Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

memperingati hari Braille 4 Januari

Expand Messages
  • Aria Indrawati
    Keajaiban Enam Titik Oleh : Aria Indrawati Jumlahnya enam titik, berbentuk dua kolom, masing-masing dari atas ke bawah tiga titik, mirip kartu domino. Dari
    Message 1 of 1 , Jan 3, 2010
    • 0 Attachment

      Keajaiban Enam Titik

       

      Oleh : Aria Indrawati

       

       

      Jumlahnya enam titik, berbentuk dua kolom, masing-masing dari atas ke bawah tiga titik, mirip ”kartu domino. Dari enam titik tersebut tercipta 26 kombinasi. Keduapuluh enam kombinasi ini bukan tanpa arti. Titik-titik ini telah membukakan jendela dunia bagi orang-orang yang memiliki hambatan penglihatan atau para tunanetra. Itulah huruf Braille; huruf yang dibaca dengan jari -- indera perabaan.

       

      Seperti alfabet aslinya, huruf Braille juga membentuk kata, dan menyusun kalimat-kalimat. Sebuah penciptaan yang menkjubkan, oleh remaja belia berusia 13 tahun, yang berhasil menyelesaikan penelitiannya bahkan sebelum ia mencapai usia dewasa, ”Louis Braille”.

       

      Dari karya Louis Braille, saat ini telah tercipta huruf Braille tidak hanya dalam huruf latin, tapi juga huruf kanji, mandarin, bahasa tamil, hindi, arab, thai, dan sebagainya. Tidak hanya itu, simbol-simbol tanda baca, matematika, kimia, notasi musik serta fonetik. Semuanya berawal dan merupakan ”kombinasi enam titik”. Simbol-simbol Braille itu telah memungkinkan para tunanetra belajar semua hal yang mereka inginkan dan mereka butuhkan, serta telah memungkinkan para tunanetra menjadi seseorang yang mereka sangat harapkan.

       

      Louis Braille adalah pahlawan bagi jutaan tunanetra sesamanya. Karena jasanya yang sungguh luar biasa itu, dunia memperingati tangal empat januari, hari kelahiran Louis Braille sebagai ”Hari Braille”. 

       

       

      Huruf Braille & Teknologi.

       

       

      Tak ada perasaan lain selain ”bahagia” saat Louis remaja mengetahui bahwa huruf kombinasi enam titik yang diciptakannya disukai murid-murid tunanetra kala itu. Dengan tangannya sendiri kemudian Louis pun mulai menulis buku-buku pelajaran, pengetahuan umum dan buku-buku cerita untuk perpustakaan sekolah di mana ia belajar dan kemudian bekerja sebagai guru. ”Slade dan Stylus” – alat untuk menulis huruf Braille --  adalah sahabat karibnya.  

       

      Setelah huruf Braille secara perlahan digunakan secara luas di seluruh dunia, mulailah diciptakan alat-alat untuk menulis huruