Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945

Expand Messages
  • semar samiaji
    Dear rekan-rekan,   Merujuk kepada pidato Bapak Presiden hari ini….mari bersama-sama kita masuki perjalanan ruang dan waktu di depan ini dengan langkah yang
    Message 1 of 9 , Jun 1, 2010
    • 0 Attachment
      Dear rekan-rekan,
       
      Merujuk kepada pidato Bapak Presiden hari ini….mari bersama-sama kita masuki perjalanan ruang dan waktu di depan ini dengan langkah yang LEBIH konsisten dan daya tahan yang lebih lentur dengan nuansa nilai-nilai kesejatian kemanusiaan sesuai dengan daya jangkau “tangan dan kaki” yang bisa dilakoni bagi setiap diri, menembus lubang jarum peradaban…
       
      Tatanan dunia sudah memasuki “masa tua” setelah melalui proses yang berupaya memanjangkan nafasnya…TIDAK akan ada kemampuan untuk menghindari ajal, termasuk nafas budaya…saat ajal dihadirkan, di saat itulah TEGAK-nya ISI Pancasila bagi bangsa ini dan bagi manusia-manusia yang setia dan patuh serta taat kepada AMANAH LELUHUR agar tetap berporos kehidupan dalam kesejatian manusia sing sejati ning manusa serta sing sejati ning Pancasila…
       
      Bangsa ini diikat dan disatukan dalam Kuasa dan Ijin YMK melalui AWAL di mana jiwa bangsa ini sebagai poros kehidupan, BUKAN dengan jiwa-jiwa yang bertentangan dan mengacak-acak HUKUM dan ILMU Tuhan yang terkristalisasi di dalam ISI Pancasila…
       
      Bongkarlah Harta Kuno bangsa ini….ieu teh sejati ning Pancasila…
       
      GUSTI PANGERAN NU MAHA AGUNG, GUSTI PRABU NU WELAS ASIH…
       
      NGADEG TEH SEJATI NING HIRUP, IEU TEH WIWITAN SEJATI NING JIWA PANCASILA…
       
      MERDEKA!!
       
      salam Pancasila,
      ss
       
      -------
       
      Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945
       
      Antara - 1 jam 30 menit lalu
       
      Jakarta (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat di Gedung Pustakaloka Kompleks MPR RI Jakarta, Selasa, menyampaikan pidato memperingati Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945.
      Berikut ini [idato lengkap Presiden Yudhoyono:
       
      Assalamu `alaikum Wr. WB.
       
      Yang sama-sama kami cintai dan muliakan, Ibu Megawati Soekarnoputri Presiden RI kelima. Yang saya hormati Bapak Tri Sutrisno, Bapak Hamzah Has, Bapak Muhammad Jusuf Kalla Wakil Presiden yang mengemban tugas pada masa bhakti beliau masing-masing. Saudara Wakil Presiden RI.
       
      Saudara Ketua MPR RI dan para pimpinan lembaga-lembaga negara. Serta segenap anggota MPR RI. Para menteri kabinet Indonesia Bersatu. Para pimpinan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan. Yang sama-sama kita muliakan para sesepuh dan tokoh nasional. Hadirin sekalian yang saya hormati.
       
      Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Ketua MPR RI Taufiq Kiemas yang memiliki memprakarsai untuk bersama-sama memperingati pidato bersejarah Bung Karno yang disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945.
       
      Bicara tentang Pancasila tentu kita bicara tentang pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, oleh karena itu mari kita jadikan peringatan ini untuk memahami pemikiran-pemikiran besar Bung Karno untuk mengetahui jejak dan proses sejarah dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara.
       
      Dan kemudian tidak kalah pentingnya, bagaimana kita mengaktualisasikan dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan bangsa dan negara di masa kini dan masa depan.
       
      Saya ingin merespons terlebih dahulu apa yang disampaikan pimpinan MPR, Pak Taufiq Kiemas, tadi.
       
      Saya setuju dan menggarisbawahi bahwa rangkaian hubungan sejarah mulai 1 Juni 1945 hingga teks final Pancasila yang di-"undang-undang dasar"-kan menjadi konstitusi pada 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan dalam proses kelahiran falsafah Pancasila.
       
      Saya juga setuju terhadap yang disampaikan pimpinan MPR tadi bahwa Pancasila dan UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika adalah empat pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini penting saya garisbawahi empat-empatnya harus menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara sepanjang masa.
       
      Empat tahun lalu pada tanggal 1 Juni 2006 kita juga memperingati sesungguhnya pidato Bung Karno 1 Juni 1945, sebagian besar yang ada di ruangan ini juga turut hadir dalam acara penting itu. Kita mengangkat pemikiran-pemikiran besar Bung Karno dengan tujuan untuk mendapatkan aktualisasi dalam merespon perkembangan jaman.
       
      Pada saat ini juga pidato saya akan mengedepankan sejumlah pemikiran besar Bung Karno yang saya anggap relevan untuk menghadapi keadaan baik yang dihadapi oleh bangsa kita dan dihadapi oleh dunia.
       
      Secara khusus waktu itu saya mengangkat pemikiran Bung Karno misalnya hubungan antara nasionalisme dan internasionalisme atau kemanusiaan, hubungan demokrasi dan kesejahteraan dan keadilan sosial, termasuk bagaimana bangsa kita dalam mengedepankan kehidupan beragama sepatutnya dijalankan dan sejumlah pikiran besar beliau lainnya yang saya sampaikan pada 2006 lalu.
       
      Di sisi lain pada saat itu kalau kita ingin mengaitkan Pancasila dengan transformasi dan reformasi sedang kita jalankan ini maka marilah kita mengaitkan reformasi sejatinya adalah "continuity" dan "change".
       
      Hal-hal yang masih relevan apalagi berharga dari pendahulu utamanya disampaikan oleh pimpinan MPR tadi harus sudah dipastikan tetap ada.
       
      Hal-hal baru bisa untuk membuat kehidupan bernegara menjadi lebih baik tanpa menggoyahkan dan meninggalkan apa yang saya sebut nilai-nilai dasar, konsensus dasar, dan di sini tentu salah satu pilar.
       
      Pentingnya nilai dasar telah kita sepakati sejak Indonesia merdeka, tidak sepatutnya kita perdebatkan kembali Pancasila sebagai dasar negara ini. Ini penting karena Ketetapan MPR pada 1998 melalui TAP MPR No 18 Tahun 1998 maka Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar negara. Saya kira mari patrikan dan hentikan perdebatan tentang Pancasila sebagai sadar negara karena itu kontraproduktif dan juga ahistoris.
       
      Saya tidak akan mengulangi apa yang telah kita bahas pada peringatan 1 Juni 2006 karena saya memandang tetap relevan dengan perkembangan dan tantangan yang kita hadapi dewasa ini.
       
      Dalam pidato ini ingin saya sampaikan, ingin mengangkat dua substansi utama.
       
      Pertama, saya ingin mengangkat kembali sejumlah pikiran penting Bung Karno yang disampaikan pada 1 Juni 1945 termasuk apa relevansinya terhadap perkembangan jaman sekarang ini dan lantas aktualisasinya seperti apa agar lebih ke depan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin kuat dan kokoh.
       
      Ketika saya menyampaikan butir-butir pemikiran cemerlang Bung Karno ini saya ingin meletakkan diri sebagai salah satu anak bangsa, seseorang yang sejak muda telah melihat pemikiran cemerlang Bung Karno.
       
      Saya kira generasi seumur kita ini waktu mengikuti pendidikan SMP dan SMA mulai membaca pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Sedangkan substansi kedua berangkat dari apa itu dan bagaimana apa yang mesti kita lakukan untuk memastikan kehidupan bangsa dan negara mengarah pada arah yang benar sesuai dengan empat pilar kehidupan berbangsa sesuai dengan jati diri dalam menghadapi tantangan globalisasi.
       
      Tentu saja meski kita punya empat pilar, sangat penting bangsa kita harus tetap adaptif, tetap punya visi menjangkau ke depan agar pada abad ke-21 Indonesia benar menjadi negara bermartabat dan sejahtera.
       
      Izinkan saya untuk mengulangi bagian pertama daro peringatan ini yang ingin mengedepankan tujuh pemikiran penting Bung Karno.
       
      Yang pertama, sebelum menyampaikan kandungan dari pidato bersejarah, Bung Karno mengingatkan sidang BPUPKI waktu itu bahwa yang hendak dicari, ditemukan, dan disepakati adalah dasar Indonesia merdeka. Saya membaca berulang-ulang mengapa Bung Karno dalam mukadimah mengungkapkan seperti itu.
       
      Nampaknya penyebabnya tiga hari itu sudah terkesan melebar, berlarut-larut, dan mungkin lepas dari konteks, oleh karena itu Bung Karno justru ingin mengajak sidang waktu itu untuk fokus bahwa apa yang dirumuskan bersama adalah dasar atau falsafah Indoensa merdeka, bahkan diberikan contoh Hitler Jerman mengambil nasionalisme sebagai dasar, Lenin mengambil marxisme materialisme dialektika historis.
       
      Bung Karno membandingkan negara-negara lain yang memilih dasar kehidupan bernegara itu menurut telaah saya untuk memudahkan sidang untuk memahami apa yang sedang dicari untuk menjadi benar-benar dasar dan falsafah Indonesia merdeka.
       
      Bahkan sekarang pun kejelasan seperti itu masih sangat penting karena di antara rakyat kita masih bertanya apa atau dalam makna dan pengertian seperti apa Pancasila jadi dasar negara kita, menjadi asas negara kita, dan saya ingatkan dasar negara itu bukanlah visi, "grand strategy", bukan juga haluan, meski sebuah negara memerlukan visi, "grand strategy", dan haluan, tetapi di atas segalanya adalah fondasi atau dasar ini.
       
      Kekuatan pidato 1 Juni 1945 justru dimulai dari apa yang hendak dirumuskan yang menjadi dasar Indonesia merdeka.
       
      Kedua, mari kita melanjutkan untuk memahami pemikiran esensial Bung Karno yang kemudian dalam prosesnya menjadi jiwa dan nafas Pancasila sebagaimana yang akhirnya dirumuskan dalam teks 18 Agustus 1945.
       
      Dasar negara yang ditawarkan Bung Karno dalam pidato ini ada lima, pertama kebangsaan atau nasionalisme, kedua kemanusiaan atau internasionalisme, ketiga musyawarah mufakat atau demokrasi, keempat kesejahteraan sosial, dan paling penting adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
       
      Lima butir itulah yang mengedepan secara eksplisit pada pidato 1 Juni 1945. Kalau kita renungkan sangat gamblang sekali Bung Karno bicara nasionalisme atau kebangsaan dan internasionalisme atau kemanusiaan, bicara mufakat atau demokrasi yang menjadi favorit masyarakat global sekarang ini, bicara kesejahteraan sosial yang menjadi "never ending goal" dari setiap pembangunan dan di atas segalanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
       
      Setelah melalui proses perdebatan seru dan menyejarah kita paham betul dinamika perdebatan para "founding fathers" antara Bung Karno, Bung Hatta, M Yamin, Soepomo, banyak sekali tokoh-tokoh urun rembuk untuk mencari seperti apa dasar negara itu yang akhirnya "consensus building" telah tercapai dan pancasila yang disampaikan pada1 juni yang jadinya dipilih jadi dasar negara.
       
      Oleh Karena itu masih dalam konteks pidato 1 juni apa hubungan pancasila dengan Bung Karno menurut beliau sendiri bahkan ketika sudah menjadi presiden kita ikuti pidato-pidatonya beliau mengatakan saya menggali pancasila dari buminya Indonesia.
       
      Jadi, beliau adalah penggali pancasila dan Bung Karno saya kutip dari kata-kata beliau telah memikirkan dasar dan falsafah ideologi Indonesia merdeka itu selama 27 tahun sejak tahun 1918 usia 17 tahun sampai 1945 ketika pidato 1 Juni disampaikan.
      Soekarno muda sudah memikirkan tentang dasar bangsa Indonesia merdeka. Bung Karno lah yang pertama menggunakan istilah Pancasila pada pidato 1 Juni 1945 dan kalau kita meletakkan sendiri dalam proses itu, sejak 1 Juni, 22 Juni, 18 Agustus 1945, Bung Karno memiliki peran sentral dalam merumuskan pancasila itu.
       
      Saya ingin mengedepankan sejarah itu, sejarah adalah sejarah, oleh karena itu harus kita pahami.
       
      Ketiga, marilah kita bicara sekarang pemikiran besar beliau tentang nasionalisme atau kebangsaan Indonesia, mana yang paling relevan untuk masa kini dan masa depan. Bung Karno mengatakan nasionalisme yang dimaksud bukan kebangsaan menyendiri. Kata-kata beliau mengenai persatuan dunia, persaudaraan dunia, sehingga tidak perlu dipertentangkan dengan kemanusiaan atau internasionalisme.
       
      Nasionalisme bergandengan erat dengan internasionalisme atau kemanusiaan. Aplikasinya marilah tidak menjadikan nasionalisme sebagai "narrow nasionalisme" dan jangan kita memusuhi bangsa-bangsa lain di dunia atau yang serba asing dalam globalisasi pun kita harus percaya diri.
       
      Tidak perlu harus gamang dan melihat sebagai ancaman sesungguhnya karena sejak lahirnya pancasila sudah disatukan antara nasionalisme dan internasionalisme.
       
      Keempat, yang hendak kita dirikan menurut Bung Karno sebuah negara kebangsaan, negara nasional. Beliau katakan mengikuti Ernest Renan, seorang Prancis, apa yang disebut bangsa apa syaratnya.
       
      Kedua-duanya disebutkan di situ, tidak cukup hanya ada manusia, wilayah, dan pemerintah, tetapi kehendak akan bersatu. Dalam alam dewasa ini di era desentralisasi dan otonomi daerah, sekarang ini kita melihat banyak positif dengan desentralisasi dan otonomi daerah sebagai koreksi pemerintahan sentralistik pada masa lalu.
       
      Kita lihat juga ada ekses, ada hal-hal yang harus kita cegah untuk tidak membesar, yang menjauh dari kehendak sebuah bangsa yang bersatu, yaitu kebangsaan nasionalisme Indonesia. Muncul primordialisme, agamasentris, kedaerahan, ataupun ikatan identitas serba sempit. Dalam konteks ini pemimpin dan tokoh seluruh Indonesia harus menjadi contoh, pelopor, jangan justru ikut-ikutan mengembangkan ikatan-ikatan sempit.
      Dalam Pilkada masih ada nuansa yang jauh dari semangat kebangsaan, berpihak, masih ada perkelahian antar suku dan agama di berbagai tempat Mari kembali ke semangat kebangsaan Indonesia, kehendak bersatu. Desentralisasi dan otonomi daerah diambil manfaatnya, tujuan utamanya, seraya mencegah ekses dan penyimpangan yang bisa terjadi.
       
      Kelima, Bung Karno menolak kosmopolitanisme, sebuah paham yang tidak mengakui adanya bangsa. Dalam era sekarang ini saya mengingatkan bahwa meski kita hidup dalam perkampungan dunia tapi kita harus punya rumah. Rumah itu adalah Indonesia, kebangsaan kita di tengah bangsa-bangsa di dunia.
      Kita menganut nilai-nilai universal, interaksi satu sama lain, toh kita tetap membutuhkan jati diri, siapa kita, Indonesia.
       
