:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2234
      bagian: VINCENT LIONG DAN KOMPATIOLOGI )
      “””””
      Pada awal pembentukannya (sebelum dinamai dengan nama
      apapun), apa yang dalam perkembangannya disebut
      kompatiologi adalah sebuah permainan asosiasi yang
      secara rutin dimainkan oleh Vincent Liong dan beberapa
      pengikut / penggemar tulisan Vincent Liong, yang
      secara rutin bertemu dengan Vincent Liong. Pada tahap
      ini tidak ada satupun tujuan untuk menjadikan
      permainan asosiasi itu sebagai sebuah ilmu, bentuknya
      pun masih tidak sistematis seperti kompatiologi, yang
      saat ini hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk
      instalasi.

      Mulai munculnya tujuan penggunaan metodologi tsb untuk
      hal yang lebih berguna hadir secara tidak sengaja
      ketika beberapa peserta permainan tsb melaporkan efek
      samping dalam perubahan cara mereka menghadapi hidup
      mereka sehari-hari. Karena laporan ini Vincent Liong
      merubah tujuan dari sekedar bermain-main menjadi
      mencoba men-sistematisasi metode yang ada menjadi
      lebih sederhana dan sistematis, dengan tetap
      memperhatikan hasil pada subject yang menggunakan,
      seiring dengan perubahan-perubahan yang dimasukkan ke
      metode tsb. Selama proses perjalanannya apa yang
      sekarang disebut Kompatiologi sempat mengalami
      perubahan-perubahan sebutan, bahkan sempat diusulkan
      oleh Leonardo Rimba disebut sebagai ‘pineal
      re-programming’, tetapi ternyata tidak sesuai karena
      tidak menggunakan pemfokusan ke kelenjar pineal saja,
      jadi dikembalikan ke bentuk paradigma asalnya yang
      dibuat dan diperbaiki secara bertahap selama
      percobaan-percobaan berlangsug.

      Diawali oleh Juswan Setyawan pada Juli 2006 penelitian
      kompatiologi akhirnya bekerja dalam dua kelompok
      berdasarkan tugasnya; Vincent Liong bertanggungjawab
      pada eksperimen metodologinya, Juswan Setyawan dan
      bekas ter-dekon yang lain (yang menulis berbagai
      kitab) bertanggungjawab membuat penjelasan untuk
      pengguna, metaanalisis, perbandingan dengan
      ilmupengetahuan lain yang sudah ada, dlsb.

      Metodologi Kompatiologi tidak banyak lagi berubah
      sejak Desember 2006 karena dirasa sudah cukup efektif
      dan efisien. Seiring dengan hal tsb muncul dorongan
      dari ‘para penulis’ (yang bersama Juswan Setyawan
      bertanggungjawab membuat penjelasan untuk pengguna,
      meta analisis, perbandingan dengan ilmupengetahuan
      lain yang sudah ada, dlsb) mengajak agar Vincent Liong
      juga membuat penjelasan versi Vincent Liong sendiri
      tentang ilmu kompatiologi.

      Setelah beberapa waktu, akhirnya sedikit demi sedikit
      secara terpotong-potong Vincent Liong mulai menulis
      sudutpandangnya tentang kompatiologi. Awalnya model
      tulisannya adalah pembahasan tekhnis tentang metode
      kompatiologi, lalu secara bertahap berubah menjadi
      pandangan Vincent Liong sendiri tentang pemikirannya
      secara subjective sebagai penulis dan sebagai pendiri
      ilmu kompatiologi.

      Permasalahan timbul ketika pembaca tidak lagi
      memperhatikan tulisan-tulisan penulis kitab-kitab
      kompatiologi, tetapi cenderung memperhatikan tulisan
      Vincent Liong sebagai pembuat rumus / metode
      kompatiologi. Masalahnya, sejak Januari 2007 hingga
      sekarang secara pribadi sebagai penulis; Vincent Liong
      sedang menghadapi masa transisi dari masa bersekolah
      menjadi masa tidak bersekolah. Sudutpandang pemikiran
      Vincent Liong yang menulis sebagai dirinya sendiri;
      banyak menulis tentang masalah survival, naluri,
      insting kebinatangan, dlsb karena berhubungan dengan
      pertarungan konsep-konsep ketidakpastian dalam hidup
      dirinya sendiri.

      Dari tahap ini, timbul dua kelompok pengguna
      kompatiologi yang hasilnya jelas-jelas berbeda:
      * Bagi yang orangnya cenderung praktikal; Mereka fokus
      pada pengalaman sendiri ketika dekon dan
      mengaplikasikan apa yang didapatkan dari dekon;
      hasilnya menjadi manusia seutuhnya, bukan insting
      (naluri) saja, bukan intuisi saja. Hidup jadi lebih
      sederhana, take it easy, enjoy the life, karena bukan
      meyakini sesuatu tetapi paham posisi tiap hal /
      variabel yang ada dalam hubungannya satu dengan yang
      lain dalam bahasanya sendiri, sehingga bebas
      mengarahkan dirinya sendiri.
      * Bagi yang orangnya cenderung teoritis; Mereka fokus
      pada mengamati Vincent Liong dan meniru sikap dan
      prilaku Vincent Liong sebagai pribadi, beberapa
      malahan samasekali tidak menerapkan apa yang
      dipelajari dari metode kompatiologi.

      “””””


      Tiap cara pendekatan dalam proses pembentukan suatu
      ilmu memiliki masalahnya masing-masing.

      * Dari Pikiran (di dalam diri) ke Realita (di luar
      diri);
      Kalau start dari “why sampai ketemu the answer“
      seperti ala sekolahan maka masalahnya adalah
      penjelasan ala ‘rasionalitas bermodelkan algoritmik’
      akan amat sangat jelas dan sulit dibantah, tetapi
      kontrol dalam praktikalnya lemah atau tidak fleksible.

      Dari Pikiran (di dalam diri) ke Realita (di luar diri)

      * Dari Realita (di luar diri) ke Pikiran (di dalam
      diri);
      Kalau start dari ‘melihat sesuatu yang kebetulan
      ketemu, lalu secara tidak sengaja eh bisa diulangi
      dengan hasil mirip-mirip dan berguna, baru dibuat
      laporan-laporannya’ maka metodologi praktikalnya bisa
      amat jelas dan simple, kontrolnya kuat karena
      fleksible, tetapi rasionalitas bermodelkan
      algoritmiknya lemah. Penelitian tidak disibukkan untuk
      mencari metodologi praktikalnya dengan kontrol yang
      kuat, tetapi untuk menghadapi orang berbackground
      pendidikan yang berbasis filsafat barat (why) yang
      tidak mengijinkan pola penelitian dengan ‘pembuktian
      terbalik’. Jadi seperti semua harus ditiadakan dan
      dimulai dari why sampai ketemu answer seperti budaya
      filsafat barat. Masalah utamanya adalah mereka tidak
      peduli (menganggap tidak penting) pembuktian praktikal
      dulu, tetapi rasionalitas bermodelkan algoritmiknya
      harus jelas dan kuat baru boleh menyentuh pembuktian
      praktikal.

      Maka dari itu ilmuan yang seperti dalam perayaan anda
      ”Imajinasi Penggerak Ilmu” tidak pernah mau masuk ke
      lembaga pendidikan. Lari-larinya ke orang lapangan
      yang mau tahu hasil tetapi pendidikan tidak terlalu
      tinggi.

      Kami sempat menghadapi satu kasus yang cukup menarik
      bagaimana pola orang berbackground filsafat setelah
      gagal memaksa kami membahas kompatiologi di ranah
      pikiran saja tanpa praktikal menggunakan satu istilah
      dalam menghadapi kami yang disebutnya;”Olahraga
      Pikiran”. Filsafat Barat mengajarkan orang untuk
      bersifat objective (sebagai pengamat), tetapi dalam
      objectivitas anda tidak perlu bertanggungjawab pada
      subjectivitas (pelaku dalam kehidupan sehari-hari).
      Inilah mengapa pendidikan berbasis filsafat barat
      hanya mendidik teoritisi tetapi tetap saja bukan
      praktisi.


      (Dikutip dari: ”Mengembalikan Kompatiologi Ke Jalur
      Semula” e-link:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2234
      bagian: KOMPATIOLOGI DAN OLAHRAGA PIKIRAN )
      “””””
      Nah, tidak lama kemudian secara kebetulan muncul
      fenomena olahraga pikiran di maillist
      Psikologi_Transformatif@... . Budaya ini
      berusaha mengajak orang-orang untuk berpikir dan
      berinteraksi dengan sudutpandang ‘Why’ ala filsafat
      barat, dengan memposisikan manusia sebagai pengamat
      objective bukan pelaku; Sehingga apapun tindakan yang
      dilakukan dianggap tidak memiliki akibat real di dunia
      nyata.

      Kalau kita perbandingkan antara realita dalam
      paradigma kompatiologi dan dalam olahraga pikiran,
      maka: seperti perbandingan antara seorang yang
      menembak temannya sadar bahwa ada konsekwensi bisa
      masuk penjara ; sedangkan kalau menembak teman di
      permainan game online seperti Counter Strike tidak
      akan membuat diri kita masuk penjara.

      Karena waktu kemunculannya bersamaan dengan masalah
      penyimpangan anggapan tentang apa itu kompatiologi,
      ini malah memperumit masalah yang sudah timbul.
      Beberapa praktisi kompatiologi yang masih suka
      bermain-main terbawa oleh budaya olahraga pikiran
      untuk menggabungkan kompatiologi dengan budaya tsb.

      Sadar tidak sadar mereka lupa bahwa ada perbedaan
      mendasar antara pemetaan dalam kompatiologi dan
      pemetaan dalam olahraga pikiran;
      * Dalam kompatiologi, jika seseorang menembak atau
      ditembak temannya, maka ada konsekwensi bisa membunuh
      atau terbunuh yang mengakibatkan dipenjara atau mati.
      * Dalam olahraga pikiran, jika seseorang menembak atau
      ditembak temannya, maka yang ada hanya konsekwensi
      emosional menang atau kalah, tidak ada konsekwensi
      realistik seperti masuk penjara atau terbunuh.

      Efek samping yang timbul adalah budaya ini membuat
      pengamat dan praktisi kompatiologi yang terjerumus
      menjadi seseorang yang lupa bahwa apapun yang
      dilakukan, yang mempengaruhi dunia nyata memiliki
      konsekwensi nyata pula. Beberapa yang terbawa seperti
      misalnya Audifax dan Cornelia Istiani lupa bahwa
      meskipun provokator budaya ini yaitu Pabrik_T dan
      Hautesurveilance kalau diajak bicara tampak tidak
      memiliki niat dan tujuan apapun, tidak berego dan
      tidak beremosi, seolah hanya mendidik orang untuk
      lihai bermain memainkan variabel kelemahan orang lain
      untuk mengalahkannya, tetapi dalam hubungan antar
      manusia di dunia nyata; manusia di luar pemain budaya
      olahraga pikiran masih menganut hukum sebab-akibat
      yang kongkrit.

      Bilamana kita berkhianat, berbohong, menggosipi, black
      mail, mengancam keluarga orang, maka ada konsekwensi
      kita kehilangan teman, dimusuhi, atau kehidupan
      sehari-hari kita di dunia nyata juga terancam karena
      ada pihak yang mengalami konsenkwensi dirugikan. Ini
      bukan Counter Strike yang dimana anda tinggal
      mematikan komputer atau me-reset permainan dan tidak
      ada konsekwensi nyata yang harus dihadapi.

      Untunglah hanya sedikit praktisi kompatiologi yang
      terjerumus meskipun banyak pengamat kompatiologi yang
      terlanjur menikmati aturan main di realita budaya yang
      baru itu. Sebagian praktisi juga sudah sadar dan
      memilih menjaga jarak agar tidak terkena efek samping
      yang merugikan. Sebagian lagi terlanjur terlibat
      secara mendalam sehingga kalau keluar dari permainan
      pun tetap sudah kehilangan teman, jadi memilih tetap
      bermain. Saya sebagai pendiri kompatiologi berusaha
      menarik satu-per-satu yang masih bisa diselamatkan dan
      meninggalkan yang terlanjur dalam.

      Budaya Olahraga Pikiran ini sendiri dibuat lalu
      di-infeksikan ke komunitas kompatiologi untuk
      menjatuhkan nama Vincent Liong dan kompatiologi
      sebagai ilmu di luar institusi mainstream berbasis
      ‘filsafat barat’ (yang cenderung suka membahas ‘Why’).
      Dengan harapan masyarakat menganggap kompatiologi
      sebagai gerakan yang membuat orang menjadi anarkis dan
      destruktif sehingga harus dijauhi.

