Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Media dakwah ada online versionnya?

Expand Messages
  • M.Ridha
    Assalamu alaikum, Apakah ada yang tahu kalau majalah media dakwah ada online versionnya seperti Hidayatullah atau Sabili? -- Wassalam, Ridha
    Message 1 of 3 , Apr 7, 2003
      Assalamu'alaikum,

      Apakah ada yang tahu kalau majalah media dakwah ada online versionnya
      seperti Hidayatullah atau Sabili?

      --
      Wassalam,
      Ridha
    • A Nizami
      Wa alaikum salam, Majalah Media Dakwah belum ada versi online-nya. Saya menemukan di www.ukhuwah.or.id segmen tentang Media Dakwah, tapi isinya edisi November
      Message 2 of 3 , Apr 7, 2003
        Wa'alaikum salam,

        Majalah Media Dakwah belum ada versi online-nya. Saya
        menemukan di www.ukhuwah.or.id segmen tentang Media
        Dakwah, tapi isinya edisi November 2000 tentang
        pemerintahan Gus Dur.

        Mudah-mudahan lewat milis ini, kita bersama-sama bisa
        menyalin sebagian isi majalah Media Dakwah untuk
        dimuat ke internet, sehingga majalah Media Dakwah bisa
        dikenal oleh pengguna internet secara luas.

        Akh Ridha mungkin bisa kontak pengurus Media Dakwah
        untuk mengirimkan tulisannya ke milis ini atau ke
        email saya?

        Wassalam

        --- "M.Ridha" <ridha72@...> wrote:
        >
        > Assalamu'alaikum,
        >
        > Apakah ada yang tahu kalau majalah media dakwah ada
        > online versionnya
        > seperti Hidayatullah atau Sabili?
        >
        > --
        > Wassalam,
        > Ridha
        >
        >
        >


        __________________________________________________
        Do you Yahoo!?
        Yahoo! Tax Center - File online, calculators, forms, and more
        http://tax.yahoo.com
      • A Nizami
        Assalamu alaikum, Mungkin tulisan di bawah ini bisa menjelaskan kepada kita posisi Majalah Media Dakwah terhadap gerakan sekularisasi. Semoga ini bisa membantu
        Message 3 of 3 , Apr 7, 2003
          Assalamu'alaikum,

          Mungkin tulisan di bawah ini bisa menjelaskan kepada
          kita posisi Majalah Media Dakwah terhadap gerakan
          sekularisasi. Semoga ini bisa membantu kita untuk
          mengenal majalah Media Dakwah.

          Wassalamu'alaikum

          Nurcholish Madjid
          Sekularisasi Tiada Henti
          "� dengan sekularisasi tidaklah dimaksudkan penerapan
          sekularisme dan merobah kaum muslimin menjadi kaum
          sekularis. Tapi dimaksudkan untuk menduniakan
          nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan
          melepaskan ummat Islam dari kecenderungan untuk
          mengukhrowikannya." --Nurcholish dalam makalah
          "Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah
          Integrasi Umat", disampaikan dalam diskusi yang
          diadakan oleh HMI, PII, GPI, dan Persami di Menteng
          Raya 58, tanggal 2 Januari 1970


          "Orang yang menolak sekularisasi lebih baik mati saja.
          Karena sekularisasi adalah inherent dengan kehidupan
          manusia sekarang di dunia ini (saeculum berarti jaman
          atau keadaan sekarang, juga berarti dunia ini)."
          --Nurcholish dalam wawancara dengan harian Kompas,
          tanggal 1 April 1970

          Bulan Januari lalu, gerakan pemikiran yang dipelopori
          Nurcholish Madjid di Indonesia tepat berusia 32 tahun.
          Gerakan itu telah berbunga mekar bewarna-warni. Salah
          satu yang paling menonjol dan sedang jadi perbincangan
          ialah gerakan Ulil Abshar Abdalla, yang menyebut
          dirinya Islam Liberal. Nurcholis memang menjadi salah
          seorang kontributor situs gerakan itu
          (www.islamlib.com).

          Tokoh kelahiran Jombang ini juga satu dari dua orang
          Indonesia yang tulisannya dimuat dalam `kitab suci'
          kaum liberal Liberal Islam: A Source Book suntingan
          Charles Kurzman.

