Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

RUMAHBAMBU//SURAT BELAJAR 3#

Expand Messages
  • brontaklasta
    PROSES REVOLUSIONER Belajar teori aja udah setengah mati susah, apalagi belajar praktek. Apalagi belajar teori sekaligus praktek tentang teori & praktek
    Message 1 of 1 , Mar 3, 2004
      PROSES REVOLUSIONER

      Belajar teori aja udah setengah mati susah, apalagi belajar praktek.
      Apalagi belajar teori sekaligus praktek tentang teori & praktek
      pembelajaran.
      Atau enggak ? Atau jangan2 mempraktekkan itu enggak sesusah
      mempelajari teorinya ? Maksudku dalam arti bahwa nampaknya praktek
      itu lebih butuh kehendak, sedang kancah teoritik itu ... gila ! Kita
      harus - setidaknya dengan pikiran konvensional - sekolah ini-itu yg
      tinggi, baca ini-itu yg berbobot, diskusi ini-itu dengan orang2 top,
      menjejali memori kita dengan ini-itu wacana nan sahih. Dan kesemuanya
      ini-itu tadi harus selalu di up date sebab perkembangan wacana begitu
      bagai jamur di musim hujan, malahan sering mendului praktek2
      materialnya. Dan kesemuanya itu lantas butuh duit berapa banyak
      coba ?! Datanglah ke Gramedia atau ke sebuah kampus ...
      Memang untuk berpraktek ya butuh duit juga, tetapi nampaknya enggak
      seniscaya jika berteori. Di ranah tindakan konkret, sebuah praktek A
      & praktek B dalam kerangka yg sama hanya berbeda skalanya - sejauh
      sama2 dilandasi oleh dasar pemikiran, motifasi & perspektif visi yg
      sama. Hanya praktek A memang tak secanggih semaksimalis praktek B yg
      didukung oleh prasarana & sarana komplit. Namun ini sama sekali tak
      menggagalkan atau menegasi esensi-substansinya dalam konteks tipikal
      praktek termaksud. Makanya ada pepatah 'tak ada rotan akar pun jadi'.
      Makanya main bola sepak di Stadiun Milan dengan main bola sepak di
      gang kampung sama aja per ontologis 'sepak bola'. Hanya menjadi
      (sangat) berbeda dalam representasi predikatif-fungsional; yaitu
      bahwa yg satu mewakili Liga Sepakbola Profesional Itali dengan segala
      spesifikasi kompleksitasnya, satunya mewakili sepak bola aras
      kampungan dengan segala spesifikasi kompleksitasnya yg lain lagi. Dan
      bahkan kedua model representasi ini menunjukkan sesuatu kontradiksi.
      Dan bahkan dengan frasa terakhir ini maka sangat mungkin tertemui
      bahwa hal kampungan tak lebih rendah dari hal internasional ... Atau
      bahkan tentang-menentang ?!
      Sedang dalam ranah teori; ketika kita tak punya fasilitas material yg
      memadai adalah berbanding lurus dengan tak cuma kuantitas, tapi juga
      kualitas teoritik kita akhirnya. Makanya ada ungkapan 'ilmu itu tak
      ternilai harganya'. Malahan pula informasi pun jadi bisnis.
      Apa ? Kearifan asli ? Kecerdasan lokal ? Benar. Tapi itu kan jelas
      untuk mengkategorikan faktor2 endogen khas yg terdapat pada subkultur
      pinggir, yg penemuan & elaborasinya otentik di luar arus besar proses
      modernisasi.
      Dengan demikian kita sedang menunjuk subkultur masyarakat ugahari, yg
      mana kompleks teoritik lokalnya adalah abstraksi dari tindakan-kerja
      harian mereka, bahkan secara ekstrem teori ya di dalam kerja itu.
      Makanya ada sesuatu metoda pembelajaran di padepokan dulukala cucuku
      (kampus juga khan ?), yg menemukan ilmunya dengan mengerjakannya
      dulu. Macam orang Jawa tua bilang : 'ilmu itu laku'. Dan kita tahu;
      keseharian orang ugahari itu semahal apa sih ?
      Tapi udahlah aja. Makin diperpanjang (yg maunya cuma) prolog ini,
      makin ketahuan ruwetnya pikiran yg nulis & ini jelas santapan empuk
      bagi para juru debat yg malang-melintang di dunia persilatan lidah.
      Padahal niatan nulis ini lebih untuk share sambil sebisanya coba
      menginspire hal2 berorientasi konkret. Sama sekali bukan ngajak
      tamasya sophis - intelek untuk intelek. Satu2nya tujuan hanyalah
      implikasi konkret yg bergerak mengubah. Dan tak hanya mengubah titik,
      tapi bertolak dari pikiran radikal untuk manifest dalam tindakan
      berwatak revolusioner. Maka di titik kaya' gini; nulis bisa jadi
      bagian dari praksis.