      Oleh karena itu, berkaitan dengan momentum penting ini saya ingin mengingatkan, mengajak, meski dunia sekarang ini ada ikatan solidaritas bersifat global, ikatan atau komunitas Islam, sedunia, ikatan atau komunitas kristen dan katolik sedunia.
      Tetaplah yang pertama-tama dan yang utama adalah ikatan kebangsaan kita dan kita harus menolak yang disebut "no state borderless world". Meski dunia seolah-olah sudah "borderless" tetapi ada bangsa, rumah, jati diri, jangan lebih setia pada ikatan di luar ikatan bangsa kita.
       
      Keenam, Bung Karno menyebut dalam pidato beliau dan juga dalam satu nafas kata-kata mufakat, permusyawaratan, dan perwakilan, dan yang ingin digarisbawahi di situ dalam demokrasi kita yang disebut "fair play".
       
      Kata-kata itu ada dalam pidato1 Juni 1945. Kalau ingin kepentingan kita digarisbwahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus berjuang secara demokratis. Aktualisasinya adalah mari kita terus jaga semangat konstitusi kita, mari terus jalankan sistem politik demokrasi, mari terus selenggarakan pemilu kredibel.
       
      Dibanding prinsip "one man one vote", ada kalanya "consensus building" sebagai musyawarah mufakat sebagai bagian dari demokrasi. Ada pandangan semua harus divoting, tidak harus begitu.
       
      Ada kalanya musyawarah itu menyediakan solusi asalkan ikhlas dan tidak ada paksaan atau tekanan. Ini adalah aktualisasi harus dipikirkan.
      Ketujuh, konsep negara gotong royong yang ditawarkan Bung Karno esensinya adalah semua buat semua, bekerja keras bersama saling membantu satu sama lain.
       
      Itu ada kata-kata seperti itu. Kalau kita aktualisasikan saya ingin mengangkat kembali pidato saya ketika memperingati seratus tahun kebangkitan nasional.
       
      Di abad ke21 ini Insya Allah Indonesia bisa menjadi negara maju dengan syarat kita bisa meningkatkan kemandirian, daya saing, dan peradaban ungguk, dan itu bisa dicapai kalau negara mengutamakan kebersamaan, persatuan, dan kerja keras. Maka tiada lain konsep gotong royong disampaikan Bung Karno adalah semua buat semua, bekerja keras bersama, saling bantu sama lain.
       
      Itulah tujuh pikiran penting Bung Karno yang ada dalam pidato 1 juni 1945 kalau itu kita bedah, telaah, kupas. Masih banyak lagi tentunya pikiran-pikiran lain yang masih ada forum lain untuk membahasnya.
       
      Sekarang bagaimana kita menggunakan Pancasila sebagai rujukan dalam menjawab tantangan bangsa di tengah dunia yang terus berubah.
      Saya ingin dalam kesempatan ini menyampaikan kerisauan kita karena ada sejumlah pandangan yang tentunya harus diubah, di antara kita ada yang gamang melihat perubahan besar baik di tingkat nasional atau global. Ada yang melihat globalisasi dari kacamata ancaman semata. Di sini ingin saya tambahkan bahwa Pancasila pun oleh kita sering diletakkan sebagai pedoman untuk menangkal ancaman itu, itu benar, tetapi tidak hanya itu.
       
      Sebagai suatu kekuatan dalam arti luas sesungguhnya Pancasila bisa kita jadikan sesuatu untuk menciptakan peluang untuk menjawab berbagai soal global, jadi sesuatu yang defensif kita ubah menjadi sesuatu lebih aktif dan proaktif.
       
      Untuk melengkapi penjelasan ini saya ingin mengajak saudara-saudara memahami perkembangan global yang terjadi 25 tahun terakhir ini dengan realitas-realitas penting geopolitik dan pergeseran ideologi besar oleh masyarakat dunia.
       
      Isu besar dan mendasar sekarangg ini adalah berkaitan dengan tatanan ekonomi dunia. Prosesnya kalau kita kilas balik sejak runtuhnya perang dingin adalah setelah perang dingin berakhir bangunan ekonomi yang bertumpu pd marxisme komunisme dianggap gagal menyejahterakan rakyat. Simak sekarang perubahan pilihan ekonomi di RRC, Rusia, Vietnam, dan Eropa timur.
       
      Tiongkok mengatakan ekonomi pasar sosial, tapi sudah mulai memasuki wilayah ekonomi pasar. Seolah dalam kaitan ini yang benar adalah ekonomi kapitalisme.
      Itu penggalan pertama setelah berakhirnya perang dingin, tiba-tiba dunia dicengangkan ketika pada 2008-2009 lalu dunia kembali diguncang oleh krisis ekonomi, resesi besar.
      Tadinya yang disalahkan hanya marxisme komunisme, kini dunia memandang bahwa kapitalisme apalagi yang fundamental dianggap tidak aman, adil, dan gagal mendatangkan kemakmuran bangsa karenanya hukum dan otoritas pasar digugat dan dilakukan koreksi besar-besaran.
       
      Indonesia juga mengambil bagian aktif dalam membangun "new economis order" ini baik dalam forum G20, APEC, dan lain-lain.
      Dengan cerita ini, apa yang terpikir? Apa kaitan dengan pancasila? Kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa "justice" yaitu menjadi elemen utama dari pancasila, keadilan sosial atau istilah Bung Karno kesejahteraan sosial dalam sistem kapitalisme sering diabaikan prinsip semua untuk semua atau prosperity for all.
       
      Dalam ekonomi dunia gagal diwujudkan kesetaraan antarta negara maju dan terbelakang.
      Antara negara-negara kaya dan miskin menganga jurang kesenjangan. Berarti kapitalisme gagal untuk menghadirkan kesejahteraan untuk semua dalam masyarakat global. Campur tangan pemerintah sekalipun untuk urusan "justice" dalam hukum ekonomi pasar juga sering ditabukan meski Indonesia tentu tidak memilih itu. Terjawablah bahwa Pancasila sesungguhnya relevan.
       
      Belajar dari pergeseran ideologi dunia, gagalnya kapitalisme dan komunisme, masih berkaitan dengan perkembangan dunia, sekarang ini saya ingin menambahkan satu lagi.
      Ini fenomena global yang fundamental, ada pergeseran, persesuaian, dan "adjustment" dari negara-negara di dunia dalam menganut ideologi-ideologi besar.
       
      Sekarang ini hampir tidak ada satupun negara di dunia yang secara ekstrem menggunakan satu ideologi ekonomi dunia. Dalam khasanah ideologi dunia, misalnya neoliberalieme, komunisme, sosialisme, sudah banyak varian dari itu semua, varian dari kapitalisme, sosialisme.
       
      Eropa ada yang menganut ekonomi kesejahteraan negara, dulunya kapitalis seperti ajaran Adam Smith dan lain-lain sudah bergeser mengadopsi nilai-nilai sosialisme. Negara dulu benar-benar marxisme telah memahami esensi pasar.
       
      Tapi dalam bingkai keadilan sosial oleh karena itu terhadap semua itu Indonesia sepatutnya tak perlu silau karena kembali kepada apa yang ada di pancasila, ada resep, prinsip dasar dan falsafah ekonomi kita. Kita memilih kesejahteraan berkeadilan sosial.
      Sebagai substansi, sebagai penutup, marilah kita terus menjadikan Pancasila sebagai "living ideology" dan "working ideology" yang adaptif, responsif.
       