      Untuk menjaga resiko-resiko akan hal ini, saya sebagai
      pendiri kompatiologi dalam tulisan ini melampirkan
      juga biodata dan latarbelakang pribadi dan kelompok
      Nuruddin Asyhadie yang merancang usaha pembusukan ini
      bersama tim kerjanya wongsosubali, hautesurveilance,
      meitaurus, lu2, dlsb dengan mencantumkan juga
      nama-nama organisasi yang dimungkinkan terkait dengan
      rencana pembusukan ini sebagai usaha memberantas
      gerakan-gerakan di luar mainstream filsafat barat yang
      menjadi dasar lembaga-lembaga pendidikan resmi yang
      berkuasa di jaman ini.

      “””””


      Selama masih berkutat pada pemikiran, teoritisi bukan
      praktisi maka hal seperti yang dibahas dalam
      ”Imajinasi Penggerak Ilmu” adalah hal yang bisa
      rayakan, tetapi tetap mimpi-mimpi yang tidak pernah
      mungkin tercapai. Karena memang aturannya yang
      membuatnya tidak bisa terjadi. Masalahnya aturan
      lembaga pendidikan formal berbasis filsafat tidak
      memungkinkan adanya penelitian yang tidak start dari
      ‘rasionalitas bermodelkan algoritmik’ lalu sudah
      sampai pada pengamatan atas data empiris.

      Seperti yang kami alami dalam berhadapan dengan
      pendidikan formal.


      Ttd,
      Vincent Liong
      Jakarta, Sabtu, 4 Agustus 2007





      LAMPIRAN TULISAN

      MENGEMBALIKAN KOMPATIOLOGI KE JALUR SEMULA
      Penjelasan resmi Vincent Liong tentang apa yang
      terjadi dan usaha untuk mengembalikan kompatiologi ke
      jalur semula ...

      Ditulis oleh : Vincent Liong / Liong Vincent
      Christian.
      Tempat / Hari / Tanggal : Jakarta, Jumat, 27 Juli
      2007.




      PENDAHULUAN

      Pembusukan terhadap kompatiologi terjadi dari pihak
      luar dan dalam kelompok sahabat-sahabat diantara
      praktisi kompatiologi sendiri secara sengaja maupun
      tidak sengaja.

      Dari luar kelompok persahabatan kompatiologi dilakukan
      oleh kelompok Pabrik_T dengan berusaha menyusupkan
      pemahaman budaya olahraga pikiran kepada para pengamat
      dan praktisi kompatiologi.

      Dari dalam kelompok kompatiologi dilakukan dengan
      usaha pembelokan penjelasan-penjelasan tentang fungsi
      kompatiologi dari sebagai ilmu yang bekerja di ranah
      insting (naluriah) dan intuisi ; Menjadi ilmu yang
      tidak seimbang karena hanya bekerja di ranah insting
      (naluriah). Hal ini terjadi akibat dua hal:
      * Orang berusaha menyamakan Kompatiologi dengan
      prilaku dan tulisan-tulisan Vincent Liong.
      * Tulisan Leonardo Rimba (bukan praktisi Kompatiologi)
      bahwa kompatiologi tidak mampu membantu sekaligus
      menghalagi intuisi penggunanya, sehingga memerlukan
      program Rekon untuk menyelamatkan para pengguna
      kompatiologi. Hal ini dapat dilakukan dengan
      memanfaatkan fenomena usaha memasukkan budaya olahraga
      otak oleh kelompok Pabrik_T secara sengaja maupun
      tidak sengaja.

      Dalam email saya kali ini, untuk menyelamatkan
      anggapan-anggapan menyimpang tentang Kompatiologi dan
      penerapannya maka saya akan menjelaskan satu demi satu
      hal tsb di atas secara mendetail.



      VINCENT LIONG DAN KOMPATIOLOGI

      Yang membuat kompatiologi sulit diterima oleh
      institusi pendidikan resmi yang ada adalah: karena
      proses pembentukan kompatiologi yang tidak melalui
      proses yang umum dilalui oleh ilmupengetahuan
      institusional yang lain.

      Pada awal pembentukannya (sebelum dinamai dengan nama
      apapun), apa yang dalam perkembangannya disebut
      kompatiologi adalah sebuah permainan asosiasi yang
      secara rutin dimainkan oleh Vincent Liong dan beberapa
      pengikut / penggemar tulisan Vincent Liong, yang
      secara rutin bertemu dengan Vincent Liong. Pada tahap
      ini tidak ada satupun tujuan untuk menjadikan
      permainan asosiasi itu sebagai sebuah ilmu, bentuknya
      pun masih tidak sistematis seperti kompatiologi, yang
      saat ini hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk
      instalasi.

      Mulai munculnya tujuan penggunaan metodologi tsb untuk
      hal yang lebih berguna hadir secara tidak sengaja
      ketika beberapa peserta permainan tsb melaporkan efek
      samping dalam perubahan cara mereka menghadapi hidup
      mereka sehari-hari. Karena laporan ini Vincent Liong
      merubah tujuan dari sekedar bermain-main menjadi
      mencoba men-sistematisasi metode yang ada menjadi
      lebih sederhana dan sistematis, dengan tetap
      memperhatikan hasil pada subject yang menggunakan,
      seiring dengan perubahan-perubahan yang dimasukkan ke
      metode tsb. Selama proses perjalanannya apa yang
      sekarang disebut Kompatiologi sempat mengalami
      perubahan-perubahan sebutan, bahkan sempat diusulkan
      oleh Leonardo Rimba disebut sebagai ‘pineal
      re-programming’, tetapi ternyata tidak sesuai karena
      tidak menggunakan pemfokusan ke kelenjar pineal saja,
      jadi dikembalikan ke bentuk paradigma asalnya yang
      dibuat dan diperbaiki secara bertahap selama
      percobaan-percobaan berlangsug.

      Diawali oleh Juswan Setyawan pada Juli 2006 penelitian
      kompatiologi akhirnya bekerja dalam dua kelompok
      berdasarkan tugasnya; Vincent Liong bertanggungjawab
      pada eksperimen metodologinya, Juswan Setyawan dan
      bekas ter-dekon yang lain (yang menulis berbagai
      kitab) bertanggungjawab membuat penjelasan untuk
      pengguna, metaanalisis, perbandingan dengan
      ilmupengetahuan lain yang sudah ada, dlsb.

      Metodologi Kompatiologi tidak banyak lagi berubah
      sejak Desember 2006 karena dirasa sudah cukup efektif
      dan efisien. Seiring dengan hal tsb muncul dorongan
      dari ‘para penulis’ (yang bersama Juswan Setyawan
      bertanggungjawab membuat penjelasan untuk pengguna,
      meta analisis, perbandingan dengan ilmupengetahuan
      lain yang sudah ada, dlsb) mengajak agar Vincent Liong
      juga membuat penjelasan versi Vincent Liong sendiri
      tentang ilmu kompatiologi.

      Setelah beberapa waktu, akhirnya sedikit demi sedikit
      secara terpotong-potong Vincent Liong mulai menulis
      sudutpandangnya tentang kompatiologi. Awalnya model
      tulisannya adalah pembahasan tekhnis tentang metode
      kompatiologi, lalu secara bertahap berubah menjadi
      pandangan Vincent Liong sendiri tentang pemikirannya
      secara subjective sebagai penulis dan sebagai pendiri
      ilmu kompatiologi.

      Permasalahan timbul ketika pembaca tidak lagi
      memperhatikan tulisan-tulisan penulis kitab-kitab
      kompatiologi, tetapi cenderung memperhatikan tulisan
      Vincent Liong sebagai pembuat rumus / metode
      kompatiologi. Masalahnya, sejak Januari 2007 hingga
      sekarang secara pribadi sebagai penulis; Vincent Liong
      sedang menghadapi masa transisi dari masa bersekolah
      menjadi masa tidak bersekolah. Sudutpandang pemikiran
      Vincent Liong yang menulis sebagai dirinya sendiri;
      banyak menulis tentang masalah survival, naluri,
      insting kebinatangan, dlsb karena berhubungan dengan
      pertarungan konsep-konsep ketidakpastian dalam hidup
      dirinya sendiri.

      Dari tahap ini, timbul dua kelompok pengguna
      kompatiologi yang hasilnya jelas-jelas berbeda:
      * Bagi yang orangnya cenderung praktikal; Mereka fokus
      pada pengalaman sendiri ketika dekon dan
      mengaplikasikan apa yang didapatkan dari dekon;
      hasilnya menjadi manusia seutuhnya, bukan insting
      (naluri) saja, bukan intuisi saja. Hidup jadi lebih
      sederhana, take it easy, enjoy the life, karena bukan
      meyakini sesuatu tetapi paham posisi tiap hal /
      variabel yang ada dalam hubungannya satu dengan yang
      lain dalam bahasanya sendiri, sehingga bebas
      mengarahkan dirinya sendiri.
      * Bagi yang orangnya cenderung teoritis; Mereka fokus
      pada mengamati Vincent Liong dan meniru sikap dan
      prilaku Vincent Liong sebagai pribadi, beberapa
      malahan samasekali tidak menerapkan apa yang
      dipelajari dari metode kompatiologi.



      KOMPATIOLOGI DAN OLAHRAGA PIKIRAN

      Nah, tidak lama kemudian secara kebetulan muncul
      fenomena olahraga pikiran di maillist
      Psikologi_Transformatif@... . Budaya ini
      berusaha mengajak orang-orang untuk berpikir dan
      berinteraksi dengan sudutpandang ‘Why’ ala filsafat
      barat, dengan memposisikan manusia sebagai pengamat
      objective bukan pelaku; Sehingga apapun tindakan yang
      dilakukan dianggap tidak memiliki akibat real di dunia
      nyata.

      Kalau kita perbandingkan antara realita dalam
      paradigma kompatiologi dan dalam olahraga pikiran,
      maka: seperti perbandingan antara seorang yang
      menembak temannya sadar bahwa ada konsekwensi bisa
      masuk penjara ; sedangkan kalau menembak teman di
      permainan game online seperti Counter Strike tidak
      akan membuat diri kita masuk penjara.

      Karena waktu kemunculannya bersamaan dengan masalah
      penyimpangan anggapan tentang apa itu kompatiologi,
      ini malah memperumit masalah yang sudah timbul.
      Beberapa praktisi kompatiologi yang masih suka
      bermain-main terbawa oleh budaya olahraga pikiran
      untuk menggabungkan kompatiologi dengan budaya tsb.

      Sadar tidak sadar mereka lupa bahwa ada perbedaan
      mendasar antara pemetaan dalam kompatiologi dan
      pemetaan dalam olahraga pikiran;
      * Dalam kompatiologi, jika seseorang menembak atau
      ditembak temannya, maka ada konsekwensi bisa membunuh
      atau terbunuh yang mengakibatkan dipenjara atau mati.
      * Dalam olahraga pikiran, jika seseorang menembak atau
      ditembak temannya, maka yang ada hanya konsekwensi
      emosional menang atau kalah, tidak ada konsekwensi
      realistik seperti masuk penjara atau terbunuh.

      Efek samping yang timbul adalah budaya ini membuat
      pengamat dan praktisi kompatiologi yang terjerumus
      menjadi seseorang yang lupa bahwa apapun yang
      dilakukan, yang mempengaruhi dunia nyata memiliki
      konsekwensi nyata pula. Beberapa yang terbawa seperti
      misalnya Audifax dan Cornelia Istiani lupa bahwa
      meskipun provokator budaya ini yaitu Pabrik_T dan
      Hautesurveilance kalau diajak bicara tampak tidak
      memiliki niat dan tujuan apapun, tidak berego dan
      tidak beremosi, seolah hanya mendidik orang untuk
      lihai bermain memainkan variabel kelemahan orang lain
      untuk mengalahkannya, tetapi dalam hubungan antar
      manusia di dunia nyata; manusia di luar pemain budaya
      olahraga pikiran masih menganut hukum sebab-akibat
      yang kongkrit.

      Bilamana kita berkhianat, berbohong, menggosipi, black
      mail, mengancam keluarga orang, maka ada konsekwensi
      kita kehilangan teman, dimusuhi, atau kehidupan
      sehari-hari kita di dunia nyata juga terancam karena
      ada pihak yang mengalami konsenkwensi dirugikan. Ini
      bukan Counter Strike yang dimana anda tinggal
      mematikan komputer atau me-reset permainan dan tidak
      ada konsekwensi nyata yang harus dihadapi.

