Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja ?????

Expand Messages
  • veven
    aku setuju dengan ideologi hari bahwa tionghoa (atau ras apa pun) itu given saja. jangan lantas karena kita tionghoa (atau yang lain -- termasuk huana?) lalu
    Message 1 of 8 , Jul 1, 2000
      aku setuju dengan "ideologi" hari bahwa tionghoa (atau ras apa pun) itu
      given saja. jangan lantas karena kita tionghoa (atau yang lain -- termasuk
      huana?) lalu kita merasa berbeda? kalau ada yang membedakan, ya biar saja --
      sekalian saja kita tunjukkan pembedaan mereka itu justru bisa kita switch
      menjadi beda yang langka sekaligus positif.
      soal jumlah mahasiswa yang sedikit, itu bisa karena yang ndaftar memang
      sedikit, bisa juga karena ada pembatasan. jadi ya harus diklarifikasi dulu.
      sama dan sebangun dengan mencari anak kolong (maksudnya: anak tentara) di
      asrama tentara. ya pasti berjubel jumlahnya.

      salam,
      pheng hwa





      -----Original Message-----
      From: ign haryanto <ignh@...>
      To: tionghoa-net@egroups.com <tionghoa-net@egroups.com>
      Date: 01 Juli 2000 12:48
      Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja
      ?????


      >nama saya hari, orang baru di milis ini dan saya
      >tertarik untuk ikut sedikit komentar soal etnis
      >tionghoa dan UMPTN.
      >Saya omong ini karena saya lulusan dari Universitas
      >Negeri, bukan fak eksakta lagi, saya lulus dari FISIP
      >UI, jurusan Komunikasi tahun 1994.
      >
      >saya merasa memang ada pembatasan tertentu dari pihak
      >universitas untuk kalangan tionghoa, tetapi itu tidak
      >menutup jumlah yang cukup banyak dari mereka yang
      >punya prestasi. Prestasi saya pun biasa-biasa saja,
      >kalau bilang IP, itu ibaratnya netting aja (istilah
      >bulu tangkis kalau kok bergulir di net, bisa jatuh ke
      >tempat kita atau tempat lawan).
      >
      >tetapi saya tidak mengidentikkan diri sebagai orang
      >tionghoa di sana, saya adalah mahasiswa UI yang
      >bersama-sama dengan orang lain, turut aktif di kampus,
      >ikut berbagai kegiatan, dan orang yang pernah
      >mempermasalahkan soal kecinaan (dan juga kekatolikan)
      >saya. Sejauh saya diterima berbagai kelompok, itu
      >sudah cukup buat saya.
      >
      >tentu mungkin saya orang yang sedikit beruntung dari
      >temen-temen lain yang tidak memperoleh kesempatan
      >seperti itu. Tapi kenapa kecil hati, toh lulus dari
      >UI, bukan berarti lebih baik dari universitas lain,
      >itu kan cuma mitos, universitas swasta kalau memang
      >serius dalam mengusahakan pendidikan (tapi jangan cuma
      >yang jurusan ekonomi, managemen, tehnik, tapi juga
      >jurusan sosial lainnya) toh bisa menghasilkan
      >alumnus-alumnus yang baik pula.
      >
      >Tentu saja saya menolak perlakuan diskriminatif
      >(terhadap siapapun atas dasar apapun) yang diterapkan
      >di Indonesia. Dan sudah saatnya hal ini juga digugat -
      >apalagi toh dengan otonomi pendidikan nantinya - mau
      >tak mau universitas akan harus berkompetisi untuk
      >meraih murid terbaik untuk mau diakui reputasinya, dan
      >soal uang pun mungkin nanti universitas negeri harga
      >pendaftaran dan uang kuliah pun tak jauh beda dari
      >universitas swasta lainnya.
      >
      >Tetapi hal yang perlu diingat adalah pergaulan yang
      >luas, yang inklusif akan memberikan kesempatan kita
      >untuk bergaul rekan-rekan dari daerah lain, dari
      >kelompok sosial ekonomi yang berbeda, paham yang
      >berbeda dll. Ini semua adalah lab kecil yang membuat
      >komunitas tionghoa bukan menjadi komunitas yang
      >eksklusif, dan mau membuka diri serta peduli dengan
      >keadaan lingkungan sekitar.
      >
      >saya jadi teringat sosok seperti Soe Hok Gie, yang
      >dikenal sebagai aktivis mahasiswa, aktivis pencinta
      >gunung, penulis, asisten dosen, yang semuanya berada
      >di atas identitas yang bernama ketionghoaan tersebut.
      >
      >Mana yang anda pilih: anda mau dikenal pertama kali
      >sebagai seorang tionghoa ataukah anda mau dikenal
      >pertama kali karena keahlian anda, profesionalitas
      >dll?
      >
      >terus terang saya pilih yang terakhir. Kecinaan adalah
      >hal yang given dan saya tak bisa memilih untuk itu.
      >tetapi bagaimana kecinaan diberi nilai yang lebih, itu
      >persoalannya.
      >
      >saat ini saya pun sedang menempuh studi lain di
      >singapura. dan generasi seperti saya ini, bukan tidak
      >mengalami kesulitan di singapura.
      >kemana-mana dengan kulit kuning ini, banyak orang - di
      >toko, restoran dll - akan menyapa pertama kali dengan
      >bahasa mandarin atau hokien. tapi ketika kita menjawab
      >dengan bahasa inggris, mereka baru bingung.
      >bahkan supir taksi di sini paling sering menyalahkan
      >anak-anak indonesia yang tak bisa berbahasa mandarin.
      >kalau sudah gitu, saya jadi malas mendebatnya, dia ini
      >nggak tahu sih, ada sejarah panjang 30 tahun yang
      >perlu diceritakan kenapa sampe generasi saya itu tak
      >bisa berbahasa mandarin. Tapi ngapain juga harus
      >cerita untuk sebuah perjalanan waktu 15-20 menit.
      >
      >begitulah sekedar sharing pengalaman.
      >
      >hari
      >
      >
      >__________________________________________________
      >Do You Yahoo!?
      >Kick off your party with Yahoo! Invites.
      >http://invites.yahoo.com/
      >
      >------------------------------------------------------------------------
      >Get a NextCard Visa, in 30 seconds!
      >1. Fill in the brief application
      >2. Receive approval decision within 30 seconds
      >3. Get rates as low as 2.9% Intro or 9.9% Fixed APR
      >http://click.egroups.com/1/5197/12/_/71765/_/962429907/
      >------------------------------------------------------------------------
      >
      >-=Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa=-
      >
      >Klik saja : http://www.glodoktoday.com
      >Subscribe : tionghoa-net-subscribe@...
      >Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@...
      >
      >Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
      >
      >
    • Purwanto Makbul
      Mohon veven tidak menggunakan istilag huana kalau menyebut dirinya tionghwa ... From: veven To: tionghoa-net@egroups.com
      Message 2 of 8 , Jul 1, 2000
        Mohon veven tidak menggunakan istilag huana kalau menyebut dirinya tionghwa

