Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu

Expand Messages
  • singo menggolo
    Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma tarip BBM
    Message 1 of 14 , Apr 1, 2012
    • 0 Attachment
      Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma tarip BBM saja ,tapi juga UUD negara2 bersangkutan[visi -misi merdeka/bernegara],standard hidup disetiap negara,sejarah harga BBM dan pengaruh harga BBM terhadap harga barang pokok,ingat ya pak lik luas dan penyebaran rakyat Indonesia bukan dalam satu lokasi/radius yang sempit.
       
      Alasan2 pak lik kenapa BBM harus dinaikan ,bukan bikin saya pingin muntah tapi kekelen sampai pingin ngompol pak lik,hati2 jangan deket2 pak lik bisa saya kencingi ntar!.
      Sebenarnya jawabannya cukup satu kalimat saja pak lik: UNTUK APA KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA?.
      Emang ada rakyat/pengusaha yang seneng mandi BBM atau mabuk2an minum BBM pak Lik?,padahal untuk membangun pabrik,jenis izinnya saja puluhan macem,jangan2 darah pak lik Prom sekarang sudah biru kekuning2an ya?.
      Hanya pemerintah yang GUOBLOK yang  tidak bisa ngatur jumlah mobil/motor yang boleh beroperasi di Indonesia,kalau semua bebas semau2anya ngapain ada pemerintah.
      Hanya Pemerintah yang primitip yang tidak mampu memberantas penyelundupan, kenapa kok kagak pak lik usulkan semua pantai harus dipagari dan dipasang CCTV sekalian??,kok malah milih menaikan harganya BBM saja?. 
      Lalu ngapain bayarin polisi air,angkatan laut dan bea cukai kalau gitu pak lik?.
       
      Semua argumentasi pak lik diatas membuktikan bahwa pemerintah yang berkuasa saat ini (yang warna darahnya sama dengan pak lik)bukan pemimpin negara tetapi penguasa yang medek2no[mau enak sendiri],persis Petruk munggah bale kan pak lik!!.
      Mau menang sendiri saja,karena nggak becus menghadapi persoalan,rakyat yang diblesekno!!.
      Demo kemarin bukan khusus karena rencana kenaikan harga BBM pak lik,tetapi akumulasi harga[biaya hidup],kenaikan harga BBM hanya pemicunya saja.
      Mekanisme kenaikan harga beras bukan karena keinginan pemerintah tetapi kemauan pasar,disamping itu rakyat juga maklum alasan harga beras naik,yaitu gagal panen dampak anomali iklim kan pak lik!.
       
      *masalah sebenarnya kan sederhana saja pak lik,pemerintah merumuskan bahwa batas garis kemiskinan adalah berpenghasilan Rp 7.000,-/hr,coba hitung yang benar,cukup nggak?,kalau nggak cukup lalu apa upaya pemerintah agar rakyat tetap bisa hidup?, lalu hitung lagi dampak kenaikan BBM,upayakan lagi agar tetap bisa hidup,sebelum pemerintah mampu mengatasi hal tersebut jangan salahkan kalau rakyat ngamuk!!*
       
      nuwun sewu,
       
      singo.


      ________________________________
      Dari: Prometheus <prometheus_promise@...>
      Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
      Dikirim: Minggu, 1 April 2012 0:09
      Judul: Re: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu



       

      Wah saya mesti siap-siap kantong muntah nih kalau mau ngomong bbm sama Opa Singo :)

      Setuju nih Opa, harusnya harga BBM di Indonesia itu mbok ya dibandingkan yang negara yang penghasilannya mirip sama Indonesia (pendapatan per capita USD 3500). Misalnya seperti negara berikut :

      Vietnam (pendapatan per capita USD 1300), harga bensinnya (RON 92)22,900 VND/L, atau artinya sekitar USD 1.09/L. Harganya ternyata dua kali lipat dari harga bensin di Indonesia yang cuman USD 0.5/L ! Padahal pendapatan per capita nya cuman 1/3 Indonesia.

      Di Philipine, harganya USD 1.32/L, sementara pendapatannya USD 2200 per capita

      Di India lebih hebat lagi. Harga bensinnya sampai USD 1.43/L, sementara pendapatannya cuman USD 1500.

      Dan yang lebih menarik lagi, konon cuman ada 18 negara di dunia yang harga bensinnya lebih murah dari Indonesia. Sebagian besar ada di Timur Tengah, seperti Iran, Bahrain, Saudi Arabia, Kuwait, yang memang penghasil minyak.

      Lha Indonesia kok ya gaya-nya mau kayak negara yang kaya minyak saja.
      Jauh lebih baik kita berpikir bahwa sumber daya alam kita tuh sedikit, jadi kita harus kerja keras. Memangnya sumber daya alam itu gratis ??

      Sayang urusan harga BBM ini sudah dipolitisir sekali dan perdebatannya jauh dari substansinya. Urusan harga BBM cuman dipakai segelintir politisi untuk mencari kesempatan menepuk dada sendiri-sendiri.

      Padahal harga BBM Indonesia sudah seharusnya naik karena beberapa alasan :
      (sebentar ya, ambil kantong plastik dulu buat nampung muntah :))

      1. harga yang murah membuat konsumen cenderung boros dan tidak menghargai sumber energi.
      2. harga yang murah membuat industri boros dan tidak kreatif dan tidak kompetitif.
      3. disparitas harga yang terlalu tinggi membuat orang berpikir untuk menyelundupkan bensin ke luar.
      4. harga bensin yang murah menguntungkan industri otomotif. Pertumbuhan mobil dan motor menjadi lebih cepat --> kemacetan terjadi lebih cepat --> pemborosan lebih banyak.

      Yang mengherankan adalah kok beras yang sudah naik dari harga 6500an tahun lalu menjadi 8500an tahun ini, kok ngga pernah diprotes besar-besaran. Rupanya orang sekarang sudah lebih butuh BBM daripada beras ??

      Tapi mungkin juga ya demo kemarin bukan urusan BBM, tapi cuman karena urusan SBY. Kasihan yang memang mau benar-benar protes urusan BBM, karena rupanya ini cuman masalah kekuasaan saja.

      Politik oh politik.

      Prom

      --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@...> wrote:
      >
      jt Jiwa,
      > inilah titik pokok permasalahannya pak lik,makanya saya muak dan pingin muntahin muka pejabat2 dan elit2 kalau mendengar mereka membanding2kan harga BBM di Indonesia dengan harga dinegara-negara lain[harga dunia] tanpa membandingkan penghasilan minimum rakyat dinegara2 tersebut,




      [Non-text portions of this message have been removed]
    • den suta
      Dear all,     Rakyat jelata yg. merupakan  jumlah terbanyak penduduk di Indonesia, bukan orang bodoh, melainkan  orang  miskin  karena hidupnya belum
      Message 2 of 14 , Apr 1, 2012
      • 0 Attachment
        Dear all,
         
         
        Rakyat jelata yg. merupakan  jumlah terbanyak penduduk di Indonesia,
        bukan orang bodoh, melainkan  orang  miskin  karena hidupnya belum
        sejahtera lahir-batin, sekalipun telah hidup di negara yg. sudah merde-
        ka selama 67 tahun ! Mengapa ?  Karena,  sejak rezim Orba belum pu-
        nya Pemimpin Indonesia, yg. berjiwa & bersemangat negarawan sejati.
         
         
        Indonesia tak hanya butuh pimpinan tertinggi negara yg. punya otak yg.
        hanya cerdas memikirkan partai politik & kantong / keluarganya  sendiri,
        melainkan yg. punya hati nurani, yg. sekaligus  mampu  melayani kebu-
        tuhan rakyatnya, agar bisa punya martabat sebagai manusia,yg. duduk
        sama rendah & berdiri sama tinggi,  dengan  manusia negara & bangsa
        lain di dunia !
         
         
        Indonesia  butuh  pimpinan tertinggi negara yg. mampu merealisasikan
        Pasal 33 UUD 1945,  yg. intinya adalah mewujudkan kesejahteraan so-
        sial. Di mana Ayat (1) : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama
        atas azas kekeluargaan.  Ayat (2) : Cabang-cabang produksi yang pen-
        ting bagi negara  dan  yang menguasai hajat hidup orang banyak dikua-
        sai oleh negara. Dan, Pasal (3) : Bumi dan air dan kekayaan alam yang
        terkandung  didalamnya  dikuasai oleh negera dan dipergunakan untuk
        sebesar-besar kemakmuran rakyat.   Masalahnya,  sudahkah semua isi 
        Pasal dengan ketiga ayat ini terwujud setelah 67 tahun merdeka ?
         
