Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Deklarasi Ilmu Baru Kompatiologi

Expand Messages
  • Vincent Liong
    Kepada Yth: Moderator Kami mengharap izin dari moderator untuk sekiranya meloloskan posting ini agar di masa mendatang ketika proyek ini semakin luas berguna
    Message 1 of 2 , Jul 23, 2006
    • 0 Attachment
      Kepada Yth: Moderator
      Kami mengharap izin dari moderator untuk sekiranya
      meloloskan posting ini agar di masa mendatang ketika
      proyek ini semakin luas berguna bagi banyak orang;
      tindakan plagiat, copy&paste contek menyontek dlsb
      dapat dihindari sehingga kami bisa lebih fokus pada
      penelitian kami yang bisa digunakan oleh masyarakat
      umum bukan sekedar untuk kaum pe-monopoli standart
      akademis saja seperti perkembangan ilmupengetahuan
      yang umum terjadi di Indonesia… Thx Vincent Liong

      E-BOOK dapat didownload secara Cuma-Cuma di:
      <http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/files>





      Deklarasi Ilmu Baru Kompatiologi
      e-link:
      <http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16550>

      Ditulis oleh: Drs. Juswan Setyawan <juswan@...>


      Pada tanggal 20 Juli 2006, penemu logika dan
      praxis Komunikasi Empati, Vincent Liong, dalam artikel
      Mukadimah mengumumkan berdirinya ilmu baru
      Kompatiologi. Kompatiologi tegas-tegas menolak
      dikategorikan sebagai ranting dari Ilmu Komunikasi
      maupun ranting dari Ilmu Biologi atau Ilmu Psikologi.


      Dalam diskusi lepas dengan pakar sosiologi Dr.
      Hubertus Ubur, seorang dosen Sosiologi pada Unika
      Atmajaya dan Gunadharma, terungkapkan fakta bahwa
      semua cabang Ilmu Pengetahuan secara organik dan
      sosiologis dimulai dengan dan dari suatu Konsep yang
      secara evolusioner barulah kemudian dikembangkan dan
      diperkaya dengan berjalannya waktu oleh tokoh yang
      berbeda-beda secara piramidal. Tidak ada cabang Ilmu
      Pengetahuan yang begitu timbul telah terbentuk secara
      sempurna dan sekali jadi. Metodik dan sistematika –
      bahkan Nama resmi dari suatu ilmu baru selalu
      dikembangkan lebih hilir dalam kontinuum waktu
      perjalanan eksistensinya. Zaman dan kondisi telah
      berubah total dan segalanya menjadi semakin instant
      sehingga tidak ada salahnya justru dilakukan hal yang
      justru sebaliknya yaitu memberi nama baru kepada
      Komunikasi Empati ini sebagai Ilmu Kompatiologi.
      Sifatnya yang dominan praxis membuat Ilmu Kompatiologi
      dengan nama ataupun tanpa nama, walau dengan nama
      apapun ilmu Kompatiologi telah terbukti dapat dikuasai
      dan telah diterapkan secara individual ke dalam
      berbagai bidang ilmu pengetahuan dan bidang profesi di
      dalam masyarakat seperti kedokteran umum, kedokteran
      hewan, kedokteran gigi, salesmanship, dsb.


      Pada abad ke 15 misalnya belum ada yang
      namanya ilmu Sosiologi, ilmu Anthropologi, ilmu
      Manajemen, ilmu Psikologi apalagi Ilmu Teknik
      Informasi dan Telematika. Tetapi ilmu-ilmu seperti
      ilmu Filsafat, ilmu Hukum, ilmu Kedokteran relatif
      lebih tua dan sudah terbentuk sejak abad-abad pertama
      tarikh Masehi. Ilmu filsafat sendiri, menurut Dr.
      Hubertus Ubur pada awalnya sama sekali bukan ilmu
      melainkan melulu rumusan hasil refleksi tentang
      hakekat zat dan tentang apa itu makna kebenaran. Orang
      mengamati fenomen atau gejala alam seperti api, air,
      angin dan ingin mencoba memahami dan merumuskan
      hakekatnya. Semestinya hal-hal seperti itu termasuk
      Ilmu Fisika namun pada awal mulanya semua ilmu
      berpangkal pada Ilmu Filsafat, karena semua ilmu
      selalu bersifat mencari jawaban atas
      pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti the “WHAT” dan
      “WHY” serta kemudian diikuti ‘HOW”. Kata filsafat itu
      sendiri berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu
      ‘philia’ dan ‘sophia’, yang masing-masing berarti
      ‘cinta’ dan ‘kebenaran’, sehingga filsafat ialah ilmu
      yang mencintai kebenaran - tetapi mana ada ilmu
      pengetahuan formal yang membenci kebenaran? Filsafat
      juga tidak dibangun oleh satu orang karena selain nama
      Socrates yang kerap disebut-sebut dan dianggap bapak
      Ilmu Filsafat karena dipaksa minum racun akibat
      penemuan barunya itu, kita juga mengenal nama-nama
      seperti Plato, Stoa, Euclides dsb. misalnya.

      Ilmu Theologia juga baru timbul setelah orang-orang
      dari pelbagai zaman mempelajari ajaran-ajaran agama
      yang diturunkan ke dunia ini dari sudut pandangan
      tertentu yang serba theo-sentris. Dan pada gilirannya
      ilmu Moral baru terbentuk kemudian mengikuti ilmu
      Theologia.


      Bila kebanyakan ilmu pengetahuan memerlukan
      waktu yang sangat panjang dan lama untuk perumusan dan
      pengembangannya, maka Kompatiologi akan memerlukan
      waktu yang relatif lebih pendek karena didukung oleh
      mereka yang pakar dalam bidang-bidang penerapannya
      masing-masing. Kompatiologi pada hakekatnya bukan ilmu
      teori umum melainkan lebih bersifat ilmu terapan
      secara praxiologis. Maka dari itu kompatiologi secara
      langsung serta merta telah dapat diterapkan ke dalam
      berbagai bidang ilmu pengetahuan, namun para pakar
      dari ilmu pengetahuan yang bersangkutanlah yang akan
      berkontribusi untuk mengembangkan Ilmu Kompatiologi
      itu sendiri. Misalnya, Cornelia Istiani, M.Si.
      seorang strata dua Ilmu Psikometri bertugas merumuskan
      dasar-dasar psikometrik daripada ilmu Kompatiologi.


      Apakah deklarasi ini terlalu dini, terlalu
      ambisius dan terlalu bombastis? Bukanlah tugas penemu
      ilmu Kompatiologi itu sendiri untuk menjawabnya.
      Justru para pemerhati, peminat dan partisipan dalam
      ilmu Kompatiologi, mereka itulah yang akan
      melaksanakan tugas-tugas sekunder seperti itu.

      Hal ini dapat dipermudah dan dipercepat - menurut Dr.
      Hubertus Ubur yang pakar mengenai sejarah perkembangan
      ilmu pengetahuan disorot dari ilmu Sosiologi.
      Dasar-dasar teoretik, metodik serta metode
      pengembangan dari ilmu Kompatiologi sedang disusun
      dalam waktu yang tidak terlalu lama mengingat
      dasar-dasar ilmu Kompatiologi itu sendiri baru
      dirumuskan tiga bulan sejak medio April 2006 yang
      lalu. Dengan atmosfir yang sangat kondusif dan
      terbuka karena arus deras globalisasi dan luasnya
      cakupan teknik-teknik telekomunikasi dan sibernetika
      maka garis waktu dapat “dilipat” menjadi sangat
      pendek. Sama seperti dua titik terminal suatu garis
      lurus yang digambarkan pada selembar kertas dapat
      dipertemukan dengan cara melipat kertas tersebut dan
      menempatkan kedua titik terminal itu pada satu posisi
      yang sama.


