Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kolom IBRAHIM ISA - BAGAIMANA MEMAHAM I TIONGKOK “DULU” DAN SEKARANG,,BERANIK AH MENJADIKAN TIONGKIOK SEBAGAI TELADAN?

Expand Messages
  • isa
    Kolom IBRAHIM ISA Kemis, 05 Januari 2012 ... *BAGAIMANA MEMAHAMI TIONGKOK “DULU” DAN SEKARANG* *BERANIKAH MENJADIKAN TIONGKIOK SEBAGAI TELADAN?* Masalah
    Message 1 of 1 , Jan 5, 2012
    • 0 Attachment
      Kolom IBRAHIM ISA
      Kemis, 05 Januari 2012
      ----------------------


      *BAGAIMANA MEMAHAMI TIONGKOK “DULU” DAN SEKARANG*

      *BERANIKAH MENJADIKAN TIONGKIOK SEBAGAI TELADAN?*


      Masalah ini: – Bagaimana Memahami Tiongkok “Dulu” dan sekarang,
      pandangan dan sikap terhadap Tinongkok dan bangsa Tionghoa, terhadap
      orang-orang Tionghoa perantau, yang kebanyakan sudah berintegrasi atau
      berasimilasi dengan tanah-airnya yang baru dimana mereka telah hidup
      turun-temurun selama ratusan tahun, -- masalah ini dari dulu sampai
      sekarang masih tetap ramai dibicarakan dan diperdebatkan di berbagai
      kalangan, oleh berbagai pakar, politisi maupun oleh para
      'teoretikus-teoretikus' tentang Tiongkok, baik yang lama maupun yang baru.


      Mengapa TIONGKOK semakin menjadi perhatian dunia? Dikatakan penyebab
      utamanya ialah , karena Tiongkok semakin besar peranan dan pengaruhnya
      di dunia internasional dan dalam percaturan politik di dalam dan di luar
      PBB. Perlu dicatat bahwa meskipun tidak kurang tulisan dan analisis
      mengenai Tiongkok yang setiap tahun bertambah terus, yang mengambil
      posisi tidak bersahabat bahkan antagonis terhadap Tiongkok --- namun,
      tidak sedikit pula – yang berusaha obyektif. Obyektif dalam memahami
      BAGIMANA TIONGKOK “DULU” dan sekarang. Juga berusaha melihat Tiongkok
      dng berusaha memahami pandangan orang-orang Tiongkok sendiri, dulu dan
      sekarang.


      Banyak buku, hasil studi atau penyimpulan pengalaman sendiri dalam
      berkomunikasi dengan Tiongkok, YANG OBYEKTIF demikian itu. Paling tidak
      yang tidak apriori, berprasangka ataupun memusuhi.


      * * *


      Aku mulai saja dengan pandangan dan sikapku sendiri terhadap Tiongkok.
      Bagaimana sikap Anda terhadap Tiongkok sekarang?, tanya seorang kawan.
      Kan Anda sekeluarga bermukim di Tiongkok tidak kurang dari duapuluh
      tahun lamanya. Mestinya punya kesan yang menarik? Begitu tanya berbagai
      fihak kepadaku. Pernah wartawan radio Vara dari Hilversum juga
      mengajukan pertanyaan setengah nyindir demikian kepadaku, ketika
      mewawancarai aku berkenaan dengan ultah ke-60 RRT.


      Pengenalanku cukup lama! Aku kenal orang-orang Tiongkok, wakil-wakil
      organisasi pemuda Tiongkoik, pertama-tama dalam suatu pertemuan
      internasional tahun 1952 di Kopenhagen, Denmark. Ketika itu pelbagai
      organisasi pemuda dunia sedang mempersiapkan Konferensi Pemuda Sedunia.
      Tiongkok masih dalam posisi 'terisolasi' di dunia internasional yang
      dikuasai Barat. Kursi Tiongkok di PBB, karena dukungan kuat AS dan
      sekutu-sekutunya, masih diduduki oleh utusan rezim Chiang Kaishek
      (Kuomintang) di Taiwan.


