Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kolom IBRAHIM ISA - KAUM PEREMPUAN KITA DI SAUDI DAN EMIRAT Hidup di Zaman – PERBUDAKAN! - SIAPA MEMBELA HAK -HAK MEREKA SBG PEREMPUAN?

Expand Messages
  • isa
    Kolom IBRAHIM ISA Kemis, 22 Desember 2011 ... KAUM PEREMPUAN KITA DI SAUDI DAN EMIRAT Hidup di Zaman – PERBUDAKAN! SIAPA MEMBELA HAK -HAK MEREKA SBG
    Message 1 of 1 , Dec 23, 2011
    View Source
    • 0 Attachment
      Kolom IBRAHIM ISA
      Kemis, 22 Desember 2011
      ------------------------


      KAUM PEREMPUAN KITA DI SAUDI DAN EMIRAT Hidup di Zaman – PERBUDAKAN!
      SIAPA MEMBELA HAK -HAK MEREKA SBG PEREMPUAN?
      <Dalam Rangka Memperingati HARI IBU, 22 Desember 2011


      * * *

      Menghiasi maraknya Peringatan Hari Ibu 22 Desember, 2011, tulisan Bonnie
      Triyana di Historia Online, hari ini, memenuhi harapan. Bonnie
      menelusuri latar belakang sejarah HARI IBU di Indonesia. Mengapa itu
      diperingati? Bahwa adalah Presiden Sukarno yang dalam tahun 1959,
      melalui dekrit Presiden menetapkan 22 Desember sebagai HARI IBU INDONESIA.


      Untuk memperoleh gambaran yang utuh menngenai tulisan Bonnie Triyana
      tsb. paling baik adalah mengakses majalah “HISTORIA ONLINE” hari ini.
      Dan membacanya sendiri!


      * * *


      Ada satu paragraf yang patut jadi perhatian khusus apa yang ditulis
      Bonnie Triyana. Dikutip di bawah ini para yang dimaksud, sbb:


      “Dinamika gerakan perempuan makin menguat seiring makin bersatunya
      orientasi mereka terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan.
      Perempuan tak lagi berdiam di dapur atau pasrah menerima nasib yang
      terjadi pada diri mereka. Sejumlah advokasi terhadap perempuan korban
      pertikaian rumah tangga dilakukan oleh organisasi-organisasi perempuan
      anggota kongres perempuan. Perempuan Indonesia, sejak 22 Desember 1928
      memasuki ranah perjuangan politik praktis, sebuah wilayah yang
      sebelumnya tabu mereka masuki karena nilai-nilai tertentu di dalam
      masyarakat yang tak memungkinkan mereka bergerak aktif memperjuangkan
      hak-haknya.”


      Mengenai yang dikemukakan Bonnie, bahwa: -- “Dinamika gerakan perempuan
      makin menguat seiring makin bersatunya mereka terhadap
      persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan”.


      Ditinjau secara umum dan menyeluruh, memang demikianlah adanya.


      Tokh, -- perlu perhatian khusus mengenai nasib kaum perempuan Indonesia
      yang bekerja di luarnegeri, tertistimewa yang pergi merantau jauh di
      Arab Saudi dan Emirat.


      Berita-berita mengenai nasib kaum perempuan Indonesia yang diperas
      habis-habisan, diperlakukan sewenang-wenang, diperkosa dan dianiaya oleh
      majikan-majikan serta makelar-makelar pekerja rumah tangga, baik yang di
      Indonesia maupun uang di Arabia, tak terkira banyaknya. Belakangan ramai
      diberitakan mengenai hukuman pancung terhadap pekerja rumah tangga
      perempuan Indonesia yang dianiayai oleh majikan, kemudian sebagai bela
      diri dan perlawanan telah membunuh majikannya. Dan masih banyak lagi
      yang akan jadi korban 'hukum pancung Arab Saudi'.


      Respons dan perlawanan konsisten dari fihak Indonesia, apalagi fihak
      pemerintah, terhadap ketidak adilan yang menimpa kaum perempuan
      Indonesia, saungguh tidak memadai.


      Bukankah para pekerja rumah tangga Indonesia yang demi mencari nafkah
      untuk keluarga mereka yang hidup miskin itu, banyak diantaranya adalah
      ibu-ibu di rumah mereka sendiri, di kampung halaman Indonesia, ---
      berhak dibela dengan palbagai cara, baik oleh aksi-aksi langsung
      organisasi masyarakat, maupun cara diplomatik oleh fihak pemerintah?


