Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

KMA : Kompatiologi dan Meditasi (Menjawab pertanyaan bung Suchamda)

Expand Messages
  • Vincent Liong
    Serial tulisan Kitab Masuk Angin KMA : Menjawab pertanyaan bung Suchamda, Kompatiologi dan Meditasi ditulis oleh: Adhi Purwono e-link:
    Message 1 of 2 , Oct 10, 2006
      Serial tulisan Kitab Masuk Angin
      KMA : Menjawab pertanyaan bung Suchamda, Kompatiologi
      dan Meditasi

      ditulis oleh: Adhi Purwono


      e-link:
      http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/549
      http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/17981
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/11344
      http://groups.yahoo.com/group/R-Mania/message/4017



      (Note: jawaban ini sengaja saya masukkan dalam serial
      tulisan KMA karena berisi penjelasan terinci hubungan
      antara kompatiologi dengan meditasi)

      Salam kenal juga bung Suchamda. Saya akan mencoba
      menjelaskan dari sudut pandang saya mengenai meditasi
      dan kompatiologi.

      Saat ini saya merasa diri saya tidak tergantung dengan
      metoda/usaha/konsep apapun untuk dapat merasakan
      pencerahan/realitas yang saya alami saat ini. Saya
      tidak merasa takut/jaim mengatakan saya sedang
      mengalami pencerahan, karena apa, karena saya
      merasakan
      pencerahan dapat dirasakan kapan saja jika orang mau
      di kehidupan sehari-hari.

      Begini bung Suchamda, sesungguhnya upaya kita untuk
      bermeditasi malah membatasi kita untuk bersentuhan
      dengan realitas/pencerahan. Bisa dikatakan meditasi
      itu harusnya tanpa usaha dan tanpa tujuan, IRONISNYA
      mengapa kita masih perlu untuk bermeditasi??? Meditasi
      tidak diperlukan jika tidak ada tujuan (mengapa perlu
      jika tidak bertujuan?) dan kita tidak dapat melakukan
      meditasi jika tidak ada usaha sama-sekali setidaknya
      untuk posisi bermeditasi (posisi teratai sempurna
      misalnya). Nah, keambiguan sikap kita selagi
      bermeditasi inilah membuat diri/pikiran kita menjadi
      bingung. Apakah kita lagi mengusahakan pencerahan
      dengan bermeditasi? Jika tanpa usaha, kapankah dan
      bilamanakah kita mencapai pencerahan? Pikiran
      bisa saja dapat tenang dan menikmati meditasi tanpa
      memikirkan pencerahan, TETAPI ketika menghadapi
      persoalan kehidupan sehari-hari, maka pikiran AKAN
      mengenang kembali kenikmatan yang didapat dari
      bermeditasi sehingga menjadi tergantung olehnya.
      Jikalaupun ketergantungan akan meditasi dapat
      terlepas, BUKANKAH INI BERARTI MEDITASI AKHIRNYA
      DISADARI TIDAK DIPERLUKAN??? Jadi BUKANKAH mengajak
      orang lain/diri sendiri bermeditasi tujuan akhirnya
      hanyalah supaya dapat menyadari bahwa meditasi tidak
      diperlukan?
      Nah, bung Suchamda mungkin dapat melihat bahwa ditilik
      dari tujuan pencerahan, sejujurnya meditasi adalah
      salah satu faktor penghambat pencapaian pencerahan itu
      sendiri.

      Jadi, mengapa tidak secara langsung saja? Mengapa kita
      membutuhkan suatu metoda/cara/konsep untuk dapat
      mengalami pencerahan? Tapi saya juga menyadari orang
      tidak akan melepaskan diri dari sesuatu sampai dia
      mengalami sendiri bagaimana rasanya terikat dengan
      sesuatu. Ada aksi sehingga ada reaksi. Dan meditasi
      dibutuhkan untuk menumbuhkan keterikatan sehingga
      diharapkan orang dapat menyadari keterikatannya tidak
      diperlukan sehingga bisa terlepas dari meditasi itu
      sendiri. Bahwa tujuan pencerahan yang dikejarnya
      ternyata TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN METODA SELAIN
      DENGAN DIRINYA SENDIRI. Dirinyalah yang menganggap
      belum cerah sehingga diperlukan suatu metoda
      (meditasi) sampai dia menyadari bahwa
      ketidakcerahannya hanyalah
      sebuah peran yang dia buat/ciptakan sendiri. Bahwa dia
      menyadari dengan mudah melepas peran tidak cerahnya
      dan mengganti menjadi peran pencerahan JIKA PERLU.
      Seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Bila di
      lain waktu misalnya saya merasa lagi diri saya
      kehilangan/tidak puas dengan pencerahan saya, maka
      berarti saya sedang memerankan lagi peran tidak cerah
      saya, yang mungkin saja saya ketika itu nantinya
      mencari lagi guru seperti seorang Vincent/Hudoyo/dll
      untuk bisa mendapatkan lagi peran cerah saya.

