Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

File Buku "Catatan Harian Seorang Pendekon Kompatiologi Tinta_Negatif"

Expand Messages
  • Vincent Liong
    Judul: Catatan Harian Seorang Pendekon Kompatiologi Tinta_Negatif@yahoo.com Karya: Andy Ferdiansyah Versi update: full version 10 desember 2007 Jumlah
    Message 1 of 2 , Dec 10, 2007
    • 0 Attachment
      Judul: "Catatan Harian Seorang Pendekon Kompatiologi
      Tinta_Negatif@..."
      Karya: Andy Ferdiansyah

      Versi update: full version 10 desember 2007
      Jumlah halaman: 173 halaman A4
      Jenis tulisan: Times New Roman & Arial 11 spasi 1.

      Untuk mendownload versi Ms.Word nya klik:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/files/CatatanHarianSeorangPendek\
      on/fullver10des07CatDekon.doc

      Untuk mendownload versi PDF nya klik:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/files/CatatanHarianSeorangPendek\
      on/fullver10des07CatDekon.pdf

      Bagi yang belum menjadi member
      Komunikasi_Empati@... tetapi ingin
      mendownload buku tsb silahkan join sebelumnya, klik:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/join

      selamat membaca...





      Pendahuluan
      … dari Vincent Liong / Liong Vincent Christian Pendiri
      Kompatiologi


      Buku yang akan anda baca ini berjudul; Catatan Harian
      Seorang ‘Pendekon’ (pengajar) Kompatiologi
      Tinta_Negatif@... karya Andy Ferdiansyah. Dalam
      buku ini pembaca bisa turut merasakan bagaimana
      perjalanan Andy Ferdiansyah sebagai Tinta_Negatif
      seorang pendekon kompatiologi dengan sudutpandang
      orang pertama.

      Kondisi penulisan buku ini yang dibuat secara tidak
      disengaja, sangat mendukung untuk menghasilkan catatan
      harian seorang ‘praktisi’ (peneliti, pengajar dan
      pelaku) ilmu kompatiologi yang original tanpa pretensi
      ingin tampak lebih atau kurang baik dari yang apa
      adanya. Sifat Andy Ferdiansyah yang lugu, polos,
      jujur, atau lebih kasarnya telanjang sebagai seorang
      pelaku penulisan catatan harian sangat tampak di tiap
      tulisan yang dirangkum secara urut ;selama perjalanan
      waktu, dengan berbagai prosesnya yang tidak terputus.

      …dari ketika bertemu dengan Vincent Liong sekedar
      sebagai tugas reportase dari stasiun televisi
      tempatnya bekerja ; meliput Vincent Liong sebagai anak
      indigo dan pendiri kompatiologi… hingga tanpa sengaja
      sering ikut acara dekon-kompatiologi … menjadi
      pendekon-tandem kompatiologi … menjadi
      pendekon-independent kompatiologi … hingga akhirnya
      harus keluar dari komunitas mainstream kompatiologi
      dan memulai petualangan baru … menggunakan dan
      menyebarluaskan kompatiologi sebagai Andy Ferdiansyah,
      bukan lagi murid Vincent Liong … menerapkannya dalam
      dunia kerja sesuai bidang yang dipilih untuk dijalani
      dirinya sendiri.

      …dari mentalitas seniman yang pemberontak anti
      kemapanan dengan banyak menganut idealisme … menjadi
      agak religius … menjadi suka bicara hal religius
      secara lebih terbuka … jadi semakin realis … shock
      ketika menghadapi masalah double personality-nya yang
      bertemu satu sama lain … hingga menjadi manusia yang
      sedikit lebih diam pada dirinya sendiri … Semuanya
      terrekam tanpa manipulasi di dan dibahas secara
      terbuka dalam buku ini.

      Dalam buku ini diceritakan penerapan kompatiologi
      sebagai ilmu di luar lembaga pendidikan resmi dan di
      luar budaya pendidikan di ruangan tertutup tanpa noice
      (proses pendidikan kompatiologi selalu dilakukan di
      ruangan terbuka seperti mall, pasar, dlsb yang
      berisik). Perjalanan proses pemahaman ilmu melalui
      dilemma kepercayaan vs skeptisisme yang dibicarakan
      secara terbuka berlangsung sepanjang cerita. Tidak
      seperti ilmu kebanyakan yang tidak melampirkan proses
      kontemplasi praktisinya, yang dilampirkan hanya hasil
      kesimpulan akhir yang dianggap mutlak dan tidak perlu
      dipertanyakan lagi.

      ---

      Bicara tentang ilmu kita biasa menemukan penjelasan
      dan kesimpulan akhir yang tertulis di berbagai buku
      atau dipresentasikan melalui pengajaran dengan metode
      percaya, yakin dan hafalkan. Paradigma ilmu itu
      sendiri, terutama ilmu ilmiah tidak lepas dari dilema
      antara kepercayaan (idealisme untuk terus mencari),
      keyakinan (believe system / kebenaran yang
      dipertahankan dan dikejar / intuisi) dan skeptisisme
      (pengukuran subjective maupun objective) yang
      silih-berganti.

      Tidak ada ilmu ilmiah yang bisa tumbuh hanya dengan
      kepercayaan dan keyakinan saja tanpa skeptisisme,
      sebab tanpa skeptisisme ilmu hanyalah sebuah
      ‘keyakinan’ (tanpa perlu pembuktian) ;agama yang
      diwariskan turun temurun tanpa pengujian ulang
      sepanjang keberadaan sebuah ilmu. Bila ini terjadi
      maka ilmu yang ada hanyalah ilmiah semu yang berisi
      urutan kegiatan; sebagai murid, kelulusan dan lalu
      menjadi pengajar tanpa perlu pengujian di luar dunia
      akademis (ruang penelitian yang dibuat, dikondisikan
      dan diteliti oleh pendukung materi teori keilmian),
      bukan pasar pengguna / masyarakat awam yang tidak
      ideal.