      Pancasila tentu tidak patut kita perlakukan sebagai dogma kaku, apalagi dikeramatkan karena justru menghalang-halangi Pancasila untuk merespon tantangan jaman baik pada tingkat nasional maupun dunia. Dan itulah nilai terbesar dari Pancasila ketika kita aktualisasikan untuk menghadapi tantangan jaman masa kini dan masa mendatang.
       
      Wassalamualaikum Wr Wb.
       










      [Non-text portions of this message have been removed]
    • semar samiaji
      dear rekan-rekan,   di bawah ini merupakan reposting atas penyampaian berkaitan dengan pertobatan.. .semoga ini kembali membawa manfaat memasuki ruang dan
      Message 2 of 9 , Jun 1, 2010
      • 0 Attachment
        dear rekan-rekan,
         
        di bawah ini merupakan reposting atas penyampaian berkaitan dengan pertobatan.. .semoga ini kembali membawa manfaat memasuki ruang dan waktu di depan ini...
         
        salam,
        ss
         
        ----
         
        Pertobatan
         
        Semua bentuk transformasi diri dari perjalanan masa lalu yang dipastikan saat ini serta dilakoni dengan tulus dan tabah di kemudian hari, merupakan bentuk proses mengoptimalkan keyakinan terhadap itikad dan tujuan hidup dalam putaran kehidupan. Banyak manusia masih terjebak, seolah-olah pertobatan hanya sekedar menjadi baik, hanya sekedar agar terhindar dari siksa neraka atau berharap masuk ke dalam sorga di kemudian hari, hanya sekedar berlomba-lomba memberikan sumbangan, hanya sekedar berbuat baik, dan hanya sekedar melakoni ritual peribadahan.
         

        Pemilihan dua kata - "masih terjebak" – lebih untuk mengedepankan bahwa bentuk pertobatan lebih mengedepankan pembuktian ujud kemerdekaan dalam diri, di mana manusia itu bisa mengatur ritme kehidupannya dari "perangkap" dualitas (jika ada gerak hati, silahkan baca kembali postingan dengan subyek Langgengkah Kemiskinan Itu?). Proses ini tidak mudah dan sungguh-sungguh memerlukan satu ketulusan serta ketabahan menerima konsekuensi dalam melakoninya. Dan proses ini memiliki cakupan yang cukup lentur, baik dalam ruang atau pun kurun waktu untuk mewujudkannya. Bahkan, selalu bertransformasi dari satu episode tatanan kehidupan kepada tatanan kehidupan lainnya, melalui proses demikianlah, sejatinya manusia itu diproses menjadi "mortal".
         

        Begitu pun proses kehidupan yang ada saat ini, tidak terlepas dari selera "masal" atau "umum". Silahkan dikaji, terseretkah kita di dalamnya? Penentunya, amat sangat tergantung kepada KADAR pertobatan yang diyakini terekonsiliasi dengan tujuan akhir kehidupannya. Dan momen itu sebenarnya hadir di saat manusia menghembuskan nafas terakhirnya. Inilah sejatinya momen yang PALING menentukan bagi setiap manusia SETELAH melakoni satu episode kehidupannya. Jika tuju perjalanan hidup kepada momet tersebut masih ada keraguan menghadapinya, merupakan refleksi manusia itu masih ragu dengan kadar “kesejatian” itikad dan tujuan hidupnya. Di dalam konteks inilah manusia perlu SALING memberikan masukan dalam melakoni kehidupan di muka bumi ini. Dari kebutuhan inilah sejatinya hadir segala bentuk keyakinan kepada YMK dalam berbagai bentuk pelabelan melalui lorong kehidupan yang sangat panjang yang tentunya melalui proses-proses bertransformasi disesuaikan
        dengan kebutuhan selera umumnya.
         

        Bila nuansa di atas diterapkan ke dalam konteks perbuatan koruptif, sejatinya semua tindakan tetap masuk di dalam proses pembusukkan (makna proses tindakan koruptif). Bentuk-bentuk yang dibusukkan bermacam-macam, bisa uang negara yang dikemplang, bisa menzalimi kehidupan manusia lainnya, dan sebagainya. Sedangkan, pilihan keyakinan sebagai mana tertulis di atas merupakan upaya tetap berlaku dalam proses keabadian, walau nuansa yang dihadirkan bisa terang atau pun gelap. Hal inilah yang akan tetap memelihara anugerah YMK di saat manusia itu dihadirkan ke muka bumi ini. Melalui ini semakin jelas, tidak ada satu manusia pun akan mampu menggantikan posisi lakon hidup manusia lainnya. Yang bisa dilakukan adalah sejauh mana setiap diri mengoptimalkan lakon kehidupan yang melekat dalam dirinya, TANPA berdampak merugikan tatanan kehidupan manusia bersama-sama. Di dalam itulah, hati nurani berproses bersamaan dengan pola pikir serta fakta-fakta kehidupan yang
        dihadirkan.
         

        Akhirnya, esensi pertobatan bermuara kepada KEMBALI ke kadar kemurnian manusia secara terus menerus, manakala manusia sudah terjebak dalam proses tatanan yang dualitas dan menjadi pendukung salah satu sisinya. Melalui bentuk-bentuk tanggapan yang selalu diupayakan mengedepankan tulus dan tabah dalam ketepatan dan kebijakan, demikianlah sejatinya esensi pertobatan yang tidak akan merugikan putaran kehidupan manusia lainnya.
         
        salam,
        ss 











        [Non-text portions of this message have been removed]
      • JT
        Bung Semar Yth. Tampaknya ada perbedaan yang sangat prinspil antara pemahaman anda tentang Pancasila dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya,
        Message 3 of 9 , Jun 1, 2010
        • 0 Attachment
          Bung Semar Yth.

          Tampaknya ada perbedaan yang sangat prinspil antara pemahaman anda tentang Pancasila dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya pemahaman saya pribadi tentang Pancasila. Saya dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia melihat Pancasila sebagai falsafah negara kita, Indonesia, yang berarti sebagai salah satu paham politik, atau setidak tidaknya sebagai bagian dari ilmu politik.

          Sedangkan anda, menurut pandangan saya, yang saya lihat dari tulisan2 anda, mohon maaf sebelumnya, tampaknya melihat Pancasila sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, yang bersifat religious dan selalu dikaitkan dengan masalah Ketuhanan. Pada kesempatan lain, saya juga pernah mendengar ada yang disebut agama Pancasila. Apakah pemahaman anda ini ada kaitannya dengan yang disebut agama Pancasila tsb?

          Harap anda tidak salah sangka, tidak ada maksud buruk sedikitpun dalam pertanyaan saya tsb, selain hanya sekedar ingin tahu. Kalau sekiranya anda tidak berkenan menjawabnya, tidak perlu dijawab.
          Dan sekali lagi maaf atas kelancangan pertanyaan saya di atas.