      Kompatiologi adalah ilmu komunikasi empati. Artinya
      belajar bagaimana dapat merasakan langsung ke realitas
      sesungguhnya. Baik itu ke diri sendiri/orang lain,
      mahluk hidup lain, maupun sampai ke benda mati.
      Bagaimana cara merasakan langsung? Inilah alasan kami
      (terutama Vincent Liong) menciptakan metoda
      dekonstruksi. Dimana melalui praktik dekons orang lain
      kita dorong mengalami sendiri realitas sesungguhnya
      langsung dari yang dia rasakan. Salah satu contoh
      praktiknya adalah kegiatan mencicipi rasa teh hijau,
      dimana rasa tak pernah bohong. Menebak isi buku,
      dimana tebakan adalah kontak LANGSUNG dengan dirinya
      tanpa alur logika atau olah pikir, dlsb, yang sedang
      dalam tahap pengembangan dan penelitian oleh para
      praktisi kompatiologi. Jadi intinya dekonstruksi
      adalah mendorong seseorang untuk merasakan langsung
      dalam konteks praktik kehidupan sehari-hari (minum dan
      tebak rasa teh hijau, tebak buku, tebak perasaan orang
      lain, tebak musik adalah kegiatan sehari-hari bukan?)
      tanpa memakai olah pikir atau logika. Yang biasanya
      orang tersebut akan mengalami keterkejutan/ estascy/
      kesadaran yang tiba-tiba/ suka-cita ketika bersentuhan
      kembali dengan realitas KETIKA SEDANG BERMAIN
      TEBAK-TEBAKAN TERSEBUT. Bayangkan saja kesadaran yang
      didapat ketika menyadari bahwa selama ini sudah
      terlalu lama hidup dalam penyangkalan arus informasi
      dari realitas. Bahwa kehidupan ternyata tidak
      semonoton/ semenderita seperti yang diperkirakan
      olehnya sebelumnya. Ternyata kehidupan dapat dinikmati
      SEPENUHNYA tanpa rasa khawatir dan dengan perasaan
      bebas BAHWA MENGALAMI KEHIDUPAN APA-ADANYA JAUH LEBIH
      MENGASYIKKAN DARIPADA MENYANGKAL REALITAS DEMI CITRA/
      JATI DIRI. Jati/citra diri orang tersebut tentu
      harus dilepaskan dahulu sebelum dia dapat bermain
      tebakan dengan baik. Jika dia masih jaim, tentu dia
      akan merasakan rasa bersalah, rasa menipu ketika
      mencoba menebak sesuatu. Ketika menebak itulah
      dia dihadapkan pada pilihan-pilihan, berbohong?/
      menipu?/ tebak apa-adanya?/ asal bapak senang?/
      melogikakan?, dsb, yang tentu saja kita dorong sampai
      dia bisa menebak/mendapatkan informasi dari MEMORI/
      MEME/ INFORMASI NON VERBAL/ SUASANA sehingga dia
      belajar untuk menjadi TERHUBUNG dengan realitas. Nah
      ketika dirinya dapat terhubung dengan realitas itulah
      berarti dia mulai bisa berempati setidaknya dengan
      dirinya, artinya dapat mengalirkan
      perasaan-perasaannya saat informasi non verbal mulai
      dapat masuk dan mengalir ke dalam dirinya. Saat itu
      perasaan yang masih dipendam/ ditahan akhirnya
      dimengerti tidak perlu dipendam lagi akibat bingung/
      takut/ sedang dicari solusinya melainkan menyadari
      bahwa perasaan negatif itu dapat
      dicuci/dialirkan/diharmoniskan dengan realitas alam
      sehingga diharapkan mendapatkan sudut pandang yang
      lebih luas dikarenakan hal-hal/informasi yang positif
      dari alam dapat diserap oleh dirinya. Sehingga dalam
      prosesnya, akhirnya dia menyadari bahwa perasaan dalam
      dirinya adalah berasal dari cara dia
      memfilter informasi nonverbal/ perasaan/ suasana dari
      realitas, dan pada akhirnya dia malah menghubungkan
      total perasaannya dengan realitas sehingga apapun
      perasaan yang dia alami bisa terus dialirkan sehingga
      tidak ada tumpukan perasaan negatif yang tidak perlu.
      Sebagai contoh, saya MARAH/SEBAL dengan pak Hudoyo,
      yah saya ungkapkan saja di milis ini sehingga saya
      menjadi puas. Saya tidak masalah dengan citra/jati
      diri saya di milis, karena saya sudah mengalami
      KETERHUBUNGAN dengan realitas jauh lebih menyenangkan/
      mendamaikan dibandingkan dengan menjaga citra/ jati
      diri saya dihadapan anda semua. Jikapun misalnya saya
      tidak bisa
      menyalurkan melalui milis, maka saya tetap tidak lari
      dari perasaan marah saya. Saya tetap akan membiarkan
      diri saya mengalami marah/ kesal sampai benar-benar
      puas kalau perlu dicari-cari apakah masih ada
      kemarahan yang tersisa untuk dikeluarkan/dialirkan
      (bisa saja tidak perlu sampai berwujud fisik, tidak
      perlu seperti yang saya lakukan di milis
      psikologi_transformatif@yahoogroups.com dengan pak
      Hudoyo). Mengapa saya bisa mengalirkan
      perasaan-perasaan saya? Itulah, karena saya sudah
      terbiasa menebak/ terhubung dengan diri/ realitas,
      yang saat ini saya bisa merasakan LANGSUNG suasana/
      meme/ memori apapun dimanapun begitu saja karena dan
      ketika saya tidak sedang menyangkal.

