Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Penggalangan Petisi Dukung Ratifikai Konvensi Migran

Expand Messages
  • Solidaritas Perempuan
    Text Box: Penggalangan Petisi Dukung Ratifikai Konvensi Migran Pengantar: Dear kawan-kawan yang baik, Sejumlah organisasi internasional sedang mengadakan
    Message 1 of 3 , Jan 7, 2011
    • 0 Attachment

      Text Box: Penggalangan Petisi Dukung Ratifikai Konvensi Migran

 

       


      Pengantar:

      Dear kawan-kawan yang baik,

      Sejumlah organisasi internasional sedang mengadakan kampanye global dalam rangka mendorong ratifikasi Konvensi Migran 1990 diberbagai Negara. Salah satu bentuk kampanyenya adalah pengumpulan petisi. Untuk itu, saya mohon dukungannya dengan  memberikan nama, serta asal organisasi kawan-kawan (atau bisa sebagai individu), sebagai bentuk dukungan terhadap petisi ini.

       

      Sebenarnya, petisi ini ditargetkan untuk memanfaatkan momen 20 Tahun Konvensi Migran sekaligus Migrant Day yang jatuh pada 18 Desember 2010 lalu. Namun, karena ratifikasi belum juga dilakukan pemerintah, maka kami kembali menghimpun petisi sebagai amunisi perjuangan kita mendesak pemerintah meratifikasi Konvensi Migran.

       

      Di bawah ini, saya lampirkan terjemahan dari petisi yang dibuat oleh panitia kampanye global ratifikasi Konvensi Migran tersebut.

      Diharapkan, daftar dukungan sudah terkumpul sebelum tanggal 1 Maret 2010. Daftar dukungan dapat dikirimkan melalui email ke konvensi.migran@...

       

      Terima Kasih.

       

      Terjemahan Petisi:

      Hormati Hak-Hak Buruh Migran

      Ratifikasi Konvensi Migran 1990

      20 Tahun Adopsi Konvensi PBB Tahun 1990 Tentang Buruh Migran dan Keluarganya: Panggilan Ratifikasi Kepad Pemerintah Republik Indonesia

       

      Geneva, 19 May 2010

       

      Pada kesempatan peringatan 20 tahun Konvensi Internasional tentang Hak seluruh Buruh Migran dan Anggota Keluarganya, kampanye global diluncurkan dalam rangka memanggil pemerintah untuk bertindak cepat mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia, dan penderitaan sehari-hari yang secara luas dialami oleh buruh migran di seluruh dunia, dengan meratifiksi konvensi ini.

       

      Hari ini, kami menulis untuk memanggil pemerintah agar meratifikasi instrumen hak asasi manusia internasional inti ini.

      Per 2010, diperkirakan sebanyak 214 juta manusia adalah pekerja migran. Jumlah itu mencapai 3% dari jumlah populasi dunia. Hampir seluruh Negara menglami dampak dari migrasi, baik sebagai Negara asal, Negara tujuan, maupun Negara transit. Dengan demikian Negara-negara tersebut dihadapkan dengan tantangan untuk membangun kebijakan migrasi yang efektif dan berlandaskan Hak Asasi Manusia.

       

      Walaupun banyak orang yang bermigrasi mengalami pengalaman yang baik, namun banyak lainnya yang di bawah paksaan, dan menghadapi kesulitan yang parah di Negara tujuan. Buruh migran di seluruh dunia tetap menjadi target pelecehan, diskriminasi, dan eksploitasi oleh penyelundup, agen rekruitmen, dan majikan. Instrumen internasional ini adalah bagian tanggung jawab pemerintah untuk memberantas pelanggaran hak asasi manusia ini, untuk meningkatkan kondisi kerja dan kondisi hidup bagi buruh migran dan memperkuat perlindungan hukum mereka.

       

      Konvensi ini adalah salah satu dari Sembilan inti instrumen HAM PBB. Sejak diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 18 Desember 1990, Konvensi ini telah diratifikasi oleh 42 negara, dan ditandatangani lebih lanjut oleh 16 negara. Konvensi ini mengakui adanya kerentanan yang spesifik dialami oleh buruh migran, dan mempromosikan kondisi kerja dan hidup yang manusiawi dan sah, serta kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan. Konvensi menyediakan penjabaran dalam elaborasi kebijakan migrasi nasional, yang hanya akan efektif jika berlandaskan penghormatan Hak Asasi Manusia dan aturan hukum. Konvensi ini menetapkan ketentuan-ketentuan untuk memerangi eksploitasi pekerja migran dan anggota keluarganya di Negara tujuan, transit, dan asal migran.

