Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

Expand Messages
  • thongshampah
    ... Bung JJ Kusni yang baik. Maafkan Thongshampah jika berbahasa Indonesia kurang baik dan benar ketika menulis di cyber space. Tulisan tersebut adalah bagian
    Message 1 of 25 , Jan 1, 2007
      --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, sangumang kusni <meldiwa@...>
      wrote:
      > Untuk menjelaskan pendapatnya Ulysee mengutip tulisan penulis yang
      menggunakan nama pena Otong:
      > >

      Bung JJ Kusni yang baik.
      Maafkan Thongshampah jika berbahasa Indonesia kurang baik dan benar
      ketika menulis di cyber space. Tulisan tersebut adalah bagian dari
      jurus gebuk, yang memang jauh dari kaidah berbahasa yang benar. Jika
      menggunakan tatabahasa yang baik dan benar, diskusi itu berlangsung
      lambat, sementara lawan Thongshampah menggunakan no rule, yang mana
      segala caci maki bon bin keluar semua. Indonenglish Thongshampah
      gunakan untuk mempercepat ritme, tanpa menghilangkan jati diri bahasa
      Indonesia itu sendiri. Coba bayangkan jika orang Jawa Keraton, maki
      makian dengan orang Batak.

      Di bawah ini adalah tulisan di Kompas tanggal 16 Desember 2006.
      Mungkin tulisan di bawah ini bisa menjawab kegundahan anda.
      Terima kasih atas koreksi nya.

      Thongshampah
      Kay Pang Pangcu
      ++++++

      "INDONENGLISH"
      Karena Sihir Bahasa Indonesia
      Maman S Mahayana
      Bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia, sudah sejak
      lama mengandung dan mengundang sihir. Ia menyimpan kekuatan magis.
      Siapa pun yang berhubungan intim dengannya, bakal terjerat pesona.
      Menggaulinya laksana menggerayangi sosok tubuh yang penuh misteri.
      Semakin mengenal seluk-beluknya, semakin ingin mengungkap daya
      pukaunya. Di situlah, bahasa Indonesia sebagai saluran ekspresi.
      Ketika bahasa etnik mampat dan gagal menjadi alat komunikasi yang
      dapat dipahami etnik lain, ketika itulah bahasa Indonesia tampil
      sebagai pilihan.
      Bagi siapa yang lahir dan dibesarkan dalam kultur etnik, bahasa
      Indonesia ibarat doa pengasihan yang mengerti hasrat kreatifnya. Ia
      membebaskan beban linguistik etnisitas, sekaligus juga membuka ruang
      penerimaan kultur dan bahasa lain, meski kemudian dipandang sebagai
      perilaku menyerap unsur asing atau daerah. Akulturasi seperti itu
      terjadi begitu saja, alamiah.
      Bahasa Indonesia menjelma produk budaya yang paling toleran,
      akomodatif, luwes, egaliter demokratis, bahkan juga cenderung
      liberal. Itulah kekuatan magis bahasa Indonesia. Dari sanalah ia
      memancarkan sihirnya. Dari Melayu awalnya.
      Sejak kedatangan bangsa Portugis yang terpukau keindahan bahasa
      Melayu pada abad ke-14, tarik-menarik antara bahasa asing dan bahasa
      Melayu dalam dunia pendidikan dan administrasi pemerintahan selalu
      pemenangnya jatuh pada bahasa Melayu. Dalam Itinerario (1596),
      Linschoten—misionaris yang bergelandang di pelosok Nusantara—
      membandingkan bahasa Melayu seperti bahasa Perancis sebagai orang
      Belanda. "Pada akhir abad ke-16, bahasa Melayu telah demikian maju
      sehingga menjadi bahasa budaya dan perhubungan".
      Dikatakan A Teeuw (1994), "Setiap orang yang ingin ikut serta dalam
      kehidupan antarbangsa dikawasan itu mutlak perlu mengetahui bahasa
      Melayu."
      Jauh sebelum itu, bahasa Melayu pernah begitu reputasional, yang di
      Nusantara berhasil membangun peradaban lewat keagungan Hindu, Buddha,
      dan Islam. Jaringan diplomatik dengan pusat-pusat kebudayaan di
      India, Parsi, Tiongkok, dan negara-negara Eropa menempatkan bahasa
      Melayu begitu populis, sekaligus elitis. Berbagai prasasti, surat-
      surat emas, dan naskah-naskah berbahasa Melayu menunjukkan bukti-
      bukti itu.
      Pesona bahasa Melayu telanjur kokoh sebagai lingua franca dan alat
      masyarakat merepresentasikan keberaksaraan, bahkan juga
      kebudayaannya. Maka, masuknya unsur bahasa etnik dan bahasa asing,
      bagi bahasa Melayu, seperti tabungan deposito yang berkembang bunga-
      berbunga. Bahasa-bahasa etnik di Nusantara dan bahasa asing itu
      memberi sumbangan dan menambah kekayaan kosakata bahasa Melayu.
      Pemilihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia (28 Oktober 1928),
      meski awalnya berbau keputusan politik, dalam perkembangannya tak
      terelakkan jadi ekspresi kultural. Begitu juga penyelenggaraan
      Kongres Bahasa Indonesia I di Solo (1938), menunjukkan kedua aspek
      itu: kepada pemerintah kolonial, kongres sebagai gerakan politik, dan
      kepada masyarakat non-Melayu di Nusantara, sebagai gerakan
      kebudayaan.
      Maka, setelah itu Undang-Undang Dasar 1945 mencantumkan bahasa
      Indonesia sebagai bahasa negara, yang terus menggelinding itu, adalah
      gerakan kultural. Sejak itulah, secara arbitrer bahasa Indonesia
      menyihir segenap etnis memasuki wilayah kultur keindonesiaan.
      Keberagaman para pemakainya seolah- olah tetap di simpan dalam kotak
      etnik, dan perasaan kebangsaan dimanifestasikan lewat ekspresi bahasa
      Indonesia.
      Sihir bahasa Indonesia
      Usia bahasa Indonesia kini menjelang sepuluh windu. Rentang usia yang
      bagi manusia makin ringkih digerogoti kerentaan, kepikunan, dan
      serangan berbagai penyakit tua. Tetapi bahasa (Indonesia) adalah
      produk kebudayaan. Ia tak bakal mengalami kerentaan itu. Ia akan
      terus hidup selama tetap digunakan pemakainya dan tidak kehilangan
      pendukungnya. Bahasa Indonesia bergerak dinamis mengikuti zaman dan
      selalu akan menyesuaikan diri sejalan dengan perkembangan
      masyarakatnya.
      Kini bahasa Indonesia makin deras disusupi kosakata bahasa Inggris.
      Apakah itu berarti telah terjadi pencemaran? Jika dianggap polusi,
      apakah akan berakibat buruk bagi perkembangan bahasa Indonesia
      sendiri yang ekornya akan memudarkan sendi-sendi nasionalisme? Tentu
      saja tidak. Justru itulah manifestasi sihir bahasa Indonesia yang
      inklusif, terbuka, toleran, luwes, dan akomodatif.
      Jadi, sungguh tak senonoh jika ada pihak-pihak yang kelewat
      mencemaskan perjalanan hidup bahasa Indonesia, hanya lantaran
      rentetan kosakata bahasa Inggris berloncatan di depan mata. Dalam
      konteks ini, menempatkan diri sebagai polisi secara berlebihan akan
      berakibat pada terjadinya serangkaian pemasungan kreatif.
      Sebagaimana yang terjadi dalam bahasa Inggris, dialek—bahkan juga
      idiolek—muncul di mana-mana. Kosakatanya merembes dan nongkrong
      seenaknya di antara kosakata bahasa-bahasa negara lain, seolah-olah
      ia sudah menjadi warga negara sendiri. Kini, kosakata bahasa Inggris
      secara laten diambil, diterima, dan digunakan tanpa ada rasa rikuh.
      Masuknya kosakata bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, juga
      sudah terjadi sejak lama sejalan dengan penerimaan kosakata bahasa
      asing lainnya. Maka, ketika ia sebagai bahasa Indonesia, seketika
      kita lupa pada asal-usulnya.
      Perhatikan contoh kalimat ini: Menurut kalkulasi primbon jawa dan
      perhitungan fengsui, kursi, meja dan komputer itu seyogianya
      diletakkan menghadap jendela tanpa kaca, agar sirkulasi udara dapat
      menerobos masuk ruangan. Semua kata yang dicetak miring dalam kalimat
      itu bukan berasal dari bahasa Melayu. Di sana, ada serapan dari
      bahasa Jawa (menurut, primbon, menerobos), Inggris (kalkulasi,
      sirkulasi), Minangkabau (diletakkan), Kawi (menghadap, masuk),
      Perancis (komputer), Portugis (meja, jendela, kaca), China (fengsui),
      Arab (kursi), dan Sanskerta (tanpa, seyogianya). Jika masih tak
      yakin, cermati Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka di sana kita akan
      menjumpai lebih dari separuh entri dalam kamus itu berasal dari
      bahasa daerah dan bahasa asing. Itulah sihir bahasa Indonesia,
      menerima serapan dari berbagai bahasa, dan kita enteng saja
      mengungkapkannya tanpa dihantui kecemasan, tanpa merasa tercemar.
      Sikap bijaksana
      "Bahasa menunjukkan bangsa!" begitulah inklusivisme bahasa Indonesia
      merupakan representasi sikap bangsanya yang inklusif. Munculnya
      fenomena bahasa indonenglish dalam iklan dan ruang-ruang publik,
      menunjukkan sikap pemakainya yang gemar memamah apa pun yang berbau
      asing, sekaligus juga sebagai manifestasi selera dan orientasi
      budayanya yang setengah matang.
      Munculnya fenomena itu, patutlah disikapi secara bijaksana tanpa
      harus menempatkan diri sebagai polisi bahasa yang ke mana pun selalu
      membawa pentungan antihuru-hara. Bukankah bahasa yang berkembang di
      masyarakat (awam) berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam dunia
      pendidikan dan kehidupan pers?
      Jadi, biarkanlah semua berjalan sesuai dengan kodratnya, sesuai
      dengan dinamika masyarakat dan aturan mainnya sendiri. Biarkanlah
      bahasa Indonesia tetap memancarkan sihirnya, meski sihir itu
      diterjemahkan secara berbeda oleh setiap kelas sosial.
      Maman S Mahayana Pengajar FIB UI, Menetap di Depok
    • Ulysee
      Hihihihi, tersindir nih. Soalnya emang gue kalau nulis di milis tuh bahasa belepotan segala istilah inggris, sunda, betawi kecampur campur. Tapi kalem deh JJ
      Message 2 of 25 , Jan 1, 2007
        Hihihihi, tersindir nih.
        Soalnya emang gue kalau nulis di milis tuh bahasa belepotan segala
        istilah inggris, sunda, betawi kecampur campur.

        Tapi kalem deh JJ Kusni, jangan segitu senewennya urusan bahasa gue
        yang berantakan, sebab dalam forum yang resmi donk gue nggak mungkin
        pake gaya bahasa preman pasar kayak begini, huehuehuehue. Misalnya
        kalau gue bikin thesis, bikin buku, ya gaya bahasa disesuaikan donk.
        Tapi kalau gue ngarang chicklit pake gaya bahasa baku.. Wah bisa bisa
        nggak laku. Hihihihihi.

        Kalau di milis, well tujuan gue mah menjalin keakraban dan sharing
        thoughts (nah, belepotan lagi khan)
        maka intinya hanya "you know I know lah"
        kau tahu yang kumau, begitu saja, cukup.

        Inti komunikasi sebetulnya itu khan? Kayaknya dalam berkomunikasi yang
        penting adalah menyampaikan maksud,
        bukan soal pake bahasa apa. Bahkan pake bahasa tarzan pun jadi. Ya toh?
        Hihihihi.