        -----Original Message-----
        From: veven <veven@...>
        To: tionghoa-net@egroups.com <tionghoa-net@egroups.com>
        Date: 01 Juli 2000 14:07
        Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja
        ?????


        >aku setuju dengan "ideologi" hari bahwa tionghoa (atau ras apa pun) itu
        >given saja. jangan lantas karena kita tionghoa (atau yang lain -- termasuk
        >huana?) lalu kita merasa berbeda? kalau ada yang membedakan, ya biar
        saja --
        >sekalian saja kita tunjukkan pembedaan mereka itu justru bisa kita switch
        >menjadi beda yang langka sekaligus positif.
        >soal jumlah mahasiswa yang sedikit, itu bisa karena yang ndaftar memang
        >sedikit, bisa juga karena ada pembatasan. jadi ya harus diklarifikasi dulu.
        >sama dan sebangun dengan mencari anak kolong (maksudnya: anak tentara) di
        >asrama tentara. ya pasti berjubel jumlahnya.
        >
        >salam,
        >pheng hwa
        >
        >
        >
        >
        >
        >-----Original Message-----
        >From: ign haryanto <ignh@...>
        >To: tionghoa-net@egroups.com <tionghoa-net@egroups.com>
        >Date: 01 Juli 2000 12:48
        >Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja
        >?????
        >
        >
        >>nama saya hari, orang baru di milis ini dan saya
        >>tertarik untuk ikut sedikit komentar soal etnis
        >>tionghoa dan UMPTN.
        >>Saya omong ini karena saya lulusan dari Universitas
        >>Negeri, bukan fak eksakta lagi, saya lulus dari FISIP
        >>UI, jurusan Komunikasi tahun 1994.
        >>
        >>saya merasa memang ada pembatasan tertentu dari pihak
        >>universitas untuk kalangan tionghoa, tetapi itu tidak
        >>menutup jumlah yang cukup banyak dari mereka yang
        >>punya prestasi. Prestasi saya pun biasa-biasa saja,
        >>kalau bilang IP, itu ibaratnya netting aja (istilah
        >>bulu tangkis kalau kok bergulir di net, bisa jatuh ke
        >>tempat kita atau tempat lawan).
        >>
        >>tetapi saya tidak mengidentikkan diri sebagai orang
        >>tionghoa di sana, saya adalah mahasiswa UI yang
        >>bersama-sama dengan orang lain, turut aktif di kampus,
        >>ikut berbagai kegiatan, dan orang yang pernah
        >>mempermasalahkan soal kecinaan (dan juga kekatolikan)
        >>saya. Sejauh saya diterima berbagai kelompok, itu
        >>sudah cukup buat saya.
        >>
        >>tentu mungkin saya orang yang sedikit beruntung dari
        >>temen-temen lain yang tidak memperoleh kesempatan
        >>seperti itu. Tapi kenapa kecil hati, toh lulus dari
        >>UI, bukan berarti lebih baik dari universitas lain,
        >>itu kan cuma mitos, universitas swasta kalau memang
        >>serius dalam mengusahakan pendidikan (tapi jangan cuma
        >>yang jurusan ekonomi, managemen, tehnik, tapi juga
        >>jurusan sosial lainnya) toh bisa menghasilkan
        >>alumnus-alumnus yang baik pula.
        >>
        >>Tentu saja saya menolak perlakuan diskriminatif
        >>(terhadap siapapun atas dasar apapun) yang diterapkan
        >>di Indonesia. Dan sudah saatnya hal ini juga digugat -
        >>apalagi toh dengan otonomi pendidikan nantinya - mau
        >>tak mau universitas akan harus berkompetisi untuk
        >>meraih murid terbaik untuk mau diakui reputasinya, dan
        >>soal uang pun mungkin nanti universitas negeri harga
        >>pendaftaran dan uang kuliah pun tak jauh beda dari
        >>universitas swasta lainnya.
        >>
        >>Tetapi hal yang perlu diingat adalah pergaulan yang
        >>luas, yang inklusif akan memberikan kesempatan kita
        >>untuk bergaul rekan-rekan dari daerah lain, dari
        >>kelompok sosial ekonomi yang berbeda, paham yang
        >>berbeda dll. Ini semua adalah lab kecil yang membuat
        >>komunitas tionghoa bukan menjadi komunitas yang