         
        Bukankah  Pasal tsb. mengisyaratkan adanya  demokrasi  ekonomi, bu-
        kan hanya demokrasi politik yg. kebablasan ke "democrazy",yg. menye-
        babkan  rakyat  Indonesia  tetap  miskin di tengah keamburadulan diba-
        nyak aspek kehidupannya, termasuk aspek keuangan negara dlm. ben-
        tuk APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yg. defisit. Lalu,
        apakah defisit APBN ini harus dibebankan  ke pundak rakyat Indonesia
        melaui kenaikan harga BBM ? Bukankah sebagian terbesar rakyat Indo-
        nesia masih miskin alias belum makmur ? Adilkah ??
         
         
        Ya, adilkah ???
         
         
        Karena itu,  DS  sangat sepakat dng. kalimat jawaban kangmas Raden
        Singo Menggolo sing pancen oye alias "Dewa Bumi VHJ", yakni :
         
        "UNTUK   APA  KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR
        MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA ?".
         
         
        Semoga komentar singkat ini cukup jelas untuk disadari & diresapi ada-
        nya oleh para bijaksanawan !
         
         
        Salam pemahaman,
        DS

          

        ________________________________
        From: singo menggolo 
        To: "tionghoa-net@yahoogroups.com" <tionghoa-net@yahoogroups.com>
        Sent: Sunday, April 1, 2012 3:18 PM
        Subject: Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu



         

        Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma tarip BBM saja ,tapi juga UUD negara2 bersangkutan[visi -misi merdeka/bernegara],standard hidup disetiap negara,sejarah harga BBM dan pengaruh harga BBM terhadap harga barang pokok,ingat ya pak lik luas dan penyebaran rakyat Indonesia bukan dalam satu lokasi/radius yang sempit.
         
        Alasan2 pak lik kenapa BBM harus dinaikan ,bukan bikin saya pingin muntah tapi kekelen sampai pingin ngompol pak lik,hati2 jangan deket2 pak lik bisa saya kencingi ntar!.
        Sebenarnya jawabannya cukup satu kalimat saja pak lik: UNTUK APA KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA?.
        Emang ada rakyat/pengusaha yang seneng mandi BBM atau mabuk2an minum BBM pak Lik?,padahal untuk membangun pabrik,jenis izinnya saja puluhan macem,jangan2 darah pak lik Prom sekarang sudah biru kekuning2an ya?.
        Hanya pemerintah yang GUOBLOK yang  tidak bisa ngatur jumlah mobil/motor yang boleh beroperasi di Indonesia,kalau semua bebas semau2anya ngapain ada pemerintah.
        Hanya Pemerintah yang primitip yang tidak mampu memberantas penyelundupan, kenapa kok kagak pak lik usulkan semua pantai harus dipagari dan dipasang CCTV sekalian??,kok malah milih menaikan harganya BBM saja?. 
        Lalu ngapain bayarin polisi air,angkatan laut dan bea cukai kalau gitu pak lik?.
         
        Semua argumentasi pak lik diatas membuktikan bahwa pemerintah yang berkuasa saat ini (yang warna darahnya sama dengan pak lik)bukan pemimpin negara tetapi penguasa yang medek2no[mau enak sendiri],persis Petruk munggah bale kan pak lik!!.
        Mau menang sendiri saja,karena nggak becus menghadapi persoalan,rakyat yang diblesekno!!.
        Demo kemarin bukan khusus karena rencana kenaikan harga BBM pak lik,tetapi akumulasi harga[biaya hidup],kenaikan harga BBM hanya pemicunya saja.
        Mekanisme kenaikan harga beras bukan karena keinginan pemerintah tetapi kemauan pasar,disamping itu rakyat juga maklum alasan harga beras naik,yaitu gagal panen dampak anomali iklim kan pak lik!.
         
        *masalah sebenarnya kan sederhana saja pak lik,pemerintah merumuskan bahwa batas garis kemiskinan adalah berpenghasilan Rp 7.000,-/hr,coba hitung yang benar,cukup nggak?,kalau nggak cukup lalu apa upaya pemerintah agar rakyat tetap bisa hidup?, lalu hitung lagi dampak kenaikan BBM,upayakan lagi agar tetap bisa hidup,sebelum pemerintah mampu mengatasi hal tersebut jangan salahkan kalau rakyat ngamuk!!*
         
        nuwun sewu,
         
        singo.


        ________________________________
        Dari: Prometheus
        Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
        Dikirim: Minggu, 1 April 2012 0:09
        Judul: Re: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu


         

        Wah saya mesti siap-siap kantong muntah nih kalau mau ngomong bbm sama Opa Singo :)

        Setuju nih Opa, harusnya harga BBM di Indonesia itu mbok ya dibandingkan yang negara yang penghasilannya mirip sama Indonesia (pendapatan per capita USD 3500). Misalnya seperti negara berikut :

        Vietnam (pendapatan per capita USD 1300), harga bensinnya (RON 92)22,900 VND/L, atau artinya sekitar USD 1.09/L. Harganya ternyata dua kali lipat dari harga bensin di Indonesia yang cuman USD 0.5/L ! Padahal pendapatan per capita nya cuman 1/3 Indonesia.

        Di Philipine, harganya USD 1.32/L, sementara pendapatannya USD 2200 per capita

        Di India lebih hebat lagi. Harga bensinnya sampai USD 1.43/L, sementara pendapatannya cuman USD 1500.

        Dan yang lebih menarik lagi, konon cuman ada 18 negara di dunia yang harga bensinnya lebih murah dari Indonesia. Sebagian besar ada di Timur Tengah, seperti Iran, Bahrain, Saudi Arabia, Kuwait, yang memang penghasil minyak.

        Lha Indonesia kok ya gaya-nya mau kayak negara yang kaya minyak saja.
        Jauh lebih baik kita berpikir bahwa sumber daya alam kita tuh sedikit, jadi kita harus kerja keras. Memangnya sumber daya alam itu gratis ??

        Sayang urusan harga BBM ini sudah dipolitisir sekali dan perdebatannya jauh dari substansinya. Urusan harga BBM cuman dipakai segelintir politisi untuk mencari kesempatan menepuk dada sendiri-sendiri.

        Padahal harga BBM Indonesia sudah seharusnya naik karena beberapa alasan :
        (sebentar ya, ambil kantong plastik dulu buat nampung muntah :))

        1. harga yang murah membuat konsumen cenderung boros dan tidak menghargai sumber energi.
        2. harga yang murah membuat industri boros dan tidak kreatif dan tidak kompetitif.
        3. disparitas harga yang terlalu tinggi membuat orang berpikir untuk menyelundupkan bensin ke luar.
        4. harga bensin yang murah menguntungkan industri otomotif. Pertumbuhan mobil dan motor menjadi lebih cepat --> kemacetan terjadi lebih cepat --> pemborosan lebih banyak.

        Yang mengherankan adalah kok beras yang sudah naik dari harga 6500an tahun lalu menjadi 8500an tahun ini, kok ngga pernah diprotes besar-besaran. Rupanya orang sekarang sudah lebih butuh BBM daripada beras ??

        Tapi mungkin juga ya demo kemarin bukan urusan BBM, tapi cuman karena urusan SBY. Kasihan yang memang mau benar-benar protes urusan BBM, karena rupanya ini cuman masalah kekuasaan saja.

        Politik oh politik.

        Prom

        --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@...> wrote:
        >
        jt Jiwa,
        > inilah titik pokok permasalahannya pak lik,makanya saya muak dan pingin muntahin muka pejabat2 dan elit2 kalau mendengar mereka membanding2kan harga BBM di Indonesia dengan harga dinegara-negara lain[harga dunia] tanpa membandingkan penghasilan minimum rakyat dinegara2 tersebut,

        [Non-text portions of this message have been removed]




        [Non-text portions of this message have been removed]
      • krokkop@yahoo.com
        Selamat sore mbah Suta yang Oye punya, baru minum godogan apa mbah kok postingnya manteb teb. Betul mbah e,memang rakyat Indonesia tidak bodoh tapi miskin
        Message 3 of 14 , Apr 1, 2012
        • 0 Attachment
          Selamat sore mbah Suta yang Oye punya, baru minum godogan apa mbah kok postingnya manteb teb.
          Betul mbah e,memang rakyat Indonesia tidak bodoh tapi miskin karena dimiskinkan, tujuannya agar gampang diperlakukan sewenang2 mbah.
          Makanya bandit2 dan koruptor2 bisa meraja rela di Indonesia.

