Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[t-net] Akar Masalah Sentimen Anti Cina 4/5

Expand Messages
  • wong chin na
    Akar Masalah Sentimen Anti Cina 4/5 Oleh : DR.Wong Chin Na, SE,Ak,MBA ______________________________________________________________________ CINA DAN
    Message 1 of 2 , Dec 1, 1999
    • 0 Attachment
      Akar Masalah Sentimen Anti Cina 4/5

      Oleh : DR.Wong Chin Na, SE,Ak,MBA
      ______________________________________________________________________

      CINA DAN NASIONALISME.
      Setiap ras apapun di dunia memiliki segi positif dan segi negatif. Segi
      positif dilakukan oleh orang-orang yang berkelakuan baik
      yang merupakan bagian terbesar dari anggota ras bersangkutan, sedangkan segi
      negatif dilakukan oleh sebagian kecil anggota
      ras tersebut. Dalam hal warga keturunan Cina di Indonesia, yang oleh pihak
      penguasa telah diciptakan sebagai "musuh bersama", segi positifnya selalu
      ditutup-tutupi tetapi segi negatifnya selalu ditonjolkan. Kalau ada warga
      keturunan Cina yang melakukan tindak pidana maka nama Cinanya selalu
      disebut-sebut, tetapi kalau yang berbuat baik atau berjasa bagi negara tidak
      pernah disebutkan nama Cinanya.

      Yang mempunyai peran aktif dalam menyebarkan masalah ini adalah media massa,
      yang sebenarnya dikuasi oleh pemerintah
      yang berkuasa saat itu. Bukan rahasia lagi kalau saham-saham dari koran atau
      majalah terkemuka di Indonesia dikuasai oleh
      pejabat-pejabat tertentu atau anggota keluarganya, sehingga setiap terbit
      arahnya harus menyuarakan kepentingan penguasa.
      Media massa yang berani membeberkan fakta yang sebenarnya seperti Tempo,
      dianggap menghasut masyarakat dan dibredel
      tanpa ampun.

      Tindakan negatif dari sebagian warga keturunan Cina selalu dikaitkan dengan
      isu a-nasionalisme, padahal pengertian
      nasionalisme sendiri akan mengundang perdebatan yang tak pernah selesai.
      Tidak kurang dari Moerdiono sebagai Mensetneg
      salah mengartikan nasionalisme baru ala Liem Sioe Liong. Penjualan saham
      perusahaan ke anak perusahaan yang lain di luar
      negeri dengan teori "mark-up" nya yang semata-mata untuk meraih keuntungan
      yang sebesar-besarnya dikatakan nasionalisme
      baru. Salah-salah orang yang merampok di luar negeri yang membawa uang hasil
      rampokannya ke Indonesia juga disebut
      sebagai nasionalisme baru.

      Menurut saya, secara sederhana nasionalisme dapat diartikan sebagai sikap
      kepedulian terhadap kemajuan bangsa dan negara
      Indonesia, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dalam suasana perang,
      nasionalisme dapat diartikan sebagai kesediaan
      untuk turut mempertahankan keutuhan negara Indonesia dengan konsekuensi
      mungkin akan kehilangan harta dan bahkan
      nyawanya. Tapi sebaliknya dalam suasana damai, terlalu naif jika ada orang
      yang mengatakan bahwa, seorang nasionalis harus
      rela berkorban harta dan nyawa demi bangsa dan negara Indonesia. Kalau
      pernyataan ini dianggap benar, saya ingin bertanya
      kepada orang-orang yang berpendapat demikian, apakah dirinya sendiri
      bersedia melakukan hal tersebut? Inilah salah satu
      nasionalisme picik yang tujuannya hanya untuk memojokkan orang lain yang
      kebetulan secara materi lebih berhasil.

      Tommy dan Habibie, kalau dia seorang nasionalis otomatis akan rela
      menangguhkan proyek Mobnas Korea dan N-2130 nya.
      Apakah anak-anak presiden yang saat ini kaya raya dan tidak jelas asal-usul
      modalnya bersedia menjual dolar simpanannya
      (bukan hanya jual dolar pura-pura demi kepentingan politis). Pertanyaannya,
      kenapa kalau ada warga keturunan Cina yang
      tidak mau menjual dolarnya disebut tidak nasionalis (yang mungkin juga tidak
      punya atau diperlukan untuk transaksi impor),
      sedangkan putra-putri Pak Harto dan putra-putri pejabat lainnya tidak
      disebut a-nasionalis? Ironisnya banyak orang yang
      berpikiran picik, yang mengukur nasionalisme warga keturunan Cina dari
      kesediaan mengorbankan harta bendanya untuk
      kepentingan orang lain tidak peduli orang yang bersangkutan akhirnya jatuh
      miskin.