      Pada hari Jum’at, 21 Juli 2006, telah diadakan
      presentasi dan diskusi kelompok di ruang rapat Ilmu
      Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas
      Tarumangara dengan para dokter dosen - antar generasi
      - membahas selama tiga jam penuh tentang kemungkinan
      aplikasi ilmu Kompatiologi ke dalam sistem pendidikan
      Ilmu Kedokteran. Walaupun terlalu pagi untuk
      menerapkan ilmu ini dalam skala umum dan menyeluruh
      namun hampir semua partisipan menganggap –
      setidak-tidaknya tidaklah menolak bahwa ilmu
      Kompatiologi sebagai sesuatu yang baru, unik dan
      menarik, yang mungkin memang sesuatu yang selama ini
      sedang dicari-cari untuk turut menyempurnakan
      kurikulum Fakultas Kedokteran. Hal ini justru karena
      praktek komunikasi yang empatik sudah merupakan suatu
      “conditio sine qua non” bagi para praktisi zaman
      sekarang yang benar-benar menginginkan terbentuknya
      suatu relasi interpersonal yang mampu menghasilkan
      output yang mutual dan maksimal.


      Mang Iyus
      (Drs. Juswan Setyawan)
      Jakarta, Sabtu, 22 Juli 2006

      E-BOOK dapat didownload secara Cuma-Cuma di:
      <http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/files>




      MUKADIMAH
      Komunikasi Empati sebagai Payung dari Cabang Ilmu di
      dalam-nya…
      e-link:
      <http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16525>

      Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong



      Pendahuluan


      Saya merasa kurang bilamana saya tidak
      menceritakan apa yang akan saya tuliskan dalam esai
      ini. Sebenarnya saya tidak mau / menghindari diri
      untuk menulis hal-hal tentang Komunikasi Empati
      (KomPati). Bagi saya masterpiece terbaik saya bulankah
      dari tulisan-tulisan saya baik tentang KomPati atau
      karya-karya saya sebelumnya yang sekedar
      ‘aplikasi’(menerapkan kemampuan / ilmupengetahuan /
      metodologi tertentu yang saya kuasai) selalu
      subjective dan individualistis karena memang saya
      penulis yang bercerita hal biasa tentang hidup saya
      sendiri yang oleh karena tulisannya menjadi suatu hal
      yang menarik.


      Masterpiece dari karya saya menurut karya saya
      sendiri adalah bagaimana keberhasilan saya,
      mentranformasi proses mengalami dan menghayati
      pengalaman-pengalaman dalam petualangan-petualangan
      yang saya alami menjadi basic sistem sederhana tetapi
      bukan kacangan yang bisa dipahami, dijalani dalam
      hidup siapa saja tanpa terkecuali yang berniat dan
      tulus untuk mengalami petualangan sejenis dalam
      kehidupannya sendiri, yang tentunya akan tetap sebagai
      hal yang unique, individualistis yang melekat pada
      orangnya masing-masing, sebagai senimannya untuk diri
      sendiri.

      Banyak seniman tulisan seperti Pramoedya Ananta Tour
      yang belum lama meninggal dunia, pelukis seperti
      Leonardo Da Vinci, atau ilmuan seperti Carl Gustav
      Jung dan Sigmund Freud yang dimana setelah si tokoh
      utama meninggal dunia karyanya hanya menjadi kenangan
      untuk dibahas, diperbincangkan dan dikritisi.


      Memang banyak ahli bergelar sesuai standart
      bermunculan mulai dari ahli sastra, ahli seni lukis
      sampai ahli Psikologi, tetapi ahli-ahli ini hanya
      menjadi seorang discoverer seperti anda yang menonton
      discovery channel menonton apa hal yang sebenarnya
      sudah ada, sekedar anda sedikit lebih tahu dari
      sebelum anda menontonnya. Jarang sekali dari kalangan
      para ahli ini yang benar-benar menjadi inventor
      menemukan sesuatu dari ketidaktahuan samasekali, tanpa
      punya kesempatan untuk menonton dari televisi atau
      membaca buku atau mengikuti seri kuliah sehingga
      karena banyak mendengar dalam standart tertentu
      dianggap lulus.

      Yang menjadi masalah, menonton itu beda dengan
      mengalami proses pengalaman pencerahan atas suatu
      pembentukan karya seni tsb. Kita tidak menonton
      discovery channel atau national geograpic soal
      Leonardo Da Vinci misalnya dimana Da Vinci sendiri
      yang bercerita di sana. Bilamana demikian pun,
      seberapa detail pengalaman seumur hidup tsb bisa dia
      ceritakan dalam sebuah seri film dokumenter yang
      durasinya kurang dari satu atau dua jam.

      Apalagi bilamana si pencerita bukan orang yang sama,
      sudut pandang bisa saja berbeda, bahkan alat penilai
      dan pemetaan bahasa yang digunakan untuk menceritakan
      sudah tentu berbeda. Misalnya dalam fakultas Psikologi
      kita menemui Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung.
      Kuliah Psikologi, hanya bersifat menceritakan
      discovery atau bahkan gawatnya malah seperti pelajaran
      sejarah dimana kronologis dan point-point hasil akhir
      penemuannya saja yang dibahas, proses pembentukan yang
      sedikit-semi sedikit itu tidak dibahas. Yang lebih
      gawat lagi, sistem berpikir mendasar yang dipakai
      untuk membahas ilmupengetahuan warisan Sigmund Freud
      dan Carl Gustav Jung jelas berbeda dengan sistem
      mendasar yang Freud dan Jung gunakan. Freud dan Jung
      adalah ilmuan yang basic ilmunya bersifat pengertian
      proses keseluruhan pengalaman (memori base) yang
      sifatnya lebih konstan, misalnya soal
      Psikoanalisa-nya. Sedangkan sistem mendasar yang
      digunakan oleh hirarki Psikologi adalah sistem
      stimulus & response (reward & punishment / right &
      guilt feeling).


      Hal ini sama seperti bilamana kita membahas
      sebuah kapal yang melepas jangkarnya di tengah laut
      yang dalam. Bilamana kita menggunakan sistem pemikiran
      mendasar yang base on stimulus dan response, maka yang
      dibahas adalah frekwensi gerak badan kapal akibat
      hempasan gelombang dan tiupan angin. Bilamana kita
      menggunakan sistem pemikiran mendasar yang base on
      pengertian proses keseluruhan pengalaman (memori
      base), maka yang kita nilai adalah letak kapal
      terhadap garis lintang dan bujur bumi yang tetap
      karena kapal tsb tertambat di satu tempat tertentu
      karena adanya jangkar. Bilamana kita membahas letak
      kapal terhadap garis lintang dan bujur bumi dengan
      memperhatikan frekwensi gerak kapal akibat angin dan
      gelombang saja maka tentu data hasil penilaian yang
      diperoleh akan jelas salah.

