Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita - Keturu nan Tionghoa Pertama Jadi Perwira Polisi

Expand Messages
  • isa
    *IBRAHIM ISA – Berbagi Cerita* *Selasa, 05 Juli 2011* *----------------------------------------* **Keturunan Tionghoa Pertama Jadi Perwira Polisi**** Membaca
    Message 1 of 2 , Jul 5, 2011
      *IBRAHIM ISA � Berbagi Cerita*

      *Selasa, 05 Juli 2011*

      *----------------------------------------*


      **Keturunan Tionghoa Pertama Jadi Perwira Polisi****


      Membaca berita hari ini yang disiarkan Gelora45, dengan judul:
      *Keturunan Tionghoa Pertama Jadi Perwira Polisi**--*Aku jadi ingat
      episode beberapa tahun yang lalu. Ketika itu Murti dan aku sedang
      berkunjung di Indonesia. Rezim Orba masih 'jaya-jayanya'. Kami mondok di
      rumah kemenakanku di Jatiwaringin, Jakarta. Komplek perumahan AURI.
      Suami kemenakanku itu adalah seorang Laksamana Madya AURI. Karena kami
      sudah ganti nama dan memiliki kewarganegaraan Belanda, keluarga kami
      menganggap untuk kami, sikonnya 'aman' untuk berkunjung ke Indonesia.


      Disitulah pada suatu pagi, putra bungsu kemenakanku itu sedang menycuci
      mobilnya di halaman depan rumah. Kami omong-omong 'ngalur-ngidul'
      mengenai apa saja. Tiba-tiba lewat di depan rumah sebuah mobil.
      Penumpangnya melambaikan tangannya ke arah kami. Rupanya ia tinggal di
      dekat situ.


      Dia itu 'keturunan Tionghoa', kata cucuku. Dia seorang perwira AURI.
      Tetapi pangkatnya sudah bertahun-tahun tidak naik-naik. Mengapa,
      tanyaku. Cucuku menjelaskan: -- Kan dia itu turunan Tionghoa. Datuk kan
      tahu, di bawah Pak Harto tidak mungkin ada anggota ABRI yang turunan
      Tionghoa bisa naik pangkat. Ah, mas� begitu sih, kataku berlagak bodoh.


      Memang, siapa tidak tahu. Sepanjang sejarah berdirinya Republik
      Indonesia, rezim Orba di bawah Presiden Suharto, adalah satu-satunya
      pemerintah Ibndonesia yang paling anti-Tionghoa dan anti-RRT. Politik
      dan tindakannya terhadap etnis Tionghoa dan terhadap negara Republik
      Rakyat Tiongkok, adalah bermusuhan, paling kejam, paling biadab, tetapi
      juga paling licik, menjadikan asal etnik Tionghoa sebagai 'sapi perahan'
      mereka. Apa saja yang 'berbau Tionghoa' disapu bersih. Sampai namapun
      harus ganti. Termasuk kata 'Tionghoa'. Itu diganti dengan kata �Cina�.
      Jelas sekali, maksudnya adalah untuk menghina, 'ngeny�k'.


      Dengan sendirinya berita mengenai perwira polisi pertama asal etnis
      Tinghoa AMAT MENGGEMBIRAKAN. Mestinya begitu Suharto lengser, seluruh
      politik dan kebijakan, peraturan dan kebiasaan yang anti-etnis Tionghoa
      HARUS STOP! Bangsa Indonesia terdiri dari banyak etnik dan suku, dan
      juga yang berasal keturunan asing, termasuk keturunan Tionghoa,
      Bel;anda, Arab, dan sekarang ini ternyata ada yang keturunan Jepang.
      Sesuai UUD 1945, mereka itu adalah anggota dari bangsa INDONESIA. Maka
      tidak kebetulan bahwa semboyan bangsa kita a.l. Yang terpenting adalah
      BHINNEKA TUNGGAL IKA. Sesuai dengan prinsip-prinsip bangsa yang
      diletakkan dasarnya oleh Bung Karno dalam dokumen klasik LAHIRNYA
      PENCASILA, 1 Juni 1945. Berbeda-beda tetapi SATU.


      Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan pemerintahan Presiden
      Megawati telah dengan tegas berangsur-angsur mengakhiri politik rasialis
      anti etnis-Tionghoa dan anti-Tiongkok yang dijalankan oleh rezim Orba di
      bawah Presiden Suharto selama 32 tahun.