      Saya sangat setuju kalau semua orang yang menimbun dolar dalam krisis
      moneter sekarang ini disamakan dengan subversif dan
      penghianat negara, yang harus dihukum seberat-beratnya. Tetapi dalam hal ini
      harus adil dan objektif, serta harus dibedakan
      antara uang diam atau modal kerja. Tidak peduli keturunan Cina, Jawa, Sunda,
      Batak, Padang, dan sebagainya, semua harus
      dihukum tanpa pilih bulu tidak terkecuali anak-anak presiden. Kita harus
      belajar dari Korea yang berani menghukum bekas
      presidennya sendiri maupun anak presiden yang sedang berkuasa karena
      terbukti korupsi.

      Seorang warga keturunan Cina yang secara tidak resmi diakui memiliki jiwa
      nasionalisme adalah Kwik Kian Gie, yang
      kebetulan mempunyai kemampuan yang baik dalam bidang politik & ekonomi, dan
      mampu menuangkan buah pikirannya
      secara tertulis di media massa sehingga dapat dikenal masyarakat luas. Kalau
      Kwik tidak mempunyai bakat menulis, tentu tidak
      banyak orang yang mengenal buah pikirannya dan belum tentu disebut
      nasionalis. Pertanyaannya apakah tidak ada warga
      keturunan Cina lain yang mempunyai jiwa nasionalisme seperti Kwik Kian Gie?

      Tentu saja banyak, hanya mungkin karena kurang mempunyai bakat menulis jadi
      kurang dikenal masyarakat luas, atau mungkin
      kemampuannya masih di bawah Kwik sehingga media massa tidak bersedia memuat
      tulisannya. Tengoklah dosen-dosen
      non-pri di berbagai Universitas, mungkin akan banyak yang heran jika
      mengetahui motivasi mereka menjadi dosen padahal
      gajinya kecil. Sebagain besar dari mereka mempunyai idealisme yang tinggi
      untuk turut memajukan bangsa dan negara
      Indonesia melalui jalur pendidikan, bukan hanya sekedar mencari uang
      semata-mata. Akan lebih mengherankan lagi jika
      diketahui cukup banyak pejabat perusahaan swasta keturunan Cina dengan gaji
      yang cukup besar, masih mau bercapai lelah
      menjadi dosen dengan gaji yang minim.

      Kalau ini dapat dipakai sebagai tolok ukur, berarti pandangan terhadap
      nasionalisme warga keturunan Cina, khususnya dari
      kalangan yang berpendidikan tinggi harus dikoreksi. Terlalu absurd jika
      masalah nasionalisme ditanyakan kepada para
      pedagang kelontong keturunan Cina di sekitar pusat perdagangan, yang karena
      tingkat pendidikannya yang sangat minim tidak
      pernah terlintas di benaknya untuk turut memikirkan masalah nasionalisme.
      Namun dalam hal ini belum tentu mereka tidak
      mempunyai rasa nasionalisme sama-sekali, hanya bahasanya yang seringkali
      terlalu tinggi sehingga barangkali kurang dapat
      dimengerti oleh mereka.

      Untuk mendapatkan gambaran yang objektif, adakanlah suatu penelitian
      terhadap mereka mengenai masalah nasionalisme
      dengan menggunakan bahasa yang sederhana, bandingkan hasilnya dengan hasil
      penelitian yang sama terhadap para pedagang
      pribumi. Mungkin hasilnya tidak akan jauh berbeda karena keduanya sama-sama
      awam terhadap teori kebangsaan dan
      nasionalisme. Selanjutnya buatlah suatu program untuk meningkatkan
      nasionalisme semua rakyat Indonesia baik pribumi
      maupun non-pribumi, dan tidak perlu dipolitisir seperti program P4.


