Attention: Starting December 14, 2019 Yahoo Groups will no longer host user created content on its sites. New content can no longer be uploaded after October 28, 2019. Sending/Receiving email functionality is not going away, you can continue to communicate via any email client with your group members. Learn More
- Aug 14, 2014Panggil Aku WartawanOleh Indah WulandariRaymond Arian Rondonuwu sudah 12 tahun bekerja di RCTI. Ia adalah produser Seputar Indonesia Malam (SIM) yang menggarap segmen politik. Tugasnya mengontrol penayangan SIM, mulai dari memilah peristiwa yang layak dijadikan berita, hingga memastikan alur dan segmen tayangan sesuai dengan perencanaan yang disepakati. Beberapa hari menjelang Ramadhan tahun ini, kegiatannya terhenti. Ia dipanggil pemimpin redaksi RCTI. Arya Sinulingga.
Arya semestinya sudah tak aktif sebagai pemimpin redaksi RCTI. Sebab, ia merupakan anggota tim sukses pasangan calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan calon wakil presiden (cawapres) Hatta Rajasa. Sebelum ini, Arya adalah Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Hanura. Sesuai “Seruan Dewan Pers No. 02/Seruan-DP/II/2014 tentang Pilihan Non-Aktif atau Mengundurkan Diri Bagi Wartawan yang Memutuskan Menjadi Caleg, Calon DPD, atau Tim Sukses”, Arya tidak boleh terlibat lagi dalam kerja redaksi. Dalam sebuah debat terbuka antara Arya dengan Dandhy Dwi Laksono dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia yang diadakan Dewan Pers pada 2 April 2014, Arya mengatakan sudah melaksanakannya. Ia sudah tak aktif mengatur konten tayangan. Tapi masih merasa harus bertanggung jawab dengan urusan manajemen.
Karena itu, ia memanggil Raymond ke ruangannya, memberi Raymond Surat Peringatan Tiga (SP3), dan mengancam akan melaporkannya ke polisi. Ia tak suka dengan....
Baca selanjutnya ===> remotivi.or.id
Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.
