Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

Expand Messages
  • Hadi Farid
    Sama sekali bukan bermaksud menunjukkan validitas mas Haryo, apalagi cerita tersebut khusus saya sampaikan dari kawasan pelosok yang selama konflik tidak
    Message 1 of 54 , Dec 30, 2009
    • 0 Attachment
      Sama sekali bukan bermaksud menunjukkan validitas mas Haryo, apalagi cerita tersebut khusus saya sampaikan dari kawasan pelosok yang selama konflik "tidak tersentuh" bahkan "ditinggalkan" warganya.
      Namun saya ingin sedikit menambahkan, bahwa gampong (desa), bukan hanya di Aceh, mulai ada gairah bermusyawarah pembangunan ketika ADD banar-benar diberikan langsung ke desa.

      Saya juga ingin sangat ingin tahu seberapa banyak dari 480an kabupaten/kota di negeri ini yang Musrenbangnya sudah seperti di Kebumen yang diceritakan mas Haryo. Jika sudah banyak, maka akan lebih mudah melanjutkan di daerah-daerah seperti Aceh yang baru belajar, namun jika hanya beberapa saja, ini pertanyaan besar yang harus dicari jawabnya karena musrenbang ini sebenarnya produk teknokrasi yang memiliki sejarah sangat lama mulai jaman Orba yang dulu diberi nama Rakorbang.

      Matur nuwun,

      FH



      From: habirono <habirono@...>
      To: studi-desentralisasi@yahoogroups.com
      Sent: Wed, December 30, 2009 7:00:15 AM
      Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

       

      Apa yang terjadi di Aceh menurut pengamatan dan pengalaman mas Farid
      tentu bukan tolok ukur validitas musrenbang. Saya melihat di Kebumen,
      musrenbang sangat-sangat efektif untuk menggalang partisipasi masyarakat
      desa sekaligus pembelajaran bagi warga masyarakat sebagai warga negara
      yang lebih baik. Musrenbang di Kebumen berjalan sangat ideal mulai dari
      tingkat dusun, desa, dan kecamatan hingga kabupaten. Bahkan kemarin
      (Desember ini) telah diselenggarakan musrenbangcam dimana (yang saya
      saksikan) ada anggota Dewan dari dapil setempat hadir dan menjadi
      Fasilitator dalam diskusi kelompok. Fantastic.
      Salam,
      HH

      Hadi Farid wrote:

      >
      > Saya sempat menelusuri musrenbang ini sampai di desa-desa paling
      > tertinggal di kawasan warisan konflik aceh. Jujur mereka tidak
      > mengenal apa itu musrenbang karena camat hanya mengumpulkan para kecik
      > dan meminta usulannya. Mereka juga tidak mengerti untuk apa usulan
      > yang tiap tahun diminta itu, tetapi mereka merasa tugasnya pada
      > pemerintah dan warganya sudah selesai setelah menyampaikan "usulan"
      > tersebut.
      > Terakhir, mereka mulai terhibur saat kabupaten memberikan ADG (ADD)
      > meskipun hanya 8 juta.
      >
      > Farid Hadi
      > *
      > *
      > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
      > *From:* Fatur <ojodumeh@gmail. com>
      > *To:* studi-desentralisas i@yahoogroups. com
      > *Sent:* Mon, December 14, 2009 3:58:42 PM
      > *Subject:* Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
      >
      >
      >
      > Salam...
      >
      > Depdagri pernah mengeluarkan Surat Keputusan tentang cara-cara
      > melakukan itu (baca : evaluasi Musrenbang dkk), kalau nggak keliru
      > tahun 2007 )?). Terlepas dari itu, mulailah dari bawah (desa) karena
      > itu salah "satu hulu" Musrenbang. Yang juga sering "keliru" umumnya
      > perda aturan dan lain-lain banyak menyoroti Musrenbang Tahunan (RKP),
      > dan jarang yang mbahas "Musrenbang Jangka Menengah". Hal lain lagi,
      > banyak yang berharap "Musrenbang Tahunan yang tentang RKP" sesuai
      > namanya salah satu keluarannya adalah tentang "anggaran", padahal
      > anggaran desa itu baru clear kalau APBDnya jelas, itupun kalau daerah
      > ikhlas dengan ADD dkk.
      >
      > Sukses dan damai...
      >
      >
      > 2009/12/14 partisipasi2001 <malensko@gmail. com
      > <mailto:malensko@gmail. com>>
      >
      >
      >
      > Salam Sejahtera
      >
      > Saya terpikir membuat story news tentang penyelenggaraan
      > Musrenbang, dalam tataran pembuatan konsep, praktek
      > penyelenggaraan, evaluasi, revaluasi, penyelenggaraan yang sedang
      > dan akan dilaksanakan, tapi belum tahu harus mulai dari mana.
      > ada yang bisa bantu?
      >
      >
      >
      >
      > --
      > - F -
      > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --
      > jadikan semua tempat. Sekolah
      > jadikan semua orang. Guru
      > jadikan semua pengalaman. Pembelajaran
      >
      > Currently in Palangka Raya
      >
      >


    • mulia meulaboh mulia
      Mas Dwi Pengrajin memang tidak bisa jauh dari industri, karena industri punya dana dan sumberdaya. kenapa anda terjebak? karena main disekitar jebakan.
      Message 54 of 54 , Feb 7, 2010
      • 0 Attachment
        Mas Dwi

        Pengrajin memang tidak bisa jauh dari industri, karena industri punya dana dan sumberdaya. kenapa anda terjebak? karena main disekitar jebakan. hehehehe............., walaupun sudah tahu namun ketika lalai sedikit saja bisa terjebak juga dengan jebakan tersebut.


