Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Proses pembuahan; HAID & HAMIL (3)

Expand Messages
  • Mas Ahmad Yasa
    MENGENAL TERJADINYA HAID DAN HAMIL (3) (bagian 3 dari 6 tulisan) Proses pembuahan Dalam sekali hubungan badan, seorang suami rata-rata mengeluarkan air
    Message 1 of 1 , Jun 2, 2003
      MENGENAL TERJADINYA HAID DAN HAMIL (3)

      (bagian 3 dari 6 tulisan)


      Proses pembuahan

      Dalam sekali hubungan badan, seorang suami rata-rata
      mengeluarkan air mani sebanyak 3 cc, dan setiap 1 cc air mani
      yang normal akan mengandung sekitar 100 juta hingga 120 juta
      buah sel sperma.

      Setelah air mani ini terpancar (ejakulasi) ke dalam pangkal
      saluran kelamin istri, jutaan sel sperma ini akan berlarian
      melintasi rongga rahim, saling berebut untuk mencapai sel
      telur matang yang ada pada saluran tuba di seberang rahim.

      Dalam waktu 1 jam saja sejak dipancarkan, sebagian sel
      sperma sudah bisa sampai ke tempat pembuahan. Namun
      dari sekian juta sel sperma yang ada, ternyata hanya sebuah
      sel sperma yang lebih dahulu menyentuh sel telur saja yang
      dizinkan membuahi.

      Segera setelah ada satu sel sperma yang berhasil membuahi
      sel telur yang hanya sebuah ini, maka terjadilah perubahan-
      perubahan pada permukaan sel telur hingga tak bisa lagi
      dimasuki oleh sel-sel sperma lainnya. Akhirnya jutaan
      sisa sperma lainnya yang kalah bersaing akan mati dengan
      sendirinya.

      Proses pembuahan atau proses konsepsi ini normalnya terjadi
      di dalam "tuba falopi" yaitu saluran kecil yang menghubungkan
      antara kandung telur dengan rongga rahim. Kandung telur dan
      rahim itu terletak pada dua tempat yang terpisah, dan saluran
      tuba ini menghubungkan antara keduanya. Ketika ovulasi, sel
      telur matang yang keluar dari kandung telur memang mampu
      bergerak menuju ke dalam lubang saluran tuba ini, untuk
      selanjutnya menunggu kedatangan sel sperma di sana.

      (Gambar proses dan tempat pembuahan, lihat attachment)

      Perlu juga dipahami bahwa normalnya sel-sel sperma yang
      dikeluarkan pria itu selalu ada dalam keadaan matang setiap
      saat. Kapanpun hubungan badan dilakukan, sejak pria berusia
      akil balig maka sperma yang dikeluarkan pria umumnya dalam
      keadaan matang dan siap untuk membuahi sel telur setiap saat.
      Hal ini tidak seperti sel telur yang hanya matang satu kali setiap
      siklus bulanan haid dan hanya sebuah saja yang bisa matang.

      Umur sperma pun lebih panjang, sehingga setelah dipancarkan,
      ia mampu bertahan hidup antara 1 hari hingga 3 hari di dalam
      alat kandungan istri, tidak seperti sel telur matang yang hanya
      mampu hidup beberapa jam setelah ovulasi. Mengingat lamanya
      umur sperma ini, maka hubungan suami istri yang dilakukan
      pada 3 hari sebelum hari ovulasi pun masih berpeluang untuk menyebabkan
      kehamilan.

      Hal ini bisa terjadi karena sel-sel sperma yang telah dipancarkan,
      yang masuk ke alat kandungan istri setelah hubungan badan, bisa
      bertahan dan menunggu kedatangan sel telur matang sampai 3
      hari di saluran tuba yang akan dilewati oleh sel telur. Sehingga
      begitu sel telur matang yang hanya sebuah ini keluar ketika
      ovulasi dan bergerak dari kandung telur menuju ke sana, maka
      sel sperma yang sudah siap selama 3 hari menunggu kedatanganya,
      akan langsung menyerang sel telur untuk membuahinya, begitu
      sel telur matang ini tiba di sana.

      Ketika sel telur dibuahi, di dalam inti sel telur akan terjadi
      reaksi persenyawaan antara sifat-sifat atau kromosom dari sel
      telur dengan sifat-sifat yang dibawa oleh sel sperma. Hasil
      persenyawaan sifat-sifat yang berasal dari sebuah sel sperma
      dan sel telur ini menentukan sifat-sifat yang akan dimiliki oleh
      calon janin. Dengan demikian kelak akan terwujud anak yang
      memiliki sebagian sifat-sifat ayah serta sebagian sifat-sifat
      yang berasal dari ibu.

      Pada saat pembuahan pun jenis kelamin sudah ditentukan,
      namun bukan oleh sel telur tapi ditentukan oleh jenis sel
      sperma. Di dalam air mani itu terdapat 2 jenis sperma, yaitu
      sel sperma X sebagai pembawa sifat kelamin perempuan,
      dan sel sperma Y sebagai pembawa sifat kelamin laki-laki.

      Bila yang berhasil membuahi sel telur adalah sperma jenis
      X maka kelak akan menjadi anak perempuan. Sedangkan
      sebaliknya bila yang membuahi adalah sel sperma jenis Y
      maka anaknya kelak adalah laki-laki.