      * * *


      Di bawah ini dimuat lengkap berita yang menggembirakan tsb:




      TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Happy Saputra merupakan segelintir warga
      Indonesia keturunan Tionghoa yang menjadi perwira polisi. Sebuah pilihan
      yang dibentuk oleh sikap keluarganya yang tidak disibukkan oleh sebutan
      sebagai kelompok minoritas.

      Tiga tahun lalu, kehadiran sosok Happy sebagai salah-seorang dari 300
      taruna Akademi Kepolisian di Semarang angkatan 2007, sempat menyedot
      perhatian. Dia saat itu merupakan satu-satunya yang berlatar dari etnis
      Tionghoa.Sebuah laporan media lokal saat itu menyebut kehadiran Happy
      itu sebagai "peristiwa langka", atau "sebuah keanehan seorang etnis
      Tionghoa bekerja di sektor pejabat publik". Laporan-laporan itu menyebut
      Law Kwan Kwang -nama lain Happy Saputra- sebagai orang Tionghoa
      Indonesia pertama yang masuk akademi elit kepolisian tersebut.

      Padahal menurut Happy, keputusannya masuk akadami kepolisian itu tidak
      direncanakan jauh-jauh hari. Saat itu dia hampir menyelesaikan masa
      kuliah strata 1 di Universitas Bina Nusantara.
      Seorang sahabatnya yang mendorong agar dia menjadi polisi. Alasannya
      karena "cara dia bergaul yang berbeda dengan kebanyakan etnis Tionghoa
      lainnya." Lainnya adalah kemampuannya dalam berbahasa Inggris dan Mandarin.

      "Sahabat saya itu mengatakan 'polisi sekarang membutuhkan figur yang
      berbeda'. Kini menurutnya, polisi butuh pencitraan yang beda. Nggak lagi
      seperti dulu, berkumis atau berkacamata hitam," ungkapnya.Walaupun
      merasa rendah diri, Happy akhirnya mendaftarkan diri. Sempat khawatir
      karena latar belakang etnisnya, Happy kemudian mampu menepis semua itu.
      Dia bersama 300 orang lainnya diterima masuk akademi kepolisian yang
      dikenal elit itu, dari 12.000 pelamar. Dia juga patut berbangga karena
      perekrutan akademi kepolisian tahun 2007 itu "dianggap paling bersih
      dibandingkan proses rekrutmen tahun-tahun sebelumnya".

      "Rekrutmen tahun 2007, segala elemen masyarakat mulai wartawan sampai
      LSM, boleh melihat sampai ke dalam. Mereka bisa melihat penilaian
      rekrutmen Akpol. Dan saya tidak terdeteksi sedikitpun bahwa 'ini orang
      titipan' atau 'Happy bayar ke sini untuk masuk Akpol'. Semua tidak
      terbukti," kenangnya.Bahkan menurutnya, wartawan sempat mendatangi
      rumahnya, saat itu. Mereka mengecek kekayaan ibunya, serta meneliti
      siapa saja yang dikenal ayahnya.

      "Ternyata tidak terbukti semua. Inilah yang membuat saya cukup berbangga
      hati, karena orang tua saya cuma mengeluarkan uang Rp 38.000 untuk
      membeli meterai tiga lembar, serta uang makan," paparnya.

      Tahun lalu, Happy lulus dari akademi itu dengan nilai cemerlang bersama
      20 taruna lainnya. Dia bahkan sempat mewakili Akpol untuk pertukaran
      pelajar ke Korea Selatan dan Jepang.
      "Mama selalu bilang `kamu beda, tetapi bukan berarti berbeda'. Dalam
      arti tak boleh membeda-bedakan diri, walaupun kamu keturunan Tionghoa,
      tetapi kamu tetap harus berbaur," jelas Happy saat ditemui BBC di asrama
      Polda Jawa Timur di Surabaya.
      Lelaki kelahiran 4 Juli 1984 ini sekarang bertugas di Polres Ponorogo,
      Jawa Timur, dengan pangkat Inspektur tingkat dua atau Ipda. Happy lulus
      cemerlang dari akademi kepolisian sebagai 20 orang lulusan terbaik. Dia
      sempat pula dipilih mengikuti pertukaran taruna kepolisian ke Korea
      Selatan dan Jepang. (*)


