Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

jurnal sairara: kepada saudara taufiq ismail [4]

Expand Messages
  • sangumang kusni
    Jurnal Sairara: Kepada Saudara Taufiq Ismail 4. MENCOCOKKAN DATA Selanjutnya dalam kerangka mencocokkan data ini pula, aku memasuki alinea kedua respons
    Message 1 of 1 , Jun 1, 2008
      Jurnal Sairara:


      Kepada Saudara Taufiq Ismail


      4.


      MENCOCOKKAN DATA


      Selanjutnya dalam kerangka mencocokkan data ini pula, aku memasuki alinea kedua "respons" bagian pertama Saudara Taufiq Ismail yang berbunyi sebagai berikut:


      "Untuk pertama kalinya Asrul Sani dan saya akan berhadapan dengan Pramoedya Ananta Toer dan (penyair Lekra) Putu Oka Sukanta. Dua hari sebelumnya tiba-tiba Asrul Sani sakit dan Putu Oka berhalangan. Asrul digantikan (dosen sosiologi) Imam Prasodjo dan Putu Oka digantikan (sastrawan) Martin Aleida. Rocky Gerung, mahasiswa kekiri-kirian yang jadi moderator sejak awal sudah terasa selalu berusaha memojokkan saya. Dia tidak berhasil".


      Sebagai data, apakah data yang tertera di alinea ini akurat?



      Untuk menjawab pertanyaan ini, sekaligus untuk check dan recheck data, hingga bisa diketahui dan didapatkan keadaan relatif sesungguhnya , maka izinkan aku mengutip surat listrik Putu Oka yang disiarkan oleh milis wahana-news yang lengkapnya sebagai berikut [dengan koreksi salah ketik dari JJK]:


      "Saudara Taufiq, saya tidak pernah menerima Undangan seperti yang Saudara informasikan. Sebenarnya pertemuan seperti yang dimaksud sangat saya nantikan. Lain kali tolong pastikan apakah Undangan sudah sampai ke tangan saya atau belum, siapa yang mengirim dan ke alamat mana dikirim.


      Mengenai ide dan usaha rekonsiliasi adalah usaha yang perlu direalisasi bersama dalam kesetaraan derajat dan martabat. Sudah saya lakukan itu walaupun kecil-kecilan di wilayah yang bisa saya jangkau.. Secara politis saya masih dikerangkeng dengan beberapa peraturan yang diskriminatif. Bisakah rekonsiliasi dilakukan antar dua orang/kelompok yang masih dipisahkan oleh peraturan yang memposisikan mereka berbeda di hadapan hukum? Secara kultural/ persahabatan antar sesama, sudah banyak yang bisa dilakukan. Tetapi secara politis, harus ada pengguguran peraturan yang diskriminatif itu. Pemerintah R.I. tidak melakukan itu, sementara persahabatan antar sesama ( yang bebeda di masa lalu, mungkin sampai sekarang) sudah terjadi secara individual. Dengan demikian, siapapun yang menginginkan rekonsiliasi secara total harus bersama juga mendesak pemerintah untuk mencabut aturan-aturan yang diskriminatif tersebut.

      Hati lapang menciptakan jembatan cahaya.

      Salam
      Putu Oka"

      [Sumber: wahana-news@yahoogroups.com, 26 Mei 2008]


      Surat listrik [sulis] Putu Oka ini, kalau pemahamanku benar, juga menyambut uluran tangan rekonsiliasi dari Saudara Taufiq sambil sekaligus mengajukan usul kongkret bagaimana mengujudkan hasrat agung rekonsialisi sehingga keinginan tersebut tidak mengambang. Dari keinginan Saudara Taufiq dan surat Putu Oka ini, aku melihat bahwa apa-bagaimana pun perbedaan pandangan dan sikap antar sastrawan-seniman, nampak ada satu titik temu. Mengapa tidak halangan-halangan yang muncul sebagai tinggalan masa silam dan perbedaan pandangan serta sikap -- jika benar ada dan memang ada -- ditanggulangi bersama dengan "hati lapang" jika menggunakan istilah Putu Oka agar bisa berhasil sampai ke tujuan: rekonsialisasi sesama anak bangsa dan negeri demi kepentingan bangsa, negeri dan kemanusiaan. "Kemanusiaan yang tunggal" jika menggunakan istilah folosof Perancis, Paul Ricoeur alm. Keinginan untuk mewujudkan rekonsialisasi ini pun juga terdapat pada Pramoedya Antara Toer dan Martin Aleida
      seperti yang dituliskan sendiri oleh Saudara Taufiq Ismail dalam kata-kata: "Pramoedya Ananta Toer dan Martin Aleida menyambut baik ajakan kami. Saya mengulurkan tangan kepada Pram, dan dia menjabat tangan saya erat-erat. Saya gembira sekali".