        Dari: nandang suherman <nsu62@...>
        Kepada: studi-desentralisasi@yahoogroups.com
        Terkirim: Jum, 15 Januari, 2010 11:59:38
        Judul: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        Salam...semoga tetap semangat....
        Saya teringat dengan tesisnya presentasinya Bung Alamsyah di Solo dalam pertemuan Nasional LGSP-USAID, yg kira2 begini : ada yg bergerak dalam industri Partisipasi dan pengrajin partisipasi. Yg industri identik dengan modal besar, konsultan hebat, rencana kerja yg terukur dan outputnya jelas. Sementara "pengrajin"- bahasa lain kawan2 yg melakukan pendapingan di masyarakat- dan jauh dari gegap gempita publisitas, dana yg sangat terbatas dan bahkan ngeluarin kocek sendiri.
        Ada kecenderungan sekarang mulai tergerus para pengrajin partisipasi yg real melakukan perubahan dan kesadaran kritis warga berpindah menjadi "pekerja" di industri Partisipasi. Contohnya bukan orang lain, saya sendiri..he. ..he...yg sdh rada terjebak dengan "industri" partisipasi atau apapun namanya. Tapi paling tidak, saya masih tetap untuk terlibat di daerah sendiri dalam proses-proses advokasi kebijakan dan musrenbang, agar tetap bisa berpijak kepada "bumi" dan tdk tercerabut dari akarnya. Management waktu dan komitmen menjadi sangat penting.

        NSU


        From: Rianingsih Djohani <riadjohani@yahoo. com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Thu, January 14, 2010 6:34:43 PM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        Mas Ryan, kelihatannya emang LSM harus kerja di sisi masyarakat sajalah krn kalow mencoba mengubah dari pihak pemda, cenderung begitu terus. Jadi penasihat pemerintah biarlah jadi tugas konsultan, haha.

        Saya kira track usaha LSM yang bagus ya membuat jaringan CSO tingkat kab../kota utk menggalang masyarakat peduli anggaran seperti FDM, FDA, Koalisis Pendidikan, dan sejenisnya. Tapi yg belum ketemu adalah pemantik api yg membuat masyarakat tersulut seperti kasus Prita gitu lho. Masyarakat bergerak utk menuntut keadilan bagi Prita.

        Gimana ya caranya agar muncul hal seperti itu utk isu anggaran publik? Aneeeh banget masyarakat kita ini.
        • Ada anak bunuh diri krn ortunya gak mampu bayar uang sekolah - yah berita biasa saja;
        • Ada kasus-kasus kurang gizi di tengah kemakmuran kota - yah adem juga;
        • Biaya sekolah yang ampun-ampunan mahal - yah mau gimana lagi.
        Kasus-kasus seperti itu dihubungkan dengan anggaran publik? Ya gak mudeng lah masyarakat. Masih banyak orang yang tdk melihat keterkaitan antara kehidupan keseharian ini dengan tatanan politik yang ada. Selalu terkait dg pikiran praktis/kongkrit seperti begini:
        • Sopir taksi bilang SBY is very good krn apa? krn anaknya yg pinter bisa masuk SMPN-5 Bdg (sekolah elit) dg adanya program pendidikan gratis (Catatan: Pujian di saat penerimaan, jadi belum tahuuuu dia arti gratis yang sebenarnya).
        • Sopir taksi yg lain bilang SBY is very bad krn apa? krn sekolah mahal banget dan anaknya udah SMA ke atas semua (Catatan: Pendidikan gratis kan hanya utk SD dan SMP).
        Tapi kenapa sih masyarakat cenderung mengaitkan permasalahannya dengan SBY? Bukan dg walikota atau bupatinya? Hahaha. Samplingnya sopir-sopir taksi neh.

        Mas Farid, jangan melet genit yah... hahaha.

        Ria




        From: Hadi Farid <faridhadi@yahoo. com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Thursday, January 14, 2010 10:07:03
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        maaf kang nandang, di tempat kami ada istilah untuk pengalaman seperti mas Rian itu dengan bahasa olok2 "wah... melet mas". mungkin maksudnya hampir sama dengan "cape deh". gitu saja kok...


        From: nandang suherman <nsu62@yahoo. com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Wed, January 13, 2010 5:37:13 PM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        Maksudnya apa Mas HF......