      Sebaliknya, tidak ada ilmu ilmiah yang bisa tumbuh
      hanya dengan skeptisisme saja. Tanpa kepercayaan,
      setidaknya keterbukaan untuk mengujicoba, atau membuka
      kemungkinan pada hal baru di luar materi teori
      keyakinan ilmiah ;yang mungkin saja di masa yang akan
      datang akan menjadi kebenaran ilmiah. Bila hal ini
      terjadi, maka ilmu yang ada hanyalah ilmiah semu.
      Sebab alasan ilmu ilmiah dibuat, sekedar untuk
      mempertahankan konstruksi kekuasaan (menara gading)
      diri sendiri dan kelompok dengan menggunakan materi
      teori atas apa yang telah dianggap kebenaran ilmiah.

      Kompatiologi sebagai ilmu di luar lembaga pendidikan
      resmi (menara gading) sempat menghadapi
      masalah-masalah semacam ini yang lahir dari para
      ilmiahwan semu bergelar dan berijasah mulai dari S1,
      S2, S3, dlsb yang dengan segala cara melegalkan teror
      pribadi kepada para praktisi kompatiologi dan
      keluarganya, selama setengah tahun terakhir mulai 20
      Mei 2007 sampai awal Desember 2007 (+/- setengah
      tahun) demi menutup ‘kemungkinan lain’ di luar menara
      gading yang telah dibangun secara turun-temurun selama
      berpuluh-puluh tahun.

      ---

      Lalu apa sich Kompatiologi yang fenomenal itu?

      Bicara tentang ilmu apapun maka selalu ada dua point
      yang perlu disimak; Keyakinan (believe sistem) dan
      Pengukuran (subjective maupun objective). Keyakinan
      seperti materi teori yang selalu melampirkan
      kesimpulan akhir entah itu di ilmupengetahuan ilmiah,
      metafisika, agama dan spiritual.

      Pengukuran seperti;
      * Pengukuran objective yang menghasilkan kesimpulan
      akhir seperti yang kita pelajari di pelajaran
      matematika yang lalu diterapkan di berbagai ilmu
      ilmiah. Proses pencarian kebenarannya (berfilsafatnya)
      menggunakan kegiatan Tanya-jawab.
      * Pengukuran subjective yang menghasilkan data saat
      ini (yang terus berubah seiring berjalannya waktu)
      seperti alat ukur mekanis yang memiliki; ‘sampler’
      (alat pengambilan sample data) berupa gradasi, kadar
      (0 – 100%) yang memiliki range dari minimum, berbagai
      skala, sampai maksimum. Dengan konteks (translater)
      yaitu nama masing-masing kegiatan pengukuran seperti
      misalnya di mobil ada; speedometer, pengukur putaran
      mesin, pengukur panas mesin, pengukur tekanan oli
      mesin, pengukur isi tangki bahan bakar, dlsb yang
      semuanya sama-sama meteran dari minimum, berbagai
      skala, sampai maksimum. Proses pencarian kebenarannya
      (berfilsafatnya) dengan cara mempetakan posisi titik
      koordinat dalam hubungan antara satu hal dengan yang
      lain.

      Kompatiologi melalui ritual dekon-kompatiologi adalah
      kegiatan menginstalasi mekanisme pengukuran subjective
      pada manusia, sehingga manusia tsb mampu memiliki
      kemampuan pengukuran subjective ;seperti berbagai alat
      ukur mekanis yang memiliki sampler berupa alat ukur
      biologis (minimum, skala-skala, maksimum) dengan nama
      masing-masing kegiatan pengukuran yang bersifat
      asosiatif sehingga ada hubungan dua arah antara
      pemerosesan informasi instingtif (pengukuran indrawi)
      dan intuitif (perjalanan mengejar kebenaran yang
      dianut).

      Pada manusia yang menggunakan kompatiologi hubungan
      dua arah antara proses instingtif dan intuitif
      menyebabkan timbulnya adaptasi antara kedua fungsi ini
      sehingga bisa saling menyesuaikan satu sama lain
      seiring perjalanan waktu dengan keadaan yang terus
      berubah-ubah; Seperti ketika mengendarai mobil, antara
      informasi yang diterima melalui alat ukur mekanis dan
      pilihan bebas manusianya untuk bertindak saling
      mempengaruhi.
      Setiap hewan (termasuk manusia) memiliki mekanisme
      pengukuran materi-materi di sekitar tempat hidupnya
      yang mempengaruhi kehidupannya. Informasi itu
      dipetakan polanya sehingga menghasilkan suatu konsep
      pencapaian tujuan / kebenaran yang dianut si hewan itu
      sendiri. Kemudian hewan itu mengejar kebenaran sesuai
      konsep yang ia petakan sendiri.

