Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

To: Neng Uly...malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --

Expand Messages
  • semar samiaji
    Neng Uly....   sering saya dapatkan hal yang senada sebagaimana Neng sampaikan...ndak apa-apa, nanti suatu saat akan terbuka dengan sendirinya...seiring
    Message 1 of 17 , Sep 1, 2009
    • 0 Attachment
      Neng Uly....
       
      sering saya dapatkan hal yang senada sebagaimana Neng sampaikan...ndak apa-apa, nanti suatu saat akan terbuka dengan sendirinya...seiring dengan waktu dan bukti kehidupan :-)....
       
      berkaitan dengan nama...pun bisa dimaknai dalam dua konteks utama...dalam konteks sosok atau esensi....atau penggabungan dari keduanya....contoh sehari-hari misalnya, nama Tuhan....ada manusia sebut nama Tuhan dengan Awloh, Allah, Gusti, Hyang Widi, Thian, God, Yahwe, dsb...kenapa demikian?...karena manusia itu berwarna-warni dan dalam bahasa yang berbeda serta kurun waktu yang tidak sama....esensinya?...pun bisa dipahami dalam setiap diri sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kasih, Yang Maha Adil, Yang Maha Mendengar, dsb....secara lebih khusus dan mudahnya adalah di mana makhluk bernama manusia "melekatkan" kepada yang bisa membawanya dalam kedamaian....Melalui analog demikian, saya hanya bisa berbagi dalam konteks "esensi" BUKAN sosok....karena tidak semua manusia memiliki persepsi yang sama ttg nama semar....esensi dari semar adalah sesuatu yang samar-samar atau belum jelas dalam bahasa Inggrisnya "blur"...maka, perlu kajian diri, inilah makna kata
      samiajinya :-)....Jika Neng Uly, juga membaca "tafsiran" dalam berbagai tulisan yang pada umumnya, bisa jadi akan ada perbedaan...karena, pola pikir dan kajian saya setelah melalui proses kehidupan...BUKAN hanya berdasarkan "katanya"...nah, kalau originalnya dalam sosok adalah dharma...he..he.he..he..he..he...
       
      kata wayang bermakna esensi tatanan kehidupan manusia dalam melakoni kehidupan dalam satu eposide kehidupan....dalam episode itu ditampilkan nama-nama sosok seperti krisna sebagai titisan batara wisnu...yudistira sebagai tokoh pemimpin yang adil dan bijak...rahwana yang menindas dan simbol kerakusan...sengkuni sebagai tokoh yang licik dan iri serta dengki....yang kesemuanya dihadirkan dalam pembabakan kehidupan, yang dikenal dengan rama & sinta, mahabrata, bratayudha, pandawa seda, parikesit,  dsb....
       
      saya ndak paham maksud kata klaim di bawah ini....jika Neng Uly baca tulisan yang saya sampaikan tidak ada klaim2an....yang ada adalah ETIKA dan TAHU DIRI....jika Neng Uly mempunyai pendapat bahwa pewayangan adalah dari India...dari mana pula Neng Uly bisa nyatakan ini?..apakah hanya sebatas katanya juga?....he..he..he.he..he..he.he.he...
       
      Neng Uly...leluhur bangsa Indonesia awalnya TIDAK mengenal apa pun...yang dikenal hanyalah melakoni kehidupan apa adanya dan saling hormati dan penuh toleransi...paham maksudnya?....TIDAK dilandasi kepada keserakahan, iri hati, dendam, kejar2 kuasa...Jika Neng Uly tanya ke saya, koq bisa yakin demikian?...ya inilah yang bisa saya buktikan dalam diri saya sejauh ini....apa perlu pengakuan?..NDAK PERLU...semua akan mengalir apa adanya...karena saya yakin SEKALI....bahwa Kuasa dan Ijin YMK diujudkan melalui proses manusia yang demikian...dalam konteks demikian, maka saat budaya leluhur bangsa ini diklaim oleh pihak lainnya, kira2 apanya yang diklaim?...tariannya?...wayangnya?....atau ujud budaya lainnya?..yang diklaim adalah UJUD BUDAYA nya....nafasnya atau rohnya atau jiwanya yang DITUKAR dengan SELAIN budaya leluhur bangsa ini yang berawal dari APA ADANYA....
       
      ada perlu kata klaim jika konteksnya demikian?...saat sudah mendarah daging, apa ada hak paten?..hak cipta?...klaim2-an?....itu semua adalah PILIHAN hidup...memang semesta pembicaranya adalah sesuai dengan perputaran kehidupan...kita hidup di dalamnya...maka, kita harus pandai2 membaca "tanda jaman"....kapan saat malam itu mau berakhir....dan "kembali" budaya leluhur dalam nafas demikian yang bisa mengantarkan manusia kepada tahapan berikutnya...
       
      nah, kalau kita sudah keluar dari konteks di atas....maka, PASTI ujung2nya duit semata Neng....kenapa duit?...karena duit adalah alat tukar untuk bisa bertahan hidup...dengan itu, manusia yang ndak ada jiwa budaya leluhur di atas akan melakukan dengan cara apa pun untuk meraih uang...TANPA kode etik...TANPA ilmu yang mumpuni...TANPA kajian yang tulus...TANPA tenggang rasa...TANPA peri kemanusiaan..dst....termasuklah yang dilakukan oleh malaysia kepada bangsa ini.....so, jika ada kata klaim2an..."lebih" cenderung kepada hal2 demikian...BUKAN isinya...kenapa?..MANA ADA MALING MAU NGAKU MALING...iya nggak Neng?...HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA...
       