        NSU


        From: Hadi Farid <faridhadi@yahoo. com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Wed, January 13, 2010 5:13:31 PM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         


         


        From: ryan <wps@.... com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Wed, January 13, 2010 1:27:59 PM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        

        salam musrenbang!! (semoga masih ada hehehehe.... )
         
        Sepakat teh Ria, kita harus bisa memulai dari diri kita sendiri (desa/kelurahan kita, kecamatan, skpd, forum skpd, kota/kabupaten dimana kita tinggal), fenomena daerah lain adalah sebuah pelengkap bagi pembelejaran (yang baik, bisa di contoh) bagi daerah kita...
         
        Saya di Salatiga, pada awal tahun lalu mengadakan research kecil dengan mengamati musrenbang dari tingkat kelurahan sampai dengan kota (tanpa proyek dari manapun... hehehehe... & juga tidak berdasarkan HOK). Satu yang ingin saya lakukan adalah mencoba memberikan masukan atau mengelaborasi bagian mana musrenbang di daerah-2 lain yang bisa diadop oleh salatiga. Kepala Bappeda sudah ok' dengan ini. Tapi yang terjadi ketika akan memberikan masukan hasil researc kecil tadi, kepala bappedanya diganti... mulailah saya melakukan pendekatan lagi pada kepala bappeda yang baru.
         
        Singkat cerita, dengan kepala Bappeda yang baru sudah mulai ada pembicaraan intens soal permasalahan musrenbang di salatiga, mulai ada titik temu. yang terjadi saat ini musrenbang tinggal beberapa waktu lagi, ee... kepalanya kembali diganti.
         
        Pertanyaan saya; apakah saya harus kembali memulai dari awal terus menerus menghadapi fenomena pergantian kepala SKPD yang di beberapa daerah berjalan cukup cepat... mau mulai dari kelurahan, mereka selalau bilang wah harus ada persetujuan dari bappeda dulu mas... Cape' jadinya...
         
        Pencoba penggiat musrenbang di daerahnya
         
        RYAN
         
        ----- Original Message -----
        Sent: Wednesday, January 13, 2010 10:28 AM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        Salam,
        Berbagi tugas/peran ada bagusnya, dengan dilandasi semangat satu visi bahwa perubahan kearah yg lebih baik. Musrenbang yg terjadi selama ini prakteknya beragam walaupun payung hukumnya sama, dan itu bagian dari potret nyata dan apa adanya.
        Peningkatan kualitas musrenbang telah dilakukan oleh berbagai pihak (Pemerintah, Penggiat, LSM termasuk Pengamat (yg sering berkomentar tapi tdk mau terlibat langsung karena sdh tahu enak mengamati daripada terlibat langsung untuk melakukan perubahan, karena cukup sulit dan perlu waktu dan energi yg tdk sedikit...he. .he..) tapi paling tidak menurut saya, inter aksi multi pihak tersebut akan memberikan percepatan terhadap perubahan musrenbang kearah yg lebih baik. Kalaupun disana-sini ada "keluhan" "sindiran" "kekecewaan" sdh semestinya juga bisa diapresiasi dengan bijak dan dijadikan sebagai bahan masukan dan sekaligus dorongan untuk bekerja lebih keras lagi. Saya mungkin termasuk yg bersikap seperti itu, sekalipun saya sendiri sdh sulit dipoisikan sebagai penggiat murni atau pengamat, saya mungkin di area "abu-abu" karena bisa berperan sebagai pelaku langsung kalau sdg berinteraksi di Sumedang, tapi bisa menjadi "pendamping dan Pengamat" kalau melakasanakan program..he. .he...
        Tapi, ada perasaan yg sama bahwa Musrenbang semestinya didorong menjadi arena pembelajaran politik warga, agar warga bisa memperjuangkan kebutuhannya secara langsung dan sekaligus terjadi proses pembelajaran yg sangat baik dan berharga bagi peningkatan kapasitas warga...itu yg saya alami dan rasakan sampai hari ini.
        kembali ke diskusi kita ttg apakah musrenbang bisa menjadi tolok ukur terhadap peningkatan kesejahteraan warga? menurut saya sangat bisa sekali. Prasyaratnya adalah, proises musrenbang harus betul-betul dilakukan secara prosesnya partisipatif, dilaksanakan dengan persiapan yg matang, waktu yg cukup, peserta yg terbuka, demokratis dalam pengambilan keputusan, dst-nya (seperti yg sdh sering dinyatakan oleh para pengamat...he. .he...)
        Berapa lama itu bisa terjadi?...tergantu ng juga situasi politik lokal, ada tidaknya aktor lokal yg konsisten dengan isue tersebut, dan yg paling penting kemauan dari penggiat di amsyarakatnya sendiri.. Seperti kata Mbak Ria, kalau kita saja "gengsi" untuk terlibat di tempat tinggal kita, padahal kita "pendekarnya Partisipasi" , mindset kita yg memandang bahwa kerja-kerja seperti itu harus berdasarkan HOK...karena terbiasa dengan Proyek....tidak ada upaya untuk memul;ai dan melakukan dengan kemampuan sendiri (istilah AA GYM, dimulai dari diri sendiri, saat ini, dan yg kita mampu), maka jangan haraap Musrenbang di tempat tinggal kita akan berubah sendirinya.. ...
        Merespon Mbak Ria, saya sepakat...ayo kita mulai terlibat di kelurahan kita, kecamatan dst-nya untuk bermusrenbang, mungpung ini momentnya yg pas di Bulan Januari..... .
        Dan setelah kita terlibat, lakukan refleksi untuk menjawab Pertanyaan Mas Dwi ttg relevansinya Musrenbang dengan peningkatan kesejahteraan warga....saya yakin kita akan mendapatkan jawaban dan sekaligus pengalaman yg sangat berharga dan yang paling penting akan terjadi pengayaan "kebatinan" kita terhadap Musrenbang.. ..semoga. ....

