Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.

Expand Messages
  • ibcindon
    Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi bahan pertanyaan yang kadang
    Message 1 of 18 , Apr 5 9:09 PM
      Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
      Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
      bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
      memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
      mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
      Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
      sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
      air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
      perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
      pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
      saja.
      Tiongkok - Tionghoa.
      Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
      berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
      dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
      <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
      <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkwɔ̌]
      <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
      harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
      sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
      Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
      abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
      pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
      Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
      kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
      berinduk pada kaisar.,
      Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
      dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
      華民國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
      Zhonghua Renmin Gongheguo中华人民共和国 (RRT)
      Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
      Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
      kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
      sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華民國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
      atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
      menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
      masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
      Tionghoa.
      Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
      dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
      pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
      bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
      terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
      rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
      Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
      Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
      diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
      Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
      dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
      negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
      sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
      asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
      yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
      kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok–Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
      diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
      dijadikan enclaves international
      <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
      negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
      Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
      1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
      Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
      pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
      penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
      Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
      sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
      merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
      pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
      berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
      Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
      Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
      dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
      Nederland Indie (Hindia Belanda).
      Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
      etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
      yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
      memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
      republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
      republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
      menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
      dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
      internasional.
      Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
      pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
      Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.

      UUD 1945.
      BAB X
      WARGA NEGARA DAN PENDUDUK

      Pasal 26
      (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
      orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
      negara.
      (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
      tinggal di Indonesia.
      (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.

      PENJELASAN .
      BAB X WARGANEGARA
      PASAL 26
      Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
      Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
      Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
      Indonesia dapat menjadi warga negara.
      Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
      masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
      Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
      muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
      Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
      masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
      dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
      kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
      menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
      Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
      sesama warga Negara di republik ini.
      Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
      Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
      kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
      di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
      dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
      untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
      warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
      dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
      wakil panglima angkatan darat Panggabean.
      Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
      Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
      tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
      Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
      Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
      larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
      kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
      mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
      didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
      suasana politik nasional ketika itu.
      Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
      pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
      dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
      tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
      lainnya.
      Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
      bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
      Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
      dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
      Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
      istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.

      <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
      KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
      NOMOR 6 TAHUN 2000
      TENTANG
      PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
      TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
      PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
      Menimbang:
      a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
      istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
      manusia;
      b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
      <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
      tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
      Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
      menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
      c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
      perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
      Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
      Mengingat:
      1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
      <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
      2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
      <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
      Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
      Negara Nomor 3886);
      MEMUTUSKAN:
      Menetapkan:
      KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
      NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
      PERTAMA:
      Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
      Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
      KEDUA:
      Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
      pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
      Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
      berlaku.
      KETIGA:
      Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
      dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
      berlangsung selama ini.
      KEEMPAT:
      Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
      ditetapkan.
      Ditetapkan di Jakarta
      Pada tanggal 17 Januari 2000
      PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
      ABDURRAHMAN WAHID

      Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
      1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
      bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
      tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
      pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
      istilah yang muncul di media masa selama itu.
      Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
      dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
      Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
      Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
      diuraikan pada bagian lain.
      China – Chinese.
      Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
      Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
      tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
      keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata Cīna
      <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
      150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
      kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
      Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
      ( 221 – 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
      terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
      timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
      Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
      berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
      masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
      hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
      Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
      pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
      (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
      Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
      hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
      dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
      China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
      tsaine”.
      Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
      bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
      bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
      menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
      merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
      memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
      sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
      masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
      budaya China), dst.
      Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
      di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
      perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
      Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
      bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
      banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
      kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
      juga.
      Cina.
      Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
      dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
      istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
      Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
      bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
      Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
      Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
      pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
      Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
      dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
      sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
      kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
      Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
      “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
      Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
      Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
      Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
      Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
      Han Empires 221 BC to AD 220
      <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D
      twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
      Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
      <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=
      1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
      <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
      tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
      yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
      <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
      dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
      Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
      Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
      dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
      Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
      Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
      bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
      Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
      memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
      Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
      berkuasa (221 – 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
      <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
      kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
      China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
      berupa penamaan dari pihak asing luar.
      Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
      di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
      mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
      pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
      penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
      bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
      diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
      memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
      diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
      nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
      Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
      baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
      menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
      maupun lisan.
      Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
      dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
      komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
      Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
      Soekarno dan negara RRT.
      Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
      penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
      didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
      itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
      Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
      bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
      Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan –
      lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
      Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
      dengan negara RRT.
      Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
      Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
      menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
      tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
      memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
      dibandingkan dengan kata Cina.

      SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
      TENTANG MASALAH CINA
      NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
      1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
      “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
      telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
      2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
      etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
      yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
      sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
      dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
      istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
      3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
      sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
      untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
      4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
      kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
      Indonesia umumnya.
      5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
      menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
      baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
      istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
      ditinggalkan.
      6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
      Jakarta, 28 Juni 1967
      PRESIDIUM KABINET AMPERA
      SEKRETARIS
      Ttd.
      SUDHARMONO, SH
      BRIG.JEN TNI
      <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
      INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
      NOMOR 14 TAHUN 1967
      TENTANG
      AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
      KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
      Menimbang:
      bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
      yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
      menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
      terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
      asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
      wajar.
      Mengingat:
      1. Undang-Undang Dasar 1945
      <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
      pasal 29.
      2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
      pasal 1 ayat (a).
      3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
      4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
      Menginstruksi kepada:
      1. Menteri Agama
      2. Menteri Dalam Negeri
      3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
      Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
      dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
      PERTAMA:
      Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
      menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
      culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
      dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
      KEDUA:
      Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
      dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
      lingkungan keluarga.
      KETIGA:
      Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
      cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
      menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
      KEEMPAT:
      Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
      pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
      KELIMA:
      Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
      Ditetapkan di Jakarta
      pada tanggal, 6 Desember 1967
      PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

      SOEHARTO
      Jenderal TNI




      [Non-text portions of this message have been removed]
    • ChanCT
      Maaf bung, Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap
      Message 2 of 18 , Apr 9 6:04 PM
        Maaf bung,

        Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.

        Terimakasih, ...

        Salam,
        ChanCT

        ----- 原始郵件-----
        寄件者: ibcindon
        收件者: tionghoa-net@yahoogroups.com
        傳送日期: 2011年4月6日 12:09
        主旨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.


        Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
        Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
        bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
        memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
        mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
        Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
        sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
        air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
        perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
        pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
        saja.
        Tiongkok - Tionghoa.
        Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
        berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
        dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
        <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
        <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkwɔ̌]
        <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
        harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
        sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
        Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
        abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
        pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
        Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
        kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
        berinduk pada kaisar.,
        Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
        dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
        華民國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
        Zhonghua Renmin Gongheguo中华人民共和国 (RRT)
        Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
        Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
        kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
        sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華民國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
        atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
        menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
        masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
        Tionghoa.
        Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
        dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
        pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
        bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
        terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
        rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
        Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
        Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
        diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
        Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
        dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
        negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
        sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
        asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
        yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
        kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok–Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
        diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
        dijadikan enclaves international
        <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
        negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
        Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
        1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
        Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
        pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
        penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
        Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
        sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
        merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
        pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
        berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
        Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
        Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
        dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
        Nederland Indie (Hindia Belanda).
        Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
        etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
        yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
        memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
        republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
        republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
        menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
        dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
        internasional.
        Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
        pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
        Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.

        UUD 1945.
        BAB X
        WARGA NEGARA DAN PENDUDUK

        Pasal 26
        (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
        orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
        negara.
        (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
        tinggal di Indonesia.
        (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.

        PENJELASAN .
        BAB X WARGANEGARA
        PASAL 26
        Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
        Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
        Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
        Indonesia dapat menjadi warga negara.
        Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
        masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
        Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
        muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
        Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
        masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
        dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
        kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
        menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
        Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
        sesama warga Negara di republik ini.
        Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
        Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
        kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
        di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
        dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
        untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
        warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
        dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
        wakil panglima angkatan darat Panggabean.
        Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
        Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
        tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
        Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
        Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
        larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
        kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
        mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
        didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
        suasana politik nasional ketika itu.
        Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
        pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
        dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
        tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
        lainnya.
        Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
        bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
        Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
        dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
        Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
        istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.

        <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
        KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
        NOMOR 6 TAHUN 2000
        TENTANG
        PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
        TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
        PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
        Menimbang:
        a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
        istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
        manusia;
        b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
        <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
        tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
        Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
        menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
        c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
        perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
        Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
        Mengingat:
        1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
        <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
        2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
        <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
        Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
        Negara Nomor 3886);
        MEMUTUSKAN:
        Menetapkan:
        KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
        NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
        PERTAMA:
        Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
        Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
        KEDUA:
        Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
        pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
        Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
        berlaku.
        KETIGA:
        Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
        dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
        berlangsung selama ini.
        KEEMPAT:
        Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
        ditetapkan.
        Ditetapkan di Jakarta
        Pada tanggal 17 Januari 2000
        PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
        ABDURRAHMAN WAHID

        Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
        1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
        bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
        tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
        pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
        istilah yang muncul di media masa selama itu.
        Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
        dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
        Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
        Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
        diuraikan pada bagian lain.
        China – Chinese.
        Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
        Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
        tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
        keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata Cīna
        <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
        150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
        kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
        Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
        ( 221 – 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
        terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
        timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
        Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
        berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
        masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
        hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
        Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
        pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
        (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
        Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
        hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
        dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
        China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
        tsaine”.
        Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
        bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
        bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
        menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
        merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
        memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
        sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
        masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
        budaya China), dst.
        Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
        di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
        perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
        Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
        bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
        banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
        kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
        juga.
        Cina.
        Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
        dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
        istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
        Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
        bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
        Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
        Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
        pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
        Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
        dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
        sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
        kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
        Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
        “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
        Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
        Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
        Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
        Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
        Han Empires 221 BC to AD 220
        <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D
        twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
        Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
        <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=
        1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
        <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
        tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
        yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
        <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
        dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
        Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
        Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
        dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
        Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
        Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
        bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
        Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
        memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
        Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
        berkuasa (221 – 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
        <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
        kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
        China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
        berupa penamaan dari pihak asing luar.
        Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
        di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
        mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
        pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
        penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
        bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
        diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
        memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
        diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
        nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
        Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
        baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
        menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
        maupun lisan.
        Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
        dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
        komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
        Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
        Soekarno dan negara RRT.
        Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
        penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
        didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
        itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
        Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
        bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
        Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan –
        lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
        Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
        dengan negara RRT.
        Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
        Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
        menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
        tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
        memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
        dibandingkan dengan kata Cina.

        SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
        TENTANG MASALAH CINA
        NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
        1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
        “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
        telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
        2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
        etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
        yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
        sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
        dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
        istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
        3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
        sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
        untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
        4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
        kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
        Indonesia umumnya.
        5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
        menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
        baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
        istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
        ditinggalkan.
        6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
        Jakarta, 28 Juni 1967
        PRESIDIUM KABINET AMPERA
        SEKRETARIS
        Ttd.
        SUDHARMONO, SH
        BRIG.JEN TNI
        <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
        INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
        NOMOR 14 TAHUN 1967
        TENTANG
        AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
        KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
        Menimbang:
        bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
        yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
        menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
        terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
        asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
        wajar.
        Mengingat:
        1. Undang-Undang Dasar 1945
        <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
        pasal 29.
        2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
        pasal 1 ayat (a).
        3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
        4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
        Menginstruksi kepada:
        1. Menteri Agama
        2. Menteri Dalam Negeri
        3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
        Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
        dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
        PERTAMA:
        Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
        menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
        culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
        dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
        KEDUA:
        Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
        dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
        lingkungan keluarga.
        KETIGA:
        Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
        cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
        menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
        KEEMPAT:
        Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
        pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
        KELIMA:
        Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
        Ditetapkan di Jakarta
        pada tanggal, 6 Desember 1967
        PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

        SOEHARTO
        Jenderal TNI




        [Non-text portions of this message have been removed]



        ------------------------------------

        Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni

        # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #

        # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #

        Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com
        Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

        Yahoo! Groups Links




        [Non-text portions of this message have been removed]
      • ibcindon
        Yth. Pak Chandra y.b., Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri. Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari
        Message 3 of 18 , Apr 9 9:47 PM
          Yth. Pak Chandra y.b.,



          Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri.



          Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis dikanan-kiri aja.



          Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.



          Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .



          Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/




          Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/> Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.






          Salam hormat,



          Sugiri Kustedja





          From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
          Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
          To: tionghoa-net@yahoogroups.com
          Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.





          Maaf bung,

          Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.

          Terimakasih, ...

          Salam,
          ChanCT

          ----- 原始郵件-----
          寄件者: ibcindon
          收件者: tionghoa-net@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
          傳送日期: 2011年4月6日 12:09
          主旨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.

          Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
          Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
          bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
          memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
          mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
          Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
          sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
          air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
          perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
          pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
          saja.
          Tiongkok - Tionghoa.
          Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
          berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
          dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
          <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
          <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkwɔ̌]
          <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
          harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
          sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
          Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
          abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
          pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
          Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
          kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
          berinduk pada kaisar.,
          Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
          dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
          華民國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
          Zhonghua Renmin Gongheguo中华人民共和国 (RRT)
          Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
          Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
          kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
          sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華民國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
          atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
          menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
          masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
          Tionghoa.
          Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
          dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
          pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
          bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
          terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
          rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
          Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
          Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
          diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
          Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
          dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
          negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
          sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
          asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
          yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
          kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok–Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
          diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
          dijadikan enclaves international
          <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
          negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
          Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
          1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
          Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
          pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
          penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
          Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
          sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
          merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
          pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
          berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
          Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
          Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
          dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
          Nederland Indie (Hindia Belanda).
          Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
          etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
          yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
          memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
          republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
          republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
          menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
          dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
          internasional.
          Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
          pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
          Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.

          UUD 1945.
          BAB X
          WARGA NEGARA DAN PENDUDUK

          Pasal 26
          (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
          orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
          negara.
          (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
          tinggal di Indonesia.
          (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.

          PENJELASAN .
          BAB X WARGANEGARA
          PASAL 26
          Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
          Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
          Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
          Indonesia dapat menjadi warga negara.
          Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
          masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
          Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
          muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
          Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
          masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
          dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
          kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
          menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
          Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
          sesama warga Negara di republik ini.
          Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
          Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
          kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
          di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
          dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
          untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
          warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
          dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
          wakil panglima angkatan darat Panggabean.
          Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
          Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
          tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
          Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
          Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
          larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
          kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
          mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
          didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
          suasana politik nasional ketika itu.
          Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
          pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
          dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
          tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
          lainnya.
          Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
          bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
          Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
          dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
          Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
          istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.

          <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
          KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
          NOMOR 6 TAHUN 2000
          TENTANG
          PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
          TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
          PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
          Menimbang:
          a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
          istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
          manusia;
          b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
          <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
          tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
          Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
          menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
          c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
          perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
          Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
          Mengingat:
          1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
          <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
          2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
          <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
          Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
          Negara Nomor 3886);
          MEMUTUSKAN:
          Menetapkan:
          KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
          NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
          PERTAMA:
          Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
          Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
          KEDUA:
          Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
          pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
          Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
          berlaku.
          KETIGA:
          Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
          dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
          berlangsung selama ini.
          KEEMPAT:
          Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
          ditetapkan.
          Ditetapkan di Jakarta
          Pada tanggal 17 Januari 2000
          PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
          ABDURRAHMAN WAHID

          Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
          1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
          bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
          tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
          pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
          istilah yang muncul di media masa selama itu.
          Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
          dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
          Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
          Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
          diuraikan pada bagian lain.
          China – Chinese.
          Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
          Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
          tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
          keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata Cīna
          <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
          150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
          kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
          Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
          ( 221 – 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
          terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
          timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
          Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
          berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
          masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
          hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
          Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
          pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
          (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
          Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
          hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
          dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
          China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
          tsaine”.
          Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
          bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
          bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
          menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
          merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
          memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
          sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
          masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
          budaya China), dst.
          Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
          di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
          perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
          Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
          bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
          banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
          kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
          juga.
          Cina.
          Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
          dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
          istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
          Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
          bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
          Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
          Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
          pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
          Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
          dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
          sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
          kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
          Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
          “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
          Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
          Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
          Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
          Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
          Han Empires 221 BC to AD 220
          <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726 <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D> &searchurl=an%3D
          twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
          Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
          <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=> &action=edit&redlink=
          1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
          <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
          tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
          yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
          <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
          dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
          Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
          Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
          dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
          Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
          Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
          bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
          Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
          memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
          Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
          berkuasa (221 – 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
          <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
          kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
          China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
          berupa penamaan dari pihak asing luar.
          Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
          di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
          mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
          pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
          penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
          bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
          diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
          memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
          diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
          nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
          Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
          baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
          menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
          maupun lisan.
          Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
          dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
          komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
          Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
          Soekarno dan negara RRT.
          Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
          penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
          didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
          itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
          Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
          bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
          Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan –
          lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
          Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
          dengan negara RRT.
          Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
          Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
          menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
          tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
          memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
          dibandingkan dengan kata Cina.

          SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
          TENTANG MASALAH CINA
          NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
          1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
          “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
          telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
          2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
          etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
          yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
          sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
          dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
          istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
          3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
          sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
          untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
          4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
          kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
          Indonesia umumnya.
          5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
          menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
          baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
          istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
          ditinggalkan.
          6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
          Jakarta, 28 Juni 1967
          PRESIDIUM KABINET AMPERA
          SEKRETARIS
          Ttd.
          SUDHARMONO, SH
          BRIG.JEN TNI
          <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
          INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
          NOMOR 14 TAHUN 1967
          TENTANG
          AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
          KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
          Menimbang:
          bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
          yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
          menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
          terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
          asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
          wajar.
          Mengingat:
          1. Undang-Undang Dasar 1945
          <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
          pasal 29.
          2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
          pasal 1 ayat (a).
          3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
          4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
          Menginstruksi kepada:
          1. Menteri Agama
          2. Menteri Dalam Negeri
          3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
          Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
          dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
          PERTAMA:
          Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
          menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
          culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
          dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
          KEDUA:
          Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
          dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
          lingkungan keluarga.
          KETIGA:
          Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
          cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
          menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
          KEEMPAT:
          Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
          pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
          KELIMA:
          Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
          Ditetapkan di Jakarta
          pada tanggal, 6 Desember 1967
          PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

          SOEHARTO
          Jenderal TNI

          [Non-text portions of this message have been removed]

          ------------------------------------

          Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni

          # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #

          # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #

          Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
          Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>

          Yahoo! Groups Links

          [Non-text portions of this message have been removed]





          [Non-text portions of this message have been removed]
        • JT
          Pak Sugiri Yth. Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia? Terus yang
          Message 4 of 18 , Apr 10 6:46 AM
            Pak Sugiri Yth.

            Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia?
            Terus yang menanggapi tulisan anda ini bukan Pak Chandra, yang benar namanya Chan Chun Tak (disingkat Chan CT) atau dikenal juga sebagai Siauw Tiong Tjing, putra dari seorang tokoh Tionghoa masa lalu yang bermarga Siauw. Bung Chan CT sekarang tinggal di Hongkong. Saya rasa pak Sugiri dengan bung Chan ini seangkatan atau tidak berbeda jauh usianya. Untuk yang belum kenal dengan pak Sugiri, saya informasikan bahwa pak Sugiri ini seorang pengusaha besar (boss), Arsitek senior, dosen, dan sekaligus mahasiswa Program Doctor (S3) di universitas terkenal di Bandung, dalam bidang ilmu arsitektur.

            Salam
            JT

            -----------



            --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ibcindon" <ibcindon@...> wrote:
            >
            > Yth. Pak Chandra y.b.,
            >
            >
            >
            > Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri.
            >
            >
            >
            > Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis dikanan-kiri aja.
            >
            >
            >
            > Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.
            >
            >
            >
            > Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .
            >
            >
            >
            > Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/
            >
            >
            >
            >
            > Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/> Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            > Salam hormat,
            >
            >
            >
            > Sugiri Kustedja
            >
            >
            >
            >
            >
            > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
            > Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
            > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
            > Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
            >
            >
            >
            >
            >
            > Maaf bung,
            >
            > Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.
            >
            > Terimakasih, ...
            >
            > Salam,
            > ChanCT
            >
            > ----- 原始郵件-----
            > 寄件者: ibcindon
            > æ"¶ä»¶è€…: tionghoa-net@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
            > 傳送日期: 2011年4月6日 12:09
            > 主旨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
            >
            > Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
            > Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
            > bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
            > memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
            > mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
            > Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
            > sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
            > air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
            > perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
            > pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
            > saja.
            > Tiongkok - Tionghoa.
            > Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
            > berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
            > dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
            > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
            > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkwÉ"̌]
            > <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
            > harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
            > sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
            > Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
            > abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
            > pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
            > Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
            > kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
            > berinduk pada kaisar.,
            > Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
            > dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
            > 華æ°`國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
            > Zhonghua Renmin Gongheguo中华人æ°`共å'Œå›½ (RRT)
            > Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
            > Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
            > kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
            > sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華æ°`國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
            > atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
            > menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
            > masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
            > Tionghoa.
            > Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
            > dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
            > pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
            > bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
            > terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
            > rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
            > Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
            > Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
            > diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
            > Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
            > dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
            > negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
            > sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
            > asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
            > yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
            > kekaisaran kalah perang (perang Tiongkokâ€"Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
            > diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
            > dijadikan enclaves international
            > <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
            > negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
            > Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
            > 1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
            > Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
            > pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
            > penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
            > Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
            > sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
            > merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
            > pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
            > berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
            > Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
            > Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
            > dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
            > Nederland Indie (Hindia Belanda).
            > Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
            > etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
            > yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
            > memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
            > republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
            > republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
            > menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
            > dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
            > internasional.
            > Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
            > pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
            > Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.
            >
            > UUD 1945.
            > BAB X
            > WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
            >
            > Pasal 26
            > (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
            > orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
            > negara.
            > (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
            > tinggal di Indonesia.
            > (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
            >
            > PENJELASAN .
            > BAB X WARGANEGARA
            > PASAL 26
            > Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
            > Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
            > Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
            > Indonesia dapat menjadi warga negara.
            > Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
            > masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
            > Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
            > muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
            > Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
            > masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
            > dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
            > kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
            > menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
            > Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
            > sesama warga Negara di republik ini.
            > Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
            > Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
            > kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
            > di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
            > dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
            > untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
            > warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
            > dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
            > wakil panglima angkatan darat Panggabean.
            > Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
            > Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
            > tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
            > Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
            > Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
            > larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
            > kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
            > mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
            > didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
            > suasana politik nasional ketika itu.
            > Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
            > pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
            > dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
            > tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
            > lainnya.
            > Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
            > bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
            > Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
            > dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
            > Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
            > istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.
            >
            > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
            > KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
            > NOMOR 6 TAHUN 2000
            > TENTANG
            > PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
            > TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
            > PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
            > Menimbang:
            > a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
            > istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
            > manusia;
            > b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
            > <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
            > tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
            > Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
            > menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
            > c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
            > perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
            > Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
            > Mengingat:
            > 1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
            > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
            > 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
            > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
            > Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
            > Negara Nomor 3886);
            > MEMUTUSKAN:
            > Menetapkan:
            > KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
            > NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
            > PERTAMA:
            > Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
            > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
            > KEDUA:
            > Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
            > pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
            > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
            > berlaku.
            > KETIGA:
            > Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
            > dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
            > berlangsung selama ini.
            > KEEMPAT:
            > Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
            > ditetapkan.
            > Ditetapkan di Jakarta
            > Pada tanggal 17 Januari 2000
            > PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
            > ABDURRAHMAN WAHID
            >
            > Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
            > 1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
            > bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
            > tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
            > pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
            > istilah yang muncul di media masa selama itu.
            > Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
            > dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
            > Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
            > Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
            > diuraikan pada bagian lain.
            > China â€" Chinese.
            > Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
            > Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
            > tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
            > keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata CÄ«na
            > <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
            > 150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
            > kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
            > Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
            > ( 221 â€" 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
            > terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
            > timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
            > Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
            > berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
            > masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
            > hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
            > Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
            > pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
            > (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
            > Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
            > hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
            > dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
            > China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
            > tsaine”.
            > Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
            > bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
            > bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
            > menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
            > merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
            > memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
            > sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
            > masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
            > budaya China), dst.
            > Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
            > di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
            > perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
            > Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
            > bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
            > banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
            > kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
            > juga.
            > Cina.
            > Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
            > dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
            > istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
            > Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
            > bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
            > Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
            > Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
            > pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
            > Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
            > dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
            > sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
            > kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
            > Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
            > “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
            > Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
            > Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
            > Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
            > Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
            > Han Empires 221 BC to AD 220
            > <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726 <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D> &searchurl=an%3D
            > twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
            > Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
            > <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=> &action=edit&redlink=
            > 1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
            > <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
            > tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
            > yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
            > <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
            > dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
            > Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
            > Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
            > dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
            > Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
            > Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
            > bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
            > Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
            > memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
            > Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
            > berkuasa (221 â€" 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
            > <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
            > kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
            > China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
            > berupa penamaan dari pihak asing luar.
            > Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
            > di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
            > mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
            > pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
            > penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
            > bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
            > diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
            > memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
            > diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
            > nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
            > Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
            > baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
            > menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
            > maupun lisan.
            > Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
            > dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
            > komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
            > Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
            > Soekarno dan negara RRT.
            > Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
            > penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
            > didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
            > itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
            > Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
            > bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
            > Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan â€"
            > lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
            > Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
            > dengan negara RRT.
            > Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
            > Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
            > menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
            > tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
            > memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
            > dibandingkan dengan kata Cina.
            >
            > SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
            > TENTANG MASALAH CINA
            > NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
            > 1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
            > “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
            > telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
            > 2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
            > etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
            > yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
            > sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
            > dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
            > istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
            > 3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
            > sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
            > untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
            > 4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
            > kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
            > Indonesia umumnya.
            > 5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
            > menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
            > baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
            > istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
            > ditinggalkan.
            > 6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
            > Jakarta, 28 Juni 1967
            > PRESIDIUM KABINET AMPERA
            > SEKRETARIS
            > Ttd.
            > SUDHARMONO, SH
            > BRIG.JEN TNI
            > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
            > INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
            > NOMOR 14 TAHUN 1967
            > TENTANG
            > AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
            > KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
            > Menimbang:
            > bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
            > yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
            > menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
            > terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
            > asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
            > wajar.
            > Mengingat:
            > 1. Undang-Undang Dasar 1945
            > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
            > pasal 29.
            > 2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
            > pasal 1 ayat (a).
            > 3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
            > 4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
            > Menginstruksi kepada:
            > 1. Menteri Agama
            > 2. Menteri Dalam Negeri
            > 3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
            > Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
            > dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
            > PERTAMA:
            > Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
            > menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
            > culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
            > dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
            > KEDUA:
            > Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
            > dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
            > lingkungan keluarga.
            > KETIGA:
            > Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
            > cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
            > menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
            > KEEMPAT:
            > Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
            > pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
            > KELIMA:
            > Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
            > Ditetapkan di Jakarta
            > pada tanggal, 6 Desember 1967
            > PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
            >
            > SOEHARTO
            > Jenderal TNI
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            > ------------------------------------
            >
            > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
            >
            > # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #
            >
            > # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #
            >
            > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
            > Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>
            >
            > Yahoo! Groups Links
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            >
            >
            >
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
          • John Siswanto
            Beughhh... kalau kelas S-3 tulisan boleh kutip sana kutip sini apa bedanya dengan plagiat ya...? kalau kutipan yang ada relevansinya, sebagai perbandingan,
            Message 5 of 18 , Apr 10 6:59 AM
              Beughhh...
              kalau kelas S-3 tulisan boleh kutip sana kutip sini apa bedanya dengan plagiat ya...?
              kalau kutipan yang ada relevansinya, sebagai perbandingan, mungkin masih adalah relevansinya...
              Tapi... apa pula relevansi antara ilmu arsitektur dengan istilah "Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina" atau tentang Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
              soal istilah-istilah tersebut lebih cocok dibahas dalam ilmu bidang bahasa/sastra atau ilmu sosial, gak ada hubungannya dengan arsitektur...
              just my 2 cents
              JS

              --- Pada Ming, 10/4/11, JT <jt2x00@...> menulis:


              Dari: JT <jt2x00@...>
              Judul: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
              Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
              Tanggal: Minggu, 10 April, 2011, 6:46 AM


               



              Pak Sugiri Yth.

              Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia?
              Terus yang menanggapi tulisan anda ini bukan Pak Chandra, yang benar namanya Chan Chun Tak (disingkat Chan CT) atau dikenal juga sebagai Siauw Tiong Tjing, putra dari seorang tokoh Tionghoa masa lalu yang bermarga Siauw. Bung Chan CT sekarang tinggal di Hongkong. Saya rasa pak Sugiri dengan bung Chan ini seangkatan atau tidak berbeda jauh usianya. Untuk yang belum kenal dengan pak Sugiri, saya informasikan bahwa pak Sugiri ini seorang pengusaha besar (boss), Arsitek senior, dosen, dan sekaligus mahasiswa Program Doctor (S3) di universitas terkenal di Bandung, dalam bidang ilmu arsitektur.

              Salam
              JT

              -----------

              --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ibcindon" <ibcindon@...> wrote:
              >
              > Yth. Pak Chandra y.b.,
              >
              >
              >
              > Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri.
              >
              >
              >
              > Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis dikanan-kiri aja.
              >
              >
              >
              > Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.
              >
              >
              >
              > Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .
              >
              >
              >
              > Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/
              >
              >
              >
              >
              > Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/> Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              > Salam hormat,
              >
              >
              >
              > Sugiri Kustedja
              >
              >
              >
              >
              >
              > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
              > Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
              > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
              > Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
              >
              >
              >
              >
              >
              > Maaf bung,
              >
              > Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.
              >
              > Terimakasih, ...
              >
              > Salam,
              > ChanCT
              >
              > ----- 原始郵件-----
              > 寄件者: ibcindon
              > �"�件者: tionghoa-net@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
              > 傳送日期: 2011年4月6日 12:09
              > 主旨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
              >
              > Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
              > Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
              > bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
              > memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
              > mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
              > Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
              > sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
              > air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
              > perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
              > pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
              > saja.
              > Tiongkok - Tionghoa.
              > Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
              > berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
              > dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
              > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
              > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkw�"̌]
              > <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
              > harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
              > sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
              > Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
              > abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
              > pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
              > Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
              > kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
              > berinduk pada kaisar.,
              > Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
              > dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
              > 華��`國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
              > Zhonghua Renmin Gongheguo中华人��`共�'�国 (RRT)
              > Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
              > Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
              > kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
              > sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華��`國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
              > atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
              > menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
              > masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
              > Tionghoa.
              > Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
              > dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
              > pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
              > bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
              > terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
              > rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
              > Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
              > Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
              > diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
              > Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
              > dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
              > negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
              > sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
              > asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
              > yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
              > kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok��"Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
              > diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
              > dijadikan enclaves international
              > <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
              > negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
              > Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
              > 1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
              > Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
              > pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
              > penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
              > Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
              > sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
              > merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
              > pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
              > berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
              > Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
              > Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
              > dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
              > Nederland Indie (Hindia Belanda).
              > Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
              > etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
              > yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
              > memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
              > republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
              > republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
              > menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
              > dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
              > internasional.
              > Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
              > pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
              > Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.
              >
              > UUD 1945.
              > BAB X
              > WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
              >
              > Pasal 26
              > (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
              > orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
              > negara.
              > (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
              > tinggal di Indonesia.
              > (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
              >
              > PENJELASAN .
              > BAB X WARGANEGARA
              > PASAL 26
              > Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
              > Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
              > Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
              > Indonesia dapat menjadi warga negara.
              > Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
              > masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
              > Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
              > muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
              > Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
              > masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
              > dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
              > kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
              > menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
              > Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
              > sesama warga Negara di republik ini.
              > Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
              > Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
              > kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
              > di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
              > dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
              > untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
              > warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
              > dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
              > wakil panglima angkatan darat Panggabean.
              > Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
              > Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
              > tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
              > Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
              > Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
              > larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
              > kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
              > mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
              > didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
              > suasana politik nasional ketika itu.
              > Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
              > pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
              > dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
              > tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
              > lainnya.
              > Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
              > bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
              > Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
              > dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
              > Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
              > istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.
              >
              > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
              > KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
              > NOMOR 6 TAHUN 2000
              > TENTANG
              > PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
              > TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
              > PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
              > Menimbang:
              > a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
              > istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
              > manusia;
              > b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
              > <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
              > tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
              > Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
              > menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
              > c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
              > perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
              > Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
              > Mengingat:
              > 1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
              > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
              > 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
              > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
              > Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
              > Negara Nomor 3886);
              > MEMUTUSKAN:
              > Menetapkan:
              > KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
              > NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
              > PERTAMA:
              > Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
              > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
              > KEDUA:
              > Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
              > pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
              > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
              > berlaku.
              > KETIGA:
              > Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
              > dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
              > berlangsung selama ini.
              > KEEMPAT:
              > Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
              > ditetapkan.
              > Ditetapkan di Jakarta
              > Pada tanggal 17 Januari 2000
              > PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
              > ABDURRAHMAN WAHID
              >
              > Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
              > 1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
              > bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
              > tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
              > pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
              > istilah yang muncul di media masa selama itu.
              > Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
              > dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
              > Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
              > Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
              > diuraikan pada bagian lain.
              > China ��" Chinese.
              > Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
              > Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
              > tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
              > keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata Cīna
              > <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
              > 150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
              > kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
              > Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
              > ( 221 ��" 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
              > terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
              > timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
              > Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
              > berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
              > masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
              > hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
              > Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
              > pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
              > (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
              > Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
              > hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
              > dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
              > China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
              > tsaine”.
              > Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
              > bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
              > bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
              > menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
              > merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
              > memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
              > sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
              > masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
              > budaya China), dst.
              > Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
              > di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
              > perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
              > Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
              > bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
              > banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
              > kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
              > juga.
              > Cina.
              > Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
              > dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
              > istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
              > Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
              > bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
              > Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
              > Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
              > pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
              > Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
              > dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
              > sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
              > kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
              > Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
              > “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
              > Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
              > Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
              > Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
              > Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
              > Han Empires 221 BC to AD 220
              > <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726 <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D> &searchurl=an%3D
              > twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
              > Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
              > <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=> &action=edit&redlink=
              > 1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
              > <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
              > tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
              > yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
              > <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
              > dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
              > Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
              > Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
              > dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
              > Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
              > Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
              > bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
              > Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
              > memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
              > Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
              > berkuasa (221 ��" 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
              > <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
              > kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
              > China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
              > berupa penamaan dari pihak asing luar.
              > Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
              > di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
              > mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
              > pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
              > penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
              > bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
              > diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
              > memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
              > diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
              > nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
              > Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
              > baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
              > menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
              > maupun lisan.
              > Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
              > dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
              > komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
              > Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
              > Soekarno dan negara RRT.
              > Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
              > penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
              > didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
              > itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
              > Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
              > bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
              > Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan ��"
              > lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
              > Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
              > dengan negara RRT.
              > Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
              > Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
              > menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
              > tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
              > memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
              > dibandingkan dengan kata Cina.
              >
              > SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
              > TENTANG MASALAH CINA
              > NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
              > 1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
              > “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
              > telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
              > 2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
              > etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
              > yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
              > sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
              > dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
              > istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
              > 3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
              > sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
              > untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
              > 4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
              > kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
              > Indonesia umumnya.
              > 5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
              > menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
              > baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
              > istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
              > ditinggalkan.
              > 6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
              > Jakarta, 28 Juni 1967
              > PRESIDIUM KABINET AMPERA
              > SEKRETARIS
              > Ttd.
              > SUDHARMONO, SH
              > BRIG.JEN TNI
              > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
              > INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
              > NOMOR 14 TAHUN 1967
              > TENTANG
              > AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
              > KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
              > Menimbang:
              > bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
              > yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
              > menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
              > terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
              > asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
              > wajar.
              > Mengingat:
              > 1. Undang-Undang Dasar 1945
              > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
              > pasal 29.
              > 2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
              > pasal 1 ayat (a).
              > 3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
              > 4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
              > Menginstruksi kepada:
              > 1. Menteri Agama
              > 2. Menteri Dalam Negeri
              > 3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
              > Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
              > dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
              > PERTAMA:
              > Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
              > menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
              > culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
              > dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
              > KEDUA:
              > Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
              > dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
              > lingkungan keluarga.
              > KETIGA:
              > Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
              > cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
              > menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
              > KEEMPAT:
              > Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
              > pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
              > KELIMA:
              > Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
              > Ditetapkan di Jakarta
              > pada tanggal, 6 Desember 1967
              > PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
              >
              > SOEHARTO
              > Jenderal TNI
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
              > ------------------------------------
              >
              > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
              >
              > # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #
              >
              > # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #
              >
              > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
              > Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>
              >
              > Yahoo! Groups Links
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
              >
              >
              >
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >








              [Non-text portions of this message have been removed]
            • JT
              Bung JS yang baik. Sekedar urun rembuk. Suatu tulisan, baik tulisan ilmiah seperti disertasi S3 atau tulisan umum, pada dasarnya merupakan rangkuman dari
              Message 6 of 18 , Apr 10 8:17 AM
                Bung JS yang baik.

                Sekedar urun rembuk. Suatu tulisan, baik tulisan ilmiah seperti disertasi S3 atau tulisan umum, pada dasarnya merupakan rangkuman dari pengalaman kita atau cerita orang lain atau tulisan orang lain, baik yang dikutip langsung dari tulisan tsb ataupun sekedar kutipan intisarinya. Makin banyak pengalaman kita, atau makin banyak kita mendengar cerita orang, atau makin banyak kita membaca buku, maka referensi yang kita kumpulkan dalam memori kita akan semakin banyak. Dari memori tsb kita bisa menyusun tulisan2 sesuai dengan yang kita inginkan. Kwalitas suatu tulisan tergantung dari memori yang kita kumpulkan dan kemampuan kita menuangkannya dalam suatu tulisan yang mudah dicerna orang lain dan gaya bahasa yang disajikan.

                Jadi mengutip tulisan orang bukan suatu pelangaran pak, yang pelanggaran itu mengcopy tulisan orang dan mengganti penulisnya dengan nama sendiri. Kutipan tulisan orang juga ada batasnya, max 15% dalam arti dikutip mentah2, lebih dari itu bisa dikatagorikan meniru /plagiat. Tapi kalau ada 10 macam tulisan dari 10 penulis yang berbeda, kita rangkum menjadi satu kemudian kita robah bahasanya sehingga tersusun suatu cerita atau suatu teori yang terstruktur yang berbeda jauh dari tulisan aslinya, itu syah2 saja. Dan pada dasarnya tinjauan teoritis dari Skripsi, Thesis ataupun Disertasi, memang demikian adanya. Tapi kalau hasil penelitian orang lain yang notabene pengalaman orang lain, diaku sebagai hasil penelitian kita, itu namanya plagiat.

                Tulisan pak Sugiri saya kira cukup bagus. Dan seperti kita tahu, tulisan yang menyangkut sejarah ratusan-ribuan tahun yang lalu mustahil merupakan pengalaman pribadi penulisnya secara langsung. Jadi penulis sejarah pasti mengutip dan merangkum tulisan2 orang lain. Ilmu Arsitektur dengan istilah Tionghoa, Tiongkok, China, Cina, dsb, saya kira ada relevansinya. Misalnya Kelenteng yang merupakan bagian dari budaya Tionghoa, tentu harus dijelaskan pula pengertian istilah Tionghoa disitu, dan apa hubungannya dengan istilah China, karena sebagian orang menyebutkan topik yang sama dengan budaya China, budaya Cina, budaya Tiongkok, dsb. Kalau ceritanya agak melebar, itu hanya variasi saja agar ceritanya lebih menarik.

                Salam
                JT

                NB: barusan saya terima japri dari pak Sugiri, agar meralat istilah pengusaha besar (boss), karena beliau sekarang sudah kurus katanya. Terus pak Sugiri juga sekarang sudah bukan dosen lagi, sudah lama berhenti.


                ---------------


                --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, John Siswanto <johnsiswanto@...> wrote:
                >
                > Beughhh...
                > kalau kelas S-3 tulisan boleh kutip sana kutip sini apa bedanya dengan plagiat ya...?
                > kalau kutipan yang ada relevansinya, sebagai perbandingan, mungkin masih adalah relevansinya...
                > Tapi... apa pula relevansi antara ilmu arsitektur dengan istilah "Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina" atau tentang Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                > soal istilah-istilah tersebut lebih cocok dibahas dalam ilmu bidang bahasa/sastra atau ilmu sosial, gak ada hubungannya dengan arsitektur...
                > just my 2 cents
                > JS
                >
                > --- Pada Ming, 10/4/11, JT <jt2x00@...> menulis:
                >
                >
                > Dari: JT <jt2x00@...>
                > Judul: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                > Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
                > Tanggal: Minggu, 10 April, 2011, 6:46 AM
                >
                >
                >  
                >
                >
                >
                > Pak Sugiri Yth.
                >
                > Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia?
                > Terus yang menanggapi tulisan anda ini bukan Pak Chandra, yang benar namanya Chan Chun Tak (disingkat Chan CT) atau dikenal juga sebagai Siauw Tiong Tjing, putra dari seorang tokoh Tionghoa masa lalu yang bermarga Siauw. Bung Chan CT sekarang tinggal di Hongkong. Saya rasa pak Sugiri dengan bung Chan ini seangkatan atau tidak berbeda jauh usianya. Untuk yang belum kenal dengan pak Sugiri, saya informasikan bahwa pak Sugiri ini seorang pengusaha besar (boss), Arsitek senior, dosen, dan sekaligus mahasiswa Program Doctor (S3) di universitas terkenal di Bandung, dalam bidang ilmu arsitektur.
                >
                > Salam
                > JT
                >
                > -----------
                >
                > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ibcindon" <ibcindon@> wrote:
                > >
                > > Yth. Pak Chandra y.b.,
                > >
                > >
                > >
                > > Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri.
                > >
                > >
                > >
                > > Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis dikanan-kiri aja.
                > >
                > >
                > >
                > > Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.
                > >
                > >
                > >
                > > Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .
                > >
                > >
                > >
                > > Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/
                > >
                > >
                > >
                > >
                > > Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/> Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                > >
                > >
                > >
                > >
                > >
                > >
                > > Salam hormat,
                > >
                > >
                > >
                > > Sugiri Kustedja
                > >
                > >
                > >
                > >
                > >
                > > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
                > > Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
                > > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                > > Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                > >
                > >
                > >
                > >
                > >
                > > Maaf bung,
                > >
                > > Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.
                > >
                > > Terimakasih, ...
                > >
                > > Salam,
                > > ChanCT
                > >
                > > ----- 原始郵件-----
                > > 寄件者: ibcindon
                > > �"�件者: tionghoa-net@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
                > > 傳送日期: 2011年4月6日 12:09
                > > 主旨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                > >
                > > Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                > > Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
                > > bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
                > > memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
                > > mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
                > > Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
                > > sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
                > > air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
                > > perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
                > > pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
                > > saja.
                > > Tiongkok - Tionghoa.
                > > Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
                > > berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
                > > dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
                > > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
                > > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkw�"̌]
                > > <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
                > > harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
                > > sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
                > > Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
                > > abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
                > > pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
                > > Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
                > > kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
                > > berinduk pada kaisar.,
                > > Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
                > > dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
                > > 華��`國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
                > > Zhonghua Renmin Gongheguo中华人��`共�'�国 (RRT)
                > > Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
                > > Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
                > > kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
                > > sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華��`國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
                > > atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
                > > menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
                > > masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
                > > Tionghoa.
                > > Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
                > > dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
                > > pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
                > > bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
                > > terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
                > > rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
                > > Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
                > > Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
                > > diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
                > > Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
                > > dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
                > > negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
                > > sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
                > > asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
                > > yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
                > > kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok��"Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
                > > diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
                > > dijadikan enclaves international
                > > <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
                > > negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
                > > Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
                > > 1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
                > > Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
                > > pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
                > > penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
                > > Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
                > > sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
                > > merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
                > > pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
                > > berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
                > > Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
                > > Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
                > > dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
                > > Nederland Indie (Hindia Belanda).
                > > Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
                > > etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
                > > yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
                > > memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
                > > republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
                > > republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
                > > menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
                > > dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
                > > internasional.
                > > Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
                > > pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
                > > Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.
                > >
                > > UUD 1945.
                > > BAB X
                > > WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
                > >
                > > Pasal 26
                > > (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
                > > orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
                > > negara.
                > > (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
                > > tinggal di Indonesia.
                > > (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
                > >
                > > PENJELASAN .
                > > BAB X WARGANEGARA
                > > PASAL 26
                > > Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
                > > Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
                > > Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
                > > Indonesia dapat menjadi warga negara.
                > > Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
                > > masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
                > > Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
                > > muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
                > > Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
                > > masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
                > > dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
                > > kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
                > > menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
                > > Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
                > > sesama warga Negara di republik ini.
                > > Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
                > > Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
                > > kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
                > > di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
                > > dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
                > > untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
                > > warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
                > > dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
                > > wakil panglima angkatan darat Panggabean.
                > > Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
                > > Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
                > > tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
                > > Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
                > > Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
                > > larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
                > > kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
                > > mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
                > > didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
                > > suasana politik nasional ketika itu.
                > > Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
                > > pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
                > > dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
                > > tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
                > > lainnya.
                > > Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
                > > bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
                > > Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
                > > dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
                > > Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
                > > istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.
                > >
                > > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                > > KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                > > NOMOR 6 TAHUN 2000
                > > TENTANG
                > > PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
                > > TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
                > > PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
                > > Menimbang:
                > > a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
                > > istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
                > > manusia;
                > > b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
                > > <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
                > > tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
                > > Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
                > > menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
                > > c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
                > > perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
                > > Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
                > > Mengingat:
                > > 1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
                > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
                > > 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
                > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
                > > Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
                > > Negara Nomor 3886);
                > > MEMUTUSKAN:
                > > Menetapkan:
                > > KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
                > > NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
                > > PERTAMA:
                > > Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                > > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
                > > KEDUA:
                > > Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
                > > pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                > > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
                > > berlaku.
                > > KETIGA:
                > > Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
                > > dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
                > > berlangsung selama ini.
                > > KEEMPAT:
                > > Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
                > > ditetapkan.
                > > Ditetapkan di Jakarta
                > > Pada tanggal 17 Januari 2000
                > > PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
                > > ABDURRAHMAN WAHID
                > >
                > > Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
                > > 1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
                > > bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
                > > tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
                > > pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
                > > istilah yang muncul di media masa selama itu.
                > > Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
                > > dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
                > > Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
                > > Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
                > > diuraikan pada bagian lain.
                > > China ��" Chinese.
                > > Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
                > > Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
                > > tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
                > > keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata CÄ«na
                > > <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
                > > 150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
                > > kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
                > > Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
                > > ( 221 ��" 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
                > > terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
                > > timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
                > > Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
                > > berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
                > > masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
                > > hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
                > > Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
                > > pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
                > > (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
                > > Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
                > > hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
                > > dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
                > > China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
                > > tsaine”.
                > > Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
                > > bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
                > > bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
                > > menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
                > > merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
                > > memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
                > > sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
                > > masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
                > > budaya China), dst.
                > > Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
                > > di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
                > > perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
                > > Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
                > > bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
                > > banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
                > > kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
                > > juga.
                > > Cina.
                > > Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
                > > dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
                > > istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
                > > Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
                > > bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
                > > Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
                > > Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
                > > pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
                > > Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
                > > dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
                > > sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
                > > kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
                > > Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
                > > “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
                > > Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
                > > Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
                > > Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
                > > Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
                > > Han Empires 221 BC to AD 220
                > > <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726 <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D> &searchurl=an%3D
                > > twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
                > > Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
                > > <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=> &action=edit&redlink=
                > > 1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
                > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
                > > tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
                > > yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
                > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
                > > dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
                > > Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
                > > Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
                > > dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
                > > Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
                > > Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
                > > bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
                > > Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
                > > memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
                > > Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
                > > berkuasa (221 ��" 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
                > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
                > > kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
                > > China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
                > > berupa penamaan dari pihak asing luar.
                > > Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
                > > di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
                > > mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
                > > pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
                > > penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
                > > bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
                > > diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
                > > memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
                > > diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
                > > nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
                > > Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
                > > baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
                > > menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
                > > maupun lisan.
                > > Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
                > > dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
                > > komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
                > > Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
                > > Soekarno dan negara RRT.
                > > Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
                > > penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
                > > didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
                > > itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
                > > Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
                > > bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
                > > Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan ��"
                > > lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
                > > Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
                > > dengan negara RRT.
                > > Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
                > > Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
                > > menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
                > > tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
                > > memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
                > > dibandingkan dengan kata Cina.
                > >
                > > SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
                > > TENTANG MASALAH CINA
                > > NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
                > > 1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
                > > “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
                > > telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
                > > 2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
                > > etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
                > > yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
                > > sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
                > > dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
                > > istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
                > > 3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
                > > sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
                > > untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
                > > 4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
                > > kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
                > > Indonesia umumnya.
                > > 5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
                > > menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
                > > baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
                > > istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
                > > ditinggalkan.
                > > 6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
                > > Jakarta, 28 Juni 1967
                > > PRESIDIUM KABINET AMPERA
                > > SEKRETARIS
                > > Ttd.
                > > SUDHARMONO, SH
                > > BRIG.JEN TNI
                > > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                > > INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                > > NOMOR 14 TAHUN 1967
                > > TENTANG
                > > AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
                > > KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                > > Menimbang:
                > > bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
                > > yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
                > > menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
                > > terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
                > > asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
                > > wajar.
                > > Mengingat:
                > > 1. Undang-Undang Dasar 1945
                > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
                > > pasal 29.
                > > 2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
                > > pasal 1 ayat (a).
                > > 3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
                > > 4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
                > > Menginstruksi kepada:
                > > 1. Menteri Agama
                > > 2. Menteri Dalam Negeri
                > > 3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
                > > Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
                > > dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
                > > PERTAMA:
                > > Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
                > > menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
                > > culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
                > > dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
                > > KEDUA:
                > > Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
                > > dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
                > > lingkungan keluarga.
                > > KETIGA:
                > > Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
                > > cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
                > > menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
                > > KEEMPAT:
                > > Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
                > > pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
                > > KELIMA:
                > > Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
                > > Ditetapkan di Jakarta
                > > pada tanggal, 6 Desember 1967
                > > PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                > >
                > > SOEHARTO
                > > Jenderal TNI
                > >
                > > [Non-text portions of this message have been removed]
                > >
                > > ------------------------------------
                > >
                > > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                > >
                > > # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #
                > >
                > > # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #
                > >
                > > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
                > > Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                > >
                > > Yahoo! Groups Links
                > >
                > > [Non-text portions of this message have been removed]
                > >
                > >
                > >
                > >
                > >
                > > [Non-text portions of this message have been removed]
                > >
                >
                >
                >
                >
                >
                >
                >
                >
                > [Non-text portions of this message have been removed]
                >
              • F Alexander FW
                Barusan saya nonton film tanda tanya http://m.21cineplex.com/posterdetail.php?id=2514 Dalam film tersebut sering juga terdengar kata cino dan juga
                Message 7 of 18 , Apr 10 9:54 AM
                  Barusan saya nonton film "tanda tanya" http://m.21cineplex.com/posterdetail.php?id=2514

                  Dalam film tersebut sering juga terdengar kata "cino" dan juga Dikisahkan bahwa  terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun  memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal (banyak babi), Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan  dengan  Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku

                  Pertanyaanya apakah kita masih pentingkah kita berbeda?

