Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [t-net] Toleransi beragama

Expand Messages
  • Jim Hubby
    Mustinya agama ilang aja dari KTP. Saya agak setuju sedikit dengan David Kuntadi. Soalnya collective freedom itu nanti ada hubungannya juga dengan individual
    Message 1 of 24 , Aug 31, 2005
    View Source
    • 0 Attachment
      Mustinya agama ilang aja dari KTP.

      Saya agak setuju sedikit dengan David Kuntadi. Soalnya collective freedom
      itu nanti ada hubungannya juga dengan individual freedom. Jadi kalo suatu
      masyarakat menentang adanya gereja ya kita hargai.

      Local collective freedom nggak terlalu berbahaya karena orang kan tinggal
      pindah ke daerah lain. Akan tetapi, collective freedom harus juga disertai
      dengan collective consequences.

      Region yang ribut soal agama terus akan lebih miskin. Mereka nggak boleh
      dapet duit dari region yang lebih efficient dan bebas.

      Kayak di Amrik lah kan tiap state ada duit sendiri. Mustinya Indonesia
      seperti itu.

      Jim
      At 08:46 AM 9/1/2005 +0700, you wrote:
      >Kalau dilihat dari data Departemen Agama ( 2004 ), coba simak tabel
      >dibawah ini. Yang menarik adalah di BALI DAN NTT, MAYORITAS ADALAH HINDU
      >( BALI ) DAN KATOLIK ( NTT ), TETAPI JUMLAH RUMAH IBADAH MUSLIM JAUH LEBIH
      >BANYAK.
      >
      >Budiman
      >
      > Provinsi Islam Katolik Kristen Hindu Budha
      > Bali pemeluk 323.853 23.834 30.439 2.751.828 16.569
      > tempat Ibadah 602 1.494 135 232 236
      > Nusa Tenggara Timur pemeluk 335.005 2.051.328 1.287.670 5.226 719
      > tempat Ibadah 883 87 3.684 95 323
      > Sulawesi Utara pemeluk 581.677 92.165 1.274.867 9.828 3.174
      > tempat Ibadah 2.358 405 3.459 170 35
      > Maluku pemeluk 564.035 88.577 488.631 3.858 341
      > tempat Ibadah 1.911 317 704 25 48
      > Maluku Utara pemeluk 571.062 3.725 93.878 140 180
      > tempat Ibadah 4.442 80 - 17 21
      > Papua pemeluk 410.231 264.63 1.017.443 2.774 1.206
      > tempat Ibadah 768 1.043 6.756 84 87
      >
      >
      >
      > ----- Original Message -----
      > From: David Kuntadi
      > To: tionghoa-net@yahoogroups.com
      > Sent: Thursday, September 01, 2005 7:59 AM
      > Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama
      >
      >
      > On 9/1/05, Daniel H.T. <danielht@...> wrote:
      >
      > > Faktanya, di Gresik yg dikenal sbg Kota Santri pun ada gereja! Dan sampai
      > > detik ini tidak ada masalah apa pun. Kebaktian2 di rumah tinggal pun
      > tidak
      > > ada masalah! Ini adalah bukti nyata tingginya toleransi beragama di
      > Gresik.
      >
      > Nah, gereja harus didirikan di daerah yang mayoritas kristen, atau di
      > daerah mayoritas Islam tapi dengan penduduk Islam seperti orang2
      > gresik tersebut. Intinya, pendatang (ingin mendidirkan gereja baru)
      > harus sensitif terhadap lingkungan, dan bukannya seenaknya saja dengan
      > alasan HAM.
      >
      > Contoh yang ekstrim misalnya masalah WC umum. Tentunya pendirian WC
      > umum adalah hal yang wajar dan utk kepentingan umum. Namun, tiba2
      > disamping/depan rumah anda didirikan WC umum, tentu merupakan hal yang
      > mungkin tidak bisa anda toleransi. Namun, ada juga orang yang
      > menganggap hal itu tidak masalah.
      >
      > Contoh yang lebih ektrim lagi, misalnya ada yang ingin mendirikan
      > lokalisasi di samping rumah anda. Hal ini bisa jadi merupakan hal yang
      > tidak bisa anda toleransi. Tapi Jim Thio misalnya, akan ok2 saja bila
      > ada yang ingin mendirikan lokalisasi disamping rumahnya.
      >
      > Nah, toleransi tentu harus dua pihak, bukan kita menuntut agama lain
      > yang harus toleransi kepada kita, tapi kita juga harus berusaha
      > toleransi terhadap orang lain.
      >
      > DK
      >
      >
      > # Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam
      > berpendapat #
      >
      > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe :
      > tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com
      >
      > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
      >
      >
      >
      > SPONSORED LINKS Dari Bahasa indonesia
      >
      >
      >------------------------------------------------------------------------------
      > YAHOO! GROUPS LINKS
      >
      > a.. Visit your group "tionghoa-net" on the web.
      >
      > b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
      > tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com
      >
      > c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
      > Service.
      >
      >
      >------------------------------------------------------------------------------
      >
      >
      >
      >[Non-text portions of this message have been removed]
      >
      >
      >
      >
      ># Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam
      >berpendapat #
      >
      >Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe :
      >tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com
      >
      >Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
      >Yahoo! Groups Links
      >
      >
      >
      >

      Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com
    • BUD'S
      Kami juga tahu, langgar dan Mushola tidak diperuntukan sholat Jumat, disamping itu juga Tempat Ibadah Protestan termasuk juga Permanen, Semi Permanen dan
      Message 2 of 24 , Sep 1, 2005
      View Source
      • 0 Attachment
        Kami juga tahu, langgar dan Mushola tidak diperuntukan sholat Jumat, disamping itu juga Tempat Ibadah Protestan termasuk juga Permanen, Semi Permanen dan Darurat ( Mungkin ini yang dimaksud dengan Ruko or Rumah Penduduk ) Katolik ada Gereja, Kapel dan Darurat. Hindu termasuk Kuil/ Pure dan Sanggah. Budha termasuk Vihara dan Cetya.

        kita kembali ke topik awal, yang disinggung adalah toleransi BERAGAMA, oleh sebab itu Dalam Posting kami dengan menyajikan Data dari DEPAG, kami ingin memberikan Gambaran bahwa ada beberapa daerah yang memberikan toleransi walaupun dalam dalam Jumlah Umat Mereka sangat Mayoritas, tapi dalam Jumlah rumah ibadah mereka sangat minim, Misalnya NTT. Islam = 481 ( Jumlah Penduduk = 9% / 335005 jiwa : dengan Jumlah Mesjid = 481 ); sedangkan Katolik = 66172 ( Jumlah Penduduk = 54% / 2051328 jiwa : dengan Jumlah Gereja = 31 )dan Protestan = 9004 ( Jumlah Penduduk = 34% / 1287670 jiwa : dengan Jumlah Gereja = 143 ). daerah lain bisa anda lihat sendiri.

        Kalau anda mau bicara nasional, juga harus dilihat distribusi dari rumah Ibadah tersebut, Misalnya Mesjid yang terdapat di JABAR = 24 % total Mesjid Indonesia, hal yang sama dengan Gereja Protestan 25% berada di SUMUT, dan Gereja Katolik 30% berada di Sumut juga.

        Kalau dilihat dari data Nasional, BOLEH DONG UMAT KATOLIK DIBERI IJIN UNTUK MENDIRIKAN RUMAH IBADAH ???? Bagaimana Komentar Anda ????


        ----- Original Message -----
        From: David Kuntadi
        To: tionghoa-net@yahoogroups.com
        Sent: Thursday, September 01, 2005 11:45 AM
        Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama


        On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
        > Ngak bisa nyari sendiri ???

        Lha kalo anda sudah dapet linknya ga perlu repot2 saya harus nyari
        lagi dong, apalagi nanti bila data berbeda kan lebih sulit diskusinya.

        Data yang anda sarikan ternyata mencakup langgar dan mushola, bukan
        hanya mesjid. Tentu hal ini tidak terlalu tepat, mengingat
        peruntukannya berbeda.

        Bila dilihat secara global:
        http://www.depag.go.id/Hal_8.php

        Agama Jumlah Pemeluk Gedung Perbandingan Prosentase
        1. Islam 177.528.772 193.225 1 : 918
        0,11
        2. Kristen 11.820.075 21.417 1 : 551
        0,18
        3. Katolik 6.134.902 4.690 1 : 1.308
        0,08
        4. Hindu 3.651.939 2.933 1 : 1.245
        0,08
        5. Budha 1.694.682 4.163 1 : 407
        0,25
        6. Lain-lain 411.629

        Terlihat dare prosentase no 1 justru Buddha, diikuti Kristen baru
        kemudian Islam dan terakhir Hindu dan Katholik.