      Dalam Psikologi, sistem berpikir mendasar yang berbeda
      ini membuat Psikoanalisa dianggap sulit dipelajari dan
      digunakan sehingga tidak / jarang dipakai di dunia
      Psikologi. Lalu mengapa Psikologi masih memonopoli
      bahwa Psikoanalisa Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung
      adalah bagian dari ilmu Psikologi?



      Blok Barat atau Blok Timur


      Dulu saya ketika diceritakan di kelas sejarah
      soal blok barat dan blok timur, saya tidak begitu
      mengerti dan membenarkan saja ketika diceritakan soal
      perang antara Kapitalis VS Komunis. Dulu ketika
      mendengar cerita mereka, saya dengan gampang bisa
      menganggap Komunis itu jahat.

      Hal itu berubah ketika saya hidup bersama anak-anak
      dari aparat kedutaan Korea Utara di Jakarta yang makan
      pagi bersama saya 5 hari dalam seminggu selama 2
      tahun. Saya baru mengerti bahwa perbedaan sistem
      pemikiran mendasar tsb mempengaruhi banyak hal.
      Ilmupengetahuan itu sifatnya seperti hirarki dari satu
      akar bisa tumbuh beberapa batang dan dari setiap
      batang bisa tumbuh ranting yang lebih kecil dan lebih
      kecil lagi,demikian seterusnya. Bagaimana kita bisa
      membahas, berusaha mengerti dan menguasai suatu
      ranting bilamana aturan main, sistem pemikiran
      mendasar yang digunakan dari akar atau batang berbeda.


      Kalau kita lihat dari pemimpin negara sosialis
      seperti misalnya Kim Il Sung dan Mao Zedong maka
      tampak di data sejarah bahwa mereka memiliki ikatan
      yang kuat dengan agama Kristen. Tetapi mengapa mereka
      kok menjadi musuh blok barat dan cenderung
      dipropagandakan sebagai atheis? Rupanya cara mereka
      menghayati Yesus berbeda dengan cara blok barat.
      Ilmupengetahuan logis yang saat ini kita gunakan
      awalnya dikembangkan oleh gereja-gereja Katholik.
      Mengapa gereja yang seharusnya mengurus agama mengurus
      ilmu?! Ada dua cara memahami Yesus; Memahami Yesus
      berdasarkan kitab suci yang dipilih berdasarkan
      kesepatakan politis, diantara yang ada dan ‘sebagian
      besar lainnya dimusnahkan’ (seperti nasib gospel of
      Judas, Gospel of Maria Magdalena, dlsb). Atau sekedar
      menghidupkan tokoh Yesus sang mesias dengan menerapkan
      ajaran cinta kasih dalam keseharian kita.

      Jadi kita bisa menganggap Yesus itu jauh di sana
      sebagai hal yang bersifat iman (intuitive) yang tidak
      bisa kita capai tetapi seperti orang yang bisa kita
      lihat dari jauh yang bisa melihat kita dari jauh. Maka
      dari itu yang ada di depan mata kita dan dapat kita
      jamah adalah hal-hal logis seperti kenyataan bahwa
      ilmupengetahuan logis yang saat ini kita gunakan
      awalnya dikembangkan oleh gereja-gereja Katholik.
      Dalam pembahasan ilmupengetahuan-nya maka
      pembahasan-nya hanya menganggap kerja otak kiri
      (logika) yang penting dan mengabaikan hal yang
      berkaitan dengan otak kanan (intuitive).
      Ilmupengetahuan diamati seperti kita menonton
      Discovery Channel di TV Cable yang dimana harus ada
      jarak yang memisahkan antara penonton, ilmu, penemunya
      dan penerusnya.

      Kita juga bisa menganggap Yesus sebagai manusia yang
      hidup sebagai sesama dan secara inheren menitiskan
      dirinya, ada di sekitar kita melalui tokoh pemimpin
      kita, orang yang kita kagumi atau bahkan ayah dan ibu
      kita. Bilamana pemahaman yang dipilih seperti ini maka
      hal logis dan hal intuitive tidak kita tabukan untuk
      hadir bersama-sama dalam kehidupan kita sehari-hari.
      Pembahasan tentang Tuhan juga tidak lagi sekedar tokoh
      mitos melainkan orang biasa yang masih hidup dan ada
      di sekitar kita. Dalam pembahasan ilmupengetahuan-nya
      maka pembahasan dan penerapan sistem pemikiran dasar
      sejak kecil hingga kita dewasa secara seimbang
      mendalami kerja otak kiri (logika) dan otak kanan
      (intuitive). Ilmupengetahuan dialami tiap prosesnya
      dimana individu sebagai inventor, dikembangkan dan
      disebarluaskan dalam bentuk system cell kecil seperti
      keluarga, Yesus dengan dua belas rasulnya, dengan
      ranting-ranting (murid-murid dari tiap rasul) yang
      membentuk kelompok independent sendiri-sendiri.



      Penutup


      Kembali ke soal KomPati, maka dari itu dalam
      tulisan ini saya menekankan bahwa saya tidak setuju
      bilamana KomPati disebut sebagai bagian dari ilmu
      Psikologi atau ilmu yang lain yang base on sistem
      pemikiran dasarnya blok barat (stimulus & response
      base). Psikologi berdasarkan makna dasarnya sebenarnya
      tidak salah, tetapi Psikologi sebagai hirarki,
      organisasi ilmu. Saya tidak ada kebencian secara
      pribadi. Yang menjadi masalah adalah tindakan itu
      hanya akan menghalangi perkembangan ilmu Komunikasi
      Empati, seperti halnya ilmu Psikoanalisa Sigmund Freud
      dan Carl Gustav Jung termonopoli oleh keorganisasian
      Psikologi, tetapi terhambat perkembangannya dan
      cenderung akan salah dimengerti sehingga tampak sulit,
      mistik dan tidak berguna.


      KomPati akan kami kembangkan secara
      independent sebagai ilmu yang memiliki akarnya sendiri
      dengan batang dan ranting-ranting yang telah tumbuh
      atau akan tumbuh di kemudian hari yang tetap berpijak
      para aturan main, sistem pemikiran mendasar akar yang
      sama. Kami membuka kesempatan untuk ilmu kami
      digunakan di institusi-institusi dan bidang keilmuan
      yang telah ada dengan persyaratan bahwa dalam
      penggunaan dan pengembangannya, sistem pemikiran
      mendasar kami tidak diubah-ubah agar sesuai hirarki
      yang meminjam hasil kerja kami. Bilamana tetap
      dipaksakan, maka tidak akan mampu mendapatkan manfaat
      atau tidak secara benar menggunakan ilmupengetahuan
      yang menjadi cabang ilmu dari KomPati. Bisa saja hanya
      mereduksi efisiensi ilmu ini atau malah samasekali
      tidak memberikan hasil apa-apa.

      Note: Untuk keberhasilan penggunaan dan pengembangan
      Komunikasi Empati maka Mukadimah ini wajib dibaca,
      dimengerti dan dijalankan dengan baik.


      ttd,
      Liong Vincent Christian / Vincent Liong
      Jakarta, Rabu, 19 Juli 2006



      Definisi

      Mukadimah = Landasan yang paling mendasar yang
      memberikan arti untuk segala kegiatan yang dilakukan.
      Segala macam hal bisa diubah tetapi mukadimah tidak
      bisa diubah. Bilamana mukadimah diubah artinya
      semuanya bubar.