          Karena keterampilannya dalam mengolah gagasan
          Nurcholish Madjid dijuluki oleh Majalah Tempo sebagai
          "Penarik Gerbong Kaum Pembaharu". Bagi sebagian orang
          �terutama banyak penulis asing� nama Nurcholish Madjid
          memang dianggap sebagai jaminan mutu bahkan laksana
          "dewa" dan menjadi "legenda". Ucapan-ucapan dan
          tulisannya yang piawai dianggap sebagai kebenaran,
          yang sulit terbantahkan dan memukau. Tutur katanya
          santun, jarang bicara meledak-ledak. Almarhum KH Hamam
          Ja'far, pimpinan Pondok Pesantren Pabelan, pernah
          menyatakan, Nurcholish Madjid itu ibarat perpustakaan
          yang berjalan.

          Contoh kekaguman para cendekiawan terhadap Nurcholish
          tergambar dalam tulisan Prof Dawam Rahardjo di
          Republika (8 Februari 1993), berjudul "Di sekitar Cara
          Mendiskusikan Pemikiran Keagamaan Akhir-akhir Ini":

          "Sebagai seorang yang mempunyai rasa tanggung jawab
          ilmiah yang tinggi, ia menyertakan catatan kaki yang
          lengkap. Lebih dari ilmuwan yang lain, ia bahkan
          mencatatkan kutipan-kutipan yang lebih lengkap
          misalnya kata-kata tertentu AN Wilson, atau Erick
          From. Bahkan untuk Abdul Hamid Hakim dan Ibnu
          Taimiyah, ia kutipkan teks aslinya dalam bahasa Arab.
          Demikian pula sejumlah ayat al-Qur'an yang penting dan
          relevan untuk tulisannya itu. Catatan kaki itu
          mencakup sepuluh halaman sendiri."

          Imaduddin Abdul Rahim dalam wawancara dengan tabloid
          Salam No 15 (14 Januari 1993) mengatakan, "Ridwan
          Saidi kan cuma S-1, Nurcholish Madjid S3, cumlauder
          dari Chicago."

          Dua contoh di atas bisa diambil sebagai bentuk
          kekaguman dan pemujaan berlebihan kepada Nurcholish
          Madjid, seolah-olah, ia tidak dapat berbuat salah.
          Nurcholish can do no wrong. Sikap ini tentu jauh dari
          ilmiah. Sebaliknya, juga tidak fair dan tidak benar,
          jika menyatakan, bahwa apapun yang keluar dari mulut
          Nurcholish Madjid adalah kebusukan dan kesalahan. Di
          sinilah diperlukan sikap kritis yang cermat, jujur,
          dan terbuka terhadap kritik.

          Kritikan tajam terhadap gagasan-gagasan sekularisasi
          Nurcholish Madjid sudah disampaikan oleh berbagai
          tokoh, seperti Prof HM Rasjidi (alm), Endang
          Syaifuddin Anshari (alm), Ridwan Saidi, Abdul Qadir
          Djaelani, Daud Rasyid, Hartono A Jaiz, dan sebagainya.


          Rasjidi mengritik keras cara-cara Nurcholish dalam
          memakai istilah yang dapat menimbulkan pengertian yang
          menyesatkan kalangan Muslim. Dengan mengampanyekan
          "sekularisasi" (yang katanya tidak dimaksudkan untuk
          menjadikan orang "sekularis"), menurut Rasjidi,
          Nurcholish melukiskan seolah-olah Islam memerintahkan
          sekularisasi dalam arti Tauhid.

          Endang Syaifuddin Anshari menyatakan bahwa berbicara
          tentang sekularisasi, mau tidak mau mesti mengacu pada
          sekularisme. Secara historis, sekularisme timbul di
          Barat sebagai reaksi terhadap Kristianisme.
          Sekularisme adalah paham yang menyingkirkan
          nilai-nilai Ilahi (agama wahyu) dalam persoalan dunia,
          negara, dan masyarakat. "Baik sekularisasi (menurut
          rumusan sdr Nurcholish dan yang dianjurkannya itu)
          maupun sekularisme (yang ditentangnya itu) sama-sama
          mau membebaskan diri dari `tutelage' (asuhan) agama,"
          kata Anshari.

