Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

KMA : Menemukan Jati Diri ; ditulis oleh: Adhi Purwono

Expand Messages
  • Vincent Liong
    Serial Kitab Masuk Angin KMA : Menemukan Jati Diri Teman-teman, banyak dari diri kita yang merasa belum menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Banyak pula
    Message 1 of 2 , May 2, 2007
    • 0 Attachment
      Serial Kitab Masuk Angin
      KMA : Menemukan Jati Diri

      Teman-teman, banyak dari diri kita yang merasa belum
      menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Banyak pula
      yang masih ngotot mengejar untuk menemukan jati
      dirinya. Banyak juga yang sudah merasa diri mapan,
      tapi anehnya merasa kosong dan hampa dalam dirinya.
      Banyak lagi yang tidak mengerti, cuek, pasrah akan apa
      kata orang tentang dirinya, bagaimana dirinya harus
      bersikap, berusaha terus menyenangkan orang lain, dan
      lain sebagainya. Maka dari itu saya pun penasaran
      dengan tema pencarian jati diri ini. Saya pun masih
      merasa berubah-ubah. Atau… apakah nanti ada suatu
      ‘rasa’ diri yang benar-benar merupakan ‘jati’ dari
      diri kita? Atau memang kita tidak terbuat dari ‘jati’?
      Mari kita setidaknya meniti kembali bersama-sama suatu
      pencarian, suatu kemapanan (?) yang disebut sebagai
      JATI DIRI ini.

      Selalu kita terperangah ketika sudah saatnya tangan
      kehidupan kembali menelusup zona kenyamanan kita.
      Mengganti karir pekerjaan, mendefinisikan kembali
      hubungan kita dengan orang yang kita cintai, memutar
      arah menuju kawasan yang benar-benar tidak kita
      ketahui, dan segala hal lain yang sanggup menohok kita
      kembali ke dasar pemikiran. Kembali ke dasar perasaan.
      Kembali bertanya-tanya. Tantangannya selalu sama.
      Memperkuat benteng pertahanan tentang konsep diri kita
      yang telah kita bangun dengan susah payah, atau
      merubuhkannya sekali lagi. Namun sering kali kita
      mudah tertipu oleh kehidupan. Kita sesungguhnya telah
      berubah sekaligus terluka, bukan menjadi apa yang kita
      inginkan, melainkan apa yang EFISIEN menurut
      kehidupan. Drama bikinan manusia di kehidupan ini
      boleh memiliki skenario yang itu-itu saja. Namun diri
      kita hampir tanpa kita sadari telah mengikuti
      efisiensi kehidupan. Kehidupan yang apa adanya.
      Kehidupan alami.

      Sewaktu-waktu dalam sesaat kita pasti pernah
      bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku selanjutnya?
      Bisakah aku terus memiliki pola kehidupanku seperti
      saat ini? Bisakah aku bertahan? Bagaimana kalau aku
      tidak mampu? Apakah aku telah menjadi pecundang dalam
      hidup ini? Pertanyaan sesaat ini selalu
      mengendap-ngendap. Menemani dengan setianya.
      Pertanyaan ini berdiam ketika diri kita sedang
      bahagia, dan bergejolak ketika diri kita sedang
      goyah-goyahnya. Pertanyaan sesungguhnya yang ingin
      selalu kita ungkapkan adalah, apakah kehidupanku masih
      akan selalu bisa terkontrol? Petualangan macam apa
      yang bakal menantiku selanjutnya? Tantangan seperti
      apakah? Apakah aku masih perlu belajar untuk secara
      menyakitkan (?) mengubah jati diriku? Seturut orang
      lainkah? Seturut tangan Tuhan/alam/kehidupan yang tak
      terlihatkah?

      Pertanyaan tinggallah pertanyaan. Namun kita tetap
      akan nanar melihat masa depan yang masih ada yang
      belum terbentuk. Bahkan ada yang belum terpikirkan.
      Bagi yang berusia lanjut, kehidupan (?) setelah
      kematianlah yang merupakan masa depan yang belum
      terbentuk. Bagi yang masih berusia muda, puluhan tahun
      ke depan masihlah merupakan masa depan yang
      samar-samar, jika tidak mau dikatakan sebagai tak
      berbentuk.

      Seringkali aku terbesit rasa kagum melihat orang-orang
      yang sudah cukup lanjut usianya (atau yang berusia
      jauh di atasku). Aku kagum juga melihat ibuku sendiri.
      Mereka telah menjalani kehidupan yang paling tidak dua
      kali lipat lebih lama daripada diriku. Entah berapa
      kali pada akhirnya jati diri mereka harus disesuaikan
      kembali (mungkin sekali sudah pernah bongkar pasang
      kembali). Membuat aku berpikir. Apakah jati diri
      merupakan kumpulan pengalaman yang mengerak yang
      kemudian memperkuat persepsi tentang dirinya?

      Sebuah getaran yang terasa menetap. Sebuah ayunan
      emosi yang tak bisa lagi terlalu berayun seperti dulu.
      Sebuah kebosanan yang telah dipancangkan untuk bisa
      memahami penderitaan hidup. Sealunan ayunan suara
      merdu yang selalu membawa ke masa lalu. Itukah jati
      diri? Ataukah, sebungkah harapan akan impian yang tak
      muluk-muluk amat. Sebuah ambisi yang menyehatkan
      badan. Suatu nasihat yang menetap untuk menerjang
      tantangan hidup. Setapak langkah yang diiringi senyum
      pasti dan kesiapan hati untuk kembali teriris. Dan
      seonggok sinar semangat yang masih tersisa untuk
      bangkit kembali?

      Rasa takut yang tergetarkan oleh rasa cinta akan
      kehidupan, membuat orang-orang terus bergerak bagaikan
      lebah meneteskan madu-madu hikmat. Sepengamatan saya,
      jati diri terus akan bergetar. Terus juga akan oleng,
      kemudian balik kembali. Seolah-olah terbuat dari kapal
      yang tak akan pernah tenggelam. Tapi ini adalah
      asumsi….Kapal yang tak pernah tenggelam adalah sebuah
      khayalan. Nyatanya kita pernah tenggelam. Setidaknya
      sekali.

      Ketika kita tenggelam. Ketika kita menemui perasaan
      kita yang paling sentimentil. Ketika kita sudah merasa
      paling dasar, namun ternyata masih terus meluncur ke
      bawah. Ketika ledakan tangis dan tawa menjadi satu
      memudarkan dan membongkar topeng-topeng peran/diri
      kita. Ketika itulah kita dapat merasakan kembali
      pelukan dari alam. Yang hangat. Dari bumi yang selalu
      setia mendengarkan keluh-kesah kita. Kita kembali
      mencium tanah tempat kita berasal. Merasakan degup
      jantung yang detakannya seirama dengan denyut tanah.
      Denyut bumi. Kita merasa terlindungi. Mendapatkan
      tempat untuk bersandar. Merebahkan diri. Bahkan
      merelakan jati diri kita, apapun itu…apapun.

      Kenikmatan berpelukan dengan bumi menjadi suatu
      kejelasan kesadaran. Suatu penglihatan. Suatu MOMEN.
      Saat terindah yang bukan picisan. Saat terdiam. Saat
      tersuci. Saat kita dicuci hati kita, menuju kehangatan
      kasih yang tak terkira. Rasa takut telah bersekutu
      dengan rasa cinta, walaupun rapuh, kita mulai
      bergerak. NAMUN, di sinilah titik kritisnya. Simpul
      yang akan membawa kepada pilihan. Menuju ke simpul
      mati kah? Atau simpul yang terus bergerak tak
      menjuntrung?