          Salam
          JT


          -------------


          --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, semar samiaji <kind_evil_06@...> wrote:
          >
          > Dear rekan-rekan,
          >  
          > Merujuk kepada pidato Bapak Presiden hari ini….mari bersama-sama kita masuki perjalanan ruang dan waktu di depan ini dengan langkah yang LEBIH konsisten dan daya tahan yang lebih lentur dengan nuansa nilai-nilai kesejatian kemanusiaan sesuai dengan daya jangkau “tangan dan kaki” yang bisa dilakoni bagi setiap diri, menembus lubang jarum peradaban…
          >  
          > Tatanan dunia sudah memasuki “masa tua” setelah melalui proses yang berupaya memanjangkan nafasnya…TIDAK akan ada kemampuan untuk menghindari ajal, termasuk nafas budaya…saat ajal dihadirkan, di saat itulah TEGAK-nya ISI Pancasila bagi bangsa ini dan bagi manusia-manusia yang setia dan patuh serta taat kepada AMANAH LELUHUR agar tetap berporos kehidupan dalam kesejatian manusia sing sejati ning manusa serta sing sejati ning Pancasila…
          >  
          > Bangsa ini diikat dan disatukan dalam Kuasa dan Ijin YMK melalui AWAL di mana jiwa bangsa ini sebagai poros kehidupan, BUKAN dengan jiwa-jiwa yang bertentangan dan mengacak-acak HUKUM dan ILMU Tuhan yang terkristalisasi di dalam ISI Pancasila…
          >  
          > Bongkarlah Harta Kuno bangsa ini….ieu teh sejati ning Pancasila…
          >  
          > GUSTI PANGERAN NU MAHA AGUNG, GUSTI PRABU NU WELAS ASIH…
          >  
          > NGADEG TEH SEJATI NING HIRUP, IEU TEH WIWITAN SEJATI NING JIWA PANCASILA…
          >  
          > MERDEKA!!
          >  
          > salam Pancasila,
          > ss
          >  
        • semar samiaji
          Mang JT, dengan rasa bahagia, saya sambut permintaan kejelasan tentang hal ini...   Apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks khususnya berkaitan dengan kata
          Message 4 of 9 , Jun 1, 2010
          • 0 Attachment
            Mang JT, dengan rasa bahagia, saya sambut permintaan kejelasan tentang hal ini...
             
            Apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks khususnya berkaitan dengan kata "falsafah" dan juga dikaitkan dengan kata "politik". Lalu, dibandingkan dengan apa yang menjadi cara pandang atau keyakinan dan berkaitan dengan agama karena berdemensi spiritual.
             
            Mang JT, proses memaknai ISI Pancasila sebagaimana yang sering kali disampaikan, utamanya melalui tulisan-tulisan yang bisa saya bagi merupakan satu proses yang sudah puluhan tahun saya lakoni dan buktikan. Banyak konteks yang sejatinya tidak secara langsung berkaitan dengan pemahaman awal Pancasila itu sendiri. Tidak ada dalam diri ini pemujaan berlebihan kepada Pancasila, apalagi menjadi agama dalam pengertian pada umumnya. Bagi saya, Pancasila merupakan kristalisasi hukum dan ilmu Tuhan. Apakah ada yang bersedia berbagi dengan saya apa makna Tuhan bagi setiap diri? Saya tidak pernah membahas tentang ini, kecuali diminta atau forumnya memang berdiskusi tentang hal tersebut.
             
            Jika Mang JT tergerak hati, silahkan baca penyampaian saya bahwa semua manusia yang bertuhan ujud yang diminta adalah mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab, kembali apakah mereka yang beragama tidak ke sini arahnya?
             
            Justru, menjadi aneh kalau apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks yang ada di dalam diri saya, ini pun jika semua dari kita mengaku bertuhan, baik melalui agama atau pun tidak. Bangsa ini sudah terlalu masuk ke dalam ranah agama, seolah-olah sesuatu yang religius semata. Padahal, makna kata "religious" sendiri tidak mencakup hanya tentang agama, silahkan buka webster. Saat manusia itu mau meyakini kehadiran Tuhan dalam nama apa pun dalam dirinya, di saat itulah tidak akan bisa dipisahkan aspek relijius atau spiritual. MOHON UNTUK TIDAK MENGKAITKAN URUSAN SPIRITUAL DENGAN PERDUKUNAN, karena tontonan dalam televisi SUDAH banyak yang merusak image keyakinan bangsa ini, utamanya para leluhur bangsa ini. Berpakaian adat, lalu digambarkan sesat dan tidak bertuhan. Padahal, tontonan yang demikian SANGAT menghina pakaian adat yang dikenakan, menjadi ladang uang bagi manusia lainnya.
             
            Sekali lagi, saya TIDAK memasukkan tatanan agama dalam diri, apalagi menjadikan Pancasila sebagai agama dalam nama apa pun. Kekuasaan dan ijin YMK TIDAK dibatasi oleh agama, apalagi pengertian beragam manusia. Namun, yang PASTI tidak ada satu agama apa pun atau keyakinan kepada YMK diminta untuk berbuat zalim kepada manusia lainnya. Apakah ini bukan maknanya ISI Pancasila?
             
            Sebagai akhir kata, silahkan saja menterjemahkan atau menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan dikaitkan dengan politik. Toh, muaranya sejauh mana itu semua UJUD dalam penataan kemanusiaan yang adil dan beradab. Agar Pancasila tidak sekedar menjadi jargon atau tulisan tanpa makna karena manusianya belum mampu mewujudkan nilai-nilai ketuhanan yang diujudkan dalam peri laku sebagai manusia yang adil dan beradab. Selebihnya, silahkan lakukan yang demikian sesuai dengan lakon hidup yang dihadirkan oleh YMK kepada setiap diri.
             
            Hapunten jika ada kata yang kurang berkenan dari saya...dan hatur nuhun atas kesediaan Mang JT menyampaikannya...sungguh-sungguh sangat saya hargai...
             
            salam Pancasila,
            ss

            --- On Tue, 6/1/10, JT <jt2x00@...> wrote:


            From: JT <jt2x00@...>
            Subject: [t-net] Re: Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945
            To: tionghoa-net@yahoogroups.com
            Date: Tuesday, June 1, 2010, 6:09 PM


             



            Bung Semar Yth.

            Tampaknya ada perbedaan yang sangat prinspil antara pemahaman anda tentang Pancasila dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya pemahaman saya pribadi tentang Pancasila. Saya dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia melihat Pancasila sebagai falsafah negara kita, Indonesia, yang berarti sebagai salah satu paham politik, atau setidak tidaknya sebagai bagian dari ilmu politik.

            Sedangkan anda, menurut pandangan saya, yang saya lihat dari tulisan2 anda, mohon maaf sebelumnya, tampaknya melihat Pancasila sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, yang bersifat religious dan selalu dikaitkan dengan masalah Ketuhanan. Pada kesempatan lain, saya juga pernah mendengar ada yang disebut agama Pancasila. Apakah pemahaman anda ini ada kaitannya dengan yang disebut agama Pancasila tsb?

            Harap anda tidak salah sangka, tidak ada maksud buruk sedikitpun dalam pertanyaan saya tsb, selain hanya sekedar ingin tahu. Kalau sekiranya anda tidak berkenan menjawabnya, tidak perlu dijawab.
            Dan sekali lagi maaf atas kelancangan pertanyaan saya di atas.

            Salam
            JT

            -------------

            --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, semar samiaji <kind_evil_06@...> wrote:
            >
            > Dear rekan-rekan,
            >  
            > Merujuk kepada pidato Bapak Presiden hari ini….mari bersama-sama kita masuki perjalanan ruang dan waktu di depan ini dengan langkah yang LEBIH konsisten dan daya tahan yang lebih lentur dengan nuansa nilai-nilai kesejatian kemanusiaan sesuai dengan daya jangkau “tangan dan kaki” yang bisa dilakoni bagi setiap diri, menembus lubang jarum peradaban…
            >  
            > Tatanan dunia sudah memasuki “masa tua” setelah melalui proses yang berupaya memanjangkan nafasnya…TIDAK akan ada kemampuan untuk menghindari ajal, termasuk nafas budaya…saat ajal dihadirkan, di saat itulah TEGAK-nya ISI Pancasila bagi bangsa ini dan bagi manusia-manusia yang setia dan patuh serta taat kepada AMANAH LELUHUR agar tetap berporos kehidupan dalam kesejatian manusia sing sejati ning manusa serta sing sejati ning Pancasila…
            >  
            > Bangsa ini diikat dan disatukan dalam Kuasa dan Ijin YMK melalui AWAL di mana jiwa bangsa ini sebagai poros kehidupan, BUKAN dengan jiwa-jiwa yang bertentangan dan mengacak-acak HUKUM dan ILMU Tuhan yang terkristalisasi di dalam ISI Pancasila…
            >  
            > Bongkarlah Harta Kuno bangsa ini….ieu teh sejati ning Pancasila…
            >  
            > GUSTI PANGERAN NU MAHA AGUNG, GUSTI PRABU NU WELAS ASIH…
            >  
            > NGADEG TEH SEJATI NING HIRUP, IEU TEH WIWITAN SEJATI NING JIWA PANCASILA…
            >  
            > MERDEKA!!
            >  
            > salam Pancasila,
            > ss
            >  











