Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [wanita-muslimah] Pengen Baekk, pls..??

Expand Messages
  • Nawiro Aisyataini
    Saya juga sebel kalo nemuin kayak gitu, malah rumah depan kakak disewa/dipinjam saya kurang ngerti, tapi nggak dirawat sama sekali, mana kambing piaraanya
    Message 1 of 22 , Oct 31, 2006
    • 0 Attachment
      Saya juga sebel kalo nemuin kayak gitu, malah rumah depan kakak disewa/dipinjam saya kurang ngerti, tapi nggak dirawat sama sekali, mana kambing piaraanya makan tanaman apotik hidup di rumah kakak lagi. Yang pinjam itu pakai cadar juga, nggak mau bersosialisasi, anaknya nggak boleh ngaji di TPA perumahan situ. Tapi saya memandangnya sih, mereka cuma oknum, karena ajaran bertetangga yang islami nggak kayak gitu kok. Mungkin yang mas irwank temui sama sj mereka jg oknum. Seperti ketika ada orang cina menyiksa pembantunya, nggak boleh donk kita bilang semua orang cina berkelakuan seperti itu, lantas digunakan untuk melakukan sentimen rasial. Yach namanya manusia


      ----- Original Message ----
      From: irwank <irwank2k2@...>
      To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
      Sent: Wednesday, November 1, 2006 10:13:32 AM
      Subject: Re: [wanita-muslimah] Pengen Baekk, pls..??


      Tetangga saya berjilbab panjang (ciri kelompok/parpol tertentu?) dan
      suaminya
      sama" bekerja.. di rumah mereka ada pembantu rumah tangga (sekampung)
      dan tinggal bersama di situ.. Baru mulai menjelang bulan romadlon kemarin..
      Kerjanya ngurusin semua (nyuci baju, dll) termasuk ngasuh anak mereka (<2
      thn)..
      dan anaknya tersebut (klo ortunya adadi rumah) gak boleh di taruh - harus
      digendong..
      singkatnya harus siap kerja apapun/kapanpun - lah wong tinggal di situ..

      Tapi gajinya (pembantu itu) berapa?
      (kalau benar) pengakuan si pembantu sih, cuma 250 ribu rupiah sebulan..
      Alhamdulillah saya membayar orang yang bantu" di rumah (hanya sekitar
      2-3 jam - jam 7 - sebelum jam 10 pagi) sebesar 200 ribu rupiah sebulan..

      Bagimana makannya-dan-lauknya?
      (kalau benar) pengakuan si pembantu sih, seliter (beras) untuk 3-4 hari..
      Kelihatannya pembantu ini cukup berani bicara.. dia cerita ke istri saya
      bahwa
      dia bilang ke tuan rumahnya, tuh lihat tetangga sebelah (maksudnya kami),
      beli beras ke warung 10-20 liter (sekalian biar gak bolak-balik ke warung)..


      Pernah waktu puasa kemarin sahur dan buka cuma pake paria/pare..
      akhirnya dia harus beli roti di warung (bibi saya) dan jeruk sekedar untuk
      menyenangkan perutnya sendiri.. itupun dengan uang (bekalnya) sendiri..
      dia bawa uang 250 ribu dan sampai habis..

      Waktu dia beli jeruk, tuan rumahnya bilang: ngapain beli jeruk banyak"..
      kata dia, lah itu kan buat saya.. suka" saya donk.. lagian pake uang saya
      sendiri.. giliran tuan rumah beli es campur(?) 2 bungkus, ditaruh di kulkas
      dan makan sendiri kamar, berdua saja tanpa menawarkan ke dia..

      Terakhir (sebetulnya masih banyak yang bisa ditulis), katanya mereka akan
      pulang kampung di hari ke-9 Idul Fitri.. ternyata tidak jadi.. dan tidak
      dibelikan
      tiket pulang sekalian tuan rumah mudik ke kampung halaman mereka..
      masa' pulkam harus pake duit sendiri lagi.. sudah buat makan kurang diurus,
      uang jajan gak dikasih.. gaji pas-pasan.. padahal tadinya dia sudah senang
      bakal bisa pulang (dan berhenti bekerja di situ).. namun kelihatannya
      harapan
      itu hilang, minimal memudar..

      Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk bibi dan
      istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
      Masih pengen nulis, cuma nanti disambung lagi deh.. segini aja udah
      panjang..
      :-)

      Wallahu a'lam.. CMIIW..

      Wassalam,

      Irwan.K

      On 11/1/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@...> wrote:
      >
      > Tetap aja belajar, manusiawi kok kalo terkadang kita gak bisa menerima
      > sesuatu di luar kebiasaan kita. Tapi harus dicoba untuk menjalankannya
      > sedikit sedikit meski tidak semua. Teman saya dulu tahu ayat akan jilbab
      > tapi dia merasa belum siap, terus dia bilang, saya tahu jilbab itu wajib,
      > tapi kalo sekarang saya masih belum siap. Pendapat semacam ini kata ulama
      > masih ditolerir (saat saya tanyakan ke ustadz dan beberapa ulama). Yang
      > terpenting jangan sampai hati kita mengatakan :"hal itu nggak benar atau
      > nggak bisa lagi diterapkan di jaman sekarang. "
      >
      > Salam
      >
      > ----- Original Message ----
      > From: Amze Lea <amze_lea@... <amze_lea%40yahoo.com>>
      > Sent: Tuesday, October 31, 2006 1:22:27 PM
      > Subject: [wanita-muslimah] Pengen Baekk, pls..??
      >
      > Rekan2.... saya minta saran nihhh, mungkin ada yg bisa bantu....
      > saya pengen menjalankan perintah Allah secara menyeluruh.. tapi kok berat
      > yaaa,,, ada aja halangannya.....
      > contohnya... sering sy ga terima kalo ada ayat/hadist yg sekira2 ga
      > ngenakin buat saya,, trus nyari dehh dalil2, alesan, argumen, yang bisa
      > nguatin nafsu saya.. padahal hati kecil saya emang yang diperintahkan itu
      > yang bener... ampe saat ini saya masih ngikutin pola pikir hedon and yang
      > penting gw seneng...
      > tuhh gimana yaaa solusinya??
      >
      > trims bngt yaaa sblumnyaa...
      >


      [Non-text portions of this message have been removed]



      =======================
      Milis Wanita Muslimah
      Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
      Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
      ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
      Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
      Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
      Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
      Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

      This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
      Yahoo! Groups Links





      [Non-text portions of this message have been removed]
    • erul.satra
      Totally different subject... Bismillahirrahmanirrahiim.. Apologize if below mentioned e-mail is not suppose tobe here... TO WHOM IT MAY CONCEREN: someone is
      Message 2 of 22 , Nov 1, 2006
      • 0 Attachment
        Totally different subject...

        Bismillahirrahmanirrahiim..

        Apologize if below mentioned e-mail is not suppose tobe here...

        TO WHOM IT MAY CONCEREN:

        someone is seeking for a life partner with below criteria:

        An un-married young muslim female with good education, height minimum
        170cm, able to live and stay out of the country, good health and good
        looking as well.

        His profile :

        Moslem, Indonesian nationality (real indonesian)187 cm height with 86 kg
        weight, working in a multinational grop of company sub-department head
        position. currenth monthly income more than.25 milion indonesian rupiah,
        30 years of age.

        He has good khowledges of religion, a serious person with good health
        and behavior.

        This e-mail are for Good will, only a serious Responded can reply,
        additional information can be provided on request basis.

        May Allah bless us!
      • Floradianti Pamungkas
        Modalnya cuma SWEET SURRENDER kepada Sang Pencipta kita, Allah SWT. Kalau kita mau humble se-humble2-nya seperti waktu kita sujud dalam sholat kita, maka Insya
        Message 3 of 22 , Nov 1, 2006
        • 0 Attachment
          Modalnya cuma SWEET SURRENDER kepada Sang Pencipta kita, Allah SWT.
          Kalau kita mau humble se-humble2-nya seperti waktu kita sujud dalam sholat
          kita,
          maka Insya Allah kita akan bersikap damai saat berserah diri dalam kepatuhan
          kepada aturan2 Allah.
          Kita akan mensyukuri, betapa sayang dan cintanya Allah kepada manusia,
          hingga Dia memberi agama Islam bagi seluruh umat manusia,
          yang diturunkan melalui para utusanNya dari sejak Nabi Adam hingga Nabi
          Muhammad.
          Agar umat manusia selamat di dunia dan di akhirat.

          Kedengarannya klasik banget, tapi justru itu adalah esensi dalam Islam.
          Kalau sudah tunduk dan patuh dengan ikhlas kepada aturan / manual hidup
          dalam Islam (Al Qur'an dan Hadist shahih),
          maka keinginan untuk menjadi baik akan jadi mudah deh .....
          Selama masih ada rasa memberontak, ngedumel di hati terhadap Islam, maka
          untuk pengen baekk akan jadi susah bin sulit .....

          Naah ... pilih mana?
          Mau susah atau mau gampang?
          Just don't give up .... usaha terus meski naik-turun.


          Wassalam,
          Flora
          ---------------------------------------------------------------------
          Re: Pengen Baekk, pls..??
          Posted by: "lami" lami@...
          Tue Oct 31, 2006 7:19 pm (PST)
          kayaknya susah ya... tpi emang tetap hrs ada niat utk menjadi lbh
          baik... mis. nih pengen pake jilbab (lgi rame ngomongin jilbab kan)
          mulai deh dulu dari menyukainya aja... menyukai dlm arti seneng melihat
          ce berjilbab (jilbab skrg kan tuh lucu2 warna-warni n modelnya macem2),
          bergaul ma temen yg mmg dah pake jilbab/kerudung... tanya alasannya knpa
          dan gimana rasanya suka dukanya...mgkn spt itu contoh kecilnya... trs
          klu boleh tau contohnya ayat/hadist spt apa yg sekiranya gak ngenakin
          buat mba amze?

          Nawiro Aisyataini wrote:
          > Tetap aja belajar, manusiawi kok kalo terkadang kita gak bisa menerima
          sesuatu di luar kebiasaan kita. Tapi harus dicoba untuk menjalankannya
          sedikit sedikit meski tidak semua...
          > Salam

          Pengen Baekk, pls..??
          Posted by: "Amze Lea" amze_lea@... amze_lea
          Tue Oct 31, 2006 12:30 pm (PST)
          Rekan2.... saya minta saran nihhh, mungkin ada yg bisa bantu....
          saya pengen menjalankan perintah Allah secara menyeluruh.. tapi kok berat
          yaaa,,, ada aja halangannya.....
          contohnya... sering sy ga terima kalo ada ayat/hadist yg sekira2 ga ngenakin
          buat saya,, trus nyari dehh dalil2, alesan, argumen, yang bisa nguatin nafsu
          saya.. padahal hati kecil saya emang yang diperintahkan itu yang bener...
          ampe saat ini saya masih ngikutin pola pikir hedon and yang penting gw
          seneng...
          tuhh gimana yaaa solusinya??

          trims bngt yaaa sblumnyaa...