                  Apakah kita toleran atau intolerant thd keberagaman dan perbedaan?

                  Salam
                  Alex
                  Sent from my My BlackBerry® smartphone

                  -----Original Message-----
                  From: John Siswanto <johnsiswanto@...>
                  Sender: tionghoa-net@yahoogroups.com
                  Date: Sun, 10 Apr 2011 21:59:06
                  To: <tionghoa-net@yahoogroups.com>
                  Reply-To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                  Subject: Bls: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.

                  Beughhh...
                  kalau kelas S-3 tulisan boleh kutip sana kutip sini apa bedanya dengan plagiat ya...?
                  kalau kutipan yang ada relevansinya, sebagai perbandingan, mungkin masih adalah relevansinya...
                  Tapi... apa pula relevansi antara ilmu arsitektur dengan istilah "Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina" atau tentang Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                  soal istilah-istilah tersebut lebih cocok dibahas dalam ilmu bidang bahasa/sastra atau ilmu sosial, gak ada hubungannya dengan arsitektur...
                  just my 2 cents
                  JS

                  --- Pada Ming, 10/4/11, JT <jt2x00@...> menulis:


                  Dari: JT <jt2x00@...>
                  Judul: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                  Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
                  Tanggal: Minggu, 10 April, 2011, 6:46 AM


                   



                  Pak Sugiri Yth.

                  Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia?
                  Terus yang menanggapi tulisan anda ini bukan Pak Chandra, yang benar namanya Chan Chun Tak (disingkat Chan CT) atau dikenal juga sebagai Siauw Tiong Tjing, putra dari seorang tokoh Tionghoa masa lalu yang bermarga Siauw. Bung Chan CT sekarang tinggal di Hongkong. Saya rasa pak Sugiri dengan bung Chan ini seangkatan atau tidak berbeda jauh usianya. Untuk yang belum kenal dengan pak Sugiri, saya informasikan bahwa pak Sugiri ini seorang pengusaha besar (boss), Arsitek senior, dosen, dan sekaligus mahasiswa Program Doctor (S3) di universitas terkenal di Bandung, dalam bidang ilmu arsitektur.

                  Salam
                  JT

                  -----------

                  --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ibcindon" <ibcindon@...> wrote:
                  >
                  > Yth. Pak Chandra y.b.,
                  >
                  >
                  >
                  > Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri.
                  >
                  >
                  >
                  > Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis dikanan-kiri aja.
                  >
                  >
                  >
                  > Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.
                  >
                  >
                  >
                  > Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .
                  >
                  >
                  >
                  > Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/
                  >
                  >
                  >
                  >
                  > Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/> Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  > Salam hormat,
                  >
                  >
                  >
                  > Sugiri Kustedja
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
                  > Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
                  > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                  > Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  > Maaf bung,
                  >
                  > Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.
                  >
                  > Terimakasih, ...
                  >
                  > Salam,
                  > ChanCT
                  >
                  > ----- 原始郵件-----
                  > 寄件者: ibcindon
                  > �"�件者: tionghoa-net@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
                  > 傳送日期: 2011年4月6日 12:09
                  > 主旨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                  >
                  > Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                  > Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
                  > bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
                  > memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
                  > mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
                  > Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
                  > sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
                  > air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
                  > perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
                  > pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
                  > saja.
                  > Tiongkok - Tionghoa.
                  > Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
                  > berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
                  > dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中国
                  > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中國
                  > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tʂʊ́ŋkw�"̌]
                  > <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
                  > harafiah “kerajaan tengah”, “negara tengah”. (Dalam lafal Hokkian dibaca
                  > sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
                  > Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
                  > abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
                  > pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
                  > Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
                  > kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
                  > berinduk pada kaisar.,
                  > Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
                  > dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
                  > 華��`國 . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
                  > Zhonghua Renmin Gongheguo中华人��`共�'�国 (RRT)
                  > Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
                  > Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
                  > kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大清帝国, negara baru diberi nama
                  > sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華��`國, arti harafiah ‘negara rakyat Chunghwa’,
                  > atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
                  > menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
                  > masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
                  > Tionghoa.
                  > Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
                  > dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
                  > pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
                  > bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
                  > terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
                  > rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
                  > Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
                  > Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
                  > diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
                  > Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
                  > dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
                  > negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
                  > sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
                  > asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
                  > yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
                  > kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok��"Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
                  > diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
                  > dijadikan enclaves international
                  > <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
                  > negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
                  > Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
                  > 1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
                  > Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
                  > pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
                  > penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
                  > Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
                  > sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
                  > merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
                  > pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
                  > berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
                  > Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
                  > Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
                  > dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
                  > Nederland Indie (Hindia Belanda).
                  > Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
                  > etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
                  > yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
                  > memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
                  > republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
                  > republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
                  > menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
                  > dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
                  > internasional.
                  > Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
                  > pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
                  > Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.
                  >
                  > UUD 1945.
                  > BAB X
                  > WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
                  >
                  > Pasal 26
                  > (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
                  > orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
                  > negara.
                  > (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
                  > tinggal di Indonesia.
                  > (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
                  >
                  > PENJELASAN .
                  > BAB X WARGANEGARA
                  > PASAL 26
                  > Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
                  > Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
                  > Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
                  > Indonesia dapat menjadi warga negara.
                  > Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
                  > masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
                  > Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
                  > muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
                  > Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
                  > masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
                  > dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
                  > kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
                  > menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
                  > Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
                  > sesama warga Negara di republik ini.
                  > Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
                  > Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
                  > kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
                  > di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
                  > dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
                  > untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
                  > warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
                  > dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
                  > wakil panglima angkatan darat Panggabean.
                  > Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
                  > Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
                  > tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
                  > Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
                  > Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
                  > larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
                  > kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
                  > mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
                  > didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
                  > suasana politik nasional ketika itu.
                  > Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
                  > pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
                  > dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
                  > tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
                  > lainnya.
                  > Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
                  > bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
                  > Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
                  > dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
                  > Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
                  > istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.
                  >
                  > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                  > KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                  > NOMOR 6 TAHUN 2000
                  > TENTANG
                  > PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
                  > TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
                  > PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
                  > Menimbang:
                  > a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
                  > istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
                  > manusia;
                  > b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
                  > <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
                  > tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
                  > Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
                  > menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
                  > c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
                  > perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
                  > Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
                  > Mengingat:
                  > 1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
                  > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
                  > 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
                  > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
                  > Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
                  > Negara Nomor 3886);
                  > MEMUTUSKAN:
                  > Menetapkan:
                  > KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
                  > NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
                  > PERTAMA:
                  > Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                  > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
                  > KEDUA:
                  > Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
                  > pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                  > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
                  > berlaku.
                  > KETIGA:
                  > Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
                  > dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
                  > berlangsung selama ini.
                  > KEEMPAT:
                  > Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
                  > ditetapkan.
                  > Ditetapkan di Jakarta
                  > Pada tanggal 17 Januari 2000
                  > PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
                  > ABDURRAHMAN WAHID
                  >
                  > Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
                  > 1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
                  > bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
                  > tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
                  > pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
                  > istilah yang muncul di media masa selama itu.
                  > Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
                  > dengan ejaan yang dilafalkan “cina”, sebagian (yang benar) cara bahasa
                  > Inggris dilafalkan “ ‘tsai.ne ”. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
                  > Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
                  > diuraikan pada bagian lain.
                  > China ��" Chinese.
                  > Kata dalam bahasa Inggris “China” diperkirakan berasal dari bahasa
                  > Persia Cin (چین), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
                  > tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
                  > keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata Cīna
                  > <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (चीन), tercatat digunakan sejak AD
                  > 150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
                  > kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
                  > Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
                  > ( 221 ��" 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
                  > terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
                  > timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
                  > Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
                  > berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
                  > masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
                  > hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
                  > Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
                  > pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
                  > (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
                  > Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
                  > hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
                  > dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
                  > China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :”
                  > tsaine”.
                  > Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
                  > bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
                  > bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama “Cina”. Bagi mereka yang
                  > menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
                  > merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
                  > memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
                  > sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
                  > masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
                  > budaya China), dst.
                  > Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
                  > di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
                  > perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata “cina”.
                  > Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
                  > bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
                  > banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
                  > kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
                  > juga.
                  > Cina.
                  > Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chi’na,
                  > dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
                  > istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
                  > Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
                  > bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
                  > Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
                  > Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
                  > pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
                  > Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
                  > dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
                  > sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
                  > kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
                  > Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
                  > “Linguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
                  > Bahasa Mandarin di Indonesia .” ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
                  > Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
                  > Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
                  > Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
                  > Han Empires 221 BC to AD 220
                  > <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726 <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D> &searchurl=an%3D
                  > twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
                  > Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
                  > <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=> &action=edit&redlink=
                  > 1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
                  > <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
                  > tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
                  > yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
                  > <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , Cīna (चीन), yang sudah
                  > dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
                  > Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
                  > Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
                  > dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
                  > Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
                  > Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
                  > bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
                  > Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
                  > memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
                  > Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
                  > berkuasa (221 ��" 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
                  > <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
                  > kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
                  > China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
                  > berupa penamaan dari pihak asing luar.
                  > Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
                  > di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
                  > mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
                  > pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
                  > penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
                  > bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
                  > diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
                  > memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
                  > diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
                  > nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
                  > Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
                  > baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
                  > menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
                  > maupun lisan.
                  > Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
                  > dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
                  > komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
                  > Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
                  > Soekarno dan negara RRT.
                  > Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
                  > penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
                  > didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
                  > itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
                  > Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
                  > bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
                  > Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan ��"
                  > lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
                  > Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
                  > dengan negara RRT.
                  > Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
                  > Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
                  > menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
                  > tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
                  > memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
                  > dibandingkan dengan kata Cina.
                  >
                  > SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
                  > TENTANG MASALAH CINA
                  > NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
                  > 1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
                  > “Tionghoa/Tiongkok” di samping istilah “Cina” yang secara berangsur-angsur
                  > telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
                  > 2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
                  > etimologis-historis, maka istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai-nilai
                  > yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
                  > sedang istilah “Cina” tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
                  > dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
                  > istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
                  > 3. Berdasarkan sejarah, maka istilah “Cina-lah yang sesungguhnya memang
                  > sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
                  > untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
                  > 4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
                  > kalau kita pergunakan pula istilah “Cina” yang sudah dipilih oleh Rakyat
                  > Indonesia umumnya.
                  > 5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
                  > menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
                  > baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
                  > istilah “Cina” tetap dipergunakan terus, sedang istilah “Tionghoa/Tiongkok
                  > ditinggalkan.
                  > 6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
                  > Jakarta, 28 Juni 1967
                  > PRESIDIUM KABINET AMPERA
                  > SEKRETARIS
                  > Ttd.
                  > SUDHARMONO, SH
                  > BRIG.JEN TNI
                  > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                  > INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                  > NOMOR 14 TAHUN 1967
                  > TENTANG
                  > AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
                  > KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                  > Menimbang:
                  > bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
                  > yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
                  > menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
                  > terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
                  > asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
                  > wajar.
                  > Mengingat:
                  > 1. Undang-Undang Dasar 1945
                  > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
                  > pasal 29.
                  > 2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
                  > pasal 1 ayat (a).
                  > 3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
                  > 4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
                  > Menginstruksi kepada:
                  > 1. Menteri Agama
                  > 2. Menteri Dalam Negeri
                  > 3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
                  > Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
                  > dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
                  > PERTAMA:
                  > Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
                  > menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
                  > culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
                  > dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
                  > KEDUA:
                  > Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
                  > dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
                  > lingkungan keluarga.
                  > KETIGA:
                  > Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
                  > cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
                  > menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
                  > KEEMPAT:
                  > Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
                  > pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
                  > KELIMA:
                  > Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
                  > Ditetapkan di Jakarta
                  > pada tanggal, 6 Desember 1967
                  > PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                  >
                  > SOEHARTO
                  > Jenderal TNI
                  >
                  > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >
                  > ------------------------------------
                  >
                  > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                  >
                  > # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #
                  >
                  > # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #
                  >
                  > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
                  > Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                  >
                  > Yahoo! Groups Links
                  >
                  > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >








                  [Non-text portions of this message have been removed]




                  [Non-text portions of this message have been removed]
                • ChanCT
                  Terimakasih mang JT, atas penjelasan dan perkenalan yang diberikan. Sayapun setuju, tulisan bung Sugiri cukup menarik dan merupakan bahan pertimbangan yang
                  Message 8 of 18 , Apr 10 9:27 PM
                    Terimakasih mang JT, atas penjelasan dan perkenalan yang diberikan.

                    Sayapun setuju, tulisan bung Sugiri cukup menarik dan merupakan bahan pertimbangan yang baik untuk kita semua, dari asal-usul istilah Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, sekalipun merupakan rangkuman data dari berbagai penulis yang berbeda. Itu akan memudahkan bagi pembaca untuk mengikutinya, dan dengan sendiri tidak mesti setuju. Boleh saja kita tetap berpendapat beda syukur juga bisa mengajukan data lain yang diketahui untuk menyangkal. Apalagi dalam masalah sejarah, yang bisa dipandang dari sudut lain dan sumber yang berbeda, ...

                    Tetap yang lebih penting harus disadari, sebutan bagi satu Bangsa dan Negara, sepenuhnya adalah hak bangsa dan negara itu. Bangsa lain hanya bisa menuruti kehendak mereka ingin menggunakan sebutan apa! Tidak bedanya dengan menggunakan sebutan pada seseorang, janganlah sengja gunakan sebutan yang tidak disukai oleh dia, kecuali memang mencari gar-gara untuk berkelahi. Tidak peduli dengan sebutan itu tidak ada jelek dan pengertian merendahkan atau melecehkan orang, menurut pengertian kita sendiri.

                    Begitulah sebutan CINA di Indonesia, yang ditahun 1967 oleh pemerintah Soeharto diresmikan untuk menggantikan sebutan TIongkok/TIonghoa, jelas digunakan untuk menghina bangsa/negara Tiongkok dan sekaligus merendahkan Tionghoa di Indonesia, ... kenapa masih juga hendak diteruskan? Padahal suasana permusuhan sudah berubah bersahabat?!

                    Salam,
                    ChanCT


                    ----- 原始郵件-----
                    寄件者: JT
                    收件者: tionghoa-net@yahoogroups.com
                    傳送日期: 2011年4月10日 23:17
                    主旨: Bls: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.


                    Bung JS yang baik.

                    Sekedar urun rembuk. Suatu tulisan, baik tulisan ilmiah seperti disertasi S3 atau tulisan umum, pada dasarnya merupakan rangkuman dari pengalaman kita atau cerita orang lain atau tulisan orang lain, baik yang dikutip langsung dari tulisan tsb ataupun sekedar kutipan intisarinya. Makin banyak pengalaman kita, atau makin banyak kita mendengar cerita orang, atau makin banyak kita membaca buku, maka referensi yang kita kumpulkan dalam memori kita akan semakin banyak. Dari memori tsb kita bisa menyusun tulisan2 sesuai dengan yang kita inginkan. Kwalitas suatu tulisan tergantung dari memori yang kita kumpulkan dan kemampuan kita menuangkannya dalam suatu tulisan yang mudah dicerna orang lain dan gaya bahasa yang disajikan.

                    Jadi mengutip tulisan orang bukan suatu pelangaran pak, yang pelanggaran itu mengcopy tulisan orang dan mengganti penulisnya dengan nama sendiri. Kutipan tulisan orang juga ada batasnya, max 15% dalam arti dikutip mentah2, lebih dari itu bisa dikatagorikan meniru /plagiat. Tapi kalau ada 10 macam tulisan dari 10 penulis yang berbeda, kita rangkum menjadi satu kemudian kita robah bahasanya sehingga tersusun suatu cerita atau suatu teori yang terstruktur yang berbeda jauh dari tulisan aslinya, itu syah2 saja. Dan pada dasarnya tinjauan teoritis dari Skripsi, Thesis ataupun Disertasi, memang demikian adanya. Tapi kalau hasil penelitian orang lain yang notabene pengalaman orang lain, diaku sebagai hasil penelitian kita, itu namanya plagiat.

                    Tulisan pak Sugiri saya kira cukup bagus. Dan seperti kita tahu, tulisan yang menyangkut sejarah ratusan-ribuan tahun yang lalu mustahil merupakan pengalaman pribadi penulisnya secara langsung. Jadi penulis sejarah pasti mengutip dan merangkum tulisan2 orang lain. Ilmu Arsitektur dengan istilah Tionghoa, Tiongkok, China, Cina, dsb, saya kira ada relevansinya. Misalnya Kelenteng yang merupakan bagian dari budaya Tionghoa, tentu harus dijelaskan pula pengertian istilah Tionghoa disitu, dan apa hubungannya dengan istilah China, karena sebagian orang menyebutkan topik yang sama dengan budaya China, budaya Cina, budaya Tiongkok, dsb. Kalau ceritanya agak melebar, itu hanya variasi saja agar ceritanya lebih menarik.

                    Salam
                    JT

                    NB: barusan saya terima japri dari pak Sugiri, agar meralat istilah pengusaha besar (boss), karena beliau sekarang sudah kurus katanya. Terus pak Sugiri juga sekarang sudah bukan dosen lagi, sudah lama berhenti.