        Mencoba menggulirkan bola diskusi, gue jawabin dulu tuh pertanyaan
        pertanyaan Jeje
        1) perlu tidak kita memiliki kesadaran berbahasa nasional

        UL: ya perlu dooonk. Itu bahasa nasional khan bahasa persatuan kita.
        Tanpa kesadaran untuk menggunakannya, bisa runyam urusan komunikasi
        antar daerah. Misalnya, kalau mentang mentang gue orang Bandung, gue
        maunya ngomong bahasa Sunda, bagaimana gue bisa komunikasi sama si
        propesol Ge Te El yang tahunya bahasa jawa, heheheh.
        Jadi Bahasa Nasional itu MUTLAK perlu. Dan berarti masih wajib dipake
        dalam kurikulum sekolah lhoh.

        2) bagaimana kita memperlakukan bahasa nasional Indonesia

        UL: Gue mempertanyakan siapa yang dimaksud KITA dalam kalimat diatas
        itu. Gue ngga tahu deh kalau urusan KITA, yang gue tahu gue
        memperlakukan bahasa Indonesia dengan semestinya. Hehehe. Maksudnya
        kalau di acara formal dan resmi, ya pake bahasa Indonesia yang baku.
        Tapi kalau lagi ngobrol sesame anak muda ya pake bahasa prokem lah.

        3) sampai sekarang bagaimana kita memperlakukan bahasa nasional
        kita?

        UL: Ini pertanyaan dua dan tiga bedanya apa sih? Hihihihi.

        Terus Je, lanjut ke pertanyaan berikut Je. Next question pliiiizzzz.



        -----Original Message-----
        From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
        On Behalf Of sangumang kusni
        Sent: Monday, January 01, 2007 9:07 AM
        To: tionghoa
        Subject: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

        <skip>
        Barangkali karena posisi bahasa seperti di atas, maka dalam penulisan
        skripsi, apalagi tesis [terutama ilmu-ilmu sosial], masalah istilah
        sangat mendapat perhatian. Pentingnya soal istilah ini, lebih sangat
        terasa dalam ilmu filsafat, hukum, dan politik [diplomasi]. Juga dalam
        puisi. Karena itu, jika kita amati, draf-draf puisi yang ditulis tangan,
        selalu kita dapatkan betapa rancangan puisi itu penuh dengan
        corat-coret. Bahkan sering satu bait dicoret sepenuhnya oleh sang
        penyair. Pencoretan ini memperlihatkan padaku, betapa penyair bergulat
        dengan kata-kata. Mencoba semaksimal mungkin mendapatkan puitisitas
        maksimal dalam artian yang utuh.

        Pada sejarah bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional pun, aku melihat
        bagaimana bahasa itu digunakan sebabagai alat indoktrinasi dan
        penindasan, dan oleh contre elite [elite tandingan], atau "arus bawah",
        bahasa pun dijadikan juga sebagai senjata perlawanan serta pembebasan.
        Misalnya, pemimpin-pemimpin gerakan kemerdekaan nasional pada tahun
        '45-an oleh pemerintah kolonial Belanda disebut "teroris", sementara
        penulis menyebut gerilyawan kemerdekaan nasional sebagai "koboi-koboi",
        kebudayaan Dayak disebut sebagai "ragi usang", sekolah-sekolah
        nasionalis disebut sebagai "sekolah liar". Sementara kaum gerakan
        menyebut mereka sebagai pemimpin pejuang kemerdekaan, "koboi-koboi"
        adalah pejuang kemerdekaan, "sekolah liar" adalah sekolah patriotik dan
        nasionalis. Belanda menganggap agresinya terhadap Republik Indonesia
        sebagai "aksi polisionil", sedangkan pihak Republik Indonesia yang
        beribukota di Yogya, memandangnya sebagai "agresi militer". Dari segi
        ini, aku kemudian
        melihat dan kalau disimak benar, bahwa bahasa dan istilah-istilahnya
        mempunyai tautan erat dengan keadaan sosial, politik dan ekonomi pada
        suatu periode sejarah suatu bangsa.

        Tulisan ini bermaksud mempertanyakan perlu tidaknya kita memiliki
        kesadaran berbahasa [berbahasa nasional] dan jika dirasakan perlu,
        bagaimana kita memperlakukan bahasa nasioal: Indonesia. Pertanyaan
        berikutnya: Sampai sekarang, bagaimana kita memperlakukan bahasa
        nasional kita? ***

        Paris, Januari 2007.
        --------------------------
        JJ. Kusni




        [Non-text portions of this message have been removed]
      • Ulysee
        Setuju Bli Putu. Yang gue setujui kaga gue bawa lagi yeh, biar irit bandwidth. Gue mau nimpalin yang di bawah situ aja tuh. Menurut gue mah, bagi sastrawan
        Message 3 of 25 , Jan 1, 2007
          Setuju Bli Putu. Yang gue setujui kaga gue bawa lagi yeh, biar irit
          bandwidth.

          Gue mau nimpalin yang di bawah situ aja tuh.

          Menurut gue mah, bagi sastrawan atau seniman bahasa,
          kosa kata yang digunakan itu lebih butuh KESAN YANG DITIMBULKAN daripada
          sekedar membuat kalimat.

          Tapi kalau buat poltikus, nah kata kata itu perlu untuk menggiring
          orang kepada suatu kesimpulan tertentu.

          Berita di Koran. Harus lain lagi gaya bahasanya. Mestinya singkat padat,
          namun jelas maksudnya langsung sampai pada sasaran. Kosa katanya juga
          tergantung target market korannya. Kalu Koran Pos Kota pake kata kata
          intelek kayak Kompas, bisa nggak nyambung dunks ama yang baca, hehehe.

          Eh tapi soal perkembangan bahasa Indonesia ya, gue sih bangga tuh sama
          perkembangan bahasa kita, sampai ke yang prokem prokemnya. Soalnya
          kreatif banget gitu hloh. Pasalnya pernah gue banding bandingin sama
          bahasa melayu yang di Malaysia. Khan serumpun gitu. Tapi yang sana kok
          ya kayaknya mandeg gitu. Kata kata serapan dari bahasa Inggrisnya kayak
          langsung adopsi tanpa dipoles lagi. Kalau bahasa Indonesia kayaknya
          masih punya karakter yang jelas gitu lhoh. Unik.

          Dan nyentrik tuh bahasa prokemnya, kyahahaha.

          Pikiran gue masih nyangkut di istilah “rumah sakit bersalin” dan “rumah
          korban laki laki”, hihihi.
          Itu istilah masih berlaku nggak sih….
          Mana tuh penghuni Malaysia. Cie Beckyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy….
          Itu istilah masih dipake nggak disana? Huehuehue.


          -----Original Message-----
          From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
          On Behalf Of Budiastawa
          Sent: Monday, January 01, 2007 10:01 AM
          To: tionghoa-net@yahoogroups.com
          Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

          <skip>
          Akan tetapi, bagi seorang sastrawan atau seniman bahasa, kata-kata baru
          dan unik seakan menjadi kebutuhan primer dalam perbendaharaan
          pribadinya. Makanya sering kali kita "tidak nyambung" dalam memahami isi

          yang terkandung dalam hasil karyanya. Apalagi hasil karya sastra yang
          berbentuk puisi, semakin indah akan terlihat semakin ruwet untuk
          dimengerti. Berbeda dengan karya sastra yang bebentuk prosa, bentuk ini
          lebih banyak menggunakan tata bahasa yang baik dan benar dan mudah
          dimengerti.

          Jadi, yang berperan dalam perkembangan, pembentukan, dan pelestarian
          bahasa adalah para sastrawan, penulis, dan seluruh pemakai bahasa itu
          sendiri.

          Mungkin ada yang dapat menambahkan?

          Salam Damai,
          Putu Budiastawa

          sangumang kusni wrote:
          >
          > Surat Kembang Kemuning:
          >
          >
          > TENTANG KESADARAN BERBAHASA
          >
          > Penulis yang menggunakan nama pena Ulysee pada tanggal 30 Desember
          > 2006 menulis di milis tionghoa-net@ yahoogroups. com:
          >
          > [...] ati ati lhoh, Freethinker sama Atheist beda hloh!!!. Free
          > thinker juga bukan berarti agnostic hloh"
          >
          > Kemudian penulis lain yang menggunakan nama pena Putu Budi, dalam
          > milis yang sama [31 Desember 2006] menulis:
          >
          > " putubudi:
          > Bung Suryana, demikianlah yang saya kutip dari buku tsb, yang mana
          > buku itu ditulis oleh empat ahli hukum kita. ip mun saya sudah mencari

          > di KBBI; Nasionalisme = ajaran untuk mencintai bangsa sendiri.
          > Nasionalis = pecinta bangsa dan negeri sendiri; orang yang
          > memperjuangkan dan membela kepentingan bangsa dan negara. Jadi, karena

          > di dalam negara yang berideologi Komunis hanya ada partai tunggal,
          > kepentingan partai akan tumpang tindih dengan kepentingan bangsa dan
          > negara. Bahkan hanya terlihat semata-mata semuanya hanya demi
          > kepentingan partai. Karena kalau memang memikirkan kepentingan bangsa
          > secara luas, sudah pasti mereka akan menghargai adanya perbedaan
          > pendapat dan oposisi sebagai korektor dan penyearah tujuan bangsa".
          >
          > Untuk menjelaskan pendapatnya Ulysee mengutip tulisan penulis yang
          > menggunakan nama pena Otong:
          >
          > " Back to the topic, free thinker itu kata dasarnya " the thinker" yg
          > oleh Auguste Rodin diwujudkan dalam patung Le Penseur. Pada fase awal,

          > para free thinker ini mengandalkan logika, ratio dan ilmu pengetahuan
          > semata, sehingga di bidang religi muncullah kaum freethinker yang anti

          > teori teori penciptaan (creationism) dan menentang konsep Ketuhanan
          > itu sendiri, sehingga menjadikannya atheist / agnostik. Sementara di
          > bidang kehidupan material, lahirlah pemikir pemikir yg juga free, Karl

          > Marx di kiri dan Adam Smith-Keynesian di kanan yg selanjutnya membagi
          > dunia menjadi dua blok.
          >
          > Namun dalam perkembangan selanjutnya, muncul aliran baru free thinker,

          > yg berpikir bukan hanya menggunakan otak, tetapi juga memadukan
          > perasaan dan etika sehingga muncul freethinker freethinker humanist.
          > Dan ini memperkaya khasanah freethinker society itu sendiri. Istilah
          > freethinker pun lalu menjadi trend persis kayak posmo. Di bidang
          > religi, bagi kaum freethinker, sebagai puncak tertinggi dari pencarian

          > bentuk itu sendiri adalah tanpa bentuk. Sehingga Buddha dan Jallaludin

          > Rummi juga disebut freethinker. Kaum freethinker barat umumnya tidak
          > menerima Creationism dan konsep ketuhanan Jesus, tetapi juga tidak
          > jatuh ke dalam atheist / agnostik sebab mereka menempatkan "ratio dan
          > cinta kasih" yg nota bene ajaran Jesus sbg pegangan.
          >
          > Dalam kehidupan material, the thinker model Noam Chomsky, Joseph
          > Stiglitz, El Fisgon yang anti freemarket / globalisasipun bermunculan,

          > mengimbangi Thomas L Friedman, Kotler, Huntinton yg
          > Illuminati/Freemaso n. Dan pemikir bebas ini juga disebut freethinker
          > oleh pengagumnya. Jadi spectrum dan aliran freethinker itu luas
          > sekali. Mulai dari konservative, moderate sampai ultra neolib. Dari
          > kaum atheist/agnostik sampai kaum sufi semua mengaku free thinker.
          > Begitu juga kaum ultra kapitalist model Thomas L Friedman cq Rizal
          > Malarangeng sd yang humanist leftish model Noam Chomsky - David C
          > Korten, semua di aku free thinker".
          >
          > Dari kutipan-kutipan di atas -- minta maaf, atas sitatanku yang sangat