          Nuwun sewu,
          Singo.
          Powered by Telkomsel BlackBerry®

          -----Original Message-----
          From: den suta <sutawiyana@...>
          Sender: tionghoa-net@yahoogroups.com
          Date: Sun, 1 Apr 2012 02:53:56
          To: tionghoa-net@yahoogroups.com<tionghoa-net@yahoogroups.com>
          Reply-To: tionghoa-net@yahoogroups.com
          Subject: Re: Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu

          Dear all,
           
           
          Rakyat jelata yg. merupakan  jumlah terbanyak penduduk di Indonesia,
          bukan orang bodoh, melainkan  orang  miskin  karena hidupnya belum
          sejahtera lahir-batin, sekalipun telah hidup di negara yg. sudah merde-
          ka selama 67 tahun ! Mengapa ?  Karena,  sejak rezim Orba belum pu-
          nya Pemimpin Indonesia, yg. berjiwa & bersemangat negarawan sejati.
           
           
          Indonesia tak hanya butuh pimpinan tertinggi negara yg. punya otak yg.
          hanya cerdas memikirkan partai politik & kantong / keluarganya  sendiri,
          melainkan yg. punya hati nurani, yg. sekaligus  mampu  melayani kebu-
          tuhan rakyatnya, agar bisa punya martabat sebagai manusia,yg. duduk
          sama rendah & berdiri sama tinggi,  dengan  manusia negara & bangsa
          lain di dunia !
           
           
          Indonesia  butuh  pimpinan tertinggi negara yg. mampu merealisasikan
          Pasal 33 UUD 1945,  yg. intinya adalah mewujudkan kesejahteraan so-
          sial. Di mana Ayat (1) : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama
          atas azas kekeluargaan.  Ayat (2) : Cabang-cabang produksi yang pen-
          ting bagi negara  dan  yang menguasai hajat hidup orang banyak dikua-
          sai oleh negara. Dan, Pasal (3) : Bumi dan air dan kekayaan alam yang
          terkandung  didalamnya  dikuasai oleh negera dan dipergunakan untuk
          sebesar-besar kemakmuran rakyat.   Masalahnya,  sudahkah semua isi 
          Pasal dengan ketiga ayat ini terwujud setelah 67 tahun merdeka ?
           
           
          Bukankah  Pasal tsb. mengisyaratkan adanya  demokrasi  ekonomi, bu-
          kan hanya demokrasi politik yg. kebablasan ke "democrazy",yg. menye-
          babkan  rakyat  Indonesia  tetap  miskin di tengah keamburadulan diba-
          nyak aspek kehidupannya, termasuk aspek keuangan negara dlm. ben-
          tuk APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yg. defisit. Lalu,
          apakah defisit APBN ini harus dibebankan  ke pundak rakyat Indonesia
          melaui kenaikan harga BBM ? Bukankah sebagian terbesar rakyat Indo-
          nesia masih miskin alias belum makmur ? Adilkah ??
           
           
          Ya, adilkah ???
           
           
          Karena itu,  DS  sangat sepakat dng. kalimat jawaban kangmas Raden
          Singo Menggolo sing pancen oye alias "Dewa Bumi VHJ", yakni :
           
          "UNTUK   APA  KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR
          MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA ?".
           
           
          Semoga komentar singkat ini cukup jelas untuk disadari & diresapi ada-
          nya oleh para bijaksanawan !
           
           
          Salam pemahaman,
          DS

            

          ________________________________
          From: singo menggolo 
          To: "tionghoa-net@yahoogroups.com" <tionghoa-net@yahoogroups.com>
          Sent: Sunday, April 1, 2012 3:18 PM
          Subject: Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu



           

          Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma tarip BBM saja ,tapi juga UUD negara2 bersangkutan[visi -misi merdeka/bernegara],standard hidup disetiap negara,sejarah harga BBM dan pengaruh harga BBM terhadap harga barang pokok,ingat ya pak lik luas dan penyebaran rakyat Indonesia bukan dalam satu lokasi/radius yang sempit.
           
          Alasan2 pak lik kenapa BBM harus dinaikan ,bukan bikin saya pingin muntah tapi kekelen sampai pingin ngompol pak lik,hati2 jangan deket2 pak lik bisa saya kencingi ntar!.
          Sebenarnya jawabannya cukup satu kalimat saja pak lik: UNTUK APA KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA?.
          Emang ada rakyat/pengusaha yang seneng mandi BBM atau mabuk2an minum BBM pak Lik?,padahal untuk membangun pabrik,jenis izinnya saja puluhan macem,jangan2 darah pak lik Prom sekarang sudah biru kekuning2an ya?.
          Hanya pemerintah yang GUOBLOK yang  tidak bisa ngatur jumlah mobil/motor yang boleh beroperasi di Indonesia,kalau semua bebas semau2anya ngapain ada pemerintah.
          Hanya Pemerintah yang primitip yang tidak mampu memberantas penyelundupan, kenapa kok kagak pak lik usulkan semua pantai harus dipagari dan dipasang CCTV sekalian??,kok malah milih menaikan harganya BBM saja?. 
          Lalu ngapain bayarin polisi air,angkatan laut dan bea cukai kalau gitu pak lik?.
           
          Semua argumentasi pak lik diatas membuktikan bahwa pemerintah yang berkuasa saat ini (yang warna darahnya sama dengan pak lik)bukan pemimpin negara tetapi penguasa yang medek2no[mau enak sendiri],persis Petruk munggah bale kan pak lik!!.
          Mau menang sendiri saja,karena nggak becus menghadapi persoalan,rakyat yang diblesekno!!.
          Demo kemarin bukan khusus karena rencana kenaikan harga BBM pak lik,tetapi akumulasi harga[biaya hidup],kenaikan harga BBM hanya pemicunya saja.
          Mekanisme kenaikan harga beras bukan karena keinginan pemerintah tetapi kemauan pasar,disamping itu rakyat juga maklum alasan harga beras naik,yaitu gagal panen dampak anomali iklim kan pak lik!.
           
          *masalah sebenarnya kan sederhana saja pak lik,pemerintah merumuskan bahwa batas garis kemiskinan adalah berpenghasilan Rp 7.000,-/hr,coba hitung yang benar,cukup nggak?,kalau nggak cukup lalu apa upaya pemerintah agar rakyat tetap bisa hidup?, lalu hitung lagi dampak kenaikan BBM,upayakan lagi agar tetap bisa hidup,sebelum pemerintah mampu mengatasi hal tersebut jangan salahkan kalau rakyat ngamuk!!*
           
          nuwun sewu,
           
          singo.


          ________________________________
          Dari: Prometheus
          Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
          Dikirim: Minggu, 1 April 2012 0:09
          Judul: Re: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu


           

          Wah saya mesti siap-siap kantong muntah nih kalau mau ngomong bbm sama Opa Singo :)

          Setuju nih Opa, harusnya harga BBM di Indonesia itu mbok ya dibandingkan yang negara yang penghasilannya mirip sama Indonesia (pendapatan per capita USD 3500). Misalnya seperti negara berikut :

          Vietnam (pendapatan per capita USD 1300), harga bensinnya (RON 92)22,900 VND/L, atau artinya sekitar USD 1.09/L. Harganya ternyata dua kali lipat dari harga bensin di Indonesia yang cuman USD 0.5/L ! Padahal pendapatan per capita nya cuman 1/3 Indonesia.

          Di Philipine, harganya USD 1.32/L, sementara pendapatannya USD 2200 per capita

          Di India lebih hebat lagi. Harga bensinnya sampai USD 1.43/L, sementara pendapatannya cuman USD 1500.

          Dan yang lebih menarik lagi, konon cuman ada 18 negara di dunia yang harga bensinnya lebih murah dari Indonesia. Sebagian besar ada di Timur Tengah, seperti Iran, Bahrain, Saudi Arabia, Kuwait, yang memang penghasil minyak.

          Lha Indonesia kok ya gaya-nya mau kayak negara yang kaya minyak saja.
          Jauh lebih baik kita berpikir bahwa sumber daya alam kita tuh sedikit, jadi kita harus kerja keras. Memangnya sumber daya alam itu gratis ??

          Sayang urusan harga BBM ini sudah dipolitisir sekali dan perdebatannya jauh dari substansinya. Urusan harga BBM cuman dipakai segelintir politisi untuk mencari kesempatan menepuk dada sendiri-sendiri.

          Padahal harga BBM Indonesia sudah seharusnya naik karena beberapa alasan :
          (sebentar ya, ambil kantong plastik dulu buat nampung muntah :))

          1. harga yang murah membuat konsumen cenderung boros dan tidak menghargai sumber energi.
          2. harga yang murah membuat industri boros dan tidak kreatif dan tidak kompetitif.
          3. disparitas harga yang terlalu tinggi membuat orang berpikir untuk menyelundupkan bensin ke luar.
          4. harga bensin yang murah menguntungkan industri otomotif. Pertumbuhan mobil dan motor menjadi lebih cepat --> kemacetan terjadi lebih cepat --> pemborosan lebih banyak.