                    ---------------


                    --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, John Siswanto <johnsiswanto@...> wrote:
                    >
                    > Beughhh...
                    > kalau kelas S-3 tulisan boleh kutip sana kutip sini apa bedanya dengan plagiat ya...?
                    > kalau kutipan yang ada relevansinya, sebagai perbandingan, mungkin masih adalah relevansinya...
                    > Tapi... apa pula relevansi antara ilmu arsitektur dengan istilah "Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina" atau tentang Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                    > soal istilah-istilah tersebut lebih cocok dibahas dalam ilmu bidang bahasa/sastra atau ilmu sosial, gak ada hubungannya dengan arsitektur...
                    > just my 2 cents
                    > JS
                    >
                    > --- Pada Ming, 10/4/11, JT <jt2x00@...> menulis:
                    >
                    >
                    > Dari: JT <jt2x00@...>
                    > Judul: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina. Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                    > Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
                    > Tanggal: Minggu, 10 April, 2011, 6:46 AM
                    >
                    >
                    > Â
                    >
                    >
                    >
                    > Pak Sugiri Yth.
                    >
                    > Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia?
                    > Terus yang menanggapi tulisan anda ini bukan Pak Chandra, yang benar namanya Chan Chun Tak (disingkat Chan CT) atau dikenal juga sebagai Siauw Tiong Tjing, putra dari seorang tokoh Tionghoa masa lalu yang bermarga Siauw. Bung Chan CT sekarang tinggal di Hongkong. Saya rasa pak Sugiri dengan bung Chan ini seangkatan atau tidak berbeda jauh usianya. Untuk yang belum kenal dengan pak Sugiri, saya informasikan bahwa pak Sugiri ini seorang pengusaha besar (boss), Arsitek senior, dosen, dan sekaligus mahasiswa Program Doctor (S3) di universitas terkenal di Bandung, dalam bidang ilmu arsitektur.
                    >
                    > Salam
                    > JT
                    >
                    > -----------
                    >
                    > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ibcindon" <ibcindon@> wrote:
                    > >
                    > > Yth. Pak Chandra y.b.,
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya hasil mikir sendiri.
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis dikanan-kiri aja.
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/> Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Salam hormat,
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Sugiri Kustedja
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
                    > > Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
                    > > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                    > > Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > Maaf bung,
                    > >
                    > > Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis, biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih banyak orang.
                    > >
                    > > Terimakasih, ...
                    > >
                    > > Salam,
                    > > ChanCT
                    > >
                    > > ----- åZYå§<éfµä»¶-----
                    > > å¯"件è?.: ibcindon
                    > > �"�件è?.: tionghoa-net@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
                    > > å,³é?æ-¥æoY: 2011å¹´4æo^6æ-¥ 12:09
                    > > 主æ-¨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                    > >
                    > > Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                    > > Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
                    > > bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
                    > > memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
                    > > mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
                    > > Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
                    > > sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
                    > > air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
                    > > perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
                    > > pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
                    > > saja.
                    > > Tiongkok - Tionghoa.
                    > > Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
                    > > berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
                    > > dst. Kata yang sering dipakai adalah Zhōngguó ( 中å>½
                    > > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中åo<
                    > > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tÊ,ÊŚŠ> > <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
                    > > harafiah â?okerajaan tengahâ?, â?onegara tengahâ?. (Dalam lafal Hokkian dibaca
                    > > sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
                    > > Istilah Zhōngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
                    > > abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
                    > > pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
                    > > Kadang-kadang istilah Zhōngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
                    > > kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
                    > > berinduk pada kaisar.,
                    > > Kemudian hari istilah Zhōngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
                    > > dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
                    > > 華��`åo< . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949 diplokamirkan
                    > > Zhonghua Renmin Gongheguo中åZ人��`å.±ï¿½'�å>½ (RRT)
                    > > Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
                    > > Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
                    > > kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大æ¸.帝å>½, negara baru diberi nama
                    > > sebagai Chung Hwa Ming Guo 中華��`åo<, arti harafiah â?~negara rakyat Chunghwaâ?T,
                    > > atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
                    > > menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
                    > > masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
                    > > Tionghoa.
                    > > Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
                    > > dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
                    > > pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
                    > > bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
                    > > terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
                    > > rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
                    > > Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
                    > > Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
                    > > diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
                    > > Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
                    > > dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
                    > > negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
                    > > sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
                    > > asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
                    > > yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
                    > > kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok��"Jepang 1): Korea merdeka, Taiwan
                    > > diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
                    > > dijadikan enclaves international
                    > > <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
                    > > negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
                    > > Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
                    > > 1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
                    > > Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
                    > > pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
                    > > penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
                    > > Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
                    > > sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
                    > > merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
                    > > pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
                    > > berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
                    > > Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
                    > > Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
                    > > dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
                    > > Nederland Indie (Hindia Belanda).
                    > > Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
                    > > etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
                    > > yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
                    > > memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
                    > > republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
                    > > republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
                    > > menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
                    > > dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
                    > > internasional.
                    > > Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
                    > > pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
                    > > Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.
                    > >
                    > > UUD 1945.
                    > > BAB X
                    > > WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
                    > >
                    > > Pasal 26
                    > > (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
                    > > orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
                    > > negara.
                    > > (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
                    > > tinggal di Indonesia.
                    > > (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
                    > >
                    > > PENJELASAN .
                    > > BAB X WARGANEGARA
                    > > PASAL 26
                    > > Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
                    > > Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
                    > > Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
                    > > Indonesia dapat menjadi warga negara.
                    > > Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
                    > > masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
                    > > Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
                    > > muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
                    > > Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
                    > > masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
                    > > dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
                    > > kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
                    > > menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
                    > > Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
                    > > sesama warga Negara di republik ini.
                    > > Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
                    > > Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
                    > > kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
                    > > di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
                    > > dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
                    > > untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
                    > > warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
                    > > dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
                    > > wakil panglima angkatan darat Panggabean.
                    > > Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
                    > > Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
                    > > tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
                    > > Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
                    > > Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
                    > > larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
                    > > kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
                    > > mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
                    > > didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
                    > > suasana politik nasional ketika itu.
                    > > Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
                    > > pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
                    > > dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
                    > > tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
                    > > lainnya.
                    > > Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
                    > > bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
                    > > Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
                    > > dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
                    > > Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
                    > > istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.
                    > >
                    > > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                    > > KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                    > > NOMOR 6 TAHUN 2000
                    > > TENTANG
                    > > PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
                    > > TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
                    > > PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
                    > > Menimbang:
                    > > a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
                    > > istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
                    > > manusia;
                    > > b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
                    > > <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
                    > > tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
                    > > Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
                    > > menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
                    > > c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
                    > > perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
                    > > Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
                    > > Mengingat:
                    > > 1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
                    > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
                    > > 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
                    > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
                    > > Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
                    > > Negara Nomor 3886);
                    > > MEMUTUSKAN:
                    > > Menetapkan:
                    > > KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
                    > > NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
                    > > PERTAMA:
                    > > Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                    > > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
                    > > KEDUA:
                    > > Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
                    > > pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                    > > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
                    > > berlaku.
                    > > KETIGA:
                    > > Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
                    > > dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
                    > > berlangsung selama ini.
                    > > KEEMPAT:
                    > > Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
                    > > ditetapkan.
                    > > Ditetapkan di Jakarta
                    > > Pada tanggal 17 Januari 2000
                    > > PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
                    > > ABDURRAHMAN WAHID
                    > >
                    > > Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
                    > > 1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
                    > > bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
                    > > tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
                    > > pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
                    > > istilah yang muncul di media masa selama itu.
                    > > Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
                    > > dengan ejaan yang dilafalkan â?ocinaâ?, sebagian (yang benar) cara bahasa
                    > > Inggris dilafalkan â?o â?~tsai.ne â?. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
                    > > Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
                    > > diuraikan pada bagian lain.
                    > > China ��" Chinese.
                    > > Kata dalam bahasa Inggris â?oChinaâ? diperkirakan berasal dari bahasa
                    > > Persia Cin (Ú?ÛOÙ?), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
                    > > tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
                    > > keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata CÄ«na
                    > > <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (à¤sà¥?न), tercatat digunakan sejak AD
                    > > 150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
                    > > kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi barat
                    > > Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
                    > > ( 221 ��" 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5 BC)
                    > > terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
                    > > timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
                    > > Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
                    > > berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
                    > > masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
                    > > hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
                    > > Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
                    > > pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
                    > > (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
                    > > Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
                    > > hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
                    > > dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
                    > > China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :�
                    > > tsaine�.
                    > > Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
                    > > bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
                    > > bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama â?oCinaâ?. Bagi mereka yang
                    > > menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
                    > > merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
                    > > memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
                    > > sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
                    > > masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
                    > > budaya China), dst.
                    > > Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
                    > > di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
                    > > perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata â?ocinaâ?.
                    > > Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
                    > > bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
                    > > banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
                    > > kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
                    > > juga.
                    > > Cina.
                    > > Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chiâ?Tna,
                    > > dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
                    > > istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
                    > > Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
                    > > bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
                    > > Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
                    > > Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
                    > > pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
                    > > Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
                    > > dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
                    > > sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
                    > > kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
                    > > Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
                    > > â?oLinguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam Pengajaran
                    > > Bahasa Mandarin di Indonesia .� ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap dalam
                    > > Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
                    > > Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
                    > > Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
                    > > Han Empires 221 BC to AD 220
                    > > <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726 <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D> &searchurl=an%3D
                    > > twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
                    > > Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
                    > > <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=> &action=edit&redlink=
                    > > 1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
                    > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
                    > > tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
                    > > yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
                    > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , CÄ«na (à¤sà¥?न), yang sudah
                    > > dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
                    > > Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
                    > > Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
                    > > dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
                    > > Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
                    > > Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
                    > > bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
                    > > Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
                    > > memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
                    > > Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
                    > > berkuasa (221 ��" 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti Zhou
                    > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
                    > > kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
                    > > China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
                    > > berupa penamaan dari pihak asing luar.
                    > > Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
                    > > di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
                    > > mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
                    > > pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
                    > > penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
                    > > bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
                    > > diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
                    > > memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
                    > > diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
                    > > nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
                    > > Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
                    > > baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
                    > > menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
                    > > maupun lisan.
                    > > Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
                    > > dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
                    > > komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
                    > > Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
                    > > Soekarno dan negara RRT.
                    > > Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
                    > > penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
                    > > didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
                    > > itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
                    > > Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
                    > > bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
                    > > Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan ��"
                    > > lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
                    > > Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
                    > > dengan negara RRT.
                    > > Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
                    > > Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
                    > > menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
                    > > tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
                    > > memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
                    > > dibandingkan dengan kata Cina.
                    > >
                    > > SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
                    > > TENTANG MASALAH CINA
                    > > NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
                    > > 1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
                    > > â?oTionghoa/Tiongkokâ? di samping istilah â?oCinaâ? yang secara berangsur-angsur
                    > > telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
                    > > 2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
                    > > etimologis-historis, maka istilah â?oTionghoa/Tiongkokâ? mengandung nilai-nilai
                    > > yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
                    > > sedang istilah â?oCinaâ? tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
                    > > dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
                    > > istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
                    > > 3. Berdasarkan sejarah, maka istilah â?oCina-lah yang sesungguhnya memang
                    > > sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
                    > > untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
                    > > 4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
                    > > kalau kita pergunakan pula istilah â?oCinaâ? yang sudah dipilih oleh Rakyat
                    > > Indonesia umumnya.
                    > > 5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
                    > > menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
                    > > baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
                    > > istilah â?oCinaâ? tetap dipergunakan terus, sedang istilah â?oTionghoa/Tiongkok
                    > > ditinggalkan.
                    > > 6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
                    > > Jakarta, 28 Juni 1967
                    > > PRESIDIUM KABINET AMPERA
                    > > SEKRETARIS
                    > > Ttd.
                    > > SUDHARMONO, SH
                    > > BRIG.JEN TNI
                    > > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                    > > INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                    > > NOMOR 14 TAHUN 1967
                    > > TENTANG
                    > > AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
                    > > KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                    > > Menimbang:
                    > > bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
                    > > yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
                    > > menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
                    > > terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
                    > > asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
                    > > wajar.
                    > > Mengingat:
                    > > 1. Undang-Undang Dasar 1945
                    > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
                    > > pasal 29.
                    > > 2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
                    > > pasal 1 ayat (a).
                    > > 3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
                    > > 4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
                    > > Menginstruksi kepada:
                    > > 1. Menteri Agama
                    > > 2. Menteri Dalam Negeri
                    > > 3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
                    > > Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
                    > > dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
                    > > PERTAMA:
                    > > Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
                    > > menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
                    > > culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
                    > > dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
                    > > KEDUA:
                    > > Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
                    > > dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
                    > > lingkungan keluarga.
                    > > KETIGA:
                    > > Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
                    > > cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
                    > > menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
                    > > KEEMPAT:
                    > > Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
                    > > pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
                    > > KELIMA:
                    > > Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
                    > > Ditetapkan di Jakarta
                    > > pada tanggal, 6 Desember 1967
                    > > PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                    > >
                    > > SOEHARTO
                    > > Jenderal TNI
                    > >
                    > > [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >
                    > > ------------------------------------
                    > >
                    > > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                    > >
                    > > # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #
                    > >
                    > > # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #
                    > >
                    > > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
                    > > Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com <mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                    > >
                    > > Yahoo! Groups Links
                    > >
                    > > [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > >
                    > > [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    > [Non-text portions of this message have been removed]
                    >




                    ------------------------------------

                    Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni

                    # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #

                    # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #

                    Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com
                    Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                    Yahoo! Groups Links




                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  • Harry Adinegara
                    Menurut aku, Mbah  Harto itu selain seorang Tiran, penjagal bongso dewek , seorang yang rasis, tapi juga seorang yang lihay dalam artian mencari keuntungan
                    Message 9 of 18 , Apr 11 6:17 AM
                      Menurut aku, Mbah  Harto itu selain seorang Tiran, penjagal bongso dewek ,
                      seorang yang rasis, tapi juga seorang yang lihay dalam artian mencari keuntungan
                      dalam kesempitan.  Sudah dengan alasan yang di-cari2 dalam pergantian sebutan
                      Tionghoa...Cina...tapi dibelakang layar mbah Harto penjagal bongso dewek ini
                      dengan lihaynya dan tanpa malu2 merekrut konglo2 etnis Tionghoa untuk dijadikan
                      tameng.
                      Apa ini bukan suatu ke-lihay-an yang jarang ada tandingan-nya. Disatu pihak
                      bertindak rasis, tapi di ujung lain sang Tiran ini kerja sama dengan konglo
                      etnis Tionghoa  untuk merampok pundi2-nya rakyat Indonesia.

                      Harry Adinegara




                      ________________________________
                      From: ChanCT <SADAR@...>
                      To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                      Sent: Mon, 11 April, 2011 2:27:24 PM
                      Subject: Re: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                      Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.

                       
                      Terimakasih mang JT, atas penjelasan dan perkenalan yang diberikan.

                      Sayapun setuju, tulisan bung Sugiri cukup menarik dan merupakan bahan
                      pertimbangan yang baik untuk kita semua, dari asal-usul istilah
                      Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina, sekalipun merupakan rangkuman data dari
                      berbagai penulis yang berbeda. Itu akan memudahkan bagi pembaca untuk
                      mengikutinya, dan dengan sendiri tidak mesti setuju. Boleh saja kita tetap
                      berpendapat beda syukur juga bisa mengajukan data lain yang diketahui untuk
                      menyangkal. Apalagi dalam masalah sejarah, yang bisa dipandang dari sudut lain
                      dan sumber yang berbeda, ...

                      Tetap yang lebih penting harus disadari, sebutan bagi satu Bangsa dan Negara,
                      sepenuhnya adalah hak bangsa dan negara itu. Bangsa lain hanya bisa menuruti
                      kehendak mereka ingin menggunakan sebutan apa! Tidak bedanya dengan menggunakan
                      sebutan pada seseorang, janganlah sengja gunakan sebutan yang tidak disukai oleh
                      dia, kecuali memang mencari gar-gara untuk berkelahi. Tidak peduli dengan
                      sebutan itu tidak ada jelek dan pengertian merendahkan atau melecehkan orang,
                      menurut pengertian kita sendiri.

                      Begitulah sebutan CINA di Indonesia, yang ditahun 1967 oleh pemerintah Soeharto
                      diresmikan untuk menggantikan sebutan TIongkok/TIonghoa, jelas digunakan untuk
                      menghina bangsa/negara Tiongkok dan sekaligus merendahkan Tionghoa di Indonesia,
                      ... kenapa masih juga hendak diteruskan? Padahal suasana permusuhan sudah
                      berubah bersahabat?!

                      Salam,
                      ChanCT

                      ----- 原始郵件-----
                      寄件者: JT
                      收件者: tionghoa-net@yahoogroups.com
                      傳送日期: 2011年4月10日 23:17
                      主旨: Bls: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                      Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.

                      Bung JS yang baik.

                      Sekedar urun rembuk. Suatu tulisan, baik tulisan ilmiah seperti disertasi S3
                      atau tulisan umum, pada dasarnya merupakan rangkuman dari pengalaman kita atau
                      cerita orang lain atau tulisan orang lain, baik yang dikutip langsung dari
                      tulisan tsb ataupun sekedar kutipan intisarinya. Makin banyak pengalaman kita,
                      atau makin banyak kita mendengar cerita orang, atau makin banyak kita membaca
                      buku, maka referensi yang kita kumpulkan dalam memori kita akan semakin banyak.
                      Dari memori tsb kita bisa menyusun tulisan2 sesuai dengan yang kita inginkan.
                      Kwalitas suatu tulisan tergantung dari memori yang kita kumpulkan dan kemampuan
                      kita menuangkannya dalam suatu tulisan yang mudah dicerna orang lain dan gaya
                      bahasa yang disajikan.

                      Jadi mengutip tulisan orang bukan suatu pelangaran pak, yang pelanggaran itu
                      mengcopy tulisan orang dan mengganti penulisnya dengan nama sendiri. Kutipan
                      tulisan orang juga ada batasnya, max 15% dalam arti dikutip mentah2, lebih dari
                      itu bisa dikatagorikan meniru /plagiat. Tapi kalau ada 10 macam tulisan dari 10
                      penulis yang berbeda, kita rangkum menjadi satu kemudian kita robah bahasanya
                      sehingga tersusun suatu cerita atau suatu teori yang terstruktur yang berbeda
                      jauh dari tulisan aslinya, itu syah2 saja. Dan pada dasarnya tinjauan teoritis
                      dari Skripsi, Thesis ataupun Disertasi, memang demikian adanya. Tapi kalau hasil
                      penelitian orang lain yang notabene pengalaman orang lain, diaku sebagai hasil
                      penelitian kita, itu namanya plagiat.

                      Tulisan pak Sugiri saya kira cukup bagus. Dan seperti kita tahu, tulisan yang
                      menyangkut sejarah ratusan-ribuan tahun yang lalu mustahil merupakan pengalaman
                      pribadi penulisnya secara langsung. Jadi penulis sejarah pasti mengutip dan
                      merangkum tulisan2 orang lain. Ilmu Arsitektur dengan istilah Tionghoa,
                      Tiongkok, China, Cina, dsb, saya kira ada relevansinya. Misalnya Kelenteng yang
                      merupakan bagian dari budaya Tionghoa, tentu harus dijelaskan pula pengertian
                      istilah Tionghoa disitu, dan apa hubungannya dengan istilah China, karena
                      sebagian orang menyebutkan topik yang sama dengan budaya China, budaya Cina,
                      budaya Tiongkok, dsb. Kalau ceritanya agak melebar, itu hanya variasi saja agar
                      ceritanya lebih menarik.


                      Salam
                      JT

                      NB: barusan saya terima japri dari pak Sugiri, agar meralat istilah pengusaha
                      besar (boss), karena beliau sekarang sudah kurus katanya. Terus pak Sugiri juga
                      sekarang sudah bukan dosen lagi, sudah lama berhenti.