      ---

      Selamat menikmati perjalanan Andi Ferdiansyah sebagai
      Tinta_Negatif dalam halaman demi halaman buku ini…


      Ttd,
      Vincent Liong
      Jakarta, Senin, 10 Desember 2007





      KATA PENGANTAR
      Skepticism and Faith on Love
      Oleh: Cornelia Istiani


      1. ”Halo, Mba”, begitu sapa mu dalam chating tengah
      malam ditengah kesibukanku bekerja.
      ”Ya”, begitu kusapa balik.
      ”Ini mba Isti yang tulisannya aku ndak bisa ngerti”,
      begitu kamu bertanya dan protes sekaligus kepadaku.
      ”Yup. Kenapa Tinta?”, kubalik bertanya mencoba
      mengerti apa maksudnya.
      ”Kenapa bikin tulisan kok aku ndak bisa ngerti”,
      pertanyaanmu berlanjut.
      ”Ya ngga usah dibaca Tinta”, jawabku sambil
      melanjutkan pekerjaan.
      ”Tapi penasaran pingin baca”, jawabmu Tinta
      ”Mba, bagaimana komentar mba terhadap tulisanku?”,
      akhirnya kamu bertanya hal itu.
      ”Aku belum baca, maaf Tinta saat ini belum bisa kasi
      komentar”, begitu jawabku.
      Dan karena aku sedang punya kesibukan akhirnya chating
      tidak berlanjut, mungkin Tinta merasakan bahwa aku
      sedang tidak konsentrasi menanggapi nya. Sekarang
      komentar itu ku tulisakan dalam kepingan-kepingan
      berikut ini:

      2. Apa yang kulihat dalam tulisan-tulisan Tinta?
      Mengamati Tinta Negatif pada titik tertentu, pada saat
      dia menyusun minuman sebagai awal kegiatan dekon
      dimulai dan nantinya berakhir dalam tulisan-tulisan
      yang mengalir. Sudah kudeteksi dalam sinyal-sinyal
      sederhana yang mengungkapkan suatu kesiap-siagaan
      dalam menerima apapun sebagai bukti yang tidak
      terbantahkan. Ia sempurna menanggapinya dengan santai
      dan penuh pertanyaan..huh! dasar penulis, komat
      kamitku dalam hati.
      What did I see in his? Skepticism and faith.
      .
      3. Skepticism tentang segala hal seperti layaknya
      seorang filsuf yang shows a relentless concern with
      the discrepancy between appearance and reality. Kata
      kunci dari filosof adalah keraguan. Keraguan sebuah
      eksistensi dari gelas, kursi, misalnya. Tetapi ketika
      pertanyaan diperluas tentang apa dan siapa yang
      berarti buat kita, sebagai contoh mencintai. Akan ada
      kemungkinan yang menyakitkan dengan mengetahui bahwa
      yang dicintai adalah ilusi semata dari bagian yang
      terdalam diri, dan hanya sedikit terhubung dengan
      realitas objektif.

      4. Ragu itu mudah sepanjang tidak berkaitan dengan
      survival. Kita sama sama bisa meragukan diri kita
      sendiri dalam rangka mengada, dan itu adalah hal
      paling mudah untuk menjadi skeptis tentang segala hal
      yang tidak mendukung usaha kita. Sangat mudah
      meragukan keberadaan gelas, tapi akan menjadi sebuah
      “neraka” ketika meragukan keberadaan sebuah cinta.

      5. Nyambung tentang Value; dalam Beyond Good and Evil,
      Nietzsche bertanya tentang value sebagai berikut:
      “what in us really wants “Truth”?—we asked the value
      of this will. Suppose we want truth: why not rather
      untruth? and uncertainty? even ignorance?---the
      falseness of a judgement is to us not necessarily an
      objection to a judgement—the questions is to what
      extent it is life-advancing, life-preserving,
      species-preserving, perhaps even species breeding; and
      our fundamentally tendency is to assert that the
      falsest judgements---are the most indispensable to
      us—that to renounce false judgements would be to
      renounce life, would be to deny life.”

      6. Misalkan dalam kisah berikut ini, ada seorang yang
      hidup dibawah khayalan bahwa dirinya adalah sebuah
      telor. Tidak ada yang tahu bagaimana ide ini bisa
      masuk dalam pikiran orang tersebut, tak seorangpun
      tahu dan mengenalnya. Sekarang dia menolak untuk duduk
      karena takut akan memecahkan kuning telornya. Segala
      macam cara dicoba untuk mengatasi ketakutan-ketakutan
      tersebut tapi tidak berhasil. Akhirnya seorang dokter
      berhasil masuk dalam pikiran dan kehidupannya, lalu
      mengusulkan pada pasien tersebut untuk selalu membawa
      sepotong roti panggang setiap kali datang ke tempat
      praktek dokter—dan menuliskan dalam buku pikirannya
      tentang bangku pilihan yang akan di dudukinya setiap
      kali dia datang berkunjung. Roti panggang mempunyai
      makna sebagai penampung telor jika nanti dia akan
      duduk sehingga kuning telornya tidak akan pecah.
      Akhirnya sampai saat tertentu orang tersebut tidak
      pernah lagi membawa sepotong roti panggang dan kurang
      lebih menjalani kehidupan normal.

      7. Apa inti dari cerita itu? Tulisan-tulisan Tinta
      Negatif yang merupakan kisah perjalanan menjadi diri
      sendiri setelah ‘berkenalan’ dengan Kompatiologi,
      memperlihatkan bahwa skeptis dan faith menjadi warna
      pelangi perjalanannya. Dalam skeptis and faith on Love
      Tinta berjalan menuju titik kehidupan normalnya
      sendiri, dengan tetap dalam khayalan dan kepercayaan
      dalam Cinta.