          [Non-text portions of this message have been removed]
        • irwank
          Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p Quote: .. Yang kaya begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk bibi dan istri saya..
          Message 4 of 22 , Nov 1, 2006
          • 0 Attachment
            Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p

            Quote:
            "..
            Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk bibi dan
            istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
            .."

            Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang mungkin
            belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
            Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat rumahnya
            ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?

            Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat kalau
            pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat Allah saja..
            gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh pikiran.. dsb..
            Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
            (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu.. atau
            kalaupun
            penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..

            Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
            Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu saya,
            filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
            terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
            masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
            Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..

            Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
            Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau menjalankan
            perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
            Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil kredit..
            yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p

            Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa masuk
            surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum mampu
            (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk bener
            gimana?

            Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup aurat/berjilbab
            itu
            menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak yang
            menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..

            Wallahu a'lam.. CMIIW..

            Wassalam,

            Irwan.K

            On 11/1/06, Rye Woo <rye_woo@...> wrote:
            >
            > Bung irwank....
            > Jadi apa manfaat ceritanya....... menyelesaikan
            > masalahh??????????????????????
            > kenapa anda yg merasa lebih baik tidak memberi masukan ke tetangga anda
            > tsb, .....kalo emang itu salah??? Kan lebih bagus... daripada sekedar
            > Ghibahh.....
            > Bener ga Boss???
            >
            > Thx
            >
            >
            > irwank <irwank2k2@... <irwank2k2%40gmail.com>> wrote:
            > Tetangga saya berjilbab panjang (ciri kelompok/parpol tertentu?) dan
            > suaminya
            > sama" bekerja.. di rumah mereka ada pembantu rumah tangga (sekampung)
            > dan tinggal bersama di situ.. Baru mulai menjelang bulan romadlon
            > kemarin..
            > Kerjanya ngurusin semua (nyuci baju, dll) termasuk ngasuh anak mereka (<2
            > thn)..
            > dan anaknya tersebut (klo ortunya adadi rumah) gak boleh di taruh - harus
            > digendong..
            > singkatnya harus siap kerja apapun/kapanpun - lah wong tinggal di situ..
            >
            > Tapi gajinya (pembantu itu) berapa?
            > (kalau benar) pengakuan si pembantu sih, cuma 250 ribu rupiah sebulan..
            > Alhamdulillah saya membayar orang yang bantu" di rumah (hanya sekitar
            > 2-3 jam - jam 7 - sebelum jam 10 pagi) sebesar 200 ribu rupiah sebulan..
            >
            > Bagimana makannya-dan-lauknya?
            > (kalau benar) pengakuan si pembantu sih, seliter (beras) untuk 3-4 hari..
            > Kelihatannya pembantu ini cukup berani bicara.. dia cerita ke istri saya
            > bahwa dia bilang ke tuan rumahnya, tuh lihat tetangga sebelah (maksudnya
            > kami),
            > beli beras ke warung 10-20 liter (sekalian biar gak bolak-balik ke
            > warung)..
            >
            > Pernah waktu puasa kemarin sahur dan buka cuma pake paria/pare..
            > akhirnya dia harus beli roti di warung (bibi saya) dan jeruk sekedar untuk
            > menyenangkan perutnya sendiri.. itupun dengan uang (bekalnya) sendiri..
            > dia bawa uang 250 ribu dan sampai habis..
            >
            > Waktu dia beli jeruk, tuan rumahnya bilang: ngapain beli jeruk banyak"..
            > kata dia, lah itu kan buat saya.. suka" saya donk.. lagian pake uang saya
            > sendiri.. giliran tuan rumah beli es campur(?) 2 bungkus, ditaruh di
            > kulkas
            > dan makan sendiri kamar, berdua saja tanpa menawarkan ke dia..
            >
            > Terakhir (sebetulnya masih banyak yang bisa ditulis), katanya mereka akan
            > pulang kampung di hari ke-9 Idul Fitri.. ternyata tidak jadi.. dan tidak
            > dibelikan
            > tiket pulang sekalian tuan rumah mudik ke kampung halaman mereka..
            > masa' pulkam harus pake duit sendiri lagi.. sudah buat makan kurang
            > diurus,
            > uang jajan gak dikasih.. gaji pas-pasan.. padahal tadinya dia sudah senang
            > bakal bisa pulang (dan berhenti bekerja di situ).. namun kelihatannya
            > harapan itu hilang, minimal memudar..
            >
            > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk bibi dan
            > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
            > Masih pengen nulis, cuma nanti disambung lagi deh.. segini aja udah
            > panjang..
            > :-)
            >
            > Wallahu a'lam.. CMIIW..
            >
            > Wassalam,
            >
            > Irwan.K
            >
            > On 11/1/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@... <ummu.amiq%40yahoo.com>>
            > wrote:
            > >
            > > Tetap aja belajar, manusiawi kok kalo terkadang kita gak bisa menerima
            > > sesuatu di luar kebiasaan kita. Tapi harus dicoba untuk menjalankannya
            > > sedikit sedikit meski tidak semua. Teman saya dulu tahu ayat akan jilbab
            > > tapi dia merasa belum siap, terus dia bilang, saya tahu jilbab itu
            > wajib,
            > > tapi kalo sekarang saya masih belum siap. Pendapat semacam ini kata
            > ulama
            > > masih ditolerir (saat saya tanyakan ke ustadz dan beberapa ulama). Yang
            > > terpenting jangan sampai hati kita mengatakan :"hal itu nggak benar atau
            > > nggak bisa lagi diterapkan di jaman sekarang. "
            > >
            > > Salam
            > >
            > > ----- Original Message ----
            > > From: Amze Lea <amze_lea@... <amze_lea%40yahoo.com><amze_lea%40yahoo.com>>
            > > Sent: Tuesday, October 31, 2006 1:22:27 PM
            > > Subject: [wanita-muslimah] Pengen Baekk, pls..??
            > >
            > > Rekan2.... saya minta saran nihhh, mungkin ada yg bisa bantu....
            > > saya pengen menjalankan perintah Allah secara menyeluruh.. tapi kok
            > berat
            > > yaaa,,, ada aja halangannya.....
            > > contohnya... sering sy ga terima kalo ada ayat/hadist yg sekira2 ga
            > > ngenakin buat saya,, trus nyari dehh dalil2, alesan, argumen, yang bisa
            > > nguatin nafsu saya.. padahal hati kecil saya emang yang diperintahkan
            > itu
            > > yang bener... ampe saat ini saya masih ngikutin pola pikir hedon and
            > yang
            > > penting gw seneng...
            > > tuhh gimana yaaa solusinya??
            > >
            > > trims bngt yaaa sblumnyaa...
            >


            [Non-text portions of this message have been removed]
          • Mia
            Dari dulu memang ada expressi kayak gitu Pak Irwank tuh, liat kelakuan yang berjilbab, yang penting kan hati kita dulu . Kemudian kata Pak Irwank sendiri:
            Message 5 of 22 , Nov 1, 2006
            • 0 Attachment
              Dari dulu memang ada expressi kayak gitu Pak Irwank "tuh, liat
              kelakuan yang berjilbab, yang penting kan hati kita dulu".

              Kemudian kata Pak Irwank sendiri:
              "Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
              aurat/berjilbab itu menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar
              kalau ada pihak yang menyoroti kelakuan tersebut"

              Yang pada intinya, sama dengan yang mbak Herni bilang - kalau sudah
              berjilbab, itu merupakan semacam pernyataan publik.

              Pernyataan-pernyataan itu semua ada karena masyarakat kita memang
              menganggap jilbab itu sebagai simbol kesalehan (juga simbol
              perlawanan, simbol anti kemapanan). Karena ini simbol yang berlaku,
              mau nggak mau siapapun, yang sudah berjilbab, yang siap berjilbab
              atau yang nggak mau berjilbab, terpengaruh dalam konstruk ini.

              Simbol itu kudu diruntuhkan kapan tiba saatnya, yaitu ketika simbol
              nggak lagi merepresentasikan makna utuhnya. Kalau tidak, resikonya
              adalah sikap memberhalakan (atau kefanatikan).

              Meruntuhkan simbol tak bermakna adalah ekspressi dari
              keyakinan 'lailahaillallah'.

              Ketika simbol jilbab itu dicairkan, apa yang kita dapat? Simbol itu
              menjadi milik kita masing-masing, yaitu wilayah pribadi, yang
              nantinya memberi warna pada kebudayaan (baru). Wilayah pribadi akan
              memberikan kebebasan kepada siapapun:
              - kepada perempuan dan laki-laki yang memilih. Biarkan perempuan
              berpakaian tergantung ekspressi dan motivasinya. Biarkan laki-laki
              memilih tergantung seleranya. Pak Sabri misalnya, mungkin lebih
              seneng perempuan yang nggak pake jilbab, kebalikan dari Pak Arcon
              atau Pak Irwank.
              - kepada ulama-ulama dan muslim yang khilafiah
              - kepada negara/daerah yang nggak harus memantau warganya supaya
              seragam berjilbab (ato nggak berjilbab). Dengan kata lain negara
              mengakomodasi aspirasi masyarakatnya.
              - kepada masyarakat bisnis dan konsumen yang lebih punya pilihan
              untuk dijual/dibeli.