      Pada periode itulah aku mulai berkomunikasi, belajar kenal dan
      bekerjasama dengan orang-orang Tiongkok Baru. Selanjutnya komunikasi dan
      kerjasama itu diteruskan di pelbagai konferensi internasional untuk
      perdamaian dunia (1952-1960).


      Kemudian di Sekretariat Tetap Organisasi Setiakawan Rakyat-Rakyat
      Asia-Afrika di Cairo, Mesir (1960-1965). Ketika kekuasaan pemerintahan
      dan negara di bawah Presiden Sukarno dikup oleh Jendral Suharto, dan
      kami sekeluarga dicabut paspornya oleh penguasa Indonesia, kami
      sekeluarga pindah ke Beijing. Itu terjadi atas undangan Lembaga
      Persahabatan Tiongkok Dengan Luarnegeri.


      Duapuluh tahun di Tiongkok(1966-1986) bermukim di Tiongkok, mengalami
      masa yang paling dahsyat di Tiongkok, yaitu periode Revolusi Kebudayaan,
      membuat aku lebih mengenal Tiongkok dan orang-orang Tionghoa dari dekat.
      Mereka-mereka yang terlibat dalam urusan pemerintahan dan pelbagai
      organisasi masyarakat.


      Kesan-kesanku telah sedikit-sedikit kutulis di media ini. Juga telah
      kusampaikan dalam pelbagai wawancarea dengan media internasional maupun
      di pertemuan-pertmuan diskusi. Di bawah ini disiarkan kembali salah satu
      dari kesanku tentang Tiongkok. Yang kutulis lima tahun yang lalu.


      Ketika kami meninggalkan Tiongkok pindah ke Belanda, sahabat-sahabat
      kami orang Tiongkok, menyatakan: BUNG ISA ADALAH SAHABAT KAMI, SAHABAT
      LAMA, silakan datang lagi ke Tiongkok bila ada kesempatan. Kesempatan
      itu terjadi pada tahun 1998. Ketika kami berkunjung lagi ke Tiongkok,
      setelah 10 tahun meninggalkan negeri itu, Tiongkok telah mengalami
      perubahan dan kemajuan besar sekali di pelbagai bidang kehidupan
      rakyatnya. Kemajuan luar biasa telah dicapai di bidang modernisasi
      kehidupan: Teknologi, ilmu, industri, pertanian, pertahanan serta di
      bidang-bidang lainnya.


      Kutanyakan mengenai PERUBAHAN BESAR yang telah terjadi di Tiogkok.
      Sahabat-sahabatku orang-orang Tiongkok menjawab dengan rendah hati: Apa
      yang kami lakukan di Tiongkok sekarang adalah experimen, Kami tidak bisa
      dan tidak akan menempuh 'jalan sosialisme' Uni Sovyet atau negeri
      manapun. Kami harus menempuh 'jalan sosialis Tiongkok' sendiri. Kami
      berhak untuk menemukan jalan kami sendiri. Yang penting kami harus
      mengurus makan, tempat tinggal, lapangan kerja, pendidikan dan kesehatan
      lebih dari satu milyar orang Tionghoa. Ini tanggungjawab utama kami.
      Untuk itu Tiongkok harus berjuang dan berjuang. Harus berani bereksperimen.


