Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Menggagas Blok Perdagangan Islam

Expand Messages
  • Arnoldison
    Koran Tempo, Kamis, 31 January 2002 Menggagas Blok Perdagangan Islam Zaim Saidi, Peneliti PIRAC, Jaringan Masyarakat Antiriba Meski belum tampak, pemakaian
    Message 1 of 2 , Jan 31, 2002
    • 0 Attachment
      Koran Tempo, Kamis, 31 January 2002

      Menggagas Blok Perdagangan Islam
      Zaim Saidi,
      Peneliti PIRAC, Jaringan Masyarakat Antiriba

      Meski belum tampak, pemakaian euro sebagai mata uang regional Uni
      Eropa awal tahun ini tentu mempengaruhi konstelasi perdagangan
      internasional. Dengan tampilnya euro, maka poros kekuatan dagang saat
      ini setidaknya ada tiga, selain euro sendiri, dolar (AS), dan yen
      (Jepang). Satu hal yang agaknya pasti dalam konstelasi zero sum game
      yang berlangsung saat ini adalah satu blok utama lain di dunia ini
      akan tetap ketinggalan kereta: negara-negara miskin, terutama di Asia
      dan Afrika. Lebih khusus lagi, dalam porsi yang cukup besar,
      negara-negara Islam.

      Dalam konteks ini sungguh menarik dicermati berkembangnya gagasan
      membangun blok perdagangan Islam. Lain dari upaya kerja sama
      konvensional di kalangan negeri-negeri Islam, yang tidak efektif dalam
      perimbangan perdagangan internasional, semacam Organisasi Konferensi
      Islam (OKI), gagasan membangun blok Islam di awal milenium ini
      dipelopori oleh jaringan lembaga pemerintah dan nonpemerintah. Modus
      operandinya pun menjadi unik, formal dan informal, legal dan ilegal,
      kultural sekaligus struktural. Maka, bila gerakan ini berhasil,
      pengaruhnya dalam konstelasi perdagangan dunia dapat diprediksi akan
      signifikan.

      Berkecambahnya gagasan ini sendiri mendapatkan momentum dengan
      terjadinya krisis moneter di Asia empat tahun terakhir ini.
      Sebagaimana kita tahu, PM Malaysia Mahathir Mohamad mengambil jalan
      lain dari para pemimpin di Asia lainnya yang mengandalkan IMF (dan
      Bank Dunia) dengan resep liberalnya dalam mengatasi krismon. Tidak
      berhenti hanya sampai menetapkan kurs ringgit terhadap dolar AS dan
      menerapkan kontrol atas modal lainnya, Mahathir kini bergerak lebih
      jauh. Ia tampak menoleh pada gagasan membangun blok Islam, dengan
      fokus cukup jelas: mengimbangi kekuatan dolar AS.

      Di sisi lain, di sepanjang dekade 1990-an kita menyaksikan kelahiran
      sebuah gerakan kultural di kalangan warga muslim yang mengupayakan
      kembalinya kejayaan (perdagangan) Islam. Salah satu pilar, simbol
      sekaligus substansi, yang direalisasikan oleh gerakan nonpemerintah
      ini adalah mengembalikan dan menerapkan sistem moneter berdasarkan
      uang nyata, koin emas dan perak, dalam bentuk mata uang dinar dan
      dirham. Saat ini gerakan tersebut telah sampai pada kenyataan, dengan
      mulai diterimanya dinar dan dirham di pasar valuta asing (baca:
      "Kembalinya Gerincing Dinar", Tempo, 27 Januari 2002, hlm. 92).
      Pemakainya pun telah tersebar di banyak negara di dunia, termasuk
      Indonesia.

      Gagasan yang diilhami oleh pemikiran pascamodern ini pun mendapatkan
      dukungan luas kalangan ekonom Islam. Imad-ad-Deen Ahmad, ekonom dari
      Minaret of Freedom Institute, misalnya, menyatakan bahwa jalan ini
      perlu diambil demi alasan moral sekaligus utilitarian. Ia menunjukkan
      bahwa sistem moneter berdasar uang nyata (dinar dan dirham) telah
      terbukti mampu menciptakan stabilitas makro yang berkelanjutan. Lebih
      dari 1.500 tahun dinar dan dirham tidak mengalami inflasi, tingkat
      kepercayaannya sebagai mata uang pun telah teruji.