              Salam
              Mia

              --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, irwank <irwank2k2@...> wrote:
              >
              > Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p
              >
              > Quote:
              > "..
              > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk
              bibi dan
              > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
              > .."
              >
              > Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang
              mungkin
              > belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
              > Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat
              rumahnya
              > ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?
              >
              > Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat
              kalau
              > pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat
              Allah saja..
              > gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh
              pikiran.. dsb..
              > Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
              > (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu..
              atau
              > kalaupun
              > penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..
              >
              > Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
              > Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu
              saya,
              > filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
              > terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
              > masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
              > Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..
              >
              > Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
              > Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau
              menjalankan
              > perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
              > Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil
              kredit..
              > yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p
              >
              > Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa
              masuk
              > surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum
              mampu
              > (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk
              bener
              > gimana?
              >
              > Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
              aurat/berjilbab
              > itu
              > menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak
              yang
              > menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..
              >
              > Wallahu a'lam.. CMIIW..
              >
              > Wassalam,
              >
              > Irwan.K
              >
            • Nawiro Aisyataini
              Tapi mbak Mia, pertanyaan semacam itu sama aja nanya TELOR dulu apa Ayam dulu? Saya kok setuju mas Irwank ya. Sebab kalo baik dulu nantinya diarahkan ke
              Message 6 of 22 , Nov 1, 2006
              • 0 Attachment
                Tapi mbak Mia, pertanyaan semacam itu sama aja nanya "TELOR dulu apa Ayam dulu?" Saya kok setuju mas Irwank ya. Sebab kalo baik dulu nantinya diarahkan ke sholat. Mau baik dulu apa sholat dulu ? Kalo nggak baik ngapain sholat...! jadinya kan bisa fatal. Jalanin aja, dulu itu, perkara nanti mau baik atau buruk terakhir,...mau buka tutup terakhir, yang penting pakai dulu ..


                ----- Original Message ----
                From: Mia <aldiy@...>
                To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
                Sent: Thursday, November 2, 2006 9:18:12 AM
                Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??


                Dari dulu memang ada expressi kayak gitu Pak Irwank "tuh, liat
                kelakuan yang berjilbab, yang penting kan hati kita dulu".

                Kemudian kata Pak Irwank sendiri:
                "Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                aurat/berjilbab itu menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar
                kalau ada pihak yang menyoroti kelakuan tersebut"

                Yang pada intinya, sama dengan yang mbak Herni bilang - kalau sudah
                berjilbab, itu merupakan semacam pernyataan publik.

                Pernyataan-pernyataan itu semua ada karena masyarakat kita memang
                menganggap jilbab itu sebagai simbol kesalehan (juga simbol
                perlawanan, simbol anti kemapanan). Karena ini simbol yang berlaku,
                mau nggak mau siapapun, yang sudah berjilbab, yang siap berjilbab
                atau yang nggak mau berjilbab, terpengaruh dalam konstruk ini.

                Simbol itu kudu diruntuhkan kapan tiba saatnya, yaitu ketika simbol
                nggak lagi merepresentasikan makna utuhnya. Kalau tidak, resikonya
                adalah sikap memberhalakan (atau kefanatikan).

                Meruntuhkan simbol tak bermakna adalah ekspressi dari
                keyakinan 'lailahaillallah'.

                Ketika simbol jilbab itu dicairkan, apa yang kita dapat? Simbol itu
                menjadi milik kita masing-masing, yaitu wilayah pribadi, yang
                nantinya memberi warna pada kebudayaan (baru). Wilayah pribadi akan
                memberikan kebebasan kepada siapapun:
                - kepada perempuan dan laki-laki yang memilih. Biarkan perempuan
                berpakaian tergantung ekspressi dan motivasinya. Biarkan laki-laki
                memilih tergantung seleranya. Pak Sabri misalnya, mungkin lebih
                seneng perempuan yang nggak pake jilbab, kebalikan dari Pak Arcon
                atau Pak Irwank.
                - kepada ulama-ulama dan muslim yang khilafiah
                - kepada negara/daerah yang nggak harus memantau warganya supaya
                seragam berjilbab (ato nggak berjilbab). Dengan kata lain negara
                mengakomodasi aspirasi masyarakatnya.
                - kepada masyarakat bisnis dan konsumen yang lebih punya pilihan
                untuk dijual/dibeli.

                Salam
                Mia

                --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, irwank <irwank2k2@...> wrote:
                >
                > Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p
                >
                > Quote:
                > "..
                > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk
                bibi dan
                > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
                > .."
                >
                > Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang
                mungkin
                > belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
                > Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat
                rumahnya
                > ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?
                >
                > Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat
                kalau
                > pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat
                Allah saja..
                > gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh
                pikiran.. dsb..
                > Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
                > (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu..
                atau
                > kalaupun
                > penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..
                >
                > Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
                > Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu
                saya,
                > filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
                > terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
                > masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
                > Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..
                >
                > Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
                > Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau
                menjalankan
                > perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
                > Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil
                kredit..
                > yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p
                >
                > Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa
                masuk
                > surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum
                mampu
                > (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk
                bener
                > gimana?
                >
                > Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                aurat/berjilbab
                > itu
                > menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak
                yang
                > menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..
                >
                > Wallahu a'lam.. CMIIW..
                >
                > Wassalam,
                >
                > Irwan.K
                >





                =======================
                Milis Wanita Muslimah
                Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
                Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
                Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
                Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

                This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
                Yahoo! Groups Links





                [Non-text portions of this message have been removed]
              • Ari Condro
                mbak nawiro, mbakyu masih berbicara dalam konteks privat, dan menganggap peraturan yg dipaksakan di sektor publik tidak terlalu berpengaruh. padahal kita sama
                Message 7 of 22 , Nov 1, 2006
                • 0 Attachment
                  mbak nawiro,

                  mbakyu masih berbicara dalam konteks privat, dan menganggap peraturan yg
                  dipaksakan di sektor publik tidak terlalu berpengaruh. padahal kita sama
                  sama tahu pemaksaan untuk memakai, ataupun pemaksaan untuk tidak memakai,
                  dua duanya sama sama ndak enaknya.


                  pembicaraan dalam sektor publik inilah yg belum masuk dalam ranah wancana
                  mbak nawiro. apresiasi thd permasalahan yg ada dalamkonteks publik,masih
                  masalah masalah kohort, yg dulu dialami di jaman sampean, yaitu jilbab
                  dilarang dipakai di sekolah, jilbab dilarang dipakai di tempat kerja.


                  contoh yg sebelumnya saya berikan, dalah kasus sebaliknya, ketika yg
                  nonmuslim ikut ikutan dipaksa oleh peraturan untuk memkai jilbab. minimal
                  ada intimidasi daripihak tertentu, sehingga ada pemaksaan (bahkan thd yg
                  nonmuslim) untuk berjilbab.

                  sesuatu yg harusnya tidak perlu terjadi, kalau pilihan untuk berjilbab benar
                  benar ada di sektor privat. intimidasi dan sikap berlebihan inilah yg
                  disebut sebagai "permberhalaan".


                  On 11/2/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@...> wrote:
                  >
                  > Tapi mbak Mia, pertanyaan semacam itu sama aja nanya "TELOR dulu apa
                  > Ayam dulu?" Saya kok setuju mas Irwank ya. Sebab kalo baik dulu nantinya
                  > diarahkan ke sholat. Mau baik dulu apa sholat dulu ? Kalo nggak baik ngapain
                  > sholat...! jadinya kan bisa fatal. Jalanin aja, dulu itu, perkara nanti mau
                  > baik atau buruk terakhir,...mau buka tutup terakhir, yang penting pakai dulu
                  > ..
                  >
                  > ----- Original Message ----
                  > From: Mia <aldiy@... <aldiy%40yahoo.com>>
                  > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                  > Sent: Thursday, November 2, 2006 9:18:12 AM
                  > Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??
                  >
                  > Dari dulu memang ada expressi kayak gitu Pak Irwank "tuh, liat
                  > kelakuan yang berjilbab, yang penting kan hati kita dulu".
                  >
                  > Kemudian kata Pak Irwank sendiri:
                  > "Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                  > aurat/berjilbab itu menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar
                  > kalau ada pihak yang menyoroti kelakuan tersebut"
                  >
                  > Yang pada intinya, sama dengan yang mbak Herni bilang - kalau sudah
                  > berjilbab, itu merupakan semacam pernyataan publik.
                  >
                  > Pernyataan-pernyataan itu semua ada karena masyarakat kita memang
                  > menganggap jilbab itu sebagai simbol kesalehan (juga simbol
                  > perlawanan, simbol anti kemapanan). Karena ini simbol yang berlaku,
                  > mau nggak mau siapapun, yang sudah berjilbab, yang siap berjilbab
                  > atau yang nggak mau berjilbab, terpengaruh dalam konstruk ini.
                  >
                  > Simbol itu kudu diruntuhkan kapan tiba saatnya, yaitu ketika simbol
                  > nggak lagi merepresentasikan makna utuhnya. Kalau tidak, resikonya
                  > adalah sikap memberhalakan (atau kefanatikan).
                  >
                  > Meruntuhkan simbol tak bermakna adalah ekspressi dari
                  > keyakinan 'lailahaillallah'.
                  >
                  > Ketika simbol jilbab itu dicairkan, apa yang kita dapat? Simbol itu
                  > menjadi milik kita masing-masing, yaitu wilayah pribadi, yang
                  > nantinya memberi warna pada kebudayaan (baru). Wilayah pribadi akan
                  > memberikan kebebasan kepada siapapun:
                  > - kepada perempuan dan laki-laki yang memilih. Biarkan perempuan
                  > berpakaian tergantung ekspressi dan motivasinya. Biarkan laki-laki
                  > memilih tergantung seleranya. Pak Sabri misalnya, mungkin lebih
                  > seneng perempuan yang nggak pake jilbab, kebalikan dari Pak Arcon
                  > atau Pak Irwank.
                  > - kepada ulama-ulama dan muslim yang khilafiah
                  > - kepada negara/daerah yang nggak harus memantau warganya supaya
                  > seragam berjilbab (ato nggak berjilbab). Dengan kata lain negara
                  > mengakomodasi aspirasi masyarakatnya.
                  > - kepada masyarakat bisnis dan konsumen yang lebih punya pilihan
                  > untuk dijual/dibeli.
                  >
                  > Salam
                  > Mia
                  >
                  > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>,
                  > irwank <irwank2k2@...> wrote:
                  > >
                  > > Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p
                  > >
                  > > Quote:
                  > > "..
                  > > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk
                  > bibi dan
                  > > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
                  > > .."
                  > >
                  > > Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang
                  > mungkin
                  > > belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
                  > > Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat
                  > rumahnya
                  > > ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?
                  > >
                  > > Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat
                  > kalau
                  > > pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat
                  > Allah saja..
                  > > gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh
                  > pikiran.. dsb..
                  > > Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
                  > > (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu..
                  > atau
                  > > kalaupun
                  > > penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..
                  > >
                  > > Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
                  > > Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu
                  > saya,
                  > > filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
                  > > terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
                  > > masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
                  > > Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..
                  > >
                  > > Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
                  > > Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau
                  > menjalankan
                  > > perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
                  > > Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil
                  > kredit..
                  > > yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p
                  > >
                  > > Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa
                  > masuk
                  > > surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum
                  > mampu
                  > > (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk
                  > bener
                  > > gimana?
                  > >
                  > > Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                  > aurat/berjilbab
                  > > itu
                  > > menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak
                  > yang
                  > > menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..
                  > >
                  > > Wallahu a'lam.. CMIIW..
                  > >
                  > > Wassalam,
                  > >
                  > > Irwan.K
                  > >
                  >
                  > =======================
                  > Milis Wanita Muslimah
                  > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                  > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                  > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                  > Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                  > Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com<wanita-muslimah-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                  > Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com<keluarga-sejahtera%40yahoogroups.com>
                  > Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com<majelismuda%40yahoogroups.com>
                  >
                  > This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
                  >
                  > Yahoo! Groups Links
                  >
                  > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >
                  >
                  >