          > panjang! -- kudapatkan suatu hal yang menarik. Hal menarik itu bahwa
          > pada para penulis yang kusitat itu, nampak ada usaha cermat dalam
          > berbahasa, terutama menggunakan istilah. Misalnya membedakan
          > pengertian "freethinker" dengan "atheist", merumuskan apa yang ia
          > maksudkan dengan "nasionalisme" , "nasionalis" . Hal begini, aku lihat

          > juga dari penggunaan [entah sadar atau tidak!] kata "penyearah" dari
          > seseorang yang menggunakan nama pena Budi Budi.
          >
          > Usaha merumuskan istilah-istilah yang digunakan dan menggunakan
          > istilah-istilah ini secara sadar, kuanggap sebagai bagian dari
          > kesadaran dan usaha berbahasa "secara baik dan benar". Dari pemakaian
          > kata "penyearah", aku melihat bahwa Putu Budi mencoba selain ada
          > kesadaran menggunakan istilah-istilah , juga ada kesadaran
          > memperhatikan gramatika [tahabahasa] dan dari kesadaran gramatika ini,

          > ia mencoba menciptakan kata jadian baru untuk mengungkapkan diri.
          > Kesadaran bertatabahasa [sekali pun para penyair dilonggarkan oleh
          > "kebebasan puitika", mereka tetap tidak bisa menciptakan tatabahasa
          > sendiri di luar dari keumuman yang berlaku dan setujui sepanjang
          > waktu], aku kira sangat penting untuk berusaha semaksimal mungkin
          > memersiskan ide dan perasaan yang kita ungkapkan. Dalam debat ide,
          > karya tulis, dan pembicaraan, penggunaan istilah yang tepat untuk
          > suatu pengertian yang mau disampaikan, penggunaan awalan, akhiran dan
          > sisipan untuk mencitapkan katajadian, sangat
          > berpengaruh jika kita mengharapkan lahirnya hubungan komunikatif dan
          > lancar. Sedangkan mengenai isi perumusan, kukira merupakan pintu
          > terbuka bagi lalulalang pelengkapan, penyempuranaan atau pun koreksi.
          > Pintu ini terbuka jika kita tidak memutlakkan diri sendiri sebagai
          > penguasa dan pemiliki kebenaran tunggal, tapi menyediakan ruangan bagi

          > kebenaran pihak lain. Tanpa penyediaan ruangan ini, maka diskusi,
          > debat ide dan komunikasi akan tidak mungkin berlangsung. Yang terjadi
          > adalah pemutlakan otoritarianisme secara psikhologis dan titik
          > berangkat [le point de départ, starting point]. Jika hal begini
          > berlangsung, maka yang terjadi lebih menjurus ke "eyel-eyelan" , bukan

          > berusaha mencari kebenaran dari "pergesekan" atau apalagi dari
          > kenyataan. Dialog yang bertolak dari prasangka dan pemutlakan diri,
          > tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Akan berakhir pada kebuntuan.
          > Titiktolak begini, adalah titik tolak yang tidak bisa saling tenggang
          > dan menolak kemajemukan serta hak
          > dasar untuk hidup berdampingan secara berbeda. Bagi orang jenis ini,
          > dunia ini sudah selesai, tidak lagi berkembang, dan tidak lagi
          > memberikannya laksaan tanya yang patut dijawab.
          >
          > Kesadaran berbahasa dan bertatabahasa, secara hipotesa, kulihat, tidak

          > lepas dari keselesaian diri kita sebagai pengguna bahasa dalam
          > berpikir. Bahasa adalah alat berpikir dan mengkomunikasikan pikir
          > serta rasa, sebagaimana dikatakan oleh para tetua: "bahasa menunjukkan

          > bangsa".Sebagai varian dari pendapat ini, aku melihat dari bahasa yang

          > kita gunakan, dari kesadaran berbahasa, kita sebenarnya memperlihatkan

          > secara jelas apa-siapa diri kita. Bahkan yang disebut "selip lidah"
          > [slip tongue], senda gurau, canda, lelucon, bagi orang yang sadar
          > bahasa dan bertata bahasa, termasuk "bahasa tubuh", kukira, bukan
          > sesuatu yang tidak punya makna. Lebih-lebih di dunia diplomasi dan
          > politik. Berjabatan tangan atau tidak, berpelukan atau tidak, siapa
          > yang datang menyambut , dan sebagainya.. . semuanya punya arti
          > tersendiri.
          >
          > Barangkali karena posisi bahasa seperti di atas, maka dalam penulisan
          > skripsi, apalagi tesis [terutama ilmu-ilmu sosial], masalah istilah
          > sangat mendapat perhatian. Pentingnya soal istilah ini, lebih sangat
          > terasa dalam ilmu filsafat, hukum, dan politik [diplomasi]. Juga dalam

          > puisi. Karena itu, jika kita amati, draf-draf puisi yang ditulis
          > tangan, selalu kita dapatkan betapa rancangan puisi itu penuh dengan
          > corat-coret. Bahkan sering satu bait dicoret sepenuhnya oleh sang
          > penyair. Pencoretan ini memperlihatkan padaku, betapa penyair bergulat

          > dengan kata-kata. Mencoba semaksimal mungkin mendapatkan puitisitas
          > maksimal dalam artian yang utuh.
          >
          > Pada sejarah bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional pun, aku
          > melihat bagaimana bahasa itu digunakan sebabagai alat indoktrinasi dan

          > penindasan, dan oleh contre elite [elite tandingan], atau "arus
          > bawah", bahasa pun dijadikan juga sebagai senjata perlawanan serta
          > pembebasan. Misalnya, pemimpin-pemimpin gerakan kemerdekaan nasional
          > pada tahun '45-an oleh pemerintah kolonial Belanda disebut "teroris",
          > sementara penulis menyebut gerilyawan kemerdekaan nasional sebagai
          > "koboi-koboi" , kebudayaan Dayak disebut sebagai "ragi usang",
          > sekolah-sekolah nasionalis disebut sebagai "sekolah liar". Sementara
          > kaum gerakan menyebut mereka sebagai pemimpin pejuang kemerdekaan,
          > "koboi-koboi" adalah pejuang kemerdekaan, "sekolah liar" adalah
          > sekolah patriotik dan nasionalis. Belanda menganggap agresinya
          > terhadap Republik Indonesia sebagai "aksi polisionil", sedangkan pihak

          > Republik Indonesia yang beribukota di Yogya, memandangnya sebagai
          > "agresi militer". Dari segi ini, aku kemudian
          > melihat dan kalau disimak benar, bahwa bahasa dan istilah-istilahnya
          > mempunyai tautan erat dengan keadaan sosial, politik dan ekonomi pada
          > suatu periode sejarah suatu bangsa.
          >
          > Tulisan ini bermaksud mempertanyakan perlu tidaknya kita memiliki
          > kesadaran berbahasa [berbahasa nasional] dan jika dirasakan perlu,
          > bagaimana kita memperlakukan bahasa nasioal: Indonesia. Pertanyaan
          > berikutnya: Sampai sekarang, bagaimana kita memperlakukan bahasa
          > nasional kita? ***
          >
          > Paris, Januari 2007.
          > ------------ --------- -----
          > JJ. Kusni
          >
          > Send instant messages to your online friends http://asia. messenger.
          > yahoo.com <http://asia. <http://asia.messenger.yahoo.com>
          messenger.yahoo.com>
          >
          > [Non-text portions of this message have been removed]
          >
          >
          > ----------------------------------------------------------
          >
          > No virus found in this incoming message.
          > Checked by AVG Free Edition.
          > Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.16.1/611 - Release Date:
          12/31/2006 12:47
          >



          [Non-text portions of this message have been removed]
        • Ulysee
          Lhoh, sampe dua kali protes. Kesannya sensi deh. hihihi. Itu masalah geografisnya itu pujian lhoh Bung Je. Yang jauh jauh aja masih mikirin soal perkembangan
          Message 4 of 25 , Jan 1, 2007
            Lhoh, sampe dua kali protes. Kesannya sensi deh. hihihi.

            Itu masalah geografisnya itu pujian lhoh Bung Je.
            Yang jauh jauh aja masih mikirin soal perkembangan dan penggunaan bahasa
            nasional,
            yang deket deket disini malah jarang yang peduli. Gitu toooh.

            Oke deeh, mari tidak membahas masalah geografis. Ini masih masalah
            bahasa..

            -----Original Message-----
            From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
            On Behalf Of sangumang kusni
            Sent: Monday, January 01, 2007 2:00 PM
            To: tionghoa-net@yahoogroups.com
            Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

            Masalah tempat tinggal secara geografis, bukan titik pokok permasalahan
            yang saya ajukan. Berharap titik pokok masalah tidak digeser.

            JJK
            -----Original Message-----
            From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
            On Behalf Of sangumang kusni
            Sent: Monday, January 01, 2007 1:57 PM
            To: tionghoa-net@yahoogroups.com
            Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

            Saya tidak berpendapat bahwa Indonesia dan permasalahannya monopoli
            orang Indonesia yang berada di Indonesia secara geografis saja.
            JJ




            Budiastawa <putubudi@dps. <mailto:putubudi%40dps.centrin.net.id>
            centrin.net.id> wrote:
            Bung Kusni yang baik,

            Wah, meskipun anda berada di tanah seberang. Namun kepedulian anda
            terhadap bahasa Indonesia patut diacungi jempol. Memang bahasa Indonesia

            perlu sesekali mendapat perhatian, terutama dalam perkembangannya
            seiring majunya teknologi-informasi. Kadang-kadang bahasan dan
            penulisannya sering kita abaikan (tidak sesuai dengan EYD) di saat kita
            merasa tergesa-gesa dalam menyampaikan suatu maksud dalam lisan maupun
            tulisan. Misalnya saja; bahasa SMS dalam berkomunikasi teks dalam
            penggunaan Handphone, seringkali melenceng dari penggunaan tata bahasa.
            <cut>


            [Non-text portions of this message have been removed]
          • sangumang kusni
            Hai, coba hubungkan dengan posting terdahulu, masa bicara soal ultimus. Selamat tahun baru Bung . Tapi baiklah , kuharap dan aku nolak jadi gladrah. JJ Ulysee
            Message 5 of 25 , Jan 1, 2007
              Hai, coba hubungkan dengan posting terdahulu, masa bicara soal ultimus.
              Selamat tahun baru Bung .
              Tapi baiklah , kuharap dan aku nolak jadi gladrah.

              JJ


              Ulysee <ulysee_me2@...> wrote:
              Lhoh, sampe dua kali protes. Kesannya sensi deh. hihihi.

              Itu masalah geografisnya itu pujian lhoh Bung Je.
              Yang jauh jauh aja masih mikirin soal perkembangan dan penggunaan bahasa
              nasional,
              yang deket deket disini malah jarang yang peduli. Gitu toooh.

              Oke deeh, mari tidak membahas masalah geografis. Ini masih masalah
              bahasa..

              -----Original Message-----
              From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
              On Behalf Of sangumang kusni
              Sent: Monday, January 01, 2007 2:00 PM
              To: tionghoa-net@yahoogroups.com
              Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

              Masalah tempat tinggal secara geografis, bukan titik pokok permasalahan
              yang saya ajukan. Berharap titik pokok masalah tidak digeser.

