Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Trs: a note...

Expand Messages
  • desmy Fitra
    ... Dari: Stephania Amelia Kepada: Andri Iswanto ; Agustiadi ;
    Message 1 of 1 , Aug 17, 2011
    • 0 Attachment


      ----- Pesan Diteruskan ----
      Dari: Stephania Amelia <stephania@...>
      Kepada: Andri Iswanto <andri.iswanto@...>; Agustiadi <agustiadi@...>; Achmad Munawar <a.munawar@...>; Andri Wijoyo <a.Wijoyo@...>; Anita Fitriasari <anita.fitriasari@...>; Budi Rahmat <budi.rahmat@...>; Bunga Hapsari Aliya Putri <bunga.hapsari@...>; chadijah <chadijah@...>; desrianto <desrianto.prayogi@...>; Dwi Yulianta <d.yulianta@...>; Diahyani Putri <diahyani.putri@...>; didit eko w <didit.ew@...>; Daisy Yustina <daisy@...>; desmy_fitra@...; dyane ghea <dyane.ghea@...>; etika.msaputri <etika.msaputri@...>; Fathy Wahyu Al Hafiish <fathy.wahyu@...>; Fauzie Krigentana <fauzie.k@...>; Fenny Noviantus S. <fenny.ns@...>; Faiqotul Himmah <faiqotul.himmah@...>; Fahma Diana Mudhor <fahma.diana@...>; Fani Wicaksono <fani.w@...>; Hasbi Dwinanto Saputra <hasbi.d@...>; Hendra Permana <hendra.permana@...>; Iwan Setiawan <iwan.setiawan@...>; Ian Agung Prakoso <ian.prakoso@...>; Iqbal Faraz Dasril <iqbal@...>; Luluk Fafziah <luluk.f@...>; Liah Solichah <liah.solichah@...>; muhammad ersyad <m.ersyad@...>; M. Mahfud Hasan <mahfudhasan@...>; Mohammad Effendi <mohammad.effendi@...>; Meynar Khairunisa <meynar@...>; Mohamad Syarifudin <mohamad_s@...>; Nuansa Chandra <n.chandra@...>; n.mardiani <n.mardiani@...>; putri_adityaw@...; Purwoko Yuliono <p.yuliono@...>; Ria Novitasari <ria.novitasari@...>; Rahmahwati Desirina <R.Desirina@...>; Ryzkiningtyas Tri Puspitasari <ryzkiningtyas@...>; rahmad.arifin@...; Ringga MurganaSetyadi <ringga.ms@...>; Teti Herawati <t.herawati@...>; Viona Marliana <viona.marlina@...>; Venesia Ayu Rahmawati <venesia.ar@...>; Nano Wilda Khusnata <wilda.khusnata@...>; wilda kurniyah rahmawati <wilda.kurniyah@...>; Wasis Hadi Kamal <wasis@...>; wiwied widyasmara adi <wiwied@...>; Youla <youla.h@...>; Yayang Heryana Sunartim <yayang.h@...>; Yudithia Dzaryati <y.dzaryati@...>; yoki.ndi@...
      Terkirim: Sen, 8 Agustus, 2011 11:53:39
      Judul: FW: a note...

      Little share rekaannss,,

      Hehe

       

      Smoga bermanfaat J

       

      From: aMiNe aM [mailto:aml_amine@...]
      Sent: 08 Agustus 2011 11:45
      To: ilux khuma; Santi Agustina; Indah Lestari; Satya Sudaningtyas; yule; shinta windiani; Ria Asyrofa; ilux khuma; Santi Agustina; Indah Lestari; Satya Sudaningtyas; yule; shinta windiani; Ria Asyrofa
      Cc: rita.ummi.hanik@...; stephania.amelia@...; stephania@...; Mb Luvi; Ardhan Baba; putri.adityaw@...
      Subject: Bls: a note...

       

      Subhanallah Khum,, aku br nemu email km ini,,

      ak merinding bacanya,, dalem banget.,.

      semoga Allah Mendekatkan kita dengan kebaikan dan Mempertemukan kita dengan jodoh terbaik pilihan Allah, yg rasa cintanya pd ALLAH lebih besar.