        Nandang Suherman
        Pelaku, Penggiat, "Pendamping Proyek Musrenbang" "Pengamat" Musrenbang
         

        From: Ria Djohani - SDM <ybm-sdm@indo. net.id>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Tue, January 12, 2010 3:04:37 PM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        

        Bentul, eh, betul Mas Dwi.....
         
        Kerja-kerja LSM sekarang tidak lagi filantropik, berbakti ke masyarakat atau atas nama masyarakat pun berbasis HoK, hahaha. Itu kalau kita kerjanya untuk proyek musrenbang, bukan kerja pendampingan/ pengorganisasian masyarakat lagi. Yah, kalau modus intervensi musrenbang didominasi yg seperti ini, punten wae, jangan dulu dievaluasi dampak musrenbang thd peningkatan kesejahteraan masyarakat.. .. Sebab musrenbang tdk akan berjalan dengan sendirinya hanya krn sudah diciptakan pemerintah.
         
        Kenapa kita tidak pelajari/evaluasi modus kerja-kerja LSM ttg musrenbang dan penganggaran daerah. 
         
        Salam
        Ria Djohani
         
         
         
        ----- Original Message -----
        Sent: Tuesday, January 12, 2010 11:54 AM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        bahasa lugasnya, kita, pengamat atau pegiat atau apapun namanya udah jadi bagian dari masalah itu. begitu, mbak?

        dwi joko widiyanto
        www.dwijoko. wordpress. com
        mobile: 081394098770

        --- On Mon, 1/11/10, Rianingsih Djohani <riadjohani@yahoo. com> wrote:

        From: Rianingsih Djohani <riadjohani@yahoo. com>
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Date: Monday, January 11, 2010, 6:16 PM

         

        Hahaha, 100 tahun pun kita akan melangkah di sini saja, kalau pendampingan musrenbang dilakukan dengan gaya mie instant seperti istilah mas Haryo. Lha, sebagian LSM hanya mendampingi event-event musrenbang, bukan pengorganisasian masyarakat. Sedangkan sebagian LSM lagi tanpa sungkan-sungkan cuma sibuk menjadi komentator (pengamat, istilah Kang Nandang).... kayak saya.  Hahaha. Seenaknya bilang musrenbang dodol atau pegiat musrenbang cendol,, padahal gak ngapa-ngapain. Hahaha. Sorry ya.... pembagian tugas kaleee.
         
        Karena saya percaya bahwa perlu gerakan politik utk merebut hak warga akan kesejahteraan, menurut saya, musrenbang sebagai alat tunggangan atau alat perjuangan,masyarak at itu harus diintervensi (dibantu) kalangan LSM.
         
        Tapi kalau kalangan aktivis (baca: LSM) sudah jadi kalangan yang doyannya makan mie instant, ya diskusi ini gak akan melangkah lebih jauh lagi.... Masalahnya ada di aktivis LSM-nya kok, udah kurang gizi.... hahaha. Saran kongkrit saya, kita coba diskusikan pendampingan msurenbang di tempat tinggal kita masing-masing. Strategi dan taktiknya bagaimana agar menjadi gerakkan kesadaran politik masyarakat.. ..  Ini menjadi praktek kita sendiri (daily life), bukan sebagai proyek pendampingan musrenbang yg kata donor cuma untuk 4 bulan saja (lha musrenbang mah harus didampingi bertahun-tahun kok untuk bisa sampai ke dampak perubahan). Lagipula pendampingannya tdk live in, cuma saat event musrenbang saja..
         
        Bagaimana musrenbang kelurahan dan kecamatan di Kota Bandung? Lha, aku juga masih belum becus juga menemukan entry point untuk masuk kesini di kelurahanku sendiri. Ada yang bisa kasih saran?  Tanya ama perangkat kelurahan soal musrenbang, mendelik curiga. Tanya ama orang pemkot, jawabnya: Adaaaaaa.... .musrenbang kelurahan di Kota Bandung. Silakan buka web musrenbang Kota Bandung, kosong melompong.
         
        Aku akan berminat banget kalau forum ini mendiskusikan tentang bagaimana strategi LSM di kota/kabupaten masing-masing mengembangkan intervensi yang murni dari kepedulian kita. Sesuatu kontribusi pemikiran yang lebih nyata ketimbang sekedar diskusi doang, dan kemudian mendorong tindakan dari kita pribadi masing-masing.
         