      salam leluhur,
      ss

      --- On Tue, 9/1/09, ulysee_me2 <ulysee_me2@...> wrote:


      From: ulysee_me2 <ulysee_me2@...>
      Subject: Re: Bls: AW: [t-net] malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --
      To: tionghoa-net@yahoogroups.com
      Date: Tuesday, September 1, 2009, 12:11 PM


       



      Uly mulai juling, dan pusing baca tulisan kang Semar. Wehehehehe.
      malah tertarik membahas nama SEMAR.
      Kang, semar khan tokoh pewayangan, ya? Nama aslinya siapa sih Kang?

      Terus khan, kisah pewayangan itu khan aslinya dari India yah Kang ya? Boleh tidak di klaim sebagai budaya Indonesia, Kang?

      --- In tionghoa-net@ yahoogroups. com, semar samiaji <kind_evil_06@ ...> wrote:
      >
      > menarik khan Neng Uly diskusi budaya...he. .he..he.he. he...saya berbagi dulu tentang kata per kata dari beberapa kata yang sering kita gunakan sebagai komunikasinya. ..
      > ?
      > budaya = budhi & daya = upaya manusia tuju menjadi manusia yang berbudi (luhur / mulia)
      > impor = datang atau didatangkan dari luar satu wilayah tertentu, dalam hal ini konteksnya negara yang merujuk kepada kesepakatan saat ini - wilayah, pemerintah, dan rakyat
      > setempat atau lokal = yang sudah ada sebelum kehadiran import di negara tertentu dalam konteks negara...
      > ?
      > nah, jika Neng Uly pernah lihat ombak bergulung-gulung itu makna budayanya adalah proses satu kehadiran tatanan kehidupan tidak sekaligus... secara bertahap...dalam konteks kehidupan manusia ada generasi demi generasi...dan ini konteksnya kurun waktu....jika Neng Uly pernah baca tulisan saya yang subyeknya "buka sejarah bangsa sendiri"...di sana menggambarkan proses "ombak" ini...kehidupan saat itu sudah ada awalnya sebelum kehadiran yang dari luar daerah tersebut...proses inilah yang kemudian menumbuhkan apa yang kita kenal dengan percampuran. ..dalam percampuran ada yang namanya "turunan"... dalam konteks ini jika Neng Uly baca tulisan saya yang subyeknya "budaya yang mengandung originalitas" ..maka, konteks percampuran ini yang di-highlight. ...
      > ?
      > jika merujuk kepada tatanan wilayah yang ada sesuai dengan jamannya atau kurun waktunya, maka semua yang hadir di tanah Indonesia sudah ada budaya yang saling bercampur, namun tetap akan ada "gen-gen" awalnya...so, apa yang Neng Ully sampaikan budaya setempat atau lokal terlibas ini pun perlu dijelaskan dulu konteksnya.. .contoh sederhana ya Neng....di tanah jawa, walau pun orang itu sudah ber-ktp islam atau kristen atau katolik umumnya, masih melakukan ritual yang merunut kepada leluhurnya, seperti tetap adanya suguhan...jadi dalam tataran jumlah yang masih demikian memang semakin berkurang karena sudah adanya bentuk budaya yang dianggap lebih pas atau ikut2an secara mayoritasnya. ...namun, dalam tataran originalitas tetap ada ujudnya, walau pun sedikit jumlah yang masih lakoni ini...jika Neng Uly baca diskusi saya dengan Bung Chan...di sana saya beri contoh suku baduy, terutama yang dalam...mereka masih menjaga hal-hal yang originalitasnya merujuk
      kepada
      > apa yang dilakukan para leluhurnya.. .kenapa demikian?... karena mereka meyakini akan "kembali" ada satu masa yang mengembalikan sebagai mana sediakala secara hakekatnya, walau pun dalam "jubah" yang berbeda...Nah, jika Neng Uly kenal dengan kata "reinkarnasi" , inilah sejatinya bentuk reinkarnasinya. ..yang dilakoni oleh pemeran yang berbeda dalam kurun waktu yang berbeda....dari sini Neng Uly bisa kaji..."ada kiamat?"...he. .he..he.. he..e..setahu saya mah ki amat yang punya kambing...dia akan terasa kiamat kalau kambingnya ilang dicolong orang lain..he..he. .he..he.he. he...
      > ?
      > jika konteks semua di atas dikaitkan dengan Pancasila... .perlu Neng Uly pahami dulu...bentuk atau ujud tatanan sebagai mana Pancasila sudah ada sebelum dinyatakan Pancasila dalam tahun 1945...sebelum ada nama Indonesia sebagai satu negara, itu sudah ada Neng...yang membedakan adalah bentuk tatanannya.. .yang oleh kebanyakan sejarahwan disebut dengan kerajaan-kerajaan. ..misalnya, eranya prabu siliwangi atau pun eranya prabu brawijaya... di saat itu, bentuk kehidupan dari budaya yang kita sebutkan sebagai impor dalam konteks saat ini pun sudah ada...dan ternyata ujudnya damai dalam kehidupan bersamanya.. kenapa ini ujud? karena adanya komitmen bersama dalam melakoni kehidupan tuju kesejahteraan bersama...Ini yang saya highlight dalam konteks budaya yang mengandung originalitas. ..karena ada juga tangan2 yang memberikan gambaran tidak demikian..kenapa? ..karena bagi yang kelompoknya demikian, tidak mau mewujudkan kehidupan di dalam naungan yang