      Jika anda dan yang lainnya ingin mengetahui lebih jauh
      dengan mengalami sendiri praktik dekons, maka silahkan
      menghubungi saya di CDMA : 021-6881 2660. Jika masih
      ada pertanyaan saya tunggu komentar/pertanyaan dari
      anda dan yang lainnya. Terimakasih.

      Salam,
      Adhi Purwono




      ::::Praktik Dekons::::
      * hubungi Adhi Purwono (CDMA : 021-6881 2660)
      e-mail/YM : adhi_p@...
      * hubungi Vincent Liong (CDMA : 021-70006775)
      e-mail/YM : vincentliong@...
      (Note: untuk praktik di-dekons)

      ::::Undangan Maillist::::
      Maillist Komunikasi_Empati@...
      > http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati
      Maillist Komunikasi_Empati@...
      > http://groups.google.com/group/komunikasi_empati
      Maillist VincentLiong@...
      > http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
      Maillist Psikologi_Transformatif@...
      >
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
      Maillist R-Mania@yahoogroups.com
      > http://groups.yahoo.com/group/r-mania







      L A M P I R A N 0 1
      Subject: Meditasi - oh nasibmu meditasi...
      Ditulis oleh: "isf" <isf@...> / iman_s_fattah
      at:
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/11358

      "isf" <isf@...> wrote:

      Begitu banyak meditasi dibicarakan dalam banyak
      perspektif maupun berdasarkan subyektif.
      Dalam pemahaman saya, meditasi adalah suatu kondisi
      individu dalam kesadaran yang "cukup", sesuai kondisi
      lahir-bathin pada saat tersebut.
      "Cukup" disini berarti kondisi yang pas komposisinya,
      sesuai dengan kondisi biologis/ragawi-spiritual pada
      saat tersebut, karena setiap manusia tidak pernah
      mengalmi kondisi yang persis sama secara detil,
      dikarenakan lingkungan, pemikiran, olah pemahaman,
      serta kompleksitas spiritual yg dialami, maupun garis
      ketetapan yang telah tergurat baginya.
      Meditasi bisa banyak ragam, tetapi diketegorikan
      sebagai meditasi apabila output / hasil olahan
      tersebut msuk dalam kategori proses meditasi.
      Meditasi sendiri mengalami peningkatan/ perubahan
      dalam setiap waktu karena adanya pemahaman akibat
      terjadinya kontak dualitas jasad-spiritual secara
      berkesinambungan, yang mengintervensi dimensi lain
      (alam-ketuhanan) dalam perjalanannya.
      Meditasi memang dapat dilakukan dengan banyak cara,
      ada dengan diam/ tafakkur, ada dengan melakukan
      kegiatan sehari2. Intinya adalah mencapai suatu
      tingkat kesadaran yang "cukup" (apakah itu
      beta-alfa-theta-delta, sangat2 subjective nilainya),
      mengetuk kesadaran ragawi untuk mempertimbangkan sisi
      spiritual dalam mengambil suatu keputusan. Sehingga
      perilaku, keseharian, yg berujung pada terbentuknya
      sifat akan mencerminkan moralitas yang baik secara
      kaidah nilai.
      Salah satu model meditasi adalah ibadah yang dilakukan
      dalam agama2, dimana dalam ibadah adalah suatu bentuk
      mencapai kesadaran akan realitas diluar hanya ragawi
      saja, hanya saja kalau merujuk tingkatan secara
      spiritual sangat bergantung pada 'pemahaman' (secara
      luas) individu akan agama itu sendiri.