        DK



        [Non-text portions of this message have been removed]
      • David Kuntadi
        ... DK: Boleh2 saja, sesuai aturan yang berlaku saat ini setahu saya harus disetujui oleh penduduk sekitar. Namun, Umat katholik biasanya lebih toleran
        Message 3 of 24 , Sep 1, 2005
        View Source
        • 0 Attachment
          On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
          > Kalau dilihat dari data Nasional, BOLEH DONG UMAT KATOLIK DIBERI IJIN UNTUK MENDIRIKAN RUMAH IBADAH ???? Bagaimana Komentar Anda ????

          DK:

          Boleh2 saja, sesuai aturan yang berlaku saat ini setahu saya harus
          disetujui oleh penduduk sekitar.

          Namun, Umat katholik biasanya lebih toleran dibandingkan dengan umat
          kristen. Sehingga, saya rasa mereka tidak akan gegabah membangun
          gedung gereja tanpa ijin. Dan pertanyaannya perlu tidak? Karena
          katholik tidak memiliki denominasi2, sehingga gedung2 yang ada bisa
          dimanfaatkan secara maksimal. Berbeda dengan protestant yang "Jor2an"
          mau bentuk aliran sendiri2, sehingga pemanfaatan gedung gereja tidak
          semaksimal katholik.

          DK
        • BUD'S
          Salah Bung, Coba baca contoh salah kasus dibawah ini: Catatan : 12 tahun lalu daerah yang ditengah hutan bisa jadi ditengah Kota pada saat sekarang. Senin, 8
          Message 4 of 24 , Sep 1, 2005
          View Source
          • 0 Attachment
            Salah Bung, Coba baca contoh salah kasus dibawah ini:

            Catatan : 12 tahun lalu daerah yang ditengah hutan bisa jadi ditengah Kota pada saat sekarang.

            Senin, 8 November 2004

            Masa Lalu yang Mengganjal Ibadah

            TANGAN T. Sihono gemetar saat membuka bundelan dokumen rencana
            pendirian
            Gereja Paroki Santa Bernadet Ciledug, Tangerang, Banten. Beberapa
            kali
            lembaran kertas yang dipegangnya jatuh tepat di ujung
            sepatunya. "Dua belas
            tahun pengurus gereja paroki kami menunggu izin, sampai sekarang tak
            ada
            jawaban," katanya kepada Tempo di satu tempat di Jakarta Barat,
            Jumat pekan
            lalu.

            Sihono mengaku tak menyangka akan terjadi aksi perusakan dan
            pemblokiran
            jalan menuju sekolah Sang Timur, 3 Oktober lalu, gara-gara masalah
            peribadatan. "Selama 12 tahun lamanya tak ada masalah, kok tiba-tiba
            ada
            kejadian ini," ujarnya seraya menggelengkan kepala.

            Selama ini, menurut pria yang telah tinggal di kawasan Ciledug sejak
            1985
            itu, ia dan ribuan umat Katolik terpaksa menggunakan bangunan
            sementara
            sekolah Sang Timur untuk beribadah. Tentunya setelah meminta izin
            kepada
            Kepala Desa Karang Tengah, Ciledug. Izin pun keluar dari Kepala Desa
            Karang
            Tengah bernomor 192/Pem/VII/1992 tanggal 21 Juli 1992.

            Hingga 2003 sebanyak 8.975 jiwa dari enam kecamatan, yakni Karang
            Tengah,
            Ciledug, Larangan, Pinang, Pondok Aren, dan Serpong beribadah di
            bangunan
            sementara sekolah itu. Selama itu pula izin mendirikan gereja tak
            kunjung
            turun. Penyebabnya, sebuah surat keputusan bersama dua menteri.

            Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor
            01/Ber/MDN-MAG/1969 tanggal 13 September 1969 itu dituding sebagai
            akar
            persoalan. Pada SKB yang ditandatangani Menteri Agama M. Dahlan dan
            Menteri
            Dalam Negeri Amir Machmud itu, tepatnya pada Pasal 4, menyebutkan
            bahwa
            kepala daerah/pejabat memberi izin setelah mempertimbangkan pendapat
            kepala
            perwakilan Departemen Agama setempat, planologi, kondisi dan keadaan
            setempat. Di sana masih tertera, jika perlu dapat dimintai pendapat
            organisasi-organisasi keagamaan dan ulama/rohaniwan setempat.

            Dalam kasus pendirian gereja di Ciledug, kata Sihono, pemerintah
            daerah
            setempat mewajibkan mereka harus lebih dulu mendapat persetujuan 40
            keluarga
            di sekitar lokasi gereja yang akan dibangun. "Satu saja tak setuju,
            gereja
            tidak akan bisa berdiri," katanya. Itulah yang terjadi selama 12
            tahun.
            Ironisnya, pihak gereja berjuang sendiri untuk meyakinkan bahwa
            kehadiran
            mereka bukan ancaman. "Bukankah pluralisme itu diakui dan dilindungi
            konstitusi?" tanyanya.

            Kasus Ciledug tak sendirian. Kejadian sejenis terjadi di perumahan di
            Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Wakil Bupati Bandung Eliyadi
            Agraharja mengeluarkan surat edaran Nomor 452.2/829/Kesbang tanggal 3
            September 2004. Surat itu memerintahkan untuk menghentikan aktivitas
            12
            gereja di rumah tinggal dan rumah toko di wilayah administrasinya.
            Akibatnya, 1.281 umat Kristen dan Katolik di wilayah itu tak lagi
            bisa
            menjalankan ibadahnya.

            Padahal, menurut Sekretaris Eksekutif Persekutuan Injili Indonesia,
            Pendeta
            Dachlan Setiawan, rumah tinggal dan ruko terpaksa dipakai sebagai
            tempat
            beribadah karena sulitnya mendapat izin mendirikan gereja. "Mereka
            sudah
            15-25 tahun lamanya menunggu izin, tapi tak keluar," katanya sambil
            lagi-lagi menunjuk persyaratan SKB dua menteri.

            Wakil Bupati Elyadi membantah menutup gereja. "Yang ditutup bukan
            gereja,
            tapi rumah tinggal," ujarnya. Namun, ia mengakui SKB sebagai dasar
            hukum
            kebijakannya itu. Lagi pula, di wilayahnya mayoritas muslim, sehingga
            menurut dia, bukan tidak ada risiko mendirikan gereja di kawasan itu.

            SKB memang akar masalahnya, kata pengamat masalah sosial keagamaan
            Weinata
            Sairin. Ia lalu menuturkan sejarah lahirnya SKB. Di awal masa
            pemerintahan
            Soeharto, beberapa peristiwa perusakan rumah ibadah terjadi di
            Makassar pada
            1967; di Slipi, Jakarta pada 1969; dan terakhir gagalnya musyawarah
            antaragama pada 30 November 1967.

            Musyawarah gagal, kata Weinata, karena ada penolakan dari tokoh
            Kristen dan
            Katolik terhadap butir pernyataan dari piagam musyawarah yang
            menyebutkan,
            tidak boleh menyiarkan agama kepada orang yang sudah beragama.
            Sementara
            itu, menurut pemahaman Kristen, agama itu disiarkan kepada setiap
            orang,
            bahkan kepada setiap makhluk.

            Sesudah itu, SKB pun lahir. Pemerintah mengambil peran untuk mengatur
            masalah keagamaan, dan ternyata langkah ini efektif meredam konflik
            keagamaan. Di zaman Soeharto, konflik keagamaan memang nyaris tak
            muncul ke
            permukaan. Perusakan rumah ibadah tak sebanyak dibandingkan zaman
            pemerintahan Soekarno.

            Namun, pada 1999-2004 diperkirakan 940 lebih gereja dirusak. Ini
            belum
            termasuk perusakan terhadap masjid, pura, atau vihara. Lebih
            menyedihkan,
            kata Weinata, tidak ada penegakan hukum terhadap pelaku
            perusakan. "Polisi
            kesulitan karena pelakunya massa, itu alasan mereka," katanya.

            Sekretaris Eksekutif Komisi Hak Hubungan Agama dan Kepercayaan
            Konferensi
            Wali Gereja Indonesia, Antonis Benny Susetyo Pr., menyesalkan sikap
            arogansi
            kekuasaan dalam menyikapi kebebasan beribadah. Pemerintah seharusnya
            proaktif memberi pemahaman kepada masyarakat tentang makna
            pluralisme.
            "Seharusnya tugas pemerintah mendewasakan masyarakat," tuturnya.

            SKB itu, kata Benny, menimbulkan potensi konflik dan merusak
            persatuan
            bangsa. "Ini (SKB) pola-pola orang mendikotomi umat beragama.
            Akibatnya
            orang membuat kutub-kutub," ujarnya. SKB tetap dijadikan acuan
            pemerintah
            untuk membuat kebijakan keagamaan.

            Namun, menurut Wakil Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Din
            Syamsuddin,
            keberadaan SKB itu sejatinya sudah cukup baik dan mengakomodasi
            kepentingan
            umat beragama. "Hanya kawan-kawan Kristen tidak cukup menerima ada
            SKB
            semacam ini, dengan alasan itu wilayah kebebasan dan negara jangan
            ikut
            campur," katanya.