                      ---------------

                      --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, John Siswanto <johnsiswanto@...> wrote:
                      >
                      > Beughhh...
                      > kalau kelas S-3 tulisan boleh kutip sana kutip sini apa bedanya dengan plagiat
                      >ya...?
                      > kalau kutipan yang ada relevansinya, sebagai perbandingan, mungkin masih adalah
                      >relevansinya...
                      > Tapi... apa pula relevansi antara ilmu arsitektur dengan istilah "Tiongkok,
                      >Tionghoa, China, Chinese, dan Cina" atau tentang Bahasa Indonesia Baik, Benar
                      >Dan Santun.
                      > soal istilah-istilah tersebut lebih cocok dibahas dalam ilmu bidang
                      >bahasa/sastra atau ilmu sosial, gak ada hubungannya dengan arsitektur...
                      > just my 2 cents
                      > JS
                      >
                      > --- Pada Ming, 10/4/11, JT <jt2x00@...> menulis:
                      >
                      >
                      > Dari: JT <jt2x00@...>
                      > Judul: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                      >Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                      > Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
                      > Tanggal: Minggu, 10 April, 2011, 6:46 AM
                      >
                      >
                      > Â
                      >
                      >
                      >
                      > Pak Sugiri Yth.
                      >
                      > Apakah tulisan dengan judul di atas sebagian dari Bab Pendahuluan dari
                      >Disertasi anda tentang Arsitektur Kelenteng di Indonesia?
                      >
                      > Terus yang menanggapi tulisan anda ini bukan Pak Chandra, yang benar namanya
                      >Chan Chun Tak (disingkat Chan CT) atau dikenal juga sebagai Siauw Tiong Tjing,
                      >putra dari seorang tokoh Tionghoa masa lalu yang bermarga Siauw. Bung Chan CT
                      >sekarang tinggal di Hongkong. Saya rasa pak Sugiri dengan bung Chan ini
                      >seangkatan atau tidak berbeda jauh usianya. Untuk yang belum kenal dengan pak
                      >Sugiri, saya informasikan bahwa pak Sugiri ini seorang pengusaha besar (boss),
                      >Arsitek senior, dosen, dan sekaligus mahasiswa Program Doctor (S3) di
                      >universitas terkenal di Bandung, dalam bidang ilmu arsitektur.
                      >
                      >
                      > Salam
                      > JT
                      >
                      > -----------
                      >
                      > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ibcindon" <ibcindon@> wrote:
                      > >
                      > > Yth. Pak Chandra y.b.,
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Kalau tulisan dengan bahan yang agak luas demikian enga mungkinlah buat saya
                      >hasil mikir sendiri.
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Ini cuma hasil kumpul-kumpul dari artikel dan komentar banyak anggota milis
                      >dikanan-kiri aja.
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Saya cuma catat saja dan kalu mungkin di periksa ulang dan dilengkapi.
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Versi lengkap yang tidak brantakan bisa dilihat di web BUDAYA TIONGHOA .
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Laman lain adalah http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Dengan judul <http://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/04/04/96/>
                      >Istilah Bahasa Indonesia Baik, Benar Dan Santun.
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Salam hormat,
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Sugiri Kustedja
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com] On
                      >Behalf Of ChanCT
                      > > Sent: Sunday, April 10, 2011 8:04 AM
                      > > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                      > > Subject: Re: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > Maaf bung,
                      > >
                      > > Tulisan dibawah begitu memperinci sebutan Tiongkok/Tionghoa, China dan Cina,
                      >tulisan bung sendiri atau tulisan siapa? Tolong diberi-nama lengkap penulis,
                      >biar saya lempar keluar dimilis-tetangga, agar bisa diikuti dan ketahui lebih
                      >banyak orang.
                      > >
                      > > Terimakasih, ...
                      > >
                      > > Salam,
                      > > ChanCT
                      > >
                      > > ----- åZYå§<éfµä»¶-----
                      > > å¯"件è?.: ibcindon
                      > > �"�件è?.: tionghoa-net@yahoogroups.com
                      ><mailto:tionghoa-net%40yahoogroups.com>
                      >
                      > > å,³é?æ-¥æoY: 2011å¹´4æo^6æ-¥ 12:09
                      > > 主æ-¨: [t-net] Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                      > >
                      > > Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                      > > Pemilihan penggunaan salah satu istilah penamaan diatas sering menjadi
                      > > bahan pertanyaan yang kadang menjadi pembahasan berkepanjangan, kerapkali
                      > > memberi kesan rancu dan gamang. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan
                      > > mengenai alasan pemilihan istilah Tionghoa-Tiongkok dalam penelitian ini.
                      > > Pembahasan perlu sedikit pengetahuan lebih mendalam pada perspektip
                      > > sejarah nasional secara diakronis, pekat dengan suasana sosial politik tanah
                      > > air Indonesia dari masa ke masa. Dengan mengerti nuansa budaya dalam
                      > > perspektip ini, barulah dapat dimengerti mengenai munculnya komentar pada
                      > > pilihan kata tsb. Pendekatan tidak dapat hanya murni sebagai objek etimologi
                      > > saja.
                      > > Tiongkok - Tionghoa.
                      > > Penamaan negara Tiongkok oleh masyarakat dalam negerinya sendiri
                      > > berganti-ganti mengikuti nama tiap dinasti. Kekaisaran agung Qing, atau Ming
                      > > dst. Kata yang sering dipakai adalah ZhÅngguó ( 中å>½
                      > > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9B%BD> ; 中åo<
                      > > <http://en.wiktionary.org/wiki/%E4%B8%AD%E5%9C%8B> , [tÊ,ÊSÌÅ > >
                      ><http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:IPA_for_Mandarin> ) yang arti
                      > > harafiah â?okerajaan tengahâ?, â?onegara tengahâ?. (Dalam lafal Hokkian
                      >dibaca
                      > > sebagai Tiongkok; ini yang umum digunakan di Indonesia ).
                      > > Istilah ZhÅngguó ini sudah ditemukan pada naskah sejarah klasik dari
                      > > abad 6 BC, penyebutan untuk kekaisaran dinasti Zhou. Mereka merasa sebagai
                      > > pusat kebudayaan dibandingkan dengan keadaan daerah sekelilingnya.
                      > > Kadang-kadang istilah ZhÅngguó dipakai juga untuk menamai ibukota pusat
                      > > kekaisaran yang membedakan penamaan kota dibawah kuasa pangeran yang
                      > > berinduk pada kaisar.,
                      > > Kemudian hari istilah ZhÅngguó juga dipakai sebagai singkatan penamaan
                      > > dari republik tahun 1911 yang didirikan Dr. Sun Yat Sen Zhonghua Minguo中
                      > > è¯ï¿½ï¿½`åo< . Selanjutnya hal yang sama juga terjadi ketika tahun 1949
                      >diplokamirkan
                      > > Zhonghua Renmin Gongheguo中åZ人��`å.±ï¿½'�å>½ (RRT)
                      > > Istilah Tiongkok menjadi populer untuk Hindia Belanda, setelah dr. Sun
                      > > Yat Sen tahun 1911 memplokamirkan berdirinya republik setelah menumbangkan
                      > > kekaisaran Manchu(Ching) Da Qing Di Guo 大æ¸.å¸å>½, negara baru diberi nama
                      > > sebagai Chung Hwa Ming Guo 中è¯ï¿½ï¿½`åo<, arti harafiah â?~negara rakyat
                      >Chunghwaâ?T,
                      > > atau Republik Chunghwa(sesuai istilah tata negara). Penyebutan singkat
                      > > menjadi Chung Guo; dalam dialek Hokkian dibaca Tiongkok. Sedangkan warga
                      > > masyarakatnya disebut Chunghwa atau dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai
                      > > Tionghoa.
                      > > Sebutan Chungguo dan Chunghwa menjadi populer sebab revolusi perubahan
                      > > dari kekaisaran menjadi negara demokratis, memberikan harapan baru perbaikan
                      > > pada masyarakat umum. Tersirat juga agaknya perasaan persaingan primordial
                      > > bahwa etmik Han terlepas dari dominasi etnik Manchu. Ini sangat jelas
                      > > terlihat ketika mereka yang merasa memiliki orientasi baru segera memotong
                      > > rambut panjang (untunan), suatu adat yang dipaksakan oleh perintah penguasa
                      > > Manchu ketika mereka pada periode awal berhasil menguasai kekaisaran
                      > > Tiongkok. Dengan istilah baru ini tersirat semangat membangun kembali harga
                      > > diri bangsa dan negara yang telah lama terpuruk sebelumnya.
                      > > Selama berabad-abad kekaisaran Manchu (1644-1911) mengalami pelapukan
                      > > dari dalam, dan kekalahan bertubi-tubi ketika bertempur menghadapi agresi
                      > > negara-negara asing. Masyarakat dan para cendekiawan merasakan suasana
                      > > sangat terhina dan terjajah ketika kekaisaran tidak berdaya terhadap negara
                      > > asing: Hong Kong dikuasai Inggris, Makao dikuasai Portugal, kota Shanghai
                      > > yang dibagi-bagi antara banyak negara asing. Perjanjian Shimonoseki 1895
                      > > kekaisaran kalah perang (perang Tiongkok��"Jepang 1): Korea merdeka,
                      >Taiwan
                      > > diambil Jepang, Port Arthur dikuasai Rusia. Banyak wilayah kekaisaran
                      > > dijadikan enclaves international
                      > > <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_foreign_enclaves_in_China> oleh
                      > > negara-negara Eropah yang mempunyai daerah khusus, Austria, Hungaria,
                      > > Portugis, Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Itali, Belgia, Jepang. Akhir
                      > > 1911 Mongolia melepaskan diri merdeka.
                      > > Di Hindia Belanda pada saat bersamaan juga sudah mulai timbul
                      > > pergerakan nasionalis yang mendambakan kemerdekaan tanah air, lepas dari
                      > > penjajahan kolonial Belanda. Suara-suara revolusioner perjuangan dari Bapak
                      > > Bangsa ini mendapat simpati dari berapa media masa yang memiliki pandangan
                      > > sama di Nederland Indie masa itu. Di Batavia koran Sin Po ketika itu
                      > > merupakan koran berbahasa Melayu pasar, para redaksinya sangat bersimpati
                      > > pada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dalam masa bersamaan juga
                      > > berorientasi mendukung perjuangan dr. Sun Yat Sen di Tiongkok.
                      > > Koran Sin Po ini yang pertama kali berani memuat teks lengkap lagu
                      > > Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, lalu mengganti pemakaian kata inlander
                      > > dengan boemiputera, serta mempopulerkan kata Indonesia sebagai pengganti
                      > > Nederland Indie (Hindia Belanda).
                      > > Para redaktur dan beberapa wartawan Sin Po adalah peranakan dari
                      > > etnis Tionghoa dengan dialek Hokkian, mereka dengan semangat revolusioner
                      > > yang sama mengganti kata Cina yang berasosiasi derogatory (merendahkan) dan
                      > > memilih memakai istilah Chunghwa dan Chungguo mengacu pada penamaan negara
                      > > republik yang baru diploklamasikan mengikuti pemakaian istilah sama di
                      > > republik baru. Dalam bahasa Melayu pasar dialek Hokkian ini dipopulerkan
                      > > menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Tersirat semangat cakrawala baru yang lepas
                      > > dari rasa minder sebagai bangsa loser (pecundang) dalam tatanan dunia
                      > > internasional.
                      > > Rasa kebersamaan dalam perjuangan ini juga tercermin dalam persiapan
                      > > pembuatan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Para Bapak
                      > > Bangsa memakai istilah Tionghoa dalam naskah penjelasan UUD 1945.
                      > >
                      > > UUD 1945.
                      > > BAB X
                      > > WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
                      > >
                      > > Pasal 26
                      > > (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
                      > > orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
                      > > negara.
                      > > (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
                      > > tinggal di Indonesia.
                      > > (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
                      > >
                      > > PENJELASAN .
                      > > BAB X WARGANEGARA
                      > > PASAL 26
                      > > Orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan
                      > > Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui
                      > > Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik
                      > > Indonesia dapat menjadi warga negara.
                      > > Sikap egalitar dalam pemakaian istilah ini berlangsung hingga akhir
                      > > masa pemerintahan presiden Republik Indonesia pertama almarhum Soekarno.
                      > > Ketika tahun 1965 terjadi perubahan suasana politik di tanah air,
                      > > muncul sebagai penguasa baru Soeharto dari TNI. Gencar di tonjolkan bahwa
                      > > Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba memberontak pada Republik, pada
                      > > masa itu PKI sangat dekat dengan presiden Soekarno dan kedua pihak juga
                      > > dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang berpaham komunis. Timbul
                      > > kecurigaan bahwa RRT telah mendukung pemberontakan ini, suasana ini
                      > > menimbulkan hysteria masa sikap anti komunis, anti PKI, dan anti RRT.
                      > > Kampanye yang berimbas juga pada sikap anti etnik Tionghoa di tanah air,
                      > > sesama warga Negara di republik ini.
                      > > Dalam suasana demikian ketika diadakan Seminar Angkatan Darat II di
                      > > Seskoad, Lembang, pada 25-31 Agustus 1966. Muncul pada risalah akhir seminar
                      > > kesimpulan : "... untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan
                      > > di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan
                      > > dalam negara kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan
                      > > untuk menggunakan lagi sebagai sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan
                      > > warganya, Republik Rakyat Cina dan warga Negara Cina. Hal ini dapat
                      > > dibenarkan dari segi historis dan sosiologi." Laporan ini dipersiapkan oleh
                      > > wakil panglima angkatan darat Panggabean.
                      > > Pernyataan ini kemudian diterapkan dalam lingkup kenegaraan berupa
                      > > Keputusan Presidium Kabinet no.: 127/kep/12/1966 Ketua Presidium Kabinet
                      > > tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama
                      > > Cina, Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967, dan surat edaran Presidium
                      > > Kabinet Ampera No. SE.06/Pres.Kab/6/1967 tgl 28 Juni 1967. Intinya berupa
                      > > larangan pelaksanaan dimuka umum segala hal yang bertautan dengan budaya dan
                      > > kepercayaan etnik Tionghoa serta penggunaan istilah resmi kata Cina
                      > > mengganti kata Tionghoa dan Tiongkok. Sikap politik dan peraturan yang
                      > > didasari oleh pemikiran permusuhan dan pembedaan rasialis etnik; sesuai
                      > > suasana politik nasional ketika itu.
                      > > Ketika tahun 1998 suasana politik bergulir kearah perubahan demokrasi,
                      > > pada masa pemerintahan presiden almarhum Gus Dur ( Abdurrahman Wahid)
                      > > dengan Keppres 6 Tahun 2000 dicabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14
                      > > tahun 1967. Tetapi tidak turut disebut mengenai keppres dan surat edaran
                      > > lainnya.
                      > > Setelahnya kembali masyarakat Indonesia dapat melaksanakan dan
                      > > bersama-sama melihat kegiatan budaya yang berhubungan dengan etnik Tionghoa.
                      > > Dalam suasana baru ini media masa kembali menggunakan istilah Tiongkok
                      > > dan Tionghoa tercampur aduk dengan istilah China, Chinese, dan Cina.
                      > > Sebagian masyarakat yang mengetahui mengenai sejarah dan nuansa gonta-ganti
                      > > istilah ini lebih memilih memakai kembali istilah Tiongkok dan Tionghoa.
                      > >
                      > > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                      > > KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                      > > NOMOR 6 TAHUN 2000
                      > > TENTANG
                      > > PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 1967
                      > > TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA
                      > > PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
                      > > Menimbang:
                      > > a. bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat
                      > > istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi
                      > > manusia;
                      > > b. bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967
                      > > <http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Nomor_14_Tahun_1967>
                      > > tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara
                      > > Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam
                      > > menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya;
                      > > c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dalam huruf a dan b, dipandang
                      > > perlu mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama,
                      > > Kepercayaan, Adat Istiadat Cina dengan Keputusan Presiden;
                      > > Mengingat:
                      > > 1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945
                      > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> ;
                      > > 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
                      > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-undang_Nomor_39_Tahun_1999> tentang
                      > > Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
                      > > Negara Nomor 3886);
                      > > MEMUTUSKAN:
                      > > Menetapkan:
                      > > KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENCABUTAN INSTRUKSI PRESIDEN
                      > > NOMOR 14 TAHUN 1967 TENTANG AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT CINA.
                      > > PERTAMA:
                      > > Mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                      > > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.
                      > > KEDUA:
                      > > Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, semua ketentuan
                      > > pelaksanaan yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang
                      > > Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak
                      > > berlaku.
                      > > KETIGA:
                      > > Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan,
                      > > dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana
                      > > berlangsung selama ini.
                      > > KEEMPAT:
                      > > Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal
                      > > ditetapkan.
                      > > Ditetapkan di Jakarta
                      > > Pada tanggal 17 Januari 2000
                      > > PRESIDEN REPUBLlK INDONESIA,
                      > > ABDURRAHMAN WAHID
                      > >
                      > > Bagi sebagian lagi, terutama generasi muda yang lahir setelah
                      > > 1965an tidak pernah mengalami nuansa kata pada pemakaian masa lalu yang
                      > > bernada pejorative (merendahkan); karena ketidak tahuan bersikap netral
                      > > tanpa asosiasi makna atau maksud buruk apapun. Mereka yang bertumbuh dalam
                      > > pendidikan selama 30 tahun pemerintahan Soeharto, terbiasa dengan pemakaian
                      > > istilah yang muncul di media masa selama itu.
                      > > Sebagian lain lagi menggunakan istilah China secara gamang membaca
                      > > dengan ejaan yang dilafalkan â?ocinaâ?, sebagian (yang benar) cara bahasa
                      > > Inggris dilafalkan â?o â?~tsai.ne â?. Hal yang sama juga pada pelafalan kata
                      > > Chinese. Pengunaan kata-kata ini sebagai kosa kata bahasa Indonesia
                      > > diuraikan pada bagian lain.
                      > > China ��" Chinese.
                      > > Kata dalam bahasa Inggris â?oChinaâ? diperkirakan berasal dari bahasa
                      > > Persia Cin (Ú?ÛOÙ?), mungkin awalnya diperkenalkan oleh Marco Polo. Dalam
                      > > tulisan bertahun 1555 sudah ada sebutan china bagi benda-benda terbuat dari
                      > > keramik ( porcelain). Pada bahasa Sanseketa ada kata CÄ«na
                      > > <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinas> (à¤sà¥?न), tercatat digunakan sejak
                      >AD
                      > > 150. Pada abad ke 17 Martino Martin, seorang missionaries Jesuit, menyatakan
                      > > kata China berasal dari nama kerajaan "Qin" (秦,chin), kerajaan disisi
                      barat
                      > > Tiongkok masa dinasti Zhou, atau mungkin juga berasal dari nama dinasti Qin
                      > > ( 221 ��" 206 BC). Pada kebudayaan Hindu dalam naskah Mahabharata (abad 5
                      >BC)
                      > > terdapat kata cina dari bahasa Sansekerta, digunakan bagi penamaan daerah di
                      > > timur India, diperbatasan Myanmar dan Tibet sekarang.
                      > > Kata China dan Chinese ini mulai sering muncul dalam media masa
                      > > berbahasa Indonesia serta masuk dalam istilah kosa kata Indonesia baru pada
                      > > masa setelah Agustus 1990, hal ini berawal ketika Soeharto membuka kembali
                      > > hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
                      > > Pemerintah Tiongkok semula mengusulkan penyebutan sama seperti sebelum
                      > > pembekuan hubungan diplomatik tahun 1965 sebagai Republik Rakyat Tiongkok
                      > > (RRT), dari pihak Soeharto menginginkan pemakaian istilah Republik Rakyat
                      > > Cina (RRC). Perbedaan ini menjadi penghalang dalam perundingan normalisasi
                      > > hubungan diplomatik saat itu, sampai akhirnya muncul usulan jalan tengah
                      > > dari pihak Tiongkok untuk memakai istilah Republik Rakyat China. Dengan kata
                      > > China yang dimaksudkan agar dibaca sebagai kata dalam bahasa Inggris :â?
                      > > tsaineâ?.
                      > > Maka menjadi resmilah pemakaian kata China (kata bahasa Inggris) dalam
                      > > bahasa Indonesia, tetapi sebagian pembaca tetap melafalkannya dalam gaya
                      > > bahasa Indonesia yang bunyinya tetap sama â?oCinaâ?. Bagi mereka yang
                      > > menyadari dari sejarahnya makna dan nuansa kata Cina ini bersifat
                      > > merendahkan (derogatory) ; terasa kecanggungan dalam menggunakannya, mereka
                      > > memilih memakai kata China (dari bahasa Inggris). Demikian juga untuk kata
                      > > sifatnya, mereka lebih memilih kata yang tepat: masakan Chinese (bukan
                      > > masakan Cina atau makanan China), budaya Chinese (tidak budaya Cina atau
                      > > budaya China), dst.
                      > > Pada website Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia
                      > > di Jakarta, digunakan kata Tiongkok dan China secara bersamaan, dengan
                      > > perbandingan 2:1. Sama sekali tanpa ada pemakaian kata â?ocinaâ?.
                      > > Pada sisi lain makin kusutlah kerancuan yang terjadi dalam pemakaian
                      > > bahasa Indonesia yang benar dan baik; dalam memilih kata yang tepat. Padahal
                      > > banyak cendiakiawan yang menyatakan ketaat asasan pada tata bahasa dan kosa
                      > > kata bahasa suatu bangsa akan tercerminkan pada budaya bangsa yang tertib
                      > > juga.
                      > > Cina.
                      > > Dalam bahasa Belanda sebutan geografis bagi Tiongkok adalah: Chiâ?Tna,
                      > > dan warganya Chinees/en. Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Belanda
                      > > istilah ini di adopsi dalam bahasa setempat masa kolonial: Cina, Cino dst.
                      > > Pada rumpun bahasa kontinental Eropah terdapat banyak istilah yang mirip,
                      > > bahasa Inggris:China; Chinese, bahasa Jerman: Chinesische, bahasa Perancis:
                      > > Chinois. Ada beberapa pendapat mengenai asal akar kata dari istilah ini.
                      > > Menurut Prof. Dr. A.M. Cecilia Hermina Sutami, SS., M.Hum , pada naskah
                      > > pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, tgl 15
                      > > Oktober 2008 hal. 2, tertulis pada catatan kaki bahwa kata "Cina", berasal
                      > > dari bahasa Sansekerta yang berarti "Daerah yang sangat jauh". Kata "China"
                      > > sudah berada di dalam buku Mahabharata sekitar 1400 th sebelum Masehi. Pada
                      > > kesempatan itu Prof Agnetia Maria Cecilia Hermina Sutami (kelahiran
                      > > Palembang 15 Februari 1957), membacakan pidato pengukuhan berjudul
                      > > â?oLinguistik Sinika: Perkembangan Teoretis dan Penerapannya dalam
                      Pengajaran
                      > > Bahasa Mandarin di Indonesia .â? ia ditetapkan sebagai Guru Besar Tetap
                      dalam
                      > > Ilmu Linguistik juga merupakan pengajar tetap Program Studi Cina di Fakultas
                      > > Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
                      > > Dalam buku The Cambridge History of China, Volume I, the Ch'in and
                      > > Han Empires 221 BC to AD 220
                      > > <http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726
                      ><http://www.abebooks.com/servlet/BookDetailsPL?bi=4501087726&searchurl=an%3D>
                      >&searchurl=an%3D
                      > > twitchett%26kn%3Dempire%26sortby%3D17%26x%3D0%26y%3D0> . Twitchett Denis,
                      > > Loewe Michael. Ditulis mengenai naskah kuno India Arthashastra
                      > > <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra
                      ><http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arthashastra&action=edit&redlink=>
                      >&action=edit&redlink=
                      > > 1> , penulisnya Kautilya; adanya lempeng logam tembaga
                      > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga> bertulisan. Prasasti ini menyebut
                      > > tentang juru cina sebagai orang yang bertugas mengurus pedagang/pemukim
                      > > yang berasal dari Cina. Diduga, istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta
                      > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sanskerta> , CÄ«na (à¤sà¥?न), yang
                      >sudah
                      > > dipakai menamai daerah Tiongkok paling tidak sejak 150M.
                      > > Seorang misionaris Jesuit Italia; Martin Martino menulis
                      > > Novus Atlas Sinensis, Vienna 1655. Ia dianggap sebagai pelopor ilmu geografi
                      > > dan sejarah Tiongkok bagi dunia pengetahuan Eropah. Ketika itu ilmuwan
                      > > Eropah mengetahui mengenai adanya Cathay dari beragam tulisan cendekiawan
                      > > Arab dan Persia. Dari penjelasan Martin Martino barulah didapat kesimpulan
                      > > bahwa Cathay adalah identik dengan Tiongkok. (Dalam bahasa Inggris lama:
                      > > Cathay, bahasa Portugis: Catai, dan bahasa Spanyol: Catay) . Ia
                      > > memperkirakan istilah dari bahasa Sanskerta ini dikutip dari nama dinasti
                      > > Qin <http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qin> (秦 dilafalkan tchin) yang
                      > > berkuasa (221 ��" 206 BC) atau salah satu kerajaan pada masa dinasti
                      Zhou
                      > > <http://id.wikipedia.org/wiki/Zhou> yang memiliki nama serupa. Dalam kosa
                      > > kata asli bahasa Tionghoa sendiri tidak pernah ada istilah Cina atau pun
                      > > China. Semua istilah yang serupa hanya merupakan kreasi budaya Eropah,
                      > > berupa penamaan dari pihak asing luar.
                      > > Istilah yang awalnya bersifat netral ini, kemudian hari lambat laun
                      > > di Indonesia berubah maknanya karena pengunaan yang setereotip bernada
                      > > mengejek dan negatip. Akibat politik kolonial Belanda yang menggunakan
                      > > pendatang etnik Tinghoa menjadi buffer, alat untuk berhubungan dengan
                      > > penduduk setempat. Sebab kelompok Tionghoa ini telah lebih lama bercampur,
                      > > bergaul dengan penduduk asli. Dimanfaatkan sebagai perantara perdagangan,
                      > > diberi hak memungut pajak, hak monopoli dst, dalam berjalannya sejarah
                      > > memberi kesan negatip pada masyarakat. Pengunaan kata Cina masa itu sering
                      > > diasosiasikan dengan segi buruk. (Bandingkan dengan kata yang bermakna dan
                      > > nuansa sama dalam bahasa Inggris : Chink, chinky )
                      > > Pada awal abad 20 oleh warga etnik Tionghoa mulai dikemukakan istilah
                      > > baru Tionghoa dan Tiongkok (lihat uraian sebelumnya). Pemakaian kata Cina
                      > > menghilang dari penggunaan bahasa Indonesia yang santun, baik dalam tulisan
                      > > maupun lisan.
                      > > Pada tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G-30S, emosi masyarakat
                      > > dipicu oleh pernyataan dari pihak Angkatan Darat yang menuduh bahwa PKI
                      > > komunis terlibat dengan gerakan tersebut. Berimbas pada kelompok etnik
                      > > Tionghoa juga, sebab pada masa itu PKI sangat dekat dengan almarhum presiden
                      > > Soekarno dan negara RRT.
                      > > Setelah seminar AD di Bandung Agustus 1966 menyimpulkan usulan
                      > > penggantian kata Tionghoa dan Tiongkok dengan kata Cina. Kesimpulan yang
                      > > didapat dalam suasana bermusuhan dan konteks panasnya suasana politik ketika
                      > > itu. Lalu dikeluarkan beberapa keputusan oleh pemerintahan Soeharto.
                      > > Sejak ini dimulailah pemakaian kata Cina secara resmi dalam kosa kota
                      > > bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya pemerintahan
                      > > Soeharto. Dengan berjalannya waktu selama pemerintahan Soeharto perlahan
                      >��"
                      > > lahan kata Cina ini tidak terasa lagi nuansa perjorasinya (merendahkan).
                      > > Seiring dengan meredanya emosi anti PKI, anti komunisme dan rasa permusuhan
                      > > dengan negara RRT.
                      > > Baru setelah pemerintahan almarhum presiden Abdurrachman Wahid mencabut
                      > > Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967, sebagian masyarakat kembali
                      > > menggunakan kata Tionghoa dan Tiongkok. Bagi mereka yang selama 33 tahun
                      > > tidak pernah mengalami masa sekitar 1965 dan sebelumnya, kurang dapat
                      > > memahami perbedaan makna dan nuansa pemakaian kedua kata tersebut
                      > > dibandingkan dengan kata Cina.
                      > >
                      > > SURAT EDARAN PRESIDIUM KABINET AMPERA
                      > > TENTANG MASALAH CINA
                      > > NO. SE-06/Pres.Kab/6/1967
                      > > 1. Pada waktu kini masih sering terdengar pemakaian istilah
                      > > â?oTionghoa/Tiongkokâ? di samping istilah â?oCinaâ? yang secara
                      >berangsur-angsur
                      > > telah mulai menjadi istilah umum dan resmi.
                      > > 2. Dilihat dari sudut nilai-nilai ethologis-politis dan
                      > > etimologis-historis, maka istilah â?oTionghoa/Tiongkokâ? mengandung
                      >nilai-nilai
                      > > yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia,
                      > > sedang istilah â?oCinaâ? tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu
                      > > dynasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua
                      > > istilah itupun tidak lepas dari aspek-aspek psykologis dan emosionil.
                      > > 3. Berdasarkan sejarah, maka istilah â?oCina-lah yang sesungguhnya memang
                      > > sejak dahulu dipakai dan kiranya istilah itu pulalah yang memang dikehendaki
                      > > untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.
                      > > 4. Lepas dari aspek emosi dan tujuan politik, maka sudah sewajarnya
                      > > kalau kita pergunakan pula istilah â?oCinaâ? yang sudah dipilih oleh Rakyat
                      > > Indonesia umumnya.
                      > > 5. Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
                      > > menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
                      > > baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
                      > > istilah â?oCinaâ? tetap dipergunakan terus, sedang istilah
                      >â?oTionghoa/Tiongkok
                      > > ditinggalkan.
                      > > 6. Demikian, untuk mendapat perhatian seperlunya.
                      > > Jakarta, 28 Juni 1967
                      > > PRESIDIUM KABINET AMPERA
                      > > SEKRETARIS
                      > > Ttd.
                      > > SUDHARMONO, SH
                      > > BRIG.JEN TNI
                      > > <http://id.wikisource.org/wiki/Berkas:Logo_Presiden_RI.png>
                      > > INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                      > > NOMOR 14 TAHUN 1967
                      > > TENTANG
                      > > AGAMA KEPERCAYAAN DAN ADAT ISTIADAT CINA
                      > > KAMI, PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                      > > Menimbang:
                      > > bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia
                      > > yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat
                      > > menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan moril yang kurang wajar
                      > > terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses
                      > > asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang
                      > > wajar.
                      > > Mengingat:
                      > > 1. Undang-Undang Dasar 1945
                      > > <http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_1945> pasal 4 ayat 1 dan
                      > > pasal 29.
                      > > 2. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab III Pasal 7 dan Penjelasan
                      > > pasal 1 ayat (a).
                      > > 3. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967.
                      > > 4. Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1967. jo. 163 Tahun 1966.
                      > > Menginstruksi kepada:
                      > > 1. Menteri Agama
                      > > 2. Menteri Dalam Negeri
                      > > 3. Segenap Badan dan Alat pemerintah di Pusat dan Daerah.
                      > > Untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan
                      > > dan adat istiadat Cina sebagai berikut:
                      > > PERTAMA:
                      > > Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan
                      > > menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas
                      > > culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus
                      > > dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
                      > > KEDUA:
                      > > Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina
                      > > dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam
                      > > lingkungan keluarga.
                      > > KETIGA:
                      > > Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan
                      > > cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh
                      > > menteri Agama setelah mendengar pertimbangan JaksaAgung (PAKEM).
                      > > KEEMPAT:
                      > > Pengamanan dan penertiban terhadap pelaksanaan kebijaksanaan
                      > > pokok ini diatur oleh Menteri Dalam Negeri bersama-sama Jaksa Agung.
                      > > KELIMA:
                      > > Instruksi ini mulai berlaku pada hari ditetapkan.
                      > > Ditetapkan di Jakarta
                      > > pada tanggal, 6 Desember 1967
                      > > PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                      > >
                      > > SOEHARTO
                      > > Jenderal TNI
                      > >
                      > > [Non-text portions of this message have been removed]
                      > >
                      > > ------------------------------------
                      > >
                      > > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                      > >
                      > > # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di
                      >http://tionghoa-net.blogspot.com #
                      > >
                      > > # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau
                      >member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #
                      > >
                      > > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com
                      ><mailto:tionghoa-net-subscribe%40yahoogroups.com>
                      >
                      > > Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com
                      ><mailto:tionghoa-net-unsubscribe%40yahoogroups.com>
                      >
                      > >
                      > > Yahoo! Groups Links
                      > >
                      > > [Non-text portions of this message have been removed]
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > >
                      > > [Non-text portions of this message have been removed]
                      > >
                      >
                      >
                      >
                      >
                      >
                      >
                      >
                      >
                      > [Non-text portions of this message have been removed]
                      >

                      ------------------------------------

                      Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni

                      # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di
                      http://tionghoa-net.blogspot.com #

                      # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member
                      yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #

                      Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com
                      Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                      Yahoo! Groups Links

                      [Non-text portions of this message have been removed]




                      [Non-text portions of this message have been removed]
                    • ChanCT
                      Bung Oey yb, Bagus ditambah masukan asal kata Cina, ... dan di Jepang menjadi Shina. Dan saya-pun baru mengetahui rupanya pihak Tiongkok meminta Jepang merubah
                      Message 10 of 18 , Apr 11 9:17 PM
                        Bung Oey yb,

                        Bagus ditambah masukan asal kata Cina, ... dan di Jepang menjadi Shina. Dan saya-pun baru mengetahui rupanya pihak Tiongkok meminta Jepang merubah sebutan Shina menjadi Tiongkok-TIonghoa, Jiugoku dan Jiuka. Dan itu dituruti oleh pihak Jepang dengan rasa bersahabat. Jadi sudah benar sikap yang diambil pihak RRT, terhadap negara-negara yang menyebutnya TIongkok dengan China dan memang tidak ada maksud menghina/melecehkan, dibiarkan saja negara itu tetap menggunakan sebutan China sebagaimana biasanya. Tapi bagi negara yang jelas menyebut Cina dengan maksud menghina, RRT mengajukan permintaan untuk merubah, seperti pada pihak Jepang minta digunakan sebutan Jiugoku dan Jiuka. Begitu juga untuk Indonesia, pihak RRT tegas minta kembali gunakan sebutan TIongkok/TIonghoa, yang oleh Soeharto dirubah menjadi CINA jelas-jelas digunakan untuk menghina RRT dan TIonghoa di Indonesia. Jepang bisa menerima, sedang jenderal Soeharto yang dableg, menunjukkan diri yang tidak beradab, dengan ngotot bertahan menggunakan sebutan CINA. Dan akhirnya saat pemulihan hubungan diplomatik RRT-RI, akhir tahun 1989, hanya karena pihak RRT lebih mengutamakan dipulihkannya hubungan persahabatan rakyat kedua negara, diambillah sebutan CHINA sebagaimana sebutan bhs. Inggris sebagai jalan keluar yang bisa diterima kedua belah pihak.