      Dalam realitanya, meditasi tidak mesti dilakukan
      secara berurutan; beta-alfa-theta-delta, karena hal
      ini menyangkut suatu pemahaman spiritual yg tidak bisa
      distandarisasi dari sisi analogi dasar, sehingga yang
      terjadi pendekatan secara 'mendekati', tetapi tidak
      tepat benar.
      Banyak individu yang melakukan lompatan meditasi
      secara fluktuatif tanpa urutan.

      Untuk lebih menarik, kita bisa menjadikan individu2 yg
      melakukan perdebatan meditasi di milis ini, di explore
      sesuai pemahaman sampai dimana mereka ber'main':
      (bahasa yg disampaikan secara umum by isf, tidak
      mengacu pada teori yg ada);

      Hudoyo Hapudio (HH):
      Seorang meditator sampai pada pemahaman hening,
      dikategorikan sebagai tahap akhir perjalanan
      spiritual, dimana fase itu merasakan ecstasy, lebih
      bersifat individual dan merupakan manifestasi
      ego-spiritual, karena meditasi dilakukan dan dinikmati
      secara pribadi.
      Secara individu, benturan yg sangat kuat adalah
      masalah ego spiritual yang pasti akan berdampak pada
      ego ragawi, sehingga terjadinya justifikasi atas hal2
      yg diperoleh individu tsb, dan menciptakan suatu
      keadaan yang 'benar' secara kompleks dan terbatas. Hal
      ini berbenturan dengan sifat spiritual yg luas dan
      tidak terbatas (secara analogi dasar).
      Dalam tahapan spiritual, ada ruang kosong yg disebut
      HH sbg 'hening', hal ini bisa dikategorikan sebagai
      kesadaran awal untuk mereka yang belum bersentuhan
      dengan fase spiritual, dan merasakan ketenangan jiwa
      yang bersifat temporer, tanpa tahu akan kemana
      selanjutnya (apabila berhenti di tahapan ini).
      Dalam fase ini sangat memanjakan bathin dengan
      memberikan konsumsi secara cukup, bahkan mungkin
      lebih, sehingga pemikiran mengalami dekonstruksi
      dalam output keseharian selanjutnya, dimana sisi
      bathin (spiritual) telah mulai ikut dalam mengambil
      keputusan individu.
      *(pembahasan spiritual yg dimaksud masih dalam dimensi
      duniawi)


      Vincent Liong (VL):
      Seorang fighter dalam meditator yang akan menerima
      konsep individu lain setelah melalui analogi yg dirasa
      cukup bisa diterima, baginya tidak ada dogma, walaupun
      dia tidak bisa mengingkari dan keluar dari dogma
      (agama).
      Baginya meditasi adalah melakukan hal yg riil, bisa
      dimanfaatkan untuk orang banyak dalam wujud yg nyata,
      bukan sekadar menghindar dari kenyataan dengan
      menjauhkan diri dari peradaban, serta menyepi.
      Baginya, apa yg secara riil bisa dilihat maupun secara
      nalar bisa ditangkap, itulah yg nyata.
      Hal ini sangat sarat muatan dalam melihat meditasi,
      baginya dekonstruksi itulah meditasi sesungguhnya,
      secara cepat, memberikan manfaat kepada masyarakat, at
      least menyebarkan energy positif, ujung2nya juga
      perbaikan moralitas, hanya saja freewill disini patut
      dipertanyakan secara meditasi konsep. akan sah2 saja
      selama freewill tersebut masih dalam tataran koridor
      kewajaran.

      Nah sekelumit mengenai meditasi dari saya dirumah,
      tadinya mau melanjutkan ke Leonardo Rimba, Merkurius
      AP, M Iyus, dll, tapi karena saya lg kurang sehat dan
      asupan, he he.....

      salam
      isf







      L A M P I R A N 0 2
      Pertanyaan sdr Suchamda kepada Merkurius Adhi Purwono.

      at:
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/11343

      "Suchamda" <Daniel_552@...> wrote:

      Salam kenal bung Adhi,
      Maaf, saya belum lama bergabung dan kesulitan untuk
      mengikuti diskusi2 anda dengan sdr.Methoz dan
      bp.Hudoyo. Sepertinya menarik.
      Bisakah anda menceritakan bagaimana metode meditasi
      anda?
      Apakah kompatiologi itu?
      Bagaimanakah hubungan kompatiologi itu dengan
      meditasi?