        >>eksklusif, dan mau membuka diri serta peduli dengan
        >>keadaan lingkungan sekitar.
        >>
        >>saya jadi teringat sosok seperti Soe Hok Gie, yang
        >>dikenal sebagai aktivis mahasiswa, aktivis pencinta
        >>gunung, penulis, asisten dosen, yang semuanya berada
        >>di atas identitas yang bernama ketionghoaan tersebut.
        >>
        >>Mana yang anda pilih: anda mau dikenal pertama kali
        >>sebagai seorang tionghoa ataukah anda mau dikenal
        >>pertama kali karena keahlian anda, profesionalitas
        >>dll?
        >>
        >>terus terang saya pilih yang terakhir. Kecinaan adalah
        >>hal yang given dan saya tak bisa memilih untuk itu.
        >>tetapi bagaimana kecinaan diberi nilai yang lebih, itu
        >>persoalannya.
        >>
        >>saat ini saya pun sedang menempuh studi lain di
        >>singapura. dan generasi seperti saya ini, bukan tidak
        >>mengalami kesulitan di singapura.
        >>kemana-mana dengan kulit kuning ini, banyak orang - di
        >>toko, restoran dll - akan menyapa pertama kali dengan
        >>bahasa mandarin atau hokien. tapi ketika kita menjawab
        >>dengan bahasa inggris, mereka baru bingung.
        >>bahkan supir taksi di sini paling sering menyalahkan
        >>anak-anak indonesia yang tak bisa berbahasa mandarin.
        >>kalau sudah gitu, saya jadi malas mendebatnya, dia ini
        >>nggak tahu sih, ada sejarah panjang 30 tahun yang
        >>perlu diceritakan kenapa sampe generasi saya itu tak
        >>bisa berbahasa mandarin. Tapi ngapain juga harus
        >>cerita untuk sebuah perjalanan waktu 15-20 menit.
        >>
        >>begitulah sekedar sharing pengalaman.
        >>
        >>hari
        >>
        >>
        >>__________________________________________________
        >>Do You Yahoo!?
        >>Kick off your party with Yahoo! Invites.
        >>http://invites.yahoo.com/
        >>
        >>------------------------------------------------------------------------
        >>Get a NextCard Visa, in 30 seconds!
        >>1. Fill in the brief application
        >>2. Receive approval decision within 30 seconds
        >>3. Get rates as low as 2.9% Intro or 9.9% Fixed APR
        >>http://click.egroups.com/1/5197/12/_/71765/_/962429907/
        >>------------------------------------------------------------------------
        >>
        >>-=Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa=-
        >>
        >>Klik saja : http://www.glodoktoday.com
        >>Subscribe : tionghoa-net-subscribe@...
        >>Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@...
        >>
        >>Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
        >>
        >>
        >
        >
        >------------------------------------------------------------------------
        >Need a credit card?
        >Instant Approval and 0% intro APR with Aria!
        >http://click.egroups.com/1/6034/12/_/71765/_/962435933/
        >------------------------------------------------------------------------
        >
        >-=Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa=-
        >
        >Klik saja : http://www.glodoktoday.com
        >Subscribe : tionghoa-net-subscribe@...
        >Unsubscribe : tionghoa-net-unsubscribe@...
        >
        >Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
        >
      • Sarwa Gunawan
        Penggunaan istilah TiongHua sebenarnya lebih ke arah Pemujaan Diri. Secara internasional sebenarnya istilah Cina lebih universal (Chinese, etc), tetapi di Indo
        Message 3 of 8 , Jul 1, 2000
          Penggunaan istilah TiongHua sebenarnya lebih ke arah Pemujaan Diri.
          Secara internasional sebenarnya istilah Cina lebih universal (Chinese, etc),
          tetapi di Indo konotasi Cina mungkin negatif, jadi sebagian orang lebih
          senang disebut TiongHua. But what's a name?