      Happy Saputra yang punya nama lain Law Kwan Kwang, mengaku apa yang
      dilakoninya sekarang tidak datang dengan tiba-tiba. Nasihat sang ibu
      agar dia berbaur dengan warga mayoritas etnis Betawi di lingkungan
      tempat tinggalnya di kawasan Kalisari, Jakarta Timur, membuatnya tidak
      pilih-pilih teman.
      "Saya pun berteman dengan tukang ojek (di lingkungan tempat tinggalnya),
      karena saya suka motor. Sehingga ketika saya dewasa, mereka tahu saya.
      Mereka bahkan menyebut saya 'Oh itu Si Acong anaknya Soi Song'. Mereka
      menyebut hal seperti itu bukan untuk menjelekkan, tapi cuma label,
      karena banyak panggilan saya, seperti Acong, Ahong, Encek, Cokin. Tapi
      saya senang," jelas Happy seraya tertawa lebar.Happy Saputra merupakan
      segelintir warga Indonesia keturunan Tionghoa yang menjadi perwira
      polisi, sebuah pilihan yang dibentuk oleh sikap keluarganya yang tidak
      disibukkan oleh sebutan sebagai kelompok minoritas.

      Tiga tahun lalu, kehadiran sosok Happy sebagai salah-seorang dari 300
      taruna Akademi Kepolisian di Semarang angkatan 2007, sempat menyedot
      perhatian. Dia saat itu merupakan satu-satunya yang berlatar dari etnis
      Tionghoa."Kalau penghinaan, berarti saya akan disakiti. Tapi mereka care
      (perhatian) dengan saya," tandas Happy, anak ketiga dari empat
      bersaudara, dari pasangan Syahrial Efay dan Songgowati Tjoeng ini.

      Sikap seperti ini kemudian mengantarnya masuk sekolah menengah atas
      negeri, yang lebih dari 85% siswanya beragama Islam dan bukan etnis
      Tionghoa. Di SMA Negeri 98 ini, Happy kemudian bersahabat dengan
      teman-teman Muslim. Salah-seorang sahabatnya itulah yang kemudian
      mendorongnya masuk akademi kepolisian, setelah dia meraih titel sarjana
      dari Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Nusantara.

      Pergaulannya yang melampaui latar etnis, juga membuat Happy dan
      keluarganya tidak begitu khawatir ketika kerusuhan berbau etnis meledak
      tahun 1998 di sebagian wilayah Jakarta. Di saat kepanikan timbul melanda
      kelompok etnisnya, ibunya, Songgowati Tjoeng kembali menjadi sandaran
      Happy yang saat itu beranjak remaja. Juga teman-temannya secara tulus
      memberi perlindungan terhadap dirinya.

      "Karena sejak kecil bermain dengan mereka, sehingga mereka tahu bahwa
      keluarga saya tidak seperti di media massa yang menutup diri. Dan
      terbukti, saat kerusuhan itu, kawasan tempat saya tinggal aman-aman
      saja," jelasnya.Kendati demikian, Happy sebagai warga etnis Tionghoa
      mengaku pernah mengalami perlakuan diskriminatif. Dia memberi contoh
      sikap seorang pedagang di sebuah pasar di Jakarta Selatan yang menaikkan
      harga barang setelah melihat wajahnya. Juga pengalamannya, diperlakukan
      diskriminatif oleh seorang juru parkir.

      "Kalau parkir, biasanya mereka memaksa untuk meminta lebih. Hal-hal
      seperti itu membuat saya sedih," katanya.

      Namun Happy buru-buru menambahkan. "Tapi kembali lagi, karena konsep
      saya kuat, ya sudahlah saya anggap ini sebagai cerita 'lain' di Jakarta
      'lain' yang harus saya pahami. Saya tak boleh menyamakan (kasus ini)
      dengan di Kali Besar. Suatu saat nanti saya bisa atasi semua ini," tegasnya.
      Dia menambahkan langkah seperti ini juga dia terapkan di lingkungannya.
      Sebagai minoritas, Happy mengaku tidak mau memakai kacamata kuda dalam
      melihat sesuatu.

      "Dalam arti hanya melihat satu sisi, seolah-seolah semua orang Indonesia
      sepert itu. Padahal tidak! Nah, kita harus memberitahu mereka bahwa
      Indonesia tidak seperti itu." (*)




      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.