      Jakarta, 9 Desember 2007





      Latarbelakang penulis:Andy Ferdiansyah

      Andy Ferdiansyah lahir di Jakarta, 5 Desember 1984.
      Shio: tikus ; bintang: sagetarius. Cita-cita yang
      sudah terlanjur dijalani adalah menjadi penulis.
      Bersekolah di TK Budi Harapan, SD Putra, SMP Negeri
      109 Jakarta, SMA Negeri 91 Jakarta. Masih kuliah di
      Institut Kesenian Jakarta (IKJ) fakultas film dan
      televisi (NIM: 1030150053 / angkatan 2003), jurusan
      film. Mampu meramal dengan kartu tarot dan kartu remi.
      Sebagai pendekon independent kompatiologi yang
      berprinsip “Semua orang bisa didekonstruksi“.
      Contact Person: CDMA: 021-92589843 email:
      tinta_negatif@....

      Daftar tarif rata-rata yang berlaku saat ini:
      - Konsultasi per pertemuan: Rp.100.000,-.
      - Dekon 1 orang peserta + konsultasi: Rp.300.000,-.
      - Dekon 2 atau 3 orang peserta + konsultasi:
      Rp.200.000,-/peserta.
      Tempat dan waktu sesuai perjanjian, harga bisa berubah
      tanpa pemberitahuan.

      Penerbitan Naskah Buku ini…

      Kami terbuka untuk tawaran penerbitan berhubung sampai
      hari ini (10 Desember 2007) naskah buku ini naskah
      buku ini belum ditawarkan ke penerbit manapun, kami
      menunggu pihak penerbit yang tertarik. Kepada pihak
      penerbitan yang tertarik untuk menerbitkan naskah buku
      ini di perusahaan penerbitannya, diharapkan
      menghubungi kami per email dan per telepon ke
      ’Cornelia Istiani’ (Hp: 081585228174, CDMA esia:
      021-92589842, email: istiani_c@... ).





      Andi Ferdiansyah (A.F) A.K.A Tinta Negatif


      Pertama kali mengenal Andi ketika acara Dekon ala
      VincentLiong pada Oktober 28 2007. Perawakannya yang
      tinggi, gondrong, cengangas cengenges membuat saya
      merasa "Wah ni anak Slenge'an juga". dan setelah
      diusut ternyata A.F adalah anak IKJ yang saya cukup
      kenal dari pola tingkah laku sampai cara mereka
      berpakaian melalui pengalaman dengan teman – teman
      saya anak IKJ. (Gak heran deh...).

      Saya tidak tahu banyak dan tidak mau tahu terlalu
      banyak terlalu banyak tentang A.F. Tapi melalui Proses
      Dekon ini saya jadi cukup mengenal bahwa menurut saya
      A.F termasuk kepribadian yang cukup tertutup
      (Introvert) dengan situasi dirinya. Terkadang di satu
      sisi saya melihat dia sebagai Individu yang kurang
      percaya diri dan masih mencari semacam batu loncatan
      untuk kemajuan jati dirinya...Tapi di sisi lain saya
      juga melihat Independensi serta kemampuan "Self
      Parameter" untuk menilai orang lain sudah tertanam
      dengan baik. "Which I can say that he has directed to
      his True Self", "He Know who he is" and "He know what
      he's doing". Hal Itu juga tidak terlepas dari
      pemahaman, proses serta Jam Terbang ombang ambing
      Kehidupan dalam posisinya sebagai A.F, Tinta Negatif
      atau status Pendekon baik tandem maupun independen.
      A.F merupakan pribadi yang menyenangkan untuk diajak
      Berinteraksi mengenai arti hidup. Terakhir kami sempat
      saling berkonsultasi mengenai topik Pasangan Hidup
      dari aspek Filosofis, Prinsipil, Kenyamanan, Horoskop
      dan Biologis untuk mencari bagaimana yang terbaik
      sebagai pendamping kita.

      Kalau Proses Dekon diibaratkan kelas maka A.F termasuk
      Senior saya karena dia sudah berpengalaman lebih dari
      10 kali melakukan proses Dekon. Dengan kata lain, A.F
      memiliki Input data yang lebih banyak dari terdekon
      dibandingkan dengan saya. A.F dalam hal ini juga sudah
      mengenal berbagai macam kombinasi rasa minuman yang
      dapat disamakan dengan skema naik turun data perasaan
      kehidupan manusia.
      Walaupun untuk menjalani kehidupan itu sendiri, saya
      maupun A.F hanyalah manusia biasa yang terlahir dengan
      Dualisme. Kita semua terlahir dengan segala kekurangan
      dan kelebihan yang diberikan oleh Tuhan sang
      Pengendali alam. kita hidup dengan cara kita, kita
      hidup dengan pilihan kita, kita hidup dengan mencari
      apa itu yang menjadi tugas kita di dunia kemanapun
      kita pergi ataupun melangkah.

      Dengan penerbitan buku ini saya berharap para pembaca
      dapat memetik pelajaran berharga yang ditulis oleh A.F
      sebagaimana mungkin ada tema yang dapat diterapkan
      maupun dijadikan pijakan atau referensi dalam proses
      kita hidup sebagai makhluk sosial strata paling atas
      di hadapan Tuhan. Selamat berjuang A.F semoga buku ini
      merupakan arti tersendiri bagi proses kelangsungan
      proses hidup di kemudian hari.

      Sincerely
      -Aryoputro Nugroho-


      Dilihat sebagai pendekon-kompatiologi Andy Ferdiansyah
      adalah praktisi yang playful, tampak clumsy
      (kelihatannya ceroboh), tetapi terfokus dan metodik.
      Sangat cocok untuk konsumen remaja.

