Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Bls: [t-net] PINJAMAN / HUTANG NEGARA, BUKAN MOMOK YG. PERLU DITAKUTI

Expand Messages
  • den suta
      Huahahaaa... DS kini udah jadi...semut...yang kerjanya hanya cari...gula.  Apa bung Wahyu tahu dimana ada banyak gula?? hehe... Salam semut angrang, DS
    Message 1 of 9 , Oct 1, 2010
    • 0 Attachment
       
      Huahahaaa...

      DS kini udah jadi...semut...yang kerjanya
      hanya cari...gula.  Apa bung Wahyu tahu
      dimana ada banyak gula?? hehe...

      Salam semut angrang,
      DS



      ________________________________
      From: Wahyu CD <wahyucd@...>
      To: tionghoa-net@yahoogroups.com
      Sent: Fri, October 1, 2010 10:52:48 AM
      Subject: Bls: [t-net] PINJAMAN / HUTANG NEGARA, BUKAN MOMOK YG. PERLU DITAKUTI

       

      pak DS yg dah banyak makan asam, garam...dan gula ;)
      bagi-bagi jurus mautnya dong biar utang ndak jadi momok dan dalam skala mikro
      jadi lampu yang menerangi kegelapan.

      Salam,
      Wahyu

      ________________________________
      Dari: den suta <sutawiyana@...>
      Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
      Terkirim: Jum, 1 Oktober, 2010 06:38:27
      Judul: [t-net] PINJAMAN / HUTANG NEGARA, BUKAN MOMOK YG. PERLU DITAKUTI

      Dear T-neters,

      Akhir2 ini, di forum T-net banyak dibahas secara garis besar
      tentang pinjaman / hutang Indonesia dari luar negeri, yang se-
      akan merupakan momok yang sangat menakutkan. Secara u-
      mum, terutama bagi orang awam, hal ini bisa dimengerti dan
      difahami. Namun, secara ekonomis, terutama berdasarkan ka-
      camata entrepreneur di bidang investasi, anggapan negatif ter-
      hadap pinjaman / hutang tersebut, terasa aneh, dan tidak be-
      nar, bahwa hal tersebut merupakan momok yang perlu ditakuti.
      Karena apa??

      Ya, segala sesuatu itu dapat dipandang secara dualistis. Se-
      perti a.l. dengan sumber dayalisterik yg.dikenal sebagai strom;
      bukankah disatu sisi berpotensi mematikan bagi yang meme-
      gangnya, tapi dilaini sisi bisa menyenangkan bagi yang meng-
      inginkan lampunya menyala, sehingga mampu memberikan pe-
      nerangan ketika gelap?!

      Demikian pula, dengan pinjaman / hutang. Disatu sisi bisa di-
      gunakan sebagai alat produktif yang mampu untuk mengha-
      silkan suatu benda kebutuhan hidup manusia, tapi dilain sisi bi-
      sa digunakan sebagai alat konsumtif yg. mampu untuk mem-
      belinya.

      Tampaknya, pinjaman / hutang di Indonesia terutama diguna-
      kan sebagai alat konsumtif, yang habis sekali pakai. Sedang-
      kan di China, misalnya, terutama dimanfaatkan sebagai alat
      produktif, untuk menghasilkan benda, yg. memberikan nilai tam-
      bah dari memperdagankannya, melalui sekaligus penggalian /
      eksploitasi, pengolahan, dan produksi atas SDA (sumber daya
      alam), serta pemberdayaan atas SDM (sumber dayamanusia)
      nya, dengan memperoleh suatu keuntungan bisnis.

      Disamping sifat penggunaan pinjaman / hutang Negara terse-
      but, tampaknya pula, budaya hidup dan penghidupan masing2
      bangsa juga berperan penting dalam menentukan apakah pin-
      jaman / hutang Negara itu merupakan beban yang harus dipi-
      kul rakyatnya, ataukah memberikan nilai tambah yang dapat
      dinikmati rakyatnya.

      Berdasarkan jumlah rakyat Indonesia yang kebanyakan suku
      Jawa, dng. budaya “ngendiko dawu”- nya, maka pada umum-
      nya kiblat mereka pada atasan yg. menjadi panutannya. Se-
      hingga apa pun sikap & perilaku panutannya, demikian pula
      sikap & perilaku rakyat Indonesia. Dan, atas dasar subjektivi-
      tas inilah maka penjajah Belanda dengan begitu gampangnya
      dapat mengusai bumi nusantara ini selama 350 tahun. Hal ini
      berbeda dengan budaya, misalnya, bangsa China, yang pada
      umunya, secara tradisional, menganut konsep “guanxi” yang
      sangat terpengaruh oleh ajaran DaoismenyaLaozi tentang yin-
      yang, dan oleh ajaran Confucianismenya Kongfuzi tentang
      hierargi kepatuhan / ketaatan pada atasan / yang lebih tua,
      secara lebih zakelijk dan objektif.

