Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Berbahasa Satu, Bahasa Telvisi: Hiburan

Expand Messages
  • Remotivi Remotivi
    Berbahasa Satu, Bahasa Telvisi: Hiburan Oleh: Roy Thaniago Para pedagang buku bekas itu tertawa. Mereka menertawakan saya yang keluar-masuk kios mencari buku
    Message 1 of 1 , Nov 2, 2012
    • 0 Attachment
      Berbahasa Satu, Bahasa Telvisi: Hiburan
      Oleh: Roy Thaniago

      Para pedagang buku bekas itu tertawa. Mereka menertawakan saya yang keluar-masuk kios mencari buku Menghibur Diri Sampai Mati. Ditulis oleh Neil Postman, buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 1995 dari judul aslinya Amusing Ourselves to Death, yang terbit pada 1985. Buku yang tergolong lawas memang. Tapi pasti bukan itu alasan mereka menertawai saya.

      Mungkin ini: menghibur diri sampai mati. Terasa konyol, memang. Untuk apa kita menghibur diri sampai mati, begitu mungkin pikir mereka. Bukankah kita memang suka dihibur? Bukankah kita menantikan hiburan tiap detiknya? Justru, hidup ini akan lebih baik jika semua hal yang dialami dan dikerjakan bermakna sebagai hiburan. Tapi, adakah hiburan yang bisa membikin kita mati? Adakah kita bisa dimatikan oleh sesuatu yang kita cintai? Ada. Postman mendakwakan sangkaannya ini pada televisi.

      Namun isi dakwaannya ini lain dari apa yang kebanyakan orang pikirkan hari-hari ini tentang televisi. Ketika banyak dari kita memikirkan bagaimana televisi bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan, Postman justru berpikir bagaimana pendidikan bisa digunakan untuk mengatasi televisi. Ketika kita sibuk menuntut televisi untuk menyajikan hal yang penting dan serius, ia malah menyarankan agar jangan sampai hal-hal penting dan serius itu dibicarakan oleh televisi. Ketika kita meminta televisi untuk tak menyajikan sampah, Postman malah seakan berkata sebaliknya: buanglah sampah pada televisi. Karena baginya, masalahnya bukan mengenai apa yang kita tonton, melainkan bahwa kita menonton televisi.

      Postman, seperti kita hari ini, adalah seorang Amerika yang hidup di era ketika televisi memainkan peran utama sebagai gelanggang diskusi dan mesin reproduksi informasi. Ia hidup pada budaya ketika televisi telah mencapai status “meta-medium”, yakni suatu instrumen yang tidak hanya mengarahkan pengetahuan kita akan dunia, namun juga pengarahan atas cara mendapatkan pengetahuan itu sendiri (halaman 89). Televisi telah menjadi medium yang menentukan apa dan bagaimana bentuk diskursus publik yang perlu dikembangkan oleh suatu masyarakat.

      Dan inilah yang ditawarkan Postman pertama-tama: membicarakan televisi sebagai medium. Berangkat dari tesis Marshall McLuhan, “Medium is the message”, Postman meyakini, bahwa untuk mengetahui apa yang terjadi dari penurunan kualitas diskursus dan keadaban publik suatu masyarakat, kita butuh melihat bentuk diskursus publik macam apa yang dipilih. Seperti McLuhan, ia sepakat bahwa cara paling jernih untuk memahami suatu peradaban adalah dengan memperhatikan cara yang dipakai untuk berkonversasi. Karena baginya, bentuk konversasi menyeleksi substansi (“konversasi” dipakai oleh Postman secara metaforis untuk tidak hanya menunjuk pada percakapan, namun juga pada segala teknik dan teknologi yang memungkinkan umat manusia untuk bertukar pesan).
      Baca selengkapnya >> www.remotivi.or.id
      --
      REMOTIVI
      "Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu"
      www.remotivi.or.idTwitter | Facebook


      Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.