       

      Indonesia adalah sebuah Negara pengirim Migran yang besar, khususnya ke Malaysia, Singapur, dan Timur  Tengah, dimana mereka berkerja di bidang agraria, konstruksi, sektor manufaktur, dan Pekerja Rumah Tangga. Penerimaan dana dari Buruh Migran Indonesia sangat penting untuk perekonomian Indonesia. Indonesia sudah menandatangani Konvensi pada tahun 2004 dan berjanji di beberapa kesempatan untuk meratifikasinya. Bagaimanapun tanda terkuat dari komitmen Indonesia untuk melindungi hak asasi manusia warganya yang bekerja di luar negeri seperti juga pekerja migran yang berada di Indonesia adalah dengan meratifikasi Konvensi Migran.

       

      Kami mendesak pemerintah Indonesia untuk merebut kesempatan di 20 tahun Konvensi Migran untuk meratifikasi Konvensi Buruh Migran dan mengirim pesan kuat dari komitmen untuk melindungi HAM buruh migran secara efektif. Kami sangat berharap di 18 Desember 2010, kita juga merayakan ratifikasi Konvvensi oleh Indonesia.

       

      Kami akan sangat tertarik untuk menerima pandangan Pemerintah mengeni hal-hal yang diungkapkan dalam surat ini, dan berharap mendengarnya dari Anda.

       

      Hormat Kami,

      Panitia Kampanye Global Ratifikasi Konvensi Migran

      *Kampanye diluncurkan oleh panitia internasional, sebuah jaringan unik yang terdiri dari lembaga-lembaga PBB, organisasi internasional dan organisasi masyarakat global.

       

      Panitia besar tersebut terdiri dari

      Human Rights Watch (HRW), International Catholic Migration Commission (ICMC), International Federation for Human Rights (FIDH), International Labour Office (ILO), International Organization for Migration (IOM), International Trade Union Confederation (ITUC), Migrant Forum in Asia (MFA), Migrants Rights International (MRI), the Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR), Public Services International (PSI), United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), World Council of Churches (WCC) and Amnesty International (AI) (observer).

       

    • Solidaritas Perempuan
      Text Box: Penggalangan Petisi Dukung Ratifikai Konvensi Migran Dear kawan-kawan yang baik, Sejumlah organisasi internasional sedang mengadakan kampanye global
      Message 2 of 3 , Jan 12, 2011
      • 0 Attachment

        Text Box: Penggalangan Petisi Dukung Ratifikai Konvensi Migran

 

        Dear kawan-kawan yang baik,

        Sejumlah organisasi internasional sedang mengadakan kampanye global dalam rangka mendorong ratifikasi Konvensi Migran 1990 diberbagai Negara. Salah satu bentuk kampanyenya adalah pengumpulan petisi. Untuk itu, saya mohon dukungannya dengan  memberikan nama, serta asal organisasi kawan-kawan (atau bisa sebagai individu), sebagai bentuk dukungan terhadap petisi ini.

        Sebenarnya, petisi ini ditargetkan untuk memanfaatkan momen 20 Tahun Konvensi Migran sekaligus Migrant Day yang jatuh pada 18 Desember 2010 lalu. Namun, karena ratifikasi belum juga dilakukan pemerintah, maka kami kembali menghimpun petisi sebagai amunisi perjuangan kita mendesak pemerintah meratifikasi Konvensi Migran.

        Di bawah ini, saya lampirkan terjemahan dari petisi yang dibuat oleh panitia kampanye global ratifikasi Konvensi Migran tersebut.

        Diharapkan, daftar dukungan sudah terkumpul sebelum tanggal 1 Maret 2010. Daftar dukungan dapat dikirimkan melalui email ke konvensi.migran@...

        Terima Kasih.

        Terjemahan Petisi:

        Hormati Hak-Hak Buruh Migran

        Ratifikasi Konvensi Migran 1990

        20 Tahun Adopsi Konvensi PBB Tahun 1990 Tentang Buruh Migran dan Keluarganya: Panggilan Ratifikasi Kepad Pemerintah Republik Indonesia

        Geneva, 19 May 2010

         

        Pada kesempatan peringatan 20 tahun Konvensi Internasional tentang Hak seluruh Buruh Migran dan Anggota Keluarganya, kampanye global diluncurkan dalam rangka memanggil pemerintah untuk bertindak cepat mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia, dan penderitaan sehari-hari yang secara luas dialami oleh buruh migran di seluruh dunia, dengan meratifiksi konvensi ini.

        Hari ini, kami menulis untuk memanggil pemerintah agar meratifikasi instrumen hak asasi manusia internasional inti ini.