          Yang mengherankan adalah kok beras yang sudah naik dari harga 6500an tahun lalu menjadi 8500an tahun ini, kok ngga pernah diprotes besar-besaran. Rupanya orang sekarang sudah lebih butuh BBM daripada beras ??

          Tapi mungkin juga ya demo kemarin bukan urusan BBM, tapi cuman karena urusan SBY. Kasihan yang memang mau benar-benar protes urusan BBM, karena rupanya ini cuman masalah kekuasaan saja.

          Politik oh politik.

          Prom

          --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@...> wrote:
          >
          jt Jiwa,
          > inilah titik pokok permasalahannya pak lik,makanya saya muak dan pingin muntahin muka pejabat2 dan elit2 kalau mendengar mereka membanding2kan harga BBM di Indonesia dengan harga dinegara-negara lain[harga dunia] tanpa membandingkan penghasilan minimum rakyat dinegara2 tersebut,

          [Non-text portions of this message have been removed]




          [Non-text portions of this message have been removed]




          [Non-text portions of this message have been removed]
        • Aris Ananta
          Teman teman, Banyak sekali masalah yang kita semua, bukan hanya pemerintah, hadapi. Di samping berbagai keberhasilan, pemerintah juga banyak mengalami
          Message 4 of 14 , Apr 1, 2012
          • 0 Attachment
            Teman teman,

            Banyak sekali masalah yang kita semua, bukan hanya pemerintah, hadapi. Di
            samping berbagai keberhasilan, pemerintah juga banyak mengalami kegagalan.
            Merealisasi yang diharapkan oleh UUD 45 memang tidak mudah, dan pemerintah,
            bersama kita semua, memang belum berhasil merealisasi apa yang diinginkan
            di UUD 45.

            Salah satu kegagalan pemerintah adalah dalam perencanaan sumber daya alam,
            termasuk BBM. Penggunaan BBM kita amat boros. Ketiadaan transportasi umum
            yang aman dan murah menjadi salah satu sebab keborosan penggunaan BBM.
            Ketidak efisien masyarakat Indonesia dalam menggunakan BBM (seperti
            penggunaan listrik, AC, yang berlebihan) juga menjadi salah satu sebab
            keborosan.

            Akibatnya, kita sekarang harus mengimpor minyak. Minyak akan segera habis.
            Sebentar lagi batubara juga habis. Ini kegagalan pemerintah, dan
            masyarakat, dalam membuat perencanaan sumber daya alam.

            Kita memang dalam keadaan parah. Salah satu cara mengatatasi keborosan ini
            adalah menaikkan harga. Memang, bukan keputusan yang populer. Namun,
            pemimpin, bukan hanya presiden, memang harus berani tidak populer.

            Para politisi berhasil menyulut kemarahan rakyat dengan rencana naiknya
            harga BBM. Hal ini disebabkan rakyat telah amat kecewa dalam banyak hal
            dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah.

            Menaikkan harga BBM memang menyakitkan. Tetapi, apa boleh buat, kita dalam
            keadaan yang kritis. Penundaan menaikkan harga minyak membuat kita semua
            tambah sakit.

            Mari kita mulai dengan diri kita masing masing. Memadamkan lampu bila tidak
            diperlukan. Mengurangi penggunaan AC. Kalau bisa jalan kaki atau naik
            sepeda, jangan naik mobil. Hal hal kecil semacam ini mungkin dapat
            membantu kita semua untuk mengatasi masalah kelangkaan BBM.

            Salam,

            Aris

            On Sun, Apr 1, 2012 at 6:07 PM, <krokkop@...> wrote:

            > **
            >
            >
            > Selamat sore mbah Suta yang Oye punya, baru minum godogan apa mbah kok
            > postingnya manteb teb.
            > Betul mbah e,memang rakyat Indonesia tidak bodoh tapi miskin karena
            > dimiskinkan, tujuannya agar gampang diperlakukan sewenang2 mbah.
            > Makanya bandit2 dan koruptor2 bisa meraja rela di Indonesia.
            >
            > Nuwun sewu,
            > Singo.
            > Powered by Telkomsel BlackBerry�
            >
            > -----Original Message-----
            > From: den suta <sutawiyana@...>
            > Sender: tionghoa-net@yahoogroups.com
            > Date: Sun, 1 Apr 2012 02:53:56
            > To: tionghoa-net@yahoogroups.com<tionghoa-net@yahoogroups.com>
            > Reply-To: tionghoa-net@yahoogroups.com
            > Subject: Re: Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu
            >
            > Dear all,
            >
            >
            > Rakyat jelata yg. merupakan jumlah terbanyak penduduk di Indonesia,
            > bukan orang bodoh, melainkan orang miskin karena hidupnya belum
            > sejahtera lahir-batin, sekalipun telah hidup di negara yg. sudah merde-
            > ka selama 67 tahun ! Mengapa ? Karena, sejak rezim Orba belum pu-
            > nya Pemimpin Indonesia, yg. berjiwa & bersemangat negarawan sejati.
            >
            >
            > Indonesia tak hanya butuh pimpinan tertinggi negara yg. punya otak yg.
            > hanya cerdas memikirkan partai politik & kantong / keluarganya sendiri,
            > melainkan yg. punya hati nurani, yg. sekaligus mampu melayani kebu-
            > tuhan rakyatnya, agar bisa punya martabat sebagai manusia,yg. duduk
            > sama rendah & berdiri sama tinggi, dengan manusia negara & bangsa
            > lain di dunia !
            >
            >
            > Indonesia butuh pimpinan tertinggi negara yg. mampu merealisasikan
            > Pasal 33 UUD 1945, yg. intinya adalah mewujudkan kesejahteraan so-
            > sial. Di mana Ayat (1) : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama
            > atas azas kekeluargaan. Ayat (2) : Cabang-cabang produksi yang pen-
            > ting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikua-
            > sai oleh negara. Dan, Pasal (3) : Bumi dan air dan kekayaan alam yang
            > terkandung didalamnya dikuasai oleh negera dan dipergunakan untuk
            > sebesar-besar kemakmuran rakyat. Masalahnya, sudahkah semua isi
            > Pasal dengan ketiga ayat ini terwujud setelah 67 tahun merdeka ?
            >
            >
            > Bukankah Pasal tsb. mengisyaratkan adanya demokrasi ekonomi, bu-
            > kan hanya demokrasi politik yg. kebablasan ke "democrazy",yg. menye-
            > babkan rakyat Indonesia tetap miskin di tengah keamburadulan diba-
            > nyak aspek kehidupannya, termasuk aspek keuangan negara dlm. ben-
            > tuk APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yg. defisit. Lalu,
            > apakah defisit APBN ini harus dibebankan ke pundak rakyat Indonesia
            > melaui kenaikan harga BBM ? Bukankah sebagian terbesar rakyat Indo-
            > nesia masih miskin alias belum makmur ? Adilkah ??
            >
            >
            > Ya, adilkah ???
            >
            >
            > Karena itu, DS sangat sepakat dng. kalimat jawaban kangmas Raden
            > Singo Menggolo sing pancen oye alias "Dewa Bumi VHJ", yakni :
            >
            > "UNTUK APA KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR
            > MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA ?".
            >
            >
            > Semoga komentar singkat ini cukup jelas untuk disadari & diresapi ada-
            > nya oleh para bijaksanawan !
            >
            >
            > Salam pemahaman,
            > DS
            >
            >
            >
            > ________________________________
            > From: singo menggolo
            > To: "tionghoa-net@yahoogroups.com" <tionghoa-net@yahoogroups.com>
            > Sent: Sunday, April 1, 2012 3:18 PM
            > Subject: Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu
            >
            >
            >
            >
            >
            > Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau
            > bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma
            > tarip BBM saja ,tapi juga UUD negara2 bersangkutan[visi -misi
            > merdeka/bernegara],standard hidup disetiap negara,sejarah harga BBM dan
            > pengaruh harga BBM terhadap harga barang pokok,ingat ya pak lik luas dan
            > penyebaran rakyat Indonesia bukan dalam satu lokasi/radius yang sempit.
            >
            > Alasan2 pak lik kenapa BBM harus dinaikan ,bukan bikin saya pingin muntah
            > tapi kekelen sampai pingin ngompol pak lik,hati2 jangan deket2 pak lik bisa
            > saya kencingi ntar!.
            > Sebenarnya jawabannya cukup satu kalimat saja pak lik: UNTUK APA KITA
            > PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA?.
            > Emang ada rakyat/pengusaha yang seneng mandi BBM atau mabuk2an minum BBM
            > pak Lik?,padahal untuk membangun pabrik,jenis izinnya saja puluhan
            > macem,jangan2 darah pak lik Prom sekarang sudah biru kekuning2an ya?.
            > Hanya pemerintah yang GUOBLOK yang tidak bisa ngatur jumlah mobil/motor
            > yang boleh beroperasi di Indonesia,kalau semua bebas semau2anya ngapain ada
            > pemerintah.
            > Hanya Pemerintah yang primitip yang tidak mampu memberantas penyelundupan,
            > kenapa kok kagak pak lik usulkan semua pantai harus dipagari dan dipasang
            > CCTV sekalian??,kok malah milih menaikan harganya BBM saja?.
            > Lalu ngapain bayarin polisi air,angkatan laut dan bea cukai kalau gitu pak
            > lik?.
            >
            > Semua argumentasi pak lik diatas membuktikan bahwa pemerintah yang
            > berkuasa saat ini (yang warna darahnya sama dengan pak lik)bukan pemimpin
            > negara tetapi penguasa yang medek2no[mau enak sendiri],persis Petruk
            > munggah bale kan pak lik!!.
            > Mau menang sendiri saja,karena nggak becus menghadapi persoalan,rakyat
            > yang diblesekno!!.
            > Demo kemarin bukan khusus karena rencana kenaikan harga BBM pak lik,tetapi
            > akumulasi harga[biaya hidup],kenaikan harga BBM hanya pemicunya saja.
            > Mekanisme kenaikan harga beras bukan karena keinginan pemerintah tetapi
            > kemauan pasar,disamping itu rakyat juga maklum alasan harga beras
            > naik,yaitu gagal panen dampak anomali iklim kan pak lik!.
            >
            > *masalah sebenarnya kan sederhana saja pak lik,pemerintah merumuskan bahwa
            > batas garis kemiskinan adalah berpenghasilan Rp 7.000,-/hr,coba hitung yang
            > benar,cukup nggak?,kalau nggak cukup lalu apa upaya pemerintah agar rakyat
            > tetap bisa hidup?, lalu hitung lagi dampak kenaikan BBM,upayakan lagi agar
            > tetap bisa hidup,sebelum pemerintah mampu mengatasi hal tersebut jangan
            > salahkan kalau rakyat ngamuk!!*
            >
            > nuwun sewu,
            >
            > singo.
            >
            >
            > ________________________________
            > Dari: Prometheus
            > Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
            > Dikirim: Minggu, 1 April 2012 0:09
            > Judul: Re: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu
            >
            >
            >
            >
            > Wah saya mesti siap-siap kantong muntah nih kalau mau ngomong bbm sama Opa
            > Singo :)
            >
            > Setuju nih Opa, harusnya harga BBM di Indonesia itu mbok ya dibandingkan
            > yang negara yang penghasilannya mirip sama Indonesia (pendapatan per capita
            > USD 3500). Misalnya seperti negara berikut :
            >
            > Vietnam (pendapatan per capita USD 1300), harga bensinnya (RON 92)22,900
            > VND/L, atau artinya sekitar USD 1.09/L. Harganya ternyata dua kali lipat
            > dari harga bensin di Indonesia yang cuman USD 0.5/L ! Padahal pendapatan
            > per capita nya cuman 1/3 Indonesia.
            >
            > Di Philipine, harganya USD 1.32/L, sementara pendapatannya USD 2200 per
            > capita
            >
            > Di India lebih hebat lagi. Harga bensinnya sampai USD 1.43/L, sementara
            > pendapatannya cuman USD 1500.
            >
            > Dan yang lebih menarik lagi, konon cuman ada 18 negara di dunia yang harga
            > bensinnya lebih murah dari Indonesia. Sebagian besar ada di Timur Tengah,
            > seperti Iran, Bahrain, Saudi Arabia, Kuwait, yang memang penghasil minyak.
            >
            > Lha Indonesia kok ya gaya-nya mau kayak negara yang kaya minyak saja.
            > Jauh lebih baik kita berpikir bahwa sumber daya alam kita tuh sedikit,
            > jadi kita harus kerja keras. Memangnya sumber daya alam itu gratis ??
            >
            > Sayang urusan harga BBM ini sudah dipolitisir sekali dan perdebatannya
            > jauh dari substansinya. Urusan harga BBM cuman dipakai segelintir politisi
            > untuk mencari kesempatan menepuk dada sendiri-sendiri.
            >
            > Padahal harga BBM Indonesia sudah seharusnya naik karena beberapa alasan :
            > (sebentar ya, ambil kantong plastik dulu buat nampung muntah :))
            >
            > 1. harga yang murah membuat konsumen cenderung boros dan tidak menghargai
            > sumber energi.
            > 2. harga yang murah membuat industri boros dan tidak kreatif dan tidak
            > kompetitif.
            > 3. disparitas harga yang terlalu tinggi membuat orang berpikir untuk
            > menyelundupkan bensin ke luar.
            > 4. harga bensin yang murah menguntungkan industri otomotif. Pertumbuhan
            > mobil dan motor menjadi lebih cepat --> kemacetan terjadi lebih cepat -->
            > pemborosan lebih banyak.
            >
            > Yang mengherankan adalah kok beras yang sudah naik dari harga 6500an tahun
            > lalu menjadi 8500an tahun ini, kok ngga pernah diprotes besar-besaran.
            > Rupanya orang sekarang sudah lebih butuh BBM daripada beras ??
            >
            > Tapi mungkin juga ya demo kemarin bukan urusan BBM, tapi cuman karena
            > urusan SBY. Kasihan yang memang mau benar-benar protes urusan BBM, karena
            > rupanya ini cuman masalah kekuasaan saja.
            >
            > Politik oh politik.
            >
            > Prom
            >
            > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@...> wrote:
            > >
            > jt Jiwa,
            > > inilah titik pokok permasalahannya pak lik,makanya saya muak dan pingin
            > muntahin muka� pejabat2 dan elit2� kalau mendengar mereka membanding2kan
            > harga BBM di Indonesia dengan harga dinegara-negara lain[harga
            > dunia]� tanpa membandingkan penghasilan minimum rakyat dinegara2 tersebut,
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            >
            >
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            >
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            >
            >


            [Non-text portions of this message have been removed]
          • Prometheus
            Selamat sore Opa. Tadi siang kebetulan baru tes darah, syukurlah warnanya masih merah tua. Ngomong-ngomong soal warna, semua warna parpol mau kuning, biru,
            Message 5 of 14 , Apr 1, 2012
            • 0 Attachment
              Selamat sore Opa.

              Tadi siang kebetulan baru tes darah, syukurlah warnanya masih merah tua.

              Ngomong-ngomong soal warna, semua warna parpol mau kuning, biru, merah, hijau, semuanya sudah pernah nyicip berkuasa. Dan semuanya sudah pernah menaikkan harga BBM. Dan SEMUANYA menggunakan argumen yang mirip satu sama lain, yang intinya subsidi BBM itu ibarat candu, subsidi salah sasaran, anggaran yang defisit, harga minyak dunia yang berubah, dll. Lha, yang bener-bener njengkelin, kalau pas di luar kekuasaan, argumentasi nya kok lain lagi. Politik !


              Kalau bahas kegoblokan Pemerintah, ya ngga akan habis. Karena memang betul, kalau kita lihat yang bekerja di Pemerintahan, selalu ada saja yang bikin gregetan. Tapi, kalau bicara Harga BBM, saya setuju harga BBM harus dinaikkan, terlepas becus atau tidak becus, terlepas apa warna pemerintahannya.


              Nah, kalau cerita negara tetangga, mari kita cerita tentang Vietnam.

              Vietnam termasuk negara yang punya sumber energi besar, seperti minyak bumi, batubara dan gas. Sebagai penghasil minyak bumi terbesar ketiga di Asia Tenggara (setelah Indonesia dan Malaysia) Vietnam mengekspor seluruh hasil minyak bumi-nya, karena tidak ada kilang yang memadai di dalam negeri.

              Vietnam baru berencana membuat refinery sendiri di Dung Quat tahun 2009 (rasanya sekarang belum fully operated). Oleh karena itu, untuk keperluan domestiknya, Vietnam mengimpor BBM dari luar, yang sebagian besar diperoleh dari Singapore.

              Hasil penjualan minyak bumi Vietnam mencapai sekitar 20an% dari total export negara tersebut.

              Untuk keperluan energi di dalam negeri (industri dan pembangkit listrik), Vietnam banyak menggunakan batubara, hydropower, dan gas.