          Kolega Nurcholish di Universitas Chicago, Dr Syafii
          Maarif, kepada Jurnal Ulumul Quran (No 1, Vol 1 tahun
          1993) mengakui kerancuan istilah "sekularisasi" dan
          "sekularisme" yang digunakan Cak Nur. Sekularisasi dan
          sekularisme, kata Syafii, tidak dapat dipisahkan. Tapi
          itu sebenarnya sudah diralat oleh Cak Nur sendiri
          dengan mengirimkan surat ke Tempo sekitar tahun
          1980-an, yang menyatakan bahwa istilah-istilah yang
          dipakainya "misconception".

          Tahun 1970, Nurcholish mengungkap konsep sekularisasi
          melalui gagasan Pembaharuan Pemikiran Islam. Di
          antaranya ia mengatakan, "Dari tinjauan yang lebih
          prinsipil, konsep `Negara Islam' adalah suatu distorsi
          hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara
          adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang
          dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan
          agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya spiritual
          dan pribadi."

          Terhadap pikiran tersebut, Rasjidi berkomentar,
          "Kata-kata tersebut bukan kata-kata orang yang percaya
          kepada Quran, akan tetapi merupakan kata orang yang
          pernah membaca Injil. Dalam Matheus 22-21 disebutkan:
          "Render unto Caesar the things which are caesar' and
          unto God the thing which are God's." (Muhammad Tahir
          Azhary, Negara Hukum, h 33-34)

          Tahir juga menilai gagasan Nurcholish mengarah kepada
          sekularisasi Islam. Menurutnya, selain mengecewakan
          ummat Islam, Nurcholish juga tidak berhasil memahami
          bagaimana sesungguhnya hubungan antara agama Islam dan
          kehidupan kenegaraan dan masyarakat (ibid, h 37).

          Pada dekade 1990-an muncul seorang muda yang jadi
          pengritik Nurcholish di barisan terdepan, M Daud
          Rasyid Sitorus. Doktor ilmu hadits dari Universitas
          Kairo ini tegas menyebut Nurcholish sebagai seorang
          "pemikir sekular".

          Buku Daud yang berjudul Pembaruan Islam dan
          Orientalisme dalam Sorotan (1993), mengupas berbagai
          pemikiran dan pendekatan ilmiah yang digunakan
          Nurcholish dalam mengantarkan gagasan-gagasannya.
          Ceramah Nurcholish Madjid yang disampaikan di Taman
          Ismail Marzuki (TIM) pada 21 Oktober 1992, yang
          berjudul "Beberapa Renungan tentang Kehidupan
          Keagamaan di Indonesia", disebut Daud sebagai suatu
          "kesesatan yang dikemas dengan gaya ilmiah".

          "Nurcholish adalah murid dan penerus
          "Neo-Mu'tazailah"-nya Harun Nasution. Hanya saja
          "sihir-sihir" Nurcholish lebih canggih dan lebih
          memukau daripada Harun, karena dikemas dengan gaya
          ilmiah yang menarik," tulis Daud.

          Sebagai reaksi atas ceramah di TIM itu, pada Desember
          1992, Nurcholish "diadili" di hadapan sekitar 4.000
          pemuda dan mahasiswa Muslim di Masjid Amir Hamzah TIM.
          Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga
          Manajemen dan Pengembangan Infak (LMPI) dan mengambil
          tema: "Telaah Kritis atas Kelompok Pembaruan Kegamaan"
          itu, Nurcholish mendapat serangan tajam dari Daud
          Rasyid, Ridwan Saidi, dan lain-lain.

          "Pengadilan" serupa digelar di berbagai kampus.
          Majalah Media Dakwah mempopulerkan istilah Gerakan
          Pembaruan Keagamaan yang disingkat GPK akronim yang
          juga digunakan untuk menyebut "Gerakan Pengacau
          Keamanan" untuk gerakan pembaruan Islam-nya
          Nurcholish.