                  [Non-text portions of this message have been removed]
                • Nawiro Aisyataini
                  Mas ari, kan di postingan yang lain ttg dilema atlit berjilbab, saya sebutin kadang antara peraturan dan pelaksanaan berbeda 180 derajat. Ketika memasuki
                  Message 8 of 22 , Nov 2, 2006
                  • 0 Attachment
                    Mas ari, kan di postingan yang lain ttg dilema atlit berjilbab, saya sebutin kadang antara peraturan dan pelaksanaan berbeda 180 derajat. Ketika memasuki wilayah publik harus ngikutin perda akan tetapi ketika sudah masuk ke wilayah personal maka negara nggak bisa mencampurinya. Ketika di Iran, kita memang harus pakai hijab, akan tetapi ketika ada undangan party ya sudah, ada yang modis, pakai rok yang hanya sebatas dengkul, jilbabnya dilepas.Dan negara nggak akan mencampurinya kecuali tetangga lapor merasa terganggu dengan suasana pestanya. Yang saya masih nggak paham adalah ketika kita jelasin betapa perlunya memilih jilbab sebagai suatu bentuk kecil ketaatan kita daripada sekedar mengikuti pertandingan olahraga, pendapat ini dikatakan sebagai simbol memberhalakan jilbab.


                    ----- Original Message ----
                    From: Ari Condro <masarcon@...>
                    To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
                    Sent: Thursday, November 2, 2006 1:43:51 PM
                    Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??


                    mbak nawiro,

                    mbakyu masih berbicara dalam konteks privat, dan menganggap peraturan yg
                    dipaksakan di sektor publik tidak terlalu berpengaruh. padahal kita sama
                    sama tahu pemaksaan untuk memakai, ataupun pemaksaan untuk tidak memakai,
                    dua duanya sama sama ndak enaknya.


                    pembicaraan dalam sektor publik inilah yg belum masuk dalam ranah wancana
                    mbak nawiro. apresiasi thd permasalahan yg ada dalamkonteks publik,masih
                    masalah masalah kohort, yg dulu dialami di jaman sampean, yaitu jilbab
                    dilarang dipakai di sekolah, jilbab dilarang dipakai di tempat kerja.


                    contoh yg sebelumnya saya berikan, dalah kasus sebaliknya, ketika yg
                    nonmuslim ikut ikutan dipaksa oleh peraturan untuk memkai jilbab. minimal
                    ada intimidasi daripihak tertentu, sehingga ada pemaksaan (bahkan thd yg
                    nonmuslim) untuk berjilbab.

                    sesuatu yg harusnya tidak perlu terjadi, kalau pilihan untuk berjilbab benar
                    benar ada di sektor privat. intimidasi dan sikap berlebihan inilah yg
                    disebut sebagai "permberhalaan".


                    On 11/2/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@...> wrote:
                    >
                    > Tapi mbak Mia, pertanyaan semacam itu sama aja nanya "TELOR dulu apa
                    > Ayam dulu?" Saya kok setuju mas Irwank ya. Sebab kalo baik dulu nantinya
                    > diarahkan ke sholat. Mau baik dulu apa sholat dulu ? Kalo nggak baik ngapain
                    > sholat...! jadinya kan bisa fatal. Jalanin aja, dulu itu, perkara nanti mau
                    > baik atau buruk terakhir,...mau buka tutup terakhir, yang penting pakai dulu
                    > ..
                    >
                    > ----- Original Message ----
                    > From: Mia <aldiy@... <aldiy%40yahoo.com>>
                    > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                    > Sent: Thursday, November 2, 2006 9:18:12 AM
                    > Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??
                    >
                    > Dari dulu memang ada expressi kayak gitu Pak Irwank "tuh, liat
                    > kelakuan yang berjilbab, yang penting kan hati kita dulu".
                    >
                    > Kemudian kata Pak Irwank sendiri:
                    > "Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                    > aurat/berjilbab itu menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar
                    > kalau ada pihak yang menyoroti kelakuan tersebut"
                    >
                    > Yang pada intinya, sama dengan yang mbak Herni bilang - kalau sudah
                    > berjilbab, itu merupakan semacam pernyataan publik.
                    >
                    > Pernyataan-pernyataan itu semua ada karena masyarakat kita memang
                    > menganggap jilbab itu sebagai simbol kesalehan (juga simbol
                    > perlawanan, simbol anti kemapanan). Karena ini simbol yang berlaku,
                    > mau nggak mau siapapun, yang sudah berjilbab, yang siap berjilbab
                    > atau yang nggak mau berjilbab, terpengaruh dalam konstruk ini.
                    >
                    > Simbol itu kudu diruntuhkan kapan tiba saatnya, yaitu ketika simbol
                    > nggak lagi merepresentasikan makna utuhnya. Kalau tidak, resikonya
                    > adalah sikap memberhalakan (atau kefanatikan).
                    >
                    > Meruntuhkan simbol tak bermakna adalah ekspressi dari
                    > keyakinan 'lailahaillallah'.
                    >
                    > Ketika simbol jilbab itu dicairkan, apa yang kita dapat? Simbol itu
                    > menjadi milik kita masing-masing, yaitu wilayah pribadi, yang
                    > nantinya memberi warna pada kebudayaan (baru). Wilayah pribadi akan
                    > memberikan kebebasan kepada siapapun:
                    > - kepada perempuan dan laki-laki yang memilih. Biarkan perempuan
                    > berpakaian tergantung ekspressi dan motivasinya. Biarkan laki-laki
                    > memilih tergantung seleranya. Pak Sabri misalnya, mungkin lebih
                    > seneng perempuan yang nggak pake jilbab, kebalikan dari Pak Arcon
                    > atau Pak Irwank.
                    > - kepada ulama-ulama dan muslim yang khilafiah
                    > - kepada negara/daerah yang nggak harus memantau warganya supaya
                    > seragam berjilbab (ato nggak berjilbab). Dengan kata lain negara
                    > mengakomodasi aspirasi masyarakatnya.
                    > - kepada masyarakat bisnis dan konsumen yang lebih punya pilihan
                    > untuk dijual/dibeli.
                    >
                    > Salam
                    > Mia
                    >
                    > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>,
                    > irwank <irwank2k2@...> wrote:
                    > >
                    > > Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p
                    > >
                    > > Quote:
                    > > "..
                    > > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk
                    > bibi dan
                    > > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
                    > > .."
                    > >
                    > > Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang
                    > mungkin
                    > > belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
                    > > Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat
                    > rumahnya
                    > > ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?
                    > >
                    > > Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat
                    > kalau
                    > > pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat
                    > Allah saja..
                    > > gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh
                    > pikiran.. dsb..
                    > > Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
                    > > (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu..
                    > atau
                    > > kalaupun
                    > > penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..
                    > >
                    > > Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
                    > > Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu
                    > saya,
                    > > filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
                    > > terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
                    > > masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
                    > > Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..
                    > >
                    > > Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
                    > > Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau
                    > menjalankan
                    > > perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
                    > > Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil
                    > kredit..
                    > > yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p
                    > >
                    > > Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa
                    > masuk
                    > > surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum
                    > mampu
                    > > (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk
                    > bener
                    > > gimana?
                    > >
                    > > Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                    > aurat/berjilbab
                    > > itu
                    > > menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak
                    > yang
                    > > menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..
                    > >
                    > > Wallahu a'lam.. CMIIW..
                    > >
                    > > Wassalam,
                    > >
                    > > Irwan.K
                    > >
                    >
                    > =======================
                    > Milis Wanita Muslimah
                    > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                    > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                    > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                    > Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                    > Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com<wanita-muslimah-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                    > Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com<keluarga-sejahtera%40yahoogroups.com>
                    > Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com<majelismuda%40yahoogroups.com>
                    >
                    > This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
                    >
                    > Yahoo! Groups Links
                    >
                    > [Non-text portions of this message have been removed]
                    >
                    >
                    >


                    [Non-text portions of this message have been removed]



                    =======================
                    Milis Wanita Muslimah
                    Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                    Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                    ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                    Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
                    Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
                    Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
                    Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

                    This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
                    Yahoo! Groups Links





                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  • Ambon
                    Why can t you find a woman or women by yourself among your clients or friends? ... From: erul.satra To: wanita-muslimah@yahoogroups.com Sent: Wednesday,
                    Message 9 of 22 , Nov 2, 2006
                    • 0 Attachment
                      Why can't you find a woman or women by yourself among your clients or friends?

                      ----- Original Message -----
                      From: erul.satra
                      To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
                      Sent: Wednesday, November 01, 2006 10:01 AM
                      Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??



                      Totally different subject...

                      Bismillahirrahmanirrahiim..

                      Apologize if below mentioned e-mail is not suppose tobe here...

                      TO WHOM IT MAY CONCEREN:

                      someone is seeking for a life partner with below criteria:

                      An un-married young muslim female with good education, height minimum
                      170cm, able to live and stay out of the country, good health and good
                      looking as well.

                      His profile :

                      Moslem, Indonesian nationality (real indonesian)187 cm height with 86 kg
                      weight, working in a multinational grop of company sub-department head
                      position. currenth monthly income more than.25 milion indonesian rupiah,
                      30 years of age.

                      He has good khowledges of religion, a serious person with good health
                      and behavior.

                      This e-mail are for Good will, only a serious Responded can reply,
                      additional information can be provided on request basis.

                      May Allah bless us!






                      ------------------------------------------------------------------------------


                      No virus found in this incoming message.
                      Checked by AVG Free Edition.
                      Version: 7.1.409 / Virus Database: 268.13.22/512 - Release Date: 11/1/2006


                      [Non-text portions of this message have been removed]
                    • Herni Sri Nurbayanti
                      Ini iklan cari jodoh apa iklan abang none jakarte sih? Pake foto tampak seluruh tubuh, muke depan dan samping segala ya? :) Istilahnya OOT - out of topic,
                      Message 10 of 22 , Nov 2, 2006
                      • 0 Attachment
                        Ini iklan cari jodoh apa iklan abang none jakarte sih?
                        Pake foto tampak seluruh tubuh, muke depan dan samping segala ya? :)

                        Istilahnya OOT - out of topic, bos.. gak perlu jago bahasa inggris
                        buat tau istilahnya :) jangan2, ada prasyarat score toefl atau ielts
                        nya juga ya? hihihi...