          Jika kita ingin dihargai, maka kita juga harus bisa menghargai yang lainnya,
          jadi jangan memberikan konotasi negatif kepada yang lainnya.

          Saya akan lebih menghargai Pribumi yang baik dp Cina ataupun TiongHua yang
          brengsek.


          Salam Sejahtera,


          ----- Original Message -----
          From: Purwanto Makbul <makbul@...>
          To: <tionghoa-net@egroups.com>
          Sent: Saturday, July 01, 2000 3:19 PM
          Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja
          ?????


          > Mohon veven tidak menggunakan istilag huana kalau menyebut dirinya
          tionghwa
          >
          > -----Original Message-----
          > From: veven <veven@...>
          > To: tionghoa-net@egroups.com <tionghoa-net@egroups.com>
          > Date: 01 Juli 2000 14:07
          > Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja
          > ?????
          >
          >
          > >aku setuju dengan "ideologi" hari bahwa tionghoa (atau ras apa pun) itu
          > >given saja. jangan lantas karena kita tionghoa (atau yang lain --
          termasuk
          > >huana?) lalu kita merasa berbeda? kalau ada yang membedakan, ya biar
          > saja --
          > >sekalian saja kita tunjukkan pembedaan mereka itu justru bisa kita switch
          > >menjadi beda yang langka sekaligus positif.
          > >soal jumlah mahasiswa yang sedikit, itu bisa karena yang ndaftar memang
          > >sedikit, bisa juga karena ada pembatasan. jadi ya harus diklarifikasi
          dulu.
          > >sama dan sebangun dengan mencari anak kolong (maksudnya: anak tentara) di
          > >asrama tentara. ya pasti berjubel jumlahnya.
          > >
          > >salam,
          > >pheng hwa
          > >
          > >-----Original Message-----
          > >From: ign haryanto <ignh@...>
          > >To: tionghoa-net@egroups.com <tionghoa-net@egroups.com>
          > >Date: 01 Juli 2000 12:48
          > >Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta
          saja
          > >?????
          > >
          > >
          > >>nama saya hari, orang baru di milis ini dan saya
          > >>tertarik untuk ikut sedikit komentar soal etnis
          > >>tionghoa dan UMPTN.
          > >>Saya omong ini karena saya lulusan dari Universitas
          > >>Negeri, bukan fak eksakta lagi, saya lulus dari FISIP
          > >>UI, jurusan Komunikasi tahun 1994.
          > >>
          > >>saya merasa memang ada pembatasan tertentu dari pihak
          > >>universitas untuk kalangan tionghoa, tetapi itu tidak
          > >>menutup jumlah yang cukup banyak dari mereka yang
          > >>punya prestasi. Prestasi saya pun biasa-biasa saja,
          > >>kalau bilang IP, itu ibaratnya netting aja (istilah
          > >>bulu tangkis kalau kok bergulir di net, bisa jatuh ke
          > >>tempat kita atau tempat lawan).
          > >>
          > >>tetapi saya tidak mengidentikkan diri sebagai orang
          > >>tionghoa di sana, saya adalah mahasiswa UI yang
          > >>bersama-sama dengan orang lain, turut aktif di kampus,
          > >>ikut berbagai kegiatan, dan orang yang pernah
          > >>mempermasalahkan soal kecinaan (dan juga kekatolikan)
          > >>saya. Sejauh saya diterima berbagai kelompok, itu
          > >>sudah cukup buat saya.
          > >>
          > >>tentu mungkin saya orang yang sedikit beruntung dari
          > >>temen-temen lain yang tidak memperoleh kesempatan
          > >>seperti itu. Tapi kenapa kecil hati, toh lulus dari
          > >>UI, bukan berarti lebih baik dari universitas lain,
          > >>itu kan cuma mitos, universitas swasta kalau memang