      Emas dan perak sebagai alat tukar berbeda dengan uang kertas, tak akan
      pernah kehilangan kepercayaan--meski andaikata pun kehilangan kegunaan
      tukarnya--karena pada dirinya sendiri memiliki nilai komoditas. Lebih
      dari itu, pemakaian uang nyata akan dan telah menciptakan sistem
      ekonomi yang adil, karena memustahilkan lahirnya kapitalisme
      kasino--dengan ciri utama spekulasi mata uang kertas yang hanya
      menguntungkan segelintir orang.

      Secara perlahan tapi pasti, pemakaian dinar dan dirham, sejak pertama
      kali dicetak ulang di Granada, 1992, makin meluas. Berbagai hambatan
      teknis, seperti kerepotan bertransaksi dengan uang nyata ini, telah
      teratasi dengan sistem digital gold currency (E-dinar.com). Dalam
      bentuk digital, dengan tetap didukung oleh logam emas yang disimpan di
      Dubai, para pemegang account dinar di seluruh dunia dapat bertransaksi
      dengan cepat, murah, mudah, dan aman.

      Bukan saja untuk jumlah yang besar, tapi juga untuk satuan yang jauh
      lebih kecil dari satu dinar--yang tidak mungkin dilakukan secara fisik
      (nilai tukar per keping dinar saat ini adalah sekitar Rp 400 ribu,
      maka secara fisik menjadi tidak praktis menggunakan dinar untuk
      membayar barang dan jasa yang harganya jauh di bawah Rp 400 ribu).
      Dalam bentuk digital satuan nilai transaksi dapat diperkecil sampai
      empat desimal. Dinar dan dirham praktis telah menjadi "mata uang
      swasta" yang efektif, meski masih dalam skala yang belum berarti.

      Karena itu, bila Mahathir makin yakin dengan alternatif ini, dan
      menjadi pelopor pemimpin formal suatu negara yang menerima dinar dan
      dirham, maka terciptanya blok perdagangan Islam hanya tinggal waktu.
      Mata uang emas dan dirham akan menjadi pemersatu sekaligus ujung
      tombak, legal dan formal, blok Islam ini. Bila Malaysia menerima
      gagasan ini, apalagi kemudian didukung oleh satu dua negara lain,
      misalnya Indonesia dan Brunei, atau Uni Emirat Arab yang Bank Islamnya
      secara resmi telah menerimanya, maka blok ini akan lebih cepat lagi
      memperoleh kekuatannya.

      Juni, 2001, dalam Simposium Ekonomi Islam Sedunia, Al-Baraka, di Kuala
      Lumpur, Mahathir telah menyatakan, "Pemakaian dinar akan secara
      efektif menciptakan blok perdagangan Islam... dinar Islam
      internasional dapat dicapai dan menjadi awal kerja sama yang lebih
      erat negara-negara muslim."

      Sebuah implikasi strategis dapat dibayangkan. Umat Islam di dunia
      terdiri atas lebih dari satu miliar orang, atau sekitar 20 persen
      penduduk dunia. Sebagai sebuah blok ada komoditas strategis yang dapat
      menjadi kekuatan bersama, yakni minyak. Bila dinar emas telah
      disepakati sebagai mata uang blok Islam, dan semua negara Islam
      penghasil minyak sepakat meminta pembayaran dengan dinar, maka uang
      emas ini dapat dipastikan akan segera menandingi kekuatan dolar AS.
      Tak mustahil dinar akan muncul sebagai standar baru mata uang dunia.

      Tentu jalan menuju ke sana tidak semudah dan sesederhana ini. Namun,
      dukungan terhadap upaya ini tampaknya akan terus meluas. Kombinasi
      pendekatan kultural dan struktural, legal dan ilegal, formal dan
      informal, bahkan rasional sekaligus emosional, yang memotori gerakan
      ini akan memberikan energi yang tak habis-habisnya. Kecenderungan AS
      dan sekutunya dalam memandang dan memperlakukan bangsa-bangsa muslim
      setelah peristiwa 11 September pun kiranya bakal memberikan pengaruh
      bagi gerakan ini. Secara teknis, tahap demi tahap agenda pengembalian
      dinar dan dirham, baik formal maupun informal, kultural maupun
      struktural pun, telah disiapkan para pendukungnya dengan baik.

      Andaikan Mahathir Mohamad, misalnya, mau menggantikan ringgit
      kertasnya dengan dinar emas, maka tahap demi tahap masa transisinya
      secara teknis dapat dilakukan. Bila tidak, maka umat Islamlah yang
      akan melakukannya dan waktu yang akan menentukan berhasil tidaknya.
      Keping demi keping dinar hari-hari ini terus dicetak dan makin luas
      diedarkan dan dipakai di seluruh dunia, setahap demi setahap membangun
      blok perdagangan Islam. Wallahu a'lam bish-shawab.
