      Untunglah hanya sedikit praktisi kompatiologi yang
      terjerumus meskipun banyak pengamat kompatiologi yang
      terlanjur menikmati aturan main di realita budaya yang
      baru itu. Sebagian praktisi juga sudah sadar dan
      memilih menjaga jarak agar tidak terkena efek samping
      yang merugikan. Sebagian lagi terlanjur terlibat
      secara mendalam sehingga kalau keluar dari permainan
      pun tetap sudah kehilangan teman, jadi memilih tetap
      bermain. Saya sebagai pendiri kompatiologi berusaha
      menarik satu-per-satu yang masih bisa diselamatkan dan
      meninggalkan yang terlanjur dalam.

      Budaya Olahraga Pikiran ini sendiri dibuat lalu
      di-infeksikan ke komunitas kompatiologi untuk
      menjatuhkan nama Vincent Liong dan kompatiologi
      sebagai ilmu di luar institusi mainstream berbasis
      ‘filsafat barat’ (yang cenderung suka membahas ‘Why’).
      Dengan harapan masyarakat menganggap kompatiologi
      sebagai gerakan yang membuat orang menjadi anarkis dan
      destruktif sehingga harus dijauhi.

      Untuk menjaga resiko-resiko akan hal ini, saya sebagai
      pendiri kompatiologi dalam tulisan ini melampirkan
      juga biodata dan latarbelakang pribadi dan kelompok
      Nuruddin Asyhadie yang merancang usaha pembusukan ini
      bersama tim kerjanya wongsosubali, hautesurveilance,
      meitaurus, lu2, dlsb dengan mencantumkan juga
      nama-nama organisasi yang dimungkinkan terkait dengan
      rencana pembusukan ini sebagai usaha memberantas
      gerakan-gerakan di luar mainstream filsafat barat yang
      menjadi dasar lembaga-lembaga pendidikan resmi yang
      berkuasa di jaman ini.



      KOMPATIOLOGI DALAM INSTING DAN INTUISI

      Fenomena pembusukan kompatiologi melalui penyusupan
      budaya Olahraga Pikiran oleh ‘Pabrik_T’(Nuruddin
      Asyhadie) dan kawan-kawannya memungkinkan
      produk-produk baru yang muncul dengan memanfaatkan
      fenomena pembusukan kompatiologi.

      Salahsatu diantaranya teman saya sendiri Leonardo
      Rimba yang mencoba membuat produk Rekon dan Mata
      Ketiga yang diisukan sebagai paket penyembuhan atau
      perbaikan dari kerusakan yang diakibatkan oleh
      pengajar kompatiologi yang secara tidak
      bertanggungjawab, membuat orang instingtif naluriah
      saja tanpa memiliki kemampuan intuitif sehingga
      bertarung membabibuta seperti binatang.

      Ketika saya pergi dengan mas Leonardo Rimba ke Solo
      beberapa waktu lalu Leonardo Rimba malah secara
      terang-terangan di depan saya mengatakan kepada pihak
      yang mengajak saya bahwa kekacauan di maillist
      Psikologi_Transformatif dibuat dan dilakukan oleh
      murid-murid saya sebagai usaha menerapkan kompatiologi
      seperti yang dilakukan Audifax, Pabrik_T, dlsb. Bahwa
      semua tulisan, omongan penjelasan mengenai
      kompatiologi, dlsb dibuat dan dikatakan Vincent Liong
      untuk membuat orang jadi error dan menjadi seperti
      binatang sehingga harus diperbaiki melalui Rekon dan
      Mata Ketiga oleh Leonardo Rimba.

      Konsekwensinya, selama perjalanan saya mendapat
      cacimaki dan menjadi banyolan dari pihak yang mengajak
      saya karena Leonardo Rimba memposisikan saya sebagai
      pihak yang sekedar membinatangkan manusia sehingga
      menjadi liar dan anarkis, lalu Leonardo Rimba yang
      menolong dengan memperkenalkan intuisi dalam hubungan
      manusia dengan Tuhan YME. Saya sempat mengingatkan
      Leonardo Rimba sepulang perjalanan kami agar tidak
      keterlaluan dalam mengorbankan teman sendiri untuk
      menaikkan diri sendiri. Semoga mas Leonardo Rimba
      mengerti dan tidak keterlaluan lagi dalam memposisikan
      saya di masa yang akan datang. Soal hal ini saya sudah
      memaafkan karena hal ini bisa terjadi juga karena
      ketidaksengajaan cara pandang Leonardo Rimba terhadap
      kompatiologi. Setelah saya menjelaskannya secara
      mendetail Leonardo Rimba mengatakan mengerti.



      PENUTUP

      Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa secara pribadi
      Vincent Liong memang sedang suka hal instingtif
      naluriah karena Vincent Liong sedang menghadapi
      transisi dalam perjalanan hidup dari anak sekolahan
      menjadi orang bebas yang harus berpikir mencari nafkah
      untuk kelangsungan hidup hari demi hari. Tetapi ilmu
      kompatiologinya sendiri berfungsi menyeluruh baik
      instingtif maupun intuitif. Dalam prakteknya tidak ada
      instingtif yang bisa bekerja tanpa intuitif karena
      secara mekanis setiap mekanisme memiliki kerjasama
      antara fungsi intuitif dan fungsi mekanis, contohnya:
      Data binair dari piringan hitam diterima melalui
      ‘sampling’ menggunakan jarum (intuitif). Lalu
      disalurkan ke ‘translater’ yang mengubah bahasa binair
      menjadi bahasa yang lebih kongkrit yaitu lagu yang
      enak didengar (instingtif).

      Selama permasalahan ini terjadi pengguna kompatiologi
      yang telah menerapkan kompatiologi tidak dirugikan
      samasekali karena kompatiologi hanyalah metodologi
      (rumus-rumus) yang tidak bisa terpengaruh oleh
      pembelokan cerita-cerita. Yang dirugikan adalah mereka
      yang berusaha mengerti penjelasan-penjelasan tentang
      apa itu kompatiologi tanpa mengalami sebagai pelaku
      kompatiologi; Merekalah dibelokkan oleh berbagai pihak
      yang berkepentingan.

      Yang sudah berlalu biarlah berlalu, yang masih bisa
      diperbaiki ya diperbaiki, yang tidak bisa diperbaiki
      ditinggalkan. Mari kita mulai lagi hubungan
      persahabatan yang bertanggungjawab pada konsekwensi di
      dunia nyata, kita harus berbenah lagi, tidak ada yang
      perlu dipersalahkan diantara kita. Bagi yang masih mau
      bermain di olahraga pikiran kita tinggalkan dan buat
      batas pemisah saja agar kita tidak terkena
      efeksampingnya.

      Para praktisi kompatiologi tetap praktik
      dekon-kompatiologi seperti biasa hanya disarankan
      jangan banyak menulis hal pribadi secara terbuka di
      maillist untuk sementara waktu, kalau hal tekhnis
      tentu perlu ditulis karena sekarang kompatiologi perlu
      berbenah diri lagi sedikit demi sedikit.

      Diskusi Kompatiologi tetap dilakukan di:
      http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/messages
      http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/messages

      Diskusi Kompatiologi TIDAK dilakukan di:
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/



      Hormat saya,


      Ttd,
      Vincent Liong
      (Founder of Kompatiologi)


      Note: Untuk sementara waktu disarankan agar praktisi
      kompatiologi tidak membahas hal pribadi dalam chatting
      dengan siapa saja karena telah terjadi blackmail
      terhadap beberapa teman kami yang diselenggarakan oleh
      para budayawan Olahraga Pikiran menggunakan
      agent-agent tidak dikenal, dengan cara pendekatan
      pribadi hingga rahasia-rahasia pribadi yang bisa
      dijadikan blackmail dikatakan secara sengaja atau
      tidak sengaja lalu ketika dibutuhkan file-file nya
      digunakan sebagai blackmail untuk memecahbelah
      hubungan antar kerabat keluarga serumah. Seperti yang
      sudah terjadi terhadap teman kita Mochamad Riza, Adhi
      Purwono, Pipit, dlsb.





      LAMPIRAN 01
      Biodata Nuruddin Asyhadie (Pabrik_T / Pabrik Tontonan)
      (Kepala provokator, budayawan Olahraga Pikiran)

      Nuruddin Asyhadie, Lahir di Mojokerto, 27 Pebruari
      1976, beralamatl di "Padepokan Ngawu-awu Langit"
      Karang Bendo CT III/23c, Jl. Kaliurang Km 5
      Yogyakarta.
      E-mail: asyhadi-@....

      Menamatkan sekolah menengah di SMA Negeri 6 Surabaya,
      lulus 1993/1994 dan kini sedang menyelesaikan
      skripsinya tentang gramatology Jaques Derrida di
      Fakultas
      Filsafat UGM Yogyakarta.

      Aktif di Teater Sanggar Shalahuddin Yogyakarta, sempat
      menjadi wartawan Yogya Pos, 1995-1996, kini Redaktur
      Jurnal Filsafat Kaca Mata, Kelompok Bermain Kaca Mata
      dan Direktur Riset dan Penerbitan Pabrik Tontonan.
      Beberapa sajaknya pernah mendapatkan penghargaan
      sebagai Nominasi Kejuaraan 5 Puisi Kategori Nominasi
      Lomba Cipta Puisi Remaja, Perhimpunan Persahabatan
      Indonesia-Amerika (PPIA) dan Forum Apresiasi Sastra
      Surabaya (FASS), dalam rangka Festival Puisi Indonesia
      XIII (1992), Juara I Lomba Cipta Puisi St. Louis 2
      Cup I (1993), Pemenang Ketiga Lomba Cipta Puisi
      Se-Indonesia, Teater Kene, Tabanan Bali, (1993),
      Sembilan puisi terbaik Lomba Cipta Puisi Perdamaian
      "Art and Peace" (1999) Wianta Foundation.
      Karya-karyanya yang lain Angin Lalu (1994)
      dipentaskan oleh Kelompok Doyan Kerja Surabaya pada
      tahun yang sama. Sastra Jendra (1995) dipentaskan oleh
      sanggar Shalahuddin Yogyakarta pada tahun yang sama.
      Berapa Harga 1 Kg Puisi?, reportoar bersama Kelompok
      Doyan Kerja Surabaya, 1997. Menyingsing Fajar (1993),
      kumpulan puisi bersama 12 penyair muda se-Indonesia,
      diterbitkan oleh Teater Kene, Tabanan Bali.





      LAMPIRAN 02
      LAMPIRAN Info 'Pendekon' (Pengajar) Kompatiologi
      Last update: 14 Juli 2007 (berlaku sampai update
      berikutnya)


      Maillist-maillist tempat diskusi Kompatiologi
      (unmoderated):
      * http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
      * http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
      *
      http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about


      ISI LAMPIRAN
      * Daftar kelompok pengembang Kompatiologi.
      * Daftar pengajar Kompatiologi cabang Jakarta.
      * Daftar penasehat Kompatiologi cabang Jakarta.
      * Daftar pengajar Kompatiologi cabang daerah (di luar
      Jakarta; Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo &
      Purwokerto,.)
      * Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
      Kompatiologi ke Kota Anda.

      Note: Keterangan tentang ciri-ciri dan spesialisasi
      masing-masing pribadi pendekon ditulis oleh Vincent
      Liong & Leonardo Rimba.