      -Faris Fredy Putranto-




      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    • Vincent Liong
      Judul: Catatan Harian Seorang Pendekon Kompatiologi Tinta_Negatif@yahoo.com Karya: Andy Ferdiansyah Versi update: full version 10 desember 2007 Jumlah
      Message 2 of 2 , Dec 10, 2007
      • 0 Attachment
        Judul: "Catatan Harian Seorang Pendekon Kompatiologi
        Tinta_Negatif@..."
        Karya: Andy Ferdiansyah

        Versi update: full version 10 desember 2007
        Jumlah halaman: 173 halaman A4
        Jenis tulisan: Times New Roman & Arial 11 spasi 1.

        Untuk mendownload versi Ms.Word nya klik:
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/files/CatatanHarianSeorangPendek\
        on/fullver10des07CatDekon.doc

        Untuk mendownload versi PDF nya klik:
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/files/CatatanHarianSeorangPendek\
        on/fullver10des07CatDekon.pdf

        Bagi yang belum menjadi member
        Komunikasi_Empati@... tetapi ingin
        mendownload buku tsb silahkan join sebelumnya, klik:
        http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/join

        selamat membaca...





        Pendahuluan
        … dari Vincent Liong / Liong Vincent Christian Pendiri
        Kompatiologi


        Buku yang akan anda baca ini berjudul; Catatan Harian
        Seorang ‘Pendekon’ (pengajar) Kompatiologi
        Tinta_Negatif@... karya Andy Ferdiansyah. Dalam
        buku ini pembaca bisa turut merasakan bagaimana
        perjalanan Andy Ferdiansyah sebagai Tinta_Negatif
        seorang pendekon kompatiologi dengan sudutpandang
        orang pertama.

        Kondisi penulisan buku ini yang dibuat secara tidak
        disengaja, sangat mendukung untuk menghasilkan catatan
        harian seorang ‘praktisi’ (peneliti, pengajar dan
        pelaku) ilmu kompatiologi yang original tanpa pretensi
        ingin tampak lebih atau kurang baik dari yang apa
        adanya. Sifat Andy Ferdiansyah yang lugu, polos,
        jujur, atau lebih kasarnya telanjang sebagai seorang
        pelaku penulisan catatan harian sangat tampak di tiap
        tulisan yang dirangkum secara urut ;selama perjalanan
        waktu, dengan berbagai prosesnya yang tidak terputus.

        …dari ketika bertemu dengan Vincent Liong sekedar
        sebagai tugas reportase dari stasiun televisi
        tempatnya bekerja ; meliput Vincent Liong sebagai anak
        indigo dan pendiri kompatiologi… hingga tanpa sengaja
        sering ikut acara dekon-kompatiologi … menjadi
        pendekon-tandem kompatiologi … menjadi
        pendekon-independent kompatiologi … hingga akhirnya
        harus keluar dari komunitas mainstream kompatiologi
        dan memulai petualangan baru … menggunakan dan
        menyebarluaskan kompatiologi sebagai Andy Ferdiansyah,
        bukan lagi murid Vincent Liong … menerapkannya dalam
        dunia kerja sesuai bidang yang dipilih untuk dijalani
        dirinya sendiri.

        …dari mentalitas seniman yang pemberontak anti
        kemapanan dengan banyak menganut idealisme … menjadi
        agak religius … menjadi suka bicara hal religius
        secara lebih terbuka … jadi semakin realis … shock
        ketika menghadapi masalah double personality-nya yang
        bertemu satu sama lain … hingga menjadi manusia yang
        sedikit lebih diam pada dirinya sendiri … Semuanya
        terrekam tanpa manipulasi di dan dibahas secara
        terbuka dalam buku ini.

        Dalam buku ini diceritakan penerapan kompatiologi
        sebagai ilmu di luar lembaga pendidikan resmi dan di
        luar budaya pendidikan di ruangan tertutup tanpa noice
        (proses pendidikan kompatiologi selalu dilakukan di
        ruangan terbuka seperti mall, pasar, dlsb yang
        berisik). Perjalanan proses pemahaman ilmu melalui
        dilemma kepercayaan vs skeptisisme yang dibicarakan
        secara terbuka berlangsung sepanjang cerita. Tidak
        seperti ilmu kebanyakan yang tidak melampirkan proses
        kontemplasi praktisinya, yang dilampirkan hanya hasil
        kesimpulan akhir yang dianggap mutlak dan tidak perlu
        dipertanyakan lagi.

        ---

        Bicara tentang ilmu kita biasa menemukan penjelasan
        dan kesimpulan akhir yang tertulis di berbagai buku
        atau dipresentasikan melalui pengajaran dengan metode
        percaya, yakin dan hafalkan. Paradigma ilmu itu
        sendiri, terutama ilmu ilmiah tidak lepas dari dilema
        antara kepercayaan (idealisme untuk terus mencari),
        keyakinan (believe system / kebenaran yang
        dipertahankan dan dikejar / intuisi) dan skeptisisme
        (pengukuran subjective maupun objective) yang
        silih-berganti.

        Tidak ada ilmu ilmiah yang bisa tumbuh hanya dengan
        kepercayaan dan keyakinan saja tanpa skeptisisme,
        sebab tanpa skeptisisme ilmu hanyalah sebuah
        ‘keyakinan’ (tanpa perlu pembuktian) ;agama yang
        diwariskan turun temurun tanpa pengujian ulang
        sepanjang keberadaan sebuah ilmu. Bila ini terjadi
        maka ilmu yang ada hanyalah ilmiah semu yang berisi
        urutan kegiatan; sebagai murid, kelulusan dan lalu
        menjadi pengajar tanpa perlu pengujian di luar dunia
        akademis (ruang penelitian yang dibuat, dikondisikan
        dan diteliti oleh pendukung materi teori keilmian),
        bukan pasar pengguna / masyarakat awam yang tidak
        ideal.

