Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: Dalang G-30-S yang Tersisa

Expand Messages
  • Daniel H.T.
    Komentar: Ulasan tersebut di bawah ini membeberkan masing-masing peran dan akhir peran masing-masing tokoh di balik peristiwa G-30-S/PKI. Di antara semua itu,
    Message 1 of 1 , Oct 1, 2008
    • 0 Attachment
      Komentar:
      Ulasan tersebut di bawah ini membeberkan masing-masing peran dan akhir peran masing-masing tokoh di balik peristiwa G-30-S/PKI. Di antara semua itu, disebutkan bahwa Soeharto lah yang paling menikmati akibat dari peristiwa paling tragis tersebut. Berbeda dengan Soekarno yang di akhir hidupnya mengalami penderitaan karena diplot demikian: menderita berkepanjangan secara fisik, maupun psikis. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga semua buku-buku karyanya, bahkan perannya sebagai pencetus kelahiran Pancasila dihapus perayaannya. Tutut juga menderita adalah keluarganya, terutama anak-anaknya.

      Setiap anak Soekarno yang hendak berperan dalam dunia politik dihalangi dengan berbagai cara, baik dengan cara halus, maupun kasar. Yang, terakhir adalah ketika Megawati dihalang-halangi untuk menjadi Ketua Umum PDI. Semua cara dihalalkan dengan berbagai rekayasa oleh penguasa rezim Soeharto. Ketika toh, Megawati tetap berhasil menjadi Ketua Umum PDIP, langkah-langkah politiknya terus "diteror" dan ditindas. Yang antara lain meledakkan peristiwa 27 Juli 1996, yang dikenal juga dengan sebutan "Peristwa Kudatuli."

      Penindasan-penindasan yang dilakukan Soeharto terhadap PDIP dengan Ketum Megawati, akhirnya membuat dia menjadi semacam ikon dari kaum tertindas sekaligus perlawanan terhadap rezim Soeharto yang dianggap otoriter dan diktator. Dukungan rakyat pun tercurah kepada tokoh putri Soekarno tersebut. Maka, ketika pecah reformasi, tumbangnya Soeharto, diikuti dengan Pemilu yang demokratis pertama setelah masa Orde Baru, kemenangan mutlak pun diraih oleh PDIP dengna calon Presiden Megawati. Sayangnya dengan berbagai manuver licik di MPR Megawati yang dipilih mayoritas rakyat justru dikkalahkan MPR dengan mengangkat Gus Dur sebagai Presiden.

      Dibandingkan dengan jalan kehidupan Soekarno dan keluarganya ketika jatuh dari kursi kekuasaan, Soeharto dan keluarganya bisa dikatakan tidak terlalu menderita. Memang banyak bagian dari kerajaan bisnis mereka yang dibangun dari hasil KKN berguguran, tetapi secara keseluruhan, mereka masih bisa tetap eksis dalam dunia bisnis. meskipun tidak bisa merajalela lagi seperti ketika Bapak nya masih berkuasa. Bahkan, seperti Tommy Soeharto, masih bisa memperebutkan uang jutaan dollar AS dengan pemerintah yang disimpan di BNP Paribas. Demikian pula meskipun telah terbukti secara hukum sebagai otak pembunuhan Hakim Agung, dia hanya mendapat hukuman yang terlalu amat sangat ringan; hanya sekitar 4,5 tahun. Itupun dengan berbagai diskon menarik. Sementara pelaku pembunuhannya justru dihukum mati. Suatu keajaiban di dunia hukum.


      Seharto sendiri pun relatih bisa menjalani kehidupannya jauh lebih enak dibandingkan Soekarno. Meskipun dicaci-maki oleh berbagai pihak dan media. Secara fisik dan psikis dia dapat menjalani kehidupan sehari-harinya jauh lebih baik.

      Sampai akhirnya maut datang menjemput. Menjelang ajalnya pun, selama beberapa minggu, banyak media yang dulu menjadi korban kediktatorannya, malah melakukan liputan dengan ulasan-ulasan yang seolah-olah melupakan semua yang pernah mereka kecam terhadap tokoh yang berkuasa lebih dari 30 tahun itu. Bak seorang pahlawan tanpa cacat, liputan media, terutama TV, seperti SCTV, RCTI dan TPI, yang saham-sahamnya masih dimiliki anak-anaknya, seolah-olah hendak mengangkatnya sebagai tokoh pujaan dan dicintai seluruh rakyat Indonesia.