      bernafaskan
      > kebersamaan seperti demikian.... dalam konteks SAAT INI, pun ini ada ujudnya...beda dalam ujud, namun hakekat tetap sama....
      > ?
      > jika dikaitkan dengan tarian, karya sastra, adat istiadat, dan sejenisnya.. .ini memerlukan kajian yang terpisah...karena itu semua adalah "produk" dari hakekat atau esensi dari kata budaya itu sendiri...yang jika ditelaah akan menyangkut dalam konteks tidak sekedar menunjukkan identitas asal budaya dari daerah atau wilayah tertentu saja...namun, juga mengandung jiwa yang menurunkan menjadi produk2 budaya...dari jiwanya itulah, maka akan jelas nampak dan ini tidak bisa dijiplak atau dibajak...kecuali, memang dipaksa ..he..he..he. .he..he.. .so, peranan budaya akan tergantung dari cara merespon makna budaya itu sendiri...misalnya, jika budaya indonesia hanya diwacanakan sebatas pariwisata, maka tidak akan pernah bisa lestari jiwa dari budaya itu sendiri...kenapa? ..karena pariwisata, kalau ndak kuat2 bawa kultur sejatinya... hanya akan dijadikan lahan cari duit semata...artinya, produk budaya itu tidak akan berbeda dengan sendok, piring, garpu, di mana
      saat
      > ini diproduksi melalui manufaktur.. .nah, yang model ini tidak mengandung originalitasnya, jika merujuk konteks sebagai mana di atas...
      > ?
      > agar menjadi mudahnya bagi Neng Uly....muara satu budaya adalah pilihan manusia untuk mampu menyeimbangkan sifat-sifat "kind & evil" dalam dirinya dalam setiap langkah kehidupan tuju kepada budi pekerti manusianya.. .nah, ini yang ada originalitasnya. ..nggak akan ada duanya dan tetap demikian.... .silahkan kaji, nama semar apa ada duanya?..nama Pancasila apa ada duanya?...he. .he..he.. he...
      > ?
      > ?
      > salam warna,
      > ss
      >
      >
      > --- On Thu, 8/27/09, ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...> wrote:
      >
      >
      > From: ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...>
      > Subject: Re: Bls: AW: [t-net] malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --
      > To: tionghoa-net@ yahoogroups. com
      > Date: Thursday, August 27, 2009, 8:08 AM
      >
      >
      > ?
      >
      >
      >
      > Hihihi, biasa atuh Kang, Uli mah nggak betah sama 'bahasa tinggi' yang utopian, jadi di cut aja sebatas bahasa yang masih membumi, heheheh.
      >
      > Iyah bener, karya nyata lebih bermangpaat.
      > dan, bener juga, budaya Import kayaknya lebih di budi dayakan daripada budaya setempat, jadi ujud budaya setempat malah kelibas.
      >
      > Jadi, gimana atuh mewujudkan budaya setempat biar jangan kelibas sama budaya improt?
      > (bari jeung masih bingung, budaya setempat tuh yang gimana tea yah?)
      >
      > Trus dimana tempatnya tuh budaya dalam ber-Pancasila teh? juga, apa atuh peranan budaya (aka batik dan wayang dan tari-tarian) teh ?
      >
      > --- In tionghoa-net@ yahoogroups. com, semar samiaji <kind_evil_06@ ...> wrote:
      > >
      > > Neng Uli...bacanya jangan di cut dong...
      > > ?
      > > subyeknya adalah "budaya yang mengandung originalitas" ....ukurannya adalah tidak berlebih-lebihan, manfaat bagi sesama, dan tidak ditujukan kepada uang semata....karena dilandasi apa yang menjadi karyanya adalah atas kuasa dan ijin YMK...jadi tidak perlu merasa di-agung2-an secara berlebih-lebihan. ...
      > > ?
      > > semua budaya yang hadir di tanah ini, kemudian jadi berlebih-lebihan ujudnya PASTI akan mematikan budaya lainnya...dan terutamanya adalah budaya setempat...
      > > ?
      > > ijinkan berbagi isi diskusi dengan anak saya yang pertama....setelah mendengar kejadian itu (kasus malaysia), anak saya tanya..."kenapa ya pa, koq jadi begini Indonesia?.. .tariannya di-aku2 bangsa lainnya".... jawaban jujur saya adalah "karena bangsa ini sudah terlalu berlebihan memuja budaya yang bukan dari tanah Indonesia... kalau pun ada yang dari tanah sendiri hanya sebatas didagangkan. .."...anak saya tanya lebih kanjut "koq begitu pa?"...saya sampaikan.." silahkan buka buku sejarah nak...apakah ada bangsa yang bisa besar meninggalkan budaya leluhurnya?" ...anak saya pun bertanya lagi "lho khan Mama juga etnis tionghoa? gimana dong pa?"....saya tanggapi "mama kamu sudah paham ini dan sudah mendarah daging kedua budaya itu jadi satu dalam naungan jiwa Pancasila, jadi nggak bakalan tidak menempatkan budaya itu pada tempat dan perannya masing2...coba perhatikan mama kamu nggak ninggalin ritual leluhurnya, tetapi ndak juga mengabaikan nuansa budaya