      HUKUM DAN KEADILAN.
      Di negara-negara maju, umumnya hukum ditegakkan relatif adil terutama untuk
      hal-hal yang sudah menjadi sorotan masyarakat
      dan dunia. Sentimen anti ras tertentu tetap akan mendapat tempat tersendiri
      di hati masyarakat, tetapi semua kerusuhan akan
      ditindak tegas tanpa pandang bulu. Oleh karena itu Ku-Klux-Klan sekalipun
      yang secara organisatoris cukup kuat dan
      mendapat dukungan dana dari ras tertentu, akhirnya tidak berani berkutik dan
      nyaris punah saat ini. Tetapi di Indonesia, hukum
      lebih memihak kepada para penguasa atau orang-orang yang dekat dengan pusat
      kekuasaan.

      Apabila hukum ditegakkan secara adil di Indonesia, maka semua perusuh yang
      membakar toko-toko, mobil, Gereja, Vihara,
      dsb akan berpikir beberapa kali sebelum bertindak. Sangat lucu kalau seorang
      ibu keturunan Cina yang menegur anak-anak
      muda yang berteriak-teriak tidak karuan di pagi buta dihukum lebih berat
      dari orang-orang yang merusak dan membakar
      rumah orang lain (kerusuhan di Rengas Dengklok - pen). Sebaliknya kalau ada
      pengusaha keturunan Cina yang melakukan
      kecurangan, kolusi, diskriminasi dalam business dan penerimaan pegawai,
      segera dilaporkan ke Polisi untuk diusut kebenaranya
      dan dikenakan sanksi hukum yang seadil-adilnya. Di Amerika ada peraturan
      yang mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk
      menerima pegawai dengan komposisi rasial tertentu yang ditetapkan
      pemerintah. Setiap pelanggaran akan dikenakan sanksi
      yang cukup berat.

      Demikian juga apabila hukum di Indonesia dapat menjangkau para koruptor dan
      pelaku komersialisasi jabatan, maka kolusi
      antara pejabat dengan pengusaha keturunan Cina tidak akan berlangsung terus.
      Pungli walaupun belum tentu dapat
      dihapuskan100%, minimal tidak keterlaluan seperti sekarang ini, dari tingkat
      RT sampai presiden. BCA yang secara umum
      dikenal sebagai milik Liem Sioe Liong, ternyata saat ini sahamnya hanya
      tinggal 19% saja sedangkan sisanya yang 81% milik
      anak-anak presiden dan adik iparnya. Akhir tahun yang lalu seorang kenalan
      mengeluh, 50% saham perusahaannya yang cukup
      solid yang berkembang atas keringatnya sendiri, akan dibeli oleh salah satu
      anak presiden. Sedangkan pembayaran atas saham
      tersebut akan dicicil diambil dari bagian keuntungannya kelak yang 50%.
      Pengusaha lain juga pernah mengeluhkan hal yang
      sama beberapa tahun yang lalu. Apakah ini suatu teori baru dalam "Portfolio
      Management" ciptaan putra-putra presiden yang
      perlu dikembangkan lebih lanjut agar mendapat hadiah Nobel dalam bidang
      ekonomi?

      Demi keadilan hukum, para pelaku kredit macet harus segera diseret ke
      pengadilan. Bankir yang hanya bisa menipu uang
      rakyat kalau perlu dihukum mati, sebagai imbalan atas beberapa orang nasabah
      yang menjadi gila dan bunuh diri karena
      uangnya amblas di bank yang dilikuidasi. Tak terhitung banyaknya nasabah
      yang menjadi sengsara akibat dilikuidasinya 16
      bank yang bermasalah (Nov.97 - pen). Tegakkanlah hukum secara adil tanpa
      pandang bulu, tidak peduli terhadap anak cucu
      penguasa neraka sekalipun. Perusahaan-perusahaan publik perlu di audit
      dengan seksama, kalau terbukti melakukan praktek
      "mark-up" pada saat memasuki pasar modal, segera diseret ke pengadilan
      sebagai penipu rakyat. Praktek-praktek insider
      trading dalam perdagangan saham juga harus diusut tuntas dan diberi hukuman
      yang setimpal.

      Hukum yang adil hanya dapat ditegakkan jika didukung oleh pemerintah yang
      bersih. Sepanjang pemerintah yang berkuasa
      hanya memikirkan keuntungan pribadi-pribadinya semata-mata, maka mustahil
      bisa ditegakkan hukum yang adil karena akan
      menjerat dirinya sendiri.