        Per 2010, diperkirakan sebanyak 214 juta manusia adalah pekerja migran. Jumlah itu mencapai 3% dari jumlah populasi dunia. Hampir seluruh Negara menglami dampak dari migrasi, baik sebagai Negara asal, Negara tujuan, maupun Negara transit. Dengan demikian Negara-negara tersebut dihadapkan dengan tantangan untuk membangun kebijakan migrasi yang efektif dan berlandaskan Hak Asasi Manusia.

        Walaupun banyak orang yang bermigrasi mengalami pengalaman yang baik, namun banyak lainnya yang di bawah paksaan, dan menghadapi kesulitan yang parah di Negara tujuan. Buruh migran di seluruh dunia tetap menjadi target pelecehan, diskriminasi, dan eksploitasi oleh penyelundup, agen rekruitmen, dan majikan. Instrumen internasional ini adalah bagian tanggung jawab pemerintah untuk memberantas pelanggaran hak asasi manusia ini, untuk meningkatkan kondisi kerja dan kondisi hidup bagi buruh migran dan memperkuat perlindungan hukum mereka.

        Konvensi ini adalah salah satu dari Sembilan inti instrumen HAM PBB. Sejak diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 18 Desember 1990, Konvensi ini telah diratifikasi oleh 42 negara, dan ditandatangani lebih lanjut oleh 16 negara. Konvensi ini mengakui adanya kerentanan yang spesifik dialami oleh buruh migran, dan mempromosikan kondisi kerja dan hidup yang manusiawi dan sah, serta kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan. Konvensi menyediakan penjabaran dalam elaborasi kebijakan migrasi nasional, yang hanya akan efektif jika berlandaskan penghormatan Hak Asasi Manusia dan aturan hukum. Konvensi ini menetapkan ketentuan-ketentuan untuk memerangi eksploitasi pekerja migran dan anggota keluarganya di Negara tujuan, transit, dan asal migran.

        Indonesia adalah sebuah Negara pengirim Migran yang besar, khususnya ke Malaysia, Singapur, dan Timur  Tengah, dimana mereka berkerja di bidang agraria, konstruksi, sektor manufaktur, dan Pekerja Rumah Tangga. Penerimaan dana dari Buruh Migran Indonesia sangat penting untuk perekonomian Indonesia. Indonesia sudah menandatangani Konvensi pada tahun 2004 dan berjanji di beberapa kesempatan untuk meratifikasinya. Bagaimanapun tanda terkuat dari komitmen Indonesia untuk melindungi hak asasi manusia warganya yang bekerja di luar negeri seperti juga pekerja migran yang berada di Indonesia adalah dengan meratifikasi Konvensi Migran.

        Kami mendesak pemerintah Indonesia untuk merebut kesempatan di 20 tahun Konvensi Migran untuk meratifikasi Konvensi Buruh Migran dan mengirim pesan kuat dari komitmen untuk melindungi HAM buruh migran secara efektif. Kami sangat berharap di 18 Desember 2010, kita juga merayakan ratifikasi Konvvensi oleh Indonesia.

        Kami akan sangat tertarik untuk menerima pandangan Pemerintah mengeni hal-hal yang diungkapkan dalam surat ini, dan berharap mendengarnya dari Anda.

         

        Hormat Kami,

        Panitia Kampanye Global Ratifikasi Konvensi Migran

        *Kampanye diluncurkan oleh panitia internasional, sebuah jaringan unik yang terdiri dari lembaga-lembaga PBB, organisasi internasional dan organisasi masyarakat global.

        Panitia besar tersebut terdiri dari

        Human Rights Watch (HRW), International Catholic Migration Commission (ICMC), International Federation for Human Rights (FIDH), International Labour Office (ILO), International Organization for Migration (IOM), International Trade Union Confederation (ITUC), Migrant Forum in Asia (MFA), Migrants Rights International (MRI), the Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR), Public Services International (PSI), United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), World Council of Churches (WCC) and Amnesty International (AI) (observer).

         

      • hakim jayli
        Fyi INFO AWAL TENTANG PEMBUBARAN FGD SETARA INSTITUTE-CMARS SURABAYA (Kamis, 13 Januari 2010) Oleh ahmad zainul hamdi (inung), cmars Surabaya   FGD ini hendak
        Message 3 of 3 , Jan 13, 2011
        • 0 Attachment
          Fyi

          INFO AWAL TENTANG

          PEMBUBARAN FGD SETARA INSTITUTE-CMARS SURABAYA

          (Kamis, 13 Januari 2010)

          Oleh ahmad zainul hamdi (inung), cmars Surabaya

           

          FGD ini hendak membicarakan tentang jaminan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dilaksanakan di ruang airlangga hotel simpang Surabaya. FGD yang akan difasilitasi oleh Bonar Tigor Naipospos ini  mengundang pihak pemerintah (Kejati, Bakesbangpol, Kemenag, Komisi A DPRD I Jatim, dan FKUB Surabaya), kelompok minoritas /korban (GKI Jatim, Ahmadiyah, among tani mojopahit, lascar hijau, syiah, dll), dan beberapa NGO yang konsen pada HAM (LBH Surabaya, Kontras Surabaya, JAMAK Jatim). Diskusi akan diawali pada pukul 13.00 WIB, didahului dengan makan siang.