              JJK
              -----Original Message-----
              From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
              On Behalf Of sangumang kusni
              Sent: Monday, January 01, 2007 1:57 PM
              To: tionghoa-net@yahoogroups.com
              Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

              Saya tidak berpendapat bahwa Indonesia dan permasalahannya monopoli
              orang Indonesia yang berada di Indonesia secara geografis saja.
              JJ

              Budiastawa <putubudi@dps. <mailto:putubudi%40dps.centrin.net.id>
              centrin.net.id> wrote:
              Bung Kusni yang baik,

              Wah, meskipun anda berada di tanah seberang. Namun kepedulian anda
              terhadap bahasa Indonesia patut diacungi jempol. Memang bahasa Indonesia

              perlu sesekali mendapat perhatian, terutama dalam perkembangannya
              seiring majunya teknologi-informasi. Kadang-kadang bahasan dan
              penulisannya sering kita abaikan (tidak sesuai dengan EYD) di saat kita
              merasa tergesa-gesa dalam menyampaikan suatu maksud dalam lisan maupun
              tulisan. Misalnya saja; bahasa SMS dalam berkomunikasi teks dalam
              penggunaan Handphone, seringkali melenceng dari penggunaan tata bahasa.
              <cut>

              [Non-text portions of this message have been removed]





              Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com

              [Non-text portions of this message have been removed]
            • Gsuryana
              Nimbrung dong ... From: Ulysee Menurut gue mah, bagi sastrawan atau seniman bahasa, kosa kata yang digunakan itu lebih butuh KESAN
              Message 6 of 25 , Jan 1, 2007
                Nimbrung dong
                ----- Original Message -----
                From: "Ulysee" <ulysee_me2@...>

                Menurut gue mah, bagi sastrawan atau seniman bahasa,
                kosa kata yang digunakan itu lebih butuh KESAN YANG DITIMBULKAN daripada
                sekedar membuat kalimat.
                +++
                Seniman bahasa membutuhkan kembang kalimat secara tertata rapi sesuai dengan
                aturan tata bahasa untuk menimbulkan kesan dan pesan yang diinginkannya, dan
                di panjang-panjang kan agar tulisan nya menjadi tebal ( bandingkan dengan
                komik gambar, dan bisa juga yang hobby baca Kho Ping Hoo bolak baliklik
                mirip pelem India ), itu salah satu sebab untuk menjadi seorang sastrawan
                Indonesia menjadi lebih sulit lagi ( suer seniman/pengarang muda saat ini
                lebih memilih gaya bahasa Indonesia yang bebas ), dalam hal ini bahasa
                Melayu lebih mantap karena kembangan dan penambahan kata masih tertinggal
                dengan bahasa Indonesia.


                Tapi kalau buat poltikus, nah kata kata itu perlu untuk menggiring
                orang kepada suatu kesimpulan tertentu.
                ++++
                Politikus membutuhkan kembang kalimat tanpa peduli dengan tata bahasa,
                pokoknya dibuat sedemikian rupa ber tele-tele dan menganggap orang lain
                tidak mengerti apa yang di tulis dan diucapkannya.
                cut----->

                Eh tapi soal perkembangan bahasa Indonesia ya, gue sih bangga tuh sama
                perkembangan bahasa kita, sampai ke yang prokem prokemnya. Soalnya
                kreatif banget gitu hloh. Pasalnya pernah gue banding bandingin sama
                bahasa melayu yang di Malaysia. Khan serumpun gitu. Tapi yang sana kok
                ya kayaknya mandeg gitu. Kata kata serapan dari bahasa Inggrisnya kayak
                langsung adopsi tanpa dipoles lagi. Kalau bahasa Indonesia kayaknya
                masih punya karakter yang jelas gitu lhoh. Unik.
                ++++
                Sewaktu tahun 72 ( ? ) bahasa Indonesia dirubah dengan EYD, aku dan teman
                sekolahku sedih banget dan merasa pada saat itu adalah kejatuhan bahasa
                Indonesia ( maklum masih kicit dan merasa memiliki bahasa Indonesia yang
                sakral ), dan ternyata setelah sekian puluh tahun bahasa Indonesia menjadi
                lebih bervariasi, biarpun kadang membuat kening berkernyit karena bisa
                keluar sebuah kata yang tanpa pernah di setujui bersama menjadi kata yang
                umum dan akhirnya masuk ke kamus bahasa Indonesia.
                Unik nya bahasa Melayu yang jelas-jelas adalah awal dari bahasa Indonesia
                sebelum terkena EYD sampai saat ini perkembangannya menjadi lambat, dan di
                tataran pratek ( maksudnya bicara ) pun menjadi bertele-tele dan lamban.
                Dalam hal karakter sebenarnya justru bahasa Indonesia masih belum punya,
                masih terus berubah dan berkembang.

                Yang masih membuat aku sedikit 'kecewa' dalam tataran menulis dan bicara di
                dalam bahasa Indonesia sulit untuk menulis dan bicara langsung ke tujuan,
                dimana kembangan dan variasi dan muter-muter masih menjadi sebuah
                'keharusan', disaat bicara/menulis tanpa kembang ( seperti menulis
                telegraph ) dianggap kurang sopan, dan hal ini 'terlihat' menjadi 'sedikit
                munafik', semisal sedang 'meminta naik gaji', menulis/bicara harus
                muter-muter dan mencari alasan2 dahulu, padahal minta naik gaji nya karena
                memang sudah kurang............( contoh doangan lho, aku mah dulu minta naik
                gaji langsung ajah ke atas an, "pak gaji sudah tekor gak cukup untuk
                mondokan, naikin gaji saya dong, gak bisa naik berhentiin ajah saya" ,
                dan....naik lah gaji ku )

                sur.( Nyak Becky lagi tapa di mana yah ? )


                Dan nyentrik tuh bahasa prokemnya, kyahahaha.

                Pikiran gue masih nyangkut di istilah "rumah sakit bersalin" dan "rumah
                korban laki laki", hihihi.
                Itu istilah masih berlaku nggak sih..
                Mana tuh penghuni Malaysia. Cie Beckyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy..
                Itu istilah masih dipake nggak disana? Huehuehue.
              • Budiastawa
                Bung Kusni, Anda ini begitu sensitif. Kepedulian anda tentang bahasa nasional Indonesia sangat kami hargai. Makanya saya katakan, Bung Kusni yang jauh aja
                Message 7 of 25 , Jan 1, 2007
                  Bung Kusni,

                  Anda ini begitu sensitif. Kepedulian anda tentang bahasa nasional
                  Indonesia sangat kami hargai. Makanya saya katakan, "Bung Kusni yang
                  jauh aja peduli, kenapa saya tidak pernah memperhatikan sendiri bahasa
                  ini?" Gitu lho maksudnya. Jangan dihubung-hubungkan ke masalah Ultimus
                  lagi dong, he he he. Atau kalau anda belum 'mudheng' juga, ibaratnya
                  begini; "keluarga yang jauh di Paris aja rajin nelpon (peduli), kenapa
                  keluarga saya yang di Jakarta ngga pernah (jarang)" Gitu.

                  Oke, kita kembali ke masalah bahasa nasional. Sepertinya postingan saya
                  sebelumnya telah melenceng dari pertanyaan anda Bung Kusni. Kesadaran
                  berbahasa itu perlu. Dan karena perlu kesadaran itu, maka perlakuan kita
                  terhadap bahasa ini dapat diwujudkan dengan menjaga kelestariannya, juga
                  dengan memperkaya khasanahnya. Kita lihat kata serapan dari bahasa
                  daerah dan bahasa asing semakin banyak saja. Sejauh tidak terasa janggal
                  dan dapat diterima oleh masyarakat, saya pikir tidaklah menjadi masalah.
                  Seperti yang dikatakan Neng Ullie, yang penting 'nyambung'. Di jaman
                  yang serba cepat dan praktis ini, mau tidak mau bahasapun ikut menyesuaikan.

                  Demikian pendapat saya, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan di hati
                  anda.

                  Salam Damai,
                  Putu Budiastawa



                  sangumang kusni wrote:
                  >
                  > Hai, coba hubungkan dengan posting terdahulu, masa bicara soal ultimus.
                  > Selamat tahun baru Bung .
                  > Tapi baiklah , kuharap dan aku nolak jadi gladrah.
                  >
                  > JJ
                  >
                  >
                  > Ulysee <ulysee_me2@yahoo. com.sg <mailto:ulysee_me2%40yahoo.com.sg>>
                  > wrote:
                  > Lhoh, sampe dua kali protes. Kesannya sensi deh. hihihi.
                  >
                  > Itu masalah geografisnya itu pujian lhoh Bung Je.
                  > Yang jauh jauh aja masih mikirin soal perkembangan dan penggunaan bahasa
                  > nasional,
                  > yang deket deket disini malah jarang yang peduli. Gitu toooh.
                  >
                  > Oke deeh, mari tidak membahas masalah geografis. Ini masih masalah
                  > bahasa..
                  >
                  >
                • ddinasty_a04
                  Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa Indonesia di jawa Timur (Surabaya)
                  Message 8 of 25 , Jan 2, 2007
                    Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma
                    anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa
                    Indonesia di jawa Timur (Surabaya) lebih dikarenakan etnic Tionghoa
                    ini, bayangin, kalau lagi treansaksi bisnis atau lagi ngomong sama
                    pembantu, atau juga tetangga, warga keturunan ini ngomongnya campur
                    aduk kayak gado-gado dicampur soto. Belum lagi logat khas yg
                    dipakai, benar ancur dech bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ditangan
                    mereka.

                    Tapi masih baguslah dari pada ngmong pakai bahasa Mandarin (kalau
                    jeruk Mandarin aku baru suka,juga cewe Mandarin-:)

                    "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                    pagar baru kowe tahu rasa"

                    Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                    Surabaya.

                    Jadi jangan dulu ngomongin sastrawan, politikus atau juga
                    jurnalis,kita kritisi dulu bagiamana warga tionghoa menggunakan
                    bahasa Indonesia yg selalu pakai logat khusus dan dicampur bahasa
                    daerah, baru kita bicara ke level yg lebih tinggi.

