Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

screenDocs!: "PEMILU 2004: behind the scene"

Expand Messages
  • kris nunu
    (tolong disebarluaskan) screenDocs!: PEMILU 2004: behind the scene 18 September 2004 13.00 - 16:30 WIB Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya 73
    Message 1 of 1 , Sep 1 9:53 PM

      (tolong disebarluaskan)

       

       

      screenDocs!: "PEMILU 2004: behind the scene"

       

      18 September 2004

      13.00 - 16:30 WIB

      Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

      Jl. Cikini Raya 73 Jakarta Pusat

       

      Tahun 2004 ini masyarakat Indonesia disibukkan oleh Pemilu, mulai dari Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden putaran pertama, sampai dengan Pemilu Presiden putaran kedua yang akan berlangsung pada tanggal 20 September mendatang. Berkaitan dengan Pemilu, screenDocs! bulan ini akan memutar film-film pendek dokumenter yang bercerita mengenai makna Pemilu 2004 untuk masyarakat Indonesia di Aceh, Ambon, Yogyakarta dan Jakarta.

       

      Film-film yang diputar merupakan hasil program Beasiswa Film Dokumenter Pemilu Indonesia 2004 yang diselenggarakan oleh Internews Indonesia bekerja sama dengan In-Docs, yang didanai oleh United States Agency for International Development (USAID) dan The Communication Assistance Foundation – Stichting Communicatie Ontwikkelingssamenwerking (CAF/SCO).

       

       

      Diskusi | 14:45 WIB

       

      Pada Pemilu 2004 ini pada kalangan media (radio, televisi, koran, majalah, dan lain-lain) muncul berbagai diskursus seputar Pemilu, mulai dari evaluasi terhadap teknis Pemilu, pelaksanaan Pemilu di daerah konflik, politik uang, dan sebagainya. Diskursus tersebut mewarnai hampir seluruh halaman dan jam siaran di media massa. Sesungguhnya, terdapat pula diskursus lain seputar Pemilu yang layak pula untuk kita perhatikan, karena hal tersebut merupakan realitas dari masyarakat Indonesia. Diskursus yang dimaksud adalah pembicaraan mengenai topik realitas Pemilu pada kelompok-kelompok di masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari diskursus di media.

       

      Pemutaran film-film dokumenter Pemilu 2004 ini berfungsi sebagai pengantar dan pembanding terhadap isu yang akan dibicarakan dalam diskusi screenDocs!. Dari diskusi ini, diharapkan bisa diperoleh jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana realitas pemilih dalam berbagai kelompok di masyarakat dalam Pemilu 2004? Apa harapan masyarakat Indonesia terhadap Pemilu 2004? Presiden seperti apa yang diharapkan terpilih nantinya berdasarkan “pembacaan” pembicara terhadap kelompok-kelompok tersebut?

       

      Pembicara: Dave Lumenta (Antropolog, pernah membuat film dokumenter tentang Dayak Iban di perbatasan Indonesia dan Malaysia di pulau Kalimantan), Tantyo Bangun (sutradara film “Politik Acang Obeth”), Masrur Jamaludin (sutradara film “Sing Penting Nyoblos”) dan wakil dari Internews.

       

      Moderator: Ignatius Haryanto (penulis dan pemerhati perkembangan media)

       

       


      Sing Penting Nyoblos

      Indonesia 2004 · Filmmakers Masrur Jamaludin, Muchtar Mukimin, Iswahyudi · Durasi 24 min

       

      Tiga perempuan yang bekerja di pasar Bringharjo, Yogyakarta, membawa kita pada pandangan unik mereka mengenai pemilu. Wanita tidak berpendidikan, bekerja sebagai buruh, mengungkapkan makna pemilu bagi mereka, dan menggambarkan secara dekat bagaimana mereka membuat pilihan. Partai-partai politik bersaing untuk meraih dukungan, menawarkan uang, kaus dan janji-janji. Ketika hari pemilu semua harus memberikan pilihannya. Tiga anggota dari sektor masyarakat paling terpinggir di Indonesia ini mungkin bingung mengenai proses-proses politik, namun suara mereka sejajar posisinya dengan suara-suara orang lain. Apakah makna pemilu demokratis bagi mereka yang merasakan bahwa hidupnya semakin hari semakin sulit, dan bagi mereka yang berusaha melihat perubahan yang telah dibuat oleh pilihan mereka sebelumnya? Pembuat film mengikuti ketiga wanita tersebut dalam usaha mereka untuk memahami proses pemilu yang rumit.

       

      Three women working in Bringharjo Market, Yogyakarta, bring us their unique views of the elections.  Uneducated women, working as laborers, reveal what the elections mean to them, and offer an insight into how they make their decisions.

      Political parties compete to win their support, offering cash, t-shirts and promises. By election day all have made their decisions.  Three members of Indonesia’s most marginalized sector of society may be confused about the political process, but their votes are worth the same as anyone else’s, whether they choose to use them or not.

      What does a democratic election mean to those who feel their lives are getting harder with each passing year, and who struggle to see what difference their past votes have made?  The filmmakers follow the three women as they struggle to make sense of a complicated election process.