      Undangan Bergabung di maillist
      Komunikasi_Empati@...
      Komunikasi_Empati@yahoogroups.com


      Netters,

      Telah dibentuk milis baru dengan nama
      Komunikasi_Empati@...
      Komunikasi_Empati@yahoogroups.com
      e-link:
      <http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about>

      <http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati>

      Tujuan pembentukannya ialah sebagai wadah untuk
      berdiskusi segala aspek yang berhubungan dengan
      Komunikasi Empati. Kami yakin bahwa bidang
      spesialisasi baru dalam Ilmu Komunikasi ini akan
      menjadi ‘trend setter’ untuk masa-masa dekade yang
      akan datang karena manusia pada dasarnya ingin
      diperlakukan sebagai manusia dan bukan sebagai
      pesakitan atau nomor belaka. Segala bidang ilmu
      humaniora yang berhubungan dengan manusia akan
      dipengaruhi oleh logika dan komunikasi empati ini.
      Kami yakin benar akan hal itu.

      Milis baru ini adalah milis yang serius dan mengundang
      para pemerhati dan peminat yang serius pula untuk
      bersama-sama mengamati, mempelajari, mencermati,
      mengasuh serta mengembangkan bayi yang namanya
      Komunikasi Empati ini. Walaupun milis ini bersifat
      unmoderated dan terbuka untuk oublik namun hanya
      tulisan-tulisan yang berhubungan dengan bidang
      Komunikasi Empati yang akan ditayangkan. Tulisan yang
      bersifat ‘out of context’ akan diabaikan. Hal ini
      dimaklumkan di muka untuk mencegah salah pengertian
      yang tidak perlu yang mungkin dapat timbul di kemudian
      hari.

      Terima kasih atas perhatian dan tanggapan positif
      kawan-kawan. Selamat datang di rumah kita yang baru.

      ttd,
      Moderator,

      Juswan Setyawan




      Sekilas Sejarah Komunikasi Empati

      Dua bulan yang lalu saya sama sekali tidak tahu menahu
      seluk beluk apapun tentang Komunikasi Empati.
      Segalanya dimulai setelah saya mengikuti Seminar
      dengan Vincent Liong sebagai pembicara tunggal tetapi
      yang dibantu oleh rekan setianya Leonardo Rimba
      berjudul “Logika dan Komunikasi Empati”. Seminar
      setengah hari itu diadakan di ruangan kuliah pasca
      sarjana Universitas Sahid.

      Konsep komunikasi saya tahu, Empati saya juga tahu.
      Tetapi bila kedua kata itu disambung jadi satu maka
      konsep saya mengenai hal baru itu ternyata belum ada.
      Kemudian saya diajak – bahkan sedikit ditantang - oleh
      Vincent Liong untuk menulis sesuatu tentang Komunikasi
      Empati tersebut. Saya bingung juga harus mulai dari
      mana dan membahas soal apa? Memori saya tentang
      Komunikasi Empati masih vacum – kosong blong - dan
      saya harus mulai mengerahkan segenap energi batin saya
      untuk memulai proyek idealis ini.

      Saya berdiskusi dengan Vincent tentang bagaimana harus
      mulai. Saya terpikir akan Kitab Kejadian di mana
      dikatakan “bumi belum berbentuk dan kosong: gelap
      gulita menutupi samudera raya, dan roh Allah
      melayang-layang di atas permukaan air...”
      Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu
      apapun rupanya dimulai dari “kekosongan” yang tanpa
      bentuk dan tanpa wujud dan yang chaos. “In principium
      erat verbum...” Pada mulanya adalah kata-kata... atau
      logos. Semuanya masih gelap gulita artinya tidak ada
      petunjuk apapun, tidak ada titik terang sedikitpun
      yang dapat dijadikan pedoman. Kegelapan itu sifatnya
      tak terbatas, ibaratnya samudera raya yang entah di
      mana ujung pesisirnya karena tidak tampak dalam
      kegelapan itu. Roh Allah melayang-layang di atas
      permukaan air... yang melayang-layang itu tentunya
      adalah “elemen angin”. Anginlah yang akan membawa
      kata-kata seperti angin pula yang menerbangkan
      daun-daun ke mana-mana. Maka dari itu kami sepakat
      bahwa Komunikasi Empati harus dimulai dengan
      menorehkan kata-kata pada Kitab Angin. Tidak mungkin
      kami mulai dengan Kitab Tanah seperti ilmu-ilmu yang
      sudah mapan - berikut institusi-institusinya yang
      sudah mengkristal dan tidak sedikit yang sudah membatu
      bahkan merapuh seperti bangunan kuno; ilmu yang sudah
      memiliki fundamen yang kokoh bagi sosok bangunannya
      dan bagi perluasan ruangan-ruangannya.

      Secara berkala kami terus berkomunikasi dan
      berdiskusi. Begitu ada ide langsung ditangkap dan
      dituangkan dalam tulisan dan dikirimkan ke milis.
      Kadang-kadang dalam satu hari dapat ditulis lebih dari
      satu artikel sesuai dengan deras lambatnya arus
      inspirasi yang masuk. Maka dari itu tulisan-tulisan
      tersebut tidak menunjukkan adanya sekuens yang pasti.
      Kadang-kadang timbul ide tentang empati dan di lain
      waktu tentang dekonstruksi dan sebagainya. Perhatikan
      saja tanggal yang tertulis di bawah setiap posting
      yang tidak urut dengan sistematika pasal-pasalnya. Ada
      tulisan yang sangat belakangan tetapi “terpaksa”
      diposisikan pada bagian awal buku tersebut. Maka
      terjadilah semacam “growing e-book’ yang setiap saat
      muncul ranting yang baru pada pokoknya entah di
      sebelah sisi yang menghadap ke mana.

      Namun, akhirnya kami merasa apa yang tertulis sudahlah
      cukup. Elaborasinya akan dilanjutkan dalam Kitab Tanah
      yang lebih berbobot, medalam dan dilengkapi
      kepustakaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lain
      halnya dengan Kitab Angin yang berfungsi sebagai semi
      entertaining sehingga ditulis secara naratif dalam
      bahasa pop. Sementara itu Kitab Api juga sedang
      ditulis. Artikel-asrtikelnya bersifat panas membakar.
      Melakukan bermacam-macam dekonstruksi. Baik tentang
      institusi dan fungsi ilmu psikologi, termasuk perilaku
      pakarnya; tentang Oedipus Complex; tentang post-V;
      tentang legenda dan mithos Nabi Musa; terakhir baru
      sampai V-Abject...

      Sesuatu yang terasa sangat ketinggalan ialah Kitab
      Air. Tetapi kita semua sama-sama dapat memakluminya.
      Memang sudah sifat “elemen air” untuk “menunggu dengan
      sabar” sampai saat yang tepat untuk menimbulkan
      “gelombang tsunami” atau “banjir bandang”.