                    Ciao,



                    --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "Gsuryana" <gsuryana@...> wrote:
                    >
                    > Nimbrung dong
                    > ----- Original Message -----
                    > From: "Ulysee" <ulysee_me2@...>
                    >
                    > Menurut gue mah, bagi sastrawan atau seniman bahasa,
                    > kosa kata yang digunakan itu lebih butuh KESAN YANG DITIMBULKAN
                    daripada
                    > sekedar membuat kalimat.
                    > +++
                    > Seniman bahasa membutuhkan kembang kalimat secara tertata rapi
                    sesuai dengan
                    > aturan tata bahasa untuk menimbulkan kesan dan pesan yang
                    diinginkannya, dan
                    > di panjang-panjang kan agar tulisan nya menjadi tebal ( bandingkan
                    dengan
                    > komik gambar, dan bisa juga yang hobby baca Kho Ping Hoo bolak
                    baliklik
                    > mirip pelem India ), itu salah satu sebab untuk menjadi seorang
                    sastrawan
                    > Indonesia menjadi lebih sulit lagi ( suer seniman/pengarang muda
                    saat ini
                    > lebih memilih gaya bahasa Indonesia yang bebas ), dalam hal ini
                    bahasa
                    > Melayu lebih mantap karena kembangan dan penambahan kata masih
                    tertinggal
                    > dengan bahasa Indonesia.
                    >
                    >
                    > Tapi kalau buat poltikus, nah kata kata itu perlu untuk menggiring
                    > orang kepada suatu kesimpulan tertentu.
                    > ++++
                    > Politikus membutuhkan kembang kalimat tanpa peduli dengan tata
                    bahasa,
                    > pokoknya dibuat sedemikian rupa ber tele-tele dan menganggap orang
                    lain
                    > tidak mengerti apa yang di tulis dan diucapkannya.
                    > cut----->
                    >
                    > Eh tapi soal perkembangan bahasa Indonesia ya, gue sih bangga tuh
                    sama
                    > perkembangan bahasa kita, sampai ke yang prokem prokemnya. Soalnya
                    > kreatif banget gitu hloh. Pasalnya pernah gue banding bandingin
                    sama
                    > bahasa melayu yang di Malaysia. Khan serumpun gitu. Tapi yang sana
                    kok
                    > ya kayaknya mandeg gitu. Kata kata serapan dari bahasa Inggrisnya
                    kayak
                    > langsung adopsi tanpa dipoles lagi. Kalau bahasa Indonesia kayaknya
                    > masih punya karakter yang jelas gitu lhoh. Unik.
                    > ++++
                    > Sewaktu tahun 72 ( ? ) bahasa Indonesia dirubah dengan EYD, aku
                    dan teman
                    > sekolahku sedih banget dan merasa pada saat itu adalah kejatuhan
                    bahasa
                    > Indonesia ( maklum masih kicit dan merasa memiliki bahasa
                    Indonesia yang
                    > sakral ), dan ternyata setelah sekian puluh tahun bahasa Indonesia
                    menjadi
                    > lebih bervariasi, biarpun kadang membuat kening berkernyit karena
                    bisa
                    > keluar sebuah kata yang tanpa pernah di setujui bersama menjadi
                    kata yang
                    > umum dan akhirnya masuk ke kamus bahasa Indonesia.
                    > Unik nya bahasa Melayu yang jelas-jelas adalah awal dari bahasa
                    Indonesia
                    > sebelum terkena EYD sampai saat ini perkembangannya menjadi
                    lambat, dan di
                    > tataran pratek ( maksudnya bicara ) pun menjadi bertele-tele dan
                    lamban.
                    > Dalam hal karakter sebenarnya justru bahasa Indonesia masih belum
                    punya,
                    > masih terus berubah dan berkembang.
                    >
                    > Yang masih membuat aku sedikit 'kecewa' dalam tataran menulis dan
                    bicara di
                    > dalam bahasa Indonesia sulit untuk menulis dan bicara langsung ke
                    tujuan,
                    > dimana kembangan dan variasi dan muter-muter masih menjadi sebuah
                    > 'keharusan', disaat bicara/menulis tanpa kembang ( seperti menulis
                    > telegraph ) dianggap kurang sopan, dan hal ini 'terlihat'
                    menjadi 'sedikit
                    > munafik', semisal sedang 'meminta naik gaji', menulis/bicara harus
                    > muter-muter dan mencari alasan2 dahulu, padahal minta naik gaji
                    nya karena
                    > memang sudah kurang............( contoh doangan lho, aku mah dulu
                    minta naik
                    > gaji langsung ajah ke atas an, "pak gaji sudah tekor gak cukup
                    untuk
                    > mondokan, naikin gaji saya dong, gak bisa naik berhentiin ajah
                    saya" ,
                    > dan....naik lah gaji ku )
                    >
                    > sur.( Nyak Becky lagi tapa di mana yah ? )
                    >
                    >
                    > Dan nyentrik tuh bahasa prokemnya, kyahahaha.
                    >
                    > Pikiran gue masih nyangkut di istilah "rumah sakit bersalin"
                    dan "rumah
                    > korban laki laki", hihihi.
                    > Itu istilah masih berlaku nggak sih..
                    > Mana tuh penghuni Malaysia. Cie Beckyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy..
                    > Itu istilah masih dipake nggak disana? Huehuehue.
                    >
                  • Dyah Ayu Wulandari
                    Kalau saya pribadi menyikapi penggunaan bahasa dengan gaya saudara-saudara kita itu wajar-wajar saja. Itu hanya gaya bahasa dan cara menempatkan. Dirasakan
                    Message 9 of 25 , Jan 2, 2007
                      Kalau saya pribadi menyikapi penggunaan bahasa dengan gaya saudara-saudara
                      kita itu wajar-wajar saja.
                      Itu hanya gaya bahasa dan cara menempatkan. Dirasakan tidak pas karena kita
                      hanya mengukur dengan pola dan pikiran kita sendiri. Yang tentu saja tidak
                      bijak.
                      Saya merasa tidak perlu tersinggung atau perlu merasa memperbaiki gaya
                      bahasa yang campur aduk seperti gado-gado dicampur soto.....menurut saya
                      pribadi itu justru perbedaan yang memperkaya.
                      Banyak juga saudara kita yang beretnis berbeda memiliki gaya bicara halus.
                      Melebihi kaum pribumi.
                      Tidak ada bedanya juga ketika orang jawa, orang Batak, orang Timor, orang
                      Manado, datang ke ibukota mencampur aduk dengan bahasa ibu mereka dengan
                      "lo" gue a-la Betawi.
                      Lucu, memperkaya dan geli.....


                      Salam Damai,


                      Dyah


                      [Non-text portions of this message have been removed]
                    • Zaenal Arief
                      Pak Dinasty, ... Gaya bahasa diatas bagi saya yg bisa bergaul jawa timuran biasa aja? nggak ancur2 amat kecuali anda bukan dari daerah sana makanya
                      Message 10 of 25 , Jan 2, 2007
                        Pak Dinasty,

                        > "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                        > pagar baru kowe tahu rasa"

                        Gaya bahasa diatas bagi saya yg bisa bergaul jawa timuran biasa aja? nggak
                        ancur2 amat kecuali anda bukan dari daerah sana makanya kedengeranya
                        ancur....lah sekarang demikian juga kita yg biasa dengar logat jawa timuran
                        dengerin gaya bahasa sinetron si Doel yg ada Mandra dan almarhum
                        Benyamin.... sama aja kedengerannya ancur abis....

                        Jadi kalo etnis tionghoa merusak bahasa indonesia ya enggak lah ..haiya
                        wigimana wisa kita dikatai melusak wahasa Indonesa...

                        Zaenal
                      • jt2x00
                        ... Ojo ngono lah mas, moso Cino Suroboyo disebut ngerusak boso Jowo? Iku omongan Cino sing ora mangan bangku sekola. Opo wong Jowo sing ora mangan bangku
                        Message 11 of 25 , Jan 2, 2007
                          --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ddinasty_a04"
                          <ddinasty_a04@...> wrote:
                          >
                          > "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                          > pagar baru kowe tahu rasa"
                          >
                          > Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                          > Surabaya.
                          >



                          Ojo ngono lah mas, moso Cino Suroboyo disebut ngerusak boso Jowo? Iku
                          omongan Cino sing ora mangan bangku sekola. Opo wong Jowo sing ora
                          mangan bangku sekola ngomong Indonesiame ora ancur2an koyo ngono?
                          Lha sing koyo iki kepiye mas?

                          Vader en muder udar ider naek sekuter sembari teler nguber laler
                          nabrak pager sampe kelenger.

                          Prof.Dr.Gan Tio Lie SpGO
                          (spesialis ganti olie)
                        • Gsuryana
                          From: ddinasty_a04 cut--- Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma anda-anda pada lupa atau memang belum
                          Message 12 of 25 , Jan 2, 2007
                            From: "ddinasty_a04" <ddinasty_a04@...>
                            cut--->


                            Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma
                            anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa
                            Indonesia di jawa Timur (Surabaya) lebih dikarenakan etnic Tionghoa
                            ini, bayangin, kalau lagi treansaksi bisnis atau lagi ngomong sama
                            pembantu, atau juga tetangga, warga keturunan ini ngomongnya campur
                            aduk kayak gado-gado dicampur soto. Belum lagi logat khas yg
                            dipakai, benar ancur dech bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ditangan
                            mereka.
                            cut--->
                            Jadi jangan dulu ngomongin sastrawan, politikus atau juga
                            jurnalis,kita kritisi dulu bagiamana warga tionghoa menggunakan
                            bahasa Indonesia yg selalu pakai logat khusus dan dicampur bahasa
                            daerah, baru kita bicara ke level yg lebih tinggi.
                            ++++
                            Lho, jadi bahasa daerah tersebut rupanya kalah oleh tenglang
                            yang minoritas yah ?
                            ( gejala ini memang aneh lho termasuk di Sumut
                            ......dan Kalbar )
                            Apakah tenglang Indonesia yang minoritas ini sedemikian
                            hebat sampai bisa dibilang dari ujung ke ujung bisa merusak
                            bahasa Daerah dan bahasa Indonesia
                            Dan ini hanya bisa terjadi bilamana si minoritas memiliki
                            ilmu 'kudu' dan satu lagi jumlah si minoritas bukan semata
                            'minoritas'


                            Di Sunda juga tenglang totok banyak yang merusak
                            bahasa sunda lho, dan bukan berarti tata bahasa
                            Sunda menjadi rusak, sastrawan dan Politikus.
                            Politikus Sunda asal tenglang bisa dibilang masih minim
                            banget, sedang sastrawan Sunda malah aku belum dengar.

                            Dan satu hal lagi, pembelajaran bahasa daerah di daerah
                            masing-masing bisa dibilang termasuk mata pelajaran
                            yang sulit, ada apa dengan kasus ini ?

                            sur

                            Ciao,



                            --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "Gsuryana" <gsuryana@...> wrote:
                            >
                            > Nimbrung dong
                            >
                          • jt2x00
                            Tulisan ini kiriman dari Prof.Dr.Gan Tio Lie, SpGO yang minta diteruskan ke forum t-net, karena komputer beliau sedang ada gangguan tidak bisa masuk ke forum
                            Message 13 of 25 , Jan 2, 2007
                              Tulisan ini kiriman dari Prof.Dr.Gan Tio Lie, SpGO yang minta
                              diteruskan ke forum t-net, karena komputer beliau sedang ada gangguan
                              tidak bisa masuk ke forum t-net. Harap maklum.

                              Moderator
                              JT

                              -------------------------


                              --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "jt2x00" <jt2x00@...> wrote:
                              >
                              > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "ddinasty_a04"
                              > <ddinasty_a04@> wrote:
                              > >
                              > > "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                              > > pagar baru kowe tahu rasa"
                              > >
                              > > Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                              > > Surabaya.
                              > >
                              >
                              >
                              >
                              > Ojo ngono lah mas, moso Cino Suroboyo disebut ngerusak boso Jowo?
                              Iku
                              > omongan Cino sing ora mangan bangku sekola. Opo wong Jowo sing ora
                              > mangan bangku sekola ngomong Indonesiame ora ancur2an koyo ngono?
                              > Lha sing koyo iki kepiye mas?
                              >
                              > Vader en muder udar ider naek sekuter sembari teler nguber laler
                              > nabrak pager sampe kelenger.
                              >
                              > Prof.Dr.Gan Tio Lie SpGO
                              > (spesialis ganti olie)
                              >
                            • Ulysee
                              {SENSI MODE ON} APAAAAA MAKSUDNYA????? Sesudah bilang begini: “, cuma anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa Indonesia di jawa Timur
                              Message 14 of 25 , Jan 3, 2007
                                {SENSI MODE ON}

                                APAAAAA MAKSUDNYA?????

                                Sesudah bilang begini:
                                “, cuma anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa
                                Indonesia di jawa Timur (Surabaya) lebih dikarenakan etnic Tionghoa
                                ini,”

                                Kasih contohnya begini:
                                “"Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                                pagar baru kowe tahu rasa"

                                Komentarnya:
                                “Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                                Surabaya.”

                                Salah kaprah! Itu bahasa Jawa yang tercampur dengan bahasa Indonesia,
                                bukan sebaliknya!
                                Lagi pula, apa Anda tidak tahu kalau DIALEK tiap daerah itu BUKAN
                                merusak,
                                melainkan MEMPERKAYA khasanah berbahasa?

                                Dan Lagi, memangnya Anda punya argumen apa, bahwa “rusaknya bahasa
                                Indonesia di Jawa Timur itu KARENA etnis Tionghoa”.
                                Memangnya Anda berani jamin bahwa HANYA etnis tionghoa yang mencampur
                                bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa?

                                Lagipula, logikanya, kalau etnis tionghoa yang mencampur aduk bahasa,
                                mestinya dicampur adukkan dengan bahasa mandarin atau hokkian atau
                                tiociu donk, masa campurannya Jawa dan Indonesia, gimana toh?
                                HUehehehehehe.

                                Makanya gue bilang lu ngaco belo salah kaprah! Hayo, keluarin argumen
                                lagi hayo!