      > tanah
      > > ini...dan siapa ibu rumah tangga yang paling top di lingkungan kita, dari yang paling kaya sampai mamang sampah dan ibu2 pemotong rumput?....pernah mama kamu ngaku2 minta budayanya di-aku2...karyanya yang manfaat yang utama khan?" ..tahu nak mengapa begitu?".... ."mama kamu melakukannya dengan hati bukan dengan ujudnya yang berdarah tionghoa..." ...udah jelas kenapa papa pilih mama kamu dulu?"....anak saya ndak tanggapi lagi, ngakak aja dia....
      > > ?
      > > punten Neng Uly, kalau cara tanggapinya seperti di atas...kalau pakai contoh yang tinggi2...sulit abisnya Neng...yang nyata2 aja di kehidupan se-hari2....
      > > ?
      > > salam berbagi,
      > > ss
      > >
      > >
      > > --- On Wed, 8/26/09, ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...> wrote:
      > >
      > >
      > > From: ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...>
      > > Subject: Re: Bls: AW: [t-net] malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --
      > > To: tionghoa-net@ yahoogroups. com
      > > Date: Wednesday, August 26, 2009, 10:00 AM
      > >
      > >
      > > ?
      > >
      > >
      > >
      > >
      > > Kemaren, setelah sewot-sewot sama Malingsia mereda, gue juga sempet mikir-mikir.
      > >
      > > Malaysia khan ber-argumen bahwa reog Ponorogo itu di Malaysia juga ada, namanya barongan atau apa, karena perpindahan orang Jawa yang menetap disana dan membawa serta budaya asalnya.
      > >
      > > Nah kalau budaya Tionghoa gimana statusnya ya?
      > > Selama ini gue khan teriak teriak bahwa budaya Tionghoa itu ya budaya Indonesia juga, soalnya tionghoa2 nya udah jadi WN sini, berakulturasi budaya disini, maka budayanya memperkaya budaya Indonesia, jadi jangan dibilang asing asing terus donk.
      > >
      > > Berangkat dari situ, gak boleh donk double standard. Kalau Malaysia nggak boleh meng-adopt Reog Ponorogo sebagai budaya Malaysia, apakah Indonesia juga tidak bakalan meng-adopt budaya Tionghoa sebagai salah satu bagian dari budaya Indonesia?
      > >
      > > Apakah China akan teriak-teriak bahwa Indonesia nyolong, kalau Indonesia mengakui budaya Tionghoa sebagai bagian dari budayanya?
      > >
      > > Gue jadi mikir lagi, Budaya Tionghoa yang ingin diakui sebagai bagian dari budaya Indonesia batas PERBEDAANNYA DIMANA dengan Budaya Negeri China sana?
      > >
      > > --- In tionghoa-net@ yahoogroups. com, semar samiaji <kind_evil_06@ ...> wrote:
      > > >
      > > > Dear Rekan-Rekan. ..
      > > > ?
      > > > Semalam secara tidak direncanakan, saya menyimak percakapan antara beberapa pihak (di metro tv) yang membahas tentang apa yang dilakukan malaysia dalam upaya menyuarakan budayanya kepada pihak di luar malaysia dan salah satu ujudnya adalah menyatakan beberapa produk budaya Indonesia sebagai bagian di dalamnya...
      > > > ?
      > > > salah satu bahasan dan benang merah dari perbincangan itu adalah pergerakan manusia yang berpindah dari satu tempat kepada tempat lainnya menjadikan satu budaya bisa diakui oleh satu negara tertentu sebagai bagian dari negaranya... dengan melandasi kepada fakta demikian, hampir semua peserta perbincangan sepakat bahwa kita dengan malaysia bertetangga, kita dengan malaysia akan berupaya untuk membangun saling pengertian di bidang budaya, dan kalimat-kalimat yang merujuk kepada upaya untuk membangun saling pengertian agar negara Indonesia budayanya bisa diamankan dan dipahami oleh pihak di luar Indonesia bahwa yang demikian sumbernya adalah dari Indonesia...
      > > > ?
      > > > sedikit pun tidak ada bantahan atau pun argue yang perlu saya sampaikan dalam konteks perbicangan di atas...namun, dari pembicaraan tersebut tidak menjelaskan dengan LEBIH tegas makna dari satu budaya dan turunan satu budaya hingga bisa ditelaah itu adalah bersumber dari tanah Indonesia. ..ujud yang dilakukan nyata untuk memproteksinya adalah melalui mendaftarkan melalui paten atau hak cipta atau pun sejenisnya agar karyanya tidak dibajak oleh orang lain....apakah langkah ini tepat dalam konteks kurun waktu ke depan ini? kajian demikian diperlukan agar langkah bangsa ini tidak hanya dilandaskan kepada reaktif semata...
      > > > ?
      > > <CUT >
      > >

