Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

DUKUNGAN UNTUK MEMINTA PENGHAPUSAN UTANG KEPADA PEMERINTAH JERMAN

Expand Messages
  • wahyu
    DUKUNGAN UNTUK MEMINTA PENGHAPUSAN UTANG KEPADA PEMERINTAH JERMAN Teman-teman Yth, Sehubungan dengan adanya pertemuan G8 di Heiligendamn, Jerman pada tanggal
    Message 1 of 1 , Jun 1, 2007

      DUKUNGAN UNTUK MEMINTA PENGHAPUSAN UTANG KEPADA PEMERINTAH JERMAN

       

      Teman-teman Yth,

       

      Sehubungan dengan adanya pertemuan G8 di Heiligendamn, Jerman pada tanggal 6-7 Juni mendatang, INFID akan mengirimkan surat kepada Pemerintah Jerman untuk menuntut penghapusan utang pembelian kapal-kapal perang bekas Jerman. Inisiatif ini adalah bagian dari kampanye INFID untuk meminta penghapusan utang yang masuk dalam kategori " illegitimate debt" atau "utang tidak sah". Kami juga mengirimkan surat kepada anggorta negara-negara G8 lainnya untuk meminta dukungan.

      Sebagaimana yang sudah diketahui, Indonesia adalah termasuk negara Selatan yang harus memikul beban utang yang cukup berat. Utang pemerintah kita saat ini mencapai Rp 1.314 trilyun. Tiap tahunnya pemerintah harus mengalokasikan dana sekitar Rp 70 trilyun untuk membayar utang-utang tersebut -- jauh lebih besar dari yang dilokasikan untuk dana-dana sosial seperti kesehatan, pendidikan, perumahan, lingkungan, dll. Beban tersebut menghambat pemerintah untuk dapat mengatasi masalah kemiskina di Indonesia .

       

      INFID percaya bahwa sebagian besar dari utang yang harus kita tanggung tersebut adalah tidak sah atau illegitimate, karena dibuat tanpa melalui persetujuan rakyat dan banyak pula yang tidak bermanfaat bagi rakyat. Karena itu rakyat, terutama rakyat miskin, tidak boleh dikorbankan untuk membayar utang-utang yang tidak bermanfaat tersebut. Salah satu contoh kasus yang jelas mengenai hal ini adalah utang yang harus (sebagian sudah) kita bayarkan kepada pemerintah Jerman untuk pembelian 39 kapal perang bekas negara Jerman Timur.

       

      Oleh karen itu, kami memohon dukungan teman-teman dalam inisiatif ini, hanya dengan cara mengirimkan nama dan organisasi anda ke infid@infid. org, atau dengan membuka link http://infidblog. blogspot. com dan memberikan komentar anda (jika ada).


      Di bawah ini adalah surat yang INFID tulis untuk Kanselir Jerman Ms. Angela Merkel.

       

      Terima kasih. Dukungan anda akan sangat berarti bagi INFID dan rakyat Indonesia .

       

      Untuk koordinasi lebih lanjut, hubungi Nadia Hadad ( nadia@infid. org) , Wahyu Susilo ( wahyu@infid. org ) dan INFID European Liaison Office, Frans Panggih Purwoko( F.Purwoko@infid. be )


      Salam,

      SEKRETARIAT INFID

       
      ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- -----
       
      Jakarta , 28 Mei 2007
       
      No: 045/ INFID-ED/V/2007
       
      Yang Mulia
      Dr. Angela Merkel

      Kanselir Republik Federal Jerman

       

      Re: Penghapusan Utang atas 39 Kapal Perang Bekas Jerman Timur

       
      Yang Mulia Dr. Angela Merkel
       

      INFID menyampaikan selamat atas terselenggaranya Pertemuan Tingkat Tinggi G-8 di  Heiligendamn pada tanggal  6 – 8  Juni 2007. INFID berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat untuk pembangunan dan penghapusan kemiskinan di dunia.

       

      Masyarakat internasional sekarang ini mendesak agar Pertemuan Tingkat Tinggi G-8 ini merealisasikan janjinya untuk mendukung upaya penghapusan kemiskinan di Afrika dan belahan dunia selatan lainnya, terutama melalui mekanisme penghapusan utang tanpa syarat. Janji tersebut dicetuskan dalam Pertemuan Tingkat Tinggi G-8 pada tanggal 1 Juli 2005 di Gleanegles, Scotlandia. .

       
      Yang Mulia Dr. Angela Merkel

      Sebagai organisasi non pemerintah yang berbasis di Indonesia, INFID mengingatkan bahwa Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Federasi Jerman telah menandatangani perjanjian utang untuk pembelian 39 Kapal perang bekas Jerman Timur pada tanggal 10 Desember 1996 termasuk biaya perbaikan dan pengiriman  ke Indonesia.

       

      39 Kapal perang dari jenis Korvet dan Frosh penyapu ranjau tersebut ternyata sama sekali tidak memberikan manfaat bagi pemerintah dan Rakyat Indonesia . Sebagian besar kapal tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik dan bahkan tidak dapat digunakan sama sekali.

       

      Agar kapal-kapal tersebut dapat berfungsi, pada tanggal 17 Oktober 2000  pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman kembali menandatangani perjanjian utang untuk perbaikan kapal-kapal tersebut  sebesar EUR 28.142.222.00. Dan pada tanggal 18 Januari 2001 pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman kembali menandatangani perjanjian utang sebesar EUR  12.319.712 dan EUR 980.414.43.

       

      Sampai saat ini diidentifikasi hanya 14 Kapal yang masih ada dalam daftar inventaris Alat Utama Sistem Pertahanan Indonesia (lihat daftar terlampir), selebihnya sudah dinyatakan sebagai besi tua.