      Begitulah, sehabis memprologkan hal2 (sok) teori-praktek, dengan
      demikian jadi tersadari betapa yg namanya Arena Bebas Belajar Bersama
      RUMAH BAMBU sungguh2 lumayan bikin pusing. Pusing sebab seperti udah
      ditulis di awal2 tadi; apalagi belajar teori sekaligus praktek
      tentang teori & praktek pembelajaran'.
      Sudah software serba nanggung, duit sangat2 cekak lagi. Premis2
      kritis sih udah kenceng begini. Maksudnya udah kempal nian semacam
      raison d'etre dari RUMAH BAMBU yg mau mengkontraversi sistim
      pendidikan dominan yg raison d'etre-nya enggak seperti seharusnya
      kenapa manusia itu makhluk yg belajar - ya sebab kita homo
      emansipatorikus (?!) dong ! - malah membodohkan, merendahkan & cuma
      aparatus ideologi penguasa belaka.
      Atau ... enggak usahlah ngomong hakekat2an pendidikan ? Ini kan
      soal 'pendidikannya siapa'. Jadi karena saya bukan DI pihak penguasa
      orde / rejim; positioning yg hanya terjelaskan dalam relasi struktur
      tindas-menindas - dimana penguasa implisit-eksplisit adalah penindas -
      , maka manakala mengerjakan hal2 sekitar pendidikan ya yg bukan a la
      pendidikan penguasa. Ya yg a la nglawan penindasan. Wong pendidikan
      itu kan sub-suprastruktur ideologi. Jadi ini benar2 soal sama2
      memobilisir apa yg ada. Yg satu dijadikan aparatus ideologi menindas,
      satunya dijadikan praksis subversi - sebab itulah kepentingannya;
      pingin enggak ada tindas-menindas.

      Wuh ... Pendidikan jadi semengerikan itu ya ? Dan garang juga.
      Mengerikan iya. Sebab itulah watak inheren pada istilah (= bahasa)
      pendidikan yg sepanjang sejarahnya selalu milik penguasa dan terus
      direproduksi hingga kini.
      Garang ? Enggaklah. Kegarangan yg laik berita gerakan atau wawancara
      tokoh pembangkang atau desain kaos idol martir; telah selesai aja
      bagi yg pingin paham bahwa 'revolusi' itu lebih sebagai platform yg
      mengkerangkai rangkaian proses perlakuan-sengaja. Dan kenyataannya
      proses ini melibatkan segala faktor & variabel kondisi obyektif
      sebagai input sekaligus elemen keluarannya. Akhirnya kok ya pelan2
      juga. Tapi karena yg 'pelan2' tetap dijaga bertahan pada akar soalnya
      dus radikal serta bermodus mengubah secara revolusioneir itu, maka
      jadilah 'pelan2 tapi pasti'.
      Macam kualitas api yg enggak butuh kobaran lagi. Dan memang tambah
      lagi bahwa mimpi2 romantik revolusioneir (uh !) selalu aja tiap sore
      dipecahkan oleh tawa sekalian adik2 itu. Dan memang untuk setidaknya
      cukup asal bisa menjajari (secara signifikan) penindasan sekolahan
      aja udah makan segalanya. Dan belum lagi berhasil.
      Dan sesore itu pun proses pembelajaran untuk pembebasan pun sungguh
      menjadi enggak sesederhana paket buku Paolo Freire, Ivan Illich,
      Sejarah Taman Siswa, renungan2 Ki Hajar Dewantoro, idealisme Institut
      Kayu Tanam, whatever ... sebab menjelaskan politik pendidikan
      brengsek di balik PR brengsek dari mata pelajaran brengsek dari
      kurikulum brengsek adalah kearifan itu tadi; proses perlakuan
      revolusioner & kelunakan analisa radikal; teruntuk mata2 bening
      itu ...
      Sekaligus sebaliknya tergali secara belajar pula dari mata2 bening yg
      sama ... Bahwa ini perjalanan amat2 panjang. Salah satu titik
      berangkatnya dari Kampung nJagalan.

