Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [t-net] Pembangunan Mental

Expand Messages
  • Jet
    Terima kasih atas tanggapan Pak Surya, Saya setuju sekali bahwa perubahan kurikulum saja tidak cukup untuk memperbaiki akhlak dan mental generasi muda kita.
    Message 1 of 10 , Oct 1, 2000
    • 0 Attachment
      Terima kasih atas tanggapan Pak Surya,

      Saya setuju sekali bahwa perubahan kurikulum saja tidak cukup untuk
      memperbaiki akhlak dan mental generasi muda kita. Saya juga setuju bahwa
      diperlukan perbaikan sarana transportasi dan fasilitas2 penunjang lainnya
      agar hal itu berjalan efektif. Namun, kita tidak bisa berharap banyak di
      tengah krisis ekonomi yg dihadapi bangsa saat ini. Tampaknya akan menjadi
      suatu penantian yg sia-sia jika kita berharap fasilitas2 dan sarana2 itu
      akan mendapatkan perhatian dan perbaikan dalam waktu dekat, karena
      terbatasnya dana anggaran yg tersedia. Pemerintah saat ini masih
      berkonsentrasi pada perbaikan sektor finansial. Rakyat kecil tampaknya
      masih tetap di-nomor-dua-kan karena tampaknya pemerintah lebih tertarik
      menggunakan anggarannya untuk membantu orang-orang berduit dengan menalangi
      utang2nya (padahal orang2 itu bisa membayar utang dengan menjual assetnya).
      Kenaikan BBM hari ini semakin menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap
      kalangan yg mampu. Pemerintah tega menyengsarakan rakyat daripada memaksa
      konglomerat mengembalikan utang. Krisis tampaknya semakin jauh dari akhir.
      Saya pernah membaca analisa bahwa Indonesia memerlukan waktu sekitar 7-8
      tahun untuk sekedar kembali ke keadaan sebelum krisis (semoga analisa itu
      keliru!!). Selain itu pemerintah masih menghadapi masalah keamanan dalam
      negeri dan ditambah lagi masalah pengungsi. Perbaikan sektor transportasi
      dan infrastruktur pendidikan tampaknya masih harus menunggu waktu yg cukup
      cukup lama. Apakah kemerosotan mental bisa dibiarkan terus-menerus, hanya
      dengan alasan ekonomi belum memungkinkan?


      Saya kira ada banyak lembaga nirlaba di seluruh dunia yg bersedia
      memberikan bantuan cuma2, baik dana maupun teknis, termasuk mungkin Unesco
      dan Unicef, untuk menanggulangi masalah ini. Yang diperlukan hanya
      inisiatif untuk menyusun proposal perencanaan yg baik untuk kemudian
      dipresentasikan pada lembaga2 itu dan lembaga itu yg kemudian akan
      mencarikan donaturnya. Saya percaya masih banyak dermawan2 di dunia ini yg
      bersedia menyumbang secara cuma2 untuk perbaikan sumber daya manusia di
      sebuah negara dilanda krisis seperti Indonesia (seperti yg dilakukan Bill
      Gates beberapa waktu lalu menyumbang 1 miliar dollar dana pribadi untuk
      pengembangan pendidikan di suatu negara miskin, saya lupa negaranya). Bisa
      juga meminta bantuan Unesco mendatangkan tenaga2 sukarela untuk mentransfer
      ilmu2 pembinaan mental kepada guru-guru di Indonesia. Juga tidak menutup
      kemungkinan pihak sekolah bekerjasama dengan klub-klub pembinaan mental
      lokal yg bersifat nirlaba, yg saya kira sudah banyak di Indonesia.

      Untuk mengatasi kenakalan remaja, seperti tawuran, vandalisme, dll., perlu
      perubahan mendasar pada sistem pendidikan agar siswa yg kurang berprestasi
      di bidang akademis bisa merasakan penghargaan dan pengakuan yg sama dengan
      siswa lebih yg berprestasi. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri,
      perasaan ingin dihargai dan mendapatkan perhatian begitu kuat. Merasa tidak
      diperhatikan di rumah, kurang dihargai di sekolah, kurang kegiatan, mereka
      pun mencari saluran2 lain untuk mengekspresikan diri dan kekecewaannya.
      Berikan satu kebanggaan pada mereka dan akan digenggamnya erat2. Sistem
      rangking harus dihapus karena hanya membuat siswa tertekan.
      Pelajaran-pelajaran yg memacu kreatifitas perlu dijadikan mata pelajaran
      pokok. Penghargaan terhadap prestasi seni perlu disejajarkan dengan
      prestasi akademis. Penyusun kurikulum bisa belajar dari negara yg sudah
      maju bagaimana membuat kurikulum yg baik. Tentunya kurikulum pendidikan
      menengah dan tinggi juga perlu diperhatikan. Perlu diberikan perhatian
      ekstra pada isu-isu seputar remaja dan keluarga. Program2 yg melibatkan
      remaja harus sering diadakan untuk menyalurkan energi mereka, misalnya
      program penghijauan, kebersihan, palang merah, kepanduan, pecinta alam,
      olahraga, dll. Untuk remaja yg suka melempar-lempar batu atau molotov,
      adakan saja lomba melempar batu, misalnya yg lempar batu paling jauh atau
      yg paling jitu, perlahan2 dari lomba lempar batu itu diarahkan ke atletik,
      mis. lempar lembing, cakram atau tolak peluru, siapa tahu bisa dapat medali
      olympiade? ;-) Yg suka tawuran suruh saja ikut klub tinju agar bisa mukuli
      orang sepuas2nya. Intinya buat lah mereka merasa masa remaja adalah masa yg
      menyenangkan. Kita bisa melihat betapa pentingnya isu-isu mengenai remaja
      di negara2 maju, hingga calon presiden Al Gore di AS merasa perlu melakukan
      acara diskusi khusus dengan remaja, sekedar untuk menaikkan ratingnya.