      .


















      [Non-text portions of this message have been removed]
    • ulysee_me2
      Gue give up deh. Hehehehe. Nyerah Kang, udah berusaha, juga emang kayaknya beda frekwensi euy antara kau dah aku. Makin dibaca makin nggak ngerti. Dengan ini
      Message 2 of 17 , Sep 3, 2009
      • 0 Attachment
        Gue give up deh. Hehehehe.
        Nyerah Kang, udah berusaha, juga emang kayaknya beda frekwensi euy antara kau dah aku. Makin dibaca makin nggak ngerti.
        Dengan ini gue akhiri deh diskusi ini sampe disini.

        --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, semar samiaji <kind_evil_06@...> wrote:
        >
        > Neng Uly....
        > ?
        > sering saya dapatkan hal yang senada sebagaimana Neng sampaikan...ndak apa-apa, nanti suatu saat akan terbuka dengan sendirinya...seiring dengan waktu dan bukti kehidupan :-)....
        > ?
        > berkaitan dengan nama...pun bisa dimaknai dalam dua konteks utama...dalam konteks sosok atau esensi....atau penggabungan dari keduanya....contoh sehari-hari misalnya, nama Tuhan....ada manusia sebut nama Tuhan dengan Awloh, Allah, Gusti, Hyang Widi, Thian, God, Yahwe, dsb...kenapa demikian?...karena manusia itu berwarna-warni dan dalam bahasa yang berbeda serta kurun waktu yang tidak sama....esensinya?...pun bisa dipahami dalam setiap diri sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kasih, Yang Maha Adil, Yang Maha Mendengar, dsb....secara lebih khusus dan mudahnya adalah di mana makhluk bernama manusia "melekatkan" kepada yang bisa membawanya dalam kedamaian....Melalui analog demikian, saya hanya bisa berbagi dalam konteks "esensi" BUKAN sosok....karena tidak semua manusia memiliki persepsi yang sama ttg nama semar....esensi dari semar adalah sesuatu yang samar-samar atau belum jelas dalam bahasa Inggrisnya "blur"...maka, perlu kajian diri, inilah makna kata
        > samiajinya :-)....Jika Neng Uly, juga membaca "tafsiran" dalam berbagai tulisan yang pada umumnya, bisa jadi akan ada perbedaan...karena, pola pikir dan kajian saya setelah melalui proses kehidupan...BUKAN hanya berdasarkan "katanya"...nah, kalau originalnya dalam sosok adalah dharma...he..he.he..he..he..he...
        > ?
        > kata wayang bermakna esensi tatanan kehidupan manusia dalam melakoni kehidupan dalam satu eposide kehidupan....dalam episode itu ditampilkan nama-nama sosok seperti krisna sebagai titisan batara wisnu...yudistira sebagai tokoh pemimpin yang adil dan bijak...rahwana yang menindas dan simbol kerakusan...sengkuni sebagai tokoh yang licik dan iri serta dengki....yang kesemuanya dihadirkan dalam pembabakan kehidupan, yang dikenal dengan rama & sinta, mahabrata, bratayudha, pandawa seda, parikesit,  dsb....
        > ?
        > saya ndak paham maksud kata klaim di bawah ini....jika Neng Uly baca tulisan yang saya sampaikan tidak ada klaim2an....yang ada adalah ETIKA dan TAHU DIRI....jika Neng Uly mempunyai pendapat bahwa pewayangan adalah dari India...dari mana pula Neng Uly bisa nyatakan ini?..apakah hanya sebatas katanya juga?....he..he..he.he..he..he.he.he...
        > ?
        > Neng Uly...leluhur bangsa Indonesia awalnya TIDAK mengenal apa pun...yang dikenal hanyalah melakoni kehidupan apa adanya dan saling hormati dan penuh toleransi...paham maksudnya?....TIDAK dilandasi kepada keserakahan, iri hati, dendam, kejar2 kuasa...Jika Neng Uly tanya ke saya, koq bisa yakin demikian?...ya inilah yang bisa saya buktikan dalam diri saya sejauh ini....apa perlu pengakuan?..NDAK PERLU...semua akan mengalir apa adanya...karena saya yakin SEKALI....bahwa Kuasa dan Ijin YMK diujudkan melalui proses manusia yang demikian...dalam konteks demikian, maka saat budaya leluhur bangsa ini diklaim oleh pihak lainnya, kira2 apanya yang diklaim?...tariannya?...wayangnya?....atau ujud budaya lainnya?..yang diklaim adalah UJUD BUDAYA nya....nafasnya atau rohnya atau jiwanya yang DITUKAR dengan SELAIN budaya leluhur bangsa ini yang berawal dari APA ADANYA....
        > ?
        > ada perlu kata klaim jika konteksnya demikian?...saat sudah mendarah daging, apa ada hak paten?..hak cipta?...klaim2-an?....itu semua adalah PILIHAN hidup...memang semesta pembicaranya adalah sesuai dengan perputaran kehidupan...kita hidup di dalamnya...maka, kita harus pandai2 membaca "tanda jaman"....kapan saat malam itu mau berakhir....dan "kembali" budaya leluhur dalam nafas demikian yang bisa mengantarkan manusia kepada tahapan berikutnya...
        > ?
        > nah, kalau kita sudah keluar dari konteks di atas....maka, PASTI ujung2nya duit semata Neng....kenapa duit?...karena duit adalah alat tukar untuk bisa bertahan hidup...dengan itu, manusia yang ndak ada jiwa budaya leluhur di atas akan melakukan dengan cara apa pun untuk meraih uang...TANPA kode etik...TANPA ilmu yang mumpuni...TANPA kajian yang tulus...TANPA tenggang rasa...TANPA peri kemanusiaan..dst....termasuklah yang dilakukan oleh malaysia kepada bangsa ini.....so, jika ada kata klaim2an..."lebih" cenderung kepada hal2 demikian...BUKAN isinya...kenapa?..MANA ADA MALING MAU NGAKU MALING...iya nggak Neng?...HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA..HA...