                        Jadi, prinsip pengertian saya, sebutan satu Negara dan Bangsa sepenuhnya adalah hak Negara dan bangsa itu, sebagai negara yang bersahabat sudah seharusnya menuruti kehendak negara dan bangsa itu maunya gunakan sebutan apa. Tidak ngotot gunakan sebutan yang justru tidak disukai atau dirasakan penghinaan pada Negara dan bangsa itu. Itulah sikap bangsa yang beradab dan bersahabat. Begitulah setelah Gus Dur menjadi Presiden RI, sudah mulai kembali gunakan sebutan Tiongkok/TIonghoa, tidak lagi gunakan sebutan CHINA apalagi CINA! Sikap demikian ini diikuti dan diteruskan oleh Presiden berikut, Megawati dan SBY sampai sekarang ini. Hanya saja SBY, Presiden RI itu belum berani maju selangkah lagi, mencabut SE Presidium tahun 1967 yang menetapkan perubahan sebutan Tiongkok/TIonghoa menjadi CINA itu. Mengakui kesalahan Pemerintah sebelumnya, merubah sebutan menjadi CINA yang memang sengaja digunakan untuk menghina Tiongkok dan merusak hubungan persahabatan rakyat kedua negara! Dan, tentunya tidak baik sebutan CINA itu dilanjutkan setelah hubungan kedua negara kembali bersahabat!

                        Salam,
                        ChanCT



                        ----- 原始郵件-----
                        寄件者: Oei Yam Tjhioe
                        收件者: GELORA45@yahoogroups.com
                        傳送日期: 2011年4月12日 4:59
                        主旨: Re: [GELORA45] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.


                        Bung Chan,
                        Omong2 debat kusir ttg istilah "Cina" "China"..... kupenasaran juga ikut nimbrung... bahan2 akhirnya kudapatkan dari internet sumber info sejagad itu......
                        Ternyata asal mulanya dari India chin-ni... masuk berikut agama Budha, kemudian Budha masuk ke Jepang... dan Jepang juga menggunakannya istilah yg dieja dalam bahasa Jepang menjadi "Shina".... Sedangkan barat menggunakan ejaan mirip suara dari India menjadi China.......Semula istilah itu diterima tanpa ada masalah penghinaan.....

                        Kemudian karena Tiongkok kalah perang dan dijajah oleh Jepang, maka istilah "Shina" yg ini menjadi istilah derogatery. Bahkan Taiwanpun pernah untuk membedakan dengan RRT, menggunakan istilah ini pula......
                        Nah, sudah lama pihak Tongkok sudah minta Jepang mengganti istilahnya dengan Zhongguo/Jiugoku, atau Zhonghua/Jiuka.. dalam bahasa kanjinya, tapi ada yg sudah mengakar tidak dirobah, dan yg dituruti.... Nah diatas adalah sekedar penemuan yg saya dapat dari Internet, barangkali dapat digunakan sebagai referensi untuk kita diskusikan bersama menagani istilah "Cina" yg alot penyelesaiaannya ini.... Bagi yg dapat berbahasa Tionghoa... sialahkan menyimak diskusi dari salah satu "blog", cukup menarik... antara lain dikatakan Inggeris yg mengejek orang Amerika sebagai jajahannya digunakan istilah derogatery "Yankee" ... Tapi malahan ketika dapat menjatuhkan Inggeris menyanyi "Yankeeize" sebagai lagu kemenangannya...... Kini dengan bangkitnya bangsa Tionghoa... maka keturunannya yg bermukim di Indonesia bagaimana sikapnya terhadap istilah yg digunakan Suharto untuk menghina keturunan Tionghoa (meniru Jepang dan Taiwan) di Indonesia ini?? Silahkan simak asal muasal istilah dibawah ini sebagai referensi diskusi......(silahkan scroll kebawah untuk tulisan bhs Inggeris)
                        Apakah kita harus berjiwa lapang seperti pemerintah Tiongkok RRT, yg sudah dapat menerima istilah sebagian dengan "Shina" (karena sudah mengakar) sebagian lagi dengan istilah "Jiuka"=Tionghoa.... atau "Jiugoku"=Tiongkok??? Asalkan dalam ucapan Cina itu tidak dibarengi dengan kata kedua yg menekankan penghinaan? seperti halnya yg dikatakan istilah Jowo Kowek... ataupun istilah "Huana" yg sering diucapkan juga oleh kalangan Chinese di Indonesia untuk istilah derogatery terhadap etnis lain RI. Harus juga segera dihentikan, meskipun selama ini ucapan itu hanya digunakan dikalangan kelompok etnis Tionghoa saja.....
                        Oyt.




                        楼主发表于:2006-01-03 11:00:55

                        请不要骂我,我想知道 "支那 "的来源和详细意思

                        以及它为什么就是骂人的两个字,谢谢!

                        回复于:2006-01-03 11:21:13

                        在我国古代,起先称日本为“倭”,较早见于文献的有:盖国在钜燕南、倭北。倭属燕。(《山海经·海内北经》)成王之时,越裳献雉,倭人贡畅。(王充:《论 衡·恢国篇》)乐浪海中有倭人,分为百余国,以岁时来献见云。(《汉书·地理志》)自西晋陈寿在《三国志》中为倭立传以来,史不绝书,中国人对东方海中倭 国的情况,逐渐有了具体而深入的认识,中日两国的友好往来也益见频繁起来。

                        我国古代何以最初称日本为“倭”,上引文献均未作说明,按“倭”字早已有之,如《诗经·小雅·四牡》云:“四牡周道倭迟。”《说文》释倭:“顺貌,从 人,委声。”有人说,倭字从人又从禾、从女,盖由倭人素以稻米为主食,女多男少而来。这种解释,显然是一种无稽之谈,纯属附会。一些学者认为,古之称日本 为“倭”,可能同“匈奴”、“鲜卑”一样,只是一种音译;因为日本民族称“和”,“和”为“倭”的谐音字。这个说法,似乎比较有道理。

                        然而,现在日本语中的“和”、“倭”二字均读为yamato,与“和”、“倭”二字原来的发音迥异,这又作何解释呢?

                        在日本语中,“倭”读为yamato实始于日本现存最早的古史《古事记》(公元712年)和《日本书记》(公元720年),二书均为安万侣所著,比我国最 早记载日本“邪马台”王国和“卑弥呼”女王的《三国志》晚了400余年。安万侣误以为《三国志》所载“邪马台国”女王“卑弥呼”就是日本传说中的神功皇 后,但神功皇后与卑弥呼的年代不符,于是将神功皇后以及她以下诸皇的年代拉长,以合卑弥呼的生活年代;《三国志》说邪马台王国的人“寿考或百年,或八、九 十年”,这或许就是安万侣任意拉长的根据。日本古史纪年与中国史籍相符始于推古天皇十五年(公元607年)小野妹子遣隋一事,此前32代(神武天皇至崇峻 天皇)纯属口头传闻,那时既无文字,又无历法,怎么可能有精确的历史纪年呢?所以,日本国内研究日本古史的学者,关于崇峻天皇以前的历史,宁肯相信中国正 史的记载,也不轻易引证日本古史中那些传说。

                        既然安万侣误认为神功皇后就是卑弥呼,而卑弥呼的都城是邪马台,于是神功皇后的都城也变成邪马台了。这样,日本平安朝奠都以前历代天皇所居的畿内即“大 和”地方,只好与九州岛的邪马台合二而一。而中国原来称“倭”,日本素来名“和”的这两个字,在发音上非读yamato不可了。日本语“倭”、“和”二字 之所以要改变原来的读音,其奥秘就在这里。至于安万侣这样做究竟出于什么用心,那不是这里所要探讨的问题。

                        至唐代,中国始称“倭”为“日本”。在《旧唐书·东夷传》中,“倭”与“日本”分列并叙,《新唐书·东夷传》则单叙日本,不再有“倭”的名目,并对改“倭”为“日本”作了如下的说明:

                        咸亨元年,遣使贺平高丽。后稍习夏音,恶倭名,更号“日本”。使者自言,因近日所出,以为名。或云日本乃小国,为倭所并,故冒其号。使者不以情,故疑焉。

                        《新唐书》为宋欧阳修、宋祁等所修,以上说法当有所据。从这段话看,“倭”改国名为“日本”当在唐高宗咸亨元年(公元670年)以后。然而,为什么要改国名,以及取名“日本”的缘由,其说是值得怀疑的。

                        为什么要改“倭”为“日本”呢?说是倭国派到中国的使者略懂“夏音”(汉语)之后,发觉“倭”的含义不好,此后就改称“日本”了。如前所述,中国古人称日本为“倭”,原本只是“和”的音译,本身并无贬义,所以,以其“恶”的说法难以置信。

                        再是说倭人改国号为“日本”,是因为他们认为自己的国家的地理位置“近日所出”。这种说法也值得怀疑;因为认为日本“近日”,那只能是中国人的观念——— 日本在中国东方遥远的海上,从视觉上感受,似乎正在太阳升起的地方。《山海经·海外东经》说:“谷上有扶桑,十日所浴。”《淮南子·天文训》也说:“日 出于谷,浴于咸池,拂于扶桑,是谓晨明。”身居日本列岛的人,并不见太阳从本土升起。因此,说日本是“日之所本”这种观念只能产生在中国,后来日本人这 样说,也显然是受了中国观念的影响。

                        还有一种说法是倭国附近原有一个小国叫“日本”,为倭所吞并,后来倭国遣唐使者便对中国人冒用“日本”这个名称了。这一说法,当时就很可疑,更不足为据了。

                        倒是唐人张守节的《史记正义》提供了一条罕为人知的证据,或许有助于解开“日本”国名来源之谜:“武后改倭国为日本国。”(《史记·五帝本纪》张守节《正 义》)原来,倭国是遵照唐代女皇武则天的意见才改国名为日本的。张守节系玄宗时人,离武后统治时期不远,他的说法当有所据。如果此说确定无误,以上种种疑 惑也就不复存在了



                        至于所谓的支 那的由来是这样:
                        “支 那”一词在历史上并无贬义
                        1,“支 那”这个词是中国人自己发明(翻译中的创造)的。“支 那”这个名称,起源于印度。印度古代人称中国为“chini”,据说是来自“秦”的音译,中国从印度引进梵文佛经以后,要把佛经译为汉文,于是高僧按照音 译把chini就翻译成“支 那”。同为印欧语系的古罗马称中国为Sinoa,后来的英文中的China,和法文中的Chine,都是来自这个语源。

                        2,在很长时期内,“支 那”是对中国汉人的尊敬。清朝,中国汉人处于满族的统治之下,当时的日本,还是一个亚洲革命的圣地,许多反清的仁人志士都在日本得到支持,在“中国”这个 词还没有被民众公认之前,所以很多革命家直接借用日本称呼称自己是“支 那人”。如,宋教仁在创办《二十世纪之支 那》的杂志,梁启超用“支 那少年”为笔名,还有许多人,自称“支 那人”,拒绝承认自己是“清国人”。

                        接力

                        去水木近代史上有一篇讲这个的

                        看了楼上几位的,该词并无贬义,

                        是不是很多人起哄,不明是非的人也说他是贬义了



                        这才是你发帖的本意,对吧
                        我看你还真象个人,
                        我没有用贬义词哦.
                        不过我在鄙视你



                        举个例子
                        在中文中有这样两个单字:“日本”,“鬼子”中性色彩
                        组合到一起就是贬义

                        还有就是“小”,“日本”中性词
                        组合在一起就是贬义

                        明白吗?



                        支那是在抗日战争时期被丑化的,现在在日本谈起清国或者支那,都是一种比较丑恶的形象.

                        另外,我觉得没必要为了某人这么看而大动肝火.

                        当初英国人把美国人蔑称为YANKEE,结果最后,美国人在最后一战中,高唱 <杨基之歌> ,迎接英国人的投降.我们也该有点这种精神.

                        做个骄傲自信的中国人.



                        倭鬼,比较合适这些倭人。

                        长知识阿,本来我还以为日本人长得矮,就是“倭”





                        Shina (word)
                        From Wikipedia, the free encyclopedia.;

                        Shina (支那, シナpronounced "sheena") is a Japanese term that is viewed by most Chinese people as a highly offensive racist term for China. Originally a word used neutrally in both Chinese and Japanese, the word gained a derogatory tone due to its widespread usage in the context of the Second Sino-Japanese War.

                        The Sanskrit word Cin, for China, was brought back to China with Buddhist literature. It was transcribed into Chinese in various forms including 支那 (Zhīnà), 脂那 (Zhīnà) and 至那 (Zhìnà). Thus, the term Shina was initially created in Chinese as a translation of "Cin." This term was in turn brought to Japan with the spread of the Chinese Buddhism.

                        When Arai Hakuseki, a Japanese politician, interrogated an Italian missionary Sidotti in 1708, he noticed that "Cina", which Sidotti referred to China as, was identical to Shina, the Japanese pronunciation of 支那. Then he began to use this word for China regardless of dynasty. Since the Meiji Era, Shina had been widely used as the translation of western "China ". For instance, "Sinology " was translated into "Shinagaku " (支那学).
                        At first, it was widely accepted that the term "Shina " or "Zhina " had no political connotations. In fact, even before the Republican era, the term "Shina " was one of the proposed names that was to be equivalent to the western usage "China. " Chinese revolutionaries, such as Sun Yat sen, Sung Chiao-jen, and Liang Qichao, used the term extensively, and it was also used in literature as well as by ordinary Chinese. The First Sino-Japanese War caused the view that it had a negative nuance to gradually spread among the Chinese. Nevertheless the term continued to be more-or less neutral. A Buddhist school called Zhina Neixueyuan (支那内学院) was established as late as in 1922 in Nanjing. In the meantime, “Shina " was used as commonly in Japanese as "China " in English. Derogatory nuances were expressed by adding extra adjectives (e.g. 暴虐なる支那兵 (brutal Chinese soldier[s]), or using derogatory terms like "chankoro " (チャンコロ, originating from a corruption of "Zhōngguórén ").

                        Despite interchangeability of Chinese characters, Japan officially used the term Shina Kyowakoku (支那/共和国) from 1913 to 1930 in Japanese documents, while Zhonghua Minguo was used in Chinese ones. "Shina Kyowakoku " was the literal translation of the English "Republic of China " while Chūka Minkoku (中/華/民/国) was the Japanese pronunciation of the official Chinese characters of Zhonghua Minguo. The Republic of China unofficially pressed Japan to adopt the latter but was rejected.

                        This rejection of the term "Chūka Minkoku " by Japan was thought to be an attempt to place itself on equal footing with Western powers, who did not refer to China as "the Middle Realm ". China urged the Mongols and Tibetans, which they considered to be domestic groups, to use the literal translation of "Middle Realm" butdid not place the same demand on Western nations. The name "Chūka Minkoku " was officially adopted by Japan in 1930 but "Shina " was still commonly used by the Japanese throughout the 1930s and 1940s.

                        Today
                        The Second Sino-Japanese War fixed the impression of the term "Shina " as offensive among Chinese people. In 1946, the Republic of China demanded that Japan cease using "Shina ". Meanwhile, the great suffering experienced by China in World War II, such as the Nanjing Massacre and Unit 731, began a running tradition of antiJapanese sentiment in China, whichcontinues to this day. In China, the term Shina has become linked with Japanese invasion, and has been considered a derogatory and deeply offensive ethnic slur ever since. In fact, it is a common assumption that the term was created (or chosen) by the Japanese for exclusive use as a racist term, since the character 支 (J: shi/C: zhī) means "branch " and is assumed to suggest that the Chinese are subservient to the Japanese, even though the characters were originally chosen simply for their sound values, not their meanings. Some extremist Taiwanese independence advocates have also used "Zhina " (Shina) to refer to mainland China in a derogatory manner in order to distance the Taiwanese identity from the Chinese one.

                        Meanwhile, use of the term "Shina " in political contexts in Japan is limited to those who pointedly ignore Chinese demands, and often has an anti-Chinese bent. It is considered socially unacceptable and subject to kotobagari, especially the kanji form (if Shina is used, it is now generally written in katakana). However, even then it is still sometimes seen in written forms such as shina soba (支那そば, shina soba?), an alternative name for ramen. Many Japanese are not fully aware of Chinese feelings towards the term, and generally find Shina merely old-fashioned and associated with the early and mid-20th century, rather than derogatory and racist. This difference in conception can lead to misunderstandings.

                        On the other hand, the term "Shina/Zhina " has survived in a few non-political compound words in both Chinese and Japanese. For example, the East China Sea is called Higashi Shina Kai (東シナ海) in Japanese, and Indochina is called Yindu Zhina (印度支那) in Chinese.










                        ------------------------------------------------------------------------------
                        From: Marcopolo <comoprima@...>
                        To: GELORA45@yahoogroups.com; Nasional List <nasional-list@yahoogroups.com>; Sastra Pembebasan <sastra-pembebasan@yahoogroups.com>; wahana-news@yahoogroups.com
                        Cc: Arnold <arnoldlukito@...>
                        Sent: Mon, April 11, 2011 3:00:51 PM
                        Subject: Re: [GELORA45] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.




                        Hehehheee..... HOMO HOMINI LUPUS


                        * Homo homini lupus – (Manusia adalah (sering sbg ) Srigala terhadap sesamanya ) -

                        * Note : Hominem te esse, memento – ( Sadarlah , bhw Kau adalah Manusia ....)...........,

                        -------Original Message-------

                        From: Arnold
                        Date: 10.4.2011 22:37:52
                        To: GELORA45@yahoogroups.com; nasional-list@yahoogroups.com; sastra-pembebasan@yahoogroups.com; wahana-news
                        Subject: Re: [GELORA45] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.


                        Ini adalah pandangan dari sudut yang mungkin tidak pernah terdengar sebelumnya secara umum.

                        Pada PDII,


                        A recruiting poster by Charles B. Falls makes use of the "Teufel Hunden" nickname
                        Teufel Hunden, allegedly meaning Devil Dogs in German, is a motivational nickname for a U.S. Marine.

                        http://en.wikipedia.org/wiki/Devil_Dog




                        US Marines ketika bertempur dgn German Nazi forces diberikan nama hinaan oleh seluruh Nazi forces: Teufel Hunden alias Devil Dog/Anjing Setan, di Amerika diberikan nama Jarhead(kepala kendi) or Meat Head. Didalam US Marines bootcamp, para new recruits diajarkan sejarah nama Devil Dog berasal.

                        Seluruh anggota US Marines sampai saat ini, tidak pernah merasa terhina, dan sebaliknya sangat bangga bila bertemu sesamanya memberikan panggilan motivasi sebagai Devil Dog/Jarhead. Hollywood movies berjudul Jarhead, Devil Dogs, dll.

                        Sebaliknya di Indonesia POLRI tersinggung bila disebut Anjing, dan polemik minoritas Indonesia katanya merasa terhina bila dipanggil CINA? Mengapa??

                        CINA bukan seperti panggilan Niger, karena mereka dipanggil nama itu ketika menjadi kaum budak, dan mereka meminta dan menuntut sekarangkarena perbudakan telah dilarang dan sebaiknya menuntut dipanggil "black" sedangkan CINA bukanlah mantan budak sehingga tidak perlu menuntut dipanggil Tionghoa.

                        Panggilan Cina tidak dapat dituntut, diganti menjadi TIonghoa secara paksa, atau dihilangkan, mungkin kaum moniritas pun seharusnya membuktikan bahwa CINA berarti positive, CINA berarti kebanggaan, CINA berarti title/prestasi, CINA berarti nasionalis yang tinggi, CINA bukan hinaan, CINA adalah sebuah panggilan akrab, CINA adalah panggilan status, seperti dalam komunitas US Marines yang sangat bangga bila seorang memanggil Devil Dog/Anjing Setan, seperti panggilan akrab.

                        Pada umumnya kaum minoritas yang bereaksi tersinggung atau terhina umumnya secara tidak sadar memiliki inferior complex dalam. Diseluruh dunia CINA adalah panggilan yang umum dan neutral ketika mereka sebut tidak ada maksud mereka untuk menghina, sebaiknya kaum minoritas Indonesia suatu hari seharusnya akan sangat bangga bila seorang memanggil "Hey CINA", karena panggilan CINA tidak akan hilang selama dunia berputar. Renungkanlah bahwa CINA berarti indah, positive.

                        //AL

                        --- On Sun, 4/10/11, iwamardi <iwamardi@...> wrote:


                        From: iwamardi <iwamardi@...>
                        Subject: Re: [GELORA45] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                        To: GELORA45@yahoogroups.com
                        Cc: temu_eropa@yahoogroups.com
                        Date: Sunday, April 10, 2011, 4:48 AM





                        Wah, ini dua pakar filologi oriental yang dengan jelas dan mendetail dan beralasan mantap , menganjurkan agar istilah 'Tiongkok' dan 'Tionghoa' lah yang dipakai di Indonesia untuk selanutnya.
                        Sebagai seorang awam dalam hal filologi, saya hanya bisa berpendapat :

                        ## Kita semua harus membuang semua aturan bikinan orba Suharto, yang memang rasis itu.,termasuk pelarangan pemakaian huruf Tionghoa , penggantian istilahTiongkok/Tionghoa dengan cina. dan lain lainnya.

                        ## Kita harus memperhatikan yang bersangkutan. Bila sdr. sdr. dari ethnik Tionghoa merasa terhina denga istilah 'cina' , mengapa kita harus memaksakan pemakaian itu ? Satu tindakan yang absurd !
                        Istilah yang mungkin analog dengan 'Indon' di Malaysia, 'negro' di USA atau.....'Jawa kowek' mungkin ?



                        salam

                        iwa







                        ------------------------------------------------------------------
                        From: Waruno Mahdi <mahdi@...>
                        To: GELORA45@yahoogroups.com
                        Cc: wahana-news@yahoogroups.com
                        Sent: Sun, April 10, 2011 12:59:10 PM
                        Subject: [GELORA45] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.




                        Terimakasih untuk penerusan tulisan yang menarik dan penting ini.
                        Dari saya sekadar beberapa komentar singkat sbb.:


                        lafal Hokkian - mungkin dapat diterangkan bahwa "Hokkian" itu sendiri
                        adalah lafal Hokkian, sedangkan lafal Tionghoa Baku-nya "Fujian".
                        Yang banyak masuk bahasa Indonesia itu kata-kata Tionghoa dalam
                        logat Fujian Selatan, juga dikenal sebagai logat yang dulu sering
                        disebut "Amoi", tapi kini nama bakunya "Xiamen".


                        Beberapa istilah dalam bahasa Tionghoa mungkin baik bila disertai
                        terjemahan bahasa Indonesianya, khususnya:


                        Zhonghua Minguoνάβ�ρΨφέ - "Republik Tionghoa";
                        Zhonghua Renmin GongheguoνάͺκlρΨγ§ςaηλ - "Republik Rakyat Tionghoa";
                        Da Qing Di Guo λΒκ₯νΘηλ - "Kekaisaran Qing Agung", dimana
                        Qing itu nama dinasti (kularaja) - dibaca ching (c-h-i-ng,
                        artinya, huruf c dan h dibaca sendiri-sendiri)


                        Chung Hwa Ming Guo νάβ�ρΨφέ, arti harafiah 'negara rakyat Chunghwa' -
                        Ini mengandung beberapa kesilafan. Ejaannya bukan ejaan baku
                        yang mestinya "Zhonghua Minguo", tetapi dalam ejaan lamanya
                        saja mengandung kekeliruan "Ming" yang mestinya "Min".
                        Terjemahan harfiahnya sebagai "negara rakyat" itu pun bisa
                        salah dimengerti, karena kata untuk "rakyat" itu "ren-min",
                        sedangan "min" itu kalau diambil sendiri punya arti kira-
                        kira "kaum", "publik" atau "umum". Dalam hal ini, "min-guo"
                        itu merupakan terjemahan harfiah daripada istilah bahasa Latin
                        "res publica" ("kerajaan masjarakat umum") yang di-Perancis-kan
                        "rιpublique" yang di-Inggeris-kan "republic", di-Indonesia-kan
                        "republik". Jadi, "Min-guo" itu peng-Indonesia-an harfiahnya
                        bukan "negara rakyat", melainkan "republik".


                        Sebutan Chungguo dan Chunghwa - ini ejaan lama, ejaan barunya:
                        Zhongguo dan Zhonghua. Saya pikir, untuk mencegah adanya pembingungan
                        pembaca yang mungkin kurang maklum, jangan sampai timbul kesan ada
                        empat sebutan (Chungguo, Chunghwa, Zhongguo dan Zhonghua).


                        Sekian beberapa komentar soal peristilahan. Pada pendapat saya, pemakaian
                        istilah Inggeris "China" dan " Chinese" dalam bahasa Indonesia itu adalah
                        akibat sisa unsur "status quo" dalam elite negara tidak mau terima salah
                        dengan adanya Keppres 1967 no. 14 dulu itu yang begitu memalukan benar.


                        Alangkah baiknya, apabila pemerintah kini mensahkan kembali istilah
                        ilmu bumi yang telah resmi dalam bahasa Indonesia baku di pertengahan
                        dasawarsa 1950-an, yaitu "Tiongkok" dan "Tionghoa" (khususnya demikian
                        istilah yang resmi dipakai saat Konperensi Asia-Afrika di Bandung 1955).