      Lagi-lagi kita dihadapkan pada pilihan. Hidup adalah
      pilihan. Benar? Salahkah? Hidup adalah spontanitas?
      Saat kita jatuh adalah saat kita menjelas. Saat itu
      terasa tiada pilihan. Hanya ada gerakan. Tidak begitu
      spontan, masih memilih tapi jelas tidak hanya berhenti
      pada kesadaran pada pilihan. Bahkan kesadaran akan
      adanya pilihan tak perlu ada. Kita memilih titik.
      Kemudian jalan.

      Itu saat kita jatuh. Lalu kehidupan bagi kita
      berangsur-angsur berjalan normal kembali. Pelan-pelan
      kita mulai mencari-cari posisi kenormalan diri kita.
      Tentu kita tidak mau terus berkubang dalam
      persentimentilan (perasaan sentimentil). Oleh karena
      itulah kita mulai memasang titik referensi dimana saat
      kita masih merasa normal sebelum kita jatuh. Nah, kita
      kemudian akan berusaha terus ke arah titik referensi
      tersebut -- yang bisa berupa kenangan saat kita
      santai, rileks menghadapi tantangan, atau pada saat
      ambisius, dlsb, yang tentu bisa dijadikan titik
      perasaan normal, bila dibandingkan dengan perasaan
      saat jatuh, yaitu depresi, sedih berkepanjangan,
      uring-uringan, gampang marah, dlsb -- .

      Normal – bangun – mengejar mimpi – terjatuh – bangkit
      – mencari titik normal – merasa normal – bangun lagi –
      mengejar mimpi -- dst. Ini adalah sebuah siklus alami
      kehidupan manusia di bumi ini. Dan pencarian jati diri
      kita terletak pada posisi siklus – mencari titik
      normal -- . Tentu tidak harus seperti siklus di atas.
      Namun perlu disadari terkadang yang kita cari sebagai
      jati diri sebenarnya adalah rasa kenormalan diri kita.
      Normal mengindikasikan rasa terbiasa pada diri kita.
      Hal apa yang membuat diri kita terasa paling nyaman?
      Bisa dikatakan, hal-hal tersebutlah yang merupakan
      kulit dari konsep-konsep kita mengenai jati diri kita.
      Tentu saja, kalau kita hanya mendefiniskan jati diri
      kita terhadap hal-hal materi di luar diri kita, maka
      kita akan mendapatkan konsep-konsep jati diri kita
      yang terlihat kaku, yang dapat membuat kita merasa
      bertanya-tanya karena mungkin kita akan cepat bosan
      dengan pengkaitan atau pelabel-labelannya. Tentu kita
      tidak akan pernah rela didefinisikan seperti sebuah
      konsep mati. Tentu kita selalu berusaha agar jangan
      sampai diri kita mudah ditebak. Namun anehnya, kita
      menginginkan diri kita mudah ditebak/diperkirakan oleh
      kita sendiri. Kita ingin terbiasa dengan diri kita
      yang kemudian hanya merupakan taktik kita belaka
      supaya bisa TERBIASA dengan kehidupan.

      “Apa agama anda? Islam. Terus agama anda yang satu
      lagi? Katolik. Lho kok bisa punya dua agama?” Kita
      mulai protes kepada orang ini yang mengaku mengimani
      dua agama sekaligus. Tentu terasa aneh kalau ada orang
      yang mengaku mengimani lebih dari satu agama. Namun
      mulai terasa lain halnya kalau pertanyaannya diubah
      sedikit. “Apakah jati diri anda? Islam. Islam?
      Benarkah jati diri anda Islam?” Kita akan mulai ragu.
      Dalam hati kecil kita tetap terasa diri kita tak akan
      rela didefinisikan bahkan dengan label agama
      sekalipun. “Oh anda Islam garis keras toh…!” Apalagi
      pernyataan ini, pada umumnya kita akan segera marah…!

      Oleh karena itulah hampir semua orang tidak suka bila
      dirinya dihakimi, dinilai, distereotipkan,
      digeneralisirkan atau
      disamaratakan/dikelompok-kelompokkan. “Aku ya aku”,
      itulah motto diri kita semua. Kita selalu merasa diri
      kita unik. Tidak ada duanya. Tanpa kita sadari, sesuai
      dengan sifat kehidupan yang memang berubah-ubah,
      kitapun sebenarnya tidak ingin konsep diri kita
      menetap selamanya. Hanya saja, tetap saja ada yang
      terasa aneh. Kita tetap sering terasa belum menemukan
      jati diri kita sesungguhnya. Kita selalu merasa
      seluruh potensi kita akibatnya belum tergarap dengan
      optimal karena belum menemukan jati diri yang
      sesungguhnya. Dengan kata lain, mungkin sebenarnya
      kita telah menunggu godot hanya untuk mengantarkan
      kita pada tanda tanya lain mengenai jati diri kita.
      Umur kita bakalan keburu habis hanya untuk memburu
      jati diri. Layakkah?

      Lagi-lagi pertanyaan bukan? Lalu bisa dihentikankah
      pertanyaan-pertanyaan sejenis seperti ini? Bisakah
      kita hanya kemudian mengklaim saja, jati diri tak usah
      capek-capek ditemukan, toh sesungguhnya tak perlu
      dicari, hanya perlu menghayati kehidupan ini…?
      Menghayati kehidupan. Hanya berjalan. Langkahkan
      kakimu. Rengkuh seluruh ayunan perasaanmu. Raih
      pendewasaanmu secepatnya. Jangan tunda apapun, jika
      memang penundaan terasa seperti kesia-siaan. Dan
      jangan berjalan buta jika diam adalah langkah yang
      paling efektif dan efisien. Lalu selamat datang
      ketidakpastian. VOID.

      Ketika rencana pudar menjadi langkah yang melebar
      kesana-kemari. Ketika hidup tidak mengenal kata
      ketidakefisienan. Ketika jati diri hanya terasa
      (terasa….*tenggg) seperti dengung lebah yang
      menghangat di hati. Dan ketika pikiran tidak bisa
      diajak berlogika. Emosi bahkan tidak bisa diajak
      bersentimentil ria. Nyerah? Pasrah? Bukan…. Bukan
      menyerahkan kontrol diri kita. Hanya merengkuh
      kembali. Segalanya yang sudah ada di dalam diri kita
      yang juga tercakup segala yang di luar diri kita.
      Bahkan, jati diri pun tidak bisa diikat dengan kata
      label, ‘dalam diri’. Jati diri (jikapun merupakan
      konsep), ada di dalam diri sekaligus di luar diri
      (tentu ini masih dalam tataran konsep). Jika kita mau
      keluar dari tataran konsep (sesungguhnya masih konsep
      juga)…., jati diri adalah sesuatu yang kita
      perkenankan masuk dan kita perkenankan keluar (dengan
      ‘sesuatu’ bisa apa saja, tidak dikonsepkan secara
      kaku). Semakin lancar aliran ‘sesuatu’ yang masuk dan
      keluar dalam diri kita, semakin berdesinglah diri kita
      seturut denyut kehidupan di bumi ini. Semakin mandeg
      aliran tersebut, semakin banyak pula makna yang kita
      dapatkan untuk kemudian menjadi harta kenangan setelah
      dilepaskan (setelah berdesing kembali). Jadi, lancar
      maupun mandeg sekali lagi merupakan siklus alami dari
      berdesing (mengalami), kemudian memaknai pengalaman
      tersebut sesuai dengan keinginan kita sebagai manusia,
      yaitu pemaknaan kehidupan di bumi.

