Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Pameran Foto Petaka Nuklir, Siaran Berita Greenpeace, 1 Juli 2011 - Yogyakarta, Indonesia

Expand Messages
  • findi k
    English Version Below   SIARAN PERS   Sertifikat no. 000358/ Dampak berkelanjutanpetaka nuklir di Rusia, Ukraina, Belarusia dan Kazakhstan 25 tahun setelah
    Message 1 of 1 , Jul 1, 2011
    • 0 Attachment
      English Version Below
       
      SIARAN PERS
       
      Sertifikat no. 000358/
      Dampak berkelanjutan petaka nuklir di Rusia, Ukraina, Belarusia dan Kazakhstan
      25 tahun setelah Chernobyl
       
      Sangkring Art Space, Yogyakarta
      1 sampai 25 Juli
       
      Galeri Soemardja, Bandung
      11 sampai 17 September
       
      Tahun ini menandai peringatan bencana Chernobyl ke-25. Namun, bukan berarti bahwa dalam sejarah Rusia kecelakaan nuklir hanya terjadi di Chernobyl, bukan pula ia yang terburuk. Saat ini, ribuan orang di Belarus, Ukraina, Kazakstan, dan Rusia menderita berbagai penyakit serius akibat pencemaran nuklir. Banyak dari mereka yang lahir bertahun-tahun setelah rangkaian petaka itu terjadi, namun generasi demi generasi terus terkena dampaknya.
       
      Robert Knoth dan Antoinette de Jong telah mengunjungi titik-titik pencemaran nuklir sejak akhir 1990-an, mendokumentasikan kehidupan orang-orang biasa yang terpapar kelalaian luar biasa. Melalui karya mereka, kita dihadapkan tidak hanya pada segala penyakit yang harus ditanggung tiap orang, tapi juga keputusasaan yang mereka hadapi berkaitan dengan masa depan, serta disintegrasi keluarga dan masyarakat yang memilukan.
       
      Selain menyajikan kisah menggugah tentang dampak tenaga nuklir bagi manusia, pameran ini menanggapi berbagai isu etik terkait foto jurnalistik. Masyarakat kontemporer kita terus dibanjiri gambar-gambar voyeuristik berisi kekerasan dan bencana yang ditampilkan para jurnalis publikdi blog, facebook, flickr, bahkan di media arus utama. Kekuatan di balik foto-foto Robert Knoth terletak pada keintiman yang ia bagi dengan subyek-subyeknya, serta rasa hormat yang ia tunjukkan pada mereka.
       
      Ketika perdebatan nuklir kebanyakan berfokus seputar statistik, foto-foto Knoth dan pelaporan mendalam De Jong mengingatkan kita bahwa untuk tiap statistik terdapat sebuah kisah tentang manusia. Karya mereka memberi kontribusi besar pada perdebatan kontroversial tanpa henti tentang dampak energi nuklir terhadap manusia. Menilik kejadian-kejadian tragis di Fukushima baru-baru ini, penting bagi rakyat Indonesia — selagi rencana pembangunan berbagai pembangkit nuklir di negeri ini ditinjau ulang — untuk memahami segala dampak kecelakaan nuklir.
       
      Ilusi Berbahaya PLTN di Indonesia
       
      “Fukushima, Chernobyl, dan tragedi reaktor nuklir lainnya telah menegaskan resiko inheren berbahaya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang tak sebanding dengan manfaatnya. Di Indonesia, bahkan beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyatakan komitmennya tidak akan membangun PLTN sebelum memaksimalkan potensi energi lain. Negara-negara pengguna seperti Jepang, Jerman dan Swiss telah memutuskan untuk menghentikan PLTN. Di Asia Tenggara, pemerintah Thailand dan Filipina juga telah menyatakan bahwa PLTN bukan jawaban yang benar dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakatnya. Ironisnya, beberapa badan pemerintah di Indonesia masih saja tanpa rasa malu mempromosikan PLTN
       
      “SBY juga menyatakan mendapat pelajaran dari bencana nuklir Fukushima. Indonesia harus benar-benar bangkit dan belajar dari mimpi buruk nuklir Jepang ini. Greenpeace percaya SBY akan menunjukkan visi nyata dan keberanian untuk meninggalkan semua rencana PLTN dan menghentikan promosi pendukung nuklir. Dengan beralih ke sumber energi terbarukan yang banyak dipunyai negeri ini, kita bisa menghindari resiko inheren bencana nuklir. Jika kita terus terjebak dalam ilusi berbahaya PLTN dan kecanduan akan energi batubara kotor, kita tidak hanya mempertaruhkan masa depan Indonesia, tetapi juga membuang-buang waktu dan uang.  Masa depan Indonesia dengan sumber energi bersih terbarukan sudah ada di tangan kita; kita hanya butuh keberanian untuk mewujudkan visi ini menjadi aksi nyata," ujar Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia.
       
      Kontak:
      Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Terbarukan, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia, Tel: 08118407113
      Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media, Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia, Tel: 08111805394
      Robert
      Knoth
      Robert Knoth memulai karir sebagai jurnalis foto pada tahun 1993. Sepanjang tahun 90-an ia meliput banyak zona konflik di Afrika, Asia, dan wilayah Balkan. Sejak saat itu karya-karyanya telah diterbitkan secara luas di majalah-majalah internasional antara lain New York Times, Der Spiegel, Sydney Morning Herald, La Repubblica, dan Sunday Telegraph Magazine.
       