      --
      Best regards,
      Arnoldison mailto:arnold@...
    • Arnoldison
      Menggagas Blok Perdagangan Islam Zaim Saidi, Peneliti PIRAC, Jaringan Masyarakat Antiriba (Koran Tempo) Meski belum tampak, pemakaian euro sebagai mata
      Message 2 of 2 , Oct 16, 2002
      • 0 Attachment
        Menggagas Blok Perdagangan Islam

        Zaim Saidi, Peneliti PIRAC, Jaringan Masyarakat Antiriba

        (Koran Tempo) Meski belum tampak, pemakaian euro sebagai mata uang
        regional Uni Eropa awal tahun ini tentu mempengaruhi konstelasi
        perdagangan internasional. Dengan tampilnya euro, maka poros kekuatan
        dagang saat ini setidaknya ada tiga, selain euro sendiri, dolar (AS),
        dan yen (Jepang). Satu hal yang agaknya pasti dalam konstelasi zero
        sum game yang berlangsung saat ini adalah satu blok utama lain di
        dunia ini akan tetap ketinggalan kereta: negara-negara miskin,
        terutama di Asia dan Afrika. Lebih khusus lagi, dalam porsi yang cukup
        besar, negara-negara Islam.

        Dalam konteks ini sungguh menarik dicermati berkembangnya gagasan
        membangun blok perdagangan Islam. Lain dari upaya kerja sama
        konvensional di kalangan negeri-negeri Islam, yang tidak efektif dalam
        perimbangan perdagangan internasional, semacam Organisasi Konferensi
        Islam (OKI), gagasan membangun blok Islam di awal milenium ini
        dipelopori oleh jaringan lembaga pemerintah dan nonpemerintah. Modus
        operandinya pun menjadi unik, formal dan informal, legal dan ilegal,
        kultural sekaligus struktural. Maka, bila gerakan ini berhasil,
        pengaruhnya dalam konstelasi perdagangan dunia dapat diprediksi akan
        signifikan.

        Berkecambahnya gagasan ini sendiri mendapatkan momentum dengan
        terjadinya krisis moneter di Asia empat tahun terakhir ini.
        Sebagaimana kita tahu, PM Malaysia Mahathir Mohamad mengambil jalan
        lain dari para pemimpin di Asia lainnya yang mengandalkan IMF (dan
        Bank Dunia) dengan resep liberalnya dalam mengatasi krismon. Tidak
        berhenti hanya sampai menetapkan kurs ringgit terhadap dolar AS dan
        menerapkan kontrol atas modal lainnya, Mahathir kini bergerak lebih
        jauh. Ia tampak menoleh pada gagasan membangun blok Islam, dengan
        fokus cukup jelas: mengimbangi kekuatan dolar AS.

        Di sisi lain, di sepanjang dekade 1990-an kita menyaksikan kelahiran
        sebuah gerakan kultural di kalangan warga muslim yang mengupayakan
        kembalinya kejayaan (perdagangan) Islam. Salah satu pilar, simbol
        sekaligus substansi, yang direalisasikan oleh gerakan nonpemerintah
        ini adalah mengembalikan dan menerapkan sistem moneter berdasarkan
        uang nyata, koin emas dan perak, dalam bentuk mata uang dinar dan
        dirham. Saat ini gerakan tersebut telah sampai pada kenyataan, dengan
        mulai diterimanya dinar dan dirham di pasar valuta asing (baca:
        "Kembalinya Gerincing Dinar", Tempo, 27 Januari 2002, hlm. 92).
        Pemakainya pun telah tersebar di banyak negara di dunia, termasuk
        Indonesia.

        Gagasan yang diilhami oleh pemikiran pascamodern ini pun mendapatkan
        dukungan luas kalangan ekonom Islam. Imad-ad-Deen Ahmad, ekonom dari
        Minaret of Freedom Institute, misalnya, menyatakan bahwa jalan ini
        perlu diambil demi alasan moral sekaligus utilitarian. Ia menunjukkan
        bahwa sistem moneter berdasar uang nyata (dinar dan dirham) telah
        terbukti mampu menciptakan stabilitas makro yang berkelanjutan. Lebih
        dari 1.500 tahun dinar dan dirham tidak mengalami inflasi, tingkat
        kepercayaannya sebagai mata uang pun telah teruji.

        Emas dan perak sebagai alat tukar berbeda dengan uang kertas, tak akan
        pernah kehilangan kepercayaan--meski andaikata pun kehilangan kegunaan
        tukarnya--karena pada dirinya sendiri memiliki nilai komoditas. Lebih
        dari itu, pemakaian uang nyata akan dan telah menciptakan sistem
        ekonomi yang adil, karena memustahilkan lahirnya kapitalisme
        kasino--dengan ciri utama spekulasi mata uang kertas yang hanya
        menguntungkan segelintir orang.