                                Gue ketemu orang Semarang, yang tionghoa sama yang bukan, gaya
                                ngomongnya sama tuh. Weks!
                                Begitupun orang Surabaya. Dan orang Sunda.
                                Logat khusus itu mah tergantung daerah, bukan lantaran etnis!!!!
                                Ngaco!!!





                                -----Original Message-----
                                From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com]
                                On Behalf Of ddinasty_a04
                                Sent: Wednesday, January 03, 2007 5:15 AM
                                To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa

                                Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma
                                anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa
                                Indonesia di jawa Timur (Surabaya) lebih dikarenakan etnic Tionghoa
                                ini, bayangin, kalau lagi treansaksi bisnis atau lagi ngomong sama
                                pembantu, atau juga tetangga, warga keturunan ini ngomongnya campur
                                aduk kayak gado-gado dicampur soto. Belum lagi logat khas yg
                                dipakai, benar ancur dech bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ditangan
                                mereka.

                                Tapi masih baguslah dari pada ngmong pakai bahasa Mandarin (kalau
                                jeruk Mandarin aku baru suka,juga cewe Mandarin-:)

                                "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                                pagar baru kowe tahu rasa"

                                Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                                Surabaya.

                                Jadi jangan dulu ngomongin sastrawan, politikus atau juga
                                jurnalis,kita kritisi dulu bagiamana warga tionghoa menggunakan
                                bahasa Indonesia yg selalu pakai logat khusus dan dicampur bahasa
                                daerah, baru kita bicara ke level yg lebih tinggi.

                                Ciao,


                                [Non-text portions of this message have been removed]
                              • ddinasty_a04
                                ... Salah kaprah! Itu bahasa Jawa yang tercampur dengan bahasa Indonesia, ...
                                Message 15 of 25 , Jan 3, 2007
                                  --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...> wrote:
                                  >
                                  > {SENSI MODE ON}
                                  >
                                  > APAAAAA MAKSUDNYA?????
                                  >
                                  Salah kaprah! Itu bahasa Jawa yang tercampur dengan bahasa Indonesia,
                                  > bukan sebaliknya!
                                  > Lagi pula, apa Anda tidak tahu kalau DIALEK tiap daerah itu BUKAN
                                  > merusak,
                                  > melainkan MEMPERKAYA khasanah berbahasa?


                                  < Jangan sewot dulu dong, saya kira kita lagi ngebahas bahasa yg
                                  baku,sampai-sampai Koh Suryana sebut-sebut EYD segala,makanya aku
                                  nembak ke arah itu.

                                  Kalau menurut anda, fenomena yg saya kemukakan itu berpotensi
                                  merusak bahasa yg baku atau akan memperkaya-nya?

                                  Soal dialek, mungkin saja anda benar, tapi kalau anda mendengar
                                  sendiri bahasa ´gado-gado campur soto´ yang saya maksudkan,mungkin
                                  anda juga akan tersenyum-senyum sendirian, mungkin ini soal rasa
                                  saja.

                                  ==================


                                  > Dan Lagi, memangnya Anda punya argumen apa, bahwa "rusaknya
                                  bahasa
                                  > Indonesia di Jawa Timur itu KARENA etnis Tionghoa".

                                  < Anda mendramatisir berlebihan, tentunya yg saya maksudkan adalah
                                  bila fenomena yg saya ceritakan kemudian dijadikan ´tradisi
                                  komunikasi´ formal, apa ini tidak sama artinya dgn salah satu jalan
                                  merusak bahasa yg baku tersebut?
                                  =================


                                  > Memangnya Anda berani jamin bahwa HANYA etnis tionghoa yang
                                  mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa?

                                  < Okey, ´pesakitan´ saya tambah lagi satu etnick yaitu, MADURA tak
                                  iya -:)
                                  ================


                                  > Lagipula, logikanya, kalau etnis tionghoa yang mencampur aduk
                                  bahasa, mestinya dicampur adukkan dengan bahasa mandarin atau
                                  hokkian atau tiociu donk, masa campurannya Jawa dan Indonesia,
                                  gimana toh? HUehehehehehe.

                                  < Lha aku bilang kan komunikasi ´gado-gado campur soto´ itu
                                  digunakan untuk bicara sama pembantu atau teman-teman yg tentunya
                                  orang-orang pribumi,kalau-toh dicampur juga dgn bahasa mandarin atau
                                  hokkain, paling-paling berkisar pada "no jing","Nggomban" atau "cap
                                  jai",kalau digunakan yg berat-berat ya mana bisa ada komunikasi
                                  linier?
                                  =============



                                  > Makanya gue bilang lu ngaco belo salah kaprah! Hayo, keluarin
                                  argumen lagi hayo!

                                  < Ya enggak lah, masak ´kesalahan´ku sampai pada taraf ´ngaco belo´?
                                  anda yg kurang bisa mengerti kemana point tulisanku saja kayaknya.
                                  ==============


                                  > Gue ketemu orang Semarang, yang tionghoa sama yang bukan, gaya
                                  > ngomongnya sama tuh. Weks!
                                  > Begitupun orang Surabaya. Dan orang Sunda.
                                  > Logat khusus itu mah tergantung daerah, bukan lantaran etnis!!!!
                                  > Ngaco!!!

                                  < Betul, tapi tidak sepenuhnya tapat. Daerah memang akan membentuk
                                  dialek percakapan, tapi khusus untuk etnis Madura dan Tionghoa ada
                                  pencecualian di Surabaya.

                                  Kalau anda mau bukti; tutup mata saya, lantas suruh satu atau
                                  sepuluh orang etnic Madura atau etnic Tionghoa bercakap cakap dgn
                                  cara yang wajar seperti biasa mereka lakukan dgn orang-orang dari
                                  lain suku -batak kalau bisa atau Sunda-, saya jamin saya akan bisa
                                  menebak dgn tepat yg mana orang etnik Madura, etnik Tionghoa, batak
                                  atau juga Orang Sunda.

                                  Dgn catatan orang etnik Madura atau etnic Tionghoa tadi HARUS
                                  berdomisili di daerah Surabaya atau setidaknya Jawa Timur,Jawa
                                  Tengah sampai daerah Bali.

                                  Ciao,





                                  > -----Original Message-----
                                  > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-
                                  net@yahoogroups.com]
                                  > On Behalf Of ddinasty_a04
                                  > Sent: Wednesday, January 03, 2007 5:15 AM
                                  > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                  > Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran
                                  berbahasa
                                  >
                                  > Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma
                                  > anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa
                                  > Indonesia di jawa Timur (Surabaya) lebih dikarenakan etnic
                                  Tionghoa
                                  > ini, bayangin, kalau lagi treansaksi bisnis atau lagi ngomong sama
                                  > pembantu, atau juga tetangga, warga keturunan ini ngomongnya
                                  campur
                                  > aduk kayak gado-gado dicampur soto. Belum lagi logat khas yg
                                  > dipakai, benar ancur dech bahasa Indonesia dan bahasa Jawa
                                  ditangan
                                  > mereka.
                                  >
                                  > Tapi masih baguslah dari pada ngmong pakai bahasa Mandarin (kalau
                                  > jeruk Mandarin aku baru suka,juga cewe Mandarin-:)
                                  >
                                  > "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                                  > pagar baru kowe tahu rasa"
                                  >
                                  > Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                                  > Surabaya.
                                  >
                                  > Jadi jangan dulu ngomongin sastrawan, politikus atau juga
                                  > jurnalis,kita kritisi dulu bagiamana warga tionghoa menggunakan
                                  > bahasa Indonesia yg selalu pakai logat khusus dan dicampur bahasa
                                  > daerah, baru kita bicara ke level yg lebih tinggi.
                                  >
                                  > Ciao,
                                  >
                                  >
                                  > [Non-text portions of this message have been removed]
                                  >
                                • ddinasty_a04
                                  ...
                                  Message 16 of 25 , Jan 3, 2007
                                    --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "jt2x00" <jt2x00@...> wrote:
                                    >
                                    > Ojo ngono lah mas, moso Cino Suroboyo disebut ngerusak boso Jowo? Iku
                                    > omongan Cino sing ora mangan bangku sekola. Opo wong Jowo sing ora
                                    > mangan bangku sekola ngomong Indonesiame ora ancur2an koyo ngono?
                                    > Lha sing koyo iki kepiye mas?

                                    < Sampiyan salah Cak Profesor, cino-cino nang Suroboyo roto-roto
                                    pendidikanne apik, nek lanang favorite UK Petra, nek wedok,
                                    Widyamandala, lha mahasiswa lan mahasiswi perguruan tinggi mau sing
                                    duwe kebiasaan ngomong ´campur aduk´ mau. Dadi dudu soal tau manggan
                                    bangso sekola opo ora, iki lho Cak Profesor persoalane; kebiasaan nang
                                    omah utowo nang lingkungan. Coba Sampiyan dolano nang Pasar Atom utowo
                                    nang Galaxi nonton pelem, Sampiyan akan sadar kalo opo sing tak
                                    omongkno iku dudu karangan gombalan, tapi nyatane ancen koyok ngono.


                                    > Vader en muder udar ider naek sekuter sembari teler nguber laler
                                    > nabrak pager sampe kelenger.

                                    < Hihihik.... Sampiyan iso ae Cak Profesor, biyen wayah aku sih cilik,
                                    aku dikongkon ngomong , "laler menclok pager nang lor ril.", nek bener
                                    ngomong sepluh kali dgn coro dipercepat frekwensinya, aku dapat hadiah
                                    es krim, saiki cobo Sampiyan Cak Profesor, nek iso lancar ra kesrimpet-
                                    srimpet, hadiahe free entrance nang Atlas Sport Center Surabaya selama
                                    dua bulan, cuma tunjukno kartu anggota wae...

                                    Ciao,



                                    > Prof.Dr.Gan Tio Lie SpGO
                                    > (spesialis ganti olie)
                                    >
                                    ========================
                                  • Zaenal Arief
                                    Pak Dinasty yth, ... ======================================= Selaku etnik Madura saya jadi agak tersinggung nih.... :P ...
                                    Message 17 of 25 , Jan 3, 2007
                                      Pak Dinasty yth,

                                      > < Okey, ´pesakitan´ saya tambah lagi satu etnick yaitu, MADURA tak
                                      > iya -:)
                                      =======================================
                                      Selaku etnik Madura saya jadi agak tersinggung nih.... :P

                                      > Kalau anda mau bukti; tutup mata saya, lantas suruh satu atau
                                      > sepuluh orang etnic Madura atau etnic Tionghoa bercakap cakap dgn
                                      > cara yang wajar seperti biasa mereka lakukan dgn orang-orang dari
                                      > lain suku -batak kalau bisa atau Sunda-, saya jamin saya akan bisa
                                      > menebak dgn tepat yg mana orang etnik Madura, etnik Tionghoa, batak
                                      =========================================
                                      Lah kalo saya yg Madura tionghoa gimana apa termasuk generasi perusak bahasa
                                      juga??

                                      Pak Dinasty apa pernah ke Madura?

                                      Zaenal
                                    • ChanCT
                                      Iyalah, dalam proses perkembangan bahasa memang sulit menemukan batasan antara merusak dan mengembangkan bahasa itu sendiri. Tentu bagaimanapun juga dalam
                                      Message 18 of 25 , Jan 3, 2007
                                        Iyalah, dalam proses perkembangan bahasa memang sulit menemukan batasan
                                        antara merusak dan mengembangkan bahasa itu sendiri. Tentu bagaimanapun juga
                                        dalam kehidupan, perlu dibedakan antara bahasa pergaulan yang kita gunakan
                                        sehari-hari dengan bahasa tulis-resmi, disamping kita bisa menggunakan
                                        bahasa dengan tepat dan baik, juga tidak salah tentunya kita secara releks
                                        menggunakan bahasa pergaulan, ya.