                        Salam hangat,
                        Waruno


                        -------------------------------------------------------



                        http://templesymbolchineseculture.files.wordpress.com/2011/04/istilah-tiongkok-tionghoa-china-chinese-cina.pdf

















                        [Non-text portions of this message have been removed]
                      • Eva Yulianti
                        Chan CT : Jadi, prinsip pengertian saya, sebutan satu Negara dan Bangsa sepenuhnya adalah hak Negara dan bangsa itu, sebagai negara yang bersahabat sudah
                        Message 11 of 18 , Apr 13 10:54 PM
                          Chan CT :

                          Jadi, prinsip pengertian saya, sebutan satu Negara dan Bangsa sepenuhnya adalah
                          hak Negara dan bangsa itu, sebagai negara yang bersahabat sudah seharusnya
                          menuruti kehendak negara dan bangsa itu maunya gunakan sebutan apa. Tidak ngotot
                          gunakan sebutan yang justru tidak disukai atau dirasakan penghinaan pada Negara
                          dan bangsa itu. Itulah sikap bangsa yang beradab dan bersahabat. Begitulah
                          setelah Gus Dur menjadi Presiden RI, sudah mulai kembali gunakan sebutan
                          Tiongkok/TIonghoa, tidak lagi gunakan sebutan CHINA apalagi CINA! Sikap demikian
                          ini diikuti dan diteruskan oleh Presiden berikut, Megawati dan SBY sampai
                          sekarang ini. Hanya saja SBY, Presiden RI itu belum berani maju selangkah lagi,
                          mencabut SE Presidium tahun 1967 yang menetapkan perubahan sebutan
                          Tiongkok/TIonghoa menjadi CINA itu. Mengakui kesalahan Pemerintah sebelumnya,
                          merubah sebutan menjadi CINA yang memang sengaja digunakan untuk menghina
                          Tiongkok dan merusak hubungan persahabatan rakyat kedua negara! Dan, tentunya
                          tidak baik sebutan CINA itu dilanjutkan setelah hubungan kedua negara kembali
                          bersahabat!


                          Eva :

                          Setuju OOM, jadi di himbau juga untuk Para Tionghoa Terhormat jangan suka juga memanggil Cina Benteng, itu juga termasuk Penghinaan, pelecehan, menyakiti, diskriminasi terhadap Cina yang selalu dianggap sebagai CINA TERBELAKANG, MISKIN, DAN DIDISKRIMANASI..

                          jadi mulai hari ini harus panggil CHINA Benteng, ingat yaaaa jangan lupa...





                          Salam,
                          Eva
                        • ChanCT
                          Neng Eva yb, Sudah lama tidak muncul dengan kesibukan kuliah, ... sekarang sudah dapatkan kerja baik setelah sandang gelar SH. Jadi lebih sibuk, tidak banyak
                          Message 12 of 18 , Apr 14 12:14 AM
                            Neng Eva yb,

                            Sudah lama tidak muncul dengan kesibukan kuliah, ... sekarang sudah dapatkan kerja baik setelah sandang gelar SH. Jadi lebih sibuk, tidak banyak waktu muncul di T-net kita. Dan tentunya saya sangat bergembira mendapatkan kehormatan bukan saja ditanggapi, tapi dapatkan persetujuan dalam msalah sebutan Tiongkok/TIonghoa. Khususnya dalam sebutan Cina Benteng yang jelas berkonotasi melecehkan dan merendahkan Tionghoa di Benteng, yang TERBELAKANG, MISKIN dan selalu DIDISKRIMINASI, dan, ... sesuai dengan permintaan saya tentu akan selalu ingat tidak lagi gunakan Cina Benteng, tapi menyebutnya dengan Tionghoa-Benteng!

                            Salam,
                            ChanCT


                            ----- 原始郵件-----
                            寄件者: Eva Yulianti
                            收件者: tionghoa-net@yahoogroups.com
                            傳送日期: 2011年4月14日 13:54
                            主旨: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.


                            Chan CT :

                            Jadi, prinsip pengertian saya, sebutan satu Negara dan Bangsa sepenuhnya adalah
                            hak Negara dan bangsa itu, sebagai negara yang bersahabat sudah seharusnya
                            menuruti kehendak negara dan bangsa itu maunya gunakan sebutan apa. Tidak ngotot
                            gunakan sebutan yang justru tidak disukai atau dirasakan penghinaan pada Negara
                            dan bangsa itu. Itulah sikap bangsa yang beradab dan bersahabat. Begitulah
                            setelah Gus Dur menjadi Presiden RI, sudah mulai kembali gunakan sebutan
                            Tiongkok/TIonghoa, tidak lagi gunakan sebutan CHINA apalagi CINA! Sikap demikian
                            ini diikuti dan diteruskan oleh Presiden berikut, Megawati dan SBY sampai
                            sekarang ini. Hanya saja SBY, Presiden RI itu belum berani maju selangkah lagi,
                            mencabut SE Presidium tahun 1967 yang menetapkan perubahan sebutan
                            Tiongkok/TIonghoa menjadi CINA itu. Mengakui kesalahan Pemerintah sebelumnya,
                            merubah sebutan menjadi CINA yang memang sengaja digunakan untuk menghina
                            Tiongkok dan merusak hubungan persahabatan rakyat kedua negara! Dan, tentunya
                            tidak baik sebutan CINA itu dilanjutkan setelah hubungan kedua negara kembali
                            bersahabat!


                            Eva :

                            Setuju OOM, jadi di himbau juga untuk Para Tionghoa Terhormat jangan suka juga memanggil Cina Benteng, itu juga termasuk Penghinaan, pelecehan, menyakiti, diskriminasi terhadap Cina yang selalu dianggap sebagai CINA TERBELAKANG, MISKIN, DAN DIDISKRIMANASI..

                            jadi mulai hari ini harus panggil CHINA Benteng, ingat yaaaa jangan lupa...





                            Salam,
                            Eva



                            ------------------------------------

                            Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni

                            # Mohon selalu berbahasa santun dan sopan, kunjungi rumah kita di http://tionghoa-net.blogspot.com #

                            # Isi tulisan merupakan tanggung jawab penuh masing-masing penulis atau member yang memposting tulisan dalam milis Tionghoa-Net #

                            Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com
                            Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                            Yahoo! Groups Links




                            [Non-text portions of this message have been removed]
                          • fredyose@yahoo.com
                            Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai lagi dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa disana
                            Message 13 of 18 , Apr 14 8:39 AM
                              Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai lagi dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa disana masih banyak tuan tanah loh
                              -----Original Message-----
                              From: Eva Yulianti <beranusa@...>
                              Sender: tionghoa-net@yahoogroups.com
                              Date: Thu, 14 Apr 2011 13:54:56
                              To: <tionghoa-net@yahoogroups.com>
                              Reply-To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                              Subject: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.

                              Chan CT :

                              Jadi, prinsip pengertian saya, sebutan satu Negara dan Bangsa sepenuhnya adalah
                              hak Negara dan bangsa itu, sebagai negara yang bersahabat sudah seharusnya
                              menuruti kehendak negara dan bangsa itu maunya gunakan sebutan apa. Tidak ngotot
                              gunakan sebutan yang justru tidak disukai atau dirasakan penghinaan pada Negara
                              dan bangsa itu. Itulah sikap bangsa yang beradab dan bersahabat. Begitulah
                              setelah Gus Dur menjadi Presiden RI, sudah mulai kembali gunakan sebutan
                              Tiongkok/TIonghoa, tidak lagi gunakan sebutan CHINA apalagi CINA! Sikap demikian
                              ini diikuti dan diteruskan oleh Presiden berikut, Megawati dan SBY sampai
                              sekarang ini. Hanya saja SBY, Presiden RI itu belum berani maju selangkah lagi,
                              mencabut SE Presidium tahun 1967 yang menetapkan perubahan sebutan
                              Tiongkok/TIonghoa menjadi CINA itu. Mengakui kesalahan Pemerintah sebelumnya,
                              merubah sebutan menjadi CINA yang memang sengaja digunakan untuk menghina
                              Tiongkok dan merusak hubungan persahabatan rakyat kedua negara! Dan, tentunya
                              tidak baik sebutan CINA itu dilanjutkan setelah hubungan kedua negara kembali
                              bersahabat!


                              Eva :

                              Setuju OOM, jadi di himbau juga untuk Para Tionghoa Terhormat jangan suka juga memanggil Cina Benteng, itu juga termasuk Penghinaan, pelecehan, menyakiti, diskriminasi terhadap Cina yang selalu dianggap sebagai CINA TERBELAKANG, MISKIN, DAN DIDISKRIMANASI..

                              jadi mulai hari ini harus panggil CHINA Benteng, ingat yaaaa jangan lupa...





                              Salam,
                              Eva




                              [Non-text portions of this message have been removed]
                            • tanaya.geo
                              Sebentar, Kok rasanya makin lama makin tidak beraturan. Tolong koreksi bila saya salah, apakah kata chinese adalah kosakata bahasa indonesia? Yang konsisten
                              Message 14 of 18 , Apr 14 9:38 AM
                                Sebentar,

                                Kok rasanya makin lama makin tidak beraturan.

                                Tolong koreksi bila saya salah, apakah kata "chinese" adalah kosakata bahasa indonesia? Yang konsisten sajalah. Kalau mau Tionghoa, ya Tionghoa. Kalau mau Cina ya Cina. Sejauh yang saya tahu baik "chinese" dan "china" (baca chaina bukan chiina) belum diserap dalam bahasa indonesia.

                                Bagi saya, cina, tionghoa, dll itu sama saja. Toh bagi keluarga istri saya, saya tetap dianggap "yinni ren" bukan "zhongguo ren". Walaupun mereka juga bilang bahwa yang tepat adalah "yinni huaren".


                                salam,
                                jimmy

                                --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, fredyose@... wrote:
                                >
                                > Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai lagi dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa disana masih banyak tuan tanah loh
                              • den suta
                                Dear pak Jimmy,   Persoalan sebutan / istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina ini, sesungguhnya hanya persoalan politik  praktis  belaka. 
                                Message 15 of 18 , Apr 14 8:01 PM
                                  Dear pak Jimmy,
                                   
                                  Persoalan sebutan / istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina ini,
                                  sesungguhnya hanya persoalan
                                  politik  praktis  belaka.  Sebab  bagi  generasi  penerus
                                  bangsa, istilah itu seakan sudah merupakan ungkapan 
                                  William  Shakespeare  "What's in a name?  That which
                                  we call a rose. By any other name would smell as sweet."
                                   
                                  Ya,  sikap  dan  perilaku pemaafan seakan selalu kalah
                                  dengan kepentingan dan kekuasaan perpolitikan.Pada-
                                  hal sesungguhnya hal inilah  yg.  selalu  menyebabkan
                                  perasaan sakit hati dan penderitaan batin manusia!

                                  Dan, kesadaran batin seakan kalah dengan kegelapan
                                  batin. Entah, sampai kapan hal ini akan tuntas, selama
                                  manusia  tak mau melepas dan ingin terus melekat pa-
                                  da kejadian masa lalu  &  takut pada kemungkinan ma-
                                  sa depan!

                                  Salam kesadaran,
                                  DS





                                  ________________________________
                                  From: tanaya.geo <tanaya.geo@...>
                                  To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                  Sent: Thu, April 14, 2011 11:38:43 PM
                                  Subject: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.

                                   
                                  Sebentar,

                                  Kok rasanya makin lama makin tidak beraturan.

                                  Tolong koreksi bila saya salah, apakah kata "chinese" adalah kosakata bahasa
                                  indonesia? Yang konsisten sajalah. Kalau mau Tionghoa, ya Tionghoa. Kalau mau
                                  Cina ya Cina. Sejauh yang saya tahu baik "chinese" dan "china" (baca chaina
                                  bukan chiina) belum diserap dalam bahasa indonesia.

                                  Bagi saya, cina, tionghoa, dll itu sama saja. Toh bagi keluarga istri saya, saya
                                  tetap dianggap "yinni ren" bukan "zhongguo ren". Walaupun mereka juga bilang
                                  bahwa yang tepat adalah "yinni huaren".

                                  salam,
                                  jimmy

                                  --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, fredyose@... wrote:
                                  >
                                  > Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai lagi
                                  >dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa disana
                                  >masih banyak tuan tanah loh
                                  >




                                  [Non-text portions of this message have been removed]
                                • JT
                                  Betul sekali pa DS, polemik istilah Cina vs Tionghoa sebenarnya hanya sekedar politik praktis saja. Lepas dari suka atau tidak suka disebut Cina, sebenarnya
                                  Message 16 of 18 , Apr 14 10:17 PM
                                    Betul sekali pa DS, polemik istilah Cina vs Tionghoa sebenarnya hanya sekedar politik praktis saja. Lepas dari suka atau tidak suka disebut Cina, sebenarnya tidak ada kerugian secara moral maupun material yang ditimbulkan, sepanjang istilah Cina tsb disampaikan dalam konotasi positive. Misalnya ada orang yang berkata: 'Orang Cina itu baik sekali', apakah ada unsur penghinaan disitu? Jadi alasan bahwa istilah Cina merupakan penghinaan adalah alasan yang dibuat-buat.

                                    Sebaliknya, peraturan yang sengaja dibuat sekedar untuk mengganti istilah Tionghoa dengan istilah Cina dengan tujuan untuk merendahkan orang Tionghoa, juga tindakan konyol. Pernahkah ada negara lain yang melakukan tindakan serupa?
                                    Apa ini tidak sama dengan anak kecil yang mengejek temannya, 'Cina lu', atau 'Jawa lu', 'Batak lu' dsb.

                                    Jadi kenapa sekarang ada orang yang mati2an menentang istilah Cina, seolah istilah tsb merupakan hinaan besar, tapi dalam waktu yang sama bisa menerima kalau ditulis China? Lucu bukan, karena bahasa Indonesia membaca istilah Cina dan China dalam bunyi yang sama, dan tidak ada aturan khusus kalau untuk istilah China harus dibaca Caine seperti dalam bahasa Inggris. Dan kenapa orang2 Cina di Malaysia, singapore dan Brunei, tidak merasa terhina disebut Cina?

                                    Jawabannya sebenarnya sederhana saja. Pernah dengar Teori Musuh Bersama? Itulah, polemik istilah Cina vs Tionghoa adalah politik praktis dalam rangka teori musuh bersama tsb. Teori Musuh Bersama adalah teori yang menggunakan suatu objek yang dikondisikan sedemikian rupa oleh orang / kelompok tertentu, agar dianggap sebagai musuh bersama oleh masyarakat luas, yang ingin dijadikan pendukungnya secara politik.

                                    Bung Karno dulu menggunakan istilah penjajahan dan kolonialisme beserta turutannya sebagai musuh bersama, tujuannya untuk mendapat dukungan rakyat dalam mengusir penjajah. Faktanya entah karena merasa diuntungkan atau karena tidak mengerti, tidak semua rakyat benci penjajah. Setelah dipersatukan dalam memerangi musuh bersama, semakin banyak rakyat yang anti penjajah.

                                    Pak Harto dengan Orde Barunya menggunakan PKI dan Komunisme sebagai musuh bersama untuk menina bobokan rakyat dalam melanggengkan kekuasaannya. Musuh bersama ini juga dipakai untuk mendorong rakyat agar mau ikut aktif membasmi orang2 yang dicap PKI dan onderbouwnya, seolah-olah orang2 ex PKI dan onderbouwnya, tidak punya hak untuk hidup di dunia ini.
                                    Meskipun faktanya banyak orang2 ex PKI dan onderbouwnya yang lebih bermoral daripada pendukung Orba. Orang2 yang sudah tercuci otaknya oleh Teori Musuh Bersama tsb sudah tidak pernah memikirkannya lagi.

                                    Dulu SBKRI juga dijadikan musuh bersama oleh tokoh2 Tionghoa, diiringi munculnya beberapa LSM yang menuntut dihapusnya SBKRI. Padahal SBKRI mustahil dicabut, karena diperlukan sebagai bukti bagi orang asing yang sudah naturalisasi menjadi WNI. Yang dihapus adalah kewajiban bagi WNI keturunan Tionghoa untuk menunjukkan SBKRI dalam berurusan dengan instansi resmi. Pembuktian sebagai WNI bisa dengan Akta Kelahiran atau surat2 lain yang relevan. Sekarang SBKRI sudah dipensiunkan sebagai musuh bersama bagi tokoh2 Tionghoa dari kalangan tertentu.

                                    Karena terhadap istilah Cina belum ada tindakan resmi dari pemerintah untuk menggantinya kembali dengan istilah Tionghoa, maka istilah Cina akan tetap dinobatkan sebagai musuh bersama bagi kalangan Tionghoa tertentu dengan 1001 macam argumentasi darri yang logis sampai yang absurd. Bagaimana kalau pemerintah secara resmi mengganti kembali istilah Cina dengan istilah Tionghoa?

                                    Jangan takut, akan ada object baru lain yang dinobatkan sebagai musuh bersama oleh tokoh2 Tionghoa, agar semua orang2 Tionghoa mendukung tokoh tsb sebagai pimpinannya. Itulah politik.

                                    Salam
                                    JT

                                    ------------


                                    --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, den suta <sutawiyana@...> wrote:
                                    >
                                    > Dear pak Jimmy,
                                    >  
                                    > Persoalan sebutan / istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina ini,
                                    > sesungguhnya hanya persoalan
                                    > politik  praktis  belaka.  Sebab  bagi  generasi  penerus
                                    > bangsa, istilah itu seakan sudah merupakan ungkapan 
                                    > William  Shakespeare  "What's in a name?  That which
                                    > we call a rose. By any other name would smell as sweet."
                                    >  
                                    > Ya,  sikap  dan  perilaku pemaafan seakan selalu kalah
                                    > dengan kepentingan dan kekuasaan perpolitikan.Pada-
                                    > hal sesungguhnya hal inilah  yg.  selalu  menyebabkan
                                    > perasaan sakit hati dan penderitaan batin manusia!
                                    >
                                    > Dan, kesadaran batin seakan kalah dengan kegelapan
                                    > batin. Entah, sampai kapan hal ini akan tuntas, selama
                                    > manusia  tak mau melepas dan ingin terus melekat pa-
                                    > da kejadian masa lalu  &  takut pada kemungkinan ma-
                                    > sa depan!
                                    >
                                    > Salam kesadaran,
                                    > DS
                                    >
                                    >
                                    >
                                    >
                                    >
                                    > ________________________________
                                    > From: tanaya.geo <tanaya.geo@...>
                                    > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                    > Sent: Thu, April 14, 2011 11:38:43 PM
                                    > Subject: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                                    >
                                    >  
                                    > Sebentar,
                                    >
                                    > Kok rasanya makin lama makin tidak beraturan.
                                    >
                                    > Tolong koreksi bila saya salah, apakah kata "chinese" adalah kosakata bahasa
                                    > indonesia? Yang konsisten sajalah. Kalau mau Tionghoa, ya Tionghoa. Kalau mau
                                    > Cina ya Cina. Sejauh yang saya tahu baik "chinese" dan "china" (baca chaina
                                    > bukan chiina) belum diserap dalam bahasa indonesia.
                                    >
                                    > Bagi saya, cina, tionghoa, dll itu sama saja. Toh bagi keluarga istri saya, saya
                                    > tetap dianggap "yinni ren" bukan "zhongguo ren". Walaupun mereka juga bilang
                                    > bahwa yang tepat adalah "yinni huaren".
                                    >
                                    > salam,
                                    > jimmy
                                    >
                                    > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, fredyose@ wrote:
                                    > >
                                    > > Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai lagi
                                    > >dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa disana
                                    > >masih banyak tuan tanah loh
                                    > >
                                    >
                                    >
                                    >
                                    >
                                    > [Non-text portions of this message have been removed]
                                    >
                                  • martin3053950
                                    Dear mang JT, Hehehehe, luar biasa tnet ini, makanya saya cukup betah nongkrong disini, disini banyak cina yang gak membebek. Dulu ketika pak Harto izinin
                                    Message 17 of 18 , Apr 15 1:15 AM
                                      Dear mang JT,
                                      Hehehehe, luar biasa tnet ini, makanya saya cukup betah nongkrong disini, disini banyak cina yang gak membebek. Dulu ketika pak Harto izinin proses ganti nama dipermudah, (kasian pada desakan kejepit di pengadilan), ketika pak harto ngebelain etnis cina yang perlu sbkri dan naturalisasi dengan cara yang sangat mudah, dan murah tanpa via parlemen dan menabrak UU kita, saat itu gegap gempita etnis cina mendewakan pak Harto. Tapi koq malah belakangan, etnis cina digiring seperti bebek untuk menyalahi soal sbkri, gantinama dll.

                                      Setuju ada yang gerakin, sentimen kesamaan etnis dipermainkan, tapi untuk apa? Supaya pemerintah sibuk dan gak sempat ngusut utang2 BLBInya?

                                      Saya sering dengar dari orang kecil seperti pembantu dirumah yang memuji orang tionghoa dengan pernyataan/pertanyaan "orang cina pinter2", "orang cina rajin", "orang cina kaya2". Dalam surat resminya, pengantian sebutan tionghoa ke cina, jelas tersirat supaya orang cina jangan arogan dan berasa superior diatas etnis lain. Lho inikan baik, kenapa diterjemahkan sebagai menghina atau mencari ribut.

                                      Sehari2 dimasa kecil meski sering diajar orang tua untuk menyebut orang lain dengan sebutan yang disukainya, namun kita tetap sering memberi merek 'si pitak, si botak, si jorok, si sombong, si rakus, si pelit, si banteng' kepada teman2 kita. Sebagian untuk tujuan menista/menghina/mendiskriditkan, sebagian untuk ajak ribut/berantem, sebagian untuk pujian, dan sebagian lagi agar yang bersangkutan mau koreksi diri, jangan jadi pelit/rakus/sombong.

                                      Pemerintah terhadap rakyat mirip orang tua kepada anak2nya, ngapain menghina anak, kalo memang anaknya tak disuka kenapa sekalian gak dibuang saja. Kalo di negara lain, sering terjadi genocida. Jadi kalo menurut saya, pemakaian cina dulu lebih bersifat untuk menbina anak, agar lebih tercipta kesatuan dan persatuan bangsa. Tapi sayang tampaknya tujuan tersebut tidak sampai, bukan mawas diri malah sekarang arogannya muncul lagi, seenaknya menterjemahan putusan tersebut sebagai bukti etnisnya di hina, di diskriminasikan, tanpa mau membaca aturan tsb dengan teliti, apalagi memperlajari suasana yg terjadi saat itu.

                                      Mungkin maksudnya jika kelak ada yang masih nyebut cina, maka wajar orang cina merasa di hina, di zalimi? dan sebagai reaksinya harus dianggap wajar bila orang tionghoa mengumpulkan modalnya disini untuk dikirim membangun negara lain?

                                      Pengunaan sbkri tidak mutlak selama kita bisa buktikan diri sebagai wni, dipertengahan 70an saat gencar2nya wna cina dicurigai, toh tanpa sbkri saya bisa bikin passport dan masuk kuliah. Kerena maraknya pemerasan petugas dengan dalih sbkri, kewajiban menyertakan sbkri bagi yang sudah wni juga sudah dilarang oleh pak Harto di tahun 1996. Jadi para tokoh tionghoa yang berhasil perjuangkan itu apa? Kelahiran UU kewarganegaraan 2006?, rasanya tanpa peran orang tionghoa, segala uu yang sudah ketinggalan jaman, cepat lambat juga akan tiba gilirannya untuk dirubah/diperbaharui.

                                      Para tokoh tionghoa sengaja memonster2kan sbkri, kemudian mengklaim sendiri sbkri sudah tidak berlaku, padahal jelas2 sbk (surat bukti kewarganegaraan) adalah dokumen kependudukan yang bersifat netral, universal dan selamanya diperlukan disetiap negara. Emangnya di amrik, kalo kita sudah naturalisasi, saat bikin passport atau kartu social security kita gak dimintakan sbk nya?

                                      Keluguan kebanyakan etnis tionghoa yang tidak paham aturan sedang terus dipermainkan, dengan ditanamkan dibenaknya bahwa sbkri adalah bentuk diskriminasi pemerintah terhadap tionghoa (etnis arab dan India juga sama perlu sbkri, tapi tidak seheboh tionghoa), jadi karena sbkri adalah dokumen resmi yang sangat penting, suatu saat bila ada petugas yang minta sbkri, selanjutnya akan dijadikan bukti bahwa tionghoa masih didiskriminasi. Hebatkan proses cuci otak yang telah berhasil dilakukan.

                                      Sekali lagi politik musuh bersama yang diciptakan tokoh tionghoa ini sebenarnya untuk keuntungan tujuan apa? Dan juga isu apa lagi yang akan digoreng untuk dijadikan musuh bersama, bila semua kemauannya sudah dituruti pemerintah?