      Jika demikian, maka masalahnya barangkali terletak pada bagaimana secara kongkret mewujudkan "rekonsiliasi" dan "perdamaian total" itu? Akan sangat menarik dan berguna jika Saudara Taufik Ismail bisa dengan murah hati menawarkan langkah-langkah usulan bagaimana secara nyata melangkah ke tujuan ini, senyata yang dilakukan oleh sobatku Andi Makmur Makka dari The Habibie Center, Jakarta. Kukira bukan hanya aku, si kroco di dunia sastra ini, saja yang menunggu usulan kongkret Saudara Taufiq Ismail. Apalagi dalam "respons"nya kepadaku Saudara Taufiq Ismail telah menulis: "Saya menyarankan perdamaian total, lebih maju selangkah ketimbang rekonsiliasi. PERDAMAIAN TOTAL. Rantai dendam yang membelit bangsa itu harus segera dipotong habis". Saran yang ditutup dengan motto bahwa "“Bangsa yang Waras, Bangsa yang Memotong Rantai Dendam”.


      Bolehkah motto Saudara Taufiq Ismail ini dibikin varian dengan mengatakan bahwa "Sastrawan-seniman yang Waras, Sastrawan-seniman yang Memotong Rantai Dendam" juga? Sastrawan-seniman yang mampu hidup dengan kebhinekaan -- kenyataan yang terdapat di mana pun? Sebagai orang yang menghargai pandangan dan sikap Saudara Taufiq Ismail, sebagai suatu hak dasar tak tergugat, aku sungguh menunggu usul-usul dan langkah-langkah kongkret dari Saudara Taufiq Ismail ke jurusan "Persamaian Total", yang beliau sarankan sendiri sebagai "lebih maju selangkah ketimbang rekonsialisi". Dengan daya pikir dan kemampuan si kroco, aku sendiri akan mencoba sebisaku mengajukan saran-saran setelah selesai dengan keterangan-keteranganku tentang rupa-rupa soal dalam usaha "mencari kebenaran dari kenyataan".


      Saudara Taufiq Ismail yth.,

      Perkenankan aku mengomentari apa yang Saudara tulis tentang Putu Oka. Tentang syohib sejak remajaku ini Saudara menulis di dalam tanda kurung "(penyair Lekra) Putu Oka Sukanta".


      Membaca cara Saudara memperkenalkan Putu Oka sebagai "penyair Lekra" membuatku tersenyum. Mengapa? Sebab bagiku penyair ya tetap penyair, apa bagaimana pun pandangan sikap hidupnya dan pandangan serta sikapnya sebagai penyair dan anak manusia. Aku mencoba mencoba memahami Saudara semaksimal mungkin bahkan membaca dengan penuh antusias dan penuh perhatian biografi Saudara yang sudah diterbitkan oleh Gramedia.


      Cara Saudara memperkenalkan Putu Oka ini mengingatkan aku akan sikap sejarawan sastra Perancis ketika sampai pada kasus Ferdinand Celine, penulis roman "Au But de la Nuit". Celine terkenal sebagai seorang yang secara pemikiran pro fasisme Hitler yang pernah menduduki Perancis. Debat terjadi: Apakah Celine dimasukkan dalam sastra Perancis atau tidak? Kesimpulan diskusi: suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju dengan orientasi Celine, Celine itu ada dan ia penulis Perancis. Sejarah niscayanya setia pada kenyataan. Apakah demikian sikap kita terhadap para sastrawan-seniman yang bergabung di Lekra? Aku khawatir bahwa "there is something wrong in the state of Denmark" sejarah sastra berbahasa Indonesia sampai hari ini. Aku akan senang sekali, jika Saudara bisa mengkoreksi pandanganku jika keliru bahkan salah. Pelarangan terhadap karya-karya para penulis yang bergabung dalam Lekra sampai sekarang masih saja belum dicabut oleh pemerintah. Barangkali ini jugalah yang
      dimaksudkan oleh Putu Oka dengan "Tetapi secara politis, harus ada pengguguran peraturan yang diskriminatif itu". Bagaimana pandangan dan sikap Saudara Taufiq Ismail tentang hal ini ketika Saudara menulis: "Saya menyarankan perdamaian total, lebih maju selangkah ketimbang rekonsiliasi. PERDAMAIAN TOTAL. Rantai dendam yang membelit bangsa itu harus segera dipotong habis". Saran yang ditutup dengan motto bahwa "“Bangsa yang Waras, Bangsa yang Memotong Rantai Dendam”? Rasa ingin tahu dan bagaimana kita masing-masing berusaha menghargai kata-kata kita sendiri, mendorongku menulis pertanyaan ini?