          > >>serius dalam mengusahakan pendidikan (tapi jangan cuma
          > >>yang jurusan ekonomi, managemen, tehnik, tapi juga
          > >>jurusan sosial lainnya) toh bisa menghasilkan
          > >>alumnus-alumnus yang baik pula.
          > >>
          > >>Tentu saja saya menolak perlakuan diskriminatif
          > >>(terhadap siapapun atas dasar apapun) yang diterapkan
          > >>di Indonesia. Dan sudah saatnya hal ini juga digugat -
          > >>apalagi toh dengan otonomi pendidikan nantinya - mau
          > >>tak mau universitas akan harus berkompetisi untuk
          > >>meraih murid terbaik untuk mau diakui reputasinya, dan
          > >>soal uang pun mungkin nanti universitas negeri harga
          > >>pendaftaran dan uang kuliah pun tak jauh beda dari
          > >>universitas swasta lainnya.
          > >>
          > >>Tetapi hal yang perlu diingat adalah pergaulan yang
          > >>luas, yang inklusif akan memberikan kesempatan kita
          > >>untuk bergaul rekan-rekan dari daerah lain, dari
          > >>kelompok sosial ekonomi yang berbeda, paham yang
          > >>berbeda dll. Ini semua adalah lab kecil yang membuat
          > >>komunitas tionghoa bukan menjadi komunitas yang
          > >>eksklusif, dan mau membuka diri serta peduli dengan
          > >>keadaan lingkungan sekitar.
          > >>
          > >>saya jadi teringat sosok seperti Soe Hok Gie, yang
          > >>dikenal sebagai aktivis mahasiswa, aktivis pencinta
          > >>gunung, penulis, asisten dosen, yang semuanya berada
          > >>di atas identitas yang bernama ketionghoaan tersebut.
          > >>
          > >>Mana yang anda pilih: anda mau dikenal pertama kali
          > >>sebagai seorang tionghoa ataukah anda mau dikenal
          > >>pertama kali karena keahlian anda, profesionalitas
          > >>dll?
          > >>
          > >>terus terang saya pilih yang terakhir. Kecinaan adalah
          > >>hal yang given dan saya tak bisa memilih untuk itu.
          > >>tetapi bagaimana kecinaan diberi nilai yang lebih, itu
          > >>persoalannya.
          > >>
          > >>saat ini saya pun sedang menempuh studi lain di
          > >>singapura. dan generasi seperti saya ini, bukan tidak
          > >>mengalami kesulitan di singapura.
          > >>kemana-mana dengan kulit kuning ini, banyak orang - di
          > >>toko, restoran dll - akan menyapa pertama kali dengan
          > >>bahasa mandarin atau hokien. tapi ketika kita menjawab
          > >>dengan bahasa inggris, mereka baru bingung.
          > >>bahkan supir taksi di sini paling sering menyalahkan
          > >>anak-anak indonesia yang tak bisa berbahasa mandarin.
          > >>kalau sudah gitu, saya jadi malas mendebatnya, dia ini
          > >>nggak tahu sih, ada sejarah panjang 30 tahun yang
          > >>perlu diceritakan kenapa sampe generasi saya itu tak
          > >>bisa berbahasa mandarin. Tapi ngapain juga harus
          > >>cerita untuk sebuah perjalanan waktu 15-20 menit.
          > >>
          > >>begitulah sekedar sharing pengalaman.
          > >>
          > >>hari
        • Sarwa Gunawan
          Di UI maupun Gama setahu saya pembauran sudah berjalan dengan baik, demikian juga di ITB. Saya setuju dengan anda, sebagai profesional, maka seharusnyalah kita
          Message 4 of 8 , Jul 1, 2000
            Di UI maupun Gama setahu saya pembauran sudah berjalan dengan baik, demikian
            juga di ITB.

            Saya setuju dengan anda, sebagai profesional, maka seharusnyalah kita
            menghargai dan dihargai dari sisi keprofesinalismean kita dan bukannya
            karena menyandang sesuatu yang given seperti halnya ras ataupun suku.