      YANG PERLU DIPERHATIKAN:
      * By appointment only. Biasanya pendekon membawa
      pendekon dari cabang lain bilamana jumlah terdekon di
      luar kemampuan pendekon dengan tujuan untuk menjaga
      standart kwalitas hasil dekon.
      * Wajib konformasi sehari sebelum hari appointment dan
      hari yang sama sebelum dekon.
      * Tidak melayani tanya-jawab via sms dan misscall.
      * Biasanya acara dekon berlangsung selama empat jam.
      Dilarang meninggalkan acara sebelum acara selesai.
      * Order proyek luar kota, seminar, wawancara pers,
      dlsb hubungi & deal langsung dengan masing-masing
      praktisi.
      * Disarankan (tidak wajib) terdekon membawa teman yang
      tinggal satu area / lingkungan pergaulan dengannya
      agar memiliki teman sharing tentang penerapan
      kompatiologi pasca dekon-kompatiologi, agar
      perkembangan pasca dekon lebih cepat dan terkontrol.
      * Tiap pendekon bekerja dan bertanggungjawab secara
      independent. Tanggungjawab kepada klien adalah pada
      masing-masing praktisi yang menjadi pendekon pilihan
      anda.
      * Praktisi kompatiologi tidak memberikan jaminan
      apapun terhadap klien. Segala resiko dari proses
      dekonstruksi ditanggung oleh klien sendiri.
      * Tarif yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu
      tanpa pemberitahuan (baik diubah oleh Vincent Liong
      maupun oleh masing-masing pendekon sendiri tanpa
      memberitahu Vincent Liong).
      * Kompatiologi juga membuka diri untuk donasi /
      sumbangan biaya penelitian yang sifatnya pribadi
      karena dilakukan oleh masing-masing pendekon atas
      kemauan & usaha sendiri. Sumbangan berupa uang dapat
      ditransfer ke bank account atau secara tunai(cash).
      * Untuk informasi yang belum disebutkan di atas dapat
      menanyakan langsung kepada pendekon.



      KELOMPOK PENGEMBANG KOMPATIOLOGI

      * ADHIPITALOKA (di Jakarta)
      Founder: Adhi Purwono & Ardiningtiyas Pitaloka.

      * "DeRiDa" (di Jakarta)
      Founder: DaDE (M. PRABOWO), RIo Panjaitan & DAyapala
      Pema Lodoe (Steven Tjoeng).



      PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

      * ONNY LEWIS
      Onny adalah seorang yang mendalami penerapan
      kompatiologi dalam hubungan dengan alam sekitar
      seperti misalnya cuaca; arah angin, awan, tekanan
      udara, kelembaban udara, dlsb.
      Lokasi dekon: (belum ditentukan)
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      Hp: 081319780747 & 08158204530

      * ARRY RAHMAN
      Arry adalah seorang yang tidak terlalu meributkan
      definisi, handal dalam instuisi yang bahkan bagi
      dirinya tidak terlalu peduli pada pendefinisian.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan.
      Jadwal by Appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA flexi: 021-68661220

      * ANDY FERDIANSYAH
      Andi memfokuskan diri pada karaktristik sensasi untuk
      pengekspresian diri. Andi saat ini masih kuliah di
      Institut Kesenian Jakarta, jurusan film dan televisi,
      spesialisasi penulisan skenario, angkatan 2003.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan.
      Jadwal by Appointment, hanya bisa di hari minggu saja.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      Hp: 085691039071 & email: tinta_negatif@...

      * ARDININGTIYAS PITALOKA
      Bagaimana seorang wanita yang dididik dengan budaya
      masa lalu, menjadi diri sendiri di masa postmoderen.
      Lokasi dekon: Mall Kelapa Gading, Plaza Senayan &
      Senayan City.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA fren 08888585029 & Hp: 081802894243.

      * MARWAN M.
      Marwan, menekuni pencarian diri bagi orang yang
      berminat meninggalkan nilai-nilai tradisional, untuk
      masuk ke masa postmoderen, dengan memilih sendiri
      unsur apa yang harus dipertahankan dan unsur apa yang
      harus diambil dari luar budayanya sendiri.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City & Mall Taman
      Anggrek.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-93710900 & Hp: 0818888653.

      * STEVEN TJOENG (alias: Dayapala Pema Lodoe)
      Steven adalah universalis pencari kebenaran sejati
      untuk membantu manusia lainnya mengakhiri permasalahan
      hidupnya.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-93332223 & Hp: 081381381311.

      * FARIS FREDY PUTRANTO
      Fredy adalah pribadi yang work hard & play hard.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Senayan,
      Senayan City & Plaza Semanggi.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      Hp: 085697868012.

      * DADE (M. PRABOWO)
      Dade adalah pribadi yang banyak mendalami aliran yang
      bersifat sufistik / tasawuf.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
      Mall Kelapa Gading.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-98805716 & Hp: 081808862171.

      * RIO PANJAITAN
      Rio adalah pribadi yang pribadi yang memiliki
      background tekhnik beladiri & filosofi Aikido, dan
      filsafat Bushido yang adalah warisan budaya Jepang.
      Mengkhususkan diri bagi mereka yang memiliki semangat
      pengabdian dalam bidang apapun.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
      Mall Kelapa Gading.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-99068707 & Hp: 081380530125.

      * ADHI PURWONO
      Adhi mampu mengerti pengalaman-pengalaman sikofren
      yang berasal dari masa kanak-kanak yang berlanjut ke
      masa dewasa dan masalah yang berkaitan dengan hubungan
      antar pribadi.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City, Mall Taman
      Anggrek & Mall Puri Indah.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA flexi: 021-68812660 & fren: 08886187085.
      Bank Account: Bank BNI cabang Harmoni.
      A/c: 1810500-6 A/n: Adhi Purwono.

      * VINCENT LIONG (Pendiri & Penemu ilmu Kompatiologi)
      Vincent adalah pendiri & penemu Kompatiologi, secara
      pribadi berminat pada masalah eksistensi & adaptasi
      diri terhadap lingkungan.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan & Senayan City.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.500.000,- per peserta di Plaza Senayan
      & Senayan City.
      CDMA flexi: 021-70006775 & esia: 021-98806892 (untuk
      di Jakarta saja).
      CDMA fren: 08881333410 (untuk di Jakarta & luar kota).

      Telp: 021-5482193, 5348567 Fax: 021-5348546
      Bank Account: Bank BCA cabang Permata Hijau.
      A/c: 178-117-9600 A/n: Liong Vincent Christian.



      PENASEHAT KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

      CORNELIA ISTIANI
      Istiani mengkhususkan diri pada mereka yang berasal
      dari bidang Psikometri dan Pendidikan dalam
      hubungannya dengan ilmu Kompatiologi.
      Hp: 081585228174 CDMA flexi: 021-68358037
      CDMA fren: 08886167847 (untuk di Jakarta & luar kota).

      JUSWAN SETYAWAN
      Juswan adalah penulis & edukator piawai dalam bidang
      kedokteran populer.
      Hp: 08159162193

      LEONARDO RIMBA
      Leonardo Rimba, ilmuan politik yang bergerak di bidang
      metafisika praktis.
      Hp: 0818183615



      PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG DAERAH

      * Cabang SOLO
      Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
      peserta.
      - Sunu (Hp: 08122651357 CDMA flexi: 0271-7072879)
      Sunu adalah sarjana hukum yang sedang meneliti
      berbagai pendekatan praktis bagi mereka yang sedang
      atau akan mempelajari kompatiologi.
      - Toto (CDMA fren: 08886702727 flexi: 0271-7035186 Hp:
      08552812005)
      Toto adalah filsuf sosial dengan pendekatan ilmiah
      populer yang penjelasannya sangat mudah dicerna oleh
      masyarakat umum.
      - Wawan Setiawan (Hp: 081932655888 CDMA fren:
      08882900288)
      Wawan mengkhususkan diri dalam memberikan pengarahan
      kepada mereka yang pernah, akan, atau sedang
      berkecimpung dalam dunia hitam di Indonesia dan
      hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
      - Alan Sarwono (Hp: 0811285540)
      Alan Sarwono mengkhususkan diri pada mereka yang telah
      menduduki posisi managerial menengah dan berambisi
      untuk mencapai jabatan tertinggi di organisasi bisnis
      mereka.
      - Aida (CDMA fren: 08882989050)
      Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
      dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
      - Agung PW (Hp: 081331139120)
      Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
      dalam bidang seni dan pendidikan.
      - Sukma (CDMA fren: 08886753831)
      Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
      dalam bidang seni visual terutama fotografi dan
      fenomena ke-Indigo-an.
      - Willy BS (Hp: 08179489889, 0816674069 CDMA flexi:
      0271-7016881)
      Willy, spesialis soal orangtua yang merasa dirinya
      atau anaknya bermasalah.

      * Cabang YOGYAKARTA
      Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
      peserta.
      - Lely Cabe (CDMA fren: 08882738729 Hp: 08170428081)
      Lely sangat memahami masalah-masalah lintasbudaya
      antar bangsa dan toleransi sosial.
      - Aida (CDMA fren: 08882989050)
      Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
      dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.

      * Cabang BANDUNG : Bimo Wikantiyoso
      Bimo sementara ini mengkhususkan diri untuk melayani
      mereka yang ingin menjadi adaptif dalam hal-hal
      spiritualitas dan pengendalian hal-hal keduniawian.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      CDMA fren: 08888405843 & Hp: 0816746770.

      * Cabang JAYAPURA(Papua) : Ondo Untung
      Ondo adalah pribadi yang lihai dalam menganalisa
      fenomena sosial-politik kontemporer.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
      Hp: 08128599710.



      Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
      Kompatiologi ke Kota Anda.
      Untuk mendatangkan / mengundang Vincent Liong, hal-hal
      yang perlu dipenuhi adalah sbb:

      1. AKOMODASI
      * Ada individu penanggungjawab / sponsor (local
      representative) yang jelas, yang mengatur acara &
      mengurus perekrutan peserta. Akan lebih baik bila
      individu penanggungjawab datang ke Jakarta sebelumnya
      untuk mengenal Vincent Liong dan Kompatiologi lebih
      dalam sebelum menjadi local representative di acara
      kunjungan Vincent Liong, agar tidak ada
      kesalahpahaman.
      * Tiket pesawat pergi & pulang ke kota tsb & akomodasi
      hotel dibelikan di muka.
      * Tambahan biaya satu juta rupiah untuk uang saku,
      dibayar di muka via transfer ke bank account.
      * Ada individu yang menemani, mengantarkan (fasilitas
      transportasi) & membiayai Vincent Liong berekreasi,
      sambil pendalaman kompatiologi secara informal di
      waktu luang agar tidak bosan / jenuh saat di kota tsb.
      * Biasanya acara kunjungan dilakukan selama seminggu
      sampai dua minggu untuk mempersiapkan kompatiologi
      cabang daerah yang independent tidak tergantung cabang
      Jakarta dalam aplikasinya.

      2. TARIF DEKON KOMPATIOLOGI
      * Bagi peserta di kota tsb, yang mengikuti acara
      bersama Vincent dikenai tarif Rp.300.000,-/peserta,
      biaya ini di luar biaya & hal AKOMODASI.

      3. TARIF SARASEHAN
      * Bagi pihak yang ingin mengundang untuk acara
      sarasehan bertema kompatiologi dengan pembicara
      Vincent Liong, dapat dinegosiasikan langsung per
      telepon dan email. Bila di luar kota, maka hal tsb
      harus memenuhi hal AKOMODASI.

      (Note: Aturan main di atas juga berlaku untuk
      mendatangkan para pendekon kompatiologi yang lain yang
      nama dan contact personnya tercantum dalam email ini.
      Silahkan hubungi langsung per telepon.)




      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    • Vincent Liong
      N O T E Baca tulisan asli: ”Imajinasi Penggerak Ilmu” klik:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/04/humaniora/3738655.htm
      Message 2 of 2 , Aug 4, 2007
      • 0 Attachment
        N O T E

        Baca tulisan asli: ”Imajinasi Penggerak Ilmu”
        klik:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/04/humaniora/3738655.htm
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2233

        Ingin membalas email ini? klik e-link:
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2235
        http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/22066
        ====================================================



        ”Imajinasi Penggerak Ilmu” bisa dirayakan tidak untuk
        dilaksanakan.

        Kepada Yth: Penulis tulisan ”Imajinasi Penggerak Ilmu”
        di Koran Kompas Sabtu, 04 Agustus 2007 bagian
        Humaniora.
        From: Vincent Liong (Pendiri Kompatiologi).



        Perkenalkan nama saya Vincent Liong, Pendiri
        Kompatiologi (ilmu non sekolahan). Email ini saya
        tujukan untuk mengomentari tulisan anda yang berjudul
        ”Imajinasi Penggerak Ilmu”. Mengapa saya merasa perlu
        mengomentari tulisan ini?

        Kebanyakan tokoh-tokoh yang turut membahas masalah ini
        dalam diskusi seperti yang dilaporkan melalui tulisan
        anda adalah ilmuan dari kalangan sekolahan yang
        mengenyam pendidikan yang memiliki sudutpandang
        metodologi penelitian yang dimulai dari:
        memformulasikan permasalahan, mengkonsepkan disain
        penelitian, membuat instrumen pengambilan sample,
        memilih sample, membuat proposal penelitian, mengambil
        data, memeroses data, hingga membuat laporan hasil
        penelitian. Penelitian kelas ini adalah penelitian
        kelas “tukang” yang tidak memungkinkan adanya kelas
        “penemu”, karena tiap tukang bekerja untuk menjawab
        “why” atas sesuatu yang sudah ada sebelumnya.