            Konflik dalam pembangunan rumah ibadah sering terjadi, kata Din,
            karena ada
            anggapan pembangunan rumah ibadah sebagai sarana pemurtadan. Menurut
            umat
            Islam, ada gejala kristenisasi, dan sebaliknya ada gejala islamisasi
            oleh
            umat Kristen. "Isu soal penyiaran agama dan pemurtadan yang menjadi
            faktor
            ketegangan dan konflik antardua agama. Dengan agama-agama lain
            relatif tidak
            ada," katanya.

            Lalu, adakah jalan keluar sehingga setiap orang dapat secara tenang
            dan
            merdeka mengekspresikan imannya? Benny mengajak semua pihak terkait
            duduk
            bersama untuk merumuskan kembali kebijakan itu. Selain itu,
            pemerintah perlu
            membuat tata ruang mengenai tempat peribadatan bagi semua umat
            beragama.

            Ini disetujui Din. Menurut salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia
            ini,
            memang perlu ada kode etik agar tidak terjadi benturan antarumat
            beragama.
            "Sebab, jika penyiaran agama secara bebas lewat pendirian rumah
            ibadah,
            pemberian bantuan ekonomi dan lain-lain tanpa kode etik akan
            menimbulkan
            reaksi," ujarnya beralasan.

            Weinata meminta agar semua pihak kembali memberi makna terhadap
            konstitusi,
            terutama yang menyangkut HAM. "Itu harus jadi referensi utama,"
            ujarnya.
            Berdasarkan itu, semua hukum, terutama yang mengatur kehidupan
            beragama,
            dikaji ulang sehingga tak muncul lagi inkonsistensi, apalagi
            paradoks dalam
            kebijakan pemerintah.

            Dari segi posisi SKB ini terhadap peraturan lainnya, Sri Soemantri,
            pakar
            hukum tata negara, mengusulkan agar pemerintah segera mempelajari
            kembali
            SKB itu. "Apakah SKB sesuai dengan peraturan di atasnya?" katanya.
            Kalau
            bertentangan, menurut dia, SKB ini mestinya dicabut. Namun, jika
            sebaliknya,
            ia layak dipertahankan.

            Sri sendiri mengaku pernah mengusulkan ke Komisi Nasional Hak Asasi
            Manusia
            untuk meneliti berbagai macam aturan yang dianggap bertentangan
            dengan HAM,
            termasuk SKB dua menteri ini. Namun, menurut dia, ada sikap ganjil
            yang
            ditunjukkan pemerintah daerah terhadap SKB itu. "Biasanya pemerintah
            daerah
            tak mau tunduk pada peraturan menteri. Tapi tidak untuk SKB ini,
            aneh juga,"
            katanya. maria rita/badriyah/ahmad fikri Search

            > index berita@ korantempo

            sumber : : http://www.korantempo.com/

            ----- Original Message -----
            From: David Kuntadi
            To: tionghoa-net@yahoogroups.com
            Sent: Thursday, September 01, 2005 4:32 PM
            Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama


            On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
            > Kalau dilihat dari data Nasional, BOLEH DONG UMAT KATOLIK DIBERI IJIN UNTUK MENDIRIKAN RUMAH IBADAH ???? Bagaimana Komentar Anda ????

            DK:

            Boleh2 saja, sesuai aturan yang berlaku saat ini setahu saya harus
            disetujui oleh penduduk sekitar.

            Namun, Umat katholik biasanya lebih toleran dibandingkan dengan umat
            kristen. Sehingga, saya rasa mereka tidak akan gegabah membangun
            gedung gereja tanpa ijin. Dan pertanyaannya perlu tidak? Karena
            katholik tidak memiliki denominasi2, sehingga gedung2 yang ada bisa
            dimanfaatkan secara maksimal. Berbeda dengan protestant yang "Jor2an"
            mau bentuk aliran sendiri2, sehingga pemanfaatan gedung gereja tidak
            semaksimal katholik.

            DK




            [Non-text portions of this message have been removed]
          • David Kuntadi
            ... Sang timur lagi, sang timur lagi. Ada informasi yang saya sudah lupa2 ingat, bahwa kasus ini karena arogansi pengurus sang timur berkenaan masalah uang
            Message 5 of 24 , Sep 1, 2005
            View Source
            • 0 Attachment
              On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
              >
              > Sihono mengaku tak menyangka akan terjadi aksi perusakan dan
              > pemblokiran
              > jalan menuju sekolah Sang Timur, 3 Oktober lalu, gara-gara masalah
              > peribadatan. "Selama 12 tahun lamanya tak ada masalah, kok tiba-tiba
              > ada
              > kejadian ini," ujarnya seraya menggelengkan kepala.

              Sang timur lagi, sang timur lagi. Ada informasi yang saya sudah lupa2
              ingat, bahwa kasus ini karena arogansi pengurus sang timur berkenaan
              masalah "uang parkir", sehingga menimbulkan ketidaksenangan "petugas
              parkir".

              Jadi ini masalah duit, tapi kemudian dipolitisir menjadi masalah agama.

              DK
            • BUD'S
              Kebetulan kami punya data tentang Sang Timur dan kebetulan kami mengetahuinya serta kami pernah kesana, jadi informasi ini bisa kami pegang dari pada ngomong
              Message 6 of 24 , Sep 1, 2005
              View Source
              • 0 Attachment
                Kebetulan kami punya data tentang Sang Timur dan kebetulan kami mengetahuinya serta kami pernah kesana, jadi informasi ini bisa kami pegang dari pada ngomong sembarangan. Apakah anda punya data tentang pernyataan anda dibawah ini ???

                Kembali kepada komentar anda sebelum ini :

                DK:

                Boleh2 saja, sesuai aturan yang berlaku saat ini setahu saya harus
                disetujui oleh penduduk sekitar.

                Bud's = Tolong tunjukan peraturannya

                Budiman
                ----- Original Message -----
                From: David Kuntadi
                To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                Sent: Thursday, September 01, 2005 5:26 PM
                Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama


                On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
                >
                > Sihono mengaku tak menyangka akan terjadi aksi perusakan dan
                > pemblokiran
                > jalan menuju sekolah Sang Timur, 3 Oktober lalu, gara-gara masalah
                > peribadatan. "Selama 12 tahun lamanya tak ada masalah, kok tiba-tiba
                > ada
                > kejadian ini," ujarnya seraya menggelengkan kepala.

                Sang timur lagi, sang timur lagi. Ada informasi yang saya sudah lupa2
                ingat, bahwa kasus ini karena arogansi pengurus sang timur berkenaan
                masalah "uang parkir", sehingga menimbulkan ketidaksenangan "petugas
                parkir".

                Jadi ini masalah duit, tapi kemudian dipolitisir menjadi masalah agama.

                DK


                # Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam berpendapat #

                Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni



                ------------------------------------------------------------------------------
                YAHOO! GROUPS LINKS

                a.. Visit your group "tionghoa-net" on the web.

                b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
                tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


                ------------------------------------------------------------------------------



                [Non-text portions of this message have been removed]
              • JSL
                Dari penelusuran di milis2 lain dan media2 massa Indonesia, saya melihat bahwa ternyata banyak juga pemeluk2 agama Islam (baik tokoh2 agama maupun individu2
                Message 7 of 24 , Sep 1, 2005
                View Source
                • 0 Attachment
                  Dari penelusuran di milis2 lain dan media2 massa Indonesia, saya melihat bahwa ternyata banyak juga pemeluk2 agama Islam (baik tokoh2 agama maupun individu2 pribadi) yang bersikap kritis dan menolak peristiwa terjadinya penutupan gereja2 secara paksa oleh AGAP, FPI, dsbnya....tentunya dgn alasan2 yg berbeda tergantung siapa individu tsb. Karena itulah saya masih sedikit optimis bahwa mungkin masalah kebebasan beragama di Indonesia bisa terwujud dengan baik pada masa2 y.a.d. setelah melalui perdebatan2 dan tahapan2 yg sulit seperti saat ini.

                  Yg sedikit mengherankan saya adalah sikap bung DK yg sangat "ngotot" dalam diskusi2 disini untuk membela/membenarkan aksi2 dan tindakan2 yg telah dilakukan oleh kelompok2 militan islam seperti itu.

                  Jadi kalau saya boleh bertanya, apakah sebenarnya yg menjadi alasan dari opini bung DK:
                  - apakah anda seorang muslim yg menjadi simpatisan atau anggota AGAP, FPI, dll..?
                  - apakah anda seorang kristen/buddha/atheist yg sedang dalam tahap utk menjadi muslim?
                  - apakah anda mau menunjukkan ke milis ini bahwa anda hanya ingin bersikap "adil" dalam masalah toleransi agama ini (tetapi dengan tidak mengindahkan nilai2 universal spt. HAM, kebebasan beragama atau peraturan UUD'45?
                  - atau anda hanya ingin berdebat "just for the sake of arguing"?