                        Ada yg bilang, kalo cowo umur 30 th ke atas, kerjaan bagus, bodi oke,
                        wajah mayan, hidup mulai mapan tapi belum kawin-kawin, wah berarti ada
                        yg salah ma orangnya :)) Bukan gitu, pak Ambon? :)


                        cheers,
                        herni


                        --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ambon" <sea@...> wrote:
                        >
                        > Why can't you find a woman or women by yourself among your clients
                        or friends?
                        >
                        > ----- Original Message -----
                        > From: erul.satra
                        > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
                        > Sent: Wednesday, November 01, 2006 10:01 AM
                        > Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??
                        >
                        >
                        >
                        > Totally different subject...
                        >
                        > Bismillahirrahmanirrahiim..
                        >
                        > Apologize if below mentioned e-mail is not suppose tobe here...
                        >
                        > TO WHOM IT MAY CONCEREN:
                        >
                        > someone is seeking for a life partner with below criteria:
                        >
                        > An un-married young muslim female with good education, height minimum
                        > 170cm, able to live and stay out of the country, good health and good
                        > looking as well.
                        >
                        > His profile :
                        >
                        > Moslem, Indonesian nationality (real indonesian)187 cm height with
                        86 kg
                        > weight, working in a multinational grop of company sub-department head
                        > position. currenth monthly income more than.25 milion indonesian
                        rupiah,
                        > 30 years of age.
                        >
                        > He has good khowledges of religion, a serious person with good health
                        > and behavior.
                        >
                        > This e-mail are for Good will, only a serious Responded can reply,
                        > additional information can be provided on request basis.
                        >
                        > May Allah bless us!
                        >
                        >
                        >
                        >
                        >
                        >
                        >
                        ------------------------------------------------------------------------------
                        >
                        >
                        > No virus found in this incoming message.
                        > Checked by AVG Free Edition.
                        > Version: 7.1.409 / Virus Database: 268.13.22/512 - Release Date:
                        11/1/2006
                        >
                        >
                        > [Non-text portions of this message have been removed]
                        >
                      • Ari Condro
                        Kalo masalah tinggi badan, anaknya kivlan zein yg jadi pilot di qatar masih 192 cm kok. masih ngatasin .... :p ... [Non-text portions of this message have
                        Message 11 of 22 , Nov 2, 2006
                        • 0 Attachment
                          Kalo masalah tinggi badan, anaknya kivlan zein yg jadi pilot di qatar masih
                          192 cm kok. masih ngatasin .... :p

                          On 11/2/06, Ambon <sea@...> wrote:
                          >
                          > Why can't you find a woman or women by yourself among your clients or
                          > friends?
                          >
                          > ----- Original Message -----
                          > From: erul.satra
                          > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                          > Sent: Wednesday, November 01, 2006 10:01 AM
                          > Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??
                          >
                          > Totally different subject...
                          >
                          > Bismillahirrahmanirrahiim..
                          >
                          > Apologize if below mentioned e-mail is not suppose tobe here...
                          >
                          > TO WHOM IT MAY CONCEREN:
                          >
                          > someone is seeking for a life partner with below criteria:
                          >
                          > An un-married young muslim female with good education, height minimum
                          > 170cm, able to live and stay out of the country, good health and good
                          > looking as well.
                          >
                          > His profile :
                          >
                          > Moslem, Indonesian nationality (real indonesian)187 cm height with 86 kg
                          > weight, working in a multinational grop of company sub-department head
                          > position. currenth monthly income more than.25 milion indonesian rupiah,
                          > 30 years of age.
                          >
                          > He has good khowledges of religion, a serious person with good health
                          > and behavior.
                          >
                          > This e-mail are for Good will, only a serious Responded can reply,
                          > additional information can be provided on request basis.
                          >
                          > May Allah bless us!
                          >
                          > ----------------------------------------------------------
                          >
                          > No virus found in this incoming message.
                          > Checked by AVG Free Edition.
                          > Version: 7.1.409 / Virus Database: 268.13.22/512 - Release Date: 11/1/2006
                          >
                          > [Non-text portions of this message have been removed]
                          >
                          >
                          >


                          [Non-text portions of this message have been removed]
                        • Ari Condro
                          1. atlet iran juga tahu, kalo pake jilbab di ajang international untuk kategori pertandingannyandak bakalan boleh, info kan udah ada,. tapi iran sengaja
                          Message 12 of 22 , Nov 2, 2006
                          • 0 Attachment
                            1. atlet iran juga tahu, kalo pake jilbab di ajang international untuk
                            kategori pertandingannyandak bakalan boleh, info kan udah ada,. tapi iran
                            sengaja ngangkat ini jadi insiden internasional, dengan sengaja tetap kirim
                            atletnya meskipun tahu, ndak akan boleh bertanding tanpa lepas jilbab.

                            jadi ini kesengajaan publik dari iran. di iran sendiri aneh kalaumemakai
                            logika mbak mbakyu, kepingin sehat doang, tapi kok maksa ikut pertandingan.
                            ini kan sudah berkaitan dengan niat yg nggak benar.

                            btw, aklau di maroko dan kuwait yg terkenal malah pertandingan onta. udah
                            turun temurun. pertandingan kayak gini ndak masuk dlam hadits. tai seluruh
                            rakyat timur tengah sangat mendukung. kalau pertandingan yg seperti ini
                            termasuk kategori apa ? sehat sih, ndak bakalan, tapi niat gagah gagahan
                            tercapai lho.


                            2. justru karena indoensia ini negara yg mengharga i hak privat warga
                            negara. jangan sampai pilihan berjilbab yg harusnya personal saja,
                            dipaksakan jadi aturan publik.

                            kesalehan pribadi tidak akan tumbuh dari peraturan yg terlalu mencampuri
                            urusan pribadi. baiknya berkaca pada kasus jilbab, ketika jilbab jadi makin
                            komersil seperti sekarang, apakah kesungguhan dan keteguhan untuk berjilbab
                            bisa dibandingkan dengan jaman dahulu, ketika memakai jilbab adalah
                            tantangan dan identitas diri ???