      Bagaimana Anda memandang Tiongkok sekarang? Tanya sang wartawan yang
      tadi itu. Kujawab tegas. BAGI INDONESIA, MENJALIN HUBUNGAN BAIK DAN
      KERJASAMA SALING MENGUNTUNGKAN, MENGGALANG PERSAHABATAN DENGAN TIONGKOK
      ADA LAH MAHA PENTING dalam melaksanakan politik luar negerinya. Dalam
      berhubungan dengan Tiongkok aku bukan tidak punya pendapat sendiri
      mengenai hal-hal tertentu, kataku kepada wartaan Belanda itu. Tetapi itu
      selalu kuajukan langsung kepada yang bersangkutan. Dan ini mereka terima
      dengan baik!*Kita harus menempatkan hubungan kerjasama dan persahabatan
      antara Indonesia dan Tiongkok selalu pada tempat pertama.*



      * * *


      Di hadapanku ada dua buku baru mengenai Tiongkok: Yang satu dipinjamkan
      oleh seorang sahabat. Berjudul “CHINA MET ANDERE OGEN”, dalam bahasa
      Indonesia kira-kira begini: “ MELIHAT TIONGKOK DENGAN PANDANGAN LAIN”.
      Penulisnya, Annette Nijs. Ia mengenal Tiongkok dari penglamannya
      berhubungan dengan Tiongkok. Dalam dunia bisnis dan pendidikan tinggi.
      Untuk itu dalam sebulan paling tidak ia seminggu berada di Tiongkok. Ini
      dilakukannya sudah bertahun-tahun.


      Buku yang satunya ditulis oleh penulis Belanda terkenal Jan van der
      Putten. Berjudul : TIONGKOK YANG MENGAGUMKAN. SEBUAH KEKUATAN DUNIA
      MACAM LAINNYA. Mengenai buku ini lain kali kita bicarakan.


      Mari kita sedikit ungkap apa yang ditulis oleh Annette Nijs:


      Dalam kata pengantar bukunya, Annette Nijs menulis al sbb: “Kita
      membaca, melihat dan banyak mendengar: -- Tentang Tiongkok yang tidak
      melakukan pemilihan umum; Tentang korupsi dan skandal-skandal lainnya,
      terutama yang dilakukan oleh kaum politisinya; Tentang
      perusahaan-poerusahaan Tiongkok yang mencuri teknologi Barat; Tentang
      perusahaan-perusahaan raksasa Tiongkok, yang dengan koper penuh duit,
      mencari perusahaan-perusahaan Barat untuk dibelinya; Tentang
      jurnalis-jurnalis Tiongikok dan Barat yang tidak bisa menulis semua yang
      mereka inginkan; Tentang pemberontakan—pembrontakan kecil dan besar di
      dalam dan di luar Tibet dan Urumqi; Tentang pengotoran luar biasa
      sungai-sungai dan udara sumpek di Beijing dan Shanghai, yang tampaknya
      tidak berkurang; Tentang kaum buruh tambang Tiongkok yang tewas karena
      tambangnya runtuh; Tentang mainan anak-anak dan makanan produk susu di
      supermark Tiongkok yang mungkin membahayakan nyawa anak-anak; Tentang
      warga Tiongkok yang rumahnya digusur dan mereka harus pergi dari situ,
      karena akan dibangun gedung pencakar langit di situ; dan Tentang
      pengekangan terhadap kebebasan mengakses internet di computer, dsb.dsb.


      Annette Nijs menulis bahwa ia tahu tentang itu semua. Tidak ada maksud
      untuk menyembunyikannya. Dan Tiongkok harus berbuat benyak untuk
      mengubah hal-hal tsb. Tetapi saya tidak hendak memasuki soal-soal itu,
      kata Annette.


      Mengapa? Sebabnya ialah karena saya anggap baik (bagi orang Belanda),
      bila lebih banyak lagi yang dengan cara lain – dengan mata lain – berani
      melihat Tiongkok. Ini baik! Karena saya adalah satu orang dari banyak
      yang berpendapat bahwa mungkin sekali abad ke XXI ini adalah 'ABADNYA
      TIONGKOK'. Oleh karena itu lebih baiklah untuk mengetahui mengenai
      perkembangan terakhir Tiongkok. Kalau tidak akan ketinggalan dengan
      berkembangnya fakta-fakta. Adalkah baik untuk menjadikan Tiongkok
      sebagai teladan.