                  Terima kasih sebelumnya atas penjelasan anda.

                  JSL

                  ==========================================

                  BUD'S <bsugih@...> wrote:

                  Kebetulan kami punya data tentang Sang Timur dan kebetulan kami mengetahuinya serta kami pernah kesana, jadi informasi ini bisa kami pegang dari pada ngomong sembarangan. Apakah anda punya data tentang pernyataan anda dibawah ini ???

                  Kembali kepada komentar anda sebelum ini :

                  DK:

                  Boleh2 saja, sesuai aturan yang berlaku saat ini setahu saya harus
                  disetujui oleh penduduk sekitar.

                  Bud's = Tolong tunjukan peraturannya

                  Budiman


                  ----- Original Message -----
                  From: David Kuntadi
                  To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                  Sent: Thursday, September 01, 2005 5:26 PM
                  Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama


                  On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
                  >
                  > Sihono mengaku tak menyangka akan terjadi aksi perusakan dan
                  > pemblokiran jalan menuju sekolah Sang Timur, 3 Oktober lalu, gara-gara masalah
                  > peribadatan. "Selama 12 tahun lamanya tak ada masalah, kok tiba-tiba
                  > ada kejadian ini," ujarnya seraya menggelengkan kepala.

                  Sang timur lagi, sang timur lagi. Ada informasi yang saya sudah lupa2 ingat, bahwa kasus ini karena arogansi pengurus sang timur berkenaan masalah "uang parkir", sehingga menimbulkan ketidaksenangan "petugas parkir".

                  Jadi ini masalah duit, tapi kemudian dipolitisir menjadi masalah agama.

                  DK

                  __________________________________________________
                  Do You Yahoo!?
                  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                  http://mail.yahoo.com

                  [Non-text portions of this message have been removed]
                • Daniel H.T.
                  Bung DK tidak menjawab substansi statement yg Bung DK sendiri ajukan, yakni kalau mau bangun gereja, bangunlah yang jauh dari mayoritas Muslim. Suatu statement
                  Message 8 of 24 , Sep 4, 2005
                  View Source
                  • 0 Attachment
                    Bung DK tidak menjawab substansi statement yg Bung DK sendiri ajukan, yakni
                    kalau mau
                    bangun gereja, bangunlah yang jauh dari mayoritas Muslim. Suatu statement yg
                    saya katakan tidak mungkin dilakukan. Karena di mana pun gereja mau dibangun
                    pasti akan hampir selalu tidak jauh dari komunitas Muslim.

                    Setelah saya ajukan argumen di atas dgn contoh komunitas Muslim di Gresik,
                    Bung DK mempersempit statement-nya semula: "Kalau mau bangun gereja,
                    bangunlah di daerah yg
                    mayoritas Kristen, atau bangunlah di daerah yg mayoritas Muslim seperti di
                    Gresik."

                    Walaupun sudah "mengrevisi" statement-nya tsb, tetap saja akan menimbulkan
                    tanya kepada Bung DK: Di daerah mana yg Bung DK maksudkan sbg "daerah
                    mayoritas Kristen?" Yang pasti adalah di sebagian besar wilayah Indonesia
                    adalah mayoritas Muslim. Yang tidak mayoritas Muslim hanya sebagian kecil
                    daerah, seperti di daerah Papua atau Sulut. Nah, apakah gereja __hanya
                    boleh__
                    dibangun di kedua wilayah ini?

                    Atau, kata Bung DK, "Bangunlah gereja di daerah mayoritas Muslim, seperti di
                    Gresik." Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dgn "komunitas Muslim
                    seperti di Gresik"? Yang berarti juga ada "komunitas Muslim bukanseperti di
                    Gresik"? Siapa mereka itu? Apakah salah membangun gereja di daerah
                    komunitas Muslim "tipe" yg kedua ini?

                    Barangkali yg Bung DK maksudkan adalah komunitas Muslim seperti AGAP/FPI yg
                    paling proaktif melakukan gerakan2 (yg menjurus) pada penutupan gereja,
                    maupun tempat peribadatan lainnya secara paksa? Berarti secara langsung,
                    maupun tidak langsung BUng DK mau membenarkan tindakan anarkis penutupan
                    gereja secara paksa itu? Lalu, mau dikemanakan UUD 1945 yang menjamin setiap
                    warganegara untuk melakukan ibadah menurut kepercayaannnya masing-masing?

                    Tindakan anarkis penutupan gereja atau tempat peribadatan lain secara paksa
                    apapun alasannya bertentangan dengan UUD 1945, yang melindungi hak asasi
                    setiap warganegara dalam menjalankan peribadatannya. Ketentuan Konstitusi
                    ini jelas merupakan salah satu perwujudan perlindungan negara terhadap salah
                    satu HAM warganegaranya. Mengapa kalau UUD 1945 mau menjamin HAM
                    warganegaranya, seorang Bung DK malah mencela alasan penolakan tindakan
                    anarkis penutupan secara paksa tempat peribadatan tersebut dgn mengatakan
                    "jangan seenaknya saja mendirikan gereja dgn alasan HAM." Apa yg dimaksud
                    dgn kata "seenaknya"?

                    Lalu, apa pula yg Bung DK maksudkan dgn sebutan "pendatang" dalam
                    statement-nya di bawah? Apakah mau bilang Kristen sebagai agama pendatang
                    (import), jadi sebagai pendatang jangan seenaknya mendirikan gereja di
                    Indonesia? Wah, kalau betul maksudnya demikian. Berarti sama, dong opini
                    Bung DK dgn beberapa beberapa spanduk yg sempat terpasang di beberapa sudut
                    kota Tangerang: "Usir Agama Import !" Apakah memang ada agama asli
                    Indonesia?

                    Jangan menggunakan SKB Dua Menteri sbg alasan pembenaran. Karena justru SKB
                    itu merupakan satu pemicu masalah. Menurut catatan Tempo, sebelum SKB itu
                    ada masalah penutupan gereja secara paksa sangat sedikit. Tetapi sejak
                    munculnya SKB, ada ratusan gereja yg ditutup secara paksa. Oleh pihak2
                    tertentu yg mempunyai sentimen dan antiagama tertentu yg diimplemtnasikan
                    secara radikal, SKB merupakan suatu senjata pembenaran yg paling mapuh dlm
                    menjalankan aksi2 mereka.

                    Dari catatan2 artikel media massa, diperoleh informasi bahwa pada umumnya
                    dalam kasus2 penutupan gereja secara paksa, biasanya dilakukan oleh
                    segerombolan massa yg justru berasal dari luar wilayah tempat di mana gereja
                    tsb didirikan. Sehingga kerap terjadi selama bertahun-tahun gereja berdiri,
                    atau orang Kristen melakukan peribadatan di tempat lain, tidak
                    dipermasalahkan oleh warga setempat. Tiba2 datang sekelompok massa dari luar
                    yg tdk dikenal masyarakat setempat, dgn mengatasnamakan masyarakat di situ
                    melakukan aksi2 penutupan gereja itu secara paksa.

                    Selama ini sebagian besar tokoh masyarakat, maupun masyarakat pada umumnya
                    tidak setuju dgn aksi2 penutupan gereja secara paksa ini. Termasuk tokoh2
                    Islam sendiri. Bahkan Din Syamsuddin yg biasanya dikenal sbg tokoh Islam
                    konservatif pun menyatakan ketidaksetujuannya. Kok Bung DK seolah-olah
                    ngotot mau membenarkan aksi2 tsb? Saya jadi bertanya-tanya, Bung DK ini
                    sebenarnya agamanya apa? Kalau nonMuslim, ini artinya ada satu-satunya orang
                    nonMuslim yg mendukung aksi penutupan gereja secara paksa.

                    Menurut saya maksud sebenarnya aksi2 penutupan gereja secara paksa tsb
                    adalah
                    sentimen agama. Perizinan hanya dipakai sebagai kedok atau kamuflase dari
                    alasan mereka yg sebenarnya. Lihat saja nama yg diusung mereka "Aliansi
                    Gerakan Anti PEMURTADAN."

                    Contoh2 yg diberikan Bung DK, sekalipun sudah dibilang "contoh yg ekstrim,"
                    sangat
                    tidak relevan. Kecuali Bung DK mau menyamakan peribadatan agama (Kristen)
                    setaraf dgn WC Umum atau tempat maksiat.