        > ?
        > salam leluhur,
        > ss
        >
        > --- On Tue, 9/1/09, ulysee_me2 <ulysee_me2@...> wrote:
        >
        >
        > From: ulysee_me2 <ulysee_me2@...>
        > Subject: Re: Bls: AW: [t-net] malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --
        > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
        > Date: Tuesday, September 1, 2009, 12:11 PM
        >
        >
        > ?
        >
        >
        >
        > Uly mulai juling, dan pusing baca tulisan kang Semar. Wehehehehe.
        > malah tertarik membahas nama SEMAR.
        > Kang, semar khan tokoh pewayangan, ya? Nama aslinya siapa sih Kang?
        >
        > Terus khan, kisah pewayangan itu khan aslinya dari India yah Kang ya? Boleh tidak di klaim sebagai budaya Indonesia, Kang?
        >
        > --- In tionghoa-net@ yahoogroups. com, semar samiaji <kind_evil_06@ ...> wrote:
        > >
        > > menarik khan Neng Uly diskusi budaya...he. .he..he.he. he...saya berbagi dulu tentang kata per kata dari beberapa kata yang sering kita gunakan sebagai komunikasinya. ..
        > > ?
        > > budaya = budhi & daya = upaya manusia tuju menjadi manusia yang berbudi (luhur / mulia)
        > > impor = datang atau didatangkan dari luar satu wilayah tertentu, dalam hal ini konteksnya negara yang merujuk kepada kesepakatan saat ini - wilayah, pemerintah, dan rakyat
        > > setempat atau lokal = yang sudah ada sebelum kehadiran import di negara tertentu dalam konteks negara...
        > > ?
        > > nah, jika Neng Uly pernah lihat ombak bergulung-gulung itu makna budayanya adalah proses satu kehadiran tatanan kehidupan tidak sekaligus... secara bertahap...dalam konteks kehidupan manusia ada generasi demi generasi...dan ini konteksnya kurun waktu....jika Neng Uly pernah baca tulisan saya yang subyeknya "buka sejarah bangsa sendiri"...di sana menggambarkan proses "ombak" ini...kehidupan saat itu sudah ada awalnya sebelum kehadiran yang dari luar daerah tersebut...proses inilah yang kemudian menumbuhkan apa yang kita kenal dengan percampuran. ..dalam percampuran ada yang namanya "turunan"... dalam konteks ini jika Neng Uly baca tulisan saya yang subyeknya "budaya yang mengandung originalitas" ..maka, konteks percampuran ini yang di-highlight. ...
        > > ?
        > > jika merujuk kepada tatanan wilayah yang ada sesuai dengan jamannya atau kurun waktunya, maka semua yang hadir di tanah Indonesia sudah ada budaya yang saling bercampur, namun tetap akan ada "gen-gen" awalnya...so, apa yang Neng Ully sampaikan budaya setempat atau lokal terlibas ini pun perlu dijelaskan dulu konteksnya.. .contoh sederhana ya Neng....di tanah jawa, walau pun orang itu sudah ber-ktp islam atau kristen atau katolik umumnya, masih melakukan ritual yang merunut kepada leluhurnya, seperti tetap adanya suguhan...jadi dalam tataran jumlah yang masih demikian memang semakin berkurang karena sudah adanya bentuk budaya yang dianggap lebih pas atau ikut2an secara mayoritasnya. ...namun, dalam tataran originalitas tetap ada ujudnya, walau pun sedikit jumlah yang masih lakoni ini...jika Neng Uly baca diskusi saya dengan Bung Chan...di sana saya beri contoh suku baduy, terutama yang dalam...mereka masih menjaga hal-hal yang originalitasnya merujuk
        > kepada
        > > apa yang dilakukan para leluhurnya.. .kenapa demikian?... karena mereka meyakini akan "kembali" ada satu masa yang mengembalikan sebagai mana sediakala secara hakekatnya, walau pun dalam "jubah" yang berbeda...Nah, jika Neng Uly kenal dengan kata "reinkarnasi" , inilah sejatinya bentuk reinkarnasinya. ..yang dilakoni oleh pemeran yang berbeda dalam kurun waktu yang berbeda....dari sini Neng Uly bisa kaji..."ada kiamat?"...he. .he..he.. he..e..setahu saya mah ki amat yang punya kambing...dia akan terasa kiamat kalau kambingnya ilang dicolong orang lain..he..he. .he..he.he. he...
        > > ?
        > > jika konteks semua di atas dikaitkan dengan Pancasila... .perlu Neng Uly pahami dulu...bentuk atau ujud tatanan sebagai mana Pancasila sudah ada sebelum dinyatakan Pancasila dalam tahun 1945...sebelum ada nama Indonesia sebagai satu negara, itu sudah ada Neng...yang membedakan adalah bentuk tatanannya.. .yang oleh kebanyakan sejarahwan disebut dengan kerajaan-kerajaan. ..misalnya, eranya prabu siliwangi atau pun eranya prabu brawijaya... di saat itu, bentuk kehidupan dari budaya yang kita sebutkan sebagai impor dalam konteks saat ini pun sudah ada...dan ternyata ujudnya damai dalam kehidupan bersamanya.. kenapa ini ujud? karena adanya komitmen bersama dalam melakoni kehidupan tuju kesejahteraan bersama...Ini yang saya highlight dalam konteks budaya yang mengandung originalitas. ..karena ada juga tangan2 yang memberikan gambaran tidak demikian..kenapa? ..karena bagi yang kelompoknya demikian, tidak mau mewujudkan kehidupan di dalam naungan yang