      Buku Annette Nijs terdiri dari tiga bagian: Negara yang sedang belajar –
      tentang KEDAMAIAN LANGIT. Tentang Sukses berbisnis – tentang kekayaan
      yang mulya. Dan tentang kehidupan dan dimenangkannya kembali kebebasan.


      Yang kita bicarakan di atas dimaksudkan sebagai bahan pertimbangan
      semata. Agar seperti dianjurkan oleh penulis Annette Nijs, BERANI
      MELIHAT TIONGKOK DENGAN CARA PANDANGAN YANG LAIN.


      Di bawah ini adalah sebagian dari pandanganku tentang Tiongkok.


      * * *

      Kolom IBRAHIM ISA
      Kemis, 28 Juni 2007
      -------------------


      TIONGKOK YANG KUKENAL (4)
      <Suatu Tuturan dan Refleksi>



      Tuturan santai ini, adalah kelanjutan dari serentetan tulisanku berjudul

      'TIONGOK YANG KUKENAL'. Ia dimaksukan sebagai suatu pembeberan dan

      refleksi kesan-kesan mengenai Tiongkok. Begitu banyak komentar dan

      tulisan; begitu berragam buku, film dan hasil karya seni, mengenai satu

      negeri itu: -- Tiongkok. Kalau kita baca bahan-bahan yang banyak ditulis

      orang tentang Tiongkok dan bangsa Tionghoa yang berdiam di Republik

      Rakyat Tiongkok daratan, --- sungguh menakjubkan. Karena, begitu

      beraneka ragam dan bervariasi posisi dan titik tolak serta pendapat

      orang mengenai negeri dan bangsa berkebudayaan kuno itu. Begitu

      memancing orang untuk berargumentasi.



      Sebagai contoh: Tentang nama saja, --- apakah negeri itu tepatnya disebut

      Tiongkok atau Cina, --- atau lebih baik dinamakan China (mengikuti orang

      Inggris), mengenai itu saja sudah ada perbedaan pendapat. Begitu juga

      mengenai nama apa yang semestinya digunakan untuk menyebut bangsa itu,

      apakah bangsa Tionghoa, bangsa Chinese atau bangsa Cina?



      Penyebutan nama menjadi ramai dibicarakan lagi, terutama sesudah

      jatuhnya Presiden Suharto. Asal-muasal timbulnya soal, dimulai pada mula

      kekuatan militer di bawah Jendral Suharto menggeser Presiden Sukarno,

      mengambil oper kekuasaan atas Republik Indonesia, dan mendirikan Orde

      Baru. Orang tidak akan melupakan suasana tegang dan mengenaskan,

      menyinggung rasa harga diri dan perasaan, ketika pemerintah Orba

      melarang penggunaan bahasa Tionghoa, tidak membolehkan nama-nama

      Tionghoa digunakan untuk toko-toko, jalan-jalan dan apa saja. Suratkabar

      dan penerbitan lainnya dalam bahasa Tionghoa ditutup. Juga

      sekolah-sekolah Tionghoa dihentikan. Bahkan nama orangpun dengan satu

      atau lain cara diusahakan oleh penguasa supaya diubah, dari nama

      Tionghoa, menjadi nama 'a s l i' Indonesia.



      *Apapun alasan atau dalih yang dikemukakan untuk membenarkan politik Orba*

      *demikian itu, inti sari kebijaksanaan Orba itu adalah d i s k r i m i n
      a s i *

      *dan r a s i s m e yang ditujukan terhadap warganegara Indonesia*

      *turunan etnis Tionghoa. Dengan sendirinya muncul pula dampak negatifnya*

      *terhadap hubungan kenegaraan kedua negeri*



      * b * *



      Tidak sedikit tulisan dan pendapat yang diajukan mengenai Tiongkok dan

      bangsa Tionghoa (khususnya) yang di daratan, ----- bertolak dari suatu

      sikap yang merasa 'takut' terhadap Tiongkok. Sebab, fihak-fihak yang

      dulu menguasai, mendominasi dan mengeksploitasi Tiongkok, menyaksikan

      bagaimana Tiongkok yang sekarang ini, bukan lagi 'the sick man of Asia'.