        Sebaliknya, tidak ada ilmu ilmiah yang bisa tumbuh
        hanya dengan skeptisisme saja. Tanpa kepercayaan,
        setidaknya keterbukaan untuk mengujicoba, atau membuka
        kemungkinan pada hal baru di luar materi teori
        keyakinan ilmiah ;yang mungkin saja di masa yang akan
        datang akan menjadi kebenaran ilmiah. Bila hal ini
        terjadi, maka ilmu yang ada hanyalah ilmiah semu.
        Sebab alasan ilmu ilmiah dibuat, sekedar untuk
        mempertahankan konstruksi kekuasaan (menara gading)
        diri sendiri dan kelompok dengan menggunakan materi
        teori atas apa yang telah dianggap kebenaran ilmiah.

        Kompatiologi sebagai ilmu di luar lembaga pendidikan
        resmi (menara gading) sempat menghadapi
        masalah-masalah semacam ini yang lahir dari para
        ilmiahwan semu bergelar dan berijasah mulai dari S1,
        S2, S3, dlsb yang dengan segala cara melegalkan teror
        pribadi kepada para praktisi kompatiologi dan
        keluarganya, selama setengah tahun terakhir mulai 20
        Mei 2007 sampai awal Desember 2007 (+/- setengah
        tahun) demi menutup ‘kemungkinan lain’ di luar menara
        gading yang telah dibangun secara turun-temurun selama
        berpuluh-puluh tahun.

        ---

        Lalu apa sich Kompatiologi yang fenomenal itu?

        Bicara tentang ilmu apapun maka selalu ada dua point
        yang perlu disimak; Keyakinan (believe sistem) dan
        Pengukuran (subjective maupun objective). Keyakinan
        seperti materi teori yang selalu melampirkan
        kesimpulan akhir entah itu di ilmupengetahuan ilmiah,
        metafisika, agama dan spiritual.

        Pengukuran seperti;
        * Pengukuran objective yang menghasilkan kesimpulan
        akhir seperti yang kita pelajari di pelajaran
        matematika yang lalu diterapkan di berbagai ilmu
        ilmiah. Proses pencarian kebenarannya (berfilsafatnya)
        menggunakan kegiatan Tanya-jawab.
        * Pengukuran subjective yang menghasilkan data saat
        ini (yang terus berubah seiring berjalannya waktu)
        seperti alat ukur mekanis yang memiliki; ‘sampler’
        (alat pengambilan sample data) berupa gradasi, kadar
        (0 – 100%) yang memiliki range dari minimum, berbagai
        skala, sampai maksimum. Dengan konteks (translater)
        yaitu nama masing-masing kegiatan pengukuran seperti
        misalnya di mobil ada; speedometer, pengukur putaran
        mesin, pengukur panas mesin, pengukur tekanan oli
        mesin, pengukur isi tangki bahan bakar, dlsb yang
        semuanya sama-sama meteran dari minimum, berbagai
        skala, sampai maksimum. Proses pencarian kebenarannya
        (berfilsafatnya) dengan cara mempetakan posisi titik
        koordinat dalam hubungan antara satu hal dengan yang
        lain.

        Kompatiologi melalui ritual dekon-kompatiologi adalah
        kegiatan menginstalasi mekanisme pengukuran subjective
        pada manusia, sehingga manusia tsb mampu memiliki
        kemampuan pengukuran subjective ;seperti berbagai alat
        ukur mekanis yang memiliki sampler berupa alat ukur
        biologis (minimum, skala-skala, maksimum) dengan nama
        masing-masing kegiatan pengukuran yang bersifat
        asosiatif sehingga ada hubungan dua arah antara
        pemerosesan informasi instingtif (pengukuran indrawi)
        dan intuitif (perjalanan mengejar kebenaran yang
        dianut).

        Pada manusia yang menggunakan kompatiologi hubungan
        dua arah antara proses instingtif dan intuitif
        menyebabkan timbulnya adaptasi antara kedua fungsi ini
        sehingga bisa saling menyesuaikan satu sama lain
        seiring perjalanan waktu dengan keadaan yang terus
        berubah-ubah; Seperti ketika mengendarai mobil, antara
        informasi yang diterima melalui alat ukur mekanis dan
        pilihan bebas manusianya untuk bertindak saling
        mempengaruhi.
        Setiap hewan (termasuk manusia) memiliki mekanisme
        pengukuran materi-materi di sekitar tempat hidupnya
        yang mempengaruhi kehidupannya. Informasi itu
        dipetakan polanya sehingga menghasilkan suatu konsep
        pencapaian tujuan / kebenaran yang dianut si hewan itu
        sendiri. Kemudian hewan itu mengejar kebenaran sesuai
        konsep yang ia petakan sendiri.