            Saat di MRT ataupun di tempat makan umum pernahkah mas Haryanto perhatikan
            bagaimana penumpang/mereka menempatkan diri (duduk).
            Saya perhatikan bahwa yang Cina ngumpul dengan yang Cina demikian juga yang
            Pribumi ataupun yang India. Di Indo hal ini mungkin lebih baik, lebih banyak
            saya saksikan Cina dan Pribumi mengobrol, jalan-jalan ataupun makan bersama.
            Jadi dari segi hukum mereka memang mungkin sudah tidak diskriminasi, tetapi
            secara sosial mereka belum. Mungkin anda yang dari FIS bisa mengkaji masalah
            ini.

            Bahkan di dalam kantorpun hal ini bisa dijumpai.
            Saya sempat ngobrol dengan seorang Cewe dan akhirnya Cewe itu bilang dia
            dari RRC ikut suaminya Singaporean, saya kaget karena saya pikir dia
            Singaporean juga, dia bilang di kantor ini waktu saya mulai masuk mereka
            semua tahu kok kalau saya bukan Singaporean, apa karena lafal kamu dan dia
            katakan bukan mungkin kulitnya yaa, baru setelah saya perhatikan benar-benar
            memang dia agak sedikit berbeda dengan Singaporean. Diapun tampaknya tidak
            diterima sepenuhnya oleh Singaporean, padahal sama-sama Cina.
            Saya tanya lagi setelah putar-putar dan akhirnya ia bilang masih enak di RRC
            suasananya mungkin karena sejak kecil hidup di sana.
            Kesimpulan saya sesama Cina belum tentu diterima di tempat lain dengan
            nyaman dimana Cina lain berada dan tempat yang lebih/paling nyaman mungkin
            adalah tempat dimana seseorang dibesarkan.

            Singapore cukup cerdik mengenai masalah bahasa, untuk urusan formal mereka
            menggunakan aktif Bahasa Inggris, karena mereka sadar ini adalah Bahasa
            Internasional dan mereka negara kecil dan perlu berniaga dengan
            bangsa-bangsa lainnya, walaupun mereka bisa berbahasa Cina tentunya.
            Nah, untuk Indonesia bahasa ibu jelas Bahasa Indonesia, nah bahasa kedua
            yang perlu dipelajari yaa Bahasa Inggris, jadi yaa tidak perlu risi kalau
            tidak bisa berbahasa Cina.

            We are Indonesian. And you should proud to be an Indonesian.
            Etnic is only a little part of a Nation and Nation is a part of
            Internasionalism.
            (so, you see how minor an etnic is)

            Salam Sejahtera,


            ----- Original Message -----
            From: ign haryanto <ignh@...>
            To: <tionghoa-net@egroups.com>
            Sent: Saturday, July 01, 2000 12:38 PM
            Subject: Re: [t-net] daftar di UNPAD dipersulit!, kenapa tidak swasta saja
            ?????