      KETURUNAN CINA DI INDONESIA
      Pada masa lalu, warga keturunan Cina di Indonesia dapat dibagi dalam 3
      kelompok besar, namun saat ini ketiga kelompok
      tersebut sudah berbaur menjadi satu sehingga sulit dibedakan oleh "orang
      luar". Walaupun demikian, sisa-sisa ex masing-masing
      kelompok kalau diteliti lebih jauh masih dapat dilihat perbedaannya.

      Kelompok pertama adalah yang disebut Cina Peranakan, yaitu keturunan dari
      nenek moyang yang datang ke Indonesia sejak
      ratusan tahun yang lampau sampai dengan akhir abad ke 19. Semua anggota
      keluarga kelompok ini sehari-hari berbicara
      bahasa Indonesia atau bahasa daerah, dan jarang sekali yang bisa berbahasa
      Cina. Pada masa pra kemerdekaan, sebagian
      besar dari mereka tinggal di daerah-daerah dan mereka diyakini sebagai
      keturunan dari nenek moyang yang kawin campur
      dengan pribumi. Pada masa lampau cara berpakaian mereka, terutama kaum
      wanitanya lebih meniru pribumi, yaitu berkebaya
      atau menggunakan pakaian yang mirip dengan pakaian adat setempat.

      Setelah kemerdekaan, anak-anak mereka sekolah di sekolah-sekolah negeri
      berbaur dengan pribumi setempat, sehingga
      walaupun bukan pemeluk agama Islam mereka cukup akrab dengan agama Islam.
      Pekerjaan mereka sebagian besar pegawai
      atau pedagang kecil kebutuhan sehari-hari. Sejalan dengan kemajuan yang
      dicapai dalam masa Orde baru, generasi mudanya
      banyak yang melanjutkan sekolah ke kota-kota besar, dan setelah
      menyelesaikan sekolah mereka berkeluarga di kota besar
      sampai sekarang. Sebagian dari mereka yang berhasil banyak yang bekerja
      sebagai profesional, dosen, dan pejabat
      perusahaan swasta. Sebagian kecil berhasil menjadi pengusaha menengah tetapi
      jarang sekali yang berhasil menjadi pengusaha
      besar, kecuali William Surjadjaja (pendiri Astra).

      Kelompok kedua adalah orang-orang Cina Peranakan yang pada masa pra
      kemerdekaan tinggal di kota-kota besar dan
      sekolah di sekolah-sekolah Belanda. Sehari-hari mereka berbahasa Belanda
      campur Indonesia, dan jarang yang bisa
      berbahasa dearah sehingga mereka sering diejek sebagai Cina Belandis.
      Pekerjaan mereka umumnya sebagai profesional atau
      pekerja pada perusahaan Belanda, hampir tidak ada yang berprofesi sebagai
      pedagang atau pengusaha.

      Kelompok ini dapat dikatakan sebagai kelompok elite nya kaum Cina Peranakan
      saat itu, tetapi sekarang sudah hampir tidak
      ada lagi, kecuali orang-orang tua yang berumur di atas 60 tahun. Sejalan
      dengan menyusutnya orang-orang yang bisa
      berbahasa Belanda, mereka berbaur dengan kelompok pertama sebagai Cina
      Peranakan. Pada jaman pemerintahan Bung
      Karno, sebagian anggota kelompok ini dipercaya untuk menduduki berbagai
      jabatan di pemerintahan, bahkan adapula yang
      diangkat sebagai Menteri Negara seperti Tan Po Gwan, Ong Eng Die, Siaw Giok
      Tjan, Oeij Tjoe Tat, dll. Kalau tidak salah,
      Yap Thiam Hien yang terkenal karena kegigihannya menegakkan hukum di
      Indonesia berasal dari kelompok ini.

      Kelompok ketiga adalah yang sering disebut sebagai Cina Totok, yaitu
      orang-orang Cina yang datang ke Indonesia sekitar PD
      I dan II, ketika timbul revolusi di negeri Cina sampai berkuasanya
      pemerintahan komunis di bawah Mao Ze Dong. Anggota
      kelompok ini sekarang jumlahnya tinggal sedikit dan umumnya sudah berumur
      lebih dari 60 tahun. Pekerjaan mereka sebagian
      besar adalah pedagang / pengusaha atau pegawai pada perusahaan milik
      kerabatnya sendiri. Banyak di antara mereka yang
      sukses sebagai pengusaha besar saat ini, terutama dari suku Hok Chi'a
      seperti : Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Widjaja, Mochtar
      Riyadi, dan beberapa konglomerat non pri lainnya dari kelompok Tapos.