      Bercerita mengenai progres2 RUMAH BAMBU dalam arti momental susah
      juga. Sebab Rumah Bambu proses (saling) belajar yg memang pada
      dirinya sendiri meniscayakan ke-pelan2-an, bahkan semacam kehati2-an.
      Dan bukankah untuk praksis berwatak tipikal macam RB justru enggak
      butuh sensasi. Terutama sebab ini semua tak cuma soal kanak2 titik &
      apalagi korelasi2 akademik titik. Tapi terlebih lagi menyangkut pada
      tingkatan tindakan lebih menyeluruh adalah efek transformasi
      progresif lokal. Maka jelas RB berada dalam suatu kompleksitas relasi
      baik institusi (sekolahan, kemasyarakatan, rejim) maupun
      suprastruktur dari ideologi kekuasaan maupun di tingkat alam pikir
      orangtua / orang dewasa perihal minimal pendidikan & maksimal
      perubahan.
      Pendeknya, bagaimanapun proyek aksi langsung mengantitesis kemapanan
      (praksis tak mapan) jelas implikasinya adalah konflik. Maka benar2
      enggak boleh gegabah (Iya Mbah ...). Mesti tekun, serius belajar
      serta mensetiai proses ini tahap demi tahapnya aja dengan sangat
      mempertimbangkan - bahkan - penyesuaian & akomodasi pada sikon
      setempat.
      Namun bukan lalu enggak harus mengakui bahwa RB bisa (lumayan) lebih
      akseleratif lagi ketimbang sekarang. Maksudnya mengingat keadaan zero
      5 bulan lalu & segala perencanaannya seiring 5 bulan berjalan, maka
      RB hari ini mestinya ada point2 perkembangan yg kenyataannya enggak
      tercapai. Jadi RB lebih lambat dari yg seharusnya. Jadi telah
      melakukan - sebutlah beberapa kegagalan.
      Sebenarnya sebab paling pokok justru pada fasilitator-voluntaris
      sendiri yg enggak bisa menunjukkan kerja optimal - habis2an. Dan bisa
      jadi juga memang cuma sekian kemampuannya. Atau jangan2 Proyek RB
      bukan porsi / takarannya orang kampung 'yg disialkan oleh cipratan
      ide klas menengah kota' yg boro2 ngurus sosial, atur diri sendiri
      dulu sono !. Mana ini soal PENDIDIKAN lagi. Maunya alternatip lagi ...

      Selain itu ada 2 faktor lagi yg cukup determinan terhadap perjalanan
      & prospek RB. Klasik sih. Pendanaan & kolektif relawan.
      Disamping 'bantingan', memang ada 1, 2, 3 Kawan turut membantu. Namun
      ya berapalah itu semua. Sekian jumlah yg periodik terkumpul terutama
      dialokasikan untuk dukungan biaya sekolah konvensional adik2 yg
      sekarang baru bisa menjamin pembayaran BP3 sampai 11 bulan kedepan
      (sekitar 100.000 per bulan untuk 20 anak miskin). Dan juga harus siap
      menghadapi persoalan sporadis misalnya kewajiban beli buku teks yg
      (sangat) tak murah.
      Selain itu tentu saja untuk menunjang proses belajar, maka pengadaan
      sarana pun menuntut alokasi sendiri. Misalnya buku & alat tulis, alat
      peraga, bahan2 prakarya, keperluan administrasi.
      Lalu bagaimana pula ketika sesuai perencanaan, harus mengadakan
      semacam sessi ekstra, sementara prinsipnya tak akan memungut
      sepeserpun dari adik2 untuk semua kegiatan RB.
      Problem finansial ini aja udah menghambat hingga 35an % dari progres
      RB. (tingkat realisasi 65 %). Apalagi ditambah keadaan kolektif
      relawan yg dengan segala alasan bla bla bla pun pada 'muntir'.
      Sehingga kini kekuatan RB hanya terdiri dari 4 orang plus 2 Kakek -
      Nenek pensiunan guru (!), dimana yg separo enggak pada tingkat
      komitmen yg memadai untuk tuntutan intensitas kerja macam di RB - yg
      sesungguhnyalah enggak bisa ditawar2, musti total.
      Maka ketimbang pening (justru malah) mikir relawan yg harusnya mikir
      kerja yg di-rela-i ini, terpaksa peduli setan ajalah dalam hal
      relawan. Nggabung ayo. Datang silahkan. Mbolos tak apa. Keluar bebas2
      aja. Semuanya sejauh ada 'patok' 1-2 yg setia menjalani.
      Yah, begitulah Kawan2ku tersayang. Cerita segi2nya RB ini kali. Namun
      dari semua hal ini, terus-terang segi paling menarik menurut saya
      adalah bagaimana caranya dengan tanpa numpuk modal a la kapitalis (yg
      bikin pendidikan menindas itu) bisa mempercepat cukupnya celengan
      buat mbangun ruang belajar yg representatip dibanding tiap hari macam
      sarden memenuhi rumah yg juga cuma sepetak. Barulah ... Betul-betul
      RUMAH BAMBU itu,
      Oke. Sekali lagi, begitulah Kawan2ku tersayang. Cerita segi2nya RB
      ini kali. Lain kali disambung. Bosan atau enggak, terserah. Makasih
      buat yg apresiatip.


      Merdeka Atoe Mati


      SUPORT PEMBELAJARAN TAK MENINDAS !!!

      HUBUNGILAH / DATANGILAH / TERLIBATLAH BERAMAI-RAMAI !!!
      Arena Bebas Belajar Bersama
      R U M A H B A M B U
      Dusun nJagalan RT 15 RW 05, Desa Cebongan, Salatiga
      (Pak / Bu hari)
      08155279986
      brontaklasta@...
      ATAU BIKIN SENDIRI YG BANYAK DI MANA AJA,
      SEBAB PENINDASAN JUGA DI MANA AJA !!!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.