            [Non-text portions of this message have been removed]
          • den suta
            Dear kangmas SS & mang JT,   Kayaknya, dalam hal ini, secara tidak sadar, kita telah terbelenggu oleh cara pikir dan cara pandang kita ma- sing2.
            Message 5 of 9 , Jun 1, 2010
            • 0 Attachment
              Dear kangmas SS & mang JT,
               
              Kayaknya, dalam hal ini, secara tidak sadar, kita telah
              terbelenggu oleh cara pikir dan cara pandang kita ma-
              sing2. Entah apakah yang kita gunakan lebih dominan
              ke sistem  berpikir  dan berpandangan ala Barat yang
              parsialistik, ataukah ke ala Timur yang holistik.  Hal ini
              tentu saja hanya Anda masing2 yang tahu persis akan
              kebenarannya...yang relatif. 
              Namun,  sampai sejauh ini,  DS  berpendapat  bahwa
              baik kangmas SS maupun mang JT, masing2 mempu-
              nyai nilai plus dan minusnya sendiri2. Tegasnya, d.h.i.
              apa  yang  tercetus dalam pikiran & pandangan mang
              JT mengandung kebenaran,  sebaliknya yg. kangmas
              pikirkan & pandang tak menunjukkan suatu kesalahan.
               
              Memang...
               
              baik yang ala Barat, yang sistemnya seakan mengajar
              kita  untuk  melihat  dan  menilai segala sesuatu kayak
              orang  buta  mendefinisikan apa  hakikat  suatu  gajah. 
              Seperti halnya,  adanya spesialisasi dalam ilmu kedok-
              teran yang mem-beda2kan  dan  me-misah2kan organ
              tubuh manusia, dengan tujuan  tertentu  terutama demi
              suatu  kepastian  dan kecepatan pengobatan. Padahal  
              tubuh manusia itu pd. hakikatnya adalah satu kesatuan
              yang bulat / utuh;
               
              maupun yang ala Timur, yang sistemnya mengajarkan
              bahwa  segala  sesuatu  itu harus dilihat secara alami,
              yang kait mengait dan saling berhubungan yg. memun-
              culkan proses sebab-akibat. Proses alami ini memang
              memakan waktu, dan perlu kesabaran. Ibaratnya, ter-
              bit dan tenggelamnya matahari,  sampai terbit kembali
              saja, memerlukan waktu 24 jam;
               
              Hal itulah,  yg. mungkin telah memicu pemikiran & pan-
              dangan ala Barat, yakni kalau memang bsa dipercepat
              ngapain mesti mau yang lambat?!?
               
              Atas dasar keunggulan dan kelemahan pendekatan ala
              Barat vs ala Timur itulah maka kini mulai timbul kesada-
              ran akan perlunya suatu sinergi, suatu kerjasama,  dng.
              menggabungkan kedua pendekatan tersebut.  Dan,  ini-
              lah yg. DS kemukakan sebagai pencapaian  suatu  kon-
              disi yang seimbang & harmonis demi kemanfaatan bagi
              kesejahteraan hidup manusia, tanpa kecuali.  Inilah  yg.
              dalam ajaran filsuf agung Tiongkok kuno yang bernama
              Laozi disebut "Daoisme / Taoisme", yang intinya adalah
              prinsip "Yin-Yang", yakni perubahan yg. terus-menerus
              namun selalu dalam keseimbangan yang harmonis...
               
              Dengan uraian, yg. mungkin agak membosankan ini, ki-
              ranya kita  perlu  memahami  perbedaan antara bidang
              agama & bidang ilmu, tanpa perlu  terlalu  dipolemikkan,
              apalagi dipertentangkan, karena toh hanya suatu  pemi-
              kiran dan pandangan manusiawi, yg. tidak mungkin me-
              nelurkan suatu kebenaran yang bersifat absolut, melain-
              kan relatif belaka!!
               
              Salam alami,
              DS




              ________________________________
              From: semar samiaji <kind_evil_06@...>
              To: tionghoa-net@yahoogroups.com
              Sent: Tue, June 1, 2010 9:04:23 PM
              Subject: Re: [t-net] Re: Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945

               
              Mang JT, dengan rasa bahagia, saya sambut permintaan kejelasan tentang hal ini...
               
              Apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks khususnya berkaitan dengan kata "falsafah" dan juga dikaitkan dengan kata "politik". Lalu, dibandingkan dengan apa yang menjadi cara pandang atau keyakinan dan berkaitan dengan agama karena berdemensi spiritual.
               
              Mang JT, proses memaknai ISI Pancasila sebagaimana yang sering kali disampaikan, utamanya melalui tulisan-tulisan yang bisa saya bagi merupakan satu proses yang sudah puluhan tahun saya lakoni dan buktikan. Banyak konteks yang sejatinya tidak secara langsung berkaitan dengan pemahaman awal Pancasila itu sendiri. Tidak ada dalam diri ini pemujaan berlebihan kepada Pancasila, apalagi menjadi agama dalam pengertian pada umumnya. Bagi saya, Pancasila merupakan kristalisasi hukum dan ilmu Tuhan. Apakah ada yang bersedia berbagi dengan saya apa makna Tuhan bagi setiap diri? Saya tidak pernah membahas tentang ini, kecuali diminta atau forumnya memang berdiskusi tentang hal tersebut.
               
              Jika Mang JT tergerak hati, silahkan baca penyampaian saya bahwa semua manusia yang bertuhan ujud yang diminta adalah mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab, kembali apakah mereka yang beragama tidak ke sini arahnya?
               
              Justru, menjadi aneh kalau apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks yang ada di dalam diri saya, ini pun jika semua dari kita mengaku bertuhan, baik melalui agama atau pun tidak. Bangsa ini sudah terlalu masuk ke dalam ranah agama, seolah-olah sesuatu yang religius semata. Padahal, makna kata "religious" sendiri tidak mencakup hanya tentang agama, silahkan buka webster. Saat manusia itu mau meyakini kehadiran Tuhan dalam nama apa pun dalam dirinya, di saat itulah tidak akan bisa dipisahkan aspek relijius atau spiritual. MOHON UNTUK TIDAK MENGKAITKAN URUSAN SPIRITUAL DENGAN PERDUKUNAN, karena tontonan dalam televisi SUDAH banyak yang merusak image keyakinan bangsa ini, utamanya para leluhur bangsa ini. Berpakaian adat, lalu digambarkan sesat dan tidak bertuhan. Padahal, tontonan yang demikian SANGAT menghina pakaian adat yang dikenakan, menjadi ladang uang bagi manusia lainnya.
               
              Sekali lagi, saya TIDAK memasukkan tatanan agama dalam diri, apalagi menjadikan Pancasila sebagai agama dalam nama apa pun. Kekuasaan dan ijin YMK TIDAK dibatasi oleh agama, apalagi pengertian beragam manusia. Namun, yang PASTI tidak ada satu agama apa pun atau keyakinan kepada YMK diminta untuk berbuat zalim kepada manusia lainnya. Apakah ini bukan maknanya ISI Pancasila?
               