      Dalam beberapa tahun terakhir, sebagai seorang fotografer-dokumenter lepas, Robert Knoth tengah melakukan proyek-proyek jangka panjang. Selain proyek Bencana Nuklir Rusia, ia terus mengikuti konflik di Afghanistan dan Pakistan sejak tahun 1996. Dan saat ini, bekerjasama dengan Antoinette de Jong, ia tengah menggarap sebuah buku tentang heroin Afghanistan. Sepanjang karirnya, Robert Knoth telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk dua World Press Photo Awards pada tahun 2000 dan 2006.
       
      Antoinette de Jong
      Antoinette de Jong adalah penulis dan penyiar yang berbasis di Belanda. Karya-karyanya telah muncul di radio dan televisi, termasuk beberapa film dokumenter untuk BBC World Service dan reportase feature latar belakang untuk VPRO dan Radio Netherlands World Service. Beragam karyanya telah diterbitkan oleh El Pais, the Australian, Marie Claire, Io Donna, Grande Reportagem, Unesco Courier, NRC Handelsblad dan Metro.
       
      De Jong meliput perkembangan di Afghanistan dan Pakistan secara rutin selama hampir dua dasawarsa selain mengunjungi kawasan-kawasan lain di seluruh dunia termasuk India, Somalia, Irak, Asia Tengah, Kosovo, Albania, Bosnia-Herzegovina, Yugoslavia, Kamboja, Ukraina, Belarus, dan Rusia. Ia sering diundang sebagai analis dan komentator mengenai Afghanistan dan Pakistan.
       
      Dikuratori oleh Malcolm Smith.
       
      Pameran ini terselenggara berkat dukungan penuh Greenpeace Asia Tenggara - Indonesia
       
      -------------------------------------------------------
       
      MEDIA RELEASE
       
      Certificate no. 000358/
      The ongoing impact of nuclear accidents in Russia, Ukraina, Belarusia and Kazakhstan
      25 years since Chernobyl
       
      Sangkring Artspace, Yogyakarta
      1 until 25 July
       
      Galleri Soemardja, Bandung
      11 until 17 September
       
      This year marks the 25th anniversary of the Chernobyl disaster, and yet it is by no means the only, or the worst nuclear accident in Russia’s history. Today, thousands of people in Belarus, Ukraine, Khazakstan and Russia suffer from serious illnesses as a result of nuclear contamination. Many of these people were born years after the disasters happened, and they will continue to be affected for generations to come.
       
      Robert Knoth has been visiting the sites of nuclear contamination since the early 1990’s, documenting the lives of ordinary people subjected to extraordinary negligence. Through Knoth’s images we are confronted not only by the tragic illnesses that individuals must live with, but also the hopelessness that they face with regards to their future and the sad disintegration of their families and communities.
       
      While much of the nuclear debate focuses around statistics, Knoth‘s images remind us that for every statistic there is a human story. His images make a powerful contribution to the ongoing and highly controversial debate about the human cost of Nuclear power. After the recent tragic events at Fukushima, it is important that Indonesian people are well informed about the impact of Nuclear accidents as we reassess our plans to build reactors in this country.
       
      Dangerous Nuclear Illusion in Indonesia
       
      Fukushima, Chernobyl and other nuclear disasters have shown the inherent dangers of nuclear power. In Indonesia, President Susilo Bambang Yudhoyono already said Indonesia hould choose other sources of electricity rather than nuclear. Countries such as Japan, Germany and Switzerland are abandoning nuclear power.  In Southeast Asia, the governments of Thailand and the Philipines have also already stated that nuclear power plants are not the right answer for fulfilling their country’s energy needs. Ironically, certain government agencies are still aggressively and shamelessly promoting nuclear power plants.
       
      “SBY recognizes that there are lessons to be learned from the Fukushima nuclear disaster.  Indonesia should finally wake up and learn from Japan’s nuclear nightmare.  Greenpeace believes that SBY will show real vision and courage by firmly abandoning all nuclear plans and halting all nuclear promotion. By shifting to renewable energy sources which are abundant in our country, we can avoid disaster risks inherent to dirty and dangerous nuclear energy sources. If we continue the dangerous illusion to building nuclear power plants and  dirty coal energy addiction, we are not only gambling with the Indonesia’s future, we are also wasting time and money. The future of Indonesia powered by clean renewable energy sources is our hands; we only need courage to translate vision into real action,” concluded Arif Fiyanto, Greenpeace Southeast Asia - Indonesia, Climate and Energy Campaigner.
       
      Contact:
      Hindun Mulaika, Climate and Renewable Energy Campaigner, Greenpeace Southeast Asia - Indonesia, Tel: 08118407113
      Hikmat Soeriatanuwijaya, Media Campaigner, Greenpeace Southeast Asia - Indonesia, Tel: 08111805394
       

      Robert Knoth

       
      Robert Knoth began his career as a photojournalist in 1993. Throughout the 90's he covered many of the conflict zones in Africa, Asia and the Balkans. Since then his work has been widely published in international magazines, such as: New York Times, Der Spiegel, Sydney Morning Herald, La Repubblica, Sunday Telegraph Magazine, amongst many.
       
      In recent years Robert Knoth has been working on long term projects as an autonomous documentary photographer. As well as his Russian Nuclear Disaster project, he has been following the conflict in Afghanistan and Pakistan since 1996 and is currently working on a book about Afghan heroin in cooperation with writer and broadcaster Antoinette de Jong. Throughout his career Robert Knoth has won numerous prizes, including two World Press Photo Awards in 2000 and 2006.
       
      Text By Antoinette de Jong.
       
      Curated by Malcolm Smith.
       
      This exhibition has been generously sponsored by Greenpeace Southeast Asia - Indonesia.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.