                    ----- Original Message -----
                    From: "David Kuntadi" <d.kuntadi@...>
                    To: <tionghoa-net@yahoogroups.com>
                    Sent: Thursday, September 01, 2005 7:59 AM
                    Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama


                    > On 9/1/05, Daniel H.T. <danielht@...> wrote:
                    >
                    >> Faktanya, di Gresik yg dikenal sbg Kota Santri pun ada gereja! Dan sampai
                    >> detik ini tidak ada masalah apa pun. Kebaktian2 di rumah tinggal pun
                    >> tidak
                    >> ada masalah! Ini adalah bukti nyata tingginya toleransi beragama di
                    >> Gresik.
                    >
                    > Nah, gereja harus didirikan di daerah yang mayoritas kristen, atau di
                    > daerah mayoritas Islam tapi dengan penduduk Islam seperti orang2
                    > gresik tersebut. Intinya, pendatang (ingin mendidirkan gereja baru)
                    > harus sensitif terhadap lingkungan, dan bukannya seenaknya saja dengan
                    > alasan HAM.
                    >
                    > Contoh yang ekstrim misalnya masalah WC umum. Tentunya pendirian WC
                    > umum adalah hal yang wajar dan utk kepentingan umum. Namun, tiba2
                    > disamping/depan rumah anda didirikan WC umum, tentu merupakan hal yang
                    > mungkin tidak bisa anda toleransi. Namun, ada juga orang yang
                    > menganggap hal itu tidak masalah.
                    >
                    > Contoh yang lebih ektrim lagi, misalnya ada yang ingin mendirikan
                    > lokalisasi di samping rumah anda. Hal ini bisa jadi merupakan hal yang
                    > tidak bisa anda toleransi. Tapi Jim Thio misalnya, akan ok2 saja bila
                    > ada yang ingin mendirikan lokalisasi disamping rumahnya.
                    >
                    > Nah, toleransi tentu harus dua pihak, bukan kita menuntut agama lain
                    > yang harus toleransi kepada kita, tapi kita juga harus berusaha
                    > toleransi terhadap orang lain.
                    >
                    > DK
                    >
                    >
                    >
                    > # Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam
                    > berpendapat #
                    >
                    > Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe :
                    > tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com
                    >
                    > Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                    > Yahoo! Groups Links
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    >
                  • David Kuntadi
                    Wah, 3 hari ga buka internet, banyak juga postingl yang ditujukan ke saya. ... DK: Silahkan baca komentar warga (H = Haji?) yang berdomisili di sekitar Sang
                    Message 9 of 24 , Sep 4, 2005
                    View Source
                    • 0 Attachment
                      Wah, 3 hari ga buka internet, banyak juga postingl yang ditujukan ke saya.

                      On 9/1/05, BUD'S <bsugih@...> wrote:
                      > Kebetulan kami punya data tentang Sang Timur dan kebetulan kami mengetahuinya serta kami pernah kesana, jadi informasi ini bisa kami pegang dari pada ngomong sembarangan. Apakah anda punya data tentang pernyataan anda dibawah ini ???

                      DK:
                      Silahkan baca komentar warga (H = Haji?) yang berdomisili di sekitar
                      Sang timur, yang mengutuk perbuatan itu. Dia mengatakan bahwa yg
                      melakukan adalah "warga kurang kerjaan" dan "Preman yang kehilangan
                      uang parkir"

                      http://mirifica.net/wmcomments.php?act=vi&CmID=71&ArtID=1114

                      H.Kurnia - 21 Oktober 2004 - 01:52
                      Tembok & Muka Tembok
                      Yg buat Tembok jalan masuk ke sang timur - "muka tembok"-- warga
                      kurang kerjaan kerjasama dng preman yg kehilangan "uang-parkir". Kami
                      (warga depkeu/30KK) tidak keberatan dengan sekolah dan ibadah agama
                      tapi bingung kok tau-tau.....Kami siap membantu Polisi dan sekolah.



                      > Bud's = Tolong tunjukan peraturannya

                      DK:

                      Silahkan baca SKB antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.
                      01/BER/MDN-MAG/1969

                      http://www.sinarharapan.co.id/berita/0412/18/nas02.html
                      "Seharusnya Menteri Agama sadar bahwa setiap peraturan di negeri ini
                      harus adil dan tidak diskriminatif. Dalam penerapannya, jelas-jelas
                      SKB dua menteri telah merugikan umat Kristen karena pembangunan gereja
                      harus mendapatkan persetujuan masyarakat setempat,"

                      DK
                    • Indra Azali
                      Toleransi beragama: Bila agama itu baik akan membiarkan siapa saja keluar masuk agama yang beliau yakini. Itu hak azazi. Tidak ada yang mengatakan mutlak 7
                      Message 10 of 24 , Sep 4, 2005
                      View Source
                      • 0 Attachment
                        Toleransi beragama:

                        Bila agama itu baik akan membiarkan siapa saja keluar
                        masuk agama yang beliau yakini. Itu hak azazi. Tidak
                        ada yang mengatakan mutlak 7 keturunan harus agam ini
                        atau agama itu. Saya rasa agama yang baik buat
                        mengajarkan dari mana asalnya berada tetapi lebih dari
                        iman dan moral saja. Kalau aparat pemerintahan itu
                        tidak berhak menutup ajaran ajaran agama yang
                        berkembang dewasa ini.


                        --- "Daniel H.T." <danielht@...> wrote:

                        > Bung DK tidak menjawab substansi statement yg Bung
                        > DK sendiri ajukan, yakni
                        > kalau mau
                        > bangun gereja, bangunlah yang jauh dari mayoritas
                        > Muslim. Suatu statement yg
                        > saya katakan tidak mungkin dilakukan. Karena di mana
                        > pun gereja mau dibangun
                        > pasti akan hampir selalu tidak jauh dari komunitas
                        > Muslim.
                        >
                        > Setelah saya ajukan argumen di atas dgn contoh
                        > komunitas Muslim di Gresik,
                        > Bung DK mempersempit statement-nya semula: "Kalau
                        > mau bangun gereja,
                        > bangunlah di daerah yg
                        > mayoritas Kristen, atau bangunlah di daerah yg
                        > mayoritas Muslim seperti di
                        > Gresik."
                        >
                        > Walaupun sudah "mengrevisi" statement-nya tsb, tetap
                        > saja akan menimbulkan
                        > tanya kepada Bung DK: Di daerah mana yg Bung DK
                        > maksudkan sbg "daerah
                        > mayoritas Kristen?" Yang pasti adalah di sebagian
                        > besar wilayah Indonesia
                        > adalah mayoritas Muslim. Yang tidak mayoritas Muslim
                        > hanya sebagian kecil
                        > daerah, seperti di daerah Papua atau Sulut. Nah,
                        > apakah gereja __hanya
                        > boleh__
                        > dibangun di kedua wilayah ini?
                        >
                        > Atau, kata Bung DK, "Bangunlah gereja di daerah
                        > mayoritas Muslim, seperti di
                        > Gresik." Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dgn
                        > "komunitas Muslim
                        > seperti di Gresik"? Yang berarti juga ada "komunitas
                        > Muslim bukanseperti di
                        > Gresik"? Siapa mereka itu? Apakah salah membangun
                        > gereja di daerah
                        > komunitas Muslim "tipe" yg kedua ini?
                        >
                        > Barangkali yg Bung DK maksudkan adalah komunitas
                        > Muslim seperti AGAP/FPI yg
                        > paling proaktif melakukan gerakan2 (yg menjurus)
                        > pada penutupan gereja,
                        > maupun tempat peribadatan lainnya secara paksa?
                        > Berarti secara langsung,
                        > maupun tidak langsung BUng DK mau membenarkan
                        > tindakan anarkis penutupan
                        > gereja secara paksa itu? Lalu, mau dikemanakan UUD
                        > 1945 yang menjamin setiap
                        > warganegara untuk melakukan ibadah menurut
                        > kepercayaannnya masing-masing?
                        >
                        > Tindakan anarkis penutupan gereja atau tempat
                        > peribadatan lain secara paksa
                        > apapun alasannya bertentangan dengan UUD 1945, yang
                        > melindungi hak asasi
                        > setiap warganegara dalam menjalankan peribadatannya.
                        > Ketentuan Konstitusi
                        > ini jelas merupakan salah satu perwujudan
                        > perlindungan negara terhadap salah
                        > satu HAM warganegaranya. Mengapa kalau UUD 1945 mau
                        > menjamin HAM
                        > warganegaranya, seorang Bung DK malah mencela alasan
                        > penolakan tindakan
                        > anarkis penutupan secara paksa tempat peribadatan
                        > tersebut dgn mengatakan
                        > "jangan seenaknya saja mendirikan gereja dgn alasan
                        > HAM." Apa yg dimaksud
                        > dgn kata "seenaknya"?
                        >
                        > Lalu, apa pula yg Bung DK maksudkan dgn sebutan
                        > "pendatang" dalam
                        > statement-nya di bawah? Apakah mau bilang Kristen
                        > sebagai agama pendatang
                        > (import), jadi sebagai pendatang jangan seenaknya
                        > mendirikan gereja di
                        > Indonesia? Wah, kalau betul maksudnya demikian.
                        > Berarti sama, dong opini
                        > Bung DK dgn beberapa beberapa spanduk yg sempat
                        > terpasang di beberapa sudut
                        > kota Tangerang: "Usir Agama Import !" Apakah memang
                        > ada agama asli
                        > Indonesia?
                        >
                        > Jangan menggunakan SKB Dua Menteri sbg alasan
                        > pembenaran. Karena justru SKB
                        > itu merupakan satu pemicu masalah. Menurut catatan
                        > Tempo, sebelum SKB itu
                        > ada masalah penutupan gereja secara paksa sangat
                        > sedikit. Tetapi sejak
                        > munculnya SKB, ada ratusan gereja yg ditutup secara
                        > paksa. Oleh pihak2
                        > tertentu yg mempunyai sentimen dan antiagama
                        > tertentu yg diimplemtnasikan
                        > secara radikal, SKB merupakan suatu senjata
                        > pembenaran yg paling mapuh dlm
                        > menjalankan aksi2 mereka.
                        >
                        > Dari catatan2 artikel media massa, diperoleh
                        > informasi bahwa pada umumnya
                        > dalam kasus2 penutupan gereja secara paksa, biasanya
                        > dilakukan oleh
                        > segerombolan massa yg justru berasal dari luar
                        > wilayah tempat di mana gereja
                        > tsb didirikan. Sehingga kerap terjadi selama
                        > bertahun-tahun gereja berdiri,
                        > atau orang Kristen melakukan peribadatan di tempat
                        > lain, tidak
                        > dipermasalahkan oleh warga setempat. Tiba2 datang
                        > sekelompok massa dari luar
                        > yg tdk dikenal masyarakat setempat, dgn
                        > mengatasnamakan masyarakat di situ
                        > melakukan aksi2 penutupan gereja itu secara paksa.
                        >
                        > Selama ini sebagian besar tokoh masyarakat, maupun
                        > masyarakat pada umumnya
                        > tidak setuju dgn aksi2 penutupan gereja secara paksa
                        > ini. Termasuk tokoh2
                        > Islam sendiri. Bahkan Din Syamsuddin yg biasanya
                        > dikenal sbg tokoh Islam
                        > konservatif pun menyatakan ketidaksetujuannya. Kok
                        > Bung DK seolah-olah
                        > ngotot mau membenarkan aksi2 tsb? Saya jadi
                        > bertanya-tanya, Bung DK ini
                        > sebenarnya agamanya apa? Kalau nonMuslim, ini
                        > artinya ada satu-satunya orang
                        > nonMuslim yg mendukung aksi penutupan gereja secara
                        > paksa.
                        >
                        > Menurut saya maksud sebenarnya aksi2 penutupan
                        > gereja secara paksa tsb
                        > adalah
                        > sentimen agama. Perizinan hanya dipakai sebagai
                        > kedok atau kamuflase dari
                        > alasan mereka yg sebenarnya. Lihat saja nama yg
                        > diusung mereka "Aliansi
                        > Gerakan Anti PEMURTADAN."
                        >
                        > Contoh2 yg diberikan Bung DK, sekalipun sudah
                        > dibilang "contoh yg ekstrim,"
                        > sangat
                        > tidak relevan. Kecuali Bung DK mau menyamakan
                        > peribadatan agama (Kristen)
                        > setaraf dgn WC Umum atau tempat maksiat.
                        >
                        >
                        >
                        > ----- Original Message -----
                        > From: "David Kuntadi" <d.kuntadi@...>
                        > To: <tionghoa-net@yahoogroups.com>
                        > Sent: Thursday, September 01, 2005 7:59 AM
                        > Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama
                        >
                        >
                        > > On 9/1/05, Daniel H.T. <danielht@...>
                        > wrote:
                        > >
                        > >> Faktanya, di Gresik yg dikenal sbg Kota Santri
                        > pun ada gereja! Dan sampai
                        > >> detik ini tidak ada masalah apa pun. Kebaktian2
                        > di rumah tinggal pun
                        > >> tidak
                        > >> ada masalah! Ini adalah bukti nyata tingginya
                        > toleransi beragama di
                        > >> Gresik.
                        > >
                        > > Nah, gereja harus didirikan di daerah yang
                        > mayoritas kristen, atau di
                        > > daerah mayoritas Islam tapi dengan penduduk Islam
                        > seperti orang2
                        > > gresik tersebut. Intinya, pendatang (ingin
                        > mendidirkan gereja baru)
                        > > harus sensitif terhadap lingkungan, dan bukannya
                        > seenaknya saja dengan
                        > > alasan HAM.
                        > >
                        > > Contoh yang ekstrim misalnya masalah WC umum.
                        > Tentunya pendirian WC
                        > > umum adalah hal yang wajar dan utk kepentingan
                        > umum. Namun, tiba2
                        > > disamping/depan rumah anda didirikan WC umum,
                        > tentu merupakan hal yang
                        > > mungkin tidak bisa anda toleransi. Namun, ada juga
                        > orang yang
                        > > menganggap hal itu tidak masalah.
                        > >
                        > > Contoh yang lebih ektrim lagi, misalnya ada yang
                        > ingin mendirikan
                        > > lokalisasi di samping rumah anda. Hal ini bisa
                        > jadi merupakan hal yang
                        > > tidak bisa anda toleransi. Tapi Jim Thio misalnya,
                        > akan ok2 saja bila
                        > > ada yang ingin mendirikan lokalisasi disamping
                        > rumahnya.
                        > >
                        > > Nah, toleransi tentu harus dua pihak, bukan kita
                        > menuntut agama lain
                        > > yang harus toleransi kepada kita, tapi kita juga
                        > harus
                        === message truncated ===


                        __________________________________________________
                        Do You Yahoo!?
                        Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                        http://mail.yahoo.com
                      • David Kuntadi
                        ... DK: Coba sebutkan di posting mana saya ngotot membela/membenarkan aksi kelompok2 militant. Yang saya sampaikan adalah pihak yang diserang JUGA memiliki
                        Message 11 of 24 , Sep 4, 2005
                        View Source
                        • 0 Attachment
                          On 9/2/05, JSL <jan999333@...> wrote:
                          > Yg sedikit mengherankan saya adalah sikap bung DK yg sangat "ngotot" dalam diskusi2 disini untuk membela/membenarkan aksi2 dan tindakan2 yg telah dilakukan oleh kelompok2 militan islam seperti itu.

                          DK:
                          Coba sebutkan di posting mana saya ngotot "membela/membenarkan" aksi
                          kelompok2 militant. Yang saya sampaikan adalah pihak yang diserang
                          JUGA memiliki kesalahan.

                          Apakah saya muslim atau simpatisan atau anggota AGAP, FPI dll, atau
                          mau jadi muslim tidak perlu dipersoalkan, yang penting kita coba
                          diskusi saja topik ini, tidak perlu diskusi mengapa saya mengambil
                          posisi lain dari anda. Tapi supaya anda lega, saya jawab juga
                          pertanyaan2 anda.

                          JSL:
                          > - apakah anda seorang muslim yg menjadi simpatisan atau anggota AGAP, FPI, dll..?

                          DK:
                          Bukan.

                          JSL:
                          > - apakah anda seorang kristen/buddha/atheist yg sedang dalam tahap utk menjadi muslim?

                          DK:
                          Tidak

                          > - apakah anda mau menunjukkan ke milis ini bahwa anda hanya ingin bersikap "adil" dalam masalah toleransi agama ini (tetapi dengan tidak mengindahkan nilai2 universal spt. HAM, kebebasan beragama atau peraturan UUD'45?

                          DK:
                          Saya hanya menunjukkan bahwa sementara melihat "kuman di seberang
                          lautan", jangan sampai "balok di depan mata tidak tampak". Baca SKB
                          antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.01/BER/MDN-MAG/1969.

                          JSL:
                          > - atau anda hanya ingin berdebat "just for the sake of arguing"?

                          DK:
                          Ya kalo for the sake of arguing habis2an waktu saja. Mendingan saya
                          lanjutin "seri paranormal" dong dari pada ngabisin waktu cuma "for the
                          sake of arguing".

                          DK
                        • David Kuntadi
                          ... DK: Itu bukan revisi, tapi prioritas ke dua. Kalau masih ngotot mau bangun gereja meskipun di tempat dengan mayoritas Islam, ya pakailah sopan santun
                          Message 12 of 24 , Sep 4, 2005
                          View Source
                          • 0 Attachment
                            On 9/5/05, Daniel H.T. <danielht@...> wrote:
                            > Walaupun sudah "mengrevisi" statement-nya tsb, tetap saja akan menimbulkan
                            > tanya kepada Bung DK: Di daerah mana yg Bung DK maksudkan sbg "daerah
                            > mayoritas Kristen?" Yang pasti adalah di sebagian besar wilayah Indonesia
                            > adalah mayoritas Muslim.