                            salam,
                            ari condro



                            On 11/2/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@...> wrote:
                            >
                            > Mas ari, kan di postingan yang lain ttg dilema atlit berjilbab, saya
                            > sebutin kadang antara peraturan dan pelaksanaan berbeda 180 derajat. Ketika
                            > memasuki wilayah publik harus ngikutin perda akan tetapi ketika sudah masuk
                            > ke wilayah personal maka negara nggak bisa mencampurinya. Ketika di Iran,
                            > kita memang harus pakai hijab, akan tetapi ketika ada undangan party ya
                            > sudah, ada yang modis, pakai rok yang hanya sebatas dengkul, jilbabnya
                            > dilepas.Dan negara nggak akan mencampurinya kecuali tetangga lapor merasa
                            > terganggu dengan suasana pestanya. Yang saya masih nggak paham adalah ketika
                            > kita jelasin betapa perlunya memilih jilbab sebagai suatu bentuk kecil
                            > ketaatan kita daripada sekedar mengikuti pertandingan olahraga, pendapat ini
                            > dikatakan sebagai simbol memberhalakan jilbab.
                            >
                            > ----- Original Message ----
                            > From: Ari Condro <masarcon@... <masarcon%40gmail.com>>
                            > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                            > Sent: Thursday, November 2, 2006 1:43:51 PM
                            > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??
                            >
                            > mbak nawiro,
                            >
                            > mbakyu masih berbicara dalam konteks privat, dan menganggap peraturan yg
                            > dipaksakan di sektor publik tidak terlalu berpengaruh. padahal kita sama
                            > sama tahu pemaksaan untuk memakai, ataupun pemaksaan untuk tidak memakai,
                            > dua duanya sama sama ndak enaknya.
                            >
                            > pembicaraan dalam sektor publik inilah yg belum masuk dalam ranah wancana
                            > mbak nawiro. apresiasi thd permasalahan yg ada dalamkonteks publik,masih
                            > masalah masalah kohort, yg dulu dialami di jaman sampean, yaitu jilbab
                            > dilarang dipakai di sekolah, jilbab dilarang dipakai di tempat kerja.
                            >
                            > contoh yg sebelumnya saya berikan, dalah kasus sebaliknya, ketika yg
                            > nonmuslim ikut ikutan dipaksa oleh peraturan untuk memkai jilbab. minimal
                            > ada intimidasi daripihak tertentu, sehingga ada pemaksaan (bahkan thd yg
                            > nonmuslim) untuk berjilbab.
                            >
                            > sesuatu yg harusnya tidak perlu terjadi, kalau pilihan untuk berjilbab
                            > benar
                            > benar ada di sektor privat. intimidasi dan sikap berlebihan inilah yg
                            > disebut sebagai "permberhalaan".
                            >
                            > On 11/2/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@... <ummu.amiq%40yahoo.com>>
                            > wrote:
                            > >
                            > > Tapi mbak Mia, pertanyaan semacam itu sama aja nanya "TELOR dulu apa
                            > > Ayam dulu?" Saya kok setuju mas Irwank ya. Sebab kalo baik dulu nantinya
                            > > diarahkan ke sholat. Mau baik dulu apa sholat dulu ? Kalo nggak baik
                            > ngapain
                            > > sholat...! jadinya kan bisa fatal. Jalanin aja, dulu itu, perkara nanti
                            > mau
                            > > baik atau buruk terakhir,...mau buka tutup terakhir, yang penting pakai
                            > dulu
                            > > ..
                            > >
                            > > ----- Original Message ----
                            > > From: Mia <aldiy@... <aldiy%40yahoo.com> <aldiy%40yahoo.com>>
                            > > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com><wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                            > > Sent: Thursday, November 2, 2006 9:18:12 AM
                            > > Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??
                            > >
                            > > Dari dulu memang ada expressi kayak gitu Pak Irwank "tuh, liat
                            > > kelakuan yang berjilbab, yang penting kan hati kita dulu".
                            > >
                            > > Kemudian kata Pak Irwank sendiri:
                            > > "Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                            > > aurat/berjilbab itu menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar
                            > > kalau ada pihak yang menyoroti kelakuan tersebut"
                            > >
                            > > Yang pada intinya, sama dengan yang mbak Herni bilang - kalau sudah
                            > > berjilbab, itu merupakan semacam pernyataan publik.
                            > >
                            > > Pernyataan-pernyataan itu semua ada karena masyarakat kita memang
                            > > menganggap jilbab itu sebagai simbol kesalehan (juga simbol
                            > > perlawanan, simbol anti kemapanan). Karena ini simbol yang berlaku,
                            > > mau nggak mau siapapun, yang sudah berjilbab, yang siap berjilbab
                            > > atau yang nggak mau berjilbab, terpengaruh dalam konstruk ini.
                            > >
                            > > Simbol itu kudu diruntuhkan kapan tiba saatnya, yaitu ketika simbol
                            > > nggak lagi merepresentasikan makna utuhnya. Kalau tidak, resikonya
                            > > adalah sikap memberhalakan (atau kefanatikan).
                            > >
                            > > Meruntuhkan simbol tak bermakna adalah ekspressi dari
                            > > keyakinan 'lailahaillallah'.
                            > >
                            > > Ketika simbol jilbab itu dicairkan, apa yang kita dapat? Simbol itu
                            > > menjadi milik kita masing-masing, yaitu wilayah pribadi, yang
                            > > nantinya memberi warna pada kebudayaan (baru). Wilayah pribadi akan
                            > > memberikan kebebasan kepada siapapun:
                            > > - kepada perempuan dan laki-laki yang memilih. Biarkan perempuan
                            > > berpakaian tergantung ekspressi dan motivasinya. Biarkan laki-laki
                            > > memilih tergantung seleranya. Pak Sabri misalnya, mungkin lebih
                            > > seneng perempuan yang nggak pake jilbab, kebalikan dari Pak Arcon
                            > > atau Pak Irwank.
                            > > - kepada ulama-ulama dan muslim yang khilafiah
                            > > - kepada negara/daerah yang nggak harus memantau warganya supaya
                            > > seragam berjilbab (ato nggak berjilbab). Dengan kata lain negara
                            > > mengakomodasi aspirasi masyarakatnya.
                            > > - kepada masyarakat bisnis dan konsumen yang lebih punya pilihan
                            > > untuk dijual/dibeli.
                            > >
                            > > Salam
                            > > Mia
                            > >
                            > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com><wanita-muslimah%40yahoogroups.com>,
                            > > irwank <irwank2k2@...> wrote:
                            > > >
                            > > > Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p
                            > > >
                            > > > Quote:
                            > > > "..
                            > > > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk
                            > > bibi dan
                            > > > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
                            > > > .."
                            > > >
                            > > > Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang
                            > > mungkin
                            > > > belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
                            > > > Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat
                            > > rumahnya
                            > > > ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?
                            > > >
                            > > > Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat
                            > > kalau
                            > > > pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat
                            > > Allah saja..
                            > > > gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh
                            > > pikiran.. dsb..
                            > > > Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
                            > > > (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu..
                            > > atau
                            > > > kalaupun
                            > > > penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..
                            > > >
                            > > > Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
                            > > > Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu
                            > > saya,
                            > > > filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
                            > > > terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
                            > > > masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
                            > > > Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..
                            > > >
                            > > > Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
                            > > > Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau
                            > > menjalankan
                            > > > perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
                            > > > Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil
                            > > kredit..
                            > > > yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p
                            > > >
                            > > > Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa
                            > > masuk
                            > > > surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum
                            > > mampu
                            > > > (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk
                            > > bener
                            > > > gimana?
                            > > >
                            > > > Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup
                            > > aurat/berjilbab
                            > > > itu
                            > > > menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak
                            > > yang
                            > > > menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..
                            > > >
                            > > > Wallahu a'lam.. CMIIW..
                            > > >
                            > > > Wassalam,
                            > > >
                            > > > Irwan.K
                            > > >
                            > >
                            > > =======================
                            > > Milis Wanita Muslimah
                            > > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                            > > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                            > > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                            > > Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                            > <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                            > > Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com<wanita-muslimah-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                            > <wanita-muslimah-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                            > > Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com<keluarga-sejahtera%40yahoogroups.com>
                            > <keluarga-sejahtera%40yahoogroups.com>
                            > > Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com<majelismuda%40yahoogroups.com>
                            > <majelismuda%40yahoogroups.com>
                            > >
                            > > This mailing list has a special spell casted to reject any attachment
                            > ....
                            > >
                            > > Yahoo! Groups Links
                            > >
                            > > [Non-text portions of this message have been removed]
                            > >
                            > >
                            > >
                            >
                            > [Non-text portions of this message have been removed]
                            >
                            > =======================
                            > Milis Wanita Muslimah
                            > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                            > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                            > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                            > Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
                            > Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com<wanita-muslimah-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                            > Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com<keluarga-sejahtera%40yahoogroups.com>
                            > Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com<majelismuda%40yahoogroups.com>
                            >
                            > This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
                            >
                            > Yahoo! Groups Links
                            >
                            > [Non-text portions of this message have been removed]
                            >
                            >
                            >


                            [Non-text portions of this message have been removed]
                          • Erwin Deguchi
                            Assalamualaikum, Dalam Al,Quran sudah turun perintah bagi perempuan dan laki2 untuk menutup auratnya. Ada yang sedikit wilayah auratnya (laki2) dan ada yang
                            Message 13 of 22 , Nov 3, 2006
                            • 0 Attachment
                              Assalamualaikum,
                              Dalam Al,Quran sudah turun perintah bagi perempuan dan laki2 untuk
                              menutup auratnya. Ada yang sedikit wilayah auratnya (laki2) dan ada
                              yang lebih banyak (Perempuan). Ini bukanlah masalah khilafiyah, Ini
                              adalah perintah langsung dari Allah. Dan hadist Rasullullah SAW
                              menjelaskan tentang aurat tersebut, yang mana saja wilayahnya. Tinggal
                              manusianya lagi, apa beriman(patuh) pada Al-Quran dan hadist nabi atau
                              tidak.
                              Di indonesia cara penutupan auratnya berbeda dengan di Iran atau Saudi
                              Arabia. Namanya juga berbeda, di Indonesia disebut Jilbab.
                              Bagi yang patuh pada perintah Allah sudah dijanjikan Sorga baginya,
                              siapa yang tidak patuh dijanjikan neraka untuknya.
                              Kan mudah, tinggal pilih.
                              Semoga Allah menunjuki dan membimbing orang2 yang ingin menempuh
                              jalan yang lurus.
                              S Alfatihah.
                              Ih dinassiraa tal mustakim, shiraa tallazi na an am ta'alaihim,
                              ghairilmaqhdu bialaihim, waladdhalliin, Amiiin.
                              Tunjukilah (Ya Allah) aku jalan yang lurus, yaitu jalan orang2 yang
                              engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang yang sesat dan bukan
                              pula jalan orang yang engkau murkai. Perkenankanlah ya Allah.
                              Surat ini dibaca 17 kali sehari dalam shalat (subuh 2,zohor 4, ashar4,
                              magrib 3, dan isya 4).
                              Biasanya di negara muslim yang menerapkan syariah islam seperti Saudi
                              Arabia ataupun Iran, di setiap pesta, lokasi laki2 berbeda dengan
                              lokasi wanita. Ada aurat wanita yang boleh terbuka untuk wanita
                              lainnya seperti kaki dan tangan, tapi tidak untuk laki2 yang bukan
                              muhrim. Dan ada aurat wanita yang tidak boleh dilihat wanita lainnya
                              dan aurat laki2 yang tidak boleh dilihat laki2 lainnya, yaitu
                              kemaluannya.
                              Wassalam.


                              --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Nawiro Aisyataini
                              <ummu.amiq@...> wrote:
                              >
                              > Mas ari, kan di postingan yang lain ttg dilema atlit berjilbab, saya
                              sebutin kadang antara peraturan dan pelaksanaan berbeda 180 derajat.
                              Ketika memasuki wilayah publik harus ngikutin perda akan tetapi ketika
                              sudah masuk ke wilayah personal maka negara nggak bisa mencampurinya.
                              Ketika di Iran, kita memang harus pakai hijab, akan tetapi ketika ada
                              undangan party ya sudah, ada yang modis, pakai rok yang hanya sebatas
                              dengkul, jilbabnya dilepas.Dan negara nggak akan mencampurinya kecuali
                              tetangga lapor merasa terganggu dengan suasana pestanya. Yang saya
                              masih nggak paham adalah ketika kita jelasin betapa perlunya memilih
                              jilbab sebagai suatu bentuk kecil ketaatan kita daripada sekedar
                              mengikuti pertandingan olahraga, pendapat ini dikatakan sebagai simbol
                              memberhalakan jilbab.
                            • ritajkt
                              ... Mungkin ini, antara lain, karena ada pendapat bahwa jilbab itu lebih kuat pada makna political-instrument yang tentunya dipakai untuk tujuan-tujuan
                              Message 14 of 22 , Nov 3, 2006
                              • 0 Attachment
                                --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Nawiro Aisyataini
                                <ummu.amiq@...> wrote:
                                >
                                > Yang saya masih nggak paham adalah ketika kita jelasin betapa
                                >perlunya memilih jilbab sebagai suatu bentuk kecil ketaatan kita
                                >daripada sekedar mengikuti pertandingan olahraga, pendapat ini
                                >dikatakan sebagai simbol memberhalakan jilbab.
                                >


                                Mungkin ini, antara lain, karena ada pendapat bahwa jilbab itu lebih
                                kuat pada makna "political-instrument" yang tentunya dipakai untuk
                                tujuan-tujuan politis (bukan tujuan Habluminullah yang lillahi
                                ta'alla semata) mengingat ajaran yang menyebut jilbab sebagai
                                pakaian perempuan Muslim masih debatable (khilafiyah) antar para
                                ahli agama Islam sendiri. Mereka yang menganggap jilbab adalah BUKAN
                                pakaian perempuan Muslim (melainkan pakaian perempuan Merdeka ->
                                high class society, ?,) mendasarkan hal itu antara lain dari latar
                                belakang masalah di balik turunnya ayat "Agar mereka (para wanita
                                itu) tidak diganggu" itu. cmiiw.

                                Mengenai aspek politis jilbab (headscarves) berikut ada artikel dari
                                Karen Armstrong dari situs koran The Quardian, Inggris, edisi 26
                                Oktober. Semoga ada manfaaatnya.

                                salam,
                                rita
                                -----

                                My Years in a Habit Taught Me the Paradox of Veiling

                                Karen Armstrong
                                Thursday October 26, 2006
                                The Guardian


                                I spent seven years of my girlhood heavily veiled - not in a Muslim
                                niqab but in a nun's habit. We wore voluminous black robes, large
                                rosaries and crucifixes, and an elaborate headdress: you could see a
                                small slice of my face from the front, but from the side I was
                                entirely shielded from view. We must have looked very odd indeed,
                                walking dourly through the colourful carnival of London during the
                                swinging 60s, but nobody ever asked us to exchange our habits for
                                more conventional attire.