      Dalam skala mikro, sebagai suatu unit organisasi perusahaan
      swasta...
      tentang makna positif pinjaman / hutang tersebut, juga dibe-
      narkan oleh praktek berdasarkan pengalaman empiris DS se-
      lama memimpin dua bank berbeda. Masing2 selama 8 tahun
      (1963-1970) dan 39 tahun (1973-2002). Dalam masa2 tsb.,
      ternyata pinjaman / hutang yang diberikannya, telah berhasil
      memperkembangkan lebih banyak usahawan, dari Banyuwangi
      sampai dengan Madiun, yang sukses dalam membangun kera-
      jaan bisnisnya.

      Dan, dalam skala makro, sebagai suatu organisasi Negara,
      yang berbentuk NKRI...
      dengan demikian maka tidaklah benar bahwa suatu pinjaman /
      hutang, yang diberikan pd.suatu Negara sebesar Indonesia itu
      merupakan momok yang perlu ditakuti, atau hanya dikonotasi-
      kan sebagai hal yang negatif, sepanjang benar2 merdeka dan
      berdaulat serta mampu menunjukkan suatu kekuatan sebagai
      suatu bangsa dan Negara yang bersatu !

      Salam pinjaman,
      DS

      [Non-text portions of this message have been removed]

      [Non-text portions of this message have been removed]








      [Non-text portions of this message have been removed]
    • semar samiaji
      Dear rekan-rekan,   Merujuk kepada berita di bawah ini….INILAH LANGKAH AWAL YANG AMAT SANGAT DIBUTUHKAN OLEH BANGSA INI…yakinlah, semua dan apa yang
      Message 2 of 9 , Oct 1, 2010
      • 0 Attachment
        Dear rekan-rekan,
         
        Merujuk kepada berita di bawah ini….INILAH LANGKAH AWAL YANG AMAT SANGAT DIBUTUHKAN OLEH BANGSA INI…yakinlah, semua dan apa yang terjadi merupakan perjalanan bangsa ini sebagai transformasi kemanusiaan kita bersama ke depan sebagai bangsa yang akan MENERIMA anugerah MERCUSUAR / suluh / cahaya bagi dunia dan umat manusia…
         
        Melalui inilah, maka SEMUA keduka-laraan akan bertransformasi menjadi satu jalinan keluarga yang saling welas asih….sempat saya menitikkan air mata membaca berita ini…sepertinya, semua apa yang dialami amat sangat terasa di batin ini…
         
        Mungguh Gusti...Nu Maha Agung jeung Kuwasa…
         
        Mari kita semua bersama menyambut masa depan dalam TALI KEWELASASIHAN, walau pun bumi bergolak sehebat apa pun.…dan itu dimulai dari kewelasasihan yang mampu dihadirkan bagi setiap putra dan putri tanah tercinta…INILAH SEJATINYA UJUD PERJUANGAN AYAH DAN IBU KITA TERDAHULU…
         
        MERDEKA!!!....
         
        Salam,
        ss
        ---
        Mereka Meretas Jalan Rekonsiliasi...
         
        Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
        Jumat, 1 Oktober 2010 | 16:33 WIB
         
        Dok PBK
         
         JAKARTA, KOMPAS.com - Catherine Panjaitan butuh waktu 20 tahun untuk "bersahabat" dengan ingatan traumatis kematian ayahnya, Mayjen TNI (Anumerta) DI Panjaitan pada tragedi 30 September 1965. Peristiwa berdarah itu merenggut nyawa 7 perwira TNI AD dengan cara yang sangat keji.
         
        Dalam testimoninya, Jumat (1/10/2010), Catherine menyaksikan langsung bagaimana pasukan Cakrabirawa merenggut nyawa DI Panjaitan. "Saya menyaksikan langsung, bagaimana kepala ayah saya ditembak. Otaknya keluar dan saya lari bersembunyi. Saat semua keluar, saya hanya menemukan darah dan otak ayah saya yang berceceran. Saat itu, saya merasa sebagai orang yang sial dan menjadi pribadi yang traumatis selama 20 tahun," kisah Catherine, pada Silaturahmi Nasional Anak Bangsa, di Gedung MPR, Jakarta.
         