                            DK:
                            Itu bukan revisi, tapi prioritas ke dua. Kalau masih ngotot mau bangun
                            gereja meskipun di tempat dengan mayoritas Islam, ya pakailah sopan
                            santun (minta ijin), gitu maksudnya.

                            DHT:
                            > Yang tidak mayoritas Muslim hanya sebagian kecil
                            > daerah, seperti di daerah Papua atau Sulut. Nah, apakah gereja __hanya
                            > boleh__
                            > dibangun di kedua wilayah ini?

                            DK:
                            Coba yang realistis. Indonesia Mayoritas Muslim, tetapi kan ada
                            daerah2 dengan mayoritas Kristen sepertia Papua dan Sulut? Demikian
                            juga dengan kota, misalkan Jakarta mayoritas Muslim. Tapi kan ada
                            daerah2 dengan mayoritas Kristen kan seperti misalnya Kelapa Gading
                            (di supermarket di mall nya selalu diputar lagu2 rohani kristen setiap
                            kali saya belanja ke sana). Jadi menurut perkiraan saya di tiap kota
                            akan bisa ditemukan "mayoritas kristen" atau "muslim toleran". Lha
                            kalo di setiap sudut kota mau didirikan gereja ya itu masalah lain
                            lagi kan?


                            DHT:
                            > Atau, kata Bung DK, "Bangunlah gereja di daerah mayoritas Muslim, seperti di
                            > Gresik." Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dgn "komunitas Muslim
                            > seperti di Gresik"? Yang berarti juga ada "komunitas Muslim bukanseperti di
                            > Gresik"? Siapa mereka itu? Apakah salah membangun gereja di daerah
                            > komunitas Muslim "tipe" yg kedua ini?

                            DK:
                            Tidak salah, tapi silahkan siap2 terima akibatnya. Jangan karena anda
                            menderita karena tidak memiliki etika/kepekaan sosial terus bilang
                            sedang "menanggung Salib Kristus".

                            DHT:
                            > Barangkali yg Bung DK maksudkan adalah komunitas Muslim seperti AGAP/FPI yg
                            > paling proaktif melakukan gerakan2 (yg menjurus) pada penutupan gereja,
                            > maupun tempat peribadatan lainnya secara paksa? Berarti secara langsung,
                            > maupun tidak langsung BUng DK mau membenarkan tindakan anarkis penutupan
                            > gereja secara paksa itu? Lalu, mau dikemanakan UUD 1945 yang menjamin setiap
                            > warganegara untuk melakukan ibadah menurut kepercayaannnya masing-masing?

                            DK:
                            Jangan cuma bicara hak melulu. Mana kewajibannya?

                            DHT:
                            > Tindakan anarkis penutupan gereja atau tempat peribadatan lain secara paksa
                            > apapun alasannya bertentangan dengan UUD 1945, yang melindungi hak asasi
                            > setiap warganegara dalam menjalankan peribadatannya. Ketentuan Konstitusi
                            > ini jelas merupakan salah satu perwujudan perlindungan negara terhadap salah
                            > satu HAM warganegaranya. Mengapa kalau UUD 1945 mau menjamin HAM
                            > warganegaranya, seorang Bung DK malah mencela alasan penolakan tindakan
                            > anarkis penutupan secara paksa tempat peribadatan tersebut dgn mengatakan
                            > "jangan seenaknya saja mendirikan gereja dgn alasan HAM." Apa yg dimaksud
                            > dgn kata "seenaknya"?

                            DK:
                            "seenaknya" dalam hal ini berarti "tidak memiliki kepekaan/etika sosial"

                            DHT:
                            > Lalu, apa pula yg Bung DK maksudkan dgn sebutan "pendatang" dalam
                            > statement-nya di bawah? Apakah mau bilang Kristen sebagai agama pendatang
                            > (import), jadi sebagai pendatang jangan seenaknya mendirikan gereja di
                            > Indonesia? Wah, kalau betul maksudnya demikian. Berarti sama, dong opini
                            > Bung DK dgn beberapa beberapa spanduk yg sempat terpasang di beberapa sudut
                            > kota Tangerang: "Usir Agama Import !" Apakah memang ada agama asli
                            > Indonesia?

                            DK:
                            Pendatang berarti yang datang belakangan. Hargailah orang lain yang
                            sudah datang duluan.

                            DHT:
                            > Jangan menggunakan SKB Dua Menteri sbg alasan pembenaran. Karena justru SKB
                            > itu merupakan satu pemicu masalah. Menurut catatan Tempo, sebelum SKB itu
                            > ada masalah penutupan gereja secara paksa sangat sedikit. Tetapi sejak
                            > munculnya SKB, ada ratusan gereja yg ditutup secara paksa. Oleh pihak2
                            > tertentu yg mempunyai sentimen dan antiagama tertentu yg diimplemtnasikan
                            > secara radikal, SKB merupakan suatu senjata pembenaran yg paling mapuh dlm
                            > menjalankan aksi2 mereka.

                            DK:
                            Selama SKB tsb masih berlaku, harap dipatuhi. Anda boleh protes dan
                            berusaha untuk merivis/mencabutnya, tapi sebelum derivisi/dicabut,
                            jangan anda langgar karena bila anda langgar hal itu termasuk
                            pelanggaran hukum.

                            DHT:
                            > Selama ini sebagian besar tokoh masyarakat, maupun masyarakat pada umumnya
                            > tidak setuju dgn aksi2 penutupan gereja secara paksa ini. Termasuk tokoh2
                            > Islam sendiri. Bahkan Din Syamsuddin yg biasanya dikenal sbg tokoh Islam
                            > konservatif pun menyatakan ketidaksetujuannya. Kok Bung DK seolah-olah
                            > ngotot mau membenarkan aksi2 tsb? Saya jadi bertanya-tanya, Bung DK ini
                            > sebenarnya agamanya apa? Kalau nonMuslim, ini artinya ada satu-satunya orang
                            > nonMuslim yg mendukung aksi penutupan gereja secara paksa.

                            DK:
                            Tokoh2 muslim dengan sangat bijaksana sudah melakukan introspeksi,
                            menanggapai tindakan umatnya yang salah langkah. Sedangkan saya sama
                            sekali tidak mendukung penutupan paksa gereja2 tsb. Hanya, menurut
                            saya masing2 pihak juga harus introspeksi, bila memang ada kesalahan.
                            Dan dalam hal ini terindikasi bahwa gereja2 tsb juga melanggar hukum.
                            Apakah menurut anda kita tidak perlu mematuhi hukum yang berlaku?

                            DHT:
                            > Menurut saya maksud sebenarnya aksi2 penutupan gereja secara paksa tsb
                            > adalah
                            > sentimen agama. Perizinan hanya dipakai sebagai kedok atau kamuflase dari
                            > alasan mereka yg sebenarnya. Lihat saja nama yg diusung mereka "Aliansi
                            > Gerakan Anti PEMURTADAN."

                            DK:
                            Anda sama sekali tidak peka dengan hukum. SKB tsb dikeluarkan JUSTRU
                            karena issue pemurtadan. Sehingga, pelanggaran hukum tersebut otomatis
                            dipandang sebagai usaha2 pemurtadan. Kok jadi kamuflase? Justru inilah
                            intinya.

                            DHT:
                            > Contoh2 yg diberikan Bung DK, sekalipun sudah dibilang "contoh yg ekstrim,"
                            > sangat
                            > tidak relevan. Kecuali Bung DK mau menyamakan peribadatan agama (Kristen)
                            > setaraf dgn WC Umum atau tempat maksiat.

                            DK:
                            Apakah anda tidak paham bahwa dosa "murtad" dipandang sebagai dosa
                            yang paling keji? WC dan pelacuran itu tidak ada apa2nya dibandingkan
                            dengan "murtad". Kalo di kristen itu ya dikatakan sebagai "mendukakan
                            Roh Kudus", yang merupakan dosa tak terampuni. Jadi mendingan berdosa
                            yang lain2 (ke pelacuran kek, atau bunuh orang kek) karena masih bisa
                            diampuni. Sedangkan dosa "mendukakan Roh Kudus" tidak bisa diampuni.
                            Nah, pemurtadan ini termasuk yang sangat "ditakuti" oleh kaum Muslim.
                            Jadi contoh yang saya berikan sebagai ekstrim tsb sebenarnya maish
                            kurang ekstrim.

                            DK
                          • rene chan
                            Sdr DK. Dengan memisahkan pembangunan gereja/mesjid menurut mayoritas penduduk , bukan nya ini akan meng-kotak2 an Indo berdasarkan agama??? Seperti apa yg
                            Message 13 of 24 , Sep 4, 2005
                            View Source
                            • 0 Attachment
                              Sdr DK.

                              Dengan memisahkan pembangunan gereja/mesjid menurut mayoritas penduduk
                              , bukan nya ini akan meng-kotak2 an Indo berdasarkan agama???
                              Seperti apa yg telah terjadi di Ambon beberapa tahun yl., ada desa
                              kristen ada desa Islam......... lalu apa yg terjadi??? Apakah bisa
                              menylesaikan perselisihan???