            > nama saya hari, orang baru di milis ini dan saya
            > tertarik untuk ikut sedikit komentar soal etnis
            > tionghoa dan UMPTN.
            > Saya omong ini karena saya lulusan dari Universitas
            > Negeri, bukan fak eksakta lagi, saya lulus dari FISIP
            > UI, jurusan Komunikasi tahun 1994.
            >
            > saya merasa memang ada pembatasan tertentu dari pihak
            > universitas untuk kalangan tionghoa, tetapi itu tidak
            > menutup jumlah yang cukup banyak dari mereka yang
            > punya prestasi. Prestasi saya pun biasa-biasa saja,
            > kalau bilang IP, itu ibaratnya netting aja (istilah
            > bulu tangkis kalau kok bergulir di net, bisa jatuh ke
            > tempat kita atau tempat lawan).
            >
            > tetapi saya tidak mengidentikkan diri sebagai orang
            > tionghoa di sana, saya adalah mahasiswa UI yang
            > bersama-sama dengan orang lain, turut aktif di kampus,
            > ikut berbagai kegiatan, dan orang yang pernah
            > mempermasalahkan soal kecinaan (dan juga kekatolikan)
            > saya. Sejauh saya diterima berbagai kelompok, itu
            > sudah cukup buat saya.
            >
            > tentu mungkin saya orang yang sedikit beruntung dari
            > temen-temen lain yang tidak memperoleh kesempatan
            > seperti itu. Tapi kenapa kecil hati, toh lulus dari
            > UI, bukan berarti lebih baik dari universitas lain,
            > itu kan cuma mitos, universitas swasta kalau memang
            > serius dalam mengusahakan pendidikan (tapi jangan cuma
            > yang jurusan ekonomi, managemen, tehnik, tapi juga
            > jurusan sosial lainnya) toh bisa menghasilkan
            > alumnus-alumnus yang baik pula.
            >
            > Tentu saja saya menolak perlakuan diskriminatif
            > (terhadap siapapun atas dasar apapun) yang diterapkan
            > di Indonesia. Dan sudah saatnya hal ini juga digugat -
            > apalagi toh dengan otonomi pendidikan nantinya - mau
            > tak mau universitas akan harus berkompetisi untuk
            > meraih murid terbaik untuk mau diakui reputasinya, dan
            > soal uang pun mungkin nanti universitas negeri harga
            > pendaftaran dan uang kuliah pun tak jauh beda dari
            > universitas swasta lainnya.
            >
            > Tetapi hal yang perlu diingat adalah pergaulan yang
            > luas, yang inklusif akan memberikan kesempatan kita
            > untuk bergaul rekan-rekan dari daerah lain, dari
            > kelompok sosial ekonomi yang berbeda, paham yang
            > berbeda dll. Ini semua adalah lab kecil yang membuat
            > komunitas tionghoa bukan menjadi komunitas yang
            > eksklusif, dan mau membuka diri serta peduli dengan
            > keadaan lingkungan sekitar.
            >
            > saya jadi teringat sosok seperti Soe Hok Gie, yang
            > dikenal sebagai aktivis mahasiswa, aktivis pencinta
            > gunung, penulis, asisten dosen, yang semuanya berada
            > di atas identitas yang bernama ketionghoaan tersebut.
            >
            > Mana yang anda pilih: anda mau dikenal pertama kali
            > sebagai seorang tionghoa ataukah anda mau dikenal
            > pertama kali karena keahlian anda, profesionalitas
            > dll?
            >
            > terus terang saya pilih yang terakhir. Kecinaan adalah
            > hal yang given dan saya tak bisa memilih untuk itu.
            > tetapi bagaimana kecinaan diberi nilai yang lebih, itu
            > persoalannya.
            >
            > saat ini saya pun sedang menempuh studi lain di
            > singapura. dan generasi seperti saya ini, bukan tidak
            > mengalami kesulitan di singapura.
            > kemana-mana dengan kulit kuning ini, banyak orang - di
            > toko, restoran dll - akan menyapa pertama kali dengan
            > bahasa mandarin atau hokien. tapi ketika kita menjawab
            > dengan bahasa inggris, mereka baru bingung.
            > bahkan supir taksi di sini paling sering menyalahkan
            > anak-anak indonesia yang tak bisa berbahasa mandarin.
            > kalau sudah gitu, saya jadi malas mendebatnya, dia ini
            > nggak tahu sih, ada sejarah panjang 30 tahun yang
            > perlu diceritakan kenapa sampe generasi saya itu tak
            > bisa berbahasa mandarin. Tapi ngapain juga harus
            > cerita untuk sebuah perjalanan waktu 15-20 menit.
            >
            > begitulah sekedar sharing pengalaman.
            >
            > hari
          • Jet
            ... Pemujaan diri dalam hal apa ? Tionghoa tdk lebih dari nama sebuah etnis, sama seperti nama etnis Jawa, Sunda, Batak, dan lain2. Saya tdk melihat ada unsur
            Message 5 of 8 , Jul 1, 2000
              At 19:59 01/07/00 +0700, you wrote:
              >Penggunaan istilah TiongHua sebenarnya lebih ke arah Pemujaan Diri.
              >
              ---------------------------------
              Pemujaan diri dalam hal apa ?
              Tionghoa tdk lebih dari nama sebuah etnis, sama seperti nama etnis Jawa,
              Sunda, Batak, dan lain2.
              Saya tdk melihat ada unsur pemujaan diri.
              Bisa dijelaskan yg Anda maksud dg 'Pemujaan Diri' ?
              ---------------------------------

              >Secara internasional sebenarnya istilah Cina lebih universal (Chinese, etc),
              >tetapi di Indo konotasi Cina mungkin negatif, jadi sebagian orang lebih
              >senang disebut TiongHua. But what's a name?
              >

              -----------------------------------
              Cina dalam bahasa Inggris ditulis 'China' dan dibaca ' Chai-na'.
              Jadi kata 'Cina' dlm bahasa Indonesia adalah salah kaprah.
              Harusnya diucapkan 'Chai-na' dan ditulis 'China'.

              Dalam bahasa Hakka dan Tiociu, kata 'Ci' mengandung arti (maaf) =
              vagina/alat kelamin perempuan.
              Saya tanya pada Anda, maukah Anda dipanggil (maaf lagi) 'vagina' ?
              Anda masih bilang, what's in a name?

              Oke, suppose Anda menerima dipanggil 'vagina', apakah Anda masih menerima
              jika kata2 'jorok' itu ditujukan kepada Anda secara sinis dan mengejek ?
              Tidakkah Anda merasa harga diri Anda sudah diinjak dua kali?