      Jakarta, 28 Juni 2006.
      Mang Iyus


      Silahkan bergaung juga pada beberapa maillist kami
      yang lain diantaranya:
      * vincentliong@yahoogroups.com,
      http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join
      psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
      * psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join




      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    • Vincent Liong
      Kepada Yth: Moderator Kami mengharap izin dari moderator untuk sekiranya meloloskan posting ini agar di masa mendatang ketika proyek ini semakin luas berguna
      Message 2 of 2 , Jul 23, 2006
      • 0 Attachment
        Kepada Yth: Moderator
        Kami mengharap izin dari moderator untuk sekiranya
        meloloskan posting ini agar di masa mendatang ketika
        proyek ini semakin luas berguna bagi banyak orang;
        tindakan plagiat, copy&paste contek menyontek dlsb
        dapat dihindari sehingga kami bisa lebih fokus pada
        penelitian kami yang bisa digunakan oleh masyarakat
        umum bukan sekedar untuk kaum pe-monopoli standart
        akademis saja seperti perkembangan ilmupengetahuan
        yang umum terjadi di Indonesia… Thx Vincent Liong

        E-BOOK dapat didownload secara Cuma-Cuma di:
        <http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/files>





        Deklarasi Ilmu Baru Kompatiologi
        e-link:
        <http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16550>

        Ditulis oleh: Drs. Juswan Setyawan <juswan@...>


        Pada tanggal 20 Juli 2006, penemu logika dan
        praxis Komunikasi Empati, Vincent Liong, dalam artikel
        Mukadimah mengumumkan berdirinya ilmu baru
        Kompatiologi. Kompatiologi tegas-tegas menolak
        dikategorikan sebagai ranting dari Ilmu Komunikasi
        maupun ranting dari Ilmu Biologi atau Ilmu Psikologi.


        Dalam diskusi lepas dengan pakar sosiologi Dr.
        Hubertus Ubur, seorang dosen Sosiologi pada Unika
        Atmajaya dan Gunadharma, terungkapkan fakta bahwa
        semua cabang Ilmu Pengetahuan secara organik dan
        sosiologis dimulai dengan dan dari suatu Konsep yang
        secara evolusioner barulah kemudian dikembangkan dan
        diperkaya dengan berjalannya waktu oleh tokoh yang
        berbeda-beda secara piramidal. Tidak ada cabang Ilmu
        Pengetahuan yang begitu timbul telah terbentuk secara
        sempurna dan sekali jadi. Metodik dan sistematika –
        bahkan Nama resmi dari suatu ilmu baru selalu
        dikembangkan lebih hilir dalam kontinuum waktu
        perjalanan eksistensinya. Zaman dan kondisi telah
        berubah total dan segalanya menjadi semakin instant
        sehingga tidak ada salahnya justru dilakukan hal yang
        justru sebaliknya yaitu memberi nama baru kepada
        Komunikasi Empati ini sebagai Ilmu Kompatiologi.
        Sifatnya yang dominan praxis membuat Ilmu Kompatiologi
        dengan nama ataupun tanpa nama, walau dengan nama
        apapun ilmu Kompatiologi telah terbukti dapat dikuasai
        dan telah diterapkan secara individual ke dalam
        berbagai bidang ilmu pengetahuan dan bidang profesi di
        dalam masyarakat seperti kedokteran umum, kedokteran
        hewan, kedokteran gigi, salesmanship, dsb.


        Pada abad ke 15 misalnya belum ada yang
        namanya ilmu Sosiologi, ilmu Anthropologi, ilmu
        Manajemen, ilmu Psikologi apalagi Ilmu Teknik
        Informasi dan Telematika. Tetapi ilmu-ilmu seperti
        ilmu Filsafat, ilmu Hukum, ilmu Kedokteran relatif
        lebih tua dan sudah terbentuk sejak abad-abad pertama
        tarikh Masehi. Ilmu filsafat sendiri, menurut Dr.
        Hubertus Ubur pada awalnya sama sekali bukan ilmu
        melainkan melulu rumusan hasil refleksi tentang
        hakekat zat dan tentang apa itu makna kebenaran. Orang
        mengamati fenomen atau gejala alam seperti api, air,
        angin dan ingin mencoba memahami dan merumuskan
        hakekatnya. Semestinya hal-hal seperti itu termasuk
        Ilmu Fisika namun pada awal mulanya semua ilmu
        berpangkal pada Ilmu Filsafat, karena semua ilmu
        selalu bersifat mencari jawaban atas
        pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti the “WHAT” dan
        “WHY” serta kemudian diikuti ‘HOW”. Kata filsafat itu
        sendiri berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu
        ‘philia’ dan ‘sophia’, yang masing-masing berarti
        ‘cinta’ dan ‘kebenaran’, sehingga filsafat ialah ilmu
        yang mencintai kebenaran - tetapi mana ada ilmu
        pengetahuan formal yang membenci kebenaran? Filsafat
        juga tidak dibangun oleh satu orang karena selain nama
        Socrates yang kerap disebut-sebut dan dianggap bapak
        Ilmu Filsafat karena dipaksa minum racun akibat
        penemuan barunya itu, kita juga mengenal nama-nama
        seperti Plato, Stoa, Euclides dsb. misalnya.

        Ilmu Theologia juga baru timbul setelah orang-orang
        dari pelbagai zaman mempelajari ajaran-ajaran agama
        yang diturunkan ke dunia ini dari sudut pandangan
        tertentu yang serba theo-sentris. Dan pada gilirannya
        ilmu Moral baru terbentuk kemudian mengikuti ilmu
        Theologia.


        Bila kebanyakan ilmu pengetahuan memerlukan
        waktu yang sangat panjang dan lama untuk perumusan dan
        pengembangannya, maka Kompatiologi akan memerlukan
        waktu yang relatif lebih pendek karena didukung oleh
        mereka yang pakar dalam bidang-bidang penerapannya
        masing-masing. Kompatiologi pada hakekatnya bukan ilmu
        teori umum melainkan lebih bersifat ilmu terapan
        secara praxiologis. Maka dari itu kompatiologi secara
        langsung serta merta telah dapat diterapkan ke dalam
        berbagai bidang ilmu pengetahuan, namun para pakar
        dari ilmu pengetahuan yang bersangkutanlah yang akan
        berkontribusi untuk mengembangkan Ilmu Kompatiologi
        itu sendiri. Misalnya, Cornelia Istiani, M.Si.
        seorang strata dua Ilmu Psikometri bertugas merumuskan
        dasar-dasar psikometrik daripada ilmu Kompatiologi.


        Apakah deklarasi ini terlalu dini, terlalu
        ambisius dan terlalu bombastis? Bukanlah tugas penemu
        ilmu Kompatiologi itu sendiri untuk menjawabnya.
        Justru para pemerhati, peminat dan partisipan dalam
        ilmu Kompatiologi, mereka itulah yang akan
        melaksanakan tugas-tugas sekunder seperti itu.

        Hal ini dapat dipermudah dan dipercepat - menurut Dr.
        Hubertus Ubur yang pakar mengenai sejarah perkembangan
        ilmu pengetahuan disorot dari ilmu Sosiologi.
        Dasar-dasar teoretik, metodik serta metode
        pengembangan dari ilmu Kompatiologi sedang disusun
        dalam waktu yang tidak terlalu lama mengingat
        dasar-dasar ilmu Kompatiologi itu sendiri baru
        dirumuskan tiga bulan sejak medio April 2006 yang
        lalu. Dengan atmosfir yang sangat kondusif dan
        terbuka karena arus deras globalisasi dan luasnya
        cakupan teknik-teknik telekomunikasi dan sibernetika
        maka garis waktu dapat “dilipat” menjadi sangat
        pendek. Sama seperti dua titik terminal suatu garis
        lurus yang digambarkan pada selembar kertas dapat
        dipertemukan dengan cara melipat kertas tersebut dan
        menempatkan kedua titik terminal itu pada satu posisi
        yang sama.