        Rasa bersalah, itu yang saya rasakan saat ini krn saya pun tidak memperjuangkan hak-hak saya sendiri, misalnya: tidak acuh dengan musrenbang di tempat tinggal sendiri, doing nothing thd tidak meratanya pelayanan PDAM di pemukiman perkotaan tempat tinggal saya, doing nothing terhadap penggunaan dana BOS yang tidak pas, dsb., dsb.
         
        Aku akan berminat banget kalau forum ini mendiskusikan tentang bagaimana strategi LSM di kota/kabupaten masing-masing  untuk mengembangkan intervensi yang murni dari kepedulian kita. Sesuatu kontribusi yang lebih nyata dari kita pribadi masing-masing.
         
        Semoga kita dapat berbuat sesuatu. Semoga saya bisa. Sebelum minta masyarakat melakukannya. Semoga. Semoga. Atau saya pensiun aja dari LSM ketimbang jadi orang yang hipokrit, hahaha. Habis mas Farid yang pejuang musrenbang pun sudah pesimis nada tulisannya.

         

        Salam

        Ria Djohani

         
         


        From: nandang suherman <nsu62@yahoo. com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Monday, January 11, 2010 17:03:32
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        Ha..ha.....terimaka sih sudah diingatkan oleh Mas Dwi, maksudnya supaya diskusi kita lebih maju dan berkembang, saya sepakat.
        Respon Mbak Ria dan Mas Haryo saya juga setuju, dan saya kira semua sepakat bahwa musrenbang adalah salah satu "alat" untuk menju ke kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat tdidak serta merta bisa dinikmati dan diberikan dengan gratis oleh "negara"/Penguasa, dan harus direbut, salah satu arenanya adalah musrenbang, dengan prasyarat bahwa "peserta" musrenbang melek terhadap hak-hak politik warga. Prasyarat tersebut tdk serta merta ada, harus ada interaksi sesama warga, salah satunya di arena musrenbang, seperti telor dengan ayam.

        Nah kalau pertanyaan berikutnya, setelah warga melek politik dan ikut musrenbang, secara otomatis kesejahteraan bisa diraih? Apa indikator kesejahteraan? salah satunya terpenuhinya kebutuhan dasar warga.
        Musrenbang, bisa dijadikan arena pendidikan politik warga dan sekaligus untuk merebut sumber daya publik, agar sesuai dengan kebutuhan warga. Disinilah ada relevansinya pertanyaan Mas Dwi : kalau keberhasilan Musrenbang itu bisa diukur dari terpenuhinya kebutuhan dasar warga!!! tapi memang perlu waktu dan komitmen yg kuat dari para pihak, termasuk para penggiat musrenbang dan para pengamatnya. ..he..he. ..
        Salam
        NSU

        From: dwi joko widiyanto <jokodwi2001@ yahoo.com>
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Sent: Mon, January 11, 2010 4:29:53 PM
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang

         

        Hehehe... keren analogi mie instan-nya, Mas. Saya suka.

        Maksud saya begini, lho. Pada Juli-Agustus 2007, di milis simfoni desa, kita mendiskusikan habis soal Musrenbang. Yang ikut diskusi antara lain Ade Cahyat (GTZ Kalimantan Timur), Eddy Marbyanto (GTZ Kalimantan Timur), Muhammad Nadjib (LOGICA Project, Aceh), Ishak Salim (Makasar), Paul Boon (Ausaid-ACCESS, NTT), Tumpal Saragi (YBM2, Medan), Erfan Maryono (LP3ES, Jakarta), Pietra Widiadi (CEPAD Sidoarjo), Nandang Suherman (Forum Jatinangor, Sumedang), I Nyoman Oka (Mitra Samya, Nusa Tenggara Barat), Suhirman (FPPM, Bandung), Syahrul Mustofa (LEGITIMID, Sumbawa), Eri Trinurini Adhi (Bogor), dan Susmanto (Inspirasi, Jakarta).

        Saya sudah juga merangkum dan mempublikasikan kembali diskusi itu dalam sebuah notes berjudul "Menimbang Kembali Metode Partisipasi dalam Musrenbang".

        Kalau liat kembali arsip itu, meskipun tetap penting, apa yang didiskusikan hari-hari ini tidak lebih maju dari yang kita diskusikan 3 tahun lalu. Jadi sebagai moderator, terutama supaya ada bahan nulis notes yang baru lagi (hehe...), saya menawarkan topik diskusi lanjutan. 


        dwi joko widiyanto
        www.dwijoko. wordpress. com
        mobile: 081394098770

        --- On Mon, 1/11/10, habirono <habirono@gmail. com> wrote:

        From: habirono <habirono@gmail. com>
        Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
        To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        Date: Monday, January 11, 2010, 2:25 PM

         