                                        Lalu, apakah bisa dikatakan etnis Tionghoa merusak bahasa Indonesia? Lha,
                                        kenyataan sejarah terjadi, justru yang dinamakan bahasa Indonesia sekarang
                                        ini adalah perkembangan dari bahasa Melayu-Tionghoa yang dahulu-dahulu itu,
                                        hanya saja karena ada peranan Tionghoa jadi dipenggal, tidak ada orang yang
                                        tahu dimana sesungguhnya peranan etnis Tionghoa dalam bahasa Indonesia,
                                        heheheee, ...

                                        Coba perhatikan apa yang diajukan Bondan Winarno dalam tulisan: "Meluruskan
                                        Sejarah" dibawah ini:

                                        Salam,
                                        ChanCT

                                        ----- Original Message -----
                                        From: HKSIS
                                        Sent: Thursday, 23 September, 2004 20:52
                                        Subject: Meluruskan Sejarah


                                        SUARA PEMBARUAN DAILY
                                        --------------------------------------------------------------------------------

                                        Titik Pandang

                                        Meluruskan Sejarah


                                        Bondan Winarno

                                        SIAPA PUN yang sebentar lagi akan memimpin bangsa ini, saya hanya minta satu
                                        hal. Mari kita luruskan sejarah.

                                        Saya sendiri bukan ahli sejarah. Saya hanya tahu, ada banyak ketidakbenaran
                                        dalam sejarah yang sekarang diajarkan melalui sistem pendidikan kita.
                                        Bukankah ada pemeo yang mengatakan bahwa pena bisa lebih tajam daripada
                                        pedang? Sejarah memang selalu merupakan sebuah pertempuran tersendiri.

                                        Siapa pun rezim yang memegang kekuasaan, mereka selalu mempunyai versi
                                        sejarahnya masing-masing. Sampai hadir rezim lain yang membawa sejarahnya
                                        sendiri. Karena itu, setiap pergantian rezim selalu membuka peluang untuk
                                        mengubah sejarah - kalaupun bukan untuk meluruskannya.

                                        Salah satu sejarah "kecil" yang saya minta diluruskan adalah tentang peran
                                        kaum Tionghoa dalam kehidupan kebangsaan kita. Misalnya, mengapa sampai
                                        terjadi pembunuhan besar-besaran (massacre) terhadap kaum Tionghoa di
                                        Indonesia - setidak-tidaknya dua kali dalam era kolonial Hindia-Belanda, dan
                                        masih terjadi pula dalam masa kemerdekaan? Mengapa kejadian itu hanya
                                        disebut secara sambil lalu dalam pelajaran sejarah kita? Apakah karena yang
                                        terbunuh itu "hanyalah" orang-orang Tionghoa?

                                        Contoh yang lain adalah tentang peran kaum Tionghoa dalam menyebarluaskan
                                        agama Islam di Tanah Jawa. Kebetulan tahun depan akan diselenggarakan
                                        perayaan 600 tahun muhibah Laksamana Cheng Ho.

                                        Berbagai catatan sejarah menyebut bahwa Cheng Ho melakukan public diplomacy
                                        dalam tujuh ekspedisinya ke negara-negara Asia dan Afrika -jadi, tidak hanya
                                        sekadar berdagang - dan membawa serta ulama-ulama Islam dalam lawatannya
                                        itu. Kalau hal ini benar, maka sejarah yang selama ini hanya menyebut para
                                        saudagar dari Gujarat sebagai pembawa syi'ar Islam haruslah dikoreksi.

                                        Telah beberapa kali, dalam berbagai kesempatan, saya mencoba meminta
                                        perhatian orang terhadap peran - kalau bukan keperintisan dan kepeloporan -
                                        kaum Tionghoa dalam mempromosikan bahasa Indonesia.

                                        u

                                        PADA Kongres Pemuda II yang diselenggarakan tahun 1928, salah satu butir
                                        bahasan adalah tentang perlunya menetapkan bahasa Indonesia sebagai medium
                                        pendidikan. Ironisnya, pembicaraan berlangsung alot, karena ternyata para
                                        pemuda yang hadir pada kongres itu - notabene: semuanya pribumi - tidak
                                        banyak yang lancar berbahasa Indonesia. Kebanyakan pidato politik tentang
                                        kebangsaan justru disampaikan dalam bahasa Belanda. Hanya Mohamad Yamin yang
                                        ketika itu dianggap paling piawai dalam menggunakan bahasa Indonesia.

                                        Maka, lahirlah Sumpah Pemuda! Suatu kesadaran baru ditanamkan dalam jiwa
                                        bangsa Indonesia. Kesadaran tentang satunya tanah air, bangsa, dan bahasa -
                                        di tengah keragaman kesukuan yang ada. Sumpah Pemuda adalah antitesis
                                        terhadap politik divide et impera yang dijalankan penjajah. Anehnya, di masa
                                        kemerdekaan justru kita kembali lagi memakai politik segregasi dalam
                                        berbagai selubung.

                                        Tetapi, di kalangan etnis Tionghoa djadoel (djaman doeloe), ternyata bahasa
                                        Melayu justru sudah luas dipakai. Berbagai karya sastra pengarang etnis
                                        Tionghoa bertarikh akhir abad ke-19 sudah banyak yang memakai bahasa
                                        Indonesia.

                                        Sejak hilangnya huruf Arab dan aksara Jawi (huruf Arab gundul) digantikan
                                        oleh huruf Latin pada pertengahan abad ke-19, etnis Tionghoa di Indonesia
                                        justru menjadi pendahulu dalam penggunaan bahasa Melayu. Beberapa buku
                                        cerita berbahasa Melayu karangan para penulis Tionghoa mulai bermunculan.

                                        Demikian pula suratkabar berbahasa Melayu mulai dicetak di
                                        percetakan-percetakan yang hampir semuanya milik etnis Tionghoa, antara lain
                                        Soerat Kabar Bahasa Melaijoe (1856), Soerat Chabar Betawi (1858), Selompret
                                        Melajoe (1860), dan Bintang Soerabaja (1860).

                                        Proliferasi kesastraan Melayu dan suratkabar dalam bahasa Melayu semakin
                                        mekar pada awal abad ke-20. Buku-buku cerita silat Tionghoa dalam bahasa
                                        Melayu yang diterbitkan langsung laris manis. Tetapi, banyak pula cerita
                                        roman yang ditulis sastrawan Tionghoa dengan nuansa lokal, seperti Boenga
                                        Roos dari Tjikembang, Dengen Doea Cent Djadi Kaja, Tjarita Njai Soemirah,
                                        Tjerita Tjan Yoe Hok atawa Satoe Badjingan Millioenair, dan banyak lagi.

                                        Di awal abad ke-20 itu terjadi pula proliferasi koran yang sebagian terbesar
                                        diselenggarakan oleh kaum Tionghoa. Beberapa jurnalis kawakan kita yang
                                        sekarang masih hidup bisa dirunut sejarahnya dari dua koran besar pada masa
                                        itu, Keng Po dan Sin Po.

                                        Pada masa gerakan kebangsaan, Sin Po yang nasionalis (berorientasi pada
                                        paham Dr Sun Yat Sen) bahkan menjadi penyemangat para nasionalis Indonesia
                                        meraih kemerdekaan sebagai bangsa berdaulat. Sin Po bahkan adalah surat
                                        kabar pertama yang memakai istilah Indonesia untuk menggantikan nomenklatur
                                        Nederlandsch-Indie atau Hindia-Olanda.

                                        Tetapi, mengapa dalam kitab-kitab yang dipakai sebagai bahan pengajaran di
                                        sekolah-sekolah kita saat ini peran etnis Tionghoa dalam kesastraan dan
                                        jurnalistik tidak pernah tersurat? Seolah-olah sastra dan pers Indonesia
                                        muncul begitu saja dari sebuah ruang hampa?

                                        u

                                        DALAM kaitan dengan keperintisan para penulis Tionghoa, saya baru saja
                                        selesai membaca sebuah buku yang diterbitkan ulang atas prakarsa Ben
                                        Anderson baru-baru ini. Buku itu berjudul Indonesia dalem Api dan Bara,
                                        karya Tjamboek Berdoeri (baca: Cambuk Berduri, seterusnya TB). Buku itu
                                        aslinya terbit pada tahun 1947 di Malang. Tentu saja, TB adalah nama
                                        samaran, seperti banyak dilakukan oleh para penulis perjuangan pada masa
                                        itu.

                                        Siapa Tjamboek Berdoeri itu? Pertanyaan itu menghantui Ben Anderson yang
                                        menemukan buku itu di tukang loak pada tahun 1963. Ia terkejut ketika
                                        membaca betapa kritisnya si TB itu. Ben bahkan menilai karya Tjamboek
                                        Berdoeri sebagai "jagoan prosa bahasa Melayu yang terhebat sesudah Pramoedya
                                        Ananta Toer". Anehnya, tak seorang pun mengetahui siapa sebenarnya penulis
                                        itu.

                                        Hampir 40 tahun, melalui sebuah penelitian yang pantang menyerah, akhirnya
                                        Ben Anderson menemukan bahwa TB adalah seorang yang bernama asli Kwee Thiam
                                        Tjing (KTT). Sayangnya, ketika "ditemukan", KTT sudah lama meninggal. Ia
                                        meninggal pada tahun 1974, tanpa seorang pun tahu bahwa seorang kolumnis
                                        besar telah tiada. Maklum, kecuali kepada keluarganya yang sangat dekat, KTT
                                        merahasiakan jatidiri si TB.

                                        TB yang lahir pada tahun 1900, mulai menulis kolom secara freelance pada
                                        sekitar tahun 1922. Ia kemudian sempat beberapa kali bekerja secara full
                                        time sebagai redaktur surat kabar, bahkan pernah pula menerbitkan koran
                                        sendiri dengan nama Pembrita Djember. Anehnya lagi, beberapa tahun sebelum
                                        kematiannya, ia sempat pula menjadi kolumnis di harian Indonesia Raya.

                                        Pertanyaan besarnya di sini adalah: mengapa seorang besar seperti KTT ini
                                        bisa lenyap begitu saja dari perhatian kita? Seolah-olah tak pernah ada
                                        dalam sejarah bangsa ini?

                                        Salah satu penyebabnya adalah karena KTT terlalu kritis. Ia bahkan sangat
                                        kritis terhadap kaumnya sendiri. Maka, demikianlah, paku yang mencuat harus
                                        diketok supaya tidak melukai orang. Dan, dengan demikian pula, nama KTT
                                        dilenyapkan dari sejarah.

                                        Alangkah ironisnya! *

                                        ----- Original Message -----
                                        From: ddinasty_a04
                                        To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                        Sent: Thursday, 4 January, 2007 4:03
                                        Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran berbahasa


                                        --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...> wrote:
                                        >
                                        > {SENSI MODE ON}
                                        >
                                        > APAAAAA MAKSUDNYA?????
                                        >
                                        Salah kaprah! Itu bahasa Jawa yang tercampur dengan bahasa Indonesia,
                                        > bukan sebaliknya!
                                        > Lagi pula, apa Anda tidak tahu kalau DIALEK tiap daerah itu BUKAN
                                        > merusak,
                                        > melainkan MEMPERKAYA khasanah berbahasa?


                                        < Jangan sewot dulu dong, saya kira kita lagi ngebahas bahasa yg
                                        baku,sampai-sampai Koh Suryana sebut-sebut EYD segala,makanya aku
                                        nembak ke arah itu.

                                        Kalau menurut anda, fenomena yg saya kemukakan itu berpotensi
                                        merusak bahasa yg baku atau akan memperkaya-nya?

                                        Soal dialek, mungkin saja anda benar, tapi kalau anda mendengar
                                        sendiri bahasa ´gado-gado campur soto´ yang saya maksudkan,mungkin
                                        anda juga akan tersenyum-senyum sendirian, mungkin ini soal rasa
                                        saja.

                                        ==================


                                        > Dan Lagi, memangnya Anda punya argumen apa, bahwa "rusaknya
                                        bahasa
                                        > Indonesia di Jawa Timur itu KARENA etnis Tionghoa".