        Pada hari Jum’at, 21 Juli 2006, telah diadakan
        presentasi dan diskusi kelompok di ruang rapat Ilmu
        Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas
        Tarumangara dengan para dokter dosen - antar generasi
        - membahas selama tiga jam penuh tentang kemungkinan
        aplikasi ilmu Kompatiologi ke dalam sistem pendidikan
        Ilmu Kedokteran. Walaupun terlalu pagi untuk
        menerapkan ilmu ini dalam skala umum dan menyeluruh
        namun hampir semua partisipan menganggap –
        setidak-tidaknya tidaklah menolak bahwa ilmu
        Kompatiologi sebagai sesuatu yang baru, unik dan
        menarik, yang mungkin memang sesuatu yang selama ini
        sedang dicari-cari untuk turut menyempurnakan
        kurikulum Fakultas Kedokteran. Hal ini justru karena
        praktek komunikasi yang empatik sudah merupakan suatu
        “conditio sine qua non” bagi para praktisi zaman
        sekarang yang benar-benar menginginkan terbentuknya
        suatu relasi interpersonal yang mampu menghasilkan
        output yang mutual dan maksimal.


        Mang Iyus
        (Drs. Juswan Setyawan)
        Jakarta, Sabtu, 22 Juli 2006

        E-BOOK dapat didownload secara Cuma-Cuma di:
        <http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati/files>




        MUKADIMAH
        Komunikasi Empati sebagai Payung dari Cabang Ilmu di
        dalam-nya…
        e-link:
        <http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/16525>

        Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong



        Pendahuluan


        Saya merasa kurang bilamana saya tidak
        menceritakan apa yang akan saya tuliskan dalam esai
        ini. Sebenarnya saya tidak mau / menghindari diri
        untuk menulis hal-hal tentang Komunikasi Empati
        (KomPati). Bagi saya masterpiece terbaik saya bulankah
        dari tulisan-tulisan saya baik tentang KomPati atau
        karya-karya saya sebelumnya yang sekedar
        ‘aplikasi’(menerapkan kemampuan / ilmupengetahuan /
        metodologi tertentu yang saya kuasai) selalu
        subjective dan individualistis karena memang saya
        penulis yang bercerita hal biasa tentang hidup saya
        sendiri yang oleh karena tulisannya menjadi suatu hal
        yang menarik.


        Masterpiece dari karya saya menurut karya saya
        sendiri adalah bagaimana keberhasilan saya,
        mentranformasi proses mengalami dan menghayati
        pengalaman-pengalaman dalam petualangan-petualangan
        yang saya alami menjadi basic sistem sederhana tetapi
        bukan kacangan yang bisa dipahami, dijalani dalam
        hidup siapa saja tanpa terkecuali yang berniat dan
        tulus untuk mengalami petualangan sejenis dalam
        kehidupannya sendiri, yang tentunya akan tetap sebagai
        hal yang unique, individualistis yang melekat pada
        orangnya masing-masing, sebagai senimannya untuk diri
        sendiri.

        Banyak seniman tulisan seperti Pramoedya Ananta Tour
        yang belum lama meninggal dunia, pelukis seperti
        Leonardo Da Vinci, atau ilmuan seperti Carl Gustav
        Jung dan Sigmund Freud yang dimana setelah si tokoh
        utama meninggal dunia karyanya hanya menjadi kenangan
        untuk dibahas, diperbincangkan dan dikritisi.


        Memang banyak ahli bergelar sesuai standart
        bermunculan mulai dari ahli sastra, ahli seni lukis
        sampai ahli Psikologi, tetapi ahli-ahli ini hanya
        menjadi seorang discoverer seperti anda yang menonton
        discovery channel menonton apa hal yang sebenarnya
        sudah ada, sekedar anda sedikit lebih tahu dari
        sebelum anda menontonnya. Jarang sekali dari kalangan
        para ahli ini yang benar-benar menjadi inventor
        menemukan sesuatu dari ketidaktahuan samasekali, tanpa
        punya kesempatan untuk menonton dari televisi atau
        membaca buku atau mengikuti seri kuliah sehingga
        karena banyak mendengar dalam standart tertentu
        dianggap lulus.

        Yang menjadi masalah, menonton itu beda dengan
        mengalami proses pengalaman pencerahan atas suatu
        pembentukan karya seni tsb. Kita tidak menonton
        discovery channel atau national geograpic soal
        Leonardo Da Vinci misalnya dimana Da Vinci sendiri
        yang bercerita di sana. Bilamana demikian pun,
        seberapa detail pengalaman seumur hidup tsb bisa dia
        ceritakan dalam sebuah seri film dokumenter yang
        durasinya kurang dari satu atau dua jam.

        Apalagi bilamana si pencerita bukan orang yang sama,
        sudut pandang bisa saja berbeda, bahkan alat penilai
        dan pemetaan bahasa yang digunakan untuk menceritakan
        sudah tentu berbeda. Misalnya dalam fakultas Psikologi
        kita menemui Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung.
        Kuliah Psikologi, hanya bersifat menceritakan
        discovery atau bahkan gawatnya malah seperti pelajaran
        sejarah dimana kronologis dan point-point hasil akhir
        penemuannya saja yang dibahas, proses pembentukan yang
        sedikit-semi sedikit itu tidak dibahas. Yang lebih
        gawat lagi, sistem berpikir mendasar yang dipakai
        untuk membahas ilmupengetahuan warisan Sigmund Freud
        dan Carl Gustav Jung jelas berbeda dengan sistem
        mendasar yang Freud dan Jung gunakan. Freud dan Jung
        adalah ilmuan yang basic ilmunya bersifat pengertian
        proses keseluruhan pengalaman (memori base) yang
        sifatnya lebih konstan, misalnya soal
        Psikoanalisa-nya. Sedangkan sistem mendasar yang
        digunakan oleh hirarki Psikologi adalah sistem
        stimulus & response (reward & punishment / right &
        guilt feeling).


        Hal ini sama seperti bilamana kita membahas
        sebuah kapal yang melepas jangkarnya di tengah laut
        yang dalam. Bilamana kita menggunakan sistem pemikiran
        mendasar yang base on stimulus dan response, maka yang
        dibahas adalah frekwensi gerak badan kapal akibat
        hempasan gelombang dan tiupan angin. Bilamana kita
        menggunakan sistem pemikiran mendasar yang base on
        pengertian proses keseluruhan pengalaman (memori
        base), maka yang kita nilai adalah letak kapal
        terhadap garis lintang dan bujur bumi yang tetap
        karena kapal tsb tertambat di satu tempat tertentu
        karena adanya jangkar. Bilamana kita membahas letak
        kapal terhadap garis lintang dan bujur bumi dengan
        memperhatikan frekwensi gerak kapal akibat angin dan
        gelombang saja maka tentu data hasil penilaian yang
        diperoleh akan jelas salah.