        Bagaimanapun membahas masalah penting dalam
        pengembangan ilmupengetahuan seperti yang anda
        sebutkan dalam tulisan anda:

        “Sesungguhnya, imajinasi dan intuisi yang terutama
        menggerakkan terciptanya teori dan temuan ilmiah,
        seperti juga terjadi pada dunia sastra. Sayangnya,
        pikiran dan perasaan serta intuisi sering kali
        dianggap sebagai hal yang berlawanan.”

        "Imajinasi serta rasa keindahanlah yang pertama-tama
        dan terutama menggerakkan penemuan-penemuan ilmiah
        serta pemilihan teori. Bukan rasionalitas bermodelkan
        algoritmik sebagaimana banyak dimunculkan dalam
        risalah-risalah filsafat sains," ujar Karlina.

        : Hal semacam ini hanya bisa dirayakan, tetapi tidak
        bisa dijawab dengan suatu solusi oleh mereka yang
        berbackground system penelitian ala lembaga pendidikan
        (sekolahan) resmi yang memang filsafatnya sudah
        dibatasi oleh filsafat barat yang start dari “why”
        (tugas tukang untuk menjawab).


        Ijinkan saya menceritakan sejarah proses pembentukan
        ilmu saya, Kompatiologi:

        (Dikutip dari: ”Mengembalikan Kompatiologi Ke Jalur
        Semula” e-link:
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2234
        bagian: VINCENT LIONG DAN KOMPATIOLOGI )
        “””””
        Pada awal pembentukannya (sebelum dinamai dengan nama
        apapun), apa yang dalam perkembangannya disebut
        kompatiologi adalah sebuah permainan asosiasi yang
        secara rutin dimainkan oleh Vincent Liong dan beberapa
        pengikut / penggemar tulisan Vincent Liong, yang
        secara rutin bertemu dengan Vincent Liong. Pada tahap
        ini tidak ada satupun tujuan untuk menjadikan
        permainan asosiasi itu sebagai sebuah ilmu, bentuknya
        pun masih tidak sistematis seperti kompatiologi, yang
        saat ini hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk
        instalasi.

        Mulai munculnya tujuan penggunaan metodologi tsb untuk
        hal yang lebih berguna hadir secara tidak sengaja
        ketika beberapa peserta permainan tsb melaporkan efek
        samping dalam perubahan cara mereka menghadapi hidup
        mereka sehari-hari. Karena laporan ini Vincent Liong
        merubah tujuan dari sekedar bermain-main menjadi
        mencoba men-sistematisasi metode yang ada menjadi
        lebih sederhana dan sistematis, dengan tetap
        memperhatikan hasil pada subject yang menggunakan,
        seiring dengan perubahan-perubahan yang dimasukkan ke
        metode tsb. Selama proses perjalanannya apa yang
        sekarang disebut Kompatiologi sempat mengalami
        perubahan-perubahan sebutan, bahkan sempat diusulkan
        oleh Leonardo Rimba disebut sebagai ‘pineal
        re-programming’, tetapi ternyata tidak sesuai karena
        tidak menggunakan pemfokusan ke kelenjar pineal saja,
        jadi dikembalikan ke bentuk paradigma asalnya yang
        dibuat dan diperbaiki secara bertahap selama
        percobaan-percobaan berlangsug.

        Diawali oleh Juswan Setyawan pada Juli 2006 penelitian
        kompatiologi akhirnya bekerja dalam dua kelompok
        berdasarkan tugasnya; Vincent Liong bertanggungjawab
        pada eksperimen metodologinya, Juswan Setyawan dan
        bekas ter-dekon yang lain (yang menulis berbagai
        kitab) bertanggungjawab membuat penjelasan untuk
        pengguna, metaanalisis, perbandingan dengan
        ilmupengetahuan lain yang sudah ada, dlsb.

        Metodologi Kompatiologi tidak banyak lagi berubah
        sejak Desember 2006 karena dirasa sudah cukup efektif
        dan efisien. Seiring dengan hal tsb muncul dorongan
        dari ‘para penulis’ (yang bersama Juswan Setyawan
        bertanggungjawab membuat penjelasan untuk pengguna,
        meta analisis, perbandingan dengan ilmupengetahuan
        lain yang sudah ada, dlsb) mengajak agar Vincent Liong
        juga membuat penjelasan versi Vincent Liong sendiri
        tentang ilmu kompatiologi.

        Setelah beberapa waktu, akhirnya sedikit demi sedikit
        secara terpotong-potong Vincent Liong mulai menulis
        sudutpandangnya tentang kompatiologi. Awalnya model
        tulisannya adalah pembahasan tekhnis tentang metode
        kompatiologi, lalu secara bertahap berubah menjadi
        pandangan Vincent Liong sendiri tentang pemikirannya
        secara subjective sebagai penulis dan sebagai pendiri
        ilmu kompatiologi.

        Permasalahan timbul ketika pembaca tidak lagi
        memperhatikan tulisan-tulisan penulis kitab-kitab
        kompatiologi, tetapi cenderung memperhatikan tulisan
        Vincent Liong sebagai pembuat rumus / metode
        kompatiologi. Masalahnya, sejak Januari 2007 hingga
        sekarang secara pribadi sebagai penulis; Vincent Liong
        sedang menghadapi masa transisi dari masa bersekolah
        menjadi masa tidak bersekolah. Sudutpandang pemikiran
        Vincent Liong yang menulis sebagai dirinya sendiri;
        banyak menulis tentang masalah survival, naluri,
        insting kebinatangan, dlsb karena berhubungan dengan
        pertarungan konsep-konsep ketidakpastian dalam hidup
        dirinya sendiri.

        Dari tahap ini, timbul dua kelompok pengguna
        kompatiologi yang hasilnya jelas-jelas berbeda:
        * Bagi yang orangnya cenderung praktikal; Mereka fokus
        pada pengalaman sendiri ketika dekon dan
        mengaplikasikan apa yang didapatkan dari dekon;
        hasilnya menjadi manusia seutuhnya, bukan insting
        (naluri) saja, bukan intuisi saja. Hidup jadi lebih
        sederhana, take it easy, enjoy the life, karena bukan
        meyakini sesuatu tetapi paham posisi tiap hal /
        variabel yang ada dalam hubungannya satu dengan yang
        lain dalam bahasanya sendiri, sehingga bebas
        mengarahkan dirinya sendiri.
        * Bagi yang orangnya cenderung teoritis; Mereka fokus
        pada mengamati Vincent Liong dan meniru sikap dan
        prilaku Vincent Liong sebagai pribadi, beberapa
        malahan samasekali tidak menerapkan apa yang
        dipelajari dari metode kompatiologi.

        “””””


        Tiap cara pendekatan dalam proses pembentukan suatu
        ilmu memiliki masalahnya masing-masing.

        * Dari Pikiran (di dalam diri) ke Realita (di luar
        diri);
        Kalau start dari “why sampai ketemu the answer“
        seperti ala sekolahan maka masalahnya adalah
        penjelasan ala ‘rasionalitas bermodelkan algoritmik’
        akan amat sangat jelas dan sulit dibantah, tetapi
        kontrol dalam praktikalnya lemah atau tidak fleksible.

        Dari Pikiran (di dalam diri) ke Realita (di luar diri)

        * Dari Realita (di luar diri) ke Pikiran (di dalam
        diri);
        Kalau start dari ‘melihat sesuatu yang kebetulan
        ketemu, lalu secara tidak sengaja eh bisa diulangi
        dengan hasil mirip-mirip dan berguna, baru dibuat
        laporan-laporannya’ maka metodologi praktikalnya bisa
        amat jelas dan simple, kontrolnya kuat karena
        fleksible, tetapi rasionalitas bermodelkan
        algoritmiknya lemah. Penelitian tidak disibukkan untuk
        mencari metodologi praktikalnya dengan kontrol yang
        kuat, tetapi untuk menghadapi orang berbackground
        pendidikan yang berbasis filsafat barat (why) yang
        tidak mengijinkan pola penelitian dengan ‘pembuktian
        terbalik’. Jadi seperti semua harus ditiadakan dan
        dimulai dari why sampai ketemu answer seperti budaya
        filsafat barat. Masalah utamanya adalah mereka tidak
        peduli (menganggap tidak penting) pembuktian praktikal
        dulu, tetapi rasionalitas bermodelkan algoritmiknya
        harus jelas dan kuat baru boleh menyentuh pembuktian
        praktikal.

        Maka dari itu ilmuan yang seperti dalam perayaan anda
        ”Imajinasi Penggerak Ilmu” tidak pernah mau masuk ke
        lembaga pendidikan. Lari-larinya ke orang lapangan
        yang mau tahu hasil tetapi pendidikan tidak terlalu
        tinggi.

        Kami sempat menghadapi satu kasus yang cukup menarik
        bagaimana pola orang berbackground filsafat setelah
        gagal memaksa kami membahas kompatiologi di ranah
        pikiran saja tanpa praktikal menggunakan satu istilah
        dalam menghadapi kami yang disebutnya;”Olahraga
        Pikiran”. Filsafat Barat mengajarkan orang untuk
        bersifat objective (sebagai pengamat), tetapi dalam
        objectivitas anda tidak perlu bertanggungjawab pada
        subjectivitas (pelaku dalam kehidupan sehari-hari).
        Inilah mengapa pendidikan berbasis filsafat barat
        hanya mendidik teoritisi tetapi tetap saja bukan
        praktisi.


        (Dikutip dari: ”Mengembalikan Kompatiologi Ke Jalur
        Semula” e-link:
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2234
        bagian: KOMPATIOLOGI DAN OLAHRAGA PIKIRAN )
        “””””
        Nah, tidak lama kemudian secara kebetulan muncul
        fenomena olahraga pikiran di maillist
        Psikologi_Transformatif@... . Budaya ini
        berusaha mengajak orang-orang untuk berpikir dan
        berinteraksi dengan sudutpandang ‘Why’ ala filsafat
        barat, dengan memposisikan manusia sebagai pengamat
        objective bukan pelaku; Sehingga apapun tindakan yang
        dilakukan dianggap tidak memiliki akibat real di dunia
        nyata.

        Kalau kita perbandingkan antara realita dalam
        paradigma kompatiologi dan dalam olahraga pikiran,
        maka: seperti perbandingan antara seorang yang
        menembak temannya sadar bahwa ada konsekwensi bisa
        masuk penjara ; sedangkan kalau menembak teman di
        permainan game online seperti Counter Strike tidak
        akan membuat diri kita masuk penjara.

        Karena waktu kemunculannya bersamaan dengan masalah
        penyimpangan anggapan tentang apa itu kompatiologi,
        ini malah memperumit masalah yang sudah timbul.
        Beberapa praktisi kompatiologi yang masih suka
        bermain-main terbawa oleh budaya olahraga pikiran
        untuk menggabungkan kompatiologi dengan budaya tsb.

        Sadar tidak sadar mereka lupa bahwa ada perbedaan
        mendasar antara pemetaan dalam kompatiologi dan
        pemetaan dalam olahraga pikiran;
        * Dalam kompatiologi, jika seseorang menembak atau
        ditembak temannya, maka ada konsekwensi bisa membunuh
        atau terbunuh yang mengakibatkan dipenjara atau mati.
        * Dalam olahraga pikiran, jika seseorang menembak atau
        ditembak temannya, maka yang ada hanya konsekwensi
        emosional menang atau kalah, tidak ada konsekwensi
        realistik seperti masuk penjara atau terbunuh.

        Efek samping yang timbul adalah budaya ini membuat
        pengamat dan praktisi kompatiologi yang terjerumus
        menjadi seseorang yang lupa bahwa apapun yang
        dilakukan, yang mempengaruhi dunia nyata memiliki
        konsekwensi nyata pula. Beberapa yang terbawa seperti
        misalnya Audifax dan Cornelia Istiani lupa bahwa
        meskipun provokator budaya ini yaitu Pabrik_T dan
        Hautesurveilance kalau diajak bicara tampak tidak
        memiliki niat dan tujuan apapun, tidak berego dan
        tidak beremosi, seolah hanya mendidik orang untuk
        lihai bermain memainkan variabel kelemahan orang lain
        untuk mengalahkannya, tetapi dalam hubungan antar
        manusia di dunia nyata; manusia di luar pemain budaya
        olahraga pikiran masih menganut hukum sebab-akibat
        yang kongkrit.