        Mas Dwi,
        Bulan Januari ini adalah bulan MusrenbangDES. Dan Februari besok bulam
        MusrenbangCAM. Lalu Maret adalah bulan MusrenbangKAB/ KOT.
        Bulan-bulan ni adalah bulan-bulan RITUAL Musrenbang yang akan jadi
        membosankan dan hanya menciptakan trauma partisipasi jika
        praktek-praktek (baca: ritual) Musrenbang tidak mampu memenuhi hak-hak
        dasar warga desa.
        Praktek-praktek ritual musrenbang yang partisipatif ini baru berjalan 2
        - 3 tahun terakhir. Kalau saja ada penggiat NGO atau LSM yang sudah
        keburu alergi, percayalah bahwa mereka yang alergi ini adalah penggiat
        yang biasanya sarapan mie instant, lalu makan siang di Fast Food, dan
        makan malam berharap ada kenduri di rumah tetangga.
        Salam,
        HH

        dwi joko widiyanto wrote:
        >
        >
        > Arsip milis desentralisasi dan simfoni desa mencatat musrenbang
        > sebagai topik yang paling kerap dibahas para pegiat desa, bahkan
        > sampai hari-hari ini. Jika boleh disimpulkan, diskusi itu menyepakati
        > bahwa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, musrenbang penting,
        > setidaknya potensial sebagai ruang transaksi kebijakan.
        >
        > Yang menarik untuk didiskusikan berikutnya adalah apakah kemeriahan
        > musrenbang itu berbanding lurus dengan pemenuhan hak-hak dasar warga
        > desa? Pertanyaan ini juga mengemuka dalam diskusi sharing learning 6
        > daerah di Topaz Bandung beberapa waktu lalu.
        >
        > -dwi-
        >
        > --- On *Fri, 1/8/10, habirono /<habirono@gmail. com>/* wrote:
        >
        >
        > From: habirono <habirono@gmail. com>
        > Subject: Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
        > To: studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        > Date: Friday, January 8, 2010, 2:42 PM
        >
        >
        >
        > Cocok...... saya setuju sekali. Juga dengan tambahan penjelasan Mas
        > Nandang sebelum email ini mengenai kondisi proses musrenbang di
        > Sumedang.
        > Semua memang butuh proses, waktu, tenaga, pikiran dan biaya.
        > Di Sumedang memang sudah ada perda yang menjamin terjadinya proses
        > itu,
        > juga di Kebumen. Tetapi tentu semua kita percaya jika hanya perda dan
        > perda saja yang diandalkan, pastilah prosesnya akan kepentok dan
        > macet
        > (baca: mengecewakan) karena pasti perda tidak bisa otomatis "jalan
        > sendiri" jika tidak dibarengi implementasi dan dorongan yang
        > (cenderung)
        > ngotot dari pihak CS.
        > Tantangan buat FPPM dan FPPD sekarang adalah bagaimana mendorong
        > proses
        > implementasinya ini berdasarkan pada aturan perundangan yang ada.
        > Jika
        > aturan perundangannya belum ada, bagaimana juga didorong supaya ada.
        > FPPD dan FPPM adalah wadah pembelajaran bersama. Bagaimana mengajak
        > semua orang bisa berenang semua, bila perlu membuat kolam renangnya
        > bersama. Jangan satu orang merasa lebih hebat dari yang lain meski
        > kenyataannya begitu. Semangat kebersamaan ini yang harus terus
        > dikembangkan dan didorong meski setiap orang sah-sah saja melihat dan
        > mengatasi masalah secara berbeda.
        > Pluralitas adalah keniscayaan, oleh karenanya sinergitas yang harus
        > dikembangkan.
        > Percayalah bahwa proses-proses yang terjadi seperti di Kebumen dan
        > Sumedang itu bukan proses yang instant yang sekali tepuk tangan maka
        > semua orang datang dan bersorak horee......
        > Salam,
        > HH
        >
        > Hadi Farid wrote:
        > >
        > > Iya nih sudah ganti tahun. Selamat Tahun Baru juga gih, dan
        > mudah2an
        > > tahun 2010 ini tidak kering ide pembaharuan.
        > > Saya selalu percaya kalau CS adalah kunci perubahan yang
        > efektif, maka
        > > harapan seperti di Kebumen, Semedang dan juga di Kabupaten Bandung
        > > yang dilakukan kawan-kawan CS bagaimana dapat terjadi di semua
        > daerah..
        > > Mungkinkah? Pasti mungkin, cuma kayak mana caranya? Itu lho mas
        > yang
        > > sampai hari ini belum ada yang dapat meyakinkan saya.
        > > Karena sudah puluhan tahun tidak terjadi juga, trus siapa yang
        > harus
        > > bertanggungjawab? Ini kan repot, kalau tidak ada yang mau
        > > bertanggungjawab.
        > > Jadi kalau kolamnya kotor kalau saya ya tetap saja pingin berenang,
        > > karena itu menyehatkan, tapi saya akan cari kolam yang bersih dan
        > > tidak bawa penyakit. Jadi musrenbang ya boleh saja asal tidak bawa
        > > penyakit kecewa.
        > > Ini kan ibarat pepatah "kalau mau membunuh tikus masak harus
        > dibakar
        > > lumbungnya" nah kalau Gus Dur (alm) pernah mengatakan "kalau
        > > lumbungnya sudah berisi tikus semua gimana?". Maka ya harus
