Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Si Jamin dan Si Johan dari masa ke masa

Expand Messages
  • L.Meilany
    Si Jamin dan Si Johan (SJdSJ) adalah karya sastra buah tangan Merari Siregar. Pertama terbit tahun 1921. Hingga tahun 2003, telah mengalami cetak ulang yang ke
    Message 1 of 1 , Oct 3, 2004
      Si Jamin dan Si Johan (SJdSJ) adalah karya sastra buah tangan Merari Siregar.
      Pertama terbit tahun 1921. Hingga tahun 2003, telah mengalami cetak ulang yang ke 27.
      Saya mula pertama membaca kisah ini ketika duduk di kelas 4 SD.
      Ibu yang pertama kali memperkenalkannya, mungkin lantaran Tante -kakak Ibu
      adalah seorang sastrawati angkatan 45.
      Pada mulanya saya enggan membaca buku-buku 'sastra'. Di usia 9 tahun-an saya
      kurang dapat memahami cerita sastra. Lagi pula bukunya tebal-tebal.
      Buku sastra menjadi bacaan wajib baru ketika di SMP.
      Buku-buku semisal Siti Nurbaya, Salah Asuhan terlalu sulit dimengerti. SJdSJ berbeda.
      Bukunya tipis kemudian kisahnya bertutur tentang kehidupan anak-anak seusia saya.
      Tapi justru buku ini yang paling saya sukai sampai sekarang ! Saya sudah berganti
      buku ini mungkin 4 kali!
      Ada yang dipinjam dan tidak dikembalikan. Ada yg koyak karena ketumpahan air teh.
      Ada yang berpindah tangan dari yang satu ke yang lain, akhirnya saya relakan.
      Atau waktu pindahan rumah yang sering, sehingga buku tipis ini terselip entah ke mana?
      Yang mengherankan, sampai saat ini saya masih sering membacanya, dan masih menangis.

      Kali pertama saya membaca kisah SJdSJ, saya sampai menangis tersedu-sedu.
      Jika Ayah dan Ibu saya pergi dinas ke luar kota, saya senantiasa membayangkan bagaimana
      seumpama mereka meninggal. Bagaimanakah nasib saya dan adik-adik?
      Akankah seperti Si Jamin dan Si Johan?
      Saya benar-benar terpengaruh dengan kisah ini, bahkan hingga umur belasan.
      Ada teman sekolah yang beribu tiri. Meskipun dia kelihatannya baik-baik saja, saya selalu
      ingin 'melindungi' nya. Akhirnya malahan saya yang mendapat kesulitan. Dia sering meminjam
      peralatan tulis tanpa pernah di kembalikan dan saya segan untuk memintanya.
      Akhirnya saya yang selalu kena tegur Ibu.

      Ketika Ayah meninggal, menjelang saya berumur 20, saya hampir tidak menangis.
      Rasanya saya ingin tampak tabah di mata adik-adik dan keluarga, tapi tidak berhasil.
      Akibatnya beberapa bulan kemudian saya sakit. Kata dokter keluarga, ini reaksi akumulasi ketakutan
      saya bertahun-tahun. Mestinya jangan di pendam, menangis saja.
      Waktu itu saya mulai belajar menghadapi kenyataan. Bahwa apa yang di ceritakan belum tentu
      sama dengan kenyataan. Apabila kenyataan memang demikian, selalu ada sisi lain yang lebih hikmah.
      Saya dapat memahami makna, bahwa Tuhan tidak membuat sulit seseorang di luar batas
      kemampuannya. Kenyataannya kami mempunyai famili, kenalan yang tetap memperhatikan.
      Ketika kemudian Ibu saya juga meninggal, saya juga tidak merasa sesedih tatkala membaca
      buku SJdSJ.
      Mungkin karena saya wanita dewasa mempunyai pekerjaan, pada kenyataannya terlunta-lunta,
      dipinggirkan tidak saya alami, Alhamdulillah.

      Kalau tidak salah lihat di TVRI setiap Selasa petang ditayangkan sinetron berdasarkan kisah ini.
      Kerjasama rumah produksinya Dewi Yull dengan Balai Pustaka.
      Nurul Ariffin, Cok Simbara, Dorce Gamalama serta 2 anak yang tidak terkenal sebagai tokohnya.
      Cukup bagus sebagai alternatif bagi stasiun televisi lainnya yang menayangkan cerita anak-anak
      penuh hantu, ekploitasi kecacatan fisik yang konyol dan keanehan lainnya.
      Namun demikian, sinetron ini tidak membuat saya terharu. Datar saja. Apalagi judul dan perannya
      di ubah.
      "Si Jamin dan Si Joan", bukan 2 anak laki-laki lagi tetapi seorang anak laki-laki dan anak perempuan.

      Saya tidak pernah mengerti mengapa setiap kali membaca buku ini saya selalu menangis?
      Padahal di kehidupan nyata saya menyaksikan anak-anak serupa 'Si Johan dan Si Jamin'.
      Tapi hampir tak pernah sedikitpun tumpah titik airmata saya.
      Beberapa hari yang lalu, di perempatan Pondok Pinang- Jakarta Selatan saya menyaksikan
      sekerumunan anak laki-laki masih menggunakan seragam sekolah coklat pramuka.
      Ternyata mereka sedang 'ngelem' [ menghirup bau lem biasanya merk 'aica aibon' ].
      Ketika saya terheran-heran, mengapa uang yang mereka dapat dari 'icik-icik' [ ngamen dengan
      musik tutup botol], mengelap mobil, atau mengemis tidak dipergunakan untuk membeli makanan?
      Mereka menjawab : " Enakan ngelem, bisa mimpi indah, kan kagak nyabu......"
      Ya Allah, padahal menghirup bau lem itu juga bisa merusak pernafasan.
      Kemudian ketika saya terjebak di jalan tol yang tengah di bangun, ada anak perempuan 10 tahunan
      yang mengamen dengan 'icik-icik'.
      Senja temaram, namun saya jelas melihat, tangan [ pria tentunya ] terulur dari jendela mobil
      memberi uang, sambil meremas-remas payudara si anak perempuan yang belum tumbuh.
      Sementara teman-temannya juga seorang ibu pengemis dengan bayi di gendongannya hanya
      tertawa-tawa melihatnya. Sepertinya hal demikian adalah biasa.

      Saya pernah membaca di harian ibukota. Banyak anak-anak tunawisma yag semula kena razzia
      dan dititipkan di rumah singgah banyak yang 'kabur'. Mereka lebih senang dengan kehidupan bebas
      merdeka di jalanan. Meskipun ini bukan gambaran keseluruhan.
      Jadi tampaknya kisah SJdSJ yang mengharubiru perasaan saya bukan gambaran nyata pada sosok
      anak-anak jalanan, anak-anak miskin di masa kini.

      03102004
      l.meilany


      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.