        Berpuluh tahun peristiwa itu terekam dalam ingatannya. "Saya berperang dengan diri sendiri dan masa lalu. Apalagi, ketika memasuki 30 September dan 1 Oktober," lanjutnya. Dendam pun tersemat didadanya. Hingga suatu saat, bersama sejumlah putra-putri pahlawan revolusi dan putra-putri tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), Catherine turut menjadi pemrakarsa dan pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa.
         
        Disini, mereka bersama-sama mengikis dendam. "Selama ini, saya menganggap Mas Ilham Aidit (putra tokoh PKI, DN Aidit) adalah musuh. Setelah saya berkenalan dan bertemu mereka di FSAB, hilang semua perasaan dendam. Saya memandangnya dari sudut kemanusiaan, bahwa manusia pernah berbuat salah," ungkap Catherine dengan suara terbata-bata.
         
        Ia menekankan, perbuatan salah yang dilakukan orangtua, tak boleh diwariskan kepada anak cucu. "Saya mendidik anak-anak saya untuk tidak menjadi pendendam. Saya memaafkan semuanya," katanya.
        Testimoni Ilham Aidit Putra Ketua CC PKI DN Aidit, Ilham Aidit, mengisahkan traumatis yang dialaminya. Warisan "dendam" menghantui hidupnya. Di suatu pagi, saat usianya menginjak 6,5 tahun, ia melihat sebuah tulisan besar di tembok "Gantung Aidit, Bubarkan PKI". "Saya kaget melihat tulisan itu. Tubuh saya bergetar. Dan saya merasa, sejak pagi itu, hidup saya akan sulit dan gelap. Sejak saat itu pula, saya tidak berani menyematkan nama "Aidit", nama ayah, di belakang nama saya," tutur Ilham, pada acara yang sama. Ia merasa, ayahnya sudah menjadi musuh besar bangsa Indonesia.
         
        Menginjak pendidikan di SMP, masa-masa sulit dialaminya. Ilham remaja kerap berkelahi karena ejekan rekan-rekan sebaya terhadap ayahnya. "Setiap ada orang yang mengejek ayah saya, saya selalu melawan dan selalu kalah. Karena yang mengeroyok saya puluhan orang," ujarnya.
         
        Hingga suatu saat sejumlah penggagas dan pendiri FSAB mengajaknya mendeklarasikan forum tersebut pada tahun 2003. Awalnya, Ilham enggan dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan forum silaturahmi itu. Ketakutan akan sepak terjang sang ayah membuat Ilham merasa tak diterima. "Tapi, sejak itu pula, saat FSAB dideklarasikan, kali pertama saya kembali memakai nama Aidit di belakang nama saya. Dan saya tetap hidup. Terima kasih kepada FSAB," kata Ilham.
         
        Melalui FSAB, ia berharap, upaya rekonsiliasi dengan keluarga korban Gerakan 30 September akan terjadi. "Ini adalah forum silaturahmi kebangsaan. Saya berharap bisa menjadi jembatan untuk sebuah proses rekonsiliasi. Meski sulit, harus kita lalu. Karena ini akan menjadi proses yang bermanfaat bahwa mereka yang pernah keliru punya jiwa besar untuk meminta maaf dan para korban juga bisa memaafkan," harap Ilham. Satu hal yang ditekankan dalam acara ini, "Berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru".   
          
        http://nasional.kompas.com/read/2010/10/01/16330063/Mereka.Meretas.Jalan.Rekonsiliasi....-4#









        [Non-text portions of this message have been removed]
      • sudarjanto albastari
        Hutang negara kalau kita mampu membayar nggak masalah,yang menjadi masalah itu kalau besarnya bayar utang lebih sedikit daripada penambahan hutangnya,untuk
        Message 3 of 9 , Oct 1, 2010
        • 0 Attachment
          Hutang negara kalau kita mampu membayar nggak masalah,yang menjadi masalah itu
          kalau besarnya bayar utang lebih sedikit daripada penambahan hutangnya,untuk
          bayar bungnya saja sudah 110 trilyun,sementara eksport andalan kita  cuma sumber
          daya alam yang pasti habisnya,itupun sebagian besar sudah tergadai,ibaratnya
          kita ini besar pasak daripada tiang.Kalau perusahaan yang banyak utangnya
          sedikit untungnya ya mana bisa maju,kalau RRC punya utang mereka punya andalan
          Produk yang mereka jual sehingga bisa memberi makan rakyatnya.Sedangkan kita
          utang dipakai bangun gedung,pakai foya foya keluar negeri,pabrik kita pada
          tutup,pertanian hasilnya menurun bahkan beras saja harus import,pabrik rokokpun
          mau ditutup alamat negara ini bakal bangkrut.Negara kita cuma jadi pasar produk
          asing,untungnya cuma dari makelaran duit rakyat.