      Mengenai "Rocky Gerung, mahasiswa kekiri-kirian yang jadi moderator sejak awal sudah terasa selalu berusaha memojokkan saya. Dia tidak berhasil", bagiku tidak relevan untuk memberikan komentar. Dan tidak bersentuhan dengan soal hakiki yang besar, yaitu soal rekonsiliasi dan "perdamaian total" yang Saudara katakan "lebih maju selangkah ketimbang rekonsiliasi".


      Tuturan Saudara Taufik Ismail tentang Rocky Gerung, yang belum kukenal sampai sekarang, dalam konteks ini, kuanggap tidak lebih sebagai ilustrasi saja, sehingga bisa kuabaikan. Istilah "kekiri-kiran", kalau pengetahuanku benar, pertama kali digunakan oleh Lenin dalam salah sebuah karyanya "Kekiri-kirian, Penyakit Kekanakan" ketika mengkritik anggota Partai Komunis Russia . Aku tidak percaya bahwa Rocky Gerung adalah seorang anggota PKI yang sudah dinyatakan terlarang oleh Orba. Tentu saja istilah "kekiri-kirian" bisa diterapkan pada konteks lain. Hanya dalam konteks Rocky Gerung, apakah tidak ada istilah yang lebih kena lagi? Saudara Taufik Ismai oleh Rocky Gerung "[...] terasa selalu berusaha memojokkan saya. Dia tidak berhasil". Aku dan teman-temanku? Kami dikejar-kejar, di penjara, dibuang ke pulau pembuangan, menjadi eksil, disiksa dan dibunuh, hilang tak tentu rimba dan lautnya. Karya-karya kami secara resmi masih dinyatakan terlarang. Aku menghormati kehandalan
      Sauara berkelit dari "usaha memojokkan" Saudara. Tapi sekali lagi soal ini, kukira tidak lebih dari suatu ilustrasi pada tulisan dan "respons" Saudara.


      Sekarang aku memasuki alinea ketiga dan keempat "respons" bagian pertama Saudara Taufiq Ismail, yang berbunyi sebagai berikut:


      "Saya menyiapkan diri dengan literatur baru untuk diskusi itu. Percuma. Tak ada gunanya. Pram berbicara dengan istilah-istilah kuno tahun 1960-an ”tujuh setan desa, tiga setan kota, tuan tanah, sama rata sama rasa, kapitalis birokrat” dan seterusnya. Diskusi ideologi timpang dan tak bermakna. Saya tercengang. Pengarang besar ini tak punya pengetahuan tentang Marxisme-Leninisme yang berarti dan dapat diukur dengan jengkal tangan kanan. Saya tak merasakan getaran, sengatan setrum ideologi Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme dari diskusi itu, seperti yang saya rasakan bila berdiskusi dengan orang-orang Palu Arit tulen yang pernah saya alami. Pram bukan komunis."


      "Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, difasilitasi ini-itu, diangkut ke seberang garis menyertai apel barisan PKI, terpaksa ikut menderita dalam pembuangan, dan ternyata tetap saja tidak in dalam ideologi ini sama sekali. Ternyata Lekra tak berhasil menjadikannya komunis. Dia Pramis, seperti pengakuannya sendiri, dan dia betul. Pram terlampau individualistik, egosentrik dan keras hati untuk jadi pion partai mana pun. Palu Arit cuma memerlukan nama besar Pram untuk baliho Lekra/PKI, mengeksploitirnya sebagai tokoh pengisi billboard iklan produk ideologi kiri di tepi jalan raya tol kesusasteraan Indonesia. Untuk itu PKI berhasil, juga KGB (Komunis Gaya Baru) Indonesia abad 21 ini."



      Paris, Mei 2008
      ----------------------
      JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.


      [Bersambung .....]


      ---------------------------------
      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now! /a

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.