      Terimakasih.

      Suchamda



      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    • Vincent Liong
      Serial tulisan Kitab Masuk Angin KMA : Menjawab pertanyaan bung Suchamda, Kompatiologi dan Meditasi ditulis oleh: Adhi Purwono e-link:
      Message 2 of 2 , Oct 10, 2006
        Serial tulisan Kitab Masuk Angin
        KMA : Menjawab pertanyaan bung Suchamda, Kompatiologi
        dan Meditasi

        ditulis oleh: Adhi Purwono


        e-link:
        http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/549
        http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/17981
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/11344
        http://groups.yahoo.com/group/R-Mania/message/4017



        (Note: jawaban ini sengaja saya masukkan dalam serial
        tulisan KMA karena berisi penjelasan terinci hubungan
        antara kompatiologi dengan meditasi)

        Salam kenal juga bung Suchamda. Saya akan mencoba
        menjelaskan dari sudut pandang saya mengenai meditasi
        dan kompatiologi.

        Saat ini saya merasa diri saya tidak tergantung dengan
        metoda/usaha/konsep apapun untuk dapat merasakan
        pencerahan/realitas yang saya alami saat ini. Saya
        tidak merasa takut/jaim mengatakan saya sedang
        mengalami pencerahan, karena apa, karena saya
        merasakan
        pencerahan dapat dirasakan kapan saja jika orang mau
        di kehidupan sehari-hari.

        Begini bung Suchamda, sesungguhnya upaya kita untuk
        bermeditasi malah membatasi kita untuk bersentuhan
        dengan realitas/pencerahan. Bisa dikatakan meditasi
        itu harusnya tanpa usaha dan tanpa tujuan, IRONISNYA
        mengapa kita masih perlu untuk bermeditasi??? Meditasi
        tidak diperlukan jika tidak ada tujuan (mengapa perlu
        jika tidak bertujuan?) dan kita tidak dapat melakukan
        meditasi jika tidak ada usaha sama-sekali setidaknya
        untuk posisi bermeditasi (posisi teratai sempurna
        misalnya). Nah, keambiguan sikap kita selagi
        bermeditasi inilah membuat diri/pikiran kita menjadi
        bingung. Apakah kita lagi mengusahakan pencerahan
        dengan bermeditasi? Jika tanpa usaha, kapankah dan
        bilamanakah kita mencapai pencerahan? Pikiran
        bisa saja dapat tenang dan menikmati meditasi tanpa
        memikirkan pencerahan, TETAPI ketika menghadapi
        persoalan kehidupan sehari-hari, maka pikiran AKAN
        mengenang kembali kenikmatan yang didapat dari
        bermeditasi sehingga menjadi tergantung olehnya.
        Jikalaupun ketergantungan akan meditasi dapat
        terlepas, BUKANKAH INI BERARTI MEDITASI AKHIRNYA
        DISADARI TIDAK DIPERLUKAN??? Jadi BUKANKAH mengajak
        orang lain/diri sendiri bermeditasi tujuan akhirnya
        hanyalah supaya dapat menyadari bahwa meditasi tidak
        diperlukan?
        Nah, bung Suchamda mungkin dapat melihat bahwa ditilik
        dari tujuan pencerahan, sejujurnya meditasi adalah
        salah satu faktor penghambat pencapaian pencerahan itu
        sendiri.

        Jadi, mengapa tidak secara langsung saja? Mengapa kita
        membutuhkan suatu metoda/cara/konsep untuk dapat
        mengalami pencerahan? Tapi saya juga menyadari orang
        tidak akan melepaskan diri dari sesuatu sampai dia
        mengalami sendiri bagaimana rasanya terikat dengan
        sesuatu. Ada aksi sehingga ada reaksi. Dan meditasi
        dibutuhkan untuk menumbuhkan keterikatan sehingga
        diharapkan orang dapat menyadari keterikatannya tidak
        diperlukan sehingga bisa terlepas dari meditasi itu
        sendiri. Bahwa tujuan pencerahan yang dikejarnya
        ternyata TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN METODA SELAIN
        DENGAN DIRINYA SENDIRI. Dirinyalah yang menganggap
        belum cerah sehingga diperlukan suatu metoda
        (meditasi) sampai dia menyadari bahwa
        ketidakcerahannya hanyalah
        sebuah peran yang dia buat/ciptakan sendiri. Bahwa dia
        menyadari dengan mudah melepas peran tidak cerahnya
        dan mengganti menjadi peran pencerahan JIKA PERLU.
        Seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Bila di
        lain waktu misalnya saya merasa lagi diri saya
        kehilangan/tidak puas dengan pencerahan saya, maka
        berarti saya sedang memerankan lagi peran tidak cerah
        saya, yang mungkin saja saya ketika itu nantinya
        mencari lagi guru seperti seorang Vincent/Hudoyo/dll
        untuk bisa mendapatkan lagi peran cerah saya.