      Bisa disimpulkan, yang merupakan ‘jati’ pada diri kita
      adalah fungsi pemaknaan dari kehidupan diri kita.
      Fungsi pemaknaan bukanlah makna itu sendiri. Itulah
      mengapa wajar sekali kita selalu (seperti ada
      siklusnya) merasa bisa kehilangan jati diri. Kita
      mencari makna dari dalam diri kita (karena kita
      mengira menemukan jati diri samadengan menemukan
      pemaknaan hidup kita). Padahal makna diciptakan dari
      dalam diri kita, bukan ditemukan! Tentu ini bukanlah
      saran supaya kita mempunyai jati diri yang lentur
      sekali. Tentu bukan itu. Jati diri yang terasa terlalu
      lentur bahkan bisa kehilangan sebagian besar daya
      fungsi pemaknaannya. Buat apa terlalu mengalir bersama
      kehidupan jikalau nanti cuma terasa kehidupan berjalan
      terlalu cepat bagi diri kita. Namun tidak perlu pula
      ngotot berdiam diri untuk terus mengunyah makna-makna
      yang sudah terlalu usang dan menjadi lengket sehingga
      malah kehilangan kesempatan berharga untuk mendapatkan
      kekayaan pemaknaan yang sangat beranekaragam yang
      ditawarkan oleh kehidupan ini. Lebih baik kita
      tertatih-tatih belajar berjalan bersama denyut langkah
      kehidupan ini, sambil mendapatkan momen-makna yang
      dapat membuat jiwa-jiwa kita berekspresi riang.

      Jadi… selamat mengumpulkan momen-makna anda. Sadari
      anda memiliki ‘jati’ diri anda, sehingga anda dapat
      belajar menggunakannya. Tak perlu berusaha menemukan
      jati diri anda. Anda akan tahu sendiri mana yang
      terasa sebagai jati diri anda, karena ‘jati’ selalu
      melambangkan kualitas anda sebagai manusia (karena
      menjadi manusia adalah hal yang paling berharga di
      kehidupan ini). Jadi, jika anda sudah mengetahui
      betapa tak ternilainya anda sebagai manusia (dan
      memang hampir seluruh manusia di bumi ini memandang
      dirinya sangat tinggi), tentu anda sudah mengetahui
      itu merupakan ‘jati’ diri anda bukan?

      Salam,
      Adhi Purwono.
      Ciledug, 2 Mei 2007
      CDMA : 021-68812660
      Email : adhi_p@...
      Pengajar Kompatiologi – Dekonstruksi (pendekon).






      LAMPIRAN Info Pendekon
      Last update: 30 April 2007 (berlaku sampai update
      berikutnya)



      ISI LAMPIRAN
      * Daftar pengajar Kompatiologi cabang Jakarta.
      * Daftar penasehat Kompatiologi cabang Jakarta.
      * Daftar pengajar Kompatiologi cabang daerah (di luar
      Jakarta; Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo &
      Purwokerto,.)
      * Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
      Kompatiologi ke Kota Anda.
      * Maillist-maillist tempat diskusi Kompatiologi
      (unmoderated).

      Note: Keterangan tentang ciri-ciri dan spesialisasi
      masing-masing pribadi pendekon ditulis oleh Vincent
      Liong & Leonardo Rimba.


      YANG PERLU DIPERHATIKAN:
      * By appointment only. Biasanya pendekon membawa
      pendekon dari cabang lain bilamana jumlah terdekon di
      luar kemampuan pendekon dengan tujuan untuk menjaga
      standart kwalitas hasil dekon.
      * Wajib konformasi sehari sebelum hari appointment dan
      hari yang sama sebelum dekon.
      * Tidak melayani tanya-jawab via sms dan misscall.
      * Biasanya acara dekon berlangsung selama empat jam.
      Dilarang meninggalkan acara sebelum acara selesai.
      * Order proyek luar kota, seminar, wawancara pers,
      dlsb hubungi & deal langsung dengan masing-masing
      praktisi.
      * Disarankan (tidak wajib) terdekon membawa teman yang
      tinggal satu area / lingkungan pergaulan dengannya
      agar memiliki teman sharing tentang penerapan
      kompatiologi pasca dekon-kompatiologi, agar
      perkembangan pasca dekon lebih cepat dan terkontrol.
      * Tiap pendekon bekerja dan bertanggungjawab secara
      independent. Tanggungjawab kepada klien adalah pada
      masing-masing praktisi yang menjadi pendekon pilihan
      anda.
      * Praktisi kompatiologi tidak memberikan jaminan
      apapun terhadap klien. Segala resiko dari proses
      dekonstruksi ditanggung oleh klien sendiri.
      * Tarif yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu
      tanpa pemberitahuan (baik diubah oleh Vincent Liong
      maupun oleh masing-masing pendekon sendiri tanpa
      memberitahu Vincent Liong).
      * Kompatiologi juga membuka diri untuk donasi /
      sumbangan biaya penelitian yang sifatnya pribadi
      karena dilakukan oleh masing-masing pendekon atas
      kemauan & usaha sendiri. Sumbangan berupa uang dapat
      ditransfer ke bank account atau secara tunai(cash).
      * Untuk informasi yang belum disebutkan di atas dapat
      menanyakan langsung kepada pendekon.



      PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

      * MARWAN M.
      Marwan, menekuni pencarian diri bagi orang yang
      berminat meninggalkan nilai-nilai tradisional, untuk
      masuk ke masa postmoderen, dengan memilih sendiri
      unsur apa yang harus dipertahankan dan unsur apa yang
      harus diambil dari luar budayanya sendiri.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City & Mall Taman
      Anggrek.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-93710900 & Hp: 0818888653.

      * STEVEN TJOENG (alias: Dayapala Pema Lodoe)
      Steven adalah pribadi yang ‘Tibetan Style’, banyak
      pengaruh budhisme.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-93332223 & Hp: 081381381311.

      * DADE (M. PRABOWO)
      Dade adalah pribadi yang banyak mendalami aliran yang
      bersifat sufistik / tasawuf.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
      Mall Kelapa Gading.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-98805716 & Hp: 081808862171.

      * RIO PANJAITAN
      Rio adalah pribadi yang pribadi yang memiliki
      background tekhnik beladiri & filosofi Aikido, dan
      filsafat Bushido yang adalah warisan budaya Jepang.
      Mengkhususkan diri bagi mereka yang memiliki semangat
      pengabdian dalam bidang apapun.
      Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
      Mall Kelapa Gading.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-99068707 & Hp: 081380530125.

      * ONDO UNTUNG
      Ondo adalah pribadi yang lihai dalam menganalisa
      fenomena sosial-politik kontemporer.
      Lokasi dekon: Mall Kelapa Gading, Plaza Senayan,
      Senayan City, Plaza Semanggi.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA esia: 021-92862617 & Hp: 08128599710.