              Sebagai akhir kata, silahkan saja menterjemahkan atau menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan dikaitkan dengan politik. Toh, muaranya sejauh mana itu semua UJUD dalam penataan kemanusiaan yang adil dan beradab. Agar Pancasila tidak sekedar menjadi jargon atau tulisan tanpa makna karena manusianya belum mampu mewujudkan nilai-nilai ketuhanan yang diujudkan dalam peri laku sebagai manusia yang adil dan beradab. Selebihnya, silahkan lakukan yang demikian sesuai dengan lakon hidup yang dihadirkan oleh YMK kepada setiap diri.
               
              Hapunten jika ada kata yang kurang berkenan dari saya...dan hatur nuhun atas kesediaan Mang JT menyampaikannya...sungguh-sungguh sangat saya hargai...
               
              salam Pancasila,
              ss

              --- On Tue, 6/1/10, JT <jt2x00@...> wrote:

              From: JT <jt2x00@...>
              Subject: [t-net] Re: Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945
              To: tionghoa-net@yahoogroups.com
              Date: Tuesday, June 1, 2010, 6:09 PM

               

              Bung Semar Yth.

              Tampaknya ada perbedaan yang sangat prinspil antara pemahaman anda tentang Pancasila dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya pemahaman saya pribadi tentang Pancasila. Saya dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia melihat Pancasila sebagai falsafah negara kita, Indonesia, yang berarti sebagai salah satu paham politik, atau setidak tidaknya sebagai bagian dari ilmu politik.

              Sedangkan anda, menurut pandangan saya, yang saya lihat dari tulisan2 anda, mohon maaf sebelumnya, tampaknya melihat Pancasila sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, yang bersifat religious dan selalu dikaitkan dengan masalah Ketuhanan. Pada kesempatan lain, saya juga pernah mendengar ada yang disebut agama Pancasila. Apakah pemahaman anda ini ada kaitannya dengan yang disebut agama Pancasila tsb?

              Harap anda tidak salah sangka, tidak ada maksud buruk sedikitpun dalam pertanyaan saya tsb, selain hanya sekedar ingin tahu. Kalau sekiranya anda tidak berkenan menjawabnya, tidak perlu dijawab.
              Dan sekali lagi maaf atas kelancangan pertanyaan saya di atas.

              Salam
              JT

              -------------

              --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, semar samiaji <kind_evil_06@...> wrote:
              >
              > Dear rekan-rekan,
              >  
              > Merujuk kepada pidato Bapak Presiden hari ini….mari bersama-sama kita masuki perjalanan ruang dan waktu di depan ini dengan langkah yang LEBIH konsisten dan daya tahan yang lebih lentur dengan nuansa nilai-nilai kesejatian kemanusiaan sesuai dengan daya jangkau “tangan dan kaki” yang bisa dilakoni bagi setiap diri, menembus lubang jarum peradaban…
              >  
              > Tatanan dunia sudah memasuki “masa tua” setelah melalui proses yang berupaya memanjangkan nafasnya…TIDAK akan ada kemampuan untuk menghindari ajal, termasuk nafas budaya…saat ajal dihadirkan, di saat itulah TEGAK-nya ISI Pancasila bagi bangsa ini dan bagi manusia-manusia yang setia dan patuh serta taat kepada AMANAH LELUHUR agar tetap berporos kehidupan dalam kesejatian manusia sing sejati ning manusa serta sing sejati ning Pancasila…
              >  
              > Bangsa ini diikat dan disatukan dalam Kuasa dan Ijin YMK melalui AWAL di mana jiwa bangsa ini sebagai poros kehidupan, BUKAN dengan jiwa-jiwa yang bertentangan dan mengacak-acak HUKUM dan ILMU Tuhan yang terkristalisasi di dalam ISI Pancasila…
              >  
              > Bongkarlah Harta Kuno bangsa ini….ieu teh sejati ning Pancasila…
              >  
              > GUSTI PANGERAN NU MAHA AGUNG, GUSTI PRABU NU WELAS ASIH…
              >  
              > NGADEG TEH SEJATI NING HIRUP, IEU TEH WIWITAN SEJATI NING JIWA PANCASILA…
              >  
              > MERDEKA!!
              >  
              > salam Pancasila,
              > ss
              >  

              [Non-text portions of this message have been removed]







              [Non-text portions of this message have been removed]
            • semar samiaji
              selamat pagi Kang Mas...saya sisakan kalimat akhir yang Kang Mas postingkan...perjalanan selama ini banyak menunjukkan kata atau kalimat seperti ... belum
              Message 6 of 9 , Jun 1, 2010
              • 0 Attachment
                selamat pagi Kang Mas...saya sisakan kalimat akhir yang Kang Mas postingkan...perjalanan selama ini banyak menunjukkan kata atau kalimat seperti ..."belum waktunya"..."kebenaran itu relatif"...."perlu pemisahan antara agama / keyakinan dengan ilmu"...sering saya membatin, kenapa manusia koq senangnya memilah...
                 
                salah satu metode dalam satu karya ilmiah melakukan metode membanding atau pun menjadikan spesialisasi dan spesifikasi...yang SERING terlupakan adalah di saat metode itu diterapkan "se-olah2" itu semua adalah terpisah...Jika Kang Mas sampaikan "kebenaran itu relatif" ...kembalikan ke pada kehidupan nyata..."kenapa manusia begitu ngototnya dengan kebenaran yang relatif itu, hingga sampai saling menghabisi?"...
                 
                yang bagi saya ...jawabnya adalah manusia sering mengambil tanggapan HANYA dari metode, BELUM berlandaskan kepada keselaran akal sehat dan hati nuraninya agar SEMUA demensi dan metode yang digunakan menghasilkan keutuhan yang seutuh-utuhnya...
                 
                saya ambil contoh dengan kata yang Kang Mas gunakan...kata Kang Mas, agama dan ilmu merupakan satu polemik...lah???..jadi wajar dong kalau manusia itu ribut karena urusan agama?...bukannya, kita semakin bertanya, kenapa proses / metode melakukan pembedaan dalam upaya memahami bisa menjadi polemik?...kalau dari setiap diri bersedia merujuk apa itu makna kata obyektif, maka, di saat berdiskusi mari kita kesampingkan dulu apa yang menjadi pemahaman diri, lalu kita letakkan sesuai porsinya, lalu ungkapkan TANPA berpihak, termasuk ke dalam keyakinan setiap manusia itu sendiri...baru, akan hadir obyektivitas yang optimal...selebihnya, silahkan kembalikan ke setiap diri, bisa menerima atau tidak....melalui proses demikian, maka:
                 
                "wajar sekali, apa yang disebut dengan benar atau salah UJUD dalam diri sendiri, wajar sekali, apa yang disebut dengan hakim adalah bagi diri sendiri. Berubah menjadi tidak wajar, di saat itu sudah ada terbentuk di dalam diri, lalu di-gembar-gemborkan, ternyata ujudnya "saling" menghabisi"...
                 
                salam,
                ss
                 

                --- On Wed, 6/2/10, den suta <sutawiyana@...> wrote:


                From: den suta <sutawiyana@...>
                Subject: Re: [t-net] Re: Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945
                To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                Date: Wednesday, June 2, 2010, 9:42 AM


                 



                Dear kangmas SS & mang JT,
                 
                Dengan uraian, yg. mungkin agak membosankan ini, ki-
                ranya kita  perlu  memahami  perbedaan antara bidang
                agama & bidang ilmu, tanpa perlu  terlalu  dipolemikkan,
                apalagi dipertentangkan, karena toh hanya suatu  pemi-
                kiran dan pandangan manusiawi, yg. tidak mungkin me-
                nelurkan suatu kebenaran yang bersifat absolut, melain-
                kan relatif belaka!!
                 
