Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Mencari Tuhan dengan Iman yang Bersahaja

Expand Messages
  • Remotivi Remotivi
    Mencari Tuhan dengan Iman yang Bersahaja Oleh: Muhamad Heychael Ramadhan datang, televisi berdandan. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang terkesan sekuler,
    Message 1 of 1 , Aug 13 2:03 AM
    • 0 Attachment
      Mencari Tuhan dengan Iman yang Bersahaja
      Oleh: Muhamad Heychael

      Ramadhan datang, televisi berdandan. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang terkesan sekuler, dalam sekejap televisi kebanjiran petuah dan tausiyah. Sederet program bernuansa islami pun dihadirkannya. Televisi seolah mengajak penontonnya untuk berlibur dari kenyatan keseharian yang “tidak religius” dan menggantikannya dengan parade moral dan religiositas. Bila biasanya kita disuguhkan cerita soal pembunuhan, korupsi, dan atau bahkan ibu membuang anaknya, maka pada Ramadhan, itu semua digantikan oleh kemenangan moral, religiositas, dan orang-orang beriman. Kurang lebih begitulah pesan sinema-sinema elektronik khas ramadhan.

      Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemenangan. Bulan penuh kemenangan ini diterjemahkan televisi, dengan pertama-tama mengkontraskan yang benar dan salah. Benar dan salah dibuat seterang mungkin, bahkan vulgar, sampai-sampai kita tak butuh nalar untuk menakarnya. Lihat saja dalam berbagai sinetron Ramadhan, tokoh-tokoh protagonis adalah orang-orang yang sangat teguh beriman, sedangkan sebaliknya, pemeran antagonis adalah mereka yang buruk perilakunya dan merupakan simbol dosa serta kemunafikan. Pesan moralnya adalah, kebenaran akan selalu menang atas yang batil. Televisi seolah tidak pernah peduli dengan pertanyaan “apakah yang benar akan selalu tampak benar?” atau “apakah benar dan salah tidak meruang dan mewaktu?”
      Demi memenangkan iman yang lurus dan tanpa noda, cerita dibuat naif, ahistoris, dan pada akhirnya hampa konsekuensi sosiologis. Seorang suami pemabuk dan suka berjudi, tanpa alasan yang memadai, bisa memiliki seorang istri yang soleha. Dalam narasi yang demikian, tentu ada banyak pertanyaan yang tersisa: bagaimana seorang istri mau menerima seorang suami yang jauh sama sekali cara hidup dan keyakinan dengan dirinya? Kalaupun mungkin, bagaimana mereka bisa bertahan sebagai pasangan suami istri?

      Operasi logika yang demikian menyederhanakan justru akan jauh dari apa yang mungkin diharapkan oleh pembuat sinetron islami, yaitu agar tontonannya menjadi tuntunan. Alih-alih menjadi tuntunan, sinetron dengan paradigma demikian malah berpotensi menjadikan iman sebagai cita-cita tanpa basis realitas. Di sini, iman lebih merupakan harapan yang dititipkan pada sinetron di layar kaca, ketimbang apa yang mungkin dekat dengan keseharian kita. Jika ini yang terjadi, agama berhenti menjadi sebatas fantasi. 

      Dengan berkedok atribut Islam, televisi memacu mesin hasrat penontonnya untuk “menjadi” Islam, dengan cara mengkonsumsi sederet simbol hasil komodifikasi. Itu jugalah yang menjadi kebanyakan “iman” sinetron islami. Islam didefinisikan tidak lebih dari jilbab, ustaz yang soleh luar biasa, baju koko, kurma, tausiyah, dan petuah. Alhasil, Islam adalah pakaian tanpa badan.
      Pada struktur diskursif televisi yang demikian, sulit menemukan pelajaran yang justru dibutuhkan masyarakat. Namun, di tengah padang pasir sekalipun, tentu selalu ada oase. Di tengah kepungan tayangan yang seolah-olah “islami”, masih ada yang memberi kita harapan, bahwa beriman dalam keseharian itu memungkinkan.

      Bagi saya, oase itu adalah sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Bila kebanyakan sinetron menampilkan parade keimanan tanpa noda—seolah beriman tidak mungkin menjerumuskan kita pada suatu “panggung” di mana iman menjadi sekadar berakting—PPT justru memperkenalkan modus keberimanan yang bersahaja dan jujur. Iman bukanlah kemewahan untuk menolak dunia, namun sebaliknya, ia tumbuh dan hidup dalam upaya meresponsnya.

      Baca selengkapnya di >> www.remotivi.or.id

      --
      REMOTIVI
      "Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu"
      www.remotivi.or.idTwitter | Facebook


      Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.