      * ADHI PURWONO
      Adhi mampu mengerti pengalaman-pengalaman sikofren
      yang berasal dari masa kanak-kanak yang berlanjut ke
      masa dewasa dan masalah yang berkaitan dengan hubungan
      antar pribadi.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City, Mall Taman
      Anggrek & Mall Puri Indah.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA flexi: 021-68812660 & fren: 08886187085.
      Bank Account: Bank BNI cabang Harmoni.
      A/c: 1810500-6 A/n: Adhi Purwono.

      * VINCENT LIONG (Pendiri & Penemu ilmu Kompatiologi)
      Vincent adalah pendiri & penemu Kompatiologi, secara
      pribadi berminat pada masalah eksistensi & adaptasi
      diri terhadap lingkungan.
      Lokasi dekon: Plaza Senayan & Senayan City.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.500.000,- per peserta di Plaza Senayan
      & Senayan City.
      CDMA flexi: 021-70006775 & esia: 021-98806892 (untuk
      di Jakarta saja).
      CDMA fren: 08881333410 (untuk di Jakarta & luar kota).

      Telp: 021-5482193, 5348567 Fax: 021-5348546
      Bank Account: Bank BCA cabang Permata Hijau.
      A/c: 178-117-9600 A/n: Liong Vincent Christian.



      PENASEHAT KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

      CORNELIA ISTIANI
      Istiani mengkhususkan diri pada mereka yang berasal
      dari bidang ‘eksakta’(matematika, pengukuran dan
      statistika).
      Hp: 081585228174 CDMA flexi: 021-68358037
      CDMA fren: 08886167847 (untuk di Jakarta & luar kota).

      JUSWAN SETYAWAN
      Juswan adalah penulis & edukator piawai dalam bidang
      kedokteran populer.
      Hp: 08159162193

      LEONARDO RIMBA
      Leonardo Rimba, ilmuan politik yang bergerak di bidang
      metafisika praktis.
      Hp: 0818183615



      PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG DAERAH

      * Cabang SOLO
      Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
      peserta.
      - Sunu (Hp: 08122651357 CDMA flexi: 0271-7072879)
      Sunu adalah sarjana hukum yang sedang meneliti
      berbagai pendekatan praktis bagi mereka yang sedang
      atau akan mempelajari kompatiologi.
      - Toto (CDMA fren: 08886702727 flexi: 0271-7035186 Hp:
      08552812005)
      Toto adalah filsuf sosial dengan pendekatan ilmiah
      populer yang penjelasannya sangat mudah dicerna oleh
      masyarakat umum.
      - Wawan Setiawan (Hp: 081932655888 CDMA fren:
      08882900288)
      Wawan mengkhususkan diri dalam memberikan pengarahan
      kepada mereka yang pernah, akan, atau sedang
      berkecimpung dalam dunia hitam di Indonesia dan
      hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
      - Alan Sarwono (Hp: 0811285540)
      Alan Sarwono mengkhususkan diri pada mereka yang telah
      menduduki posisi managerial menengah dan berambisi
      untuk mencapai jabatan tertinggi di organisasi bisnis
      mereka.
      - Aida (CDMA fren: 08882989050)
      Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
      dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
      - Agung PW (Hp: 081331139120)
      Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
      dalam bidang seni dan pendidikan.
      - Sukma (CDMA fren: 08886753831)
      Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
      dalam bidang seni visual terutama fotografi dan
      fenomena ke-Indigo-an.
      - Willy BS (Hp: 08179489889, 0816674069 CDMA flexi:
      0271-7016881)
      Willy, spesialis soal orangtua yang merasa dirinya
      atau anaknya bermasalah.

      * Cabang YOGYAKARTA
      Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
      peserta.
      - Lely Cabe (Hp: 08170428081)
      Lely sangat memahami masalah-masalah lintasbudaya
      antar bangsa dan toleransi sosial.
      - Aida (CDMA fren: 08882989050)
      Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
      dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.

      * Cabang BANDUNG : Omen
      Omen adalah pribadi yang mendalami ilmu Feng Shui
      untuk diterapkan ke arsitektur
      moderen dengan latarbelakang sarjana seni ITB. Dengan
      sifat pribadi dasar monyet api; Jadi pada kondisi
      situasi yang meletup-letup membakar, jangan heran
      kalau dengan tiba-tiba bisa saja ia berpindah ke pohon
      yang lain.
      CDMA flexi: 022-70108828 & Hp: 08157179292.

      * Cabang PURWOKERTO : Bimo Wikantiyoso
      Bimo sementara ini mengkhususkan diri untuk melayani
      mereka yang ingin menjadi adaptif dalam hal-hal
      spiritualitas dan pengendalian hal-hal keduniawian.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA fren: 08888405843 & Hp: 0816746770.

      * Cabang SURABAYA : Audifax
      Audifax, ahli ilmu jiwa, kemanusiaan dan berbagai
      permasalahannya, seperti dimunculkan dalam berbagai
      simbol-simbol yang ditemui di masyarakat Indonesia
      saat ini.
      Jadwal by appointment.
      Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
      CDMA flexi: 031-70209354 & fren: 08882733626.



      Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
      Kompatiologi ke Kota Anda.
      Untuk mendatangkan / mengundang Vincent Liong, hal-hal
      yang perlu dipenuhi adalah sbb:

      1. AKOMODASI
      * Ada individu penanggungjawab / sponsor (local
      representative) yang jelas, yang mengatur acara &
      mengurus perekrutan peserta. Akan lebih baik bila
      individu penanggungjawab datang ke Jakarta sebelumnya
      untuk mengenal Vincent Liong dan Kompatiologi lebih
      dalam sebelum menjadi local representative di acara
      kunjungan Vincent Liong, agar tidak ada
      kesalahpahaman.
      * Tiket pesawat pergi & pulang ke kota tsb & akomodasi
      hotel dibelikan di muka.
      * Tambahan biaya satu juta rupiah untuk uang saku,
      dibayar di muka via transfer ke bank account.
      * Ada individu yang menemani, mengantarkan (fasilitas
      transportasi) & membiayai Vincent Liong berekreasi,
      sambil pendalaman kompatiologi secara informal di
      waktu luang agar tidak bosan / jenuh saat di kota tsb.
      * Biasanya acara kunjungan dilakukan selama seminggu
      sampai dua minggu untuk mempersiapkan kompatiologi
      cabang daerah yang independent tidak tergantung cabang
      Jakarta dalam aplikasinya.

      2. TARIF DEKON KOMPATIOLOGI
      * Bagi peserta di kota tsb, yang mengikuti acara
      bersama Vincent dikenai tarif Rp.300.000,-/peserta,
      biaya ini di luar biaya & hal AKOMODASI.

      3. TARIF SARASEHAN
      * Bagi pihak yang ingin mengundang untuk acara
      sarasehan bertema kompatiologi dengan pembicara
      Vincent Liong, dapat dinegosiasikan langsung per
      telepon dan email. Bila di luar kota, maka hal tsb
      harus memenuhi hal AKOMODASI.

      (Note: Aturan main di atas juga berlaku untuk
      mendatangkan para pendekon kompatiologi yang lain yang
      nama dan contact personnya tercantum dalam email ini.
      Silahkan hubungi langsung per telepon.)