                                When my order was founded in the 1840s, not long after Catholic
                                emancipation, people were so enraged to see nuns brazenly wearing
                                their habits in the streets that they pelted them with rotten fruit
                                and horse dung. Nuns had been banned from Britain since the
                                Reformation; their return seemed to herald the resurgence of
                                barbarism. Two hundred and fifty years after the gunpowder plot,
                                Catholicism was still feared as unassimilable, irredeemably alien to
                                the British ethos, fanatically opposed to democracy and freedom, and
                                a fifth column allied to dangerous enemies abroad.

                                Today the veiled Muslim woman appears to symbolise the perceived
                                Islamic threat, as nuns once epitomised the evils of popery. She
                                seems a barbaric affront to hard-won values that are essential to
                                our cultural identity: gender equality, freedom, transparency and
                                openness. But in the Muslim world the veil has also acquired a new
                                symbolism. If government ministers really want to debate the issue
                                fruitfully, they must become familiar with the bitterly ironic
                                history of veiling during the last hundred years.

                                Until the late 19th century, veiling was neither a central nor a
                                universal practice in the Islamic world. The Qur'an does not command
                                all women to cover their heads; the full hijab was traditionally
                                worn only by aristocratic women, as a mark of status. In Egypt,
                                under Muhammad Ali's leadership (1805-48), the lot of women improved
                                dramatically, and many were abandoning the veil and moving more
                                freely in society.

                                But after the British occupied Egypt in 1882, the consul general,
                                Lord Cromer, ignored this development. He argued that veiling was
                                the "fatal obstacle" that prevented Egyptians from participating
                                fully in western civilisation. Until it was abolished, Egypt would
                                need the benevolent supervision of the colonialists. But Cromer had
                                cynically exploited feminist ideas to advance the colonial project.
                                Egyptian women lost many of their new educational and professional
                                opportunities under the British, and Cromer was co-founder in London
                                of the Anti-Women's Suffrage League.

                                When Egyptian pundits sycophantically supported Cromer, veiling
                                became a hot issue. In 1899 Qassim Amin published Tahrir al-Mara -
                                The Liberation of Women - which obsequiously praised the nobility of
                                European culture, arguing that the veil symbolised everything that
                                was wrong with Islam and Egypt. It was no feminist tract: Egyptian
                                women, according to Amin, were dirty, ignorant and hopelessly
                                inadequate parents. The book created a furore, and the ensuing
                                debate made the veil a symbol of resistance to colonialism.

                                The problem was compounded in other parts of the Muslim world by
                                reformers who wanted their countries to look modern, even though
                                most of the population had no real understanding of secular
                                institutions. When Ataturk secularised Turkey, men and women were
                                forced into European costumes that felt like fancy dress. In Iran,
                                the shahs' soldiers used to march through the streets with their
                                bayonets at the ready, tearing off the women's veils and ripping
                                them to pieces. In 1935, Shah Reza Pahlavi ordered the army to shoot
                                at unarmed demonstrators who were protesting against obligatory
                                western dress. Hundreds of Iranians died that day.

                                Many women, whose mothers had happily discarded the veil, adopted
                                the hijab in order to dissociate themselves from aggressively
                                secular regimes. This happened in Egypt under President Anwar Sadat
                                and it continues under Hosni Mubarak. When the shah banned the
                                chador, during the Iranian revolution, women wore it as a matter of
                                principle - even those who usually wore western clothes. Today in
                                the US, more and more Muslim women are wearing the hijab to distance
                                themselves from the foreign policy of the Bush administration;
                                something similar may well be happening in Britain.

                                In the patriarchal society of Victorian Britain, nuns offended by
                                tacitly proclaiming that they had no need of men. I found my habit
                                liberating: for seven years I never had to give a thought to my
                                clothes, makeup and hair - all the rubbish that clutters the minds
                                of the most liberated women. In the same way, Muslim women feel that
                                the veil frees them from the constraints of some uncongenial aspects
                                of western modernity.

                                They argue that you do not have to look western to be modern. The
                                veiled woman defies the sexual mores of the west, with its strange
                                compulsion to "reveal all". Where western men and women display
                                their expensive clothes and flaunt their finely honed bodies as a
                                mark of privilege, the uniformity of traditional Muslim dress
                                stresses the egalitarian and communal ethos of Islam.

                                Muslims feel embattled at present, and at such times the bodies of
                                women often symbolise the beleaguered community. Because of its
                                complex history, Jack Straw and his supporters must realise that
                                many Muslims now suspect such western interventions about the veil
                                as having a hidden agenda. Instead of improving relations, they
                                usually make matters worse. Lord Cromer made the originally marginal
                                practice of veiling problematic in the first place. When women are
                                forbidden to wear the veil, they hasten in ever greater numbers to
                                put it on.

                                In Victorian Britain, nuns believed that until they could appear in
                                public fully veiled, Catholics would never be accepted in this
                                country. But Britain got over its visceral dread of popery. In the
                                late 1960s, shortly before I left my order, we decided to give up
                                the full habit. This decision expressed, among other things, our new
                                confidence, but had it been forced upon us, our deeply ingrained
                                fears of persecution would have revived.

                                But Muslims today do not feel similarly empowered. The unfolding
                                tragedy of the Middle East has convinced some that the west is bent
                                on the destruction of Islam. The demand that they abandon the veil
                                will exacerbate these fears, and make some women cling more fiercely
                                to the garment that now symbolises their resistance to oppression.
                              • Ari Condro
                                mengapa atlet perempuan Iran ingin mempertontonkan dirinya sedang bergerak lemah gemulai dihadapan penonton dari seluruh penjuru dunia ? pertandingan
                                Message 15 of 22 , Nov 3, 2006
                                • 0 Attachment
                                  mengapa atlet perempuan Iran ingin mempertontonkan dirinya sedang bergerak
                                  lemah gemulai dihadapan penonton dari seluruh penjuru dunia ? pertandingan
                                  internasional macam begini kan disiarkan di seluaruh dunia.

                                  padahal seharusnya, perempuan iran pandai menjaga auratnya dari pandangan
                                  lelaki yang bukan mahromnya. ada apa dengan iran ?



                                  On 11/3/06, Erwin Deguchi <erwindeindo@...> wrote:
                                  >
                                  > Assalamualaikum,
                                  > Dalam Al,Quran sudah turun perintah bagi perempuan dan laki2 untuk
                                  > menutup auratnya. Ada yang sedikit wilayah auratnya (laki2) dan ada
                                  > yang lebih banyak (Perempuan). Ini bukanlah masalah khilafiyah, Ini
                                  > adalah perintah langsung dari Allah. Dan hadist Rasullullah SAW
                                  > menjelaskan tentang aurat tersebut, yang mana saja wilayahnya. Tinggal
                                  > manusianya lagi, apa beriman(patuh) pada Al-Quran dan hadist nabi atau
                                  > tidak.
                                  > Di indonesia cara penutupan auratnya berbeda dengan di Iran atau Saudi
                                  > Arabia. Namanya juga berbeda, di Indonesia disebut Jilbab.
                                  > Bagi yang patuh pada perintah Allah sudah dijanjikan Sorga baginya,
                                  > siapa yang tidak patuh dijanjikan neraka untuknya.
                                  > Kan mudah, tinggal pilih.
                                  > Semoga Allah menunjuki dan membimbing orang2 yang ingin menempuh
                                  > jalan yang lurus.
                                  > S Alfatihah.
                                  > Ih dinassiraa tal mustakim, shiraa tallazi na an am ta'alaihim,
                                  > ghairilmaqhdu bialaihim, waladdhalliin, Amiiin.
                                  > Tunjukilah (Ya Allah) aku jalan yang lurus, yaitu jalan orang2 yang
                                  > engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang yang sesat dan bukan
                                  > pula jalan orang yang engkau murkai. Perkenankanlah ya Allah.
                                  > Surat ini dibaca 17 kali sehari dalam shalat (subuh 2,zohor 4, ashar4,
                                  > magrib 3, dan isya 4).
                                  > Biasanya di negara muslim yang menerapkan syariah islam seperti Saudi
                                  > Arabia ataupun Iran, di setiap pesta, lokasi laki2 berbeda dengan
                                  > lokasi wanita. Ada aurat wanita yang boleh terbuka untuk wanita
                                  > lainnya seperti kaki dan tangan, tapi tidak untuk laki2 yang bukan
                                  > muhrim. Dan ada aurat wanita yang tidak boleh dilihat wanita lainnya
                                  > dan aurat laki2 yang tidak boleh dilihat laki2 lainnya, yaitu
                                  > kemaluannya.
                                  > Wassalam.
                                  >
                                  > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>,
                                  > Nawiro Aisyataini
                                  > <ummu.amiq@...> wrote:
                                  > >
                                  > > Mas ari, kan di postingan yang lain ttg dilema atlit berjilbab, saya
                                  > sebutin kadang antara peraturan dan pelaksanaan berbeda 180 derajat.
                                  > Ketika memasuki wilayah publik harus ngikutin perda akan tetapi ketika
                                  > sudah masuk ke wilayah personal maka negara nggak bisa mencampurinya.
                                  > Ketika di Iran, kita memang harus pakai hijab, akan tetapi ketika ada
                                  > undangan party ya sudah, ada yang modis, pakai rok yang hanya sebatas
                                  > dengkul, jilbabnya dilepas.Dan negara nggak akan mencampurinya kecuali
                                  > tetangga lapor merasa terganggu dengan suasana pestanya. Yang saya
                                  > masih nggak paham adalah ketika kita jelasin betapa perlunya memilih
                                  > jilbab sebagai suatu bentuk kecil ketaatan kita daripada sekedar
                                  > mengikuti pertandingan olahraga, pendapat ini dikatakan sebagai simbol
                                  > memberhalakan jilbab.
                                  >
                                  >
                                  >


                                  [Non-text portions of this message have been removed]
                                • L.Meilany
                                  Cuma sekedar nimbrung : Jika pada suatu saat kita lihat keluarga dekat yg biasanya sholat lantas tiba2 malas sholat? Atau sholatnya bolong2, tidak tepat waktu,
                                  Message 16 of 22 , Nov 3, 2006
                                  • 0 Attachment
                                    Cuma sekedar nimbrung :
                                    Jika pada suatu saat kita lihat keluarga dekat yg biasanya sholat lantas tiba2 malas sholat?
                                    Atau sholatnya bolong2, tidak tepat waktu, pokoknya gak seperti biasanya.
                                    Apa yg kita lakukan? Tanya kenapa? Ngomelin? Kita jadi sedih hati?
                                    Lantas jawaban alasan apa yg kita ingin dengar?