      Dalam kenyataannya, perhatian, suasana / efek waktu Soeharto meninggal dunia tasanya hanya terasa di Jakarta. Di Surabaya misalnya, efek tersebut sama sekali tidak terasa. Tidak ada pemandangan orang yang berkerumun menonton siaran langsung berebagai TV tentang prosesi pemakamannya. TV-TV yang dipajang di show room-show room toko-toko elektronik, misalnya, hanya sedikit yang memutar siaran langsung tersebut. Itu pun tidak ada yang meonontonya. Demikian pula dengan himbauan pemerntah untuk menyambut masa berkabung nasional. Di Surabaya, banyak rumah dan kantor yang tidak emnaikkan bendera setengah tiang.

      -------------

      JAWAPOS, Selasa, 30 September 2008
      Dalang G-30-S yang Tersisa

      Oleh Asvi Warman Adam *

      Lebih dari empat dekade berlalu, tragedi nasional 1965 masih menyisakan kepedihan. Enam orang jenderal ditambah empat orang lainnya tewas dan diangkat sebagai pahlawan revolusi. Sebagai kelanjutannya, tidak kurang dari 500 ribu nyawa hilang di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali selama tiga bulan pasca Gerakan 30 September. Inilah peristiwa yang memakan korban terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

      Begitu aksi penculikan para jenderal tersebut gagal, siapa di balik itu sudah ada dalam pikiran perwira Angkatan Darat (AD). Maka, PKI (Partai Komunis Indonesia) segera ditahbiskan menjadi dalang tunggal dalam versi resmi Orde Baru.

      Pada waktu yang bersamaan, segelintir peneliti di Universitas Cornell meyakini bahwa itu persoalan intern AD. TAP MPRS No XXXIII/1967 melahirkan versi keterlibatan Presiden Soekarno dalam percobaan kudeta yang gagal tersebut. Itu diperkuat dengan kesaksian Bambang Widjanarko.

      Setelah itu, muncul analisis tentang keterlibatan Amerika Serikat (AS), antara lain, melalui dinas rahasia mereka, CIA. Hanya lamat-lamat semasa Orde baru, versi kudeta merangkak pada masa Soeharto, dan semakin berkibar pada era reformasi. Tulisan ini menyoroti nasib orang atau institusi yang pernah dituding sebagai dalang kudeta berdarah tersebut dan siapa yang masih tersisa di antara mereka.

      (1) PKI

      PKI merupakan versi dalang yang pertama muncul langsung setelah diumumkan Gerakan 30 September 1965. Partai komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok yang mengklaim memiliki 4 juta anggota itu rontok dalam waktu satu-dua hari. Bila organisasi ini dianggap memberontak, nyaris tidak ada perlawanan dari para pengikutnya yang selama itu dianggap militan.

      Tanggal 12 Maret 1966, partai itu dibubarkan, walaupun jauh sebelumnya, dalam status resmi, para anggotanya telah dibunuh secara masal. Ribuan orang yang dicurigai anggota PKI atau ormas-ormasnya ditahan tanpa proses pengadilan. Tahun 1969, lebih dari 10 ribu dibuang ke Pulau Buru untuk kerja paksa. Setelah sepuluh tahun mereka dibebaskan atas desakan lembaga internasional dan negara pemberi utang.

      Dendam sejarah diperlakukan dengan bengis. Anak-anak mereka tidak boleh bekerja sebagai PNS/ABRI, guru, pendeta, dan pekerjaan strategis lainnya. Rezim penguasa menancapkan stigma keluarga kiri yang sangat buruk di tengah masyarakat. PKI telah lama ambruk dan tidak akan pernah bangkit lagi.

      (2) AD

      Pelaku Gerakan 30 September adalah perwira Angkatan Darat ditambah satu-dua orang dari angkatan lain. Mereka bersekongkol dengan segelintir anggota biro khusus PKI untuk menculik beberapa perwira tinggi yang ditengarai anggota Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta 5 Oktober 1965.

      Aksi yang dilakukan dengan ceroboh itu gagal. Enam jenderal Angkatan Darat tewas dan disusul terjadinya pembunuhan masal yang memakan korban lebih dari 500 ribu jiwa. Angkatan Darat di bawah pimpinan Soeharto tampil ke panggung politik setelah menyingkirkan Bung Karno.

      Sejak awal Orde Baru, kejayaan Angkatan Darat dimulai. Mayoritas gubernur adalah militer (yang dikaryakan), demikian pula bupati dan wali kota (dengan persentase yang kurang sedikit dari yang pertama). Lembaga legislatif dikuasai dengan menempatkan Golkar sebagai mesin peraup suara sekaligus pengontrol suara di parlemen. Ada tentara yang diangkat, di samping pada Golkar sendiri terdapat unsur A (ABRI).