       
      Yang Mulia  Dr. Angela Merkel,

      Besar  utang (pokok dan bunganya) yang timbul  akibat perjanjian pembelian, perbaikan dan pengiriman 39 Kapal perang bekas Jerman Timur yang ditanda tangani pada tanggal 7 Agustus 1994, 10 Desember 1996, 17 Oktober 2000 dan  18 januari 2001 sangatlah besar artinya bagi Indonesia.

       

      Jumlah itu akan sangat bermanfaat bagi rakyat Indonesia  jika digunakan untuk mengatasi kemiskinan dan mendukung upaya pencapaian  MDGs seperti:  mengatasi kasus-kasus kekurangan gizi pada anak-anak dan orang dewasa, menurunkan angka kematian ibu melahirkan, perbaikan sekolah-sekolah, penanggulangan penyakit menular seperti HIV/AID, Malaria dan turbecolosis  (TBC), dan membantu rakyat miskin dalam mendapatkan akses terhadap air bersih. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu Negara di Asia Pacific yang terancam gagal untuk mengatasi kemiskinan dan mencapai tujuan MDGs karena masih minimnya alokasi budget untuk kesejahteraan sosial.

       
      Yang Mulia Dr. Angela Merkel,
       INFID percaya, bahwa dengan hanya memindahkan 39 kapal bekas Jerman Timur yang tidak dapat berfungsi, pemerintah Jerman telah mendapatkan keuntungan yang besar, karena pemerintah Jerman telah mendapatkan solusi untuk membuang limbah produksi yang menjadi bebannya.

       

      Biasanya, Negara-negara maju justru harus mengeluarkan dana cukup besar untuk bekerja sama dengan perusahaan/individu yang tidak bertanggung jawab untuk membuang limbahnya ke Negara-negara miskin dan berkembang. 

       

      Untuk itu, INFID meminta agar pemerintah Jerman membatalkan semua perjanjian utang atas 39 kapal bekas Jerman Timur yang dibuat sejak tahun 1994. INFID juga meminta agar pemerintah Jerman menghapuskan secara unilateral atas utang yang timbul dari perjanjian perbaikan kapal perang pada tahun 2000 dan 2001 karena utang tersebut sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. INFID mengingatkan bahwa Jerman sebagai salah satu Negara maju bertanggung jawab atas tercapainya goal 8 dalam MDGs: antara lain dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 0,73% GDP-nya untuk bantuan luar negeri dan mengupayakan pengurangan beban utang yang harus ditanggung oleh Negara miskin (Terlampir data posisi utang atas 39 kapal bekas Jerman Timur).

       
      Yang Mulia Dr. Angela Merkel,

      Kami sangat menghargai kerjasama yang erat antara Pemerintah Republik Federasi Jerman dan Pemerintah Indonesia , dan antara Masyarakat Jerman dan Masyarakat Indonesia yang sudah berlangsung lama dan sangat positif. Namun berkaitan dengan utang untuk pembelian 39 kapal perang bekas tersebut di atas, kami perlu mengingatkan Yang Mulia:

      1. Beberapa di antara kapal perang tersebut di masa lalu digunakan untuk perang melawan Rakyat Aceh; orang Aceh yang tidak berdosa menanggung akibat penggunaan kapal-kapal tersebut.
      2. Sebagian besar kapal-kapal tersebut tidak dapat digunakan sejak kedatangannya di Indonesia ;
      3. Sejumlah besar Rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan, kekurangan air bersih, tidak memiliki akses terhadap pendidikan dasar yang baik dan pelayanan kesehatan yang baik; sejumlah besar perempuan Indonesia memiliki kesulitan untuk akses kepada pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi, etc. Dana untuk membayar kapal-kapal perang yang tidak berguna sama sekali ini akan sangat berarti buat Rakyat Indonesia yang masih miskin.
      4. Media nasional dan internasional sudah berulang kali mempublikasikan bahwa perjanjian-perjanji an utang yang berkaitan dengan 39 kapal perang tersebut mempunyai indikasi korupsi; dan jika terbukti benar perjanjian-perjanji an ini bisa dipastikan melanggar Konvensi Vienna 1969 tentang Hukum Perjanjian.
      5. Perjanjian-perjanji an utang ini juga potensial melanggar Undang-Undang Dasar 1945, terutama pasal 11 tentang perjanjian internasional termasuk perjanjian utang, karena perjanjian-perjanji an utang ini tidak melalui persetujuan dan diratifikasi oleh DPR.
       
      Yang Mulia Dr. Angela Merkel,

      INFID berharap dengan semangat solidaritas global untuk penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan MDGs, pemerintah Jerman memenuhi permintaan ini.

       

      Kami sangat menghargai inisiatif dari Pemerintah Jerman untuk menjalankan debt swap untuk utang Indonesia . Namun kami menilai debt swap belum cukup untuk membantu mengurangi beban pembangunan Rakyat Indonesia . Masih diperlukan langkah yang tegas dan sistematis untuk mengurangi beban utang dengan menghapus utang yang tidak berguna untuk Indonesia . Selain itu kami berharap bahwa Jerman bias menjadi pelopor untuk menjalankan komitmen global partnership dalam rangka financing for development, melalui kerjasama langsung baik melalui pemerintah Indonesia maupun melalui berbagai NGOs baik internasional maupun nasional.

       

      Sambil menunggu tanggapan positif dari Jerman, INFID sebagai bagian dari masyarakat sipil menyampaikan selamat dan sukses atas berlangsungnya pertemuan G-8.

       
      Hormat kami,
       
       
       
      Donatus Klaudius Marut
      Executive Director
       
       

       
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.