                                    Kalo kita tahu seseorang beragama islam, kemudian pas ketemuan dan jam sholat tiba2 ia gak sholat?
                                    Atau sesekali gak sholat jum'at/jarang ikut jum'atan. Padahal perilakunya baik, suka amal, suka menolong sesama.
                                    Apa yg kita lakukan? Nanya? Ngomelin? Menasehati? Diomongin di gosipin? Dianggap pendosa?

                                    Bagi saya : Begitu juga kiranya dengan masalah jilbab :-))
                                    Mohon maap

                                    salam
                                    l.meilany

                                    ----- Original Message -----
                                    From: irwank
                                    To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
                                    Sent: Wednesday, November 01, 2006 9:14 PM
                                    Subject: [wanita-muslimah] Re: Pengen Baekk, pls..??


                                    Sabar donk bos.. kan ceritanya masih (akan) bersambung. :-p

                                    Quote:
                                    "..
                                    Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk bibi dan
                                    istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
                                    .."

                                    Kalimat di atas cukup sering dilontarkan beberapa kalangan yang mungkin
                                    belum siap mengenakan 'jilbab' (yang kita sedang bahas)..
                                    Kebetulan pas mudik kemarin, Kakak Ipar saya cerita, di dekat rumahnya
                                    ada pengajian baru yang 'aneh'.. Di mana anehnya?

                                    Anehnya tuh yang ikutan pengajian tersebut bilang, buat apa sholat kalau
                                    pikiran masih ingat sama (urusan) dunia dll.. jadi, cukup ingat Allah saja..
                                    gak perlu sholat.. kalau mau sholat, harus bener dulu tuh pikiran.. dsb..
                                    Atau pandangan soal yang penting tuh 'amal baik' dengan sesama
                                    (baca: budi pekerti).. jadi soal ritual itu gak penting/perlu.. atau
                                    kalaupun
                                    penting, syaratnya ya itu tadi.. hatinya harus bener dulu..

                                    Dengan (bekal pemahaman) logika yang sedikit, saya kasih komentar:
                                    Aa, itu teh namanya permainan logika dan filsafat saja.. setahu saya,
                                    filsafat itu membahas sesuatu yang sederhana dengan mendetail dan
                                    terkadang 'rumit'.. Maaf saja, kalau masyarakat di kampung mungkin
                                    masih cukup mudah untuk terbawa 'arus' semacam itu..
                                    Kalo saya yang ketemu, mungkin akan saya coba jawab semampu saya..

                                    Apa kaitannya cerita di atas dengan bahasan soal jilbab?
                                    Saya pribadi tidak sepakat kalau berjilbab/menutup aurat atau menjalankan
                                    perintah agama harus menunggu hati siap dan beres dulu..
                                    Lah wong orang beli barang juga gak harus cash kan.. bisa sambil kredit..
                                    yang penting punya niat (good will) untuk melunasinya gak? :-p

                                    Klo musti cash, yang bisa beli gak banyak donk.. lantas yang bisa masuk
                                    surga cuma orang yang bener saja.. yang pengen, belajar dan belum mampu
                                    (mendukung/tidak menolak tetapi belum bisa menjalankannya) untuk bener
                                    gimana?

                                    Tapi tetap saja, kalau ingin ditiru, mestinya yang menutup aurat/berjilbab
                                    itu
                                    menjaga kelakuannya.. kalau tidak, sangat wajar kalau ada pihak yang
                                    menyoroti kelakuan tersebut.. Gitu maksudnya, bos..

                                    Wallahu a'lam.. CMIIW..

                                    Wassalam,

                                    Irwan.K

                                    On 11/1/06, Rye Woo <rye_woo@...> wrote:
                                    >
                                    > Bung irwank....
                                    > Jadi apa manfaat ceritanya....... menyelesaikan
                                    > masalahh??????????????????????
                                    > kenapa anda yg merasa lebih baik tidak memberi masukan ke tetangga anda
                                    > tsb, .....kalo emang itu salah??? Kan lebih bagus... daripada sekedar
                                    > Ghibahh.....
                                    > Bener ga Boss???
                                    >
                                    > Thx
                                    >
                                    >
                                    > irwank <irwank2k2@... <irwank2k2%40gmail.com>> wrote:
                                    > Tetangga saya berjilbab panjang (ciri kelompok/parpol tertentu?) dan
                                    > suaminya
                                    > sama" bekerja.. di rumah mereka ada pembantu rumah tangga (sekampung)
                                    > dan tinggal bersama di situ.. Baru mulai menjelang bulan romadlon
                                    > kemarin..
                                    > Kerjanya ngurusin semua (nyuci baju, dll) termasuk ngasuh anak mereka (<2
                                    > thn)..
                                    > dan anaknya tersebut (klo ortunya adadi rumah) gak boleh di taruh - harus
                                    > digendong..
                                    > singkatnya harus siap kerja apapun/kapanpun - lah wong tinggal di situ..
                                    >
                                    > Tapi gajinya (pembantu itu) berapa?
                                    > (kalau benar) pengakuan si pembantu sih, cuma 250 ribu rupiah sebulan..
                                    > Alhamdulillah saya membayar orang yang bantu" di rumah (hanya sekitar
                                    > 2-3 jam - jam 7 - sebelum jam 10 pagi) sebesar 200 ribu rupiah sebulan..
                                    >
                                    > Bagimana makannya-dan-lauknya?
                                    > (kalau benar) pengakuan si pembantu sih, seliter (beras) untuk 3-4 hari..
                                    > Kelihatannya pembantu ini cukup berani bicara.. dia cerita ke istri saya
                                    > bahwa dia bilang ke tuan rumahnya, tuh lihat tetangga sebelah (maksudnya
                                    > kami),
                                    > beli beras ke warung 10-20 liter (sekalian biar gak bolak-balik ke
                                    > warung)..
                                    >
                                    > Pernah waktu puasa kemarin sahur dan buka cuma pake paria/pare..
                                    > akhirnya dia harus beli roti di warung (bibi saya) dan jeruk sekedar untuk
                                    > menyenangkan perutnya sendiri.. itupun dengan uang (bekalnya) sendiri..
                                    > dia bawa uang 250 ribu dan sampai habis..
                                    >
                                    > Waktu dia beli jeruk, tuan rumahnya bilang: ngapain beli jeruk banyak"..
                                    > kata dia, lah itu kan buat saya.. suka" saya donk.. lagian pake uang saya
                                    > sendiri.. giliran tuan rumah beli es campur(?) 2 bungkus, ditaruh di
                                    > kulkas
                                    > dan makan sendiri kamar, berdua saja tanpa menawarkan ke dia..
                                    >
                                    > Terakhir (sebetulnya masih banyak yang bisa ditulis), katanya mereka akan
                                    > pulang kampung di hari ke-9 Idul Fitri.. ternyata tidak jadi.. dan tidak
                                    > dibelikan
                                    > tiket pulang sekalian tuan rumah mudik ke kampung halaman mereka..
                                    > masa' pulkam harus pake duit sendiri lagi.. sudah buat makan kurang
                                    > diurus,
                                    > uang jajan gak dikasih.. gaji pas-pasan.. padahal tadinya dia sudah senang
                                    > bakal bisa pulang (dan berhenti bekerja di situ).. namun kelihatannya
                                    > harapan itu hilang, minimal memudar..
                                    >
                                    > Yang kaya' begini yang bikin orang males pake jilbab.. termasuk bibi dan
                                    > istri saya.. katanya yang penting tuh hatinya dulu.. :-(
                                    > Masih pengen nulis, cuma nanti disambung lagi deh.. segini aja udah
                                    > panjang..
                                    > :-)
                                    >
                                    > Wallahu a'lam.. CMIIW..
                                    >
                                    > Wassalam,
                                    >
                                    > Irwan.K
                                    >
                                    > On 11/1/06, Nawiro Aisyataini <ummu.amiq@... <ummu.amiq%40yahoo.com>>
                                    > wrote:
                                    > >
                                    > > Tetap aja belajar, manusiawi kok kalo terkadang kita gak bisa menerima
                                    > > sesuatu di luar kebiasaan kita. Tapi harus dicoba untuk menjalankannya
                                    > > sedikit sedikit meski tidak semua. Teman saya dulu tahu ayat akan jilbab
                                    > > tapi dia merasa belum siap, terus dia bilang, saya tahu jilbab itu
                                    > wajib,
                                    > > tapi kalo sekarang saya masih belum siap. Pendapat semacam ini kata
                                    > ulama
                                    > > masih ditolerir (saat saya tanyakan ke ustadz dan beberapa ulama). Yang
                                    > > terpenting jangan sampai hati kita mengatakan :"hal itu nggak benar atau
                                    > > nggak bisa lagi diterapkan di jaman sekarang. "
                                    > >
                                    > > Salam
                                    > >
                                    > > ----- Original Message ----
                                    > > From: Amze Lea <amze_lea@... <amze_lea%40yahoo.com><amze_lea%40yahoo.com>>
                                    > > Sent: Tuesday, October 31, 2006 1:22:27 PM
                                    > > Subject: [wanita-muslimah] Pengen Baekk, pls..??
                                    > >
                                    > > Rekan2.... saya minta saran nihhh, mungkin ada yg bisa bantu....
                                    > > saya pengen menjalankan perintah Allah secara menyeluruh.. tapi kok
                                    > berat
                                    > > yaaa,,, ada aja halangannya.....
                                    > > contohnya... sering sy ga terima kalo ada ayat/hadist yg sekira2 ga
                                    > > ngenakin buat saya,, trus nyari dehh dalil2, alesan, argumen, yang bisa
                                    > > nguatin nafsu saya.. padahal hati kecil saya emang yang diperintahkan
                                    > itu
                                    > > yang bener... ampe saat ini saya masih ngikutin pola pikir hedon and
                                    > yang
                                    > > penting gw seneng...
                                    > > tuhh gimana yaaa solusinya??
                                    > >
                                    > > trims bngt yaaa sblumnyaa...
                                    >


                                    [Non-text portions of this message have been removed]



                                    =======================
                                    Milis Wanita Muslimah
                                    Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
                                    Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
                                    ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
                                    Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
                                    Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
                                    Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
                                    Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

                                    This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
                                    Yahoo! Groups Links




                                    [Non-text portions of this message have been removed]
                                  Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.