      Jadi penentuan jenis kelamin ini bergantung kepada persaingan
      di antara kedua jenis sperma ini dalam mencapai sel telur
      ketika pembuahan. Dengan demikian secara teoritis untuk
      mengharapkan jenis kelamin anak yang diinginkan kelak lahir,
      bisa disiasati berdasarkan karakterisktik sel-sel sperma.
      Prinsipnya yaitu dengan memberikan kesempatan prioritas
      membuahi kepada salah satu jenis sperma, apakah sperma X
      ataukah Y sesuai yang diharapkan.

      Antara sperma jenis X dan Y memang ada perbedaan dalam
      hal kekuatannya, daya tahan hidupnya serta sifat kimianya. Sel
      sperma Y (jenis pria) sifatnya mampu berlari cepat, sehingga
      akan lebih dulu sampai ke sel telur, namun usianya pendek
      sehingga lebih cepat mati. Sedangkan sperma X (jenis wanita)
      gerakannya lebih lambat tapi mampu bertahan hidup lebih lama
      di dalam alat kandungan istri.

      Oleh karenanya bila hubungan badan dilakukan tepat pada saat
      hari ovulasi, kemungkinan besar akan terlahir bayi laki-laki,
      karena sperma Y mampu berlari kencang untuk mencapai sel
      telur mendahului sperma X. Sedangkan bila hubungan badan
      dilakukan 1 hari atau 3 hari sebelum ovulasi dan tak ada
      hubungan badan lagi sesudah itu hingga ovulasi, maka
      kemungkinan besar akan menghasilkan anak perempuan. Hal
      ini karena sebelum ovulasi, sel-sel sperma jenis Y sudah banyak
      yang lebih dulu mati, sementara sperma X (jenis wanita) masih
      bisa bertahan hidup hingga 3 hari di saluran tuba untuk menunggu
      datangnya sel telur yang keluar saat ovulasi.

      Secara kimia, sperma X lebih tahan terhadap suasana asam,
      sedangkan sperma Y lebih tahan dalam suasana basa. Sehingga
      bisa dipahami, mengapa ibu-ibu yang sering mengalami keputihan
      umumnya anak-anaknya adalah perempuan. Hal ini karena akibat
      infeksi pada keputihan menyebabkan vagina menjadi lebih bersifat
      asam. Akibatnya sperma Y mudah mati, sedangkan sperma X yang
      memang tahan asam, bisa mampu bertahan hidup. Alhasil kalau
      terjadi pembuahan, maka sperma X akan lebih berpeluang membuahi, sehingga
      menghasilkan anak perempuan.

      Berangkat dari adanya perbedaan sifat fisika dan sifat kimia di
      antara kedua macam sperma ini, maka kemudian lahirlah beberapa
      metoda alami, untuk menentukan jenis kelamin janin anak.
      Metoda tersebut bisa dilakukan oleh pasangan suami istri untuk mendapatkan
      salah satu jenis kelamin anak yang diharapkan lahir.
      Namun penggunaan metoda alamiah tersebut tidak dijamin
      100 % berhasil, paling hanya berkisar 65 % saja.

      Di samping itu ada juga metota yang menggunakan teknologi
      tinggi, yang menyerupai prinsip metoda bayi tabung. Dengan
      metoda yang berbiaya mahal ini pun tidak bisa dijamin 100 %
      berhasil, paling hanya sekitar 95 % saja keberhasilannya.

      Metoda penetuan jenis kelamin anak ini hingga sekarang masih
      menjadi perdebatan di antara para ahli medis. Di samping
      masalah tingkat keberhasilannya, juga tentang boleh tidaknya
      tindakan tersebut dari sudut pandang etik kedokteran, maupun
      menurut pandangan agama. Memang, hanya Tuhan saja yang
      berhak menentukan jenis kelamin sebuah kehamilan.

      Dalam keadaan normal, setelah sel telur ini dibuahi oleh sel
      sperma di saluran tuba, selanjutnya calon janin ini akan bergerak
      melalui saluran tersebut menuju ke dalam rahim. Sesampainya
      di rongga rahim kemudian hasil pembuahan ini menempel dan
      tertanam pada lapisan permukaan dinding rongga di dalam rahim.

      Pada hari ke 6 setelah pembuahan, calon janin ini biasanya
      sudah berhasil menempel dan tertanam di dalam rongga rahim. Selanjutnya
      buah kehamilan ini akan terus tumbuh dan
      berkembang mengisi rongga rahim serta mendapatkan berbagai
      sumber makanan, oksigen, dll, dari tubuh ibu melalui tali pusat
      dan ari-ari (placenta). Pada kehamilan 4 bulan, seluruh organ
      tubuh janin sudah terbentuk sempurna. Setelah itu, janin akan
      bertambah besar dan matang sampai akhirnya menjadi bayi yang
      siap untuk dilahirkan.

      Lamanya kehamilan yang normal dari sejak pembuahan hingga
      melahirkan adalah sekitar 38 minggu atau 266 hari, dan ini
      berlaku bagi setiap ibu hamil, berapapun jarak siklus haid
      bulanannya. Namun dalam praktek, karena sesuatu hal maka
      lamanya kehamilan ini bukan dihitung dari hari pembuahan
      tapi dihitung dari tanggal hari pertama haid yang terakhir
      sebelum hamil.

      Suatu kehamilan dinyatakan cukup bulan dan siap untuk
      dilahirkan bila umur kehamilannya mencapai 37 minggu
      hingga 42 minggu dari hari pertama haid yang terakhir
      datang sebelum hamil. (Bersambung)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.