          salam sedih




          ________________________________
          Dari: Prometheus <prometheus_promise@...>
          Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
          Terkirim: Jum, 1 Oktober, 2010 10:32:57
          Judul: [t-net] China's debt --- Re: PINJAMAN / HUTANG NEGARA, BUKAN MOMOK YG.
          PERLU DITAKUTI

           
          Utang memang jadi salah satu alternatif mekanisme untuk membayar defisit
          anggaran. Masalahnya benar ada pada pemanfaatan utang dan pada level berapa
          utang masih dianggap aman.


          Negara seperti RRC pun juga mempunyai utang.
          Utang RRC menarik juga untuk disimak, mengingat belakangan ini domestic debt RRC
          menjadi pembicaraan di kalangan economist.


          Pada periode 1949-1957, defisit anggaran yang besar setelah PKC mengambil alih
          RRC dari tangan Guomindang, ditutup sebagian besar dengan mencetak uang dan
          menerbitkan bond (atau di Indonesia dikenal dengan nama Surat Utang Negara).
          Disamping, itu RRC juga meminjam dari Uni Sovyet, yang saat itu memiliki
          perjanjian China�Soviet Friendship Allies Mutual Assistance Treaty.


          Periode 1958-1978, RRC tidak banyak melakukan pinjaman. Pada akhir dekade
          1950an, hubungan RRC-Uni Sovyet merenggang, karena perbedaan ideologi dan
          kepentingan. Salah satu penyebab adalah pertemuan PM Sovyet, Nikita Kruschev
          dengan Presiden US, Eisenhower, di tahun 1959 ketika hendak mendinginkan
          ketegangan antara Sovyet dan US.


          Pendanaan pemerintah periode tsb terutama dari pencetakan uang, yang kemudian
          menimbulkan inflasi tinggi.


          Periode 1978-1993, diawali dengan economic reform / open door policy. Pemerintah
          mulai kembali menggunakan instrumen lokal bond untuk mendanai defisit, walaupun
          masih dalam level yang rendah.


          Tahun 1993, Pemerintah RRC mengeluarkan peraturan yang melarang Menteri Keuangan
          meminjam ke Bank Sentral. Sejak itu, pemerintah RRC mulai lebih banyak
          menerbitkan surat utang / bond.


          Pinjaman luar negeri RRC pada periode tersebut cenderung rendah, disamping
          karena policy, dan pelajaran yang mahal ketika harus membayar utang yang besar
          ke Sovyet, juga karena akses ke financial market yang kurang.


          Baru setelah 1990an, pinjaman luar negeri RRC meningkat. Di tahun 2000, pinjaman
          luar negeri RRC sudah mencapai USD 145 M. Saat ini, pinjaman luar negeri RRC
          mencapai USD 428 M (akhir 2009).

          Total utang pemerintah RRC sendiri, termasuk pinjaman luar negeri dan surat
          utang, diperkirakan oleh IMF sekitar USD 900 M (20an% dari GDP RRC yang USD
          4300an M).


          Pinjaman pemerintah daerah di RRC, diperkirakan oleh researcher di Dept.
          Keuangan RRC, sekitar USD 880 M. Sementara, pengamat lain memperkirakan angka
          sebenarnya bisa lebih dari USD 1.7 T.