       

       

      Politik Teungku

      Indonesia 2004 · Filmmakers Nur Raihan, Dendy F. Montgomery, Muchtaruddin Yakob · Durasi 24 min

       

      Harapan atas pemilihan yang bebas dan jujur di Aceh meredup oleh prospek untuk memberlakukan hukum militer. Ada beberapa wilayah yang dianggap aman pada saat pemilihan akan berlangsung, beberapa wilayah tidak. Film ini menyorot usaha seorang ulama – Tengku Baihaqi – yang ingin memenangkan kursi di DPRD. Berkampanye sangatlah sulit. Banyak kandidat yang takut untuk berkampanye secara terbuka, takut menjadi sasaran dari pihak-pihak yang ingin mengganggu proses pemilihan. Pembuat film mengikuti sang ulama ketika sedang berkampanye.

       

      Hopes for free and fair elections in Aceh were dimmed by the prospect of holding them under martial law.  While some areas were considered safe by the time the elections came around, many others were not.  The film follows the efforts of an ulama – Tengku Baihaqi - to win a seat in the DPRD. Campaigning is difficult.  Many candidates are frightened of campaigning openly, afraid of becoming a target for those who want to disrupt the election process.  The filmmakers journey with the ulama as he tries to spread his campaign message, and appeals to the voters to go to the polls.

       

       

      Acang, Obeth dan Pemilu

      Indonesia 2004 · Filmmakers Tantyo Bangun, Budi Satriawan, Herman · Durasi 24 min

       

      Setelah beberapa tahun mengalami konflik etnis dan religius, Ambon memasuki tahun 2004 dengan damai. Konflik telah berkurang dan kedua komunitas mulai membangun kembali hidup mereka. Tetapi bersamaan dengan mulainya kampanye, timbul kekhawatiran jika Pemilu mungkin mendatangkan ketegangan kembali dan membuka luka lama.

      Pembuat film mengikuti satu kandidat yang berharap dapat memainkan peran dalam menyatukan kembali komunitas-komunitas di Ambon yang terpecah belah. Junaedi, seorang Muslim, adalah seorang kandidat untuk PDI-P, partai yang mayoritas anggotanya di Ambon adalah orang-orang Kristen. Film ini melihat usahanya untuk menarik pemilih dari penganut agama yang lain.

      Pembuat film kembali ke Ambon tidak berapa lama setelah pemilu, ketika pertikaian muncul di propinsi yang bermasalah. Apakah kekerasan itu ada kaitannya dengan pemilu, atau hanya peringatan unhappy bahwa masih banyak pekerjaan membangun damai yang harus diselesaikan?

       

      After several years of ethnic and religious conflict, Ambon entered 2004 at peace.  The conflict had subsided, and the two communities were rebuilding their lives.  But as campaigning started, there was concern that the elections might revive tensions, and reopen old wounds.

      The filmmakers follow one candidate who hopes to play a part in reconciling Ambon’s divided communities.  Junaedi, a Muslim, is standing as a candidate for PDI-P, seen in Ambon as a predominantly Christian party.  The film examines his attempts to appeal to voters from across the religious divide.

      The filmmakers return to Ambon shortly after the election as fighting flares once more in the troubled province.  Was the violence related to the elections, or just an unhappy reminder that there is still much peacebuilding work to be done?

       

       

      Saat Menebar Mimpi

      Indonesia 2004 · Filmmakers Syaiful Halim, Syamsul Fajri, Ferry Kaendo · Durasi 24 min

       

      Bambang Warih Koesoema adalah kandidat untuk DPD di Jakarta. Mantan anggota Golkar ini adalah politikus berpengalaman, karena pernah menjadi anggota DPR sampai tahun 1995 ketika ia di-recall. Tapi kali ini ia akan berkampanye dengan usaha sendiri: merekrut volunteer dan merencanakan strategi kampanye.

      Pembuat film mengikuti Bambang selama kampanye. Mereka menangkap nilai-nilai tingginya – bercakap-cakap dengan rakyat biasa di daerah kumuh dan kampung-kampung – dan juga nilai rendahnya – keletihan dan frustasinya ketika kampanye berlangsung.

      Film ini juga mengangkat isu DPD itu sendiri. Bagaimana institusi baru ini bekerja? Dapatkah institusi ini benar-benar berpengaruh terhadap bagaimana politik dijalankan di Indonesia? Beberapa kritikus yang diwawancara dalam film ini berkata bahwa walaupun ide awal di belakang pembentukan DPD adalah bagus, dalam kenyataannya akan terbukti mengecewakan. Apakah mimpi Bambang Warih Koesoema berjalan ke arah yang sama?

       

      Bambang Warih Koesoema is a candidate for the DPD in Jakarta.  The former Golkar man is already an experienced politician, having been a member of the DPR until his recall in 1995.  But this time he will be campaigning on his own, recruiting volunteers and devising his campaign strategy. 

      The filmmakers follow Bambang throughout the campaign. They capture his high points - talking to ordinary people in slums and kampungs - and the low points – his exhaustion and frustration as the campaign proceeds. 

      The film also tackles the issue of the DPD itself.  How will this new institution work?  And can it really have an impact on how politics is conducted in Indonesia?  Critics interviewed in the film suggest that while the initial idea behind the DPD was good, the reality will prove to be disappointing. Will Bambang Warih Koesoema’s dream go the same way?

       

       

       

       

      In-Docs

      Jl. Sutan Syahrir IC/Blok 3-4

      Jakarta 10350

      t: [021] 319 25 113/ 319 25 115

      f: [021] 319 25 360

      indocs@... / www.in-docs.com

       

       


      ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.