          Pada saat makan siang, dating orang yang mengaku wartawan suara hidayatullah. Saat itu, peserta yang hadir baru Pdt. Simon Filantropa (GKI Jatim). Akhol (CMARS) melayani si wartawan, dan pada saat yang hampir berurutan datanglah  2 orang FPI dan beberapa orang dari kepolisian.

          Kami curiga bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Kami berdiksui, dan Pdt simon menginformasikan bahwa dia diklarifikasi oleh pihak polda tentang acara fgd tersebut. Pihak polda menginformasikan bahwa acara seperti ini sebaiknya tidak dilakukan karena mengundang Ahmadiyah dan LGBT.

          Informasi pihak kepolisian ini sama persis dengan alasan yang digunakan oleh FPI dalam menekan panitia. Pihak FPI mengancam akan menyerang dengan pasukannya jika kegiatan terus dilanjutkan. Orang fpi mengaku mendapatkan informasi dari bakesbangpol Jatim. (semakin lama, peserta semakin banyak yang hadir). K.H. Imam Ghazali Said (FKUB Suirabaya) mencatat nomor hp dari fpi dan mengklarifikasi ke peserta dari Bakesbangpol tentang kebenaran klaim fpi tersebut, dan peserta dari bakesbangpol membenarkan bahwa nomor itu memang milik atasannya.

          Pada saat yang sama, pihak kepolisian menekan panitia aagar membatalkan acara dengan alas an tidak ada ijin dan menjaga keamanan karena presiden sedang berada di Surabaya. Negosiasi dengan polisi buntu karena polisi ngotot dengan pendiriannya. Polisi menekan pihak hotel agar tidak memperbolehkan panitia meneruskan acara. Tekanan polisis berhasil dan pihak hotel meminta panitia untuk membatalkan acara.

          Teman-teman setara menelpon ke “Jakarta” untuk mencari jalan keluar agar acara tetap berjalan. Saya menelpon ke Bambud (Direktur Pusham Unair) untuk melobi ke Polda, tapi semuanya gagal. Saya telpon ke Atoillah (LBH Pers Surabaya) agar teman-teman wartawan datang ke hotel.

          Situasi tetap tenaang di permukaan, tapi semua yang terlibat merasakan ketegangannya. Akhol tetap dicecar oleh pihak FPI dan Intel Kepolisian. Perlahan kawan-kawan wartawan hadir di lokasi. Sekitar pukul 2 siang, kami (Bonar Tigor Naipospos [setara], Inung dan akhol [cmars] dan imam ghazali said [fkub Surabaya]) menyelenggaran konferensi pers di restoran hotel karena ruang airlangga dikunsi sama pihak hotel. Pada saat kopres ini, pihak fpi mengganggu dengan suara keras untuk menyatakan sikapnya. Sempat terjadi ketegangan pada saat kopres.

          Setelah kopres, kami melanjutkan fgd (dalam bentuk dialog santai) di resotoran sekalipun suasana sudah sangat tidak kondusif.  Tapi baru sekitar 15 menit, pihak kepolisian, pihak hotel,  fpi, dan beberapa orang yang mengatasnamakan warga Surabaya (salah satunya adalah arukat jaswadi, orang yang terkenal dengan aksi sweeping di Surabaya) menggruduk acara dialog santai di restoran tersebut. Terjadi negosiasi yang a lot. Bahkan imam ghazali said sempat dibentak oleh intel polisis yang meminta acara dibubarkan. Pihak kepolisisan membuat tekanan dan ancaman dengan dalih seratusan orang fpi sudah berkumpul di masjid akbar Surabaya dan bersiap untuk dating ke lokasi.

          Pihak hotel meminta panitia untuk membatalkan acara. Lampu restoran dimatikan. Kursi ditata ulang oleh petugas hotel. Dan, sekitar pukul 3 atau 3.30 sorekami membubarkan diri. Kami berbisik-bisik, akan melanjutkan fgd di malan hari, mencari tempat yang aman, dan dengan peserta yang tersisa.

          Sejak kopres sampai bubar, teman-teman wartawan masih berada di tempat sehingga langsung bisa meliput apa yang terjadi.

          (informasi lebih detail akan disusulkan kemudian)

           

          Ahmad Zainul "INUNG" Hamdi

          Mobile phone: +6281359279589 or +628883366122_,_._,___

        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.