        Secara perlahan tapi pasti, pemakaian dinar dan dirham, sejak pertama
        kali dicetak ulang di Granada, 1992, makin meluas. Berbagai hambatan
        teknis, seperti kerepotan bertransaksi dengan uang nyata ini, telah
        teratasi dengan sistem digital gold currency (E-dinar.com). Dalam
        bentuk digital, dengan tetap didukung oleh logam emas yang disimpan di
        Dubai, para pemegang account dinar di seluruh dunia dapat bertransaksi
        dengan cepat, murah, mudah, dan aman.

        Bukan saja untuk jumlah yang besar, tapi juga untuk satuan yang jauh
        lebih kecil dari satu dinar--yang tidak mungkin dilakukan secara fisik
        (nilai tukar per keping dinar saat ini adalah sekitar Rp 400 ribu,
        maka secara fisik menjadi tidak praktis menggunakan dinar untuk
        membayar barang dan jasa yang harganya jauh di bawah Rp 400 ribu).
        Dalam bentuk digital satuan nilai transaksi dapat diperkecil sampai
        empat desimal. Dinar dan dirham praktis telah menjadi "mata uang
        swasta" yang efektif, meski masih dalam skala yang belum berarti.

        Karena itu, bila Mahathir makin yakin dengan alternatif ini, dan
        menjadi pelopor pemimpin formal suatu negara yang menerima dinar dan
        dirham, maka terciptanya blok perdagangan Islam hanya tinggal waktu.
        Mata uang emas dan dirham akan menjadi pemersatu sekaligus ujung
        tombak, legal dan formal, blok Islam ini. Bila Malaysia menerima
        gagasan ini, apalagi kemudian didukung oleh satu dua negara lain,
        misalnya Indonesia dan Brunei, atau Uni Emirat Arab yang Bank Islamnya
        secara resmi telah menerimanya, maka blok ini akan lebih cepat lagi
        memperoleh kekuatannya.

        Juni, 2001, dalam Simposium Ekonomi Islam Sedunia, Al-Baraka, di Kuala
        Lumpur, Mahathir telah menyatakan, "Pemakaian dinar akan secara
        efektif menciptakan blok perdagangan Islam... dinar Islam
        internasional dapat dicapai dan menjadi awal kerja sama yang lebih
        erat negara-negara muslim."

        Sebuah implikasi strategis dapat dibayangkan. Umat Islam di dunia
        terdiri atas lebih dari satu miliar orang, atau sekitar 20 persen
        penduduk dunia. Sebagai sebuah blok ada komoditas strategis yang dapat
        menjadi kekuatan bersama, yakni minyak. Bila dinar emas telah
        disepakati sebagai mata uang blok Islam, dan semua negara Islam
        penghasil minyak sepakat meminta pembayaran dengan dinar, maka uang
        emas ini dapat dipastikan akan segera menandingi kekuatan dolar AS.
        Tak mustahil dinar akan muncul sebagai standar baru mata uang dunia.

        Tentu jalan menuju ke sana tidak semudah dan sesederhana ini. Namun,
        dukungan terhadap upaya ini tampaknya akan terus meluas. Kombinasi
        pendekatan kultural dan struktural, legal dan ilegal, formal dan
        informal, bahkan rasional sekaligus emosional, yang memotori gerakan
        ini akan memberikan energi yang tak habis-habisnya. Kecenderungan AS
        dan sekutunya dalam memandang dan memperlakukan bangsa-bangsa muslim
        setelah peristiwa 11 September pun kiranya bakal memberikan pengaruh
        bagi gerakan ini. Secara teknis, tahap demi tahap agenda pengembalian
        dinar dan dirham, baik formal maupun informal, kultural maupun
        struktural pun, telah disiapkan para pendukungnya dengan baik.

        Andaikan Mahathir Mohamad, misalnya, mau menggantikan ringgit
        kertasnya dengan dinar emas, maka tahap demi tahap masa transisinya
        secara teknis dapat dilakukan. Bila tidak, maka umat Islamlah yang
        akan melakukannya dan waktu yang akan menentukan berhasil tidaknya.
        Keping demi keping dinar hari-hari ini terus dicetak dan makin luas
        diedarkan dan dipakai di seluruh dunia, setahap demi setahap membangun
        blok perdagangan Islam. Wallahu a'lam bish-shawab.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.