      Anak cucu mereka merupakan generasi peralihan antara Cina Totok dan Cina
      Peranakan. Dalam komunikasi dengan orang
      tuanya mereka umumnya masih menggunakan bahasa Cina, sedangkan dalam
      pergaulan sehari-hari generasi mudanya
      menggunakan bahasa campuran, Cina, Indonesia dan bahasa dearah kasar. Mereka
      juga banyak yang berhasil sebagai
      pengusaha besar mengikuti jejak orang tuanya, tetapi jarang sekali yang
      bekerja sebagai profesional.

      Bagi pihak yang sering berhubungan dengan warga keturunan Cina, tidak sulit
      membedakan Cina Peranakan dengan Cina
      Totok melalui bahasa dan kebiasaannya dalam pergaulan sehari-hari, meskipun
      secara fisik mereka tidak dapat dibedakan.
      Dalam masalah agama, sebagian besar dari kelompok ini penganut agama Kong Hu
      Cu dan Budha, hanya sebagian kecil yang
      menganut agama Kristen, terbalik dengan kaum Cina Peranakan yang sebagian
      besar menganut agama Krsiten terutama
      generasi mudanya, dan hanya sebagian kecil yang memeluk agama Kong Hu Cu dan
      Budha.

      Perbedaan-perbedaan di atas tidak lepas dari peraturan pemerintah dalam
      bidang kewarganegaraan, di mana kelompok
      pertama yang orang tuanya lahir di Indonesia, berdasarkan PP.10 / 1959,
      secara otomatis dapat mengajukan
      Kewarganegaraan Indonesia, dan konsekwensinya tidak boleh sekolah di sekolah
      yang berbahasa Cina. Sedang kelompok
      kedua yang orang tuanya lahir di luar Indonesia, jika ingin mendapatkan
      kewarganegaraan Indonesia harus melalui naturalisasi
      yang dalam prakteknya sangat sulit. Konsekwensinya mereka tidak boleh
      sekolah di sekolah Indonesia, kecuali ada ijin khusus
      dari PDK, jadi mereka hanya bisa sekolah di sekolah khusus untuk orang Cina
      yang bukan warga negara Indonesia.

      Ketika tahun 1966 sekolah Cina ditutup, otomatis mereka yang pada tahun 1966
      berada pada usia sekolah antara 5 sampai
      dengan 20 tahun tidak bisa sekolah lagi. Yang kaya dapat melanjutkan sekolah
      ke Singapore, Hongkong, atau Taiwan.
      Beberapa tahun kemudian, ketika pemerintah mulai melonggarkan ijin untuk
      masuk sekolah Indonesia, yang masih anak-anak
      banyak yang masuk sekolah Indonesia, tapi yang saat itu sudah remaja dan
      sudah bisa membantu orang tuanya berdagang
      kebanyakan tidak melanjutkan sekolah tetapi meneruskan berdagang.

      Karena pengalamannya dalam berdagang sejak usia dini, otomatis mereka lebih
      piawai dalam mencari peluang-peluang
      business dibandingkan yang lain, sehingga mereka banyak yang sukses sebagai
      pengusaha besar. Segi-segi lain yang perlu
      mendapat perhatian adalah pandangan mereka yang cenderung agak sulit
      dimengerti, mungkin akibat trauma yang dihadapi
      ketika mereka harus drop-out dari sekolahnya. Beberapa orang "tokoh" dari
      kelompok ini yang pernah populer sampai ke
      tingkat nasional di antaranya adalah : Endang Wijaya (kasus Pluit), Edy
      Tanzil, Hong Lie (boss judi yang kabur ke Singapura
      dan diduga ada kaitannya dengan pembunuhan Njoo Beng Seng yang sama-sama
      boss judi), dll.

      Bersambung ke bagian 5.