      Bukan lagi Tiongkok 'tempo doeloe', tetapi Tiongkok Baru yang lain

      samasekali. *Tiongkok yang sekarang ini, sejak 1 Oktober 1949, sudah*

      *menjadi suatu kekuatan politik, ekonomi dan militer di Asia yang selalu*

      *harus diperhitungkan. Terutama oleh Amerika, Jepang dan Eropah, yang*

      *begitu lama mendominasi Asia sebelum Perang Dunia II.*



      Mencerminkan kekhawairan yang begitu mendalam, sehingga ada yang

      menamakan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai 'the new superpower',

      'negara adikuasa yang baru'. Makanya, kata mereka, Tiongkok harus

      'diwaspadai'. Kekhawatiran dan ketakutan tsb terutama disebabkan oleh

      berdirinya suatu Tiongkok yang kuat yang berani melawan setiap usaha

      untuk mendominasinya. Bertambah besar kekhawatiran itu, dalam

      tahun-tahun belakangn ini disebabkan oleh cepat lajunya pertumbuhan

      ekonomi Tiongkok, yang luar biasa sejak Deng Xiaobing memegang tampuk

      pimpinan pemerintah dan negara. Dengan bertambah kuatnya ekonomi

      Tiongkok, juga kekuatan militernya ditakuti. Ketakutan dan kekhawatiran

      itu, bila ditelurusuri ke belakang, hal itu tak lepas dari konsep dan

      strategi 'politik perang dingin'. Dikatakan juga kekhawatiran itu

      disebabkan oleh semangat 'politik perang dingin' dalam kondisi dan

      situasi baru.



      Politik 'perang dingin' di Asia, sejak semula, terutama ditujukan

      terhadap Republik Rakyat Tiongkok. Mengapa RRT dijadikan sasaran utama

      strategi 'perang dingin' fihak Barat, di Asia, -- sebab utamanya ialah,

      karena Tiongkok ada dibawah kekuasaan Partai Komunis. Sebagai negeri

      yang dipimpin oleh Partai Komunis, diperhitungkan pasti ada dalam satu

      blok dengan Uni Sovyet. Menurut Barat Blok Sovyet dalam persaingannya

      dengan blok Barat punya ambisi untuk menghancurkan Barat dengan sistim

      ekonomi kapitalisnya, kemudian menguasai dan mengkomuniskan seluruh dunia.



      Perkembangan kemudian ternyata menunjukkan bahwa, perhitungan Barat itu

      meleset samasekali. Ternyata RRT adalah suatu negara, suatu kekuatan di

      Asia yang tidak tunduk pada siapapun. Tidak (lagi) tunduk pada Barat

      atau pada Jepang seperti pada periode sebelum Perang Dunia II. Dikatakan

      bahwa di dalam blok Sovyet dimana RRT tergabung, pemimpinnya adalah Uni

      Sovyet. Nyatanya RRT tidak tunduk pada Uni Sovyet. Tiongkok bukan saja

      bertolak-belakang dengan Uni Sovyet, tapi, bahkan sampai terlibat dalam

      konflik bersenjata dengan Uni Sovyet. Yang dikenal sebagai perang

      perbatasan antara RRT dan Uni Sovyet(1969).