      * * *


      Kebetulan sekali, --- hari ini aku baca di sebuah surat kabar Belanda,
      “De Volkskrant”, sebuah artikel yang sungguh menarik dan penting.
      Menarik dan penting, khususnya bagi kita orang-orang Indonesia. Karena
      tulisan tsb menyangkut langsung nasib kaum perempuan Indonesia yang
      bekerja sebagai TKI di Saudi Arabia dan Emirat.


      Untuk memperoleh gambaran betapa seriusnya nasib kaum perempuan
      Indonesia yang mencari nafkahnya di Saudi dan Emirat, harian “de
      Volkskrant“ memuatnya di halaman pertama rubrik luarnegeri koran tsb.
      Separuh paginanya adalah sebuah foto yang menggambarkan dua orang
      perempuan Indonesia yang sebentar lagi kepalanya akan dipenggal oleh dua
      orang algojo Arab Saudi. Lokasinya? --- Tidak salah lagi, --- di Saudi
      Arabia. Dua algojo itu pakai kedok, sedangkan dua orang perempuan
      korban, seluruh kepalanya ditutup kain hitam. Di belakang tampak
      beberapa orang membawa slogan-slogan: Antara lain berbunyi STOP EKSPOR
      PRT (Mungkin maksudnya Pembantu Rumah Tangga), “Bangun Solidaritas thdp
      Perempuan . . . (selanjutnuya kurang jelas teks berikutnya, karena
      tertutup oleh foto sang algojo.


      Benar, gambar yang dimuat s.k.”deVolkskrant”: itu adalah sebuah foto
      mengenai demonstrasi yang diadakan di Yogyakarta. Aksi demo itu mengutuk
      dipenggalnya leher seorang prempuan TKI yang dituduh telah membunuh
      majikannya di Arab Saudi. Tindakan TKI itu adalah reaksi atas
      penganiayaan dan pemerkosaan yang dilakukan sang majikan Saudi terhadap
      dirinya.

      * * *


      Seorang promovenda Belanda, Antoinette Vlieger, Rabu kemarin meraih
      titel doktoralnya, dengan tema:


      “PEMBANTU RUMAH TANGGA DI ARABIA ADALAH BUDAK-BUDAK”


      Dengan sendirinya, sebagai orang Indonesia, kita merasa lebih tertarik
      pada tulisan “de Volkskrant” ini, karena yang menjadi fokus sorotan
      adalah mengenai nasib pekerja rumah tangga di Arab Saudi dan di Emirat
      (United Arab Emirat). Yang berbangsa INDONESIA, Filipina dan Bangladesh.


      Tulis Antoinette Vlieger, “Pemerasan dan perlakuan sewenang-wenang
      terhadap pekerja rumah tangga asal luarnegeri, di Arab Saudi dan Emirat
      benar-benar keterlaluan. Mereka tak punya hak apapun”.”Seorang pekerja
      rumah tangga formilnnya bukan barang yang dimiliki, tetapi kenyataannya
      begitu!.”



      Antoinette bermukim 7 bulan lamanya di Arab Saudi dan Emirat untuk
      melakukan riset terhadap masalah pekerja rumah tangga asing di kedua
      negeri itu. Hasil risetnya sungguh mengungkap lebih lanjut betapa
      PRAKTEK ZAMAN PERBUDAKAN masih berlangsung di Arab Saudi dan Emirat.


      Suatu ketika Antoinette berpura-pura sebagai orang yang memerlukan
      pembantu rumah tangga. Ia mengunjungi kantor makelar yang mengelola
      perdagangan budak ini. Bukan main terkejutnya Antoinette, ketika sang
      makelar tanpa malu maupun tedeng aling-aling, mengatakan kepada
      Antoinette: Kalau Anda menjemputnya (maksud pembantu rumah tagga) dari
      lapangan terbang, maka ia adalah b u d a k Anda. Lanjut sang makelar:
      Ambil paspornya, dan kurung dia dirumah. Kalau tidak, dia akan
      menceriterakan semua rahasia keluarga kepada tetangga-tetangga Anda.
      Sang makelar khusus menekankan kepada Antoinette, agar jangan
      mengizinkan keluar pembantu rumah tangga itu. Sebab, itu akan
      menyebabkannya jadi hamil.