        Bilamana kita berkhianat, berbohong, menggosipi, black
        mail, mengancam keluarga orang, maka ada konsekwensi
        kita kehilangan teman, dimusuhi, atau kehidupan
        sehari-hari kita di dunia nyata juga terancam karena
        ada pihak yang mengalami konsenkwensi dirugikan. Ini
        bukan Counter Strike yang dimana anda tinggal
        mematikan komputer atau me-reset permainan dan tidak
        ada konsekwensi nyata yang harus dihadapi.

        Untunglah hanya sedikit praktisi kompatiologi yang
        terjerumus meskipun banyak pengamat kompatiologi yang
        terlanjur menikmati aturan main di realita budaya yang
        baru itu. Sebagian praktisi juga sudah sadar dan
        memilih menjaga jarak agar tidak terkena efek samping
        yang merugikan. Sebagian lagi terlanjur terlibat
        secara mendalam sehingga kalau keluar dari permainan
        pun tetap sudah kehilangan teman, jadi memilih tetap
        bermain. Saya sebagai pendiri kompatiologi berusaha
        menarik satu-per-satu yang masih bisa diselamatkan dan
        meninggalkan yang terlanjur dalam.

        Budaya Olahraga Pikiran ini sendiri dibuat lalu
        di-infeksikan ke komunitas kompatiologi untuk
        menjatuhkan nama Vincent Liong dan kompatiologi
        sebagai ilmu di luar institusi mainstream berbasis
        ‘filsafat barat’ (yang cenderung suka membahas ‘Why’).
        Dengan harapan masyarakat menganggap kompatiologi
        sebagai gerakan yang membuat orang menjadi anarkis dan
        destruktif sehingga harus dijauhi.

        Untuk menjaga resiko-resiko akan hal ini, saya sebagai
        pendiri kompatiologi dalam tulisan ini melampirkan
        juga biodata dan latarbelakang pribadi dan kelompok
        Nuruddin Asyhadie yang merancang usaha pembusukan ini
        bersama tim kerjanya wongsosubali, hautesurveilance,
        meitaurus, lu2, dlsb dengan mencantumkan juga
        nama-nama organisasi yang dimungkinkan terkait dengan
        rencana pembusukan ini sebagai usaha memberantas
        gerakan-gerakan di luar mainstream filsafat barat yang
        menjadi dasar lembaga-lembaga pendidikan resmi yang
        berkuasa di jaman ini.

        “””””


        Selama masih berkutat pada pemikiran, teoritisi bukan
        praktisi maka hal seperti yang dibahas dalam
        ”Imajinasi Penggerak Ilmu” adalah hal yang bisa
        rayakan, tetapi tetap mimpi-mimpi yang tidak pernah
        mungkin tercapai. Karena memang aturannya yang
        membuatnya tidak bisa terjadi. Masalahnya aturan
        lembaga pendidikan formal berbasis filsafat tidak
        memungkinkan adanya penelitian yang tidak start dari
        ‘rasionalitas bermodelkan algoritmik’ lalu sudah
        sampai pada pengamatan atas data empiris.

        Seperti yang kami alami dalam berhadapan dengan
        pendidikan formal.


        Ttd,
        Vincent Liong
        Jakarta, Sabtu, 4 Agustus 2007





        LAMPIRAN TULISAN

        MENGEMBALIKAN KOMPATIOLOGI KE JALUR SEMULA
        Penjelasan resmi Vincent Liong tentang apa yang
        terjadi dan usaha untuk mengembalikan kompatiologi ke
        jalur semula ...

        Ditulis oleh : Vincent Liong / Liong Vincent
        Christian.
        Tempat / Hari / Tanggal : Jakarta, Jumat, 27 Juli
        2007.




        PENDAHULUAN

        Pembusukan terhadap kompatiologi terjadi dari pihak
        luar dan dalam kelompok sahabat-sahabat diantara
        praktisi kompatiologi sendiri secara sengaja maupun
        tidak sengaja.

        Dari luar kelompok persahabatan kompatiologi dilakukan
        oleh kelompok Pabrik_T dengan berusaha menyusupkan
        pemahaman budaya olahraga pikiran kepada para pengamat
        dan praktisi kompatiologi.

        Dari dalam kelompok kompatiologi dilakukan dengan
        usaha pembelokan penjelasan-penjelasan tentang fungsi
        kompatiologi dari sebagai ilmu yang bekerja di ranah
        insting (naluriah) dan intuisi ; Menjadi ilmu yang
        tidak seimbang karena hanya bekerja di ranah insting
        (naluriah). Hal ini terjadi akibat dua hal:
        * Orang berusaha menyamakan Kompatiologi dengan
        prilaku dan tulisan-tulisan Vincent Liong.
        * Tulisan Leonardo Rimba (bukan praktisi Kompatiologi)
        bahwa kompatiologi tidak mampu membantu sekaligus
        menghalagi intuisi penggunanya, sehingga memerlukan
        program Rekon untuk menyelamatkan para pengguna
        kompatiologi. Hal ini dapat dilakukan dengan
        memanfaatkan fenomena usaha memasukkan budaya olahraga
        otak oleh kelompok Pabrik_T secara sengaja maupun
        tidak sengaja.

        Dalam email saya kali ini, untuk menyelamatkan
        anggapan-anggapan menyimpang tentang Kompatiologi dan
        penerapannya maka saya akan menjelaskan satu demi satu
        hal tsb di atas secara mendetail.



        VINCENT LIONG DAN KOMPATIOLOGI

        Yang membuat kompatiologi sulit diterima oleh
        institusi pendidikan resmi yang ada adalah: karena
        proses pembentukan kompatiologi yang tidak melalui
        proses yang umum dilalui oleh ilmupengetahuan
        institusional yang lain.

        Pada awal pembentukannya (sebelum dinamai dengan nama
        apapun), apa yang dalam perkembangannya disebut
        kompatiologi adalah sebuah permainan asosiasi yang
        secara rutin dimainkan oleh Vincent Liong dan beberapa
        pengikut / penggemar tulisan Vincent Liong, yang
        secara rutin bertemu dengan Vincent Liong. Pada tahap
        ini tidak ada satupun tujuan untuk menjadikan
        permainan asosiasi itu sebagai sebuah ilmu, bentuknya
        pun masih tidak sistematis seperti kompatiologi, yang
        saat ini hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk
        instalasi.

        Mulai munculnya tujuan penggunaan metodologi tsb untuk
        hal yang lebih berguna hadir secara tidak sengaja
        ketika beberapa peserta permainan tsb melaporkan efek
        samping dalam perubahan cara mereka menghadapi hidup
        mereka sehari-hari. Karena laporan ini Vincent Liong
        merubah tujuan dari sekedar bermain-main menjadi
        mencoba men-sistematisasi metode yang ada menjadi
        lebih sederhana dan sistematis, dengan tetap
        memperhatikan hasil pada subject yang menggunakan,
        seiring dengan perubahan-perubahan yang dimasukkan ke
        metode tsb. Selama proses perjalanannya apa yang
        sekarang disebut Kompatiologi sempat mengalami
        perubahan-perubahan sebutan, bahkan sempat diusulkan
        oleh Leonardo Rimba disebut sebagai ‘pineal
        re-programming’, tetapi ternyata tidak sesuai karena
        tidak menggunakan pemfokusan ke kelenjar pineal saja,
        jadi dikembalikan ke bentuk paradigma asalnya yang
        dibuat dan diperbaiki secara bertahap selama
        percobaan-percobaan berlangsug.

        Diawali oleh Juswan Setyawan pada Juli 2006 penelitian
        kompatiologi akhirnya bekerja dalam dua kelompok
        berdasarkan tugasnya; Vincent Liong bertanggungjawab
        pada eksperimen metodologinya, Juswan Setyawan dan
        bekas ter-dekon yang lain (yang menulis berbagai
        kitab) bertanggungjawab membuat penjelasan untuk
        pengguna, metaanalisis, perbandingan dengan
        ilmupengetahuan lain yang sudah ada, dlsb.

        Metodologi Kompatiologi tidak banyak lagi berubah
        sejak Desember 2006 karena dirasa sudah cukup efektif
        dan efisien. Seiring dengan hal tsb muncul dorongan
        dari ‘para penulis’ (yang bersama Juswan Setyawan
        bertanggungjawab membuat penjelasan untuk pengguna,
        meta analisis, perbandingan dengan ilmupengetahuan
        lain yang sudah ada, dlsb) mengajak agar Vincent Liong
        juga membuat penjelasan versi Vincent Liong sendiri
        tentang ilmu kompatiologi.

        Setelah beberapa waktu, akhirnya sedikit demi sedikit
        secara terpotong-potong Vincent Liong mulai menulis
        sudutpandangnya tentang kompatiologi. Awalnya model
        tulisannya adalah pembahasan tekhnis tentang metode
        kompatiologi, lalu secara bertahap berubah menjadi
        pandangan Vincent Liong sendiri tentang pemikirannya
        secara subjective sebagai penulis dan sebagai pendiri
        ilmu kompatiologi.

        Permasalahan timbul ketika pembaca tidak lagi
        memperhatikan tulisan-tulisan penulis kitab-kitab
        kompatiologi, tetapi cenderung memperhatikan tulisan
        Vincent Liong sebagai pembuat rumus / metode
        kompatiologi. Masalahnya, sejak Januari 2007 hingga
        sekarang secara pribadi sebagai penulis; Vincent Liong
        sedang menghadapi masa transisi dari masa bersekolah
        menjadi masa tidak bersekolah. Sudutpandang pemikiran
        Vincent Liong yang menulis sebagai dirinya sendiri;
        banyak menulis tentang masalah survival, naluri,
        insting kebinatangan, dlsb karena berhubungan dengan
        pertarungan konsep-konsep ketidakpastian dalam hidup
        dirinya sendiri.

        Dari tahap ini, timbul dua kelompok pengguna
        kompatiologi yang hasilnya jelas-jelas berbeda:
        * Bagi yang orangnya cenderung praktikal; Mereka fokus
        pada pengalaman sendiri ketika dekon dan
        mengaplikasikan apa yang didapatkan dari dekon;
        hasilnya menjadi manusia seutuhnya, bukan insting
        (naluri) saja, bukan intuisi saja. Hidup jadi lebih
        sederhana, take it easy, enjoy the life, karena bukan
        meyakini sesuatu tetapi paham posisi tiap hal /
        variabel yang ada dalam hubungannya satu dengan yang
        lain dalam bahasanya sendiri, sehingga bebas
        mengarahkan dirinya sendiri.
        * Bagi yang orangnya cenderung teoritis; Mereka fokus
        pada mengamati Vincent Liong dan meniru sikap dan
        prilaku Vincent Liong sebagai pribadi, beberapa
        malahan samasekali tidak menerapkan apa yang
        dipelajari dari metode kompatiologi.



        KOMPATIOLOGI DAN OLAHRAGA PIKIRAN

        Nah, tidak lama kemudian secara kebetulan muncul
        fenomena olahraga pikiran di maillist
        Psikologi_Transformatif@... . Budaya ini
        berusaha mengajak orang-orang untuk berpikir dan
        berinteraksi dengan sudutpandang ‘Why’ ala filsafat
        barat, dengan memposisikan manusia sebagai pengamat
        objective bukan pelaku; Sehingga apapun tindakan yang
        dilakukan dianggap tidak memiliki akibat real di dunia
        nyata.

        Kalau kita perbandingkan antara realita dalam
        paradigma kompatiologi dan dalam olahraga pikiran,
        maka: seperti perbandingan antara seorang yang
        menembak temannya sadar bahwa ada konsekwensi bisa
        masuk penjara ; sedangkan kalau menembak teman di
        permainan game online seperti Counter Strike tidak
        akan membuat diri kita masuk penjara.

        Karena waktu kemunculannya bersamaan dengan masalah
        penyimpangan anggapan tentang apa itu kompatiologi,
        ini malah memperumit masalah yang sudah timbul.
        Beberapa praktisi kompatiologi yang masih suka
        bermain-main terbawa oleh budaya olahraga pikiran
        untuk menggabungkan kompatiologi dengan budaya tsb.