      Maillist-maillist tempat diskusi Kompatiologi
      (unmoderated):
      * http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
      * http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
      *
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/
      *
      http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about



      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    • Vincent Liong
      Serial Kitab Masuk Angin KMA : Menemukan Jati Diri Teman-teman, banyak dari diri kita yang merasa belum menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Banyak pula
      Message 2 of 2 , May 2, 2007
      • 0 Attachment
        Serial Kitab Masuk Angin
        KMA : Menemukan Jati Diri

        Teman-teman, banyak dari diri kita yang merasa belum
        menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Banyak pula
        yang masih ngotot mengejar untuk menemukan jati
        dirinya. Banyak juga yang sudah merasa diri mapan,
        tapi anehnya merasa kosong dan hampa dalam dirinya.
        Banyak lagi yang tidak mengerti, cuek, pasrah akan apa
        kata orang tentang dirinya, bagaimana dirinya harus
        bersikap, berusaha terus menyenangkan orang lain, dan
        lain sebagainya. Maka dari itu saya pun penasaran
        dengan tema pencarian jati diri ini. Saya pun masih
        merasa berubah-ubah. Atau… apakah nanti ada suatu
        ‘rasa’ diri yang benar-benar merupakan ‘jati’ dari
        diri kita? Atau memang kita tidak terbuat dari ‘jati’?
        Mari kita setidaknya meniti kembali bersama-sama suatu
        pencarian, suatu kemapanan (?) yang disebut sebagai
        JATI DIRI ini.

        Selalu kita terperangah ketika sudah saatnya tangan
        kehidupan kembali menelusup zona kenyamanan kita.
        Mengganti karir pekerjaan, mendefinisikan kembali
        hubungan kita dengan orang yang kita cintai, memutar
        arah menuju kawasan yang benar-benar tidak kita
        ketahui, dan segala hal lain yang sanggup menohok kita
        kembali ke dasar pemikiran. Kembali ke dasar perasaan.
        Kembali bertanya-tanya. Tantangannya selalu sama.
        Memperkuat benteng pertahanan tentang konsep diri kita
        yang telah kita bangun dengan susah payah, atau
        merubuhkannya sekali lagi. Namun sering kali kita
        mudah tertipu oleh kehidupan. Kita sesungguhnya telah
        berubah sekaligus terluka, bukan menjadi apa yang kita
        inginkan, melainkan apa yang EFISIEN menurut
        kehidupan. Drama bikinan manusia di kehidupan ini
        boleh memiliki skenario yang itu-itu saja. Namun diri
        kita hampir tanpa kita sadari telah mengikuti
        efisiensi kehidupan. Kehidupan yang apa adanya.
        Kehidupan alami.

        Sewaktu-waktu dalam sesaat kita pasti pernah
        bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku selanjutnya?
        Bisakah aku terus memiliki pola kehidupanku seperti
        saat ini? Bisakah aku bertahan? Bagaimana kalau aku
        tidak mampu? Apakah aku telah menjadi pecundang dalam
        hidup ini? Pertanyaan sesaat ini selalu
        mengendap-ngendap. Menemani dengan setianya.
        Pertanyaan ini berdiam ketika diri kita sedang
        bahagia, dan bergejolak ketika diri kita sedang
        goyah-goyahnya. Pertanyaan sesungguhnya yang ingin
        selalu kita ungkapkan adalah, apakah kehidupanku masih
        akan selalu bisa terkontrol? Petualangan macam apa
        yang bakal menantiku selanjutnya? Tantangan seperti
        apakah? Apakah aku masih perlu belajar untuk secara
        menyakitkan (?) mengubah jati diriku? Seturut orang
        lainkah? Seturut tangan Tuhan/alam/kehidupan yang tak
        terlihatkah?

        Pertanyaan tinggallah pertanyaan. Namun kita tetap
        akan nanar melihat masa depan yang masih ada yang
        belum terbentuk. Bahkan ada yang belum terpikirkan.
        Bagi yang berusia lanjut, kehidupan (?) setelah
        kematianlah yang merupakan masa depan yang belum
        terbentuk. Bagi yang masih berusia muda, puluhan tahun
        ke depan masihlah merupakan masa depan yang
        samar-samar, jika tidak mau dikatakan sebagai tak
        berbentuk.

        Seringkali aku terbesit rasa kagum melihat orang-orang
        yang sudah cukup lanjut usianya (atau yang berusia
        jauh di atasku). Aku kagum juga melihat ibuku sendiri.
        Mereka telah menjalani kehidupan yang paling tidak dua
        kali lipat lebih lama daripada diriku. Entah berapa
        kali pada akhirnya jati diri mereka harus disesuaikan
        kembali (mungkin sekali sudah pernah bongkar pasang
        kembali). Membuat aku berpikir. Apakah jati diri
        merupakan kumpulan pengalaman yang mengerak yang
        kemudian memperkuat persepsi tentang dirinya?

        Sebuah getaran yang terasa menetap. Sebuah ayunan
        emosi yang tak bisa lagi terlalu berayun seperti dulu.
        Sebuah kebosanan yang telah dipancangkan untuk bisa
        memahami penderitaan hidup. Sealunan ayunan suara
        merdu yang selalu membawa ke masa lalu. Itukah jati
        diri? Ataukah, sebungkah harapan akan impian yang tak
        muluk-muluk amat. Sebuah ambisi yang menyehatkan
        badan. Suatu nasihat yang menetap untuk menerjang
        tantangan hidup. Setapak langkah yang diiringi senyum
        pasti dan kesiapan hati untuk kembali teriris. Dan
        seonggok sinar semangat yang masih tersisa untuk
        bangkit kembali?

        Rasa takut yang tergetarkan oleh rasa cinta akan
        kehidupan, membuat orang-orang terus bergerak bagaikan
        lebah meneteskan madu-madu hikmat. Sepengamatan saya,
        jati diri terus akan bergetar. Terus juga akan oleng,
        kemudian balik kembali. Seolah-olah terbuat dari kapal
        yang tak akan pernah tenggelam. Tapi ini adalah
        asumsi….Kapal yang tak pernah tenggelam adalah sebuah
        khayalan. Nyatanya kita pernah tenggelam. Setidaknya
        sekali.

        Ketika kita tenggelam. Ketika kita menemui perasaan
        kita yang paling sentimentil. Ketika kita sudah merasa
        paling dasar, namun ternyata masih terus meluncur ke
        bawah. Ketika ledakan tangis dan tawa menjadi satu
        memudarkan dan membongkar topeng-topeng peran/diri
        kita. Ketika itulah kita dapat merasakan kembali
        pelukan dari alam. Yang hangat. Dari bumi yang selalu
        setia mendengarkan keluh-kesah kita. Kita kembali
        mencium tanah tempat kita berasal. Merasakan degup
        jantung yang detakannya seirama dengan denyut tanah.
        Denyut bumi. Kita merasa terlindungi. Mendapatkan
        tempat untuk bersandar. Merebahkan diri. Bahkan
        merelakan jati diri kita, apapun itu…apapun.

        Kenikmatan berpelukan dengan bumi menjadi suatu
        kejelasan kesadaran. Suatu penglihatan. Suatu MOMEN.
        Saat terindah yang bukan picisan. Saat terdiam. Saat
        tersuci. Saat kita dicuci hati kita, menuju kehangatan
        kasih yang tak terkira. Rasa takut telah bersekutu
        dengan rasa cinta, walaupun rapuh, kita mulai
        bergerak. NAMUN, di sinilah titik kritisnya. Simpul
        yang akan membawa kepada pilihan. Menuju ke simpul
        mati kah? Atau simpul yang terus bergerak tak
        menjuntrung?