      Tulis Antoinnette selanjutnya: Sebagian besar dari pembantu rumah tangga
      tsb terjerumus dalam suatu priode kehidupan yang merupakan impian buruk
      tak terduga. “Mereka disuruh melakukan pekerjaan keluarga yang terdiri
      dari opa, oma, bapak, ibu dan enam orang anak-anaknya. Kebanyakan harus
      bekerja 7 hari seminggu, dan dalam 24 jam harus siap kapan saja untuk
      disuruh ini-itu. Mereka samasekali tak memperoleh perlindungan hukum
      apapun. Banyak sekali terjadi tindakan sewenang-wenang dan pemerkosaan.


      Tahun lalu, seorang pekerja rumah tangga INDONESIA ditemukan mayatnya di
      tempat sampah. Lehernya hampir putus. Itu terjadi di Arab Saudi.
      Perempuan Indonesia itu ternyata telah diperkosa, diperlakukan
      sewenang-wenang kemudian dibunuh. Beberapa minggu sebelumnya seorang
      pekerja rumah tangga (23th) luka-luka berat diopname di rumah sakit. Ia
      disiksa dengan alat setrika dan gunting. Menurut sumber Indonesia, dalam
      tahun 2010, tidak kurang dari 120 orang pekerja rumah tangga Indonesia
      yang ditemukan mati.

      Resminya para pekerja rumah tangga itu memiliki 'kontrak kerja' tetapi
      mereka tak memilik hak-hukum apapun.”Mereka tidak termasuk digolongkan
      hukum-perburuhan, karena mereka bekerja di perumahan. Pemerintah Arab
      tidak-mau-tahu dengan apa yang terjadi di dalam rumah-tangga. Di situ
      menurut tradisi patriakhat, yang jadi penguasa adalah majikan. Pekerja
      rumah tangga tidak bisa begitu saja berpindah majikan. Bila 'kontrak
      kerja' putus, maka visum tinggal juga tak berlaku lagi. Kapan saja ia
      menghendakinya, sang majikan bisa mendeportasi pekerja rumah tangga.
      Formalnya, pekerja rumah tangga itu, bukan seorang budak, tetapi dalam
      praktek mereka adalah budak-budak. *Demikian besarnya ketidak-samaan
      kekuasaan, sehingga apa yang terjadi (di Arab Saudi dan Emirat) bisa
      dikatakan suatu perbudakan.


      Kadang-kadang negeri-negeri seperti Indonesia dan Filipina, memprotes
      keadaan ini. Tetapi sedikit sekali pengaruhnya. Negeri-negeri itu,
      memang memerlukan uang (devisa yang diperoleh dari ekspor pekerja rumah
      tangga) itu. Kalau ribut-ribut, Arab Saudi juga mengancam tidak akan
      memberikan lagi visa bagi merka yang mau melakukan ibadah haji. Juga
      karena di negeri-negeri asal pekerja rumah tangga itu, korupsi merupakan
      hal yang biasa, dan status para pekerja rumah tangga itu rendah sekali.


      Sistim hukum dan perundang-udangan di Arab Saudi dan Emirat, menjamin
      agar para pekerja rumah tangga itu, tidak mungkin memenangkan suatu
      perkara. Meskipun dibuktikan bahwa sang korban dilukai oleh siksaan.


      Arab Saudi, kata Vlieger, adalah sebuah diktatur. Segala-galanya
      didasarkan pada koneksi dengan keluarga Saudi dan dengan elite
      keagamaan, atau pada uang. Demikian Antoinette Vlieger mengungkap
      situasi penderitaan kaum perempuan pekerja rumah tangga di Arab Saudi
      dan Emirat.


      Nasib kaum perempuan pekerja rumah tangga Indonesia seperti yang
      diungkapkan oleh hasil riset 7 bulan di Arab Saudi dan Emirat, masih
      belum ada perubahan.


      Pantaslah menjadi perhatian kita semua, khususnya kaum perempuan
      Indonesia dan organisasi-organisainya. Namun yang paling
      bertanggung-jawab dalam hal ini adalah pemerintah Indonesia!


      * * *
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.