              Harga batubara di dalam negeri di Vietnam disubsidi oleh Pemerintah. Sampai kemudian, di tahun 2007, subsidi batubara mulai dikurangi. Pada tahun yang sama, kalau tidak salah, subsidi terhadap BBM yang sebelunya diberikan juga dicabut.

              Jadi, tampaknya Vietnam menempuh strategi mengekspor komoditas energi yang mahal (minyak bumi), dan menggunakan bahan baku energi yang relatif lebih murah.

              Kondisi ini berbeda dengan Indonesia, dimana banyak industri dan pembangkit listrik yang mengandalkan minyak bumi. Mungkin ini sudah kesalahan desain sejak awal, ketika Indonesia terlena dan menikmati kejayaan ketika produksi minyak meningkat di tahun 1970an. Kalau mau sebut SALAH URUS, mungkin sudah sejak masa tersebut lah Indonesia mengambil jalur yang keliru. Apalagi BBM digunakan sebagai alat untuk meninabobokan dan membodohi rakyat.

              Baru belakangan saja, Indonesia mengubah strategi pemanfaatan energi nya. Batubara mulai banyak digunakan di industri dan juga di pembangkit-pembangkit listrik. Itu pun lantaran harga BBM dinaikkan 100% ketika tahun 2005. Selama tidak pernah dinaikkan, kita ibarat orang, maaf, goblok, yang menganggap sumber energi hanyalah minyak bumi. Gas alam kita yang berlimpah sekarang juga sudah mulai dilirik untuk digunakan di pembangkit listrik dan transportasi menggantikan bahan bakar minyak.

              Ketergantungan Indonesia pada minyak bumi sebagai sumber energi utama telah mengunci segala opsi-opsi yang sebenarnya bisa di-explore, dan membuat ritual jeritan yang tidak perlu ketika membicarakan harga BBM.

              Prom




              --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@...> wrote:
              >
              > Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma tarip BBM saja ,tapi juga UUD negara2 bersangkutan[visi -misi merdeka/bernegara],standard hidup disetiap negara,sejarah harga BBM dan pengaruh harga BBM terhadap harga barang pokok,ingat ya pak lik luas dan penyebaran rakyat Indonesia bukan dalam satu lokasi/radius yang sempit.
              >  
              > Alasan2 pak lik kenapa BBM harus dinaikan ,bukan bikin saya pingin muntah tapi kekelen sampai pingin ngompol pak lik,hati2 jangan deket2 pak lik bisa saya kencingi ntar!.
              > Sebenarnya jawabannya cukup satu kalimat saja pak lik: UNTUK APA KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA?.
              > Emang ada rakyat/pengusaha yang seneng mandi BBM atau mabuk2an minum BBM pak Lik?,padahal untuk membangun pabrik,jenis izinnya saja puluhan macem,jangan2 darah pak lik Prom sekarang sudah biru kekuning2an ya?.
              > Hanya pemerintah yang GUOBLOK yang  tidak bisa ngatur jumlah mobil/motor yang boleh beroperasi di Indonesia,kalau semua bebas semau2anya ngapain ada pemerintah.
              > Hanya Pemerintah yang primitip yang tidak mampu memberantas penyelundupan, kenapa kok kagak pak lik usulkan semua pantai harus dipagari dan dipasang CCTV sekalian??,kok malah milih menaikan harganya BBM saja?. 
              > Lalu ngapain bayarin polisi air,angkatan laut dan bea cukai kalau gitu pak lik?.
              >  
              > Semua argumentasi pak lik diatas membuktikan bahwa pemerintah yang berkuasa saat ini (yang warna darahnya sama dengan pak lik)bukan pemimpin negara tetapi penguasa yang medek2no[mau enak sendiri],persis Petruk munggah bale kan pak lik!!.
              > Mau menang sendiri saja,karena nggak becus menghadapi persoalan,rakyat yang diblesekno!!.
              > Demo kemarin bukan khusus karena rencana kenaikan harga BBM pak lik,tetapi akumulasi harga[biaya hidup],kenaikan harga BBM hanya pemicunya saja.
              > Mekanisme kenaikan harga beras bukan karena keinginan pemerintah tetapi kemauan pasar,disamping itu rakyat juga maklum alasan harga beras naik,yaitu gagal panen dampak anomali iklim kan pak lik!.
              >  
              > *masalah sebenarnya kan sederhana saja pak lik,pemerintah merumuskan bahwa batas garis kemiskinan adalah berpenghasilan Rp 7.000,-/hr,coba hitung yang benar,cukup nggak?,kalau nggak cukup lalu apa upaya pemerintah agar rakyat tetap bisa hidup?, lalu hitung lagi dampak kenaikan BBM,upayakan lagi agar tetap bisa hidup,sebelum pemerintah mampu mengatasi hal tersebut jangan salahkan kalau rakyat ngamuk!!*
              >  
              > nuwun sewu,
              >  
              > singo.
              >
              >
              > ________________________________
              > Dari: Prometheus <prometheus_promise@...>
              > Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
              > Dikirim: Minggu, 1 April 2012 0:09
              > Judul: Re: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu
              >
              >
              >
              >  
              >
              > Wah saya mesti siap-siap kantong muntah nih kalau mau ngomong bbm sama Opa Singo :)
              >
              > Setuju nih Opa, harusnya harga BBM di Indonesia itu mbok ya dibandingkan yang negara yang penghasilannya mirip sama Indonesia (pendapatan per capita USD 3500). Misalnya seperti negara berikut :
              >
              > Vietnam (pendapatan per capita USD 1300), harga bensinnya (RON 92)22,900 VND/L, atau artinya sekitar USD 1.09/L. Harganya ternyata dua kali lipat dari harga bensin di Indonesia yang cuman USD 0.5/L ! Padahal pendapatan per capita nya cuman 1/3 Indonesia.
              >
              > Di Philipine, harganya USD 1.32/L, sementara pendapatannya USD 2200 per capita
              >
              > Di India lebih hebat lagi. Harga bensinnya sampai USD 1.43/L, sementara pendapatannya cuman USD 1500.
              >
              > Dan yang lebih menarik lagi, konon cuman ada 18 negara di dunia yang harga bensinnya lebih murah dari Indonesia. Sebagian besar ada di Timur Tengah, seperti Iran, Bahrain, Saudi Arabia, Kuwait, yang memang penghasil minyak.
              >
              > Lha Indonesia kok ya gaya-nya mau kayak negara yang kaya minyak saja.
              > Jauh lebih baik kita berpikir bahwa sumber daya alam kita tuh sedikit, jadi kita harus kerja keras. Memangnya sumber daya alam itu gratis ??
              >
              > Sayang urusan harga BBM ini sudah dipolitisir sekali dan perdebatannya jauh dari substansinya. Urusan harga BBM cuman dipakai segelintir politisi untuk mencari kesempatan menepuk dada sendiri-sendiri.
              >
              > Padahal harga BBM Indonesia sudah seharusnya naik karena beberapa alasan :
              > (sebentar ya, ambil kantong plastik dulu buat nampung muntah :))
              >
              > 1. harga yang murah membuat konsumen cenderung boros dan tidak menghargai sumber energi.
              > 2. harga yang murah membuat industri boros dan tidak kreatif dan tidak kompetitif.
              > 3. disparitas harga yang terlalu tinggi membuat orang berpikir untuk menyelundupkan bensin ke luar.
              > 4. harga bensin yang murah menguntungkan industri otomotif. Pertumbuhan mobil dan motor menjadi lebih cepat --> kemacetan terjadi lebih cepat --> pemborosan lebih banyak.
              >
              > Yang mengherankan adalah kok beras yang sudah naik dari harga 6500an tahun lalu menjadi 8500an tahun ini, kok ngga pernah diprotes besar-besaran. Rupanya orang sekarang sudah lebih butuh BBM daripada beras ??
              >
              > Tapi mungkin juga ya demo kemarin bukan urusan BBM, tapi cuman karena urusan SBY. Kasihan yang memang mau benar-benar protes urusan BBM, karena rupanya ini cuman masalah kekuasaan saja.
              >
              > Politik oh politik.
              >
              > Prom
              >
              > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@> wrote:
              > >
              > jt Jiwa,
              > > inilah titik pokok permasalahannya pak lik,makanya saya muak dan pingin muntahin muka pejabat2 dan elit2 kalau mendengar mereka membanding2kan harga BBM di Indonesia dengan harga dinegara-negara lain[harga dunia] tanpa membandingkan penghasilan minimum rakyat dinegara2 tersebut,
              >
              >
              >
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
            • den suta
              Dear all,     Persoalannya, pada hakikat / sesungguhnya bukan naik / turunnya harga BBM. Melainkan karena, sejak Orba tahun1965an,Indonesia sudah salah
              Message 6 of 14 , Apr 1, 2012
              • 0 Attachment
                Dear all,
                 
                 
                Persoalannya, pada hakikat / sesungguhnya bukan naik / turunnya
                harga BBM. Melainkan karena, sejak Orba tahun1965an,Indonesia
                sudah salah kaprah.  Sehingga,  seakan terpaksa, mau terus diom-
                bang-ambingkan harga BBM. Jadi, fokus pembicaraan seyogianya
                tak  hanya  dibawa  ke  harga  BBM, dng. membandingkannya dng.
                harga BBM di luar negeri, ic. Vietnam.
                 