                                        < Anda mendramatisir berlebihan, tentunya yg saya maksudkan adalah
                                        bila fenomena yg saya ceritakan kemudian dijadikan ´tradisi
                                        komunikasi´ formal, apa ini tidak sama artinya dgn salah satu jalan
                                        merusak bahasa yg baku tersebut?
                                        =================


                                        > Memangnya Anda berani jamin bahwa HANYA etnis tionghoa yang
                                        mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa?

                                        < Okey, ´pesakitan´ saya tambah lagi satu etnick yaitu, MADURA tak
                                        iya -:)
                                        ================


                                        > Lagipula, logikanya, kalau etnis tionghoa yang mencampur aduk
                                        bahasa, mestinya dicampur adukkan dengan bahasa mandarin atau
                                        hokkian atau tiociu donk, masa campurannya Jawa dan Indonesia,
                                        gimana toh? HUehehehehehe.

                                        < Lha aku bilang kan komunikasi ´gado-gado campur soto´ itu
                                        digunakan untuk bicara sama pembantu atau teman-teman yg tentunya
                                        orang-orang pribumi,kalau-toh dicampur juga dgn bahasa mandarin atau
                                        hokkain, paling-paling berkisar pada "no jing","Nggomban" atau "cap
                                        jai",kalau digunakan yg berat-berat ya mana bisa ada komunikasi
                                        linier?
                                        =============



                                        > Makanya gue bilang lu ngaco belo salah kaprah! Hayo, keluarin
                                        argumen lagi hayo!

                                        < Ya enggak lah, masak ´kesalahan´ku sampai pada taraf ´ngaco belo´?
                                        anda yg kurang bisa mengerti kemana point tulisanku saja kayaknya.
                                        ==============


                                        > Gue ketemu orang Semarang, yang tionghoa sama yang bukan, gaya
                                        > ngomongnya sama tuh. Weks!
                                        > Begitupun orang Surabaya. Dan orang Sunda.
                                        > Logat khusus itu mah tergantung daerah, bukan lantaran etnis!!!!
                                        > Ngaco!!!

                                        < Betul, tapi tidak sepenuhnya tapat. Daerah memang akan membentuk
                                        dialek percakapan, tapi khusus untuk etnis Madura dan Tionghoa ada
                                        pencecualian di Surabaya.

                                        Kalau anda mau bukti; tutup mata saya, lantas suruh satu atau
                                        sepuluh orang etnic Madura atau etnic Tionghoa bercakap cakap dgn
                                        cara yang wajar seperti biasa mereka lakukan dgn orang-orang dari
                                        lain suku -batak kalau bisa atau Sunda-, saya jamin saya akan bisa
                                        menebak dgn tepat yg mana orang etnik Madura, etnik Tionghoa, batak
                                        atau juga Orang Sunda.

                                        Dgn catatan orang etnik Madura atau etnic Tionghoa tadi HARUS
                                        berdomisili di daerah Surabaya atau setidaknya Jawa Timur,Jawa
                                        Tengah sampai daerah Bali.

                                        Ciao,





                                        > -----Original Message-----
                                        > From: tionghoa-net@yahoogroups.com [mailto:tionghoa-
                                        net@yahoogroups.com]
                                        > On Behalf Of ddinasty_a04
                                        > Sent: Wednesday, January 03, 2007 5:15 AM
                                        > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                        > Subject: Re: [t-net] surat kembang kemuning: tentang kesadaran
                                        berbahasa
                                        >
                                        > Kalau etnis Tionghoa bicara soal bahasa ternyata lucu juga, cuma
                                        > anda-anda pada lupa atau memang belum tahu, rusaknya bahasa
                                        > Indonesia di jawa Timur (Surabaya) lebih dikarenakan etnic
                                        Tionghoa
                                        > ini, bayangin, kalau lagi treansaksi bisnis atau lagi ngomong sama
                                        > pembantu, atau juga tetangga, warga keturunan ini ngomongnya
                                        campur
                                        > aduk kayak gado-gado dicampur soto. Belum lagi logat khas yg
                                        > dipakai, benar ancur dech bahasa Indonesia dan bahasa Jawa
                                        ditangan
                                        > mereka.
                                        >
                                        > Tapi masih baguslah dari pada ngmong pakai bahasa Mandarin (kalau
                                        > jeruk Mandarin aku baru suka,juga cewe Mandarin-:)
                                        >
                                        > "Sudah tak bilangin ojok belok-belok nggak percoyo, saiki nubruk
                                        > pagar baru kowe tahu rasa"
                                        >
                                        > Itu salah satu ´bahasa ancur´ Indonesia-Jawa versi etnic Tionghoa
                                        > Surabaya.
                                        >
                                        > Jadi jangan dulu ngomongin sastrawan, politikus atau juga
                                        > jurnalis,kita kritisi dulu bagiamana warga tionghoa menggunakan
                                        > bahasa Indonesia yg selalu pakai logat khusus dan dicampur bahasa
                                        > daerah, baru kita bicara ke level yg lebih tinggi.
                                        >
                                        > Ciao,
                                        >
                                        >
                                        > [Non-text portions of this message have been removed]
                                        >




                                        # Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam
                                        berpendapat #

                                        Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe :
                                        tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                                        Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                                        Yahoo! Groups Links





                                        [Non-text portions of this message have been removed]
                                      • Eva Yulianti
                                        Dinasty : Kalau menurut anda, fenomena yg saya kemukakan itu berpotensi merusak bahasa yg baku atau akan memperkaya-nya? Soal dialek, mungkin saja anda benar,
                                        Message 19 of 25 , Jan 3, 2007
                                          Dinasty :

                                          Kalau menurut anda, fenomena yg saya kemukakan itu berpotensi
                                          merusak bahasa yg baku atau akan memperkaya-nya?

                                          Soal dialek, mungkin saja anda benar, tapi kalau anda mendengar
                                          sendiri bahasa ´gado-gado campur soto´ yang saya maksudkan,mungkin
                                          anda juga akan tersenyum-senyum sendirian, mungkin ini soal rasa
                                          saja.

                                          Eva :

                                          Kalau menurut saya orang mencampur aduk bahasa, bukan berarti bermaksud merusak atau apa, maaf mungkin saya salah, saya melihat dari pandangan saya, sebagai seorang pedagang saya biasa menggunakan berbagai bahasa, terutama bahasa daerah , maksud saya melakukan hal tersebut, tentunya untuk mengakrabkan diri saya dengan para pelanggan saya.

                                          ketika pelanggan saya orang sunda, langsung saya berbahasa sunda, dan ketika saya berhadapan dengan orang jawa terutama yang sudah sepuh dengan keterbatasan bhasa jawa saya, saya berusaha untuk bercakap cakap dalam bahasa jawa.

                                          Dan ketika saya berhadapan dengan para ABG, bahasa prokem saya pun keluar , dan saya biasa menggunakan bahasa salon ketika saya berhadapan dengan ADI , nama stylist sekaligus sahabat baik saya, nah saya kasih contoh deh... percakapan saya semalam dengan ADI :

                                          ADI : Selamatan mak lampir... say.... ( selamat malam.. say )

                                          Eva : Mak Lampir....ada apa say ???? ( Malam ada apa say ??? )

                                          ADI : Aduh Say.. Akika mawar belimbing tasaka, tahu nggak toko yang mursindang ?
                                          ( Aduh say.. aku mau beli tas, tahu nggak toko yang murah ? )

                                          Eva : Tahu lha, ya sutra.. sampai besok ya.....

                                          ADI : Ok, besok kita makan dulu ya, yang mursindang endang bambang gulindang.

                                          Hi...hi.... apa saya termasuk orang yang merusak Bahasa ???? menurut saya penggunaan bahasa, bisa termasuk tata krama yang bisa dijalankan dimana saja, tergantung waktu, tempat, dan orang yang kita hadapi.

                                          Ada pengalaman yang lucu, ketika saya berhadapan dengan orang bule, dengan gayanya saya bertanya dalam bahasa linggisan...eh... kagak tahunya tuch bule pakai bahasa indonesia baku yang sangat baik.....

                                          Jadi.... Aku cinta bahasa Indonesia dan bahasa daerah, karena bahasanya sangat dinamis...

                                          Euleuh... euleuh what heven aya naon euy ??????? hargana jayus euy.... aih..... akika mawar kencono jadinya... udah dulu ah.....


                                          Salam,
                                          Eva..



                                          __________________________________________________
                                          Do You Yahoo!?
                                          Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                                          http://mail.yahoo.com

                                          [Non-text portions of this message have been removed]
                                        • ddinasty_a04
                                          ... tak ...
                                          Message 20 of 25 , Jan 4, 2007
                                            --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, "Zaenal Arief" <combat@...>
                                            wrote:
                                            >
                                            > Pak Dinasty yth,
                                            >
                                            > > < Okey, ´pesakitan´ saya tambah lagi satu etnick yaitu, MADURA
                                            tak
                                            > > iya -:)
                                            > =======================================
                                            > Selaku etnik Madura saya jadi agak tersinggung nih.... :P

                                            < Sorry sing akeh Cak Zaenal Yth juga, mohon jangan tersinggung,
                                            nggak ada niat jahat kok, cuma sharing aja, kakakku yg cewe suaminya
                                            juga orang Madura, asli Pamekasan.





                                            >
                                            > > Kalau anda mau bukti; tutup mata saya, lantas suruh satu atau
                                            > > sepuluh orang etnic Madura atau etnic Tionghoa bercakap cakap dgn
                                            > > cara yang wajar seperti biasa mereka lakukan dgn orang-orang dari
                                            > > lain suku -batak kalau bisa atau Sunda-, saya jamin saya akan
                                            bisa
                                            > > menebak dgn tepat yg mana orang etnik Madura, etnik Tionghoa,
                                            batak
                                            > =========================================
                                            > Lah kalo saya yg Madura tionghoa gimana apa termasuk generasi
                                            perusak bahasa juga??

                                            < Bukan kayaknya, cuma anda termasuk ´merusak garis etnic´....

                                            Saya kira, Madura disini saya kaitkan dgn etnic, dan bukan
                                            tempat/wilayah, jadi nggak mungkin kan seseorang merupakan bagian
                                            dari dua atau tiga etnic sekaligus?


                                            > Pak Dinasty apa pernah ke Madura?
                                            >
                                            > Zaenal

                                            < Belum pernah Pak Zaenal, adik dan kakakku sering kesana, katanya
                                            dulu disepanjang jalan di Madura ada papan besar di pinggir-pinggir
                                            jalan yg bertuliskan, "Hilangkan budaya Carok!", benar nggak nih
                                            cerita kakak saya ini?

                                            Ciao,
                                          • Zaenal Arief
                                            Dinasty yth, ... Ha, ha, ha......... gak masalah kok cuman becanda ... Wah jangan terlalu PD dulu, tunggu kalo ada kesempatan ketemu keluarga pihak ayak saya
                                            Message 21 of 25 , Jan 7, 2007
                                              Dinasty yth,

                                              > < Sorry sing akeh Cak Zaenal Yth juga, mohon jangan tersinggung,
                                              > nggak ada niat jahat kok, cuma sharing aja, kakakku yg cewe suaminya
                                              > juga orang Madura, asli Pamekasan.
                                              ---------------------------------------------------
                                              Ha, ha, ha......... gak masalah kok cuman becanda

                                              >> > Kalau anda mau bukti; tutup mata saya, lantas suruh satu atau
                                              >> > sepuluh orang etnic Madura atau etnic Tionghoa bercakap cakap dgn
                                              >> > cara yang wajar seperti biasa mereka lakukan dgn orang-orang dari
                                              ----------------------------------------------------------------

                                              Wah jangan terlalu PD dulu, tunggu kalo ada kesempatan ketemu keluarga pihak
                                              ayak saya anda akan bingung karena mereka berbahasa madura halus sebaik para
                                              kiayi disana ....

                                              Zaenal
                                            Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.