        Dalam Psikologi, sistem berpikir mendasar yang berbeda
        ini membuat Psikoanalisa dianggap sulit dipelajari dan
        digunakan sehingga tidak / jarang dipakai di dunia
        Psikologi. Lalu mengapa Psikologi masih memonopoli
        bahwa Psikoanalisa Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung
        adalah bagian dari ilmu Psikologi?



        Blok Barat atau Blok Timur


        Dulu saya ketika diceritakan di kelas sejarah
        soal blok barat dan blok timur, saya tidak begitu
        mengerti dan membenarkan saja ketika diceritakan soal
        perang antara Kapitalis VS Komunis. Dulu ketika
        mendengar cerita mereka, saya dengan gampang bisa
        menganggap Komunis itu jahat.

        Hal itu berubah ketika saya hidup bersama anak-anak
        dari aparat kedutaan Korea Utara di Jakarta yang makan
        pagi bersama saya 5 hari dalam seminggu selama 2
        tahun. Saya baru mengerti bahwa perbedaan sistem
        pemikiran mendasar tsb mempengaruhi banyak hal.
        Ilmupengetahuan itu sifatnya seperti hirarki dari satu
        akar bisa tumbuh beberapa batang dan dari setiap
        batang bisa tumbuh ranting yang lebih kecil dan lebih
        kecil lagi,demikian seterusnya. Bagaimana kita bisa
        membahas, berusaha mengerti dan menguasai suatu
        ranting bilamana aturan main, sistem pemikiran
        mendasar yang digunakan dari akar atau batang berbeda.


        Kalau kita lihat dari pemimpin negara sosialis
        seperti misalnya Kim Il Sung dan Mao Zedong maka
        tampak di data sejarah bahwa mereka memiliki ikatan
        yang kuat dengan agama Kristen. Tetapi mengapa mereka
        kok menjadi musuh blok barat dan cenderung
        dipropagandakan sebagai atheis? Rupanya cara mereka
        menghayati Yesus berbeda dengan cara blok barat.
        Ilmupengetahuan logis yang saat ini kita gunakan
        awalnya dikembangkan oleh gereja-gereja Katholik.
        Mengapa gereja yang seharusnya mengurus agama mengurus
        ilmu?! Ada dua cara memahami Yesus; Memahami Yesus
        berdasarkan kitab suci yang dipilih berdasarkan
        kesepatakan politis, diantara yang ada dan ‘sebagian
        besar lainnya dimusnahkan’ (seperti nasib gospel of
        Judas, Gospel of Maria Magdalena, dlsb). Atau sekedar
        menghidupkan tokoh Yesus sang mesias dengan menerapkan
        ajaran cinta kasih dalam keseharian kita.

        Jadi kita bisa menganggap Yesus itu jauh di sana
        sebagai hal yang bersifat iman (intuitive) yang tidak
        bisa kita capai tetapi seperti orang yang bisa kita
        lihat dari jauh yang bisa melihat kita dari jauh. Maka
        dari itu yang ada di depan mata kita dan dapat kita
        jamah adalah hal-hal logis seperti kenyataan bahwa
        ilmupengetahuan logis yang saat ini kita gunakan
        awalnya dikembangkan oleh gereja-gereja Katholik.
        Dalam pembahasan ilmupengetahuan-nya maka
        pembahasan-nya hanya menganggap kerja otak kiri
        (logika) yang penting dan mengabaikan hal yang
        berkaitan dengan otak kanan (intuitive).
        Ilmupengetahuan diamati seperti kita menonton
        Discovery Channel di TV Cable yang dimana harus ada
        jarak yang memisahkan antara penonton, ilmu, penemunya
        dan penerusnya.

        Kita juga bisa menganggap Yesus sebagai manusia yang
        hidup sebagai sesama dan secara inheren menitiskan
        dirinya, ada di sekitar kita melalui tokoh pemimpin
        kita, orang yang kita kagumi atau bahkan ayah dan ibu
        kita. Bilamana pemahaman yang dipilih seperti ini maka
        hal logis dan hal intuitive tidak kita tabukan untuk
        hadir bersama-sama dalam kehidupan kita sehari-hari.
        Pembahasan tentang Tuhan juga tidak lagi sekedar tokoh
        mitos melainkan orang biasa yang masih hidup dan ada
        di sekitar kita. Dalam pembahasan ilmupengetahuan-nya
        maka pembahasan dan penerapan sistem pemikiran dasar
        sejak kecil hingga kita dewasa secara seimbang
        mendalami kerja otak kiri (logika) dan otak kanan
        (intuitive). Ilmupengetahuan dialami tiap prosesnya
        dimana individu sebagai inventor, dikembangkan dan
        disebarluaskan dalam bentuk system cell kecil seperti
        keluarga, Yesus dengan dua belas rasulnya, dengan
        ranting-ranting (murid-murid dari tiap rasul) yang
        membentuk kelompok independent sendiri-sendiri.



        Penutup


        Kembali ke soal KomPati, maka dari itu dalam
        tulisan ini saya menekankan bahwa saya tidak setuju
        bilamana KomPati disebut sebagai bagian dari ilmu
        Psikologi atau ilmu yang lain yang base on sistem
        pemikiran dasarnya blok barat (stimulus & response
        base). Psikologi berdasarkan makna dasarnya sebenarnya
        tidak salah, tetapi Psikologi sebagai hirarki,
        organisasi ilmu. Saya tidak ada kebencian secara
        pribadi. Yang menjadi masalah adalah tindakan itu
        hanya akan menghalangi perkembangan ilmu Komunikasi
        Empati, seperti halnya ilmu Psikoanalisa Sigmund Freud
        dan Carl Gustav Jung termonopoli oleh keorganisasian
        Psikologi, tetapi terhambat perkembangannya dan
        cenderung akan salah dimengerti sehingga tampak sulit,
        mistik dan tidak berguna.


        KomPati akan kami kembangkan secara
        independent sebagai ilmu yang memiliki akarnya sendiri
        dengan batang dan ranting-ranting yang telah tumbuh
        atau akan tumbuh di kemudian hari yang tetap berpijak
        para aturan main, sistem pemikiran mendasar akar yang
        sama. Kami membuka kesempatan untuk ilmu kami
        digunakan di institusi-institusi dan bidang keilmuan
        yang telah ada dengan persyaratan bahwa dalam
        penggunaan dan pengembangannya, sistem pemikiran
        mendasar kami tidak diubah-ubah agar sesuai hirarki
        yang meminjam hasil kerja kami. Bilamana tetap
        dipaksakan, maka tidak akan mampu mendapatkan manfaat
        atau tidak secara benar menggunakan ilmupengetahuan
        yang menjadi cabang ilmu dari KomPati. Bisa saja hanya
        mereduksi efisiensi ilmu ini atau malah samasekali
        tidak memberikan hasil apa-apa.

        Note: Untuk keberhasilan penggunaan dan pengembangan
        Komunikasi Empati maka Mukadimah ini wajib dibaca,
        dimengerti dan dijalankan dengan baik.


        ttd,
        Liong Vincent Christian / Vincent Liong
        Jakarta, Rabu, 19 Juli 2006



        Definisi

        Mukadimah = Landasan yang paling mendasar yang
        memberikan arti untuk segala kegiatan yang dilakukan.
        Segala macam hal bisa diubah tetapi mukadimah tidak
        bisa diubah. Bilamana mukadimah diubah artinya
        semuanya bubar.