                 
                Fokusnya,  seharusnya  pada  salah  urusnya  (missmanagement), 
                dan pada grand design-nya yg. salah, yg. mengkibatkan Indonesia
                seakan terikat pd.kesalahannya sendiri alias salah urusnya sendiri.
                Dan, ditambah lagi, seakan tanpa mau berpikir cerdas lagi utk. me-
                milih alternatif, yg. masih memungkinkan dan lebih bijak, misalnya,
                dng. menegakkan hukum secara tegas & menghukum para penye-
                lundup BBM & para koruptornya.  Masak dng. gampangnya hanya
                memilh mempermainkan harga BBM semata, dalam rangka menu-
                tup kebocoran atau defisit APBN.
                 
                 
                Ya,  pemerintahan Orba,  seakan  salah pilih sistem ekonomi neo-
                lib, dan mengabaikan Pasal 33 ayat (1), (2), & (3) UUD 1945.  Se-
                hingga, sejak saat itu, pemerintah seakan terpaksa,apabila APBN-
                nya defisit,  hanya  fokus ke menaikkan / menurunkan harga BBM
                saja !
                 
                 
                Padahal, secara garis besarnya, tanpa data & fakta berupa angka-
                angka yg. valid (sebagaimana hampir selalu diminta pd. setiap dis-
                kusi yg. membahas tentang suatu argumentasi);  jadi  disini hanya
                berdasarkan logika atau akal sehat,  patut dipertanyakan : menga-
                pa, mengapa,  dan  mengapa  kok pengurusan SDA (sumber daya
                alam)  termasuk salah satunya berupa BBM,  kok  pengurusannya
                diserahkan ke para kapitalis asing, yg. jelas menganut faham neo-
                libralisme ?! Ini hanya salah satu aspek pengurusan / pengelolaan
                / management saja, karena masih banyak aspek alternatifnya !
                 
                 
                Bukankah, kalau sudah tahu salah, sehingga terikat pd. masa kon-
                trak dengan perusahaan asing pengelola BBM, misalnya,kok terus
                saja yg. dipermainkan  hanya / melulu  harga  BBM,  yg. akibatnya  
                pasti  akan membebani tingkat hidup rakyat banyak yg. masih mis-
                kin ?  Bukankah dlm. hal ini seakan pemerintah / para politikus  pe-
                merintah  sebagai penguasai publik di NKRI  hanya  cari gampang-
                nya saja, dng.seakan hanya memakai kacamata kuda ? Bukankah
                masih ada alternatif lainnya ??  Tak mungkinkah,  sebagai negara 
                merdeka dan berdaulat meninjau kembali isi perjanjian yg. telah di-
                buat ??  Bukankah,  apabila punya kemauan dan keberanian serta
                komitmen yg. sungguh-sungguh,  segala  sesuatu  bisa dicapai ?? 
                 
                 
                 
                Dan, akhirnya,seyogianya pemerintah juga sadar sesadarnya akan
                adanya  peribahasa,  bahwa  "where there is a will, there is a way", 
                apalagi secara psikologis pun diajarkan akan adanya "law of attrac-
                tion",  dimana  dikatakan bahwa apabila sesuatu dilaksanakan dng.
                sepenuh perhatian maka akan menjadi suatu kenyataan !!
                 
                 
                Itulah logika dasar rakyat saat ini,  yg. walaupun masih miskin, tapi
                sudah tak segoblok anggapan pemerintah atau antek-anteknya.
                 
                 
                Yah, rakyat memang tak bodoh lagi !! Lalu, siapa yg. bodoh ?? 
                 
                 
                Jadi,  tak  perlulah  dicari  macam-macam alasan sebagai dalih yg.
                membodohi dirinya sendiri !! 
                 
                 
                Defisit APBN itu seharusnya di lihat dari banyak segi, bukan hanya
                segi / aspek  kebocoran BBM atau subsidi BBM saja.  Disini  paling
                tidak  ada tiga masalah pokok yg. harus difahami.  Pertama,  harus
                diketahui apa hakikat / penyebab  atau  causa prima kebocoran ter-
                sebut;  kedua,  mengapa kok sampai terjadi kebocoran tersebut;  &
                ketiga,  bagaimana  cara  yg.  paling bijak yg. akan diambil sebagai
                kebijakan  anggaran pemerintah,  tanpa  membebani  rakyatnya yg.
                mayoritas masih dalam kondisi belum sejahtera alias masih miskin.
                 
                 
                Soal alternatif pilihan atau caranya, sepintas telah DS singgung da-
                lam tulisan DS sebelum ini. DS memang biasa tak pernah menyim-
                pan semua apa yg. pernah diomongkannya,lagian DS sudah mulai
                pikun,  terutama setelah memasuki golongan "lanjut usia tua" (old),
                versi WHO, yakni diantara 75-90 tahun.
                 
                 
                Hanya perlu ditegaskan, bahwa dng. omongan itu, DS bukan mem-
                bela secara membabi-buta  kangmas Raden Singo Menggola alias
                Dewa Bumi VHJ, lho ! Hanya ingin mendudukkan persoalannya se-
                cara lebih cerdas dan proposional. Itu saja !!
                 
                 
                Silakan dilanjut...
                 
                 
                Salam opini,
                DS


                ________________________________
                From: Prometheus <prometheus_promise@...>
                To: tionghoa-net@yahoogroups.com
                Sent: Sunday, April 1, 2012 6:39 PM
                Subject: Re: Bls: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu



                 

                Selamat sore Opa.

                Tadi siang kebetulan baru tes darah, syukurlah warnanya masih merah tua.

                Ngomong-ngomong soal warna, semua warna parpol mau kuning, biru, merah, hijau, semuanya sudah pernah nyicip berkuasa. Dan semuanya sudah pernah menaikkan harga BBM. Dan SEMUANYA menggunakan argumen yang mirip satu sama lain, yang intinya subsidi BBM itu ibarat candu, subsidi salah sasaran, anggaran yang defisit, harga minyak dunia yang berubah, dll. Lha, yang bener-bener njengkelin, kalau pas di luar kekuasaan, argumentasi nya kok lain lagi. Politik !

                Kalau bahas kegoblokan Pemerintah, ya ngga akan habis. Karena memang betul, kalau kita lihat yang bekerja di Pemerintahan, selalu ada saja yang bikin gregetan. Tapi, kalau bicara Harga BBM, saya setuju harga BBM harus dinaikkan, terlepas becus atau tidak becus, terlepas apa warna pemerintahannya.

                Nah, kalau cerita negara tetangga, mari kita cerita tentang Vietnam.

                Vietnam termasuk negara yang punya sumber energi besar, seperti minyak bumi, batubara dan gas. Sebagai penghasil minyak bumi terbesar ketiga di Asia Tenggara (setelah Indonesia dan Malaysia) Vietnam mengekspor seluruh hasil minyak bumi-nya, karena tidak ada kilang yang memadai di dalam negeri.

                Vietnam baru berencana membuat refinery sendiri di Dung Quat tahun 2009 (rasanya sekarang belum fully operated). Oleh karena itu, untuk keperluan domestiknya, Vietnam mengimpor BBM dari luar, yang sebagian besar diperoleh dari Singapore.

                Hasil penjualan minyak bumi Vietnam mencapai sekitar 20an% dari total export negara tersebut.

                Untuk keperluan energi di dalam negeri (industri dan pembangkit listrik), Vietnam banyak menggunakan batubara, hydropower, dan gas.

                Harga batubara di dalam negeri di Vietnam disubsidi oleh Pemerintah. Sampai kemudian, di tahun 2007, subsidi batubara mulai dikurangi. Pada tahun yang sama, kalau tidak salah, subsidi terhadap BBM yang sebelunya diberikan juga dicabut.

                Jadi, tampaknya Vietnam menempuh strategi mengekspor komoditas energi yang mahal (minyak bumi), dan menggunakan bahan baku energi yang relatif lebih murah.