        ---

        Selamat menikmati perjalanan Andi Ferdiansyah sebagai
        Tinta_Negatif dalam halaman demi halaman buku ini…


        Ttd,
        Vincent Liong
        Jakarta, Senin, 10 Desember 2007





        KATA PENGANTAR
        Skepticism and Faith on Love
        Oleh: Cornelia Istiani


        1. ”Halo, Mba”, begitu sapa mu dalam chating tengah
        malam ditengah kesibukanku bekerja.
        ”Ya”, begitu kusapa balik.
        ”Ini mba Isti yang tulisannya aku ndak bisa ngerti”,
        begitu kamu bertanya dan protes sekaligus kepadaku.
        ”Yup. Kenapa Tinta?”, kubalik bertanya mencoba
        mengerti apa maksudnya.
        ”Kenapa bikin tulisan kok aku ndak bisa ngerti”,
        pertanyaanmu berlanjut.
        ”Ya ngga usah dibaca Tinta”, jawabku sambil
        melanjutkan pekerjaan.
        ”Tapi penasaran pingin baca”, jawabmu Tinta
        ”Mba, bagaimana komentar mba terhadap tulisanku?”,
        akhirnya kamu bertanya hal itu.
        ”Aku belum baca, maaf Tinta saat ini belum bisa kasi
        komentar”, begitu jawabku.
        Dan karena aku sedang punya kesibukan akhirnya chating
        tidak berlanjut, mungkin Tinta merasakan bahwa aku
        sedang tidak konsentrasi menanggapi nya. Sekarang
        komentar itu ku tulisakan dalam kepingan-kepingan
        berikut ini:

        2. Apa yang kulihat dalam tulisan-tulisan Tinta?
        Mengamati Tinta Negatif pada titik tertentu, pada saat
        dia menyusun minuman sebagai awal kegiatan dekon
        dimulai dan nantinya berakhir dalam tulisan-tulisan
        yang mengalir. Sudah kudeteksi dalam sinyal-sinyal
        sederhana yang mengungkapkan suatu kesiap-siagaan
        dalam menerima apapun sebagai bukti yang tidak
        terbantahkan. Ia sempurna menanggapinya dengan santai
        dan penuh pertanyaan..huh! dasar penulis, komat
        kamitku dalam hati.
        What did I see in his? Skepticism and faith.
        .
        3. Skepticism tentang segala hal seperti layaknya
        seorang filsuf yang shows a relentless concern with
        the discrepancy between appearance and reality. Kata
        kunci dari filosof adalah keraguan. Keraguan sebuah
        eksistensi dari gelas, kursi, misalnya. Tetapi ketika
        pertanyaan diperluas tentang apa dan siapa yang
        berarti buat kita, sebagai contoh mencintai. Akan ada
        kemungkinan yang menyakitkan dengan mengetahui bahwa
        yang dicintai adalah ilusi semata dari bagian yang
        terdalam diri, dan hanya sedikit terhubung dengan
        realitas objektif.

        4. Ragu itu mudah sepanjang tidak berkaitan dengan
        survival. Kita sama sama bisa meragukan diri kita
        sendiri dalam rangka mengada, dan itu adalah hal
        paling mudah untuk menjadi skeptis tentang segala hal
        yang tidak mendukung usaha kita. Sangat mudah
        meragukan keberadaan gelas, tapi akan menjadi sebuah
        “neraka” ketika meragukan keberadaan sebuah cinta.

        5. Nyambung tentang Value; dalam Beyond Good and Evil,
        Nietzsche bertanya tentang value sebagai berikut:
        “what in us really wants “Truth”?—we asked the value
        of this will. Suppose we want truth: why not rather
        untruth? and uncertainty? even ignorance?---the
        falseness of a judgement is to us not necessarily an
        objection to a judgement—the questions is to what
        extent it is life-advancing, life-preserving,
        species-preserving, perhaps even species breeding; and
        our fundamentally tendency is to assert that the
        falsest judgements---are the most indispensable to
        us—that to renounce false judgements would be to
        renounce life, would be to deny life.”

        6. Misalkan dalam kisah berikut ini, ada seorang yang
        hidup dibawah khayalan bahwa dirinya adalah sebuah
        telor. Tidak ada yang tahu bagaimana ide ini bisa
        masuk dalam pikiran orang tersebut, tak seorangpun
        tahu dan mengenalnya. Sekarang dia menolak untuk duduk
        karena takut akan memecahkan kuning telornya. Segala
        macam cara dicoba untuk mengatasi ketakutan-ketakutan
        tersebut tapi tidak berhasil. Akhirnya seorang dokter
        berhasil masuk dalam pikiran dan kehidupannya, lalu
        mengusulkan pada pasien tersebut untuk selalu membawa
        sepotong roti panggang setiap kali datang ke tempat
        praktek dokter—dan menuliskan dalam buku pikirannya
        tentang bangku pilihan yang akan di dudukinya setiap
        kali dia datang berkunjung. Roti panggang mempunyai
        makna sebagai penampung telor jika nanti dia akan
        duduk sehingga kuning telornya tidak akan pecah.
        Akhirnya sampai saat tertentu orang tersebut tidak
        pernah lagi membawa sepotong roti panggang dan kurang
        lebih menjalani kehidupan normal.

        7. Apa inti dari cerita itu? Tulisan-tulisan Tinta
        Negatif yang merupakan kisah perjalanan menjadi diri
        sendiri setelah ‘berkenalan’ dengan Kompatiologi,
        memperlihatkan bahwa skeptis dan faith menjadi warna
        pelangi perjalanannya. Dalam skeptis and faith on Love
        Tinta berjalan menuju titik kehidupan normalnya
        sendiri, dengan tetap dalam khayalan dan kepercayaan
        dalam Cinta.