        Sadar tidak sadar mereka lupa bahwa ada perbedaan
        mendasar antara pemetaan dalam kompatiologi dan
        pemetaan dalam olahraga pikiran;
        * Dalam kompatiologi, jika seseorang menembak atau
        ditembak temannya, maka ada konsekwensi bisa membunuh
        atau terbunuh yang mengakibatkan dipenjara atau mati.
        * Dalam olahraga pikiran, jika seseorang menembak atau
        ditembak temannya, maka yang ada hanya konsekwensi
        emosional menang atau kalah, tidak ada konsekwensi
        realistik seperti masuk penjara atau terbunuh.

        Efek samping yang timbul adalah budaya ini membuat
        pengamat dan praktisi kompatiologi yang terjerumus
        menjadi seseorang yang lupa bahwa apapun yang
        dilakukan, yang mempengaruhi dunia nyata memiliki
        konsekwensi nyata pula. Beberapa yang terbawa seperti
        misalnya Audifax dan Cornelia Istiani lupa bahwa
        meskipun provokator budaya ini yaitu Pabrik_T dan
        Hautesurveilance kalau diajak bicara tampak tidak
        memiliki niat dan tujuan apapun, tidak berego dan
        tidak beremosi, seolah hanya mendidik orang untuk
        lihai bermain memainkan variabel kelemahan orang lain
        untuk mengalahkannya, tetapi dalam hubungan antar
        manusia di dunia nyata; manusia di luar pemain budaya
        olahraga pikiran masih menganut hukum sebab-akibat
        yang kongkrit.

        Bilamana kita berkhianat, berbohong, menggosipi, black
        mail, mengancam keluarga orang, maka ada konsekwensi
        kita kehilangan teman, dimusuhi, atau kehidupan
        sehari-hari kita di dunia nyata juga terancam karena
        ada pihak yang mengalami konsenkwensi dirugikan. Ini
        bukan Counter Strike yang dimana anda tinggal
        mematikan komputer atau me-reset permainan dan tidak
        ada konsekwensi nyata yang harus dihadapi.

        Untunglah hanya sedikit praktisi kompatiologi yang
        terjerumus meskipun banyak pengamat kompatiologi yang
        terlanjur menikmati aturan main di realita budaya yang
        baru itu. Sebagian praktisi juga sudah sadar dan
        memilih menjaga jarak agar tidak terkena efek samping
        yang merugikan. Sebagian lagi terlanjur terlibat
        secara mendalam sehingga kalau keluar dari permainan
        pun tetap sudah kehilangan teman, jadi memilih tetap
        bermain. Saya sebagai pendiri kompatiologi berusaha
        menarik satu-per-satu yang masih bisa diselamatkan dan
        meninggalkan yang terlanjur dalam.

        Budaya Olahraga Pikiran ini sendiri dibuat lalu
        di-infeksikan ke komunitas kompatiologi untuk
        menjatuhkan nama Vincent Liong dan kompatiologi
        sebagai ilmu di luar institusi mainstream berbasis
        ‘filsafat barat’ (yang cenderung suka membahas ‘Why’).
        Dengan harapan masyarakat menganggap kompatiologi
        sebagai gerakan yang membuat orang menjadi anarkis dan
        destruktif sehingga harus dijauhi.

        Untuk menjaga resiko-resiko akan hal ini, saya sebagai
        pendiri kompatiologi dalam tulisan ini melampirkan
        juga biodata dan latarbelakang pribadi dan kelompok
        Nuruddin Asyhadie yang merancang usaha pembusukan ini
        bersama tim kerjanya wongsosubali, hautesurveilance,
        meitaurus, lu2, dlsb dengan mencantumkan juga
        nama-nama organisasi yang dimungkinkan terkait dengan
        rencana pembusukan ini sebagai usaha memberantas
        gerakan-gerakan di luar mainstream filsafat barat yang
        menjadi dasar lembaga-lembaga pendidikan resmi yang
        berkuasa di jaman ini.



        KOMPATIOLOGI DALAM INSTING DAN INTUISI

        Fenomena pembusukan kompatiologi melalui penyusupan
        budaya Olahraga Pikiran oleh ‘Pabrik_T’(Nuruddin
        Asyhadie) dan kawan-kawannya memungkinkan
        produk-produk baru yang muncul dengan memanfaatkan
        fenomena pembusukan kompatiologi.

        Salahsatu diantaranya teman saya sendiri Leonardo
        Rimba yang mencoba membuat produk Rekon dan Mata
        Ketiga yang diisukan sebagai paket penyembuhan atau
        perbaikan dari kerusakan yang diakibatkan oleh
        pengajar kompatiologi yang secara tidak
        bertanggungjawab, membuat orang instingtif naluriah
        saja tanpa memiliki kemampuan intuitif sehingga
        bertarung membabibuta seperti binatang.

        Ketika saya pergi dengan mas Leonardo Rimba ke Solo
        beberapa waktu lalu Leonardo Rimba malah secara
        terang-terangan di depan saya mengatakan kepada pihak
        yang mengajak saya bahwa kekacauan di maillist
        Psikologi_Transformatif dibuat dan dilakukan oleh
        murid-murid saya sebagai usaha menerapkan kompatiologi
        seperti yang dilakukan Audifax, Pabrik_T, dlsb. Bahwa
        semua tulisan, omongan penjelasan mengenai
        kompatiologi, dlsb dibuat dan dikatakan Vincent Liong
        untuk membuat orang jadi error dan menjadi seperti
        binatang sehingga harus diperbaiki melalui Rekon dan
        Mata Ketiga oleh Leonardo Rimba.

        Konsekwensinya, selama perjalanan saya mendapat
        cacimaki dan menjadi banyolan dari pihak yang mengajak
        saya karena Leonardo Rimba memposisikan saya sebagai
        pihak yang sekedar membinatangkan manusia sehingga
        menjadi liar dan anarkis, lalu Leonardo Rimba yang
        menolong dengan memperkenalkan intuisi dalam hubungan
        manusia dengan Tuhan YME. Saya sempat mengingatkan
        Leonardo Rimba sepulang perjalanan kami agar tidak
        keterlaluan dalam mengorbankan teman sendiri untuk
        menaikkan diri sendiri. Semoga mas Leonardo Rimba
        mengerti dan tidak keterlaluan lagi dalam memposisikan
        saya di masa yang akan datang. Soal hal ini saya sudah
        memaafkan karena hal ini bisa terjadi juga karena
        ketidaksengajaan cara pandang Leonardo Rimba terhadap
        kompatiologi. Setelah saya menjelaskannya secara
        mendetail Leonardo Rimba mengatakan mengerti.



        PENUTUP

        Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa secara pribadi
        Vincent Liong memang sedang suka hal instingtif
        naluriah karena Vincent Liong sedang menghadapi
        transisi dalam perjalanan hidup dari anak sekolahan
        menjadi orang bebas yang harus berpikir mencari nafkah
        untuk kelangsungan hidup hari demi hari. Tetapi ilmu
        kompatiologinya sendiri berfungsi menyeluruh baik
        instingtif maupun intuitif. Dalam prakteknya tidak ada
        instingtif yang bisa bekerja tanpa intuitif karena
        secara mekanis setiap mekanisme memiliki kerjasama
        antara fungsi intuitif dan fungsi mekanis, contohnya:
        Data binair dari piringan hitam diterima melalui
        ‘sampling’ menggunakan jarum (intuitif). Lalu
        disalurkan ke ‘translater’ yang mengubah bahasa binair
        menjadi bahasa yang lebih kongkrit yaitu lagu yang
        enak didengar (instingtif).

        Selama permasalahan ini terjadi pengguna kompatiologi
        yang telah menerapkan kompatiologi tidak dirugikan
        samasekali karena kompatiologi hanyalah metodologi
        (rumus-rumus) yang tidak bisa terpengaruh oleh
        pembelokan cerita-cerita. Yang dirugikan adalah mereka
        yang berusaha mengerti penjelasan-penjelasan tentang
        apa itu kompatiologi tanpa mengalami sebagai pelaku
        kompatiologi; Merekalah dibelokkan oleh berbagai pihak
        yang berkepentingan.

        Yang sudah berlalu biarlah berlalu, yang masih bisa
        diperbaiki ya diperbaiki, yang tidak bisa diperbaiki
        ditinggalkan. Mari kita mulai lagi hubungan
        persahabatan yang bertanggungjawab pada konsekwensi di
        dunia nyata, kita harus berbenah lagi, tidak ada yang
        perlu dipersalahkan diantara kita. Bagi yang masih mau
        bermain di olahraga pikiran kita tinggalkan dan buat
        batas pemisah saja agar kita tidak terkena
        efeksampingnya.

        Para praktisi kompatiologi tetap praktik
        dekon-kompatiologi seperti biasa hanya disarankan
        jangan banyak menulis hal pribadi secara terbuka di
        maillist untuk sementara waktu, kalau hal tekhnis
        tentu perlu ditulis karena sekarang kompatiologi perlu
        berbenah diri lagi sedikit demi sedikit.

        Diskusi Kompatiologi tetap dilakukan di:
        http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/messages
        http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/messages

        Diskusi Kompatiologi TIDAK dilakukan di:
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/



        Hormat saya,


        Ttd,
        Vincent Liong
        (Founder of Kompatiologi)


        Note: Untuk sementara waktu disarankan agar praktisi
        kompatiologi tidak membahas hal pribadi dalam chatting
        dengan siapa saja karena telah terjadi blackmail
        terhadap beberapa teman kami yang diselenggarakan oleh
        para budayawan Olahraga Pikiran menggunakan
        agent-agent tidak dikenal, dengan cara pendekatan
        pribadi hingga rahasia-rahasia pribadi yang bisa
        dijadikan blackmail dikatakan secara sengaja atau
        tidak sengaja lalu ketika dibutuhkan file-file nya
        digunakan sebagai blackmail untuk memecahbelah
        hubungan antar kerabat keluarga serumah. Seperti yang
        sudah terjadi terhadap teman kita Mochamad Riza, Adhi
        Purwono, Pipit, dlsb.





        LAMPIRAN 01
        Biodata Nuruddin Asyhadie (Pabrik_T / Pabrik Tontonan)
        (Kepala provokator, budayawan Olahraga Pikiran)

        Nuruddin Asyhadie, Lahir di Mojokerto, 27 Pebruari
        1976, beralamatl di "Padepokan Ngawu-awu Langit"
        Karang Bendo CT III/23c, Jl. Kaliurang Km 5
        Yogyakarta.
        E-mail: asyhadi-@....

        Menamatkan sekolah menengah di SMA Negeri 6 Surabaya,
        lulus 1993/1994 dan kini sedang menyelesaikan
        skripsinya tentang gramatology Jaques Derrida di
        Fakultas
        Filsafat UGM Yogyakarta.

        Aktif di Teater Sanggar Shalahuddin Yogyakarta, sempat
        menjadi wartawan Yogya Pos, 1995-1996, kini Redaktur
        Jurnal Filsafat Kaca Mata, Kelompok Bermain Kaca Mata
        dan Direktur Riset dan Penerbitan Pabrik Tontonan.
        Beberapa sajaknya pernah mendapatkan penghargaan
        sebagai Nominasi Kejuaraan 5 Puisi Kategori Nominasi
        Lomba Cipta Puisi Remaja, Perhimpunan Persahabatan
        Indonesia-Amerika (PPIA) dan Forum Apresiasi Sastra
        Surabaya (FASS), dalam rangka Festival Puisi Indonesia
        XIII (1992), Juara I Lomba Cipta Puisi St. Louis 2
        Cup I (1993), Pemenang Ketiga Lomba Cipta Puisi
        Se-Indonesia, Teater Kene, Tabanan Bali, (1993),
        Sembilan puisi terbaik Lomba Cipta Puisi Perdamaian
        "Art and Peace" (1999) Wianta Foundation.
        Karya-karyanya yang lain Angin Lalu (1994)
        dipentaskan oleh Kelompok Doyan Kerja Surabaya pada
        tahun yang sama. Sastra Jendra (1995) dipentaskan oleh
        sanggar Shalahuddin Yogyakarta pada tahun yang sama.
        Berapa Harga 1 Kg Puisi?, reportoar bersama Kelompok
        Doyan Kerja Surabaya, 1997. Menyingsing Fajar (1993),
        kumpulan puisi bersama 12 penyair muda se-Indonesia,
        diterbitkan oleh Teater Kene, Tabanan Bali.





