Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: kisah pohon apel

Expand Messages
  • Entis Sutisna
    ... From: silvia ramadhina To: Aris Munawar ; althur_222ym@yahoo.com; Abqori Aula ;
    Message 1 of 1 , Mar 7, 2008
    • 0 Attachment


      ----- Forwarded Message ----
      From: silvia ramadhina <terataisilvi@...>
      To: Aris Munawar <arism_awar@...>; althur_222ym@...; Abqori Aula <abqorian@...>; asp_read1@...; aleha_uai@...; as_yono@...; aan_susanto@...; abqorian@...; Haris Budianto <harz_bood@...>; mucharar <b46035dw_ind@...>; cya_nurisa@...; cahya pravitasari <cyapravitasari@...>; cahya18@...; cahaya pagi <mia_cahayapagi@...>; counter85attack@...; deko@...; denny_male@...; djoko_rimba@...; Entis Sutisna <tisna162@...>; eibank@...; eibank@...; ei_bank@...; empatpdk@...; fahdy_azhar@...; fonsonrumampuk@...; gank_kelapa_sawit@yahoogroups.com; hunybunnysweetycutie@...; helmiadam99@...; haris_fte@...; ham_uai <ham_uai@...>; m. ismail <mamad_kewell@...>; jho_kho8711@...; Mr.Wahyu mirzal <kupukupumerahjambu@...>; li3z_l3b4y@...; muslim1312@...; maurudo_21@...; Maulud Mustofa <mauludm@...>; mandrakini@...; novita sari <mitsuke_f@...>; nimas_romansa2002@...; nova.andrianto@...; nadira_imoet@...; prisma4@...; rahmat_suryana@...; surawan_cinta@...; suni_grils@...; srahmatia@...; sitichaerunisa@...; tisna16@...; Tyo_cannavaro_cool@...; theelectrons_uai@...; uci_depok@...; v_i_a_4@...; wong0poeroet@...; wahyu zain <mirzalwahyu@...>; zay_salsabila@...
      Sent: Wednesday, February 27, 2008 17:57:07
      Subject: kisah pohon apel

      --
      Assalamu'alaikum Wr Wb

      KISAH POHON APEL



      Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
      bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya
      hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang
      daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian
      pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

      Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
      bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
      pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,"
      pinta pohon apel itu.

      "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak
      lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
      membelinya."

      Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau
      boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
      untuk membeli mainan kegemaranmu."

      Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di
      pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak
      pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

      Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
      datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
      "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk
      keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
      menolongku?"

      "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan
      rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
      Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu
      dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak
      lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel
      itu merasa kesepian dan sedih.

      Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
      sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata
      pohon apel.
      "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang.
      Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal
      untuk pesiar?"

      "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
      menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
      bersenang-senanglah."
      Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
      yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
      pohon apel itu.

      Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
      "Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
      untukmu."
      "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab
      anak lelaki itu.
      "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon
      apel.
      "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.
      "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.
      Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata
      pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

      "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya
      membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama
      meninggalkanmu."

      "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik
      untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
      akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
      Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat
      gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

      Ini adalah cerita tentang kita semua.
      Pohon apel itu adalah orang tua kita.
      Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
      kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
      memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
      Tak peduli apa pun, orang tua kita
      akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
      membuat kita bahagia.

      Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
      bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
      memperlakukan orang tua kita.
      Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak teman.
      Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.

      Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya;
      dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
      Kita...


      Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.