        Jakarta, 9 Desember 2007





        Latarbelakang penulis:Andy Ferdiansyah

        Andy Ferdiansyah lahir di Jakarta, 5 Desember 1984.
        Shio: tikus ; bintang: sagetarius. Cita-cita yang
        sudah terlanjur dijalani adalah menjadi penulis.
        Bersekolah di TK Budi Harapan, SD Putra, SMP Negeri
        109 Jakarta, SMA Negeri 91 Jakarta. Masih kuliah di
        Institut Kesenian Jakarta (IKJ) fakultas film dan
        televisi (NIM: 1030150053 / angkatan 2003), jurusan
        film. Mampu meramal dengan kartu tarot dan kartu remi.
        Sebagai pendekon independent kompatiologi yang
        berprinsip “Semua orang bisa didekonstruksi“.
        Contact Person: CDMA: 021-92589843 email:
        tinta_negatif@....

        Daftar tarif rata-rata yang berlaku saat ini:
        - Konsultasi per pertemuan: Rp.100.000,-.
        - Dekon 1 orang peserta + konsultasi: Rp.300.000,-.
        - Dekon 2 atau 3 orang peserta + konsultasi:
        Rp.200.000,-/peserta.
        Tempat dan waktu sesuai perjanjian, harga bisa berubah
        tanpa pemberitahuan.

        Penerbitan Naskah Buku ini…

        Kami terbuka untuk tawaran penerbitan berhubung sampai
        hari ini (10 Desember 2007) naskah buku ini naskah
        buku ini belum ditawarkan ke penerbit manapun, kami
        menunggu pihak penerbit yang tertarik. Kepada pihak
        penerbitan yang tertarik untuk menerbitkan naskah buku
        ini di perusahaan penerbitannya, diharapkan
        menghubungi kami per email dan per telepon ke
        ’Cornelia Istiani’ (Hp: 081585228174, CDMA esia:
        021-92589842, email: istiani_c@... ).





        Andi Ferdiansyah (A.F) A.K.A Tinta Negatif


        Pertama kali mengenal Andi ketika acara Dekon ala
        VincentLiong pada Oktober 28 2007. Perawakannya yang
        tinggi, gondrong, cengangas cengenges membuat saya
        merasa "Wah ni anak Slenge'an juga". dan setelah
        diusut ternyata A.F adalah anak IKJ yang saya cukup
        kenal dari pola tingkah laku sampai cara mereka
        berpakaian melalui pengalaman dengan teman – teman
        saya anak IKJ. (Gak heran deh...).

        Saya tidak tahu banyak dan tidak mau tahu terlalu
        banyak terlalu banyak tentang A.F. Tapi melalui Proses
        Dekon ini saya jadi cukup mengenal bahwa menurut saya
        A.F termasuk kepribadian yang cukup tertutup
        (Introvert) dengan situasi dirinya. Terkadang di satu
        sisi saya melihat dia sebagai Individu yang kurang
        percaya diri dan masih mencari semacam batu loncatan
        untuk kemajuan jati dirinya...Tapi di sisi lain saya
        juga melihat Independensi serta kemampuan "Self
        Parameter" untuk menilai orang lain sudah tertanam
        dengan baik. "Which I can say that he has directed to
        his True Self", "He Know who he is" and "He know what
        he's doing". Hal Itu juga tidak terlepas dari
        pemahaman, proses serta Jam Terbang ombang ambing
        Kehidupan dalam posisinya sebagai A.F, Tinta Negatif
        atau status Pendekon baik tandem maupun independen.
        A.F merupakan pribadi yang menyenangkan untuk diajak
        Berinteraksi mengenai arti hidup. Terakhir kami sempat
        saling berkonsultasi mengenai topik Pasangan Hidup
        dari aspek Filosofis, Prinsipil, Kenyamanan, Horoskop
        dan Biologis untuk mencari bagaimana yang terbaik
        sebagai pendamping kita.

        Kalau Proses Dekon diibaratkan kelas maka A.F termasuk
        Senior saya karena dia sudah berpengalaman lebih dari
        10 kali melakukan proses Dekon. Dengan kata lain, A.F
        memiliki Input data yang lebih banyak dari terdekon
        dibandingkan dengan saya. A.F dalam hal ini juga sudah
        mengenal berbagai macam kombinasi rasa minuman yang
        dapat disamakan dengan skema naik turun data perasaan
        kehidupan manusia.
        Walaupun untuk menjalani kehidupan itu sendiri, saya
        maupun A.F hanyalah manusia biasa yang terlahir dengan
        Dualisme. Kita semua terlahir dengan segala kekurangan
        dan kelebihan yang diberikan oleh Tuhan sang
        Pengendali alam. kita hidup dengan cara kita, kita
        hidup dengan pilihan kita, kita hidup dengan mencari
        apa itu yang menjadi tugas kita di dunia kemanapun
        kita pergi ataupun melangkah.

        Dengan penerbitan buku ini saya berharap para pembaca
        dapat memetik pelajaran berharga yang ditulis oleh A.F
        sebagaimana mungkin ada tema yang dapat diterapkan
        maupun dijadikan pijakan atau referensi dalam proses
        kita hidup sebagai makhluk sosial strata paling atas
        di hadapan Tuhan. Selamat berjuang A.F semoga buku ini
        merupakan arti tersendiri bagi proses kelangsungan
        proses hidup di kemudian hari.

        Sincerely
        -Aryoputro Nugroho-


        Dilihat sebagai pendekon-kompatiologi Andy Ferdiansyah
        adalah praktisi yang playful, tampak clumsy
        (kelihatannya ceroboh), tetapi terfokus dan metodik.
        Sangat cocok untuk konsumen remaja.

        -Faris Fredy Putranto-




        Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.