Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Antara Monas dan Istiqlal

Expand Messages
  • semar samiaji
    Antara Monas dan Istiqlal (oleh : Rere Loreinetta) Monumen besar atas bangsa ini dari pemikiran Soekarno adalah Tugu Monas dan Masjid Istiqlal. Dua bangunan
    Message 1 of 1 , Sep 1, 2012
    • 0 Attachment
      Antara Monas dan Istiqlal
      (oleh : Rere 'Loreinetta)

      Monumen besar atas bangsa ini dari pemikiran Soekarno adalah Tugu Monas dan Masjid Istiqlal. Dua bangunan itu cukup monumental di zamannya, dan di zaman sekarang pun masih terlihat gagah dan berani, seberani dan segagah pemikiran Soekarno.

      Peletakkan batu pertama di kedua bangunan ini nyaris bersamaan, dan sedikit menimbulkan pro kontra antara Ir. Soekarno dan KH. Wahid Hasyim.
      Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) menjadi Menteri Agama waktu itu dan bersama para ulama lain berkeinginan mendirikan masjid skala Nasional.

      Ide itu dicetuskan tahun 1950, atas persetujuan presiden dibentuklah kemudian ketua panitia pembangunan sekaligus, Ketua Yayasan Istiqlal, yaitu Bapak Anwar Cokroaminoto. Pemikiran ini disampaikan sekali lagi kepada presiden, dan beliau sangat setuju dengan pembangunan masjid Istiqlal skala nasional. Maka tahun 1969 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan masjid. Pada tahun 1969 juga Ir. Soekarno melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tugu Monas. Dua bangunan yang cukup besar dan mustahil untuk zaman itu, karena rakyat masih sengsara, sementara pemerintah dalam pembangunan masjid dan monumen tentu menyedot biaya milyar dan rupiah, (untuk Istiqlal pembangunan pertama menelan biaya 12 juta dolar Amerika selesai tahun 1978), demikian juga Monas sangat sebanding atas pembiayaan APBN-nya.

      Demi cita-cita yang besar ini, kedua proses pembangunan mengalami titik tegang antara Presiden dan Menteri Agama. Presiden Soekarno melakukan peletakkan batu pertama untuk Istiqlal, demikian juga untuk tugu Monas. Setelah melakukan peletakkan batu pertama, Soekarno melanjutkan pembangunan Monasnya, sementara Istiqlal ditunda sementara. Kebijakan ini menurut Menteri Agama sangat tidak logis, sama dengan melecehkan tempat ibadah. Presiden lebih mengutamakan Tugu dari pada Masjid. Umat Islam protes dan berpandangan negatif terhadap pemikiran Soekarno. Para ulama mengajukan petisi gugatan yang diwakili oleh Menteri Agama KH Wahid Hasyim. Wakil umat ini menyampaikan protes kepada presiden. Ia datangi istana dengan serius sekali menyampaikan amanah umat.

      Setelah menyampaikan proses itu, dengan tenang Soekarno menjawab (menurut prolog sumber, keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa Timuran).

      "Kenengopo aku ndisikno tugu karo masjid....!" artinya : (kenapa aku mendahulukan membangun tugu daripada masjid).
      Selanjutnya kata Soekarno, "Tugu iku uwekku, teko pikiranku kanggo negoro..., sa'wayah-wayah aku mati, sopo seng nerusno mbangun tugu! Ora ono!" artinya : (tugu itu milikku, dari pemikiranku untuk negara sebagai monumen. Jika sewaktu-waktu aku mati, siapa yang akan meneruskan. Tidak ada! Ini hanya tugu saja).
      KH Wahid Hasyim diam, ia mendengarkan petuah Soekarno selanjutnya, "Bedo karo masjid, Khid! Sa'wayah-wayah aku mati, kowe seng nerusno. Sa'wayah-wayah awakmu mati, ono umat Islam seng mikirno lan nerusno pembangunane. Lan Tugu, ora ono seng nerusno!" artinya : (Beda kalau masjid, Khid! Jika aku mati, kamu bisa meneruskan. Atau jika engkau mati juga, maka di belakang masih ada umat Islam yang memikirkan dan meneruskan pembangunan masjid, dan tugu tidak ada yang meneruskan pastinya).

      Beliau memahami maksud Soekarno, dan membenarkan pemikiran sang presiden. BEGITULAH ADANYA. Suatu pemikiran yang mendalam dan luar biasa atas bangsa ini, tanpa sekat-sekat kepentingan di dalam hati dan pemikirannya atas keanekaragaman bangsa dan negaranya.

      Seorang politisi yang memegang teguk politik kerakyatan dan kebangsaan, ia tidak hanya berkutat pada politik praktis saja walaupun hidup masa muda aktif di dunia politik.
      Politik baginya atas bangsa ini sebagai alat untuk kesejahteraan dan kebesaran bangsa dan rakyat. Bukan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan nafsu sesaat saja.

      http://retakankata.wordpress.com/2011/12/20/obrolan-cangkrukan-ir-soekarno-vs-kh-wahid-hasyim-soal-monas-dan-istiqlal/



      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.