        > dibangun
        > > lumbung baru yang kalau bisa, tikus tidak bisa masuk.
        > > Saya melihat ada hal yang menarik, distribusi ternyata merupakan
        > > instrumen partisipasi yang lebih efektif, ini juga teknokrasi. Di
        > > daerah-daerah yang sudah mendistribusikan (wewenang dan uang) ke
        > desa,
        > > partisipasi pembangunannya juga lebih baik (iki juga hasil advokasi
        > > sampean lho mas).
        > > Jadi menurut saya dua instrumen teknokrasi (musrenbang dan
        > distribusi)
        > > ini harus digabungkan menjadi satu sistem pembangunan hingga
        > tingkat
        > > desa. Saya juga percaya kok mas, teknokrasi itu baik, cuma karena
        > > lemah implementasinya, maka sering dipecundangi oleh politis.
        > >
        > > Salam hangat,
        > > FH
        > >
        > >
        > >
        > > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
        > > *From:* habirono <habirono@gmail. com>
        > > *To:* studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        > > *Sent:* Thu, January 7, 2010 10:35:50 AM
        > > *Subject:* Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
        > >
        > >
        > >
        > > Hai Mas Farid, emailmu terkirim tanggal 30 Des 2009, tetapi kenapa
        > > setelah setahun (7 Januari 2010) baru nyampe di komputerku ya......
        > > Happy New Year lah yauw...
        > >
        > > Selain di Kebumen, Musrenbang yang bagus kudengar juga terjadi di
        > > Sumedang Jabar. Dari kedua kabupaten ini, kulihat ada faktor
        > pendorong
        > > yang kuat yaitu berkembangnya Civil Society yang konsern pada
        > persoalan
        > > perencanaan pembangunan. Di tempat-tempat lain bukan tidak ada civil
        > > society tetapi yang konsern pada musrenbang sebagai wadah dan proses
        > > pengembangan keterlibatan publik dalam penyelenggaraan
        > pembangunan daerah.
        > > Menurut saya teknokrasi tidak jelek karena ternyata dalam setiap
        > > perencanaan dan penganggaran selalu saja dibutuhkan rincian program
        > > kegiatan yang serinci-rincinya bahkan hingga tampil harga 1 (satu)
        > > kilogram paku dan satu Zaak Semen harus jelas dan
        > terbaca/diketahui oleh
        > > masyarakat. Saya lihat kebanyakan (masyarakat) kita cenderung ingin
        > > "glondongan" -nya aja, enggak mau riweuh/ribet dengan rincian
        > detail yang
        > > dianggap remeh temeh padahal disitu banyak terselip "manipulasi"
        > anggaran.
        > > Sangat menarik buat saya membaca bukunya FPPM "Manual Advokasi
        > Mayarakat
        > > Sipil dalam Siklus Anggaran Daerah". Disana ditunjukkan oleh FDA
        > (Forum
        > > Diskusi Angaran) Bandung bagaimana mereka banyak menemukan
        > "manipulasi
        > > anggaran" yang diselipkan di dalam Anggaran Belanja Tidak
        > Langsung dan
        > > Belanja Langsung. Kawan-kawan FDA Bandung sudah melakukan "Chain of
        > > Custody". Kalau di dunia kehutanan disebut lacak balak, maka didunia
        > > kita bisalah disebut lacak budget atau lacak anggaran.
        > >
        > > Jangan menyalahkan Musrenbang-nya. Tapi bagaimana kita memenuhi
        > > prasyarat penyelenggaraan musrenbang. Dengan kita lain, kalau
        > kita tidak
        > > bisa berenang jangan katakan bahwa kolamnya kotor atau berenang
        > tidak
        > > ada manfaatnya, atau harus bisa berenang adalah prasyarat kalau
        > mau jadi
        > > akabri atau polri.
        > >
        > > Salam,
        > > HH
        > >
        > > Hadi Farid wrote:
        > > >
        > > > Sama sekali bukan bermaksud menunjukkan validitas mas Haryo,
        > apalagi
        > > > cerita tersebut khusus saya sampaikan dari kawasan pelosok
        > yang selama
        > > > konflik "tidak tersentuh" bahkan "ditinggalkan" warganya.
        > > > Namun saya ingin sedikit menambahkan, bahwa gampong (desa), bukan
        > > > hanya di Aceh, mulai ada gairah bermusyawarah pembangunan
        > ketika ADD
        > > > banar-benar diberikan langsung ke desa.
        > > >
        > > > Saya juga ingin sangat ingin tahu seberapa banyak dari 480an
        > > > kabupaten/kota di negeri ini yang Musrenbangnya sudah seperti di
        > > > Kebumen yang diceritakan mas Haryo. Jika sudah banyak, maka
        > akan lebih
        > > > mudah melanjutkan di daerah-daerah seperti Aceh yang baru belajar,
        > > > namun jika hanya beberapa saja, ini pertanyaan besar yang
        > harus dicari
        > > > jawabnya karena musrenbang ini sebenarnya produk teknokrasi yang
        > > > memiliki sejarah sangat lama mulai jaman Orba yang dulu diberi
        > nama
        > > > Rakorbang.
        > > >
        > > > Matur nuwun,
        > > >
        > > > FH
        > > >
        > > >
        > > > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
        > > > *From:* habirono <habirono@gmail. com <mailto:habirono%