        Kompatiologi adalah ilmu komunikasi empati. Artinya
        belajar bagaimana dapat merasakan langsung ke realitas
        sesungguhnya. Baik itu ke diri sendiri/orang lain,
        mahluk hidup lain, maupun sampai ke benda mati.
        Bagaimana cara merasakan langsung? Inilah alasan kami
        (terutama Vincent Liong) menciptakan metoda
        dekonstruksi. Dimana melalui praktik dekons orang lain
        kita dorong mengalami sendiri realitas sesungguhnya
        langsung dari yang dia rasakan. Salah satu contoh
        praktiknya adalah kegiatan mencicipi rasa teh hijau,
        dimana rasa tak pernah bohong. Menebak isi buku,
        dimana tebakan adalah kontak LANGSUNG dengan dirinya
        tanpa alur logika atau olah pikir, dlsb, yang sedang
        dalam tahap pengembangan dan penelitian oleh para
        praktisi kompatiologi. Jadi intinya dekonstruksi
        adalah mendorong seseorang untuk merasakan langsung
        dalam konteks praktik kehidupan sehari-hari (minum dan
        tebak rasa teh hijau, tebak buku, tebak perasaan orang
        lain, tebak musik adalah kegiatan sehari-hari bukan?)
        tanpa memakai olah pikir atau logika. Yang biasanya
        orang tersebut akan mengalami keterkejutan/ estascy/
        kesadaran yang tiba-tiba/ suka-cita ketika bersentuhan
        kembali dengan realitas KETIKA SEDANG BERMAIN
        TEBAK-TEBAKAN TERSEBUT. Bayangkan saja kesadaran yang
        didapat ketika menyadari bahwa selama ini sudah
        terlalu lama hidup dalam penyangkalan arus informasi
        dari realitas. Bahwa kehidupan ternyata tidak
        semonoton/ semenderita seperti yang diperkirakan
        olehnya sebelumnya. Ternyata kehidupan dapat dinikmati
        SEPENUHNYA tanpa rasa khawatir dan dengan perasaan
        bebas BAHWA MENGALAMI KEHIDUPAN APA-ADANYA JAUH LEBIH
        MENGASYIKKAN DARIPADA MENYANGKAL REALITAS DEMI CITRA/
        JATI DIRI. Jati/citra diri orang tersebut tentu
        harus dilepaskan dahulu sebelum dia dapat bermain
        tebakan dengan baik. Jika dia masih jaim, tentu dia
        akan merasakan rasa bersalah, rasa menipu ketika
        mencoba menebak sesuatu. Ketika menebak itulah
        dia dihadapkan pada pilihan-pilihan, berbohong?/
        menipu?/ tebak apa-adanya?/ asal bapak senang?/
        melogikakan?, dsb, yang tentu saja kita dorong sampai
        dia bisa menebak/mendapatkan informasi dari MEMORI/
        MEME/ INFORMASI NON VERBAL/ SUASANA sehingga dia
        belajar untuk menjadi TERHUBUNG dengan realitas. Nah
        ketika dirinya dapat terhubung dengan realitas itulah
        berarti dia mulai bisa berempati setidaknya dengan
        dirinya, artinya dapat mengalirkan
        perasaan-perasaannya saat informasi non verbal mulai
        dapat masuk dan mengalir ke dalam dirinya. Saat itu
        perasaan yang masih dipendam/ ditahan akhirnya
        dimengerti tidak perlu dipendam lagi akibat bingung/
        takut/ sedang dicari solusinya melainkan menyadari
        bahwa perasaan negatif itu dapat
        dicuci/dialirkan/diharmoniskan dengan realitas alam
        sehingga diharapkan mendapatkan sudut pandang yang
        lebih luas dikarenakan hal-hal/informasi yang positif
        dari alam dapat diserap oleh dirinya. Sehingga dalam
        prosesnya, akhirnya dia menyadari bahwa perasaan dalam
        dirinya adalah berasal dari cara dia
        memfilter informasi nonverbal/ perasaan/ suasana dari
        realitas, dan pada akhirnya dia malah menghubungkan
        total perasaannya dengan realitas sehingga apapun
        perasaan yang dia alami bisa terus dialirkan sehingga
        tidak ada tumpukan perasaan negatif yang tidak perlu.
        Sebagai contoh, saya MARAH/SEBAL dengan pak Hudoyo,
        yah saya ungkapkan saja di milis ini sehingga saya
        menjadi puas. Saya tidak masalah dengan citra/jati
        diri saya di milis, karena saya sudah mengalami
        KETERHUBUNGAN dengan realitas jauh lebih menyenangkan/
        mendamaikan dibandingkan dengan menjaga citra/ jati
        diri saya dihadapan anda semua. Jikapun misalnya saya
        tidak bisa
        menyalurkan melalui milis, maka saya tetap tidak lari
        dari perasaan marah saya. Saya tetap akan membiarkan
        diri saya mengalami marah/ kesal sampai benar-benar
        puas kalau perlu dicari-cari apakah masih ada
        kemarahan yang tersisa untuk dikeluarkan/dialirkan
        (bisa saja tidak perlu sampai berwujud fisik, tidak
        perlu seperti yang saya lakukan di milis
        psikologi_transformatif@yahoogroups.com dengan pak
        Hudoyo). Mengapa saya bisa mengalirkan
        perasaan-perasaan saya? Itulah, karena saya sudah
        terbiasa menebak/ terhubung dengan diri/ realitas,
        yang saat ini saya bisa merasakan LANGSUNG suasana/
        meme/ memori apapun dimanapun begitu saja karena dan
        ketika saya tidak sedang menyangkal.