                Salam alami,
                DS

                ________________________________
                From: semar samiaji <kind_evil_06@...>
                To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                Sent: Tue, June 1, 2010 9:04:23 PM
                Subject: Re: [t-net] Re: Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945

                 
                Mang JT, dengan rasa bahagia, saya sambut permintaan kejelasan tentang hal ini...
                 
                Apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks khususnya berkaitan dengan kata "falsafah" dan juga dikaitkan dengan kata "politik". Lalu, dibandingkan dengan apa yang menjadi cara pandang atau keyakinan dan berkaitan dengan agama karena berdemensi spiritual.
                 
                Mang JT, proses memaknai ISI Pancasila sebagaimana yang sering kali disampaikan, utamanya melalui tulisan-tulisan yang bisa saya bagi merupakan satu proses yang sudah puluhan tahun saya lakoni dan buktikan. Banyak konteks yang sejatinya tidak secara langsung berkaitan dengan pemahaman awal Pancasila itu sendiri. Tidak ada dalam diri ini pemujaan berlebihan kepada Pancasila, apalagi menjadi agama dalam pengertian pada umumnya. Bagi saya, Pancasila merupakan kristalisasi hukum dan ilmu Tuhan. Apakah ada yang bersedia berbagi dengan saya apa makna Tuhan bagi setiap diri? Saya tidak pernah membahas tentang ini, kecuali diminta atau forumnya memang berdiskusi tentang hal tersebut.
                 
                Jika Mang JT tergerak hati, silahkan baca penyampaian saya bahwa semua manusia yang bertuhan ujud yang diminta adalah mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab, kembali apakah mereka yang beragama tidak ke sini arahnya?
                 
                Justru, menjadi aneh kalau apa yang Mang JT sampaikan dalam konteks yang ada di dalam diri saya, ini pun jika semua dari kita mengaku bertuhan, baik melalui agama atau pun tidak. Bangsa ini sudah terlalu masuk ke dalam ranah agama, seolah-olah sesuatu yang religius semata. Padahal, makna kata "religious" sendiri tidak mencakup hanya tentang agama, silahkan buka webster. Saat manusia itu mau meyakini kehadiran Tuhan dalam nama apa pun dalam dirinya, di saat itulah tidak akan bisa dipisahkan aspek relijius atau spiritual. MOHON UNTUK TIDAK MENGKAITKAN URUSAN SPIRITUAL DENGAN PERDUKUNAN, karena tontonan dalam televisi SUDAH banyak yang merusak image keyakinan bangsa ini, utamanya para leluhur bangsa ini. Berpakaian adat, lalu digambarkan sesat dan tidak bertuhan. Padahal, tontonan yang demikian SANGAT menghina pakaian adat yang dikenakan, menjadi ladang uang bagi manusia lainnya.
                 
                Sekali lagi, saya TIDAK memasukkan tatanan agama dalam diri, apalagi menjadikan Pancasila sebagai agama dalam nama apa pun. Kekuasaan dan ijin YMK TIDAK dibatasi oleh agama, apalagi pengertian beragam manusia. Namun, yang PASTI tidak ada satu agama apa pun atau keyakinan kepada YMK diminta untuk berbuat zalim kepada manusia lainnya. Apakah ini bukan maknanya ISI Pancasila?
                 
                Sebagai akhir kata, silahkan saja menterjemahkan atau menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan dikaitkan dengan politik. Toh, muaranya sejauh mana itu semua UJUD dalam penataan kemanusiaan yang adil dan beradab. Agar Pancasila tidak sekedar menjadi jargon atau tulisan tanpa makna karena manusianya belum mampu mewujudkan nilai-nilai ketuhanan yang diujudkan dalam peri laku sebagai manusia yang adil dan beradab. Selebihnya, silahkan lakukan yang demikian sesuai dengan lakon hidup yang dihadirkan oleh YMK kepada setiap diri.
                 
                Hapunten jika ada kata yang kurang berkenan dari saya...dan hatur nuhun atas kesediaan Mang JT menyampaikannya...sungguh-sungguh sangat saya hargai...
                 
                salam Pancasila,
                ss

                --- On Tue, 6/1/10, JT <jt2x00@...> wrote:

                From: JT <jt2x00@...>
                Subject: [t-net] Re: Pidato Presiden Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945
                To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                Date: Tuesday, June 1, 2010, 6:09 PM

                 

                Bung Semar Yth.

                Tampaknya ada perbedaan yang sangat prinspil antara pemahaman anda tentang Pancasila dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya pemahaman saya pribadi tentang Pancasila. Saya dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia melihat Pancasila sebagai falsafah negara kita, Indonesia, yang berarti sebagai salah satu paham politik, atau setidak tidaknya sebagai bagian dari ilmu politik.

                Sedangkan anda, menurut pandangan saya, yang saya lihat dari tulisan2 anda, mohon maaf sebelumnya, tampaknya melihat Pancasila sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, yang bersifat religious dan selalu dikaitkan dengan masalah Ketuhanan. Pada kesempatan lain, saya juga pernah mendengar ada yang disebut agama Pancasila. Apakah pemahaman anda ini ada kaitannya dengan yang disebut agama Pancasila tsb?

                Harap anda tidak salah sangka, tidak ada maksud buruk sedikitpun dalam pertanyaan saya tsb, selain hanya sekedar ingin tahu. Kalau sekiranya anda tidak berkenan menjawabnya, tidak perlu dijawab.
                Dan sekali lagi maaf atas kelancangan pertanyaan saya di atas.

                Salam
                JT

                -------------

                --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, semar samiaji <kind_evil_06@...> wrote:
                >
                > Dear rekan-rekan,
                >  
                > Merujuk kepada pidato Bapak Presiden hari ini….mari bersama-sama kita masuki perjalanan ruang dan waktu di depan ini dengan langkah yang LEBIH konsisten dan daya tahan yang lebih lentur dengan nuansa nilai-nilai kesejatian kemanusiaan sesuai dengan daya jangkau “tangan dan kaki” yang bisa dilakoni bagi setiap diri, menembus lubang jarum peradaban…
                >  
                > Tatanan dunia sudah memasuki “masa tua” setelah melalui proses yang berupaya memanjangkan nafasnya…TIDAK akan ada kemampuan untuk menghindari ajal, termasuk nafas budaya…saat ajal dihadirkan, di saat itulah TEGAK-nya ISI Pancasila bagi bangsa ini dan bagi manusia-manusia yang setia dan patuh serta taat kepada AMANAH LELUHUR agar tetap berporos kehidupan dalam kesejatian manusia sing sejati ning manusa serta sing sejati ning Pancasila…
                >  
                > Bangsa ini diikat dan disatukan dalam Kuasa dan Ijin YMK melalui AWAL di mana jiwa bangsa ini sebagai poros kehidupan, BUKAN dengan jiwa-jiwa yang bertentangan dan mengacak-acak HUKUM dan ILMU Tuhan yang terkristalisasi di dalam ISI Pancasila…
                >  
                > Bongkarlah Harta Kuno bangsa ini….ieu teh sejati ning Pancasila…
                >  
                > GUSTI PANGERAN NU MAHA AGUNG, GUSTI PRABU NU WELAS ASIH…
                >  
                > NGADEG TEH SEJATI NING HIRUP, IEU TEH WIWITAN SEJATI NING JIWA PANCASILA…
                >  
                > MERDEKA!!
                >  
                > salam Pancasila,
                > ss
                >  

                [Non-text portions of this message have been removed]

                [Non-text portions of this message have been removed]











                [Non-text portions of this message have been removed]
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.