                Kondisi ini berbeda dengan Indonesia, dimana banyak industri dan pembangkit listrik yang mengandalkan minyak bumi. Mungkin ini sudah kesalahan desain sejak awal, ketika Indonesia terlena dan menikmati kejayaan ketika produksi minyak meningkat di tahun 1970an. Kalau mau sebut SALAH URUS, mungkin sudah sejak masa tersebut lah Indonesia mengambil jalur yang keliru. Apalagi BBM digunakan sebagai alat untuk meninabobokan dan membodohi rakyat.

                Baru belakangan saja, Indonesia mengubah strategi pemanfaatan energi nya. Batubara mulai banyak digunakan di industri dan juga di pembangkit-pembangkit listrik. Itu pun lantaran harga BBM dinaikkan 100% ketika tahun 2005. Selama tidak pernah dinaikkan, kita ibarat orang, maaf, goblok, yang menganggap sumber energi hanyalah minyak bumi. Gas alam kita yang berlimpah sekarang juga sudah mulai dilirik untuk digunakan di pembangkit listrik dan transportasi menggantikan bahan bakar minyak.

                Ketergantungan Indonesia pada minyak bumi sebagai sumber energi utama telah mengunci segala opsi-opsi yang sebenarnya bisa di-explore, dan membuat ritual jeritan yang tidak perlu ketika membicarakan harga BBM.

                Prom

                --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@...> wrote:
                >
                > Selamat siang pak lik Prom yang berdarah biru pekat,mbok ya-o kalau mau bikin perbandingan itu yang aple to aple dan yang komplit-plit,bukan cuma tarip BBM saja ,tapi juga UUD negara2 bersangkutan[visi -misi merdeka/bernegara],standard hidup disetiap negara,sejarah harga BBM dan pengaruh harga BBM terhadap harga barang pokok,ingat ya pak lik luas dan penyebaran rakyat Indonesia bukan dalam satu lokasi/radius yang sempit.
                >  
                > Alasan2 pak lik kenapa BBM harus dinaikan ,bukan bikin saya pingin muntah tapi kekelen sampai pingin ngompol pak lik,hati2 jangan deket2 pak lik bisa saya kencingi ntar!.
                > Sebenarnya jawabannya cukup satu kalimat saja pak lik: UNTUK APA KITA PUNYA PEMERINTAH YANG HARUS DIBAYAR MAHAL KALAU TIDAK BECUS NGURUS NEGARA?.
                > Emang ada rakyat/pengusaha yang seneng mandi BBM atau mabuk2an minum BBM pak Lik?,padahal untuk membangun pabrik,jenis izinnya saja puluhan macem,jangan2 darah pak lik Prom sekarang sudah biru kekuning2an ya?.
                > Hanya pemerintah yang GUOBLOK yang  tidak bisa ngatur jumlah mobil/motor yang boleh beroperasi di Indonesia,kalau semua bebas semau2anya ngapain ada pemerintah.
                > Hanya Pemerintah yang primitip yang tidak mampu memberantas penyelundupan, kenapa kok kagak pak lik usulkan semua pantai harus dipagari dan dipasang CCTV sekalian??,kok malah milih menaikan harganya BBM saja?. 
                > Lalu ngapain bayarin polisi air,angkatan laut dan bea cukai kalau gitu pak lik?.
                >  
                > Semua argumentasi pak lik diatas membuktikan bahwa pemerintah yang berkuasa saat ini (yang warna darahnya sama dengan pak lik)bukan pemimpin negara tetapi penguasa yang medek2no[mau enak sendiri],persis Petruk munggah bale kan pak lik!!.
                > Mau menang sendiri saja,karena nggak becus menghadapi persoalan,rakyat yang diblesekno!!.
                > Demo kemarin bukan khusus karena rencana kenaikan harga BBM pak lik,tetapi akumulasi harga[biaya hidup],kenaikan harga BBM hanya pemicunya saja.
                > Mekanisme kenaikan harga beras bukan karena keinginan pemerintah tetapi kemauan pasar,disamping itu rakyat juga maklum alasan harga beras naik,yaitu gagal panen dampak anomali iklim kan pak lik!.
                >  
                > *masalah sebenarnya kan sederhana saja pak lik,pemerintah merumuskan bahwa batas garis kemiskinan adalah berpenghasilan Rp 7.000,-/hr,coba hitung yang benar,cukup nggak?,kalau nggak cukup lalu apa upaya pemerintah agar rakyat tetap bisa hidup?, lalu hitung lagi dampak kenaikan BBM,upayakan lagi agar tetap bisa hidup,sebelum pemerintah mampu mengatasi hal tersebut jangan salahkan kalau rakyat ngamuk!!*
                >  
                > nuwun sewu,
                >  
                > singo.
                >
                >
                > ________________________________
                > Dari: Prometheus <prometheus_promise@...>
                > Kepada: tionghoa-net@yahoogroups.com
                > Dikirim: Minggu, 1 April 2012 0:09
                > Judul: Re: Bls: [t-net] Harga BBM- renungan malam minggu
                >
                >
                >
                >  
                >
                > Wah saya mesti siap-siap kantong muntah nih kalau mau ngomong bbm sama Opa Singo :)
                >
                > Setuju nih Opa, harusnya harga BBM di Indonesia itu mbok ya dibandingkan yang negara yang penghasilannya mirip sama Indonesia (pendapatan per capita USD 3500). Misalnya seperti negara berikut :
                >
                > Vietnam (pendapatan per capita USD 1300), harga bensinnya (RON 92)22,900 VND/L, atau artinya sekitar USD 1.09/L. Harganya ternyata dua kali lipat dari harga bensin di Indonesia yang cuman USD 0.5/L ! Padahal pendapatan per capita nya cuman 1/3 Indonesia.
                >
                > Di Philipine, harganya USD 1.32/L, sementara pendapatannya USD 2200 per capita
                >
                > Di India lebih hebat lagi. Harga bensinnya sampai USD 1.43/L, sementara pendapatannya cuman USD 1500.
                >
                > Dan yang lebih menarik lagi, konon cuman ada 18 negara di dunia yang harga bensinnya lebih murah dari Indonesia. Sebagian besar ada di Timur Tengah, seperti Iran, Bahrain, Saudi Arabia, Kuwait, yang memang penghasil minyak.
                >
                > Lha Indonesia kok ya gaya-nya mau kayak negara yang kaya minyak saja.
                > Jauh lebih baik kita berpikir bahwa sumber daya alam kita tuh sedikit, jadi kita harus kerja keras. Memangnya sumber daya alam itu gratis ??
                >
                > Sayang urusan harga BBM ini sudah dipolitisir sekali dan perdebatannya jauh dari substansinya. Urusan harga BBM cuman dipakai segelintir politisi untuk mencari kesempatan menepuk dada sendiri-sendiri.
                >
                > Padahal harga BBM Indonesia sudah seharusnya naik karena beberapa alasan :
                > (sebentar ya, ambil kantong plastik dulu buat nampung muntah :))
                >
                > 1. harga yang murah membuat konsumen cenderung boros dan tidak menghargai sumber energi.
                > 2. harga yang murah membuat industri boros dan tidak kreatif dan tidak kompetitif.
                > 3. disparitas harga yang terlalu tinggi membuat orang berpikir untuk menyelundupkan bensin ke luar.
                > 4. harga bensin yang murah menguntungkan industri otomotif. Pertumbuhan mobil dan motor menjadi lebih cepat --> kemacetan terjadi lebih cepat --> pemborosan lebih banyak.
                >
                > Yang mengherankan adalah kok beras yang sudah naik dari harga 6500an tahun lalu menjadi 8500an tahun ini, kok ngga pernah diprotes besar-besaran. Rupanya orang sekarang sudah lebih butuh BBM daripada beras ??
                >
                > Tapi mungkin juga ya demo kemarin bukan urusan BBM, tapi cuman karena urusan SBY. Kasihan yang memang mau benar-benar protes urusan BBM, karena rupanya ini cuman masalah kekuasaan saja.
                >
                > Politik oh politik.
                >
                > Prom
                >
                > --- In tionghoa-net@yahoogroups.com, singo menggolo <krokkop@> wrote:
                > >
                > jt Jiwa,
                > > inilah titik pokok permasalahannya pak lik,makanya saya muak dan pingin muntahin muka pejabat2 dan elit2 kalau mendengar mereka membanding2kan harga BBM di Indonesia dengan harga dinegara-negara lain[harga dunia] tanpa membandingkan penghasilan minimum rakyat dinegara2 tersebut,
                >
                >
                >
                >
                > [Non-text portions of this message have been removed]
                >




                [Non-text portions of this message have been removed]
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.