      ______________________________________________________
    • Jim
      Nusantara tercinta kita ini terdiri dari beribu-ribu pulau dan daerah-daerah yang terpisah oleh sungai dan gunung. Berbicara mengenai orang Indonesia tidak
      Message 2 of 2 , Dec 2, 1999
      • 0 Attachment
        Nusantara tercinta kita ini terdiri dari beribu-ribu pulau dan daerah-daerah
        yang terpisah oleh sungai dan gunung. Berbicara mengenai orang Indonesia
        tidak bisa hanya mengacu kepada satu wilayah tertentu lalu membuat
        generalisasi bahwa tempat lain pun sama saja. Demikian pula, berbicara
        mengenai masyarakat Tionghoa di Indonesia.
        Generalisasi adalah salah satu malapetaka bagi persatuan dan kesatuan
        Republik Indonesia yang sampai sekarang masih terus saja dilakukan orang
        banyak.
        Saya sering merasa ada baiknya kita juga sangat sadar untuk sedapat mungkin
        menghindari generalisasi yang bisa merusak kerukunan kita sesama warga
        negara Republik Indonesia tercinta ini.
        Dalam banyak tulisan di milis ini generalisasi sering muncul. Kebanyakan
        kita merasa tidak senang dan segera mengadakan koreksi.
        Saya termasuk yang senang membaca tulisan Wong C.N. sebab bisa menambah
        pengetahuan. Membaca "Akar Masalah Sentimen Anti Cina 4/5", khususnya
        tentang bagian KETURUNAN CINA DI INDONESIA, saya merasa perlu mengetengahkan
        apa yang saya tahu dari membaca dan mendengar kisah-kisah lama yang terjadi
        di sebagian daerah Kalimantan Barat. Saya rasa ada perbedaan-perbedaan yang
        cukup signifikan.

        Wong wrote:
        KETURUNAN CINA DI INDONESIA
        Pada masa lalu, warga keturunan Cina di Indonesia dapat dibagi dalam 3
        kelompok besar, namun saat ini ketiga kelompok tersebut sudah berbaur
        menjadi satu sehingga sulit dibedakan oleh "orang luar". Walaupun demikian,
        sisa-sisa ex masing-masing kelompok kalau diteliti lebih jauh masih dapat
        dilihat perbedaannya.

        Kelompok pertama adalah yang disebut Cina Peranakan, yaitu keturunan dari
        nenek moyang yang datang ke Indonesia sejak ratusan tahun yang lampau sampai
        dengan akhir abad ke 19. Semua anggota keluarga kelompok ini sehari-hari
        berbicara bahasa Indonesia atau bahasa daerah, dan jarang sekali yang bisa
        berbahasa Cina. Pada masa pra kemerdekaan, sebagian besar dari mereka
        tinggal di daerah-daerah dan mereka diyakini sebagai keturunan dari nenek
        moyang yang kawin campur dengan pribumi. Pada masa lampau cara berpakaian
        mereka, terutama kaum wanitanya lebih meniru pribumi, yaitu berkebaya atau
        menggunakan pakaian yang mirip dengan pakaian adat setempat.