              (Beribu maaf kalau ada perkataan yg vulgar dan terlalu keras menurut Anda).

              Satu contoh yg cukup relevan dalam hal ini adalah penggunaan kata 'Nigger'
              atau 'Negro' utk menyebut etnis kulit hitam di Amerika Serikat.

              Kedua kata ini adalah sangat tabu utk diucapkan di sana. Kalau Anda
              mengucapkan dua kata ini di hadapan org kulit hitam, baik secara sengaja
              maupun tdk, Anda bisa dikenakan law-suit (tuntutan hukum) oleh yg
              bersangkutan dan kemungkinan besar Anda akan kalah di pengadilan.
              Hukumannya mungkin bisa beberapa tahun penjara.
              Tetapi masih untung jika Anda cuma dituntut ke pengadilan, karena sudah ada
              kejadian (bahkan cukup sering) org dianiaya oleh kulit hitam dan bahkan
              tewas dibunuh karena mengejek org kulit hitam dg kedua sebutan itu.........

              Etnis kulit hitam di Amerika lebih suka disebut ' african american' atau
              dalam percakapan sehari2 disebut 'black people' utk membedakan mereka dgn
              org kulit putih yg biasa disebut 'white people'. Administrasi pemerintahan
              AS sendiri juga men-tabukan kata2 'Nigger' dan 'Negro' dalam urusan2
              formalnya.

              Kedua kata itu dibenci oleh kulit hitam karena mengingatkan mereka pada
              masa perbudakan kulit hitam di abad2 silam. Mereka mencoba utk melupakan
              hal itu.

              Kesimpulan dari semua ini adalah: kita sebagai manusia yg beradab mempunyai
              hak yg sama utk menentukan nama kita sendiri. Tidak boleh org lain
              memaksakan seseorang utk menggunakan nama yg ia tdk suka. Ini kan
              pelanggaran HAM, betul nggak ?

              Kalau saya memilih utk tidak dipanggil 'cina' maka saya expect org lain
              menghormati pilihan saya tsb, sama seperti saya juga menghormati pilihan
              org lain.
              Hanya dengan cara saling menghormati/menghargai itulah kehidupan
              bermasyarakat multi-etnis bisa terjalin dg harmonis.

              Terima kasih.

              Rgds,
              Jet.
            • leosusanto
              Kalau begitu Mandarin Pak Sugiri termasuk bagus, sayang kalau tidak dikembangkan ke taraf bisa ngomong dengan lancar seperti bahasa Sunda Bapak. Saya
              Message 6 of 8 , Jul 5, 2000
                Kalau begitu Mandarin Pak Sugiri termasuk bagus, sayang kalau tidak
                dikembangkan ke taraf bisa ngomong dengan lancar seperti bahasa Sunda Bapak.

                Saya sependapat dengan Bapak bahwa minoritas mesti bisa menyesuaikan diri
                dengan mayoritas, dengan demikian mayoritas bisa di-"tekuk" dengan lebih
                mudah.

                Tetapi apakah sifat pasif ini bisa dilakukan dengan jangka panjang dimana
                tidak ada kepastian sama sekali terhadap nasib orang Tionghua. Menurut saya
                sikap yang menyesuaikan diri adalah sikap yang sangat mulia tetapi kita
                tidak bisa sepenuhnya terus terusan demikian.

                MEmang saya telah mengalami dengan memahami bahasa suku lain kita akan
                lebih disegani dan diakrabi oleh suku tsb. Terbukti dengan banyaknya teman
                teman Jawa di ITB, lebih banyak daripada teman dari tanah Sunda.

                Dan menurut saya kasihan sekali beberapa individu yang terpaksa menyingkir
                setelah dipukuli pada tahun 1967 di ITB. Saya kebetulan kenal dengan salah
                satunya yang ada di California ini. Bapak ini sangat jengkel dengan
                perlakuan teman temannya pada waktu tsb yang dianggap menikam dari belakang
                sehingga dia lebih puas pindah ke US, lebih dihargai dan tenang katanya.

                Kalau semua orang Tionghua defensif terus kapan kita ada satu tujuan yang
                bisa tercapai? Jadi menurut saya selain sikap yang defensif juga dibutuhkan
                sikap ofensif yang menuntut persamaan hak dan kewajiban tanpa memandang
                suku.

                Saya cuma bisa menghimbau dari jauh, bilangin ke anggota DPR, terutama yang
                dari Komisi II untuk gol-kan RUU Anti Diskriminasi

                Leo Johan Susanto________________________________________________
                Get long distance for 6.5 cents a minute from DotPlanet/Avana.
                https://members.avana.net/agents/dotplanet

                [Non-text portions of this message have been removed]
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.