                              Bukan kah upaya Gus Dur dkk utk menyelesaikan perselisihan ini dengan
                              asas pluralism dan semangat toleransi , lebih berguna???


                              rgds. rene chan






                              --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, David Kuntadi <d.kuntadi@g...> wrote:
                              > On 9/5/05, Daniel H.T. <danielht@r...> wrote:
                              > > Walaupun sudah "mengrevisi" statement-nya tsb, tetap saja akan
                              menimbulkan
                              > > tanya kepada Bung DK: Di daerah mana yg Bung DK maksudkan sbg "daerah
                              > > mayoritas Kristen?" Yang pasti adalah di sebagian besar wilayah
                              Indonesia
                              > > adalah mayoritas Muslim.
                              >
                              > DK:
                              > Itu bukan revisi, tapi prioritas ke dua. Kalau masih ngotot mau bangun
                              > gereja meskipun di tempat dengan mayoritas Islam, ya pakailah sopan
                              > santun (minta ijin), gitu maksudnya.
                              >
                              > DHT:
                              > > Yang tidak mayoritas Muslim hanya sebagian kecil
                              > > daerah, seperti di daerah Papua atau Sulut. Nah, apakah gereja __hanya
                              > > boleh__
                              > > dibangun di kedua wilayah ini?
                              >
                              > DK:
                              > Coba yang realistis. Indonesia Mayoritas Muslim, tetapi kan ada
                              > daerah2 dengan mayoritas Kristen sepertia Papua dan Sulut? Demikian
                              > juga dengan kota, misalkan Jakarta mayoritas Muslim. Tapi kan ada
                              > daerah2 dengan mayoritas Kristen kan seperti misalnya Kelapa Gading
                              > (di supermarket di mall nya selalu diputar lagu2 rohani kristen setiap
                              > kali saya belanja ke sana). Jadi menurut perkiraan saya di tiap kota
                              > akan bisa ditemukan "mayoritas kristen" atau "muslim toleran". Lha
                              > kalo di setiap sudut kota mau didirikan gereja ya itu masalah lain
                              > lagi kan?
                              >
                              >
                              > DHT:
                              > > Atau, kata Bung DK, "Bangunlah gereja di daerah mayoritas Muslim,
                              seperti di
                              > > Gresik." Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dgn "komunitas Muslim
                              > > seperti di Gresik"? Yang berarti juga ada "komunitas Muslim
                              bukanseperti di
                              > > Gresik"? Siapa mereka itu? Apakah salah membangun gereja di daerah
                              > > komunitas Muslim "tipe" yg kedua ini?
                              >
                              > DK:
                              > Tidak salah, tapi silahkan siap2 terima akibatnya. Jangan karena anda
                              > menderita karena tidak memiliki etika/kepekaan sosial terus bilang
                              > sedang "menanggung Salib Kristus".
                              >
                            • David Kuntadi
                              ... Apakah anda juga tidak menyetujui adanya Chinatown dan sejenisnya? Untuk saya, justru hal ini merupakan pluralitas yang bagus bila kita punya chinatown di
                              Message 14 of 24 , Sep 4, 2005
                              View Source
                              • 0 Attachment
                                On 9/5/05, rene chan <huarenau@...> wrote:
                                >
                                > Sdr DK.
                                >
                                > Dengan memisahkan pembangunan gereja/mesjid menurut mayoritas penduduk
                                > , bukan nya ini akan meng-kotak2 an Indo berdasarkan agama???
                                > Seperti apa yg telah terjadi di Ambon beberapa tahun yl., ada desa
                                > kristen ada desa Islam......... lalu apa yg terjadi??? Apakah bisa
                                > menylesaikan perselisihan???
                                >
                                > Bukan kah upaya Gus Dur dkk utk menyelesaikan perselisihan ini dengan
                                > asas pluralism dan semangat toleransi , lebih berguna???

                                Apakah anda juga tidak menyetujui adanya Chinatown dan sejenisnya?
                                Untuk saya, justru hal ini merupakan pluralitas yang bagus bila kita
                                punya chinatown di Indonesia, demikian juga bila ada kampung Muslim,
                                kampung Kristen, Kampung Buddhist, dst..... Jangan dianggap sebagai
                                peng-kotak2an, tapi justru menambah indahnya Bhinneka Tunggal Ika.

                                DK
                              • Irawan Purwono
                                Bung Rene, Anda betul. Sistem pengkotak-kotak-an itu lah yg dipraktekkan oleh colonialist Belanda, atas komponen2 bangsa Indonesia, selama ber-ratus-ratus
                                Message 15 of 24 , Sep 5, 2005
                                View Source
                                • 0 Attachment
                                  Bung Rene,

                                  Anda betul.
                                  Sistem pengkotak-kotak-an itu lah yg dipraktekkan oleh colonialist
                                  Belanda, atas komponen2 bangsa Indonesia, selama ber-ratus-ratus tahun.

                                  IP.
                                  ---

                                  -----Original Message-----
                                  From: rene chan [mailto:huarenau@...]
                                  Sent: Monday, September 05, 2005 11:52 AM
                                  To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                                  Subject: Re: [t-net] Toleransi beragama


                                  Sdr DK.

                                  Dengan memisahkan pembangunan gereja/mesjid menurut mayoritas penduduk
                                  , bukan nya ini akan meng-kotak2 an Indo berdasarkan agama???
                                  Seperti apa yg telah terjadi di Ambon beberapa tahun yl., ada desa
                                  kristen ada desa Islam......... lalu apa yg terjadi??? Apakah bisa
                                  menylesaikan perselisihan???

                                  Bukan kah upaya Gus Dur dkk utk menyelesaikan perselisihan ini dengan
                                  asas pluralism dan semangat toleransi , lebih berguna???


                                  rgds. rene chan






                                  --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, David Kuntadi <d.kuntadi@g...>
                                  wrote:
                                  > On 9/5/05, Daniel H.T. <danielht@r...> wrote:
                                  > > Walaupun sudah "mengrevisi" statement-nya tsb, tetap saja akan
                                  menimbulkan
                                  > > tanya kepada Bung DK: Di daerah mana yg Bung DK maksudkan sbg
                                  "daerah
                                  > > mayoritas Kristen?" Yang pasti adalah di sebagian besar wilayah
                                  Indonesia
                                  > > adalah mayoritas Muslim.
                                  >
                                  > DK:
                                  > Itu bukan revisi, tapi prioritas ke dua. Kalau masih ngotot mau bangun
                                  > gereja meskipun di tempat dengan mayoritas Islam, ya pakailah sopan
                                  > santun (minta ijin), gitu maksudnya.
                                  >
                                  > DHT:
                                  > > Yang tidak mayoritas Muslim hanya sebagian kecil
                                  > > daerah, seperti di daerah Papua atau Sulut. Nah, apakah gereja
                                  __hanya
                                  > > boleh__
                                  > > dibangun di kedua wilayah ini?
                                  >
                                  > DK:
                                  > Coba yang realistis. Indonesia Mayoritas Muslim, tetapi kan ada
                                  > daerah2 dengan mayoritas Kristen sepertia Papua dan Sulut? Demikian
                                  > juga dengan kota, misalkan Jakarta mayoritas Muslim. Tapi kan ada
                                  > daerah2 dengan mayoritas Kristen kan seperti misalnya Kelapa Gading
                                  > (di supermarket di mall nya selalu diputar lagu2 rohani kristen setiap
                                  > kali saya belanja ke sana). Jadi menurut perkiraan saya di tiap kota
                                  > akan bisa ditemukan "mayoritas kristen" atau "muslim toleran". Lha
                                  > kalo di setiap sudut kota mau didirikan gereja ya itu masalah lain
                                  > lagi kan?
                                  >
                                  >
                                  > DHT:
                                  > > Atau, kata Bung DK, "Bangunlah gereja di daerah mayoritas Muslim,
                                  seperti di
                                  > > Gresik." Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dgn "komunitas
                                  Muslim
                                  > > seperti di Gresik"? Yang berarti juga ada "komunitas Muslim
                                  bukanseperti di
                                  > > Gresik"? Siapa mereka itu? Apakah salah membangun gereja di daerah
                                  > > komunitas Muslim "tipe" yg kedua ini?
                                  >
                                  > DK:
                                  > Tidak salah, tapi silahkan siap2 terima akibatnya. Jangan karena anda
                                  > menderita karena tidak memiliki etika/kepekaan sosial terus bilang
                                  > sedang "menanggung Salib Kristus".
                                  >









                                  # Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam
                                  berpendapat #

                                  Subscribe : tionghoa-net-subscribe@yahoogroups.com, Unsubscribe :
                                  tionghoa-net-unsubscribe@yahoogroups.com

                                  Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
                                  Yahoo! Groups Links
                                Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.