        Yang saya terjemahkan bagian dari

        Excerpt from the book “Chinese in the West Borneo Goldfields, a study in
        cultural geography” by James C. Jackson, University of Hull Publications
        1970
        Page 42 - 45, yang ada hubungan dengan tulisan Wong C.N. sebagai berikut:
        ----------------
        Sebagian oleh karena dipersatukan oleh permusuhan mereka yang sama terhadap
        penguasa mereka yang Melayu itu, hubungan antara kedua komunitas (orang
        Tionghoa dan orang Dayak setempat) di tambang emas itu diperkuat oleh
        perkawinan antara mereka. Perempuan imigran Tionghoa tidak biasa di
        Kalimantan Barat; sesungguhnya Veth mencatat hanya ada satu orang perempuan
        kelahiran Cina di situ pada 1823 (Veth, Vol. I, 314). Kelompok-kelompok
        masyarakat Tionghoa yang dominasi-pria ini lebih dekat berhubungan dengan
        orang-orang Dayak non-Muslim daripada dengan pos-pos perdagangan Melayu dan,
        karena tidak ada halangan keyakinan keagamaan seperti yang terdapat dalam
        masyarakat Melayu, persatuan antara lelaki Tionghoa dan perempuan Dayak
        sudah terjadi sejak awal pemukiman orang Tionghoa. Bagi pedagang atau
        saudagar seorang 'bini Dayak' jelas membawa keuntungan-keuntungan ekonomis,
        tetapi hal ini tidaklah demikian bagi para petambang yang bagi mereka
        perkawinan hanya membawa beban biaya tambahan. Oleh sebab itu kejadian pria
        Tionghoa yang kawin jauh lebih banyak di perkotaan dan pelabuhan daripada di
        pertambangan emas di mana, menurut perkiraan Veth, kurang dari sepersepuluh
        petambang punya isteri (Veth, Vol. I, 104, 314). Waktu orang Tionghoa
        mengawini perempuan Dayak mereka membawa serta orang tua isteri dan sering
        pula seluruh keluarga sang isteri ke bawah perlindungan mereka. Mungkin
        sebagian sebagai akibat ini, banyak orang Dayak bertempat tinggal dekat
        pemukiman Tionghoa pandai berbicara bahasa Tionghoa (Earl, 1837, 293-294;
        Engelhard, 255, n.2; Veth, Vol. I, 99-100).
        Sampailah suatu waktu, keturunan dari perkawinan-perkawinan ini menciptakan
        sumber partner baru bagi orang Tionghoa pendatang: anggota-anggota perempuan
        dari suatu komunitas peranakan yang sedang tumbuh. Keturunan campuran ini
        tidak bisa tidak dibesarkan dalam kebudayaan ayah mereka. "Adat-istiadat,
        agama dan kepercayaan dan pakaian dari negeri leluhur tetap dipertahankan
        mereka tanpa sedikit pun perubahan", demikian tulis Crawfurd, "dan mereka
        juga mempertahankan bahasa lisan dari provinsi leluhur mereka, sedikit dari
        mereka tahu tentang orang Melayu." (Crawfurd, 1856, 289).
        Dekat pertengahan abad kesembilan-belas sebagian yang cukup berarti dari
        penduduk ‘Tionghoa’ mungkin terdiri dari orang-orang kelahiran setempat ini
        yang merupakan hasil kawin-campur. Di tahun 1858, mislanya, hanya dua per
        lima dari seluruh pendudduk ‘Tionghoa’ di Larah dan Loemar lahir di Cina,
        dan mayoritas orang Tionghoa di Sanggau kemudian dalam abad itu adalah dari
        hasil kawin-campur (Schaank, 517, n. I; Enthoven, Vol2, 745). Meskipun tetap
        mempertahankan kebudayaan Tionghoa, orang peranakan cenderung dianggap
        sebagai yang lebih rendah dan banyak yang mengikuti masyarakat rahasia yang
        dibentuk untuk melindungi mereka dari kaum imigran mereka yang ‘superior’
        (Schaank, 575, 582, n. I, 587). Kawin-campur ini dan inculturasi
        keturunannya yang, bagaimana pun, diperlakukan berbeda dari kaum imigran
        Tionghoa, jelas menimbulkan kesulitan baik dalam menentukan dan
        memperkirakan besarnya penduduk ‘Tionghoa’ Kalimantan Barat. Meskipun pola
        ekologis di tambang emas banyak mengacu kepada kebudayaan Cina Selatan,
        tidak semua penduduk ‘Tionghoa’ itu imigran.
        ----------------

        Setahu saya, nenek (alm) dan mama saya (alm) memang memakai sanggul, sarong,
        dan kebaya. Mereka sangat akrab dengan masyarakat Melayu dan masyarakat
        Dayak. Selain sehari-hari berbicara bahasa lisan leluhurnya di Cina, ayah
        saya fasih berbahasa Melayu dan berbahasa Dayak Mualang karena sebagian
        besar hidupnya di antara masyarakat ini. Karena orang tua saya pernah
        tinggal di dekat keraton Pontianak, Ibu suri Sultan Pontianak hadir dan
        menaburkan beras kuning campur mata uang Belanda saat kakak saya yang
        tertua lahir. Abang saya yang pertama yang masih bayi, yang sakit keras
        waktu orang tua saya bermukim di perhuluan Sungai Kapuas, disembuhkan oleh
        dukun Dayak. Selama hidup mereka, nenek saya, ayah dan mama saya tetap
        mempertahankan adat dan bahasa lisan dari provinsi leluhur mereka di Cina,
        walaupun ini semua sudah bercampur dengan adat dan bahasa Melayu dan Dayak.
        :-)

        Jim.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.