        Jika anda dan yang lainnya ingin mengetahui lebih jauh
        dengan mengalami sendiri praktik dekons, maka silahkan
        menghubungi saya di CDMA : 021-6881 2660. Jika masih
        ada pertanyaan saya tunggu komentar/pertanyaan dari
        anda dan yang lainnya. Terimakasih.

        Salam,
        Adhi Purwono




        ::::Praktik Dekons::::
        * hubungi Adhi Purwono (CDMA : 021-6881 2660)
        e-mail/YM : adhi_p@...
        * hubungi Vincent Liong (CDMA : 021-70006775)
        e-mail/YM : vincentliong@...
        (Note: untuk praktik di-dekons)

        ::::Undangan Maillist::::
        Maillist Komunikasi_Empati@...
        > http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati
        Maillist Komunikasi_Empati@...
        > http://groups.google.com/group/komunikasi_empati
        Maillist VincentLiong@...
        > http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
        Maillist Psikologi_Transformatif@...
        >
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
        Maillist R-Mania@yahoogroups.com
        > http://groups.yahoo.com/group/r-mania







        L A M P I R A N 0 1
        Subject: Meditasi - oh nasibmu meditasi...
        Ditulis oleh: "isf" <isf@...> / iman_s_fattah
        at:
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/11358

        "isf" <isf@...> wrote:

        Begitu banyak meditasi dibicarakan dalam banyak
        perspektif maupun berdasarkan subyektif.
        Dalam pemahaman saya, meditasi adalah suatu kondisi
        individu dalam kesadaran yang "cukup", sesuai kondisi
        lahir-bathin pada saat tersebut.
        "Cukup" disini berarti kondisi yang pas komposisinya,
        sesuai dengan kondisi biologis/ragawi-spiritual pada
        saat tersebut, karena setiap manusia tidak pernah
        mengalmi kondisi yang persis sama secara detil,
        dikarenakan lingkungan, pemikiran, olah pemahaman,
        serta kompleksitas spiritual yg dialami, maupun garis
        ketetapan yang telah tergurat baginya.
        Meditasi bisa banyak ragam, tetapi diketegorikan
        sebagai meditasi apabila output / hasil olahan
        tersebut msuk dalam kategori proses meditasi.
        Meditasi sendiri mengalami peningkatan/ perubahan
        dalam setiap waktu karena adanya pemahaman akibat
        terjadinya kontak dualitas jasad-spiritual secara
        berkesinambungan, yang mengintervensi dimensi lain
        (alam-ketuhanan) dalam perjalanannya.
        Meditasi memang dapat dilakukan dengan banyak cara,
        ada dengan diam/ tafakkur, ada dengan melakukan
        kegiatan sehari2. Intinya adalah mencapai suatu
        tingkat kesadaran yang "cukup" (apakah itu
        beta-alfa-theta-delta, sangat2 subjective nilainya),
        mengetuk kesadaran ragawi untuk mempertimbangkan sisi
        spiritual dalam mengambil suatu keputusan. Sehingga
        perilaku, keseharian, yg berujung pada terbentuknya
        sifat akan mencerminkan moralitas yang baik secara
        kaidah nilai.
        Salah satu model meditasi adalah ibadah yang dilakukan
        dalam agama2, dimana dalam ibadah adalah suatu bentuk
        mencapai kesadaran akan realitas diluar hanya ragawi
        saja, hanya saja kalau merujuk tingkatan secara
        spiritual sangat bergantung pada 'pemahaman' (secara
        luas) individu akan agama itu sendiri.