        Undangan Bergabung di maillist
        Komunikasi_Empati@...
        Komunikasi_Empati@yahoogroups.com


        Netters,

        Telah dibentuk milis baru dengan nama
        Komunikasi_Empati@...
        Komunikasi_Empati@yahoogroups.com
        e-link:
        <http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about>

        <http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati>

        Tujuan pembentukannya ialah sebagai wadah untuk
        berdiskusi segala aspek yang berhubungan dengan
        Komunikasi Empati. Kami yakin bahwa bidang
        spesialisasi baru dalam Ilmu Komunikasi ini akan
        menjadi ‘trend setter’ untuk masa-masa dekade yang
        akan datang karena manusia pada dasarnya ingin
        diperlakukan sebagai manusia dan bukan sebagai
        pesakitan atau nomor belaka. Segala bidang ilmu
        humaniora yang berhubungan dengan manusia akan
        dipengaruhi oleh logika dan komunikasi empati ini.
        Kami yakin benar akan hal itu.

        Milis baru ini adalah milis yang serius dan mengundang
        para pemerhati dan peminat yang serius pula untuk
        bersama-sama mengamati, mempelajari, mencermati,
        mengasuh serta mengembangkan bayi yang namanya
        Komunikasi Empati ini. Walaupun milis ini bersifat
        unmoderated dan terbuka untuk oublik namun hanya
        tulisan-tulisan yang berhubungan dengan bidang
        Komunikasi Empati yang akan ditayangkan. Tulisan yang
        bersifat ‘out of context’ akan diabaikan. Hal ini
        dimaklumkan di muka untuk mencegah salah pengertian
        yang tidak perlu yang mungkin dapat timbul di kemudian
        hari.

        Terima kasih atas perhatian dan tanggapan positif
        kawan-kawan. Selamat datang di rumah kita yang baru.

        ttd,
        Moderator,

        Juswan Setyawan




        Sekilas Sejarah Komunikasi Empati

        Dua bulan yang lalu saya sama sekali tidak tahu menahu
        seluk beluk apapun tentang Komunikasi Empati.
        Segalanya dimulai setelah saya mengikuti Seminar
        dengan Vincent Liong sebagai pembicara tunggal tetapi
        yang dibantu oleh rekan setianya Leonardo Rimba
        berjudul “Logika dan Komunikasi Empati”. Seminar
        setengah hari itu diadakan di ruangan kuliah pasca
        sarjana Universitas Sahid.

        Konsep komunikasi saya tahu, Empati saya juga tahu.
        Tetapi bila kedua kata itu disambung jadi satu maka
        konsep saya mengenai hal baru itu ternyata belum ada.
        Kemudian saya diajak – bahkan sedikit ditantang - oleh
        Vincent Liong untuk menulis sesuatu tentang Komunikasi
        Empati tersebut. Saya bingung juga harus mulai dari
        mana dan membahas soal apa? Memori saya tentang
        Komunikasi Empati masih vacum – kosong blong - dan
        saya harus mulai mengerahkan segenap energi batin saya
        untuk memulai proyek idealis ini.

        Saya berdiskusi dengan Vincent tentang bagaimana harus
        mulai. Saya terpikir akan Kitab Kejadian di mana
        dikatakan “bumi belum berbentuk dan kosong: gelap
        gulita menutupi samudera raya, dan roh Allah
        melayang-layang di atas permukaan air...”
        Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu
        apapun rupanya dimulai dari “kekosongan” yang tanpa
        bentuk dan tanpa wujud dan yang chaos. “In principium
        erat verbum...” Pada mulanya adalah kata-kata... atau
        logos. Semuanya masih gelap gulita artinya tidak ada
        petunjuk apapun, tidak ada titik terang sedikitpun
        yang dapat dijadikan pedoman. Kegelapan itu sifatnya
        tak terbatas, ibaratnya samudera raya yang entah di
        mana ujung pesisirnya karena tidak tampak dalam
        kegelapan itu. Roh Allah melayang-layang di atas
        permukaan air... yang melayang-layang itu tentunya
        adalah “elemen angin”. Anginlah yang akan membawa
        kata-kata seperti angin pula yang menerbangkan
        daun-daun ke mana-mana. Maka dari itu kami sepakat
        bahwa Komunikasi Empati harus dimulai dengan
        menorehkan kata-kata pada Kitab Angin. Tidak mungkin
        kami mulai dengan Kitab Tanah seperti ilmu-ilmu yang
        sudah mapan - berikut institusi-institusinya yang
        sudah mengkristal dan tidak sedikit yang sudah membatu
        bahkan merapuh seperti bangunan kuno; ilmu yang sudah
        memiliki fundamen yang kokoh bagi sosok bangunannya
        dan bagi perluasan ruangan-ruangannya.

        Secara berkala kami terus berkomunikasi dan
        berdiskusi. Begitu ada ide langsung ditangkap dan
        dituangkan dalam tulisan dan dikirimkan ke milis.
        Kadang-kadang dalam satu hari dapat ditulis lebih dari
        satu artikel sesuai dengan deras lambatnya arus
        inspirasi yang masuk. Maka dari itu tulisan-tulisan
        tersebut tidak menunjukkan adanya sekuens yang pasti.
        Kadang-kadang timbul ide tentang empati dan di lain
        waktu tentang dekonstruksi dan sebagainya. Perhatikan
        saja tanggal yang tertulis di bawah setiap posting
        yang tidak urut dengan sistematika pasal-pasalnya. Ada
        tulisan yang sangat belakangan tetapi “terpaksa”
        diposisikan pada bagian awal buku tersebut. Maka
        terjadilah semacam “growing e-book’ yang setiap saat
        muncul ranting yang baru pada pokoknya entah di
        sebelah sisi yang menghadap ke mana.

        Namun, akhirnya kami merasa apa yang tertulis sudahlah
        cukup. Elaborasinya akan dilanjutkan dalam Kitab Tanah
        yang lebih berbobot, medalam dan dilengkapi
        kepustakaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lain
        halnya dengan Kitab Angin yang berfungsi sebagai semi
        entertaining sehingga ditulis secara naratif dalam
        bahasa pop. Sementara itu Kitab Api juga sedang
        ditulis. Artikel-asrtikelnya bersifat panas membakar.
        Melakukan bermacam-macam dekonstruksi. Baik tentang
        institusi dan fungsi ilmu psikologi, termasuk perilaku
        pakarnya; tentang Oedipus Complex; tentang post-V;
        tentang legenda dan mithos Nabi Musa; terakhir baru
        sampai V-Abject...

        Sesuatu yang terasa sangat ketinggalan ialah Kitab
        Air. Tetapi kita semua sama-sama dapat memakluminya.
        Memang sudah sifat “elemen air” untuk “menunggu dengan
        sabar” sampai saat yang tepat untuk menimbulkan
        “gelombang tsunami” atau “banjir bandang”.

        Jakarta, 28 Juni 2006.
        Mang Iyus


        Silahkan bergaung juga pada beberapa maillist kami
        yang lain diantaranya:
        * vincentliong@yahoogroups.com,
        http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join
        psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
        * psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
        http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join




        Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.