        > bernafaskan
        > > kebersamaan seperti demikian.... dalam konteks SAAT INI, pun ini ada ujudnya...beda dalam ujud, namun hakekat tetap sama....
        > > ?
        > > jika dikaitkan dengan tarian, karya sastra, adat istiadat, dan sejenisnya.. .ini memerlukan kajian yang terpisah...karena itu semua adalah "produk" dari hakekat atau esensi dari kata budaya itu sendiri...yang jika ditelaah akan menyangkut dalam konteks tidak sekedar menunjukkan identitas asal budaya dari daerah atau wilayah tertentu saja...namun, juga mengandung jiwa yang menurunkan menjadi produk2 budaya...dari jiwanya itulah, maka akan jelas nampak dan ini tidak bisa dijiplak atau dibajak...kecuali, memang dipaksa ..he..he..he. .he..he.. .so, peranan budaya akan tergantung dari cara merespon makna budaya itu sendiri...misalnya, jika budaya indonesia hanya diwacanakan sebatas pariwisata, maka tidak akan pernah bisa lestari jiwa dari budaya itu sendiri...kenapa? ..karena pariwisata, kalau ndak kuat2 bawa kultur sejatinya... hanya akan dijadikan lahan cari duit semata...artinya, produk budaya itu tidak akan berbeda dengan sendok, piring, garpu, di mana
        > saat
        > > ini diproduksi melalui manufaktur.. .nah, yang model ini tidak mengandung originalitasnya, jika merujuk konteks sebagai mana di atas...
        > > ?
        > > agar menjadi mudahnya bagi Neng Uly....muara satu budaya adalah pilihan manusia untuk mampu menyeimbangkan sifat-sifat "kind & evil" dalam dirinya dalam setiap langkah kehidupan tuju kepada budi pekerti manusianya.. .nah, ini yang ada originalitasnya. ..nggak akan ada duanya dan tetap demikian.... .silahkan kaji, nama semar apa ada duanya?..nama Pancasila apa ada duanya?...he. .he..he.. he...
        > > ?
        > > ?
        > > salam warna,
        > > ss
        > >
        > >
        > > --- On Thu, 8/27/09, ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...> wrote:
        > >
        > >
        > > From: ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...>
        > > Subject: Re: Bls: AW: [t-net] malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --
        > > To: tionghoa-net@ yahoogroups. com
        > > Date: Thursday, August 27, 2009, 8:08 AM
        > >
        > >
        > > ?
        > >
        > >
        > >
        > > Hihihi, biasa atuh Kang, Uli mah nggak betah sama 'bahasa tinggi' yang utopian, jadi di cut aja sebatas bahasa yang masih membumi, heheheh.
        > >
        > > Iyah bener, karya nyata lebih bermangpaat.
        > > dan, bener juga, budaya Import kayaknya lebih di budi dayakan daripada budaya setempat, jadi ujud budaya setempat malah kelibas.
        > >
        > > Jadi, gimana atuh mewujudkan budaya setempat biar jangan kelibas sama budaya improt?
        > > (bari jeung masih bingung, budaya setempat tuh yang gimana tea yah?)
        > >
        > > Trus dimana tempatnya tuh budaya dalam ber-Pancasila teh? juga, apa atuh peranan budaya (aka batik dan wayang dan tari-tarian) teh ?
        > >
        > > --- In tionghoa-net@ yahoogroups. com, semar samiaji <kind_evil_06@ ...> wrote:
        > > >
        > > > Neng Uli...bacanya jangan di cut dong...
        > > > ?
        > > > subyeknya adalah "budaya yang mengandung originalitas" ....ukurannya adalah tidak berlebih-lebihan, manfaat bagi sesama, dan tidak ditujukan kepada uang semata....karena dilandasi apa yang menjadi karyanya adalah atas kuasa dan ijin YMK...jadi tidak perlu merasa di-agung2-an secara berlebih-lebihan. ...
        > > > ?
        > > > semua budaya yang hadir di tanah ini, kemudian jadi berlebih-lebihan ujudnya PASTI akan mematikan budaya lainnya...dan terutamanya adalah budaya setempat...
        > > > ?
        > > > ijinkan berbagi isi diskusi dengan anak saya yang pertama....setelah mendengar kejadian itu (kasus malaysia), anak saya tanya..."kenapa ya pa, koq jadi begini Indonesia?.. .tariannya di-aku2 bangsa lainnya".... jawaban jujur saya adalah "karena bangsa ini sudah terlalu berlebihan memuja budaya yang bukan dari tanah Indonesia... kalau pun ada yang dari tanah sendiri hanya sebatas didagangkan. .."...anak saya tanya lebih kanjut "koq begitu pa?"...saya sampaikan.." silahkan buka buku sejarah nak...apakah ada bangsa yang bisa besar meninggalkan budaya leluhurnya?" ...anak saya pun bertanya lagi "lho khan Mama juga etnis tionghoa? gimana dong pa?"....saya tanggapi "mama kamu sudah paham ini dan sudah mendarah daging kedua budaya itu jadi satu dalam naungan jiwa Pancasila, jadi nggak bakalan tidak menempatkan budaya itu pada tempat dan perannya masing2...coba perhatikan mama kamu nggak ninggalin ritual leluhurnya, tetapi ndak juga mengabaikan nuansa budaya