          Tidak hanya ulama dan kaum intelek, orang awam pun
          terdorong melakukan kritik. Seorang pembaca bernama A
          Salam Saenong menulis di Media Dakwah No 47/1992:

          "Setelah membaca tulisan Pak Ibrahim Madylao tentang
          Nurcholish Madjid sebagai duplikat Yesuit dan
          orientalisten, yang bertujuan menjungkirbalikkan
          aqidah Islam, kebingungan saya terhadap pemikiran
          pembaruan Islam yang digencarkannya sekembalinya dari
          Chicago menjadi lenyap. Soalnya, Pak Ibrahim dalam
          tulisannya berhasil menampilkan berbagai rujukan yang
          tak terbantahkan, sehingga setiap pembaca tidak bisa
          lain kecuali haqqulyakin bahwa Nurcholish Madjid
          benar-benar merupakan duplikat Yesuit dan para
          orientalisten masing-masing melalui Ahmad Wahid,
          binaan para pastor. Keinginan Nurcholish Madjid agar
          ajaran Islam disekulerkan, jelas merupakan aspirasi
          Yahudi dan Nasrani. Ungkapan Nurcholish seolah-olah
          sekularisasi itu sepenuhnya sesuai dengan
          firman-firman Tuhan, jelas merupakan pemutarbalikan
          tafsir al-Qur'an, sebagaimana dilakukan oleh Hamran
          Ambrie yang brosur/bukunya dilarang beredar tahun 1982
          dan 1986".

          Nama Nurcholish terus melambung lewat berbagai arena
          kajian ilmiah, pengajian, dan media-media massa
          terkemuka. Yayasan Paramadina yang dipimpinnya terus
          mengembangkan sayapnya, mulai sekolah lanjutan atas
          (SMU Madania School), juga Universitas Paramadina yang
          dia sendiri menjadi rektornya. Kader-kadernya
          bermunculan, seperti Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar
          Rachman, Luthfie Asysyaukanie, Sukidi, dan sebagainya,
          terutama Ulil Abshar Abdalla.

          Para pendukung Nurcholish tak kalah vokal dibanding
          para pengritik. Mereka juga sangat fanatik dan galak
          membela lelaki kelahiran Jombang, Jawa Timur, 17 Maret
          1939 ini. Salah satunya Prof R William Liddle, yang
          menganggap bahwa obsesi Nurcholish adalah membujuk
          Muslim Indonesia menerima visi rasional, toleran,
          sekuler Islam. Nurcholish merasa hal itu tidak mudah,
          sebab pada akar bawah komunitas Islam anti-Baratisme,
          anti-Kristenitas, sungguh-sungguh tidak toleran kepada
          apa saja yang dipandang sebagai non-Islamik (Lihat: R.
          William Liddle, Islam, Politik, dan Modernisasi,
          Pustaka Sinar Harapan, 1997, h. 37).

          Liddle menunjuk contoh penentang Nurcholish Madjid
          yang keras, yaitu Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
          (DDII). Dikatakannya, mental anggota Dewan Dakwah
          setidaknya beberapa ciri penting sebagaimana
          ditunjukkan dari Media Dakwah adalah picik, naif,
          berpikir dangkal, dan tak canggih.

          Pendapat Liddle tentang Dewan Dakwah dikutip oleh Greg
          Barton dari makalahnya yang berjudul Media Dakwah
          Scripturalism: One Form of Islamic Political Thought
          and Action in New Order Indonesia. Makalah itu dimuat
          dalam buku Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia,
          (1999). Buku ini diberi judul kecil: Pemikiran
          Neo-modernisme dari empat tokoh, Nurcholish Madjid,
          Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid.

          Nurcholish Madjid, lahir di Jombang, Jawa Timur, 17
          Maret 1939, lulusan Pondok Pesantren Modern Darussalam
          Gontor, Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah
          Jakarta, dan doktor lulusan Universitas Chicago, di
          bawah bimbingan Prof Fazlur Rahman. Ayah dari dua
          anak, Nadia dan Mikail, ini telah mengukuhkan dirinya
          sebagai tokoh berpembawaan lembut yang kontroversial.
          Dipuja, dan dicerca.�

          Adian Husaini, kontributor majalah Suara Hidayatullah




          __________________________________________________
          Do you Yahoo!?
          Yahoo! Tax Center - File online, calculators, forms, and more
          http://tax.yahoo.com
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.