Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kutipan: Saksi Kebrutalam Milisi

Expand Messages
  • Daniel H.T.
    Saksi Kebrutalan Milisi (Dikutip dari Mingguan Hidup, 17 Oktober 1999) Saya bersama dng empat teman memang telah sampai di tempat ini (maksudnya P. Jawa) dng
    Message 1 of 1 , Jun 2, 2002
    • 0 Attachment
      Saksi Kebrutalan Milisi
      (Dikutip dari Mingguan "Hidup," 17 Oktober 1999)

      Saya bersama dng empat teman memang telah sampai di tempat ini
      (maksudnya P. Jawa) dng selamat. Tapi kami berlima masing2 memilki jalan
      yg berbeda-beda u/ dpt keluar dari Tim2, dan sampai di P. Jawa.

      U/ keluar dari Tim2 sangat sulit sekali. Jalan2 diblokir o/ para milisi.
      Seperti Aitarak. Mereka memblokir jalan2 umum. Masyarakat tidak boleh
      lewat begitu saja, harus dikawal polisi. Terutama dari kabupaten kami
      masing2, menuju Dili. Padahal satu2-nya jalan keluar meninggalkan Tim2
      adalah melewati Dili.

      Perjalanan dari tempat tinggal saya di Kabupaten Aileu menuju Dili
      sangat sulit dan memakan waktu satu hari. Karena pd tgl 30 Agustus malam
      sudah ada pembakaran2 kecil, kami terpaksa mengungsi ke hutan.

      Sesudah jajak pendapat, masyarakat mulai takut karena sdh ada ancaman2
      sebelumnya. Milisi mengancam akan membunuh atau membakar rumah mereka.
      Anehnya, saat milisi melakukan itu aparat keamanan, misalnya ABRI (TNI,
      Red) atau Brimob membiarkan saja. Jadi, para milisi leluasa bertindak
      sekehendak hatinya.
      Anggota milisi sudah dilatih oleh ABRI. Sebagian dari mereka berasal
      dari Tim2, sebagian dari luar Tim2 yg perangainya mirip orang Tim2.
      Warna kulit sama, rambut dan bahasanya juga sama. Mereka sudah lama
      dibina ABRI sehingga kami sulit membedakan mana yg asli Tim2 dan mana yg
      tidak. Setelah jajak pendapat mereka memasukkan orang2 itu (ke Tim2).
      Dari pengamatan saya gerak mereka (para milisi) seperti sudah diatur dan
      direncanakan dng matang. Misalnya, pembakaran2 berlangsung pd jam dan
      hari yg sama.
      Tanda2 kerusuhan mulai tampak sehari sebelum pengumuman hasil jajak
      pendapat. Kantor CNRT dan benderanya dibakar. Orang yg menjaga kantor
      tsb lari.
      Tgl 4 September hasil jajak pendapat diumumkan. Sekitar 78,5 persen
      menyatakan ingin merdeka. Pada hari itu milisi masih berdiam diri.
      Mereka seperti sedang menyusun kekuatan.
      Keesokan harinya mulai terjadi pembakaran. Sasarannya kantor2
      pemerintahan. Yg membakar adalah milisi bersama Brimob, dan TNI. Mereka
      bergabung. Pertama-tama mereka melakukan penembakan2 terlebih dahulu.
      Lalu, menyiram bensin yg mereka bawa ke kantor2 pemerintahan. Di
      Kabupaten Aileu yg membakarnya itu bupatinya sendiri.
      Bupati itu orang Sumatera. Dia juga mantan tentara. Setelah jajak
      pendapat yg dimenangkan o/ pro kemerdekaan, dia mengganti pakaian
      dinasnya. Lalu, langsung membakar kantornya sendiri. Kantor2 lainnya
      juga dibakar atas komandonya.
      Hari kedua setelah jajak pendapat (6 September) mereka mulai membakar
      gedung2 sekolah, SD, SMP, SMA. Baik yg swasta, maupun negeri. SMP
      Katolik tidak luput dari pembakaran. Kursi, meja, dan semua perabot
      sekolah habis dibakar. Hari ketiga, mereka mulai 'menyapu rata' seluruh
      rumah penduduk. Tidak pandang bulu, apakah pro kemederkaan, pro otonomi,
      pro polisi, pro tentara.
      Masyarakat dipaksa u/ mengungsi. Kendaraan telah disediakan lalu
      ditampung di Polres, Kodim, dan base camp [ara tentara. Pada hari ketiga
      semua rumah sudah rata dng tanah.
      Hari keempat, mulai terjadi pengungsian. Dari berbagai daerah mereka
      diangkut ke Dili dan ditampung di Polda. Tapi, di sini pun sudah tidak
      aman. Rumah2 dibakar. Toko2 dijarah dan dihancurkan. Dili sungguh
      kacau-balau. Dari Polda, para pengungsi disuruh mengungsi ke Kupang,
      Atambua, dan Kefa.
      Para pengungsi diangkut lewat darat, laut dan udara. Dari laut, kapal2
      ABRI dan kapal2 penumpang lainnya sudah siap di pelabuhan u/ mengangkut
      para pengungsi. Pesawat Hercules milik tentara juga mengangkut para
      pengungsi. Pengungsi diangkat secara gratis u/ keluar dari Tim2.

      bersambung





      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.