        Lagi-lagi kita dihadapkan pada pilihan. Hidup adalah
        pilihan. Benar? Salahkah? Hidup adalah spontanitas?
        Saat kita jatuh adalah saat kita menjelas. Saat itu
        terasa tiada pilihan. Hanya ada gerakan. Tidak begitu
        spontan, masih memilih tapi jelas tidak hanya berhenti
        pada kesadaran pada pilihan. Bahkan kesadaran akan
        adanya pilihan tak perlu ada. Kita memilih titik.
        Kemudian jalan.

        Itu saat kita jatuh. Lalu kehidupan bagi kita
        berangsur-angsur berjalan normal kembali. Pelan-pelan
        kita mulai mencari-cari posisi kenormalan diri kita.
        Tentu kita tidak mau terus berkubang dalam
        persentimentilan (perasaan sentimentil). Oleh karena
        itulah kita mulai memasang titik referensi dimana saat
        kita masih merasa normal sebelum kita jatuh. Nah, kita
        kemudian akan berusaha terus ke arah titik referensi
        tersebut -- yang bisa berupa kenangan saat kita
        santai, rileks menghadapi tantangan, atau pada saat
        ambisius, dlsb, yang tentu bisa dijadikan titik
        perasaan normal, bila dibandingkan dengan perasaan
        saat jatuh, yaitu depresi, sedih berkepanjangan,
        uring-uringan, gampang marah, dlsb -- .

        Normal – bangun – mengejar mimpi – terjatuh – bangkit
        – mencari titik normal – merasa normal – bangun lagi –
        mengejar mimpi -- dst. Ini adalah sebuah siklus alami
        kehidupan manusia di bumi ini. Dan pencarian jati diri
        kita terletak pada posisi siklus – mencari titik
        normal -- . Tentu tidak harus seperti siklus di atas.
        Namun perlu disadari terkadang yang kita cari sebagai
        jati diri sebenarnya adalah rasa kenormalan diri kita.
        Normal mengindikasikan rasa terbiasa pada diri kita.
        Hal apa yang membuat diri kita terasa paling nyaman?
        Bisa dikatakan, hal-hal tersebutlah yang merupakan
        kulit dari konsep-konsep kita mengenai jati diri kita.
        Tentu saja, kalau kita hanya mendefiniskan jati diri
        kita terhadap hal-hal materi di luar diri kita, maka
        kita akan mendapatkan konsep-konsep jati diri kita
        yang terlihat kaku, yang dapat membuat kita merasa
        bertanya-tanya karena mungkin kita akan cepat bosan
        dengan pengkaitan atau pelabel-labelannya. Tentu kita
        tidak akan pernah rela didefinisikan seperti sebuah
        konsep mati. Tentu kita selalu berusaha agar jangan
        sampai diri kita mudah ditebak. Namun anehnya, kita
        menginginkan diri kita mudah ditebak/diperkirakan oleh
        kita sendiri. Kita ingin terbiasa dengan diri kita
        yang kemudian hanya merupakan taktik kita belaka
        supaya bisa TERBIASA dengan kehidupan.

        “Apa agama anda? Islam. Terus agama anda yang satu
        lagi? Katolik. Lho kok bisa punya dua agama?” Kita
        mulai protes kepada orang ini yang mengaku mengimani
        dua agama sekaligus. Tentu terasa aneh kalau ada orang
        yang mengaku mengimani lebih dari satu agama. Namun
        mulai terasa lain halnya kalau pertanyaannya diubah
        sedikit. “Apakah jati diri anda? Islam. Islam?
        Benarkah jati diri anda Islam?” Kita akan mulai ragu.
        Dalam hati kecil kita tetap terasa diri kita tak akan
        rela didefinisikan bahkan dengan label agama
        sekalipun. “Oh anda Islam garis keras toh…!” Apalagi
        pernyataan ini, pada umumnya kita akan segera marah…!

        Oleh karena itulah hampir semua orang tidak suka bila
        dirinya dihakimi, dinilai, distereotipkan,
        digeneralisirkan atau
        disamaratakan/dikelompok-kelompokkan. “Aku ya aku”,
        itulah motto diri kita semua. Kita selalu merasa diri
        kita unik. Tidak ada duanya. Tanpa kita sadari, sesuai
        dengan sifat kehidupan yang memang berubah-ubah,
        kitapun sebenarnya tidak ingin konsep diri kita
        menetap selamanya. Hanya saja, tetap saja ada yang
        terasa aneh. Kita tetap sering terasa belum menemukan
        jati diri kita sesungguhnya. Kita selalu merasa
        seluruh potensi kita akibatnya belum tergarap dengan
        optimal karena belum menemukan jati diri yang
        sesungguhnya. Dengan kata lain, mungkin sebenarnya
        kita telah menunggu godot hanya untuk mengantarkan
        kita pada tanda tanya lain mengenai jati diri kita.
        Umur kita bakalan keburu habis hanya untuk memburu
        jati diri. Layakkah?

        Lagi-lagi pertanyaan bukan? Lalu bisa dihentikankah
        pertanyaan-pertanyaan sejenis seperti ini? Bisakah
        kita hanya kemudian mengklaim saja, jati diri tak usah
        capek-capek ditemukan, toh sesungguhnya tak perlu
        dicari, hanya perlu menghayati kehidupan ini…?
        Menghayati kehidupan. Hanya berjalan. Langkahkan
        kakimu. Rengkuh seluruh ayunan perasaanmu. Raih
        pendewasaanmu secepatnya. Jangan tunda apapun, jika
        memang penundaan terasa seperti kesia-siaan. Dan
        jangan berjalan buta jika diam adalah langkah yang
        paling efektif dan efisien. Lalu selamat datang
        ketidakpastian. VOID.

        Ketika rencana pudar menjadi langkah yang melebar
        kesana-kemari. Ketika hidup tidak mengenal kata
        ketidakefisienan. Ketika jati diri hanya terasa
        (terasa….*tenggg) seperti dengung lebah yang
        menghangat di hati. Dan ketika pikiran tidak bisa
        diajak berlogika. Emosi bahkan tidak bisa diajak
        bersentimentil ria. Nyerah? Pasrah? Bukan…. Bukan
        menyerahkan kontrol diri kita. Hanya merengkuh
        kembali. Segalanya yang sudah ada di dalam diri kita
        yang juga tercakup segala yang di luar diri kita.
        Bahkan, jati diri pun tidak bisa diikat dengan kata
        label, ‘dalam diri’. Jati diri (jikapun merupakan
        konsep), ada di dalam diri sekaligus di luar diri
        (tentu ini masih dalam tataran konsep). Jika kita mau
        keluar dari tataran konsep (sesungguhnya masih konsep
        juga)…., jati diri adalah sesuatu yang kita
        perkenankan masuk dan kita perkenankan keluar (dengan
        ‘sesuatu’ bisa apa saja, tidak dikonsepkan secara
        kaku). Semakin lancar aliran ‘sesuatu’ yang masuk dan
        keluar dalam diri kita, semakin berdesinglah diri kita
        seturut denyut kehidupan di bumi ini. Semakin mandeg
        aliran tersebut, semakin banyak pula makna yang kita
        dapatkan untuk kemudian menjadi harta kenangan setelah
        dilepaskan (setelah berdesing kembali). Jadi, lancar
        maupun mandeg sekali lagi merupakan siklus alami dari
        berdesing (mengalami), kemudian memaknai pengalaman
        tersebut sesuai dengan keinginan kita sebagai manusia,
        yaitu pemaknaan kehidupan di bumi.