        LAMPIRAN 02
        LAMPIRAN Info 'Pendekon' (Pengajar) Kompatiologi
        Last update: 14 Juli 2007 (berlaku sampai update
        berikutnya)


        Maillist-maillist tempat diskusi Kompatiologi
        (unmoderated):
        * http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
        * http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
        *
        http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about


        ISI LAMPIRAN
        * Daftar kelompok pengembang Kompatiologi.
        * Daftar pengajar Kompatiologi cabang Jakarta.
        * Daftar penasehat Kompatiologi cabang Jakarta.
        * Daftar pengajar Kompatiologi cabang daerah (di luar
        Jakarta; Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo &
        Purwokerto,.)
        * Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
        Kompatiologi ke Kota Anda.

        Note: Keterangan tentang ciri-ciri dan spesialisasi
        masing-masing pribadi pendekon ditulis oleh Vincent
        Liong & Leonardo Rimba.


        YANG PERLU DIPERHATIKAN:
        * By appointment only. Biasanya pendekon membawa
        pendekon dari cabang lain bilamana jumlah terdekon di
        luar kemampuan pendekon dengan tujuan untuk menjaga
        standart kwalitas hasil dekon.
        * Wajib konformasi sehari sebelum hari appointment dan
        hari yang sama sebelum dekon.
        * Tidak melayani tanya-jawab via sms dan misscall.
        * Biasanya acara dekon berlangsung selama empat jam.
        Dilarang meninggalkan acara sebelum acara selesai.
        * Order proyek luar kota, seminar, wawancara pers,
        dlsb hubungi & deal langsung dengan masing-masing
        praktisi.
        * Disarankan (tidak wajib) terdekon membawa teman yang
        tinggal satu area / lingkungan pergaulan dengannya
        agar memiliki teman sharing tentang penerapan
        kompatiologi pasca dekon-kompatiologi, agar
        perkembangan pasca dekon lebih cepat dan terkontrol.
        * Tiap pendekon bekerja dan bertanggungjawab secara
        independent. Tanggungjawab kepada klien adalah pada
        masing-masing praktisi yang menjadi pendekon pilihan
        anda.
        * Praktisi kompatiologi tidak memberikan jaminan
        apapun terhadap klien. Segala resiko dari proses
        dekonstruksi ditanggung oleh klien sendiri.
        * Tarif yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu
        tanpa pemberitahuan (baik diubah oleh Vincent Liong
        maupun oleh masing-masing pendekon sendiri tanpa
        memberitahu Vincent Liong).
        * Kompatiologi juga membuka diri untuk donasi /
        sumbangan biaya penelitian yang sifatnya pribadi
        karena dilakukan oleh masing-masing pendekon atas
        kemauan & usaha sendiri. Sumbangan berupa uang dapat
        ditransfer ke bank account atau secara tunai(cash).
        * Untuk informasi yang belum disebutkan di atas dapat
        menanyakan langsung kepada pendekon.



        KELOMPOK PENGEMBANG KOMPATIOLOGI

        * ADHIPITALOKA (di Jakarta)
        Founder: Adhi Purwono & Ardiningtiyas Pitaloka.

        * "DeRiDa" (di Jakarta)
        Founder: DaDE (M. PRABOWO), RIo Panjaitan & DAyapala
        Pema Lodoe (Steven Tjoeng).



        PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

        * ONNY LEWIS
        Onny adalah seorang yang mendalami penerapan
        kompatiologi dalam hubungan dengan alam sekitar
        seperti misalnya cuaca; arah angin, awan, tekanan
        udara, kelembaban udara, dlsb.
        Lokasi dekon: (belum ditentukan)
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        Hp: 081319780747 & 08158204530

        * ARRY RAHMAN
        Arry adalah seorang yang tidak terlalu meributkan
        definisi, handal dalam instuisi yang bahkan bagi
        dirinya tidak terlalu peduli pada pendefinisian.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan.
        Jadwal by Appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA flexi: 021-68661220

        * ANDY FERDIANSYAH
        Andi memfokuskan diri pada karaktristik sensasi untuk
        pengekspresian diri. Andi saat ini masih kuliah di
        Institut Kesenian Jakarta, jurusan film dan televisi,
        spesialisasi penulisan skenario, angkatan 2003.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan.
        Jadwal by Appointment, hanya bisa di hari minggu saja.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        Hp: 085691039071 & email: tinta_negatif@...

        * ARDININGTIYAS PITALOKA
        Bagaimana seorang wanita yang dididik dengan budaya
        masa lalu, menjadi diri sendiri di masa postmoderen.
        Lokasi dekon: Mall Kelapa Gading, Plaza Senayan &
        Senayan City.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA fren 08888585029 & Hp: 081802894243.

        * MARWAN M.
        Marwan, menekuni pencarian diri bagi orang yang
        berminat meninggalkan nilai-nilai tradisional, untuk
        masuk ke masa postmoderen, dengan memilih sendiri
        unsur apa yang harus dipertahankan dan unsur apa yang
        harus diambil dari luar budayanya sendiri.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City & Mall Taman
        Anggrek.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-93710900 & Hp: 0818888653.

        * STEVEN TJOENG (alias: Dayapala Pema Lodoe)
        Steven adalah universalis pencari kebenaran sejati
        untuk membantu manusia lainnya mengakhiri permasalahan
        hidupnya.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-93332223 & Hp: 081381381311.

        * FARIS FREDY PUTRANTO
        Fredy adalah pribadi yang work hard & play hard.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Senayan,
        Senayan City & Plaza Semanggi.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        Hp: 085697868012.

        * DADE (M. PRABOWO)
        Dade adalah pribadi yang banyak mendalami aliran yang
        bersifat sufistik / tasawuf.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
        Mall Kelapa Gading.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-98805716 & Hp: 081808862171.

        * RIO PANJAITAN
        Rio adalah pribadi yang pribadi yang memiliki
        background tekhnik beladiri & filosofi Aikido, dan
        filsafat Bushido yang adalah warisan budaya Jepang.
        Mengkhususkan diri bagi mereka yang memiliki semangat
        pengabdian dalam bidang apapun.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
        Mall Kelapa Gading.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-99068707 & Hp: 081380530125.

        * ADHI PURWONO
        Adhi mampu mengerti pengalaman-pengalaman sikofren
        yang berasal dari masa kanak-kanak yang berlanjut ke
        masa dewasa dan masalah yang berkaitan dengan hubungan
        antar pribadi.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City, Mall Taman
        Anggrek & Mall Puri Indah.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA flexi: 021-68812660 & fren: 08886187085.
        Bank Account: Bank BNI cabang Harmoni.
        A/c: 1810500-6 A/n: Adhi Purwono.

        * VINCENT LIONG (Pendiri & Penemu ilmu Kompatiologi)
        Vincent adalah pendiri & penemu Kompatiologi, secara
        pribadi berminat pada masalah eksistensi & adaptasi
        diri terhadap lingkungan.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan & Senayan City.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.500.000,- per peserta di Plaza Senayan
        & Senayan City.
        CDMA flexi: 021-70006775 & esia: 021-98806892 (untuk
        di Jakarta saja).
        CDMA fren: 08881333410 (untuk di Jakarta & luar kota).

        Telp: 021-5482193, 5348567 Fax: 021-5348546
        Bank Account: Bank BCA cabang Permata Hijau.
        A/c: 178-117-9600 A/n: Liong Vincent Christian.



        PENASEHAT KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

        CORNELIA ISTIANI
        Istiani mengkhususkan diri pada mereka yang berasal
        dari bidang Psikometri dan Pendidikan dalam
        hubungannya dengan ilmu Kompatiologi.
        Hp: 081585228174 CDMA flexi: 021-68358037
        CDMA fren: 08886167847 (untuk di Jakarta & luar kota).

        JUSWAN SETYAWAN
        Juswan adalah penulis & edukator piawai dalam bidang
        kedokteran populer.
        Hp: 08159162193

        LEONARDO RIMBA
        Leonardo Rimba, ilmuan politik yang bergerak di bidang
        metafisika praktis.
        Hp: 0818183615



        PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG DAERAH

        * Cabang SOLO
        Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
        peserta.
        - Sunu (Hp: 08122651357 CDMA flexi: 0271-7072879)
        Sunu adalah sarjana hukum yang sedang meneliti
        berbagai pendekatan praktis bagi mereka yang sedang
        atau akan mempelajari kompatiologi.
        - Toto (CDMA fren: 08886702727 flexi: 0271-7035186 Hp:
        08552812005)
        Toto adalah filsuf sosial dengan pendekatan ilmiah
        populer yang penjelasannya sangat mudah dicerna oleh
        masyarakat umum.
        - Wawan Setiawan (Hp: 081932655888 CDMA fren:
        08882900288)
        Wawan mengkhususkan diri dalam memberikan pengarahan
        kepada mereka yang pernah, akan, atau sedang
        berkecimpung dalam dunia hitam di Indonesia dan
        hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
        - Alan Sarwono (Hp: 0811285540)
        Alan Sarwono mengkhususkan diri pada mereka yang telah
        menduduki posisi managerial menengah dan berambisi
        untuk mencapai jabatan tertinggi di organisasi bisnis
        mereka.
        - Aida (CDMA fren: 08882989050)
        Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
        dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
        - Agung PW (Hp: 081331139120)
        Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
        dalam bidang seni dan pendidikan.
        - Sukma (CDMA fren: 08886753831)
        Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
        dalam bidang seni visual terutama fotografi dan
        fenomena ke-Indigo-an.
        - Willy BS (Hp: 08179489889, 0816674069 CDMA flexi:
        0271-7016881)
        Willy, spesialis soal orangtua yang merasa dirinya
        atau anaknya bermasalah.

        * Cabang YOGYAKARTA
        Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
        peserta.
        - Lely Cabe (CDMA fren: 08882738729 Hp: 08170428081)
        Lely sangat memahami masalah-masalah lintasbudaya
        antar bangsa dan toleransi sosial.
        - Aida (CDMA fren: 08882989050)
        Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
        dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.

        * Cabang BANDUNG : Bimo Wikantiyoso
        Bimo sementara ini mengkhususkan diri untuk melayani
        mereka yang ingin menjadi adaptif dalam hal-hal
        spiritualitas dan pengendalian hal-hal keduniawian.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        CDMA fren: 08888405843 & Hp: 0816746770.

        * Cabang JAYAPURA(Papua) : Ondo Untung
        Ondo adalah pribadi yang lihai dalam menganalisa
        fenomena sosial-politik kontemporer.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.300.000,- per peserta.
        Hp: 08128599710.



        Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
        Kompatiologi ke Kota Anda.
        Untuk mendatangkan / mengundang Vincent Liong, hal-hal
        yang perlu dipenuhi adalah sbb:

        1. AKOMODASI
        * Ada individu penanggungjawab / sponsor (local
        representative) yang jelas, yang mengatur acara &
        mengurus perekrutan peserta. Akan lebih baik bila
        individu penanggungjawab datang ke Jakarta sebelumnya
        untuk mengenal Vincent Liong dan Kompatiologi lebih
        dalam sebelum menjadi local representative di acara
        kunjungan Vincent Liong, agar tidak ada
        kesalahpahaman.
        * Tiket pesawat pergi & pulang ke kota tsb & akomodasi
        hotel dibelikan di muka.
        * Tambahan biaya satu juta rupiah untuk uang saku,
        dibayar di muka via transfer ke bank account.
        * Ada individu yang menemani, mengantarkan (fasilitas
        transportasi) & membiayai Vincent Liong berekreasi,
        sambil pendalaman kompatiologi secara informal di
        waktu luang agar tidak bosan / jenuh saat di kota tsb.
        * Biasanya acara kunjungan dilakukan selama seminggu
        sampai dua minggu untuk mempersiapkan kompatiologi
        cabang daerah yang independent tidak tergantung cabang
        Jakarta dalam aplikasinya.

        2. TARIF DEKON KOMPATIOLOGI
        * Bagi peserta di kota tsb, yang mengikuti acara
        bersama Vincent dikenai tarif Rp.300.000,-/peserta,
        biaya ini di luar biaya & hal AKOMODASI.

        3. TARIF SARASEHAN
        * Bagi pihak yang ingin mengundang untuk acara
        sarasehan bertema kompatiologi dengan pembicara
        Vincent Liong, dapat dinegosiasikan langsung per
        telepon dan email. Bila di luar kota, maka hal tsb
        harus memenuhi hal AKOMODASI.

        (Note: Aturan main di atas juga berlaku untuk
        mendatangkan para pendekon kompatiologi yang lain yang
        nama dan contact personnya tercantum dalam email ini.
        Silahkan hubungi langsung per telepon.)




        Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.