        > > tanah
        > > > ini...dan siapa ibu rumah tangga yang paling top di lingkungan kita, dari yang paling kaya sampai mamang sampah dan ibu2 pemotong rumput?....pernah mama kamu ngaku2 minta budayanya di-aku2...karyanya yang manfaat yang utama khan?" ..tahu nak mengapa begitu?".... ."mama kamu melakukannya dengan hati bukan dengan ujudnya yang berdarah tionghoa..." ...udah jelas kenapa papa pilih mama kamu dulu?"....anak saya ndak tanggapi lagi, ngakak aja dia....
        > > > ?
        > > > punten Neng Uly, kalau cara tanggapinya seperti di atas...kalau pakai contoh yang tinggi2...sulit abisnya Neng...yang nyata2 aja di kehidupan se-hari2....
        > > > ?
        > > > salam berbagi,
        > > > ss
        > > >
        > > >
        > > > --- On Wed, 8/26/09, ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...> wrote:
        > > >
        > > >
        > > > From: ulysee_me2 <ulysee_me2@ ...>
        > > > Subject: Re: Bls: AW: [t-net] malingsia : Klaim Tari Pendet Oleh Malaysia --
        > > > To: tionghoa-net@ yahoogroups. com
        > > > Date: Wednesday, August 26, 2009, 10:00 AM
        > > >
        > > >
        > > > ?
        > > >
        > > >
        > > >
        > > >
        > > > Kemaren, setelah sewot-sewot sama Malingsia mereda, gue juga sempet mikir-mikir.
        > > >
        > > > Malaysia khan ber-argumen bahwa reog Ponorogo itu di Malaysia juga ada, namanya barongan atau apa, karena perpindahan orang Jawa yang menetap disana dan membawa serta budaya asalnya.
        > > >
        > > > Nah kalau budaya Tionghoa gimana statusnya ya?
        > > > Selama ini gue khan teriak teriak bahwa budaya Tionghoa itu ya budaya Indonesia juga, soalnya tionghoa2 nya udah jadi WN sini, berakulturasi budaya disini, maka budayanya memperkaya budaya Indonesia, jadi jangan dibilang asing asing terus donk.
        > > >
        > > > Berangkat dari situ, gak boleh donk double standard. Kalau Malaysia nggak boleh meng-adopt Reog Ponorogo sebagai budaya Malaysia, apakah Indonesia juga tidak bakalan meng-adopt budaya Tionghoa sebagai salah satu bagian dari budaya Indonesia?
        > > >
        > > > Apakah China akan teriak-teriak bahwa Indonesia nyolong, kalau Indonesia mengakui budaya Tionghoa sebagai bagian dari budayanya?
        > > >
        > > > Gue jadi mikir lagi, Budaya Tionghoa yang ingin diakui sebagai bagian dari budaya Indonesia batas PERBEDAANNYA DIMANA dengan Budaya Negeri China sana?
        > > >
        > > > --- In tionghoa-net@ yahoogroups. com, semar samiaji <kind_evil_06@ ...> wrote:
        > > > >
        > > > > Dear Rekan-Rekan. ..
        > > > > ?
        > > > > Semalam secara tidak direncanakan, saya menyimak percakapan antara beberapa pihak (di metro tv) yang membahas tentang apa yang dilakukan malaysia dalam upaya menyuarakan budayanya kepada pihak di luar malaysia dan salah satu ujudnya adalah menyatakan beberapa produk budaya Indonesia sebagai bagian di dalamnya...
        > > > > ?
        > > > > salah satu bahasan dan benang merah dari perbincangan itu adalah pergerakan manusia yang berpindah dari satu tempat kepada tempat lainnya menjadikan satu budaya bisa diakui oleh satu negara tertentu sebagai bagian dari negaranya... dengan melandasi kepada fakta demikian, hampir semua peserta perbincangan sepakat bahwa kita dengan malaysia bertetangga, kita dengan malaysia akan berupaya untuk membangun saling pengertian di bidang budaya, dan kalimat-kalimat yang merujuk kepada upaya untuk membangun saling pengertian agar negara Indonesia budayanya bisa diamankan dan dipahami oleh pihak di luar Indonesia bahwa yang demikian sumbernya adalah dari Indonesia...
        > > > > ?
        > > > > sedikit pun tidak ada bantahan atau pun argue yang perlu saya sampaikan dalam konteks perbicangan di atas...namun, dari pembicaraan tersebut tidak menjelaskan dengan LEBIH tegas makna dari satu budaya dan turunan satu budaya hingga bisa ditelaah itu adalah bersumber dari tanah Indonesia. ..ujud yang dilakukan nyata untuk memproteksinya adalah melalui mendaftarkan melalui paten atau hak cipta atau pun sejenisnya agar karyanya tidak dibajak oleh orang lain....apakah langkah ini tepat dalam konteks kurun waktu ke depan ini? kajian demikian diperlukan agar langkah bangsa ini tidak hanya dilandaskan kepada reaktif semata...
        > > > > ?
        > > > <CUT >
        > > >
        >
        > .
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > [Non-text portions of this message have been removed]
        >
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.