        Bisa disimpulkan, yang merupakan ‘jati’ pada diri kita
        adalah fungsi pemaknaan dari kehidupan diri kita.
        Fungsi pemaknaan bukanlah makna itu sendiri. Itulah
        mengapa wajar sekali kita selalu (seperti ada
        siklusnya) merasa bisa kehilangan jati diri. Kita
        mencari makna dari dalam diri kita (karena kita
        mengira menemukan jati diri samadengan menemukan
        pemaknaan hidup kita). Padahal makna diciptakan dari
        dalam diri kita, bukan ditemukan! Tentu ini bukanlah
        saran supaya kita mempunyai jati diri yang lentur
        sekali. Tentu bukan itu. Jati diri yang terasa terlalu
        lentur bahkan bisa kehilangan sebagian besar daya
        fungsi pemaknaannya. Buat apa terlalu mengalir bersama
        kehidupan jikalau nanti cuma terasa kehidupan berjalan
        terlalu cepat bagi diri kita. Namun tidak perlu pula
        ngotot berdiam diri untuk terus mengunyah makna-makna
        yang sudah terlalu usang dan menjadi lengket sehingga
        malah kehilangan kesempatan berharga untuk mendapatkan
        kekayaan pemaknaan yang sangat beranekaragam yang
        ditawarkan oleh kehidupan ini. Lebih baik kita
        tertatih-tatih belajar berjalan bersama denyut langkah
        kehidupan ini, sambil mendapatkan momen-makna yang
        dapat membuat jiwa-jiwa kita berekspresi riang.

        Jadi… selamat mengumpulkan momen-makna anda. Sadari
        anda memiliki ‘jati’ diri anda, sehingga anda dapat
        belajar menggunakannya. Tak perlu berusaha menemukan
        jati diri anda. Anda akan tahu sendiri mana yang
        terasa sebagai jati diri anda, karena ‘jati’ selalu
        melambangkan kualitas anda sebagai manusia (karena
        menjadi manusia adalah hal yang paling berharga di
        kehidupan ini). Jadi, jika anda sudah mengetahui
        betapa tak ternilainya anda sebagai manusia (dan
        memang hampir seluruh manusia di bumi ini memandang
        dirinya sangat tinggi), tentu anda sudah mengetahui
        itu merupakan ‘jati’ diri anda bukan?

        Salam,
        Adhi Purwono.
        Ciledug, 2 Mei 2007
        CDMA : 021-68812660
        Email : adhi_p@...
        Pengajar Kompatiologi – Dekonstruksi (pendekon).






        LAMPIRAN Info Pendekon
        Last update: 30 April 2007 (berlaku sampai update
        berikutnya)



        ISI LAMPIRAN
        * Daftar pengajar Kompatiologi cabang Jakarta.
        * Daftar penasehat Kompatiologi cabang Jakarta.
        * Daftar pengajar Kompatiologi cabang daerah (di luar
        Jakarta; Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Solo &
        Purwokerto,.)
        * Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
        Kompatiologi ke Kota Anda.
        * Maillist-maillist tempat diskusi Kompatiologi
        (unmoderated).

        Note: Keterangan tentang ciri-ciri dan spesialisasi
        masing-masing pribadi pendekon ditulis oleh Vincent
        Liong & Leonardo Rimba.


        YANG PERLU DIPERHATIKAN:
        * By appointment only. Biasanya pendekon membawa
        pendekon dari cabang lain bilamana jumlah terdekon di
        luar kemampuan pendekon dengan tujuan untuk menjaga
        standart kwalitas hasil dekon.
        * Wajib konformasi sehari sebelum hari appointment dan
        hari yang sama sebelum dekon.
        * Tidak melayani tanya-jawab via sms dan misscall.
        * Biasanya acara dekon berlangsung selama empat jam.
        Dilarang meninggalkan acara sebelum acara selesai.
        * Order proyek luar kota, seminar, wawancara pers,
        dlsb hubungi & deal langsung dengan masing-masing
        praktisi.
        * Disarankan (tidak wajib) terdekon membawa teman yang
        tinggal satu area / lingkungan pergaulan dengannya
        agar memiliki teman sharing tentang penerapan
        kompatiologi pasca dekon-kompatiologi, agar
        perkembangan pasca dekon lebih cepat dan terkontrol.
        * Tiap pendekon bekerja dan bertanggungjawab secara
        independent. Tanggungjawab kepada klien adalah pada
        masing-masing praktisi yang menjadi pendekon pilihan
        anda.
        * Praktisi kompatiologi tidak memberikan jaminan
        apapun terhadap klien. Segala resiko dari proses
        dekonstruksi ditanggung oleh klien sendiri.
        * Tarif yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu
        tanpa pemberitahuan (baik diubah oleh Vincent Liong
        maupun oleh masing-masing pendekon sendiri tanpa
        memberitahu Vincent Liong).
        * Kompatiologi juga membuka diri untuk donasi /
        sumbangan biaya penelitian yang sifatnya pribadi
        karena dilakukan oleh masing-masing pendekon atas
        kemauan & usaha sendiri. Sumbangan berupa uang dapat
        ditransfer ke bank account atau secara tunai(cash).
        * Untuk informasi yang belum disebutkan di atas dapat
        menanyakan langsung kepada pendekon.



        PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

        * MARWAN M.
        Marwan, menekuni pencarian diri bagi orang yang
        berminat meninggalkan nilai-nilai tradisional, untuk
        masuk ke masa postmoderen, dengan memilih sendiri
        unsur apa yang harus dipertahankan dan unsur apa yang
        harus diambil dari luar budayanya sendiri.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City & Mall Taman
        Anggrek.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-93710900 & Hp: 0818888653.

        * STEVEN TJOENG (alias: Dayapala Pema Lodoe)
        Steven adalah pribadi yang ‘Tibetan Style’, banyak
        pengaruh budhisme.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-93332223 & Hp: 081381381311.

        * DADE (M. PRABOWO)
        Dade adalah pribadi yang banyak mendalami aliran yang
        bersifat sufistik / tasawuf.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
        Mall Kelapa Gading.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-98805716 & Hp: 081808862171.

        * RIO PANJAITAN
        Rio adalah pribadi yang pribadi yang memiliki
        background tekhnik beladiri & filosofi Aikido, dan
        filsafat Bushido yang adalah warisan budaya Jepang.
        Mengkhususkan diri bagi mereka yang memiliki semangat
        pengabdian dalam bidang apapun.
        Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi &
        Mall Kelapa Gading.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-99068707 & Hp: 081380530125.

        * ONDO UNTUNG
        Ondo adalah pribadi yang lihai dalam menganalisa
        fenomena sosial-politik kontemporer.
        Lokasi dekon: Mall Kelapa Gading, Plaza Senayan,
        Senayan City, Plaza Semanggi.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA esia: 021-92862617 & Hp: 08128599710.

        * ADHI PURWONO
        Adhi mampu mengerti pengalaman-pengalaman sikofren
        yang berasal dari masa kanak-kanak yang berlanjut ke
        masa dewasa dan masalah yang berkaitan dengan hubungan
        antar pribadi.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan, Senayan City, Mall Taman
        Anggrek & Mall Puri Indah.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA flexi: 021-68812660 & fren: 08886187085.
        Bank Account: Bank BNI cabang Harmoni.
        A/c: 1810500-6 A/n: Adhi Purwono.