      *Ditelaah secara seksama, konflik-konflk militer, yang terjadi antara RRT*

      *dengan tetangga-tetangganya, seperti dengan India (1962), kemudian*

      *dengan Sovyet(1969) lalu dengan Vietnam Utara (1979), --- semua itu*

      *adalah konflik-konflik militer atau perang yang menyangkut masalah*

      *perbatasan*. Semua itu adalah perang perbatasan. Daerah atau wilayah

      tertentu yang dikuasai oleh Tentara RRT ketika perang perbatasan dengan

      India, dengan Sovyet maupun dengan Vietam Utara, --- itu semua

      menyangkut masalah perbatasan. Perang dimana terlibat RRT itu semua

      bukan perang agresi untuk menguasai negeri lain. Makanya, melalui

      perundingan damai, bisa dicapai penyelesaian, meskipun belum sepenuhnya

      tuntas.



      Bisalah disimpulkan bahwa konflik-konflik militer itu, semua menyangkut

      masalah yang merupakan problim sisa-sisa zaman ketika imperialisme

      menguasai Tiongkok dan Asia. Ketika wilayah Tiongkok dikacau dan

      dibagi-bagi, perbatasan serta daerah pengaruh ditentukn seenaknya oleh

      imperialisme. Sedangkan bagian-bagian tertentu dari wilayah Tiongkok

      menjadi daerah konsesi negeri asing tsb, atau bahkan menjadi koloni

      seperti Manchuria (dikuasai Jepang), Hongkong (jadi koloni Inggris) dan

      Macau (jadi koloni Portugis).



      Bahkan 'Perang Korea' (1950-1953), yang mulanya terjadi antara Korea

      Selatan versus Korea Utara, kemudian berkembang menjadi suatu peperangan

      terutama antara Tiongkok-Korea Utara dengan bantuan Sovyet, melawan

      AS-Korea Selatan dan sekutu-sekutu Barat. Dalam Perang Korea, RRT

      menurunkan 'Tentara Sukarelawan'-nya, sesungguhnya adalah untuk MENJAMIN

      KEAMANAN PERBATASAN di sepanjang TIONGKOK-KOREA. Bisa diasumsikan bahwa

      bagi Tiongkok, Perang Korea samasekali tidak ada sangkut pautnya dengan

      usaha untuk mencaplok wilayah negeri lain, apalagi sebagai usaha untuk

      'menyebarkan faham Komunisme'.



      * * *



      Politik Barat terhadapTiongkok itu dikenal populer sebagai 'China

      containment policy', 'politik mengekang Tiongkok'. Dari perumusan itu,

      orang didorong untuk menyimpulkan bahwa Tiongkok itu adalah suatu

      kekuatan yang agresif. Padahal sejak seratus tahun ke belakang, Tiongkok

      selalu didominasi dan dieksploitasi oleh imperialisme Barat dan Jepang.

      Pernah pula Tiongkok di intervensi oleh belasan tentara intervensionis

      asing, dengan tujuan untuk membagi-bagi serta mendominasi dan

      mengeksploitasi Tiongkok. Tokh, gampang-gampangan saja sementara fihak

      menuduh Tiongkok itu sejak dulu agresif dan berambisi untuk menguasai

      negeri lain.



      * * *



      Ketika dilangsungkan Konferensi Asia-Afrika yang bersejarah di Bandung

      (1955), Perdana Menteri Zhou En-lai, dengan jelas sekali mengutarakan

      politik luarnegeri Tiongkok. *Politik luarnegeri Tiongkok, bertolak dari*

      *prinsip-prinsip yang kemudian dirumuskan oleh Presiden Sukarno*

      *(Indonesia), PM Nehru (India), PM U Nu (Birma), John Kotelawala (Ceylon)*

      *dan PM Ali Khan (Pakistan), bersama dengan 24 negeri-negeri Asia dan*

      *Afrika lainnya, dalam PRINSIP-PRINSIP BANDUNG, 10 Prinsip Hidup*

      *Berdampingan antara negeri-negeri yang merdeka dan berdaulat.*



      Dokumen bersejarah Konferensi Asia-Afrika Bandung mencatat, kata-kata PM

      Zhou Enlai dalam Konferensi, a.l., sbb: Delegasi Tiongkok datang ke

      Konferensi Bandung dengan kehendak kuat untuk perdamaian dan

      persahabatan. Disebabkan oleh serangan-serangan yang dilontarkan oleh

      sementara delegasi, dimana hadir Delegasi Tiongkok, yang ditujukan

      terhadap komunisme sebagai 'diktatorial' dan 'neo-kolonialisme', bahkan

      mencurigai Tiongkok melakukan kegiatan subversi terhadap negeri-negeri

      tetangganya, PM Zhou Enlai menyatakan dengan tegas, bahwa:



      *Delegasi Tiongkok datang kemari (Bandung) untuk mencari persatuan dan*

      *bukan untuk bersengketa, untuk mencari landasan bersama dan bukan untuk*

      *menciptakan perbedaan-perbedaan. Di antara negeri-negeri Asia dan Afrika*

      *dan rakyat-rakyatnya terdapat landasan bersama yang didasarkan atas*

      *kenyataan bahwa sebagian besar negeri-negeri dan rakyat-rakyt Asia dan*

      *Afrika, menderita dan masih menderita dari bencana kolonialisme. Tak*

      *peduli apakah dipimpin oleh kaum komunis ataupun nasionalis*

      *negeri-negeri ini mencapai kemerdekaannya dari kolonialisme.*



      PM Zhou: -- Kita harus mencari dan mencapai saling pengertian dan saling

      menghormati satu sama lain, bersimpati dengan dan mendukung satu sama

      lainnya dan bahwa Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai dapat

      sepenuhnya menjadi dasar bagi kita semua untuk mencapai hubungan

      persahabatan, kerjaasma dan bertangga-baik.



      Politik luarnegeri RRT terhadap negeri-negeri tetangga Asia-Afrika yang

      mengutamakan persamaan besar dan menyisihkan perbedaan, sesuai dengan

      politik luarnegeri RI ketika itu, maka bersama telah menyelamatkan

      Konferensi Bandung dari terseret pada kontroversi mengenai komunisme dan

      diktatur serta tuduhan-tuduhan subversi.



      * * *



      Telah ditelusuri politik luarnegeri Tiongkok terhadap negeri-negeri

      lain, khsususnya terhadap negeri-negeri Asia-Afrika. Telah kita kenal

      politik luarnegeri Republik Indonesia sejak proklamasi kemerderkaan

      Indonesia. Telah kita saksikan pula kerjasama yang baik antara Delegasi

      Indonesia dan Delegasi RRT dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955).



      *Dari situ bisa dikonstatasi bahwa politik luarnegeri Republik Indonesia*

      *di bawah Presiden Sukarno terhadp RRT, adalah politik luarnegeri yang*

      *brinsip dan konsisten, didasarkan atas prinsip-prinsip bebas mandiri dan*

      *bertetangga baik, atas dasar soliaritas A-A dalam perjuangan melawan*

      *kolonailisme dan mempertahankan kemerdekaan dan perdamaian dunia.*

      *Prinsip-prinsip tersebut kemudian dirumuskan bersama oleh semua peserta*

      *Konferensi Asia-Arika (1955), dalam Prinsip-Prinsip Bandung.*



      Dengan demikian, perkembangan hubungan RI-RRT tahun-tahun belakangan

      ini, terutama pada periode pasca Suharto, perlu disambut baik. Karena

      hal itu memperbesar dan memperluas bidang-bidang kerjasama antara kedua

      negeri. Suatu perkembangan yang mempererat tali perasahabatan, memajukan

      hubungan ekonomi dan kebudayaan. Suatu politik yang punya latar belakang

      sejarah yang cukup lama, yaitu sejak berdirinya RI dan RRT.


      *Suatu politik yang tidak terprovokasi oleh kecohan-kecohan sementara fihak*

      *yang ditujukan untuk merusak hubungan baik dan bersahabat antara*

      *Indonesia dan Tiongkok*. * * *
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.