      Saya kira pembinaan mental bisa dianalogikan sebagai sistem operasi pada
      komputer kita, sedangkan sarana2 dan fasilitas pendukung pendidikan lain
      bisa dianggap sebagai hardware. Sebuah sistem operasi yg bagus akan
      berjalan multiplatform, pada perangkat keras produk pabrik manapun, ia akan
      berjalan sama baiknya di komputer butut AT-x86 dan komputer tercanggih
      berprosesor Giga-Hz...;-)....... Pembinaan mental berfungsi
      multiplatform, tidak mengenal kaya-miskin, tingkatan sosial, perbedaan ras,
      suku, agama, dll. Jika semua manusia bisa melihat manusia lain dari 'inti
      kemanusiaan'nya, maka dunia ini akan menjadi tempat menyenangkan......


      Rgds,
      Jet.
      --------------------------
      At 00:53 01/10/00 +0700, you wrote:
      >:o).....Ikut sedikit memberikan komentar, semoga sedikit berhubungan juga
      >dengan topik.
      >++
      >Apa yang telah ditulis oleh Sdr. Jet tidaklah keliru, karena bila kita
      >melihat isi dari kurikulum yang diberlakukan saat ini sepertinya benar sudah
      >tidak sesuai lagi.
      >
      >Namun di balik kurikulum yang sudah seharusnya direvisi tersebut, ada juga
      >masalah lainnya yang sepertinya tidak berhubungan, namun didalam kenyataan
      >memang menjadi kendala, yaitu transportasi.
      >
      >Dimana seperti sudah diketahui oleh warga yang tinggal dikota besar maka
      >angkutan untuk pelajar mendapat perhati-an yang kurang, sehingga ongkos yang
      >sudah ditetapkan oleh tiap pemda menjadi kendala bagi semua pihak.
      >
      >Disatu pihak pelajar mendapat ' subsidi ' dari pemda dengan ' hanya '
      >membayar biaya tertentu, sedang sopir sendiri mendapat target setoran
      >tertentu sehingga banyak pelajar yang sudah mengalam-i coba-an yang tidak
      >sewajarnya. ( sudah menjadi bukan rahasia lagi, bagaimana sulitnya para
      >pelajar yang ingin naik kendaraan umum, namun dihindari oleh umumnya sopir
      >yang memang dikejar setoran ).
      >
      >Adapun hubungannya dengan mental disini, adalah kondisi yang secara tidak
      >sadar memaksa pelajar umumnya menjadi berkelompok untuk membuktikan bahwa
      >eksistensinya ada, dan dalam keadaan yang umumnya serba pas-pas-an tersebut
      >maka tanpa disadar-i pula timbul jiwa muda yang penuh rasa kepahlawanan,
      >baik terhadap sesama teman, maupun terhadap lingkung-an, serta rasa

      >solidaritas tanpa pamrih dan tanpa melihat akibat baik dan buruknya.
      >
      >Memang untuk mengatasi ini, sepertinya kurikulum yang ada untuk sekolah
      >-sekolah tertentu ditambah, sehingga lamanya jam sekolah menjadi bertambah
      >panjang, namun dalam hal ini juga tidak bisa dipungkir-i bahwa pada umumnya
      >para pelajar tersebut tidak semuanya mampu mengatasi rasa lapar yang
      >berkepanjangan serta rutinitas yang membosankan.
      >
      >Dan apakah pelajaran yang baik dapat diserap oleh para pelajar umumnya ,
      >bilamana kondisi badan untuk mengatas-i ini belum teratasi ?, sedang
      >pelajaran yang baik hanya bisa diserap dengan baik pula bila disertai dengan
      >kondisi badan yang segar tentunya dengan jiwa yang sehat.
      >
      >Sebelumnya pernah pula diterapkan sistim rayon, dimana tidak bisa setiap
      >pelajar bersekolah di sekolah yang bukan menjadi wilayahnya, namun dengan
      >cara seperti ini, banyak pula orang tua yang tidak ingin menyekolahkan
      >putra/i nya dilingkungan wilayah yang sudah ditentukan, sehingga akhirnya
      >sistim rayon hilang tak berbekas.
      >
      >Untuk ini saya melihat, bahwa sistim pendidikan yang diterapkan di sekolah
      >Indonesia bukan karena kurikulum semata, juga bukan karena guru yang mampu
      >dan tidaknya, melainkan juga waktu yang ' harus ' dibuang percuma di jalan,
      >hanya karena terbatasnya transportasi yang memadai.
      >
      >Kurikulum yang diterima oleh pelajar SD hanyalah satu faktor penentu, selain
      >juga dialami oleh pelajar di tingkat lanjutannya, belum kalau kita bicara
      >sarana olah raga yang serba terbatas, karena memang fasilitas ruang/lapangan
      >tidak menunjang untuk berada dilingkungan sekolah, sehingga tidak sedikit
      >harus keluar sekolah ' hanya ' untuk sekedar belajar ' olah raga '.
      >
      >Apakah dengan merubah kurikulum pelajaran di sekolah dasar dapat juga
      >merubah kondisi mental di sekolah lanjutan ?, mungkin ada yang dapat
      >membantu menjawabnya ?.
      >
      >
      >Salam Suryana ( sudah tidak bisa mengikut-i pelajaran anak kelas 1 SD diluar
      >kepala, karena banyak mata pelajaran yang tidak dimengerti lagi :( )
      >++
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.