          Prom

          --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, den suta <sutawiyana@...> wrote:
          >
          >  
          >  
          > Dear T-neters,
          >  
          > Akhir2 ini,  di  forum T-net banyak dibahas  secara  garis besar
          > tentang pinjaman / hutang Indonesia dari luar negeri,  yang  se-
          > akan  merupakan  momok  yang sangat menakutkan. Secara u-
          > mum,  terutama  bagi orang awam, hal  ini  bisa dimengerti dan
          > difahami.  Namun, secara ekonomis, terutama berdasarkan ka-
          > camata entrepreneur di bidang investasi, anggapan negatif ter-
          > hadap  pinjaman / hutang  tersebut,  terasa aneh, dan  tidak be-
          > nar,  bahwa hal tersebut merupakan momok yang perlu ditakuti.
          > Karena apa??
          >  
          > Ya,  segala  sesuatu  itu dapat dipandang secara dualistis. Se-
          > perti a.l. dengan sumber dayalisterik yg.dikenal sebagai strom;
          > bukankah  disatu  sisi  berpotensi mematikan bagi yang meme-
          > gangnya,  tapi  dilaini sisi bisa menyenangkan bagi yang meng-
          > inginkan lampunya menyala,  sehingga  mampu memberikan pe-
          > nerangan ketika gelap?!
          >  
          > Demikian pula,  dengan pinjaman / hutang.  Disatu  sisi bisa di-
          > gunakan  sebagai  alat  produktif  yang  mampu  untuk mengha-
          > silkan suatu benda kebutuhan hidup manusia,  tapi dilain sisi bi-
          > sa  digunakan  sebagai  alat  konsumtif  yg. mampu untuk mem-
          > belinya.
          >  
          > Tampaknya,  pinjaman / hutang  di  Indonesia  terutama diguna-
          > kan  sebagai  alat konsumtif, yang  habis sekali pakai.  Sedang-
          > kan di China,  misalnya,  terutama  dimanfaatkan  sebagai  alat
          > produktif, untuk menghasilkan benda, yg. memberikan nilai tam-
          > bah  dari memperdagankannya,  melalui sekaligus penggalian /
          > eksploitasi, pengolahan, dan produksi atas SDA (sumber daya
          > alam), serta pemberdayaan atas SDM (sumber dayamanusia)
          > nya, dengan memperoleh suatu keuntungan bisnis.
          >  
          > Disamping  sifat  penggunaan pinjaman / hutang  Negara terse-
          > but, tampaknya pula,  budaya hidup dan penghidupan  masing2
          > bangsa  juga berperan penting dalam menentukan apakah  pin-
          > jaman / hutang  Negara  itu  merupakan beban yang  harus dipi-
          > kul  rakyatnya,  ataukah  memberikan  nilai tambah yang  dapat
          > dinikmati rakyatnya. 
          >  
          > Berdasarkan jumlah rakyat Indonesia yang  kebanyakan  suku
          > Jawa,  dng. budaya “ngendiko dawu”- nya,  maka  pada umum-
          > nya  kiblat  mereka pada atasan yg. menjadi  panutannya.  Se-  
          > hingga  apa  pun sikap  &  perilaku panutannya,  demikian pula
          > sikap & perilaku  rakyat Indonesia.  Dan, atas dasar subjektivi-
          > tas inilah  maka  penjajah Belanda dengan begitu gampangnya
          > dapat mengusai bumi nusantara ini  selama 350 tahun.  Hal ini
          > berbeda dengan budaya, misalnya, bangsa China,  yang pada
          > umunya,  secara  tradisional, menganut  konsep “guanxi” yang
          > sangat terpengaruh oleh ajaran DaoismenyaLaozi tentang yin-
          > yang,  dan  oleh  ajaran  Confucianismenya  Kongfuzi  tentang
          > hierargi  kepatuhan / ketaatan  pada  atasan / yang  lebih  tua,  
          > secara lebih zakelijk dan objektif.
          >  
          > Dalam skala mikro,  sebagai  suatu unit organisasi perusahaan
          > swasta...
          > tentang  makna  positif  pinjaman / hutang  tersebut,  juga  dibe-
          > narkan  oleh  praktek  berdasarkan pengalaman empiris  DS se-
          > lama  memimpin  dua  bank  berbeda.  Masing2 selama 8 tahun
          > (1963-1970)  dan  39 tahun (1973-2002).  Dalam  masa2  tsb.,
          > ternyata pinjaman / hutang  yang  diberikannya,  telah  berhasil
          > memperkembangkan lebih banyak usahawan,  dari Banyuwangi
          > sampai dengan Madiun,  yang  sukses dalam membangun kera-
          > jaan bisnisnya.
          >  
          > Dan,  dalam  skala makro,  sebagai  suatu  organisasi Negara,
          > yang berbentuk NKRI...
          > dengan demikian maka tidaklah benar bahwa suatu pinjaman /
          > hutang, yang diberikan pd.suatu Negara sebesar Indonesia itu
          > merupakan momok yang perlu ditakuti,  atau hanya dikonotasi-
          > kan sebagai hal yang negatif, sepanjang benar2 merdeka dan
          > berdaulat  serta mampu menunjukkan suatu kekuatan sebagai
          > suatu bangsa dan Negara yang bersatu !
          >  
          > Salam pinjaman,
          > DS
          >
          >
          >
          > [Non-text portions of this message have been removed]
          >






          [Non-text portions of this message have been removed]
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.