      Namun, pada era reformasi, dominasi militer meredup. Dwifungsi ABRI dihapuskan. Perwakilan di lembaga legislatif ditiadakan. Bisnis tentara coba ditertibkan. Peluang militer untuk berpolitik diberikan bila mereka sudah pensiun atau bersedia pensiun. Purnawirawan dari presiden sampai menteri masih berperan, tetapi tidak atas nama institusi kemiliteran.

      (3) Presiden Soekarno

      Untuk meraih kekuasaan dari Presiden Soekarno, legitimasi dan karismanya harus dilenyapkan. Oleh sebab itu, diciptakan kondisi yang menggiring Bung Karno terseret dalam Gerakan 30 September. Soekarno tidak mau mengutuk PKI dan karena itu diartikan mendukung pelaku kudeta.

      Bukan hanya itu, perannya yang sangat menentukan dalam pembentukan dasar negara Pancasila diragukan. Presiden pertama RI ini dijatuhkan melalui manuver politik dan sejarah.

      Akhir hayat sang proklamator penuh derita berkepanjangan yang tidak selayaknya dialami seorang bapak bangsa. Dia meninggal karena tidak dirawat sebagaimana semestinya. Bukan hanya fisiknya yang diserang, tetapi juga pemikirannya. Hari lahirnya Pancasila dilarang sepanjang Orde Baru. Buku-buku Soekarno tidak dibolehkan beredar.

      (4) Jenderal Soeharto

      Dia adalah figur yang paling diuntungkan dalam Gerakan 30 September. Para seniornya telah meninggal dalam malam berdarah itu. Agak grogi menghadapi Presiden Soekarno, dia didukung seniornya, Jenderal Nasution. Setelah MPRS yang diketuai Nasution berjasa menjungkirbalikkan kursi kepresidenan Soekarno, Soeharto membalas jasa tersebut dengan air tuba. Nasution dilengserkan dari jabatan ketua MPRS pada 1972.

      Soeharto adalah pembangun dan perusak terbesar di Indonesia. Selama 30 tahun, dia membangun infrastruktur fisik yang tidak terhitung jumlahnya. Namun, bukan main pula besarnya kerusakan yang ditinggalkannya.

      Dia juga mewariskan utang yang tidak akan terbayar sampai anak cucu kita. Selain itu, terjadi kerusakan alam dan perekonomian yang mengalami krisis berkepanjangan hingga sekarang. Belum lagi, pelanggaran HAM berat yang terjadi sejak 1965 sampai 1998.

      Setelah dia meninggal, keluarganya ikut berantakan. Beberapa putra-putrinya terlibat dalam kasus dugaan korupsi dan keretakan rumah tangga. Secara spiritual, konon tuah Soeharto sudah hilang dengan lenyapnya "wahyu" beserta kematian istrinya pada 1996.

      (5) Amerika Serikat

      Berdasar arsip departemen luar negeri AS yang telah bisa diakses, keterlibatan negara adidaya ini dalam menghancurkan komunisme di Indonesia memang terbukti.

      Perwakilan AS di Jakarta memberikan uang Rp 50 juta kepada KAP (Komite Aksi Pengganyangan) Gestapu. Setelah itu, mereka memberikan bantuan pangan berupa beras karena Indonesia kehilangan ribuan petani yang tewas pada 1965.

      Bantuan "alat komunikasi" yang diduga sebagai senjata diberikan dalam jumlah besar. AS mengambil peran dalam menempatkan para Mafia Berkeley dalam posisi kunci pengambilan keputusan ekonomi Indonesia. UU Modal Asing dibuat dengan memanfaatkan konsultan negeri Paman Sam. Sumber daya alam Indonesia dikavling dalam pertemuan di sebuah kota di Eropa awal Orde Baru. Maka, tembaga, terutama emas dari Papua, dikuras. Belum lagi minyak dan gas dari pulau-pulau lain di Nusantara.

      Di antara beberapa dalang Gerakan 30 September yang melahirkan tragedi nasional 1965, semuanya telah rontok, kecuali Amerika Serikat. Walau kini mengalami krisis finansial di dalam negeri, di Indonesia mereka masih menentukan "hajat hidup orang banyak" dalam penguasaan sumber daya alam dan kebijakan.

      Inilah sebetulnya bahaya laten G-30-S yang masih tersisa dan perlu diwaspadai.

      Dr Asvi Warman Adam , sejarawan, ahli peneliti utama LIPI di Jakarta




      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.