        > 40gmail.com> >
        > > > *To:* studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        > > <mailto:studi- desentralisasi% 40yahoogroups. com>
        > > > *Sent:* Wed, December 30, 2009 7:00:15 AM
        > > > *Subject:* Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
        > > >
        > > >
        > > >
        > > > Apa yang terjadi di Aceh menurut pengamatan dan pengalaman mas
        > Farid
        > > > tentu bukan tolok ukur validitas musrenbang. Saya melihat di
        > Kebumen,
        > > > musrenbang sangat-sangat efektif untuk menggalang partisipasi
        > masyarakat
        > > > desa sekaligus pembelajaran bagi warga masyarakat sebagai
        > warga negara
        > > > yang lebih baik.. Musrenbang di Kebumen berjalan sangat ideal
        > mulai dari
        > > > tingkat dusun, desa, dan kecamatan hingga kabupaten. Bahkan
        > kemarin
        > > > (Desember ini) telah diselenggarakan musrenbangcam dimana
        > (yang saya
        > > > saksikan) ada anggota Dewan dari dapil setempat hadir dan menjadi
        > > > Fasilitator dalam diskusi kelompok. Fantastic.
        > > > Salam,
        > > > HH
        > > >
        > > > Hadi Farid wrote:
        > > > >
        > > > > Saya sempat menelusuri musrenbang ini sampai di desa-desa paling
        > > > > tertinggal di kawasan warisan konflik aceh. Jujur mereka tidak
        > > > > mengenal apa itu musrenbang karena camat hanya mengumpulkan
        > para kecik
        > > > > dan meminta usulannya. Mereka juga tidak mengerti untuk apa
        > usulan
        > > > > yang tiap tahun diminta itu, tetapi mereka merasa tugasnya pada
        > > > > pemerintah dan warganya sudah selesai setelah menyampaikan
        > "usulan"
        > > > > tersebut.
        > > > > Terakhir, mereka mulai terhibur saat kabupaten memberikan
        > ADG (ADD)
        > > > > meskipun hanya 8 juta.
        > > > >
        > > > > Farid Hadi
        > > > > *
        > > > > *
        > > > > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
        > > > > *From:* Fatur <ojodumeh@gmail. com <mailto:ojodumeh%
        > 40gmail.com
        > > <http://40gmail. com <http://40gmail. com>>> >
        > > > > *To:* studi-desentralisas i@yahoogroups. com
        > > > <mailto:studi- desentralisasi% 40yahoogroups. com>
        > > > > *Sent:* Mon, December 14, 2009 3:58:42 PM
        > > > > *Subject:* Re: [Studi Desentralisasi] Musrenbang
        > > > >
        > > > >
        > > > >
        > > > > Salam...
        > > > >
        > > > > Depdagri pernah mengeluarkan Surat Keputusan tentang cara-cara
        > > > > melakukan itu (baca : evaluasi Musrenbang dkk), kalau nggak
        > keliru
        > > > > tahun 2007 )?). Terlepas dari itu, mulailah dari bawah
        > (desa) karena
        > > > > itu salah "satu hulu" Musrenbang. Yang juga sering "keliru"
        > umumnya
        > > > > perda aturan dan lain-lain banyak menyoroti Musrenbang
        > Tahunan (RKP),
        > > > > dan jarang yang mbahas "Musrenbang Jangka Menengah". Hal
        > lain lagi,
        > > > > banyak yang berharap "Musrenbang Tahunan yang tentang RKP"
        > sesuai
        > > > > namanya salah satu keluarannya adalah tentang "anggaran",
        > padahal
        > > > > anggaran desa itu baru clear kalau APBDnya jelas, itupun
        > kalau daerah
        > > > > ikhlas dengan ADD dkk.
        > > > >
        > > > > Sukses dan damai...
        > > > >
        > > > >
        > > > > 2009/12/14 partisipasi2001 <malensko@gmail. com
        > > > > <mailto:malensko@ gmail. com <mailto:malensko% 40gmail.com> >>
        > > > >
        > > > >
        > > > >
        > > > > Salam Sejahtera
        > > > >
        > > > > Saya terpikir membuat story news tentang penyelenggaraan
        > > > > Musrenbang, dalam tataran pembuatan konsep, praktek
        > > > > penyelenggaraan, evaluasi, revaluasi, penyelenggaraan yang
        > sedang
        > > > > dan akan dilaksanakan, tapi belum tahu harus mulai dari mana.
        > > > > ada yang bisa bantu?
        > > > >
        > > > >
        > > > >
        > > > >
        > > > > --
        > > > > - F -
        > > > > ------------ --------- --------- --------- ---------
        > --------- --
        > > > > jadikan semua tempat. Sekolah
        > > > > jadikan semua orang. Guru
        > > > > jadikan semua pengalaman. Pembelajaran
        > > > >
        > > > > Currently in Palangka Raya
        > > > >
        > > > >
        > > >
        > > >
        > > >
        > >
        > >
        > >
        >
        >
        >





        New Email names for you!
        Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
        Hurry before someone else does!







        Get your preferred Email name!
        Now you can @... and @rocketmail. com.



        Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini!
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.