      Trims banget y sayaaang,, :)

       


      Dari: ilux khuma <ilux_uniq@...>
      Kepada: Amelia Stephania <aml_amine@...>; Santi Agustina <santiagustina_ie@...>; Indah Lestari <auriela_zone@...>; Satya Sudaningtyas <satya_suda@...>; yule <yulniarpribadi@...>; shinta windiani <reluvadis@...>; Ria Asyrofa <fa_henmeili@...>
      Dikirim: Jumat, 5 Agustus 2011 22:40
      Judul: a note...

      Sharing as below with all of you...

      gak bermaksud apa2, hehe, cuman sharing yang tak baca di note orang :D

      hepi reading, all ^^

       

      luv,

      likhum :)

       

       

       

      Assalammualakum...Wr.Wb

      Bismillaah..

      Semoga kisah ini juga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku dimanapun berada…

      .

      ***

      Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam,  sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.

      .

      “Anty sudah menikah ?”.

      “Belum mbak ”, jawabku .

      Kemudian akhwat itu bertanya lagi

      “ kenapa ?”

      hanya bisa ku jawab dengan senyuman. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

      “Mbak menunggu siapa?” Aku mencoba bertanya .

      “Nunggu suami” jawabnya.

      .

      Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya,.

       

       

      “Mbak kerja dimana?”, Entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa Mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat  seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

       

       

      “Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi ”, jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

       

       

      “ kenapa?” tanyaku lagi .

       

       

      Dia hanya tersenyum dan menjawab,

      “karena inilah satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas ..

       

       

      Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran . Lagi- lagi dia hanya trsenyum.

       

       

      “Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat” ..

       

       

      “Saya bekerja di kantor,  mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata,.

       

       

      “Abi, Umi pusing nih, ambil sendiri lah! ”.

      Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23. 30 saya terbangun dan cepat – cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya . Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci..

       

       

      Astagfirullah, kenapa Abi mengerjakan semua ini? Bukankah Abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

       

       

      Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya , Masya Allah, Abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya .”

       

       

      Subhanallah, aku melihat Mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

      .

      “Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600 -700 rb /bulan. 10x lipat lebih rendah dari gaji saya. Dan malam itu saya benar- benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki , saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata,

      .

      “Umi, ,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho ”, begitu katanya.

      Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata- kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya ”, lanjutnya..

       

       

      “Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah -mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

      .

      “Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini . Saya sedih, karena orang tua, dan saudara - saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

      .

      Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

      .

      “Kak , kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak -anak kita Kak . Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan . Nah kakak malah pengen berhenti kerja . Suami kakak pun penghasilannya kurang . Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai- santai aja dirumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak , Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal , sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat .

      .

      “Anty tau , saya hanya bisa nangis saat itu..

      Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia”

      .

      “Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata -kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. “

      .

      “Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan , ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak -hak suami saya .Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. “

      .

      “Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya , karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya , tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal.”

      .

      ” Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakan pekerjaan suami anty pada orang lain . Bukan masalah pekerjaannya ukhty , tapi masalah halalnya, berkahnya , dan kita memohon pada Allah , semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram” . Ucapnya terakhir , sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.”

      .

      Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm , meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali , wajah seorang istri yang begitu ridho .

      .

      ***

      .

      Ya Alloh … .

      Berkahi kami dalam menapaki jalan perjuangan menujuMU. Semoga Aku bisa selalu menjadi sebaik-baik istri untuk suamiku, yang menjadi bekal untuk meraih jannah Mu… Amin

      .

      Untuk Abi, apapun pekerjaan Abi, Ummi BANGGA Bi, SANGAT BANGGA!

       

       

      --------- selesai --------------

       

       

       

      Ukhtifillaah,,,

      Mari kita renungkan, apakah kita pernah berbuat durhaka pada suami kita?

      Apakah pernah atau bahkan sering kita membentak suami kita????

      Pasti hati2 kita sendirilah yg tahu..

      Mulai sekarang, mari perbaiki sikap/perilaku/akhlak kita, dan memohon maaf pd suami tercinta atas dosa2 yg kita lakukan baik secara sengaja ataupun tidak..

       

      "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim. At-Tirmidzi meng-shahih-kan hadits mi).

       

       

      Barakalllahufiikum

       



      Disclaimer:
      This message may contain confidential and/or proprietary information of Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT., and /or their affiliated companies. This message is intended only for use of the named addressee(s). If you are not named addressee or receive this message in error you may not disclose, copy, distribute or use this information for any purpose.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.