        Dalam realitanya, meditasi tidak mesti dilakukan
        secara berurutan; beta-alfa-theta-delta, karena hal
        ini menyangkut suatu pemahaman spiritual yg tidak bisa
        distandarisasi dari sisi analogi dasar, sehingga yang
        terjadi pendekatan secara 'mendekati', tetapi tidak
        tepat benar.
        Banyak individu yang melakukan lompatan meditasi
        secara fluktuatif tanpa urutan.

        Untuk lebih menarik, kita bisa menjadikan individu2 yg
        melakukan perdebatan meditasi di milis ini, di explore
        sesuai pemahaman sampai dimana mereka ber'main':
        (bahasa yg disampaikan secara umum by isf, tidak
        mengacu pada teori yg ada);

        Hudoyo Hapudio (HH):
        Seorang meditator sampai pada pemahaman hening,
        dikategorikan sebagai tahap akhir perjalanan
        spiritual, dimana fase itu merasakan ecstasy, lebih
        bersifat individual dan merupakan manifestasi
        ego-spiritual, karena meditasi dilakukan dan dinikmati
        secara pribadi.
        Secara individu, benturan yg sangat kuat adalah
        masalah ego spiritual yang pasti akan berdampak pada
        ego ragawi, sehingga terjadinya justifikasi atas hal2
        yg diperoleh individu tsb, dan menciptakan suatu
        keadaan yang 'benar' secara kompleks dan terbatas. Hal
        ini berbenturan dengan sifat spiritual yg luas dan
        tidak terbatas (secara analogi dasar).
        Dalam tahapan spiritual, ada ruang kosong yg disebut
        HH sbg 'hening', hal ini bisa dikategorikan sebagai
        kesadaran awal untuk mereka yang belum bersentuhan
        dengan fase spiritual, dan merasakan ketenangan jiwa
        yang bersifat temporer, tanpa tahu akan kemana
        selanjutnya (apabila berhenti di tahapan ini).
        Dalam fase ini sangat memanjakan bathin dengan
        memberikan konsumsi secara cukup, bahkan mungkin
        lebih, sehingga pemikiran mengalami dekonstruksi
        dalam output keseharian selanjutnya, dimana sisi
        bathin (spiritual) telah mulai ikut dalam mengambil
        keputusan individu.
        *(pembahasan spiritual yg dimaksud masih dalam dimensi
        duniawi)


        Vincent Liong (VL):
        Seorang fighter dalam meditator yang akan menerima
        konsep individu lain setelah melalui analogi yg dirasa
        cukup bisa diterima, baginya tidak ada dogma, walaupun
        dia tidak bisa mengingkari dan keluar dari dogma
        (agama).
        Baginya meditasi adalah melakukan hal yg riil, bisa
        dimanfaatkan untuk orang banyak dalam wujud yg nyata,
        bukan sekadar menghindar dari kenyataan dengan
        menjauhkan diri dari peradaban, serta menyepi.
        Baginya, apa yg secara riil bisa dilihat maupun secara
        nalar bisa ditangkap, itulah yg nyata.
        Hal ini sangat sarat muatan dalam melihat meditasi,
        baginya dekonstruksi itulah meditasi sesungguhnya,
        secara cepat, memberikan manfaat kepada masyarakat, at
        least menyebarkan energy positif, ujung2nya juga
        perbaikan moralitas, hanya saja freewill disini patut
        dipertanyakan secara meditasi konsep. akan sah2 saja
        selama freewill tersebut masih dalam tataran koridor
        kewajaran.

        Nah sekelumit mengenai meditasi dari saya dirumah,
        tadinya mau melanjutkan ke Leonardo Rimba, Merkurius
        AP, M Iyus, dll, tapi karena saya lg kurang sehat dan
        asupan, he he.....

        salam
        isf







        L A M P I R A N 0 2
        Pertanyaan sdr Suchamda kepada Merkurius Adhi Purwono.

        at:
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/11343

        "Suchamda" <Daniel_552@...> wrote:

        Salam kenal bung Adhi,
        Maaf, saya belum lama bergabung dan kesulitan untuk
        mengikuti diskusi2 anda dengan sdr.Methoz dan
        bp.Hudoyo. Sepertinya menarik.
        Bisakah anda menceritakan bagaimana metode meditasi
        anda?
        Apakah kompatiologi itu?
        Bagaimanakah hubungan kompatiologi itu dengan
        meditasi?

        Terimakasih.

        Suchamda



        Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.