        * VINCENT LIONG (Pendiri & Penemu ilmu Kompatiologi)
        Vincent adalah pendiri & penemu Kompatiologi, secara
        pribadi berminat pada masalah eksistensi & adaptasi
        diri terhadap lingkungan.
        Lokasi dekon: Plaza Senayan & Senayan City.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.500.000,- per peserta di Plaza Senayan
        & Senayan City.
        CDMA flexi: 021-70006775 & esia: 021-98806892 (untuk
        di Jakarta saja).
        CDMA fren: 08881333410 (untuk di Jakarta & luar kota).

        Telp: 021-5482193, 5348567 Fax: 021-5348546
        Bank Account: Bank BCA cabang Permata Hijau.
        A/c: 178-117-9600 A/n: Liong Vincent Christian.



        PENASEHAT KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

        CORNELIA ISTIANI
        Istiani mengkhususkan diri pada mereka yang berasal
        dari bidang ‘eksakta’(matematika, pengukuran dan
        statistika).
        Hp: 081585228174 CDMA flexi: 021-68358037
        CDMA fren: 08886167847 (untuk di Jakarta & luar kota).

        JUSWAN SETYAWAN
        Juswan adalah penulis & edukator piawai dalam bidang
        kedokteran populer.
        Hp: 08159162193

        LEONARDO RIMBA
        Leonardo Rimba, ilmuan politik yang bergerak di bidang
        metafisika praktis.
        Hp: 0818183615



        PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG DAERAH

        * Cabang SOLO
        Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
        peserta.
        - Sunu (Hp: 08122651357 CDMA flexi: 0271-7072879)
        Sunu adalah sarjana hukum yang sedang meneliti
        berbagai pendekatan praktis bagi mereka yang sedang
        atau akan mempelajari kompatiologi.
        - Toto (CDMA fren: 08886702727 flexi: 0271-7035186 Hp:
        08552812005)
        Toto adalah filsuf sosial dengan pendekatan ilmiah
        populer yang penjelasannya sangat mudah dicerna oleh
        masyarakat umum.
        - Wawan Setiawan (Hp: 081932655888 CDMA fren:
        08882900288)
        Wawan mengkhususkan diri dalam memberikan pengarahan
        kepada mereka yang pernah, akan, atau sedang
        berkecimpung dalam dunia hitam di Indonesia dan
        hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
        - Alan Sarwono (Hp: 0811285540)
        Alan Sarwono mengkhususkan diri pada mereka yang telah
        menduduki posisi managerial menengah dan berambisi
        untuk mencapai jabatan tertinggi di organisasi bisnis
        mereka.
        - Aida (CDMA fren: 08882989050)
        Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
        dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.
        - Agung PW (Hp: 081331139120)
        Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
        dalam bidang seni dan pendidikan.
        - Sukma (CDMA fren: 08886753831)
        Agung mengkhususkan diri bagi mereka yang bergerak
        dalam bidang seni visual terutama fotografi dan
        fenomena ke-Indigo-an.
        - Willy BS (Hp: 08179489889, 0816674069 CDMA flexi:
        0271-7016881)
        Willy, spesialis soal orangtua yang merasa dirinya
        atau anaknya bermasalah.

        * Cabang YOGYAKARTA
        Jadwal by appointment. Tarif umum: Rp.200.000,- per
        peserta.
        - Lely Cabe (Hp: 08170428081)
        Lely sangat memahami masalah-masalah lintasbudaya
        antar bangsa dan toleransi sosial.
        - Aida (CDMA fren: 08882989050)
        Aida mengkhususkan diri pada pendekatan lintas agama
        dalam hubungannya dengan ilmu kompatiologi.

        * Cabang BANDUNG : Omen
        Omen adalah pribadi yang mendalami ilmu Feng Shui
        untuk diterapkan ke arsitektur
        moderen dengan latarbelakang sarjana seni ITB. Dengan
        sifat pribadi dasar monyet api; Jadi pada kondisi
        situasi yang meletup-letup membakar, jangan heran
        kalau dengan tiba-tiba bisa saja ia berpindah ke pohon
        yang lain.
        CDMA flexi: 022-70108828 & Hp: 08157179292.

        * Cabang PURWOKERTO : Bimo Wikantiyoso
        Bimo sementara ini mengkhususkan diri untuk melayani
        mereka yang ingin menjadi adaptif dalam hal-hal
        spiritualitas dan pengendalian hal-hal keduniawian.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA fren: 08888405843 & Hp: 0816746770.

        * Cabang SURABAYA : Audifax
        Audifax, ahli ilmu jiwa, kemanusiaan dan berbagai
        permasalahannya, seperti dimunculkan dalam berbagai
        simbol-simbol yang ditemui di masyarakat Indonesia
        saat ini.
        Jadwal by appointment.
        Tarif umum: Rp.250.000,- per peserta.
        CDMA flexi: 031-70209354 & fren: 08882733626.



        Mendatangkan Vincent Liong Penemu & Pendiri
        Kompatiologi ke Kota Anda.
        Untuk mendatangkan / mengundang Vincent Liong, hal-hal
        yang perlu dipenuhi adalah sbb:

        1. AKOMODASI
        * Ada individu penanggungjawab / sponsor (local
        representative) yang jelas, yang mengatur acara &
        mengurus perekrutan peserta. Akan lebih baik bila
        individu penanggungjawab datang ke Jakarta sebelumnya
        untuk mengenal Vincent Liong dan Kompatiologi lebih
        dalam sebelum menjadi local representative di acara
        kunjungan Vincent Liong, agar tidak ada
        kesalahpahaman.
        * Tiket pesawat pergi & pulang ke kota tsb & akomodasi
        hotel dibelikan di muka.
        * Tambahan biaya satu juta rupiah untuk uang saku,
        dibayar di muka via transfer ke bank account.
        * Ada individu yang menemani, mengantarkan (fasilitas
        transportasi) & membiayai Vincent Liong berekreasi,
        sambil pendalaman kompatiologi secara informal di
        waktu luang agar tidak bosan / jenuh saat di kota tsb.
        * Biasanya acara kunjungan dilakukan selama seminggu
        sampai dua minggu untuk mempersiapkan kompatiologi
        cabang daerah yang independent tidak tergantung cabang
        Jakarta dalam aplikasinya.

        2. TARIF DEKON KOMPATIOLOGI
        * Bagi peserta di kota tsb, yang mengikuti acara
        bersama Vincent dikenai tarif Rp.300.000,-/peserta,
        biaya ini di luar biaya & hal AKOMODASI.

        3. TARIF SARASEHAN
        * Bagi pihak yang ingin mengundang untuk acara
        sarasehan bertema kompatiologi dengan pembicara
        Vincent Liong, dapat dinegosiasikan langsung per
        telepon dan email. Bila di luar kota, maka hal tsb
        harus memenuhi hal AKOMODASI.

        (Note: Aturan main di atas juga berlaku untuk
        mendatangkan para pendekon kompatiologi yang lain yang
        nama dan contact personnya tercantum dalam email ini.
        Silahkan hubungi langsung per telepon.)



        Maillist-maillist tempat diskusi Kompatiologi
        (unmoderated):
        * http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
        * http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
        *
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/
        *
        http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about



        Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.