                                      salam,
                                      martin

                                      --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "JT" <jt2x00@...> wrote:
                                      >
                                      > Betul sekali pa DS, polemik istilah Cina vs Tionghoa sebenarnya hanya sekedar politik praktis saja. Lepas dari suka atau tidak suka disebut Cina, sebenarnya tidak ada kerugian secara moral maupun material yang ditimbulkan, sepanjang istilah Cina tsb disampaikan dalam konotasi positive. Misalnya ada orang yang berkata: 'Orang Cina itu baik sekali', apakah ada unsur penghinaan disitu? Jadi alasan bahwa istilah Cina merupakan penghinaan adalah alasan yang dibuat-buat.
                                      >
                                      > Sebaliknya, peraturan yang sengaja dibuat sekedar untuk mengganti istilah Tionghoa dengan istilah Cina dengan tujuan untuk merendahkan orang Tionghoa, juga tindakan konyol. Pernahkah ada negara lain yang melakukan tindakan serupa?
                                      > Apa ini tidak sama dengan anak kecil yang mengejek temannya, 'Cina lu', atau 'Jawa lu', 'Batak lu' dsb.
                                      >
                                      > Jadi kenapa sekarang ada orang yang mati2an menentang istilah Cina, seolah istilah tsb merupakan hinaan besar, tapi dalam waktu yang sama bisa menerima kalau ditulis China? Lucu bukan, karena bahasa Indonesia membaca istilah Cina dan China dalam bunyi yang sama, dan tidak ada aturan khusus kalau untuk istilah China harus dibaca Caine seperti dalam bahasa Inggris. Dan kenapa orang2 Cina di Malaysia, singapore dan Brunei, tidak merasa terhina disebut Cina?
                                      >
                                      > Jawabannya sebenarnya sederhana saja. Pernah dengar Teori Musuh Bersama? Itulah, polemik istilah Cina vs Tionghoa adalah politik praktis dalam rangka teori musuh bersama tsb. Teori Musuh Bersama adalah teori yang menggunakan suatu objek yang dikondisikan sedemikian rupa oleh orang / kelompok tertentu, agar dianggap sebagai musuh bersama oleh masyarakat luas, yang ingin dijadikan pendukungnya secara politik.
                                      >
                                      > Bung Karno dulu menggunakan istilah penjajahan dan kolonialisme beserta turutannya sebagai musuh bersama, tujuannya untuk mendapat dukungan rakyat dalam mengusir penjajah. Faktanya entah karena merasa diuntungkan atau karena tidak mengerti, tidak semua rakyat benci penjajah. Setelah dipersatukan dalam memerangi musuh bersama, semakin banyak rakyat yang anti penjajah.
                                      >
                                      > Pak Harto dengan Orde Barunya menggunakan PKI dan Komunisme sebagai musuh bersama untuk menina bobokan rakyat dalam melanggengkan kekuasaannya. Musuh bersama ini juga dipakai untuk mendorong rakyat agar mau ikut aktif membasmi orang2 yang dicap PKI dan onderbouwnya, seolah-olah orang2 ex PKI dan onderbouwnya, tidak punya hak untuk hidup di dunia ini.
                                      > Meskipun faktanya banyak orang2 ex PKI dan onderbouwnya yang lebih bermoral daripada pendukung Orba. Orang2 yang sudah tercuci otaknya oleh Teori Musuh Bersama tsb sudah tidak pernah memikirkannya lagi.
                                      >
                                      > Dulu SBKRI juga dijadikan musuh bersama oleh tokoh2 Tionghoa, diiringi munculnya beberapa LSM yang menuntut dihapusnya SBKRI. Padahal SBKRI mustahil dicabut, karena diperlukan sebagai bukti bagi orang asing yang sudah naturalisasi menjadi WNI. Yang dihapus adalah kewajiban bagi WNI keturunan Tionghoa untuk menunjukkan SBKRI dalam berurusan dengan instansi resmi. Pembuktian sebagai WNI bisa dengan Akta Kelahiran atau surat2 lain yang relevan. Sekarang SBKRI sudah dipensiunkan sebagai musuh bersama bagi tokoh2 Tionghoa dari kalangan tertentu.
                                      >
                                      > Karena terhadap istilah Cina belum ada tindakan resmi dari pemerintah untuk menggantinya kembali dengan istilah Tionghoa, maka istilah Cina akan tetap dinobatkan sebagai musuh bersama bagi kalangan Tionghoa tertentu dengan 1001 macam argumentasi darri yang logis sampai yang absurd. Bagaimana kalau pemerintah secara resmi mengganti kembali istilah Cina dengan istilah Tionghoa?
                                      >
                                      > Jangan takut, akan ada object baru lain yang dinobatkan sebagai musuh bersama oleh tokoh2 Tionghoa, agar semua orang2 Tionghoa mendukung tokoh tsb sebagai pimpinannya. Itulah politik.
                                      >
                                      > Salam
                                      > JT
                                      >
                                      > ------------
                                      >
                                      >
                                      > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, den suta <sutawiyana@> wrote:
                                      > >
                                      > > Dear pak Jimmy,
                                      > >  
                                      > > Persoalan sebutan / istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina ini,
                                      > > sesungguhnya hanya persoalan
                                      > > politik  praktis  belaka.  Sebab  bagi  generasi  penerus
                                      > > bangsa, istilah itu seakan sudah merupakan ungkapan 
                                      > > William  Shakespeare  "What's in a name?  That which
                                      > > we call a rose. By any other name would smell as sweet."
                                      > >  
                                      > > Ya,  sikap  dan  perilaku pemaafan seakan selalu kalah
                                      > > dengan kepentingan dan kekuasaan perpolitikan.Pada-
                                      > > hal sesungguhnya hal inilah  yg.  selalu  menyebabkan
                                      > > perasaan sakit hati dan penderitaan batin manusia!
                                      > >
                                      > > Dan, kesadaran batin seakan kalah dengan kegelapan
                                      > > batin. Entah, sampai kapan hal ini akan tuntas, selama
                                      > > manusia  tak mau melepas dan ingin terus melekat pa-
                                      > > da kejadian masa lalu  &  takut pada kemungkinan ma-
                                      > > sa depan!
                                      > >
                                      > > Salam kesadaran,
                                      > > DS
                                      > >
                                      > >
                                      > >
                                      > >
                                      > >
                                      > > ________________________________
                                      > > From: tanaya.geo <tanaya.geo@>
                                      > > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                      > > Sent: Thu, April 14, 2011 11:38:43 PM
                                      > > Subject: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                                      > >
                                      > >  
                                      > > Sebentar,
                                      > >
                                      > > Kok rasanya makin lama makin tidak beraturan.
                                      > >
                                      > > Tolong koreksi bila saya salah, apakah kata "chinese" adalah kosakata bahasa
                                      > > indonesia? Yang konsisten sajalah. Kalau mau Tionghoa, ya Tionghoa. Kalau mau
                                      > > Cina ya Cina. Sejauh yang saya tahu baik "chinese" dan "china" (baca chaina
                                      > > bukan chiina) belum diserap dalam bahasa indonesia.
                                      > >
                                      > > Bagi saya, cina, tionghoa, dll itu sama saja. Toh bagi keluarga istri saya, saya
                                      > > tetap dianggap "yinni ren" bukan "zhongguo ren". Walaupun mereka juga bilang
                                      > > bahwa yang tepat adalah "yinni huaren".
                                      > >
                                      > > salam,
                                      > > jimmy
                                      > >
                                      > > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, fredyose@ wrote:
                                      > > >
                                      > > > Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai lagi
                                      > > >dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa disana
                                      > > >masih banyak tuan tanah loh
                                      > > >
                                      > >
                                      > >
                                      > >
                                      > >
                                      > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                      > >
                                      >
                                    • den suta
                                      Dear mang JT & bang Martin, Kayaknya, yg. terus2an berkutat tentang sebutan / istilah  Tiongkok,  Tionghoa,  China, Chinese, dan Cina itu adalah orang2 yg.
                                      Message 18 of 18 , Apr 15 4:26 AM
                                        Dear mang JT & bang Martin,

                                        Kayaknya, yg. terus2an berkutat tentang sebutan /
                                        istilah  Tiongkok,  Tionghoa,  China, Chinese, dan
                                        Cina itu adalah orang2 yg. kengangguren. Terlalu
                                        ngede2ken perasaan. Dan, samasekali gak mendi-
                                        dik  generasi  muda  untuk  berjiwa  besar dengan
                                        menjadi pemaaf, jika sekiranya dugaannya emang
                                        benar!?.

                                        Karena  itu  maka selama ini DS lebih banyak me-
                                        lemparkan  gagasan2  tentang  pemahaman akan
                                        aspek2  kemanusiaan,  yg.  merupakan  sumber2
                                        konflik  di  dalam hampir setiap diskusi.  Misalnya
                                        tentang  konsep  "Wu Wei" nya  Laozi dalam Dao
                                        De Jing, agar tak mau membenarkan dirinya sen-
                                        diri, dan menyalahkan orang lain; mau dan berani
                                        melepaskan dan tak terikat pada apa yg. telah ter-
                                        jadi di masa lampau, atau tegasnya bersedia dng.
                                        jiwa besar mau memaafkan yg. dianggap salah!.

                                        Itulah pendidikan budi pekerti yg. membentuk ke-
                                        pribadian yg. bermoral / beretika luhur.Jangan se-
                                        lalu bersilat lidah yg. mem-buang2 waktu, dan tak
                                        produktif, malah kontra-produktif. Dengan demiki-
                                        an  akan terciptalah suasana harmonis,  jauh dari
                                        konflik!.

                                        Ya, sesungguhnya, apa toh yg. akan dicari dalam
                                        hidup  yg. tak kekal,  yg.  se-waktu2 akan berkata
                                        "goodbye" ini?!  Mungkin  tujuan  diadakannya T-
                                        net ini bukanlah tempat untuk mencari  atau men-
                                        ciptakan  permusuhan  diantara para membernya,
                                        melainkan  untuk saling mencerahkan,  bukankah
                                        begitu?! Atau, mungkin dianggapnya sebagai tem-
                                        pat  untuk mengadili dan memvonis seseorang yg.
                                        dianggap besalah?!

                                        Untuk itulah maka DS juga meluncurkan gagasan
                                        tentang kepribadian yg. introspektif.Jangan hanya
                                        mengukur bajunya untuk orang lain.

                                        Demikian pula telah DS gelontorkan konsep2  yg.
                                        bernuansa alami, seperti karakter Air dan Mataha-
                                        ri, dan lain sebagainya.

                                        Semoga,  tak hanya melek huruf, tapi pun melek
                                        karakter!!.

                                        Salam yin-yang,
                                        DS 






                                        ________________________________
                                        From: martin3053950 <martin3053950@...>
                                        To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                        Sent: Fri, April 15, 2011 3:15:58 PM
                                        Subject: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.

                                         
                                        Dear mang JT,
                                        Hehehehe, luar biasa tnet ini, makanya saya cukup betah nongkrong disini, disini
                                        banyak cina yang gak membebek. Dulu ketika pak Harto izinin proses ganti nama
                                        dipermudah, (kasian pada desakan kejepit di pengadilan), ketika pak harto
                                        ngebelain etnis cina yang perlu sbkri dan naturalisasi dengan cara yang sangat
                                        mudah, dan murah tanpa via parlemen dan menabrak UU kita, saat itu gegap gempita
                                        etnis cina mendewakan pak Harto. Tapi koq malah belakangan, etnis cina digiring
                                        seperti bebek untuk menyalahi soal sbkri, gantinama dll.

                                        Setuju ada yang gerakin, sentimen kesamaan etnis dipermainkan, tapi untuk apa?
                                        Supaya pemerintah sibuk dan gak sempat ngusut utang2 BLBInya?


                                        Saya sering dengar dari orang kecil seperti pembantu dirumah yang memuji orang
                                        tionghoa dengan pernyataan/pertanyaan "orang cina pinter2", "orang cina rajin",
                                        "orang cina kaya2". Dalam surat resminya, pengantian sebutan tionghoa ke cina,
                                        jelas tersirat supaya orang cina jangan arogan dan berasa superior diatas etnis
                                        lain. Lho inikan baik, kenapa diterjemahkan sebagai menghina atau mencari ribut.

                                        Sehari2 dimasa kecil meski sering diajar orang tua untuk menyebut orang lain
                                        dengan sebutan yang disukainya, namun kita tetap sering memberi merek 'si pitak,
                                        si botak, si jorok, si sombong, si rakus, si pelit, si banteng' kepada teman2
                                        kita. Sebagian untuk tujuan menista/menghina/mendiskriditkan, sebagian untuk
                                        ajak ribut/berantem, sebagian untuk pujian, dan sebagian lagi agar yang
                                        bersangkutan mau koreksi diri, jangan jadi pelit/rakus/sombong.


                                        Pemerintah terhadap rakyat mirip orang tua kepada anak2nya, ngapain menghina
                                        anak, kalo memang anaknya tak disuka kenapa sekalian gak dibuang saja. Kalo di
                                        negara lain, sering terjadi genocida. Jadi kalo menurut saya, pemakaian cina
                                        dulu lebih bersifat untuk menbina anak, agar lebih tercipta kesatuan dan
                                        persatuan bangsa. Tapi sayang tampaknya tujuan tersebut tidak sampai, bukan
                                        mawas diri malah sekarang arogannya muncul lagi, seenaknya menterjemahan putusan
                                        tersebut sebagai bukti etnisnya di hina, di diskriminasikan, tanpa mau membaca
                                        aturan tsb dengan teliti, apalagi memperlajari suasana yg terjadi saat itu.

                                        Mungkin maksudnya jika kelak ada yang masih nyebut cina, maka wajar orang cina
                                        merasa di hina, di zalimi? dan sebagai reaksinya harus dianggap wajar bila orang
                                        tionghoa mengumpulkan modalnya disini untuk dikirim membangun negara lain?

                                        Pengunaan sbkri tidak mutlak selama kita bisa buktikan diri sebagai wni,
                                        dipertengahan 70an saat gencar2nya wna cina dicurigai, toh tanpa sbkri saya bisa
                                        bikin passport dan masuk kuliah. Kerena maraknya pemerasan petugas dengan dalih
                                        sbkri, kewajiban menyertakan sbkri bagi yang sudah wni juga sudah dilarang oleh
                                        pak Harto di tahun 1996. Jadi para tokoh tionghoa yang berhasil perjuangkan itu
                                        apa? Kelahiran UU kewarganegaraan 2006?, rasanya tanpa peran orang tionghoa,
                                        segala uu yang sudah ketinggalan jaman, cepat lambat juga akan tiba gilirannya
                                        untuk dirubah/diperbaharui.


                                        Para tokoh tionghoa sengaja memonster2kan sbkri, kemudian mengklaim sendiri
                                        sbkri sudah tidak berlaku, padahal jelas2 sbk (surat bukti kewarganegaraan)
                                        adalah dokumen kependudukan yang bersifat netral, universal dan selamanya
                                        diperlukan disetiap negara. Emangnya di amrik, kalo kita sudah naturalisasi,
                                        saat bikin passport atau kartu social security kita gak dimintakan sbk nya?


                                        Keluguan kebanyakan etnis tionghoa yang tidak paham aturan sedang terus
                                        dipermainkan, dengan ditanamkan dibenaknya bahwa sbkri adalah bentuk
                                        diskriminasi pemerintah terhadap tionghoa (etnis arab dan India juga sama perlu
                                        sbkri, tapi tidak seheboh tionghoa), jadi karena sbkri adalah dokumen resmi yang
                                        sangat penting, suatu saat bila ada petugas yang minta sbkri, selanjutnya akan
                                        dijadikan bukti bahwa tionghoa masih didiskriminasi. Hebatkan proses cuci otak
                                        yang telah berhasil dilakukan.

                                        Sekali lagi politik musuh bersama yang diciptakan tokoh tionghoa ini sebenarnya
                                        untuk keuntungan tujuan apa? Dan juga isu apa lagi yang akan digoreng untuk
                                        dijadikan musuh bersama, bila semua kemauannya sudah dituruti pemerintah?


                                        salam,
                                        martin

                                        --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "JT" <jt2x00@...> wrote:
                                        >
                                        > Betul sekali pa DS, polemik istilah Cina vs Tionghoa sebenarnya hanya sekedar
                                        >politik praktis saja. Lepas dari suka atau tidak suka disebut Cina, sebenarnya
                                        >tidak ada kerugian secara moral maupun material yang ditimbulkan, sepanjang
                                        >istilah Cina tsb disampaikan dalam konotasi positive. Misalnya ada orang yang
                                        >berkata: 'Orang Cina itu baik sekali', apakah ada unsur penghinaan disitu? Jadi
                                        >alasan bahwa istilah Cina merupakan penghinaan adalah alasan yang dibuat-buat.
                                        >
                                        >
                                        > Sebaliknya, peraturan yang sengaja dibuat sekedar untuk mengganti istilah
                                        >Tionghoa dengan istilah Cina dengan tujuan untuk merendahkan orang Tionghoa,
                                        >juga tindakan konyol. Pernahkah ada negara lain yang melakukan tindakan serupa?
                                        >
                                        > Apa ini tidak sama dengan anak kecil yang mengejek temannya, 'Cina lu', atau
                                        >'Jawa lu', 'Batak lu' dsb.
                                        >
                                        >
                                        > Jadi kenapa sekarang ada orang yang mati2an menentang istilah Cina, seolah
                                        >istilah tsb merupakan hinaan besar, tapi dalam waktu yang sama bisa menerima
                                        >kalau ditulis China? Lucu bukan, karena bahasa Indonesia membaca istilah Cina
                                        >dan China dalam bunyi yang sama, dan tidak ada aturan khusus kalau untuk istilah
                                        >China harus dibaca Caine seperti dalam bahasa Inggris. Dan kenapa orang2 Cina di
                                        >Malaysia, singapore dan Brunei, tidak merasa terhina disebut Cina?
                                        >
                                        >
                                        > Jawabannya sebenarnya sederhana saja. Pernah dengar Teori Musuh Bersama?
                                        >Itulah, polemik istilah Cina vs Tionghoa adalah politik praktis dalam rangka
                                        >teori musuh bersama tsb. Teori Musuh Bersama adalah teori yang menggunakan suatu
                                        >objek yang dikondisikan sedemikian rupa oleh orang / kelompok tertentu, agar
                                        >dianggap sebagai musuh bersama oleh masyarakat luas, yang ingin dijadikan
                                        >pendukungnya secara politik.
                                        >
                                        >
                                        > Bung Karno dulu menggunakan istilah penjajahan dan kolonialisme beserta
                                        >turutannya sebagai musuh bersama, tujuannya untuk mendapat dukungan rakyat dalam
                                        >mengusir penjajah. Faktanya entah karena merasa diuntungkan atau karena tidak
                                        >mengerti, tidak semua rakyat benci penjajah. Setelah dipersatukan dalam
                                        >memerangi musuh bersama, semakin banyak rakyat yang anti penjajah.
                                        >
                                        > Pak Harto dengan Orde Barunya menggunakan PKI dan Komunisme sebagai musuh
                                        >bersama untuk menina bobokan rakyat dalam melanggengkan kekuasaannya. Musuh
                                        >bersama ini juga dipakai untuk mendorong rakyat agar mau ikut aktif membasmi
                                        >orang2 yang dicap PKI dan onderbouwnya, seolah-olah orang2 ex PKI dan
                                        >onderbouwnya, tidak punya hak untuk hidup di dunia ini.
                                        > Meskipun faktanya banyak orang2 ex PKI dan onderbouwnya yang lebih bermoral
                                        >daripada pendukung Orba. Orang2 yang sudah tercuci otaknya oleh Teori Musuh
                                        >Bersama tsb sudah tidak pernah memikirkannya lagi.
                                        >
                                        > Dulu SBKRI juga dijadikan musuh bersama oleh tokoh2 Tionghoa, diiringi
                                        >munculnya beberapa LSM yang menuntut dihapusnya SBKRI. Padahal SBKRI mustahil
                                        >dicabut, karena diperlukan sebagai bukti bagi orang asing yang sudah
                                        >naturalisasi menjadi WNI. Yang dihapus adalah kewajiban bagi WNI keturunan
                                        >Tionghoa untuk menunjukkan SBKRI dalam berurusan dengan instansi resmi.
                                        >Pembuktian sebagai WNI bisa dengan Akta Kelahiran atau surat2 lain yang relevan.
                                        >Sekarang SBKRI sudah dipensiunkan sebagai musuh bersama bagi tokoh2 Tionghoa
                                        >dari kalangan tertentu.
                                        >
                                        >
                                        > Karena terhadap istilah Cina belum ada tindakan resmi dari pemerintah untuk
                                        >menggantinya kembali dengan istilah Tionghoa, maka istilah Cina akan tetap
                                        >dinobatkan sebagai musuh bersama bagi kalangan Tionghoa tertentu dengan 1001
                                        >macam argumentasi darri yang logis sampai yang absurd. Bagaimana kalau
                                        >pemerintah secara resmi mengganti kembali istilah Cina dengan istilah Tionghoa?
                                        >
                                        >
                                        > Jangan takut, akan ada object baru lain yang dinobatkan sebagai musuh bersama
                                        >oleh tokoh2 Tionghoa, agar semua orang2 Tionghoa mendukung tokoh tsb sebagai
                                        >pimpinannya. Itulah politik.
                                        >
                                        > Salam
                                        > JT
                                        >
                                        > ------------
                                        >
                                        >
                                        > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, den suta <sutawiyana@> wrote:
                                        > >
                                        > > Dear pak Jimmy,
                                        > >  
                                        > > Persoalan sebutan / istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan
                                        >Cina ini,
                                        >
                                        > > sesungguhnya hanya persoalan
                                        > > politik  praktis  belaka.  Sebab  bagi  generasi  penerus
                                        > > bangsa, istilah itu seakan sudah merupakan ungkapan 
                                        > > William  Shakespeare  "What's in a name?  That which
                                        > > we call a rose. By any other name would smell as sweet."
                                        > >  
                                        > > Ya,  sikap  dan  perilaku pemaafan seakan selalu kalah
                                        > > dengan kepentingan dan kekuasaan perpolitikan.Pada-
                                        > > hal sesungguhnya hal inilah  yg.  selalu  menyebabkan
                                        > > perasaan sakit hati dan penderitaan batin manusia!
                                        > >
                                        > > Dan, kesadaran batin seakan kalah dengan kegelapan
                                        > > batin. Entah, sampai kapan hal ini akan tuntas, selama
                                        > > manusia  tak mau melepas dan ingin terus melekat pa-
                                        > > da kejadian masa lalu  &  takut pada kemungkinan ma-
                                        > > sa depan!
                                        > >
                                        > > Salam kesadaran,
                                        > > DS
                                        > >
                                        > >
                                        > >
                                        > >
                                        > >
                                        > > ________________________________
                                        > > From: tanaya.geo <tanaya.geo@>
                                        > > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                        > > Sent: Thu, April 14, 2011 11:38:43 PM
                                        > > Subject: [t-net] Re: Istilah Tiongkok, Tionghoa, China, Chinese, dan Cina.
                                        > >
                                        > >  
                                        > > Sebentar,
                                        > >
                                        > > Kok rasanya makin lama makin tidak beraturan.
                                        > >
                                        > > Tolong koreksi bila saya salah, apakah kata "chinese" adalah kosakata bahasa

                                        > > indonesia? Yang konsisten sajalah. Kalau mau Tionghoa, ya Tionghoa. Kalau mau
                                        >
                                        > > Cina ya Cina. Sejauh yang saya tahu baik "chinese" dan "china" (baca chaina
                                        > > bukan chiina) belum diserap dalam bahasa indonesia.
                                        > >
                                        > > Bagi saya, cina, tionghoa, dll itu sama saja. Toh bagi keluarga istri saya,
                                        >saya
                                        >
                                        > > tetap dianggap "yinni ren" bukan "zhongguo ren". Walaupun mereka juga bilang

                                        > > bahwa yang tepat adalah "yinni huaren".
                                        > >
                                        > > salam,
                                        > > jimmy
                                        > >
                                        > > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, fredyose@ wrote:
                                        > > >
                                        > > > Yang dijelaskan oleh bu Eva itu memang benar. Namun mungkin lebih sesuai
                                        >lagi
                                        >
                                        > > >dalam hal ini kami memakai istilah orang Chinese Benteng ya. Jangan lupa
                                        >disana
                                        >
                                        > > >masih banyak tuan tanah loh
                                        > > >
                                        > >
                                        > >
                                        > >
                                        > >
                                        > > [Non-text portions of this message have been removed]
                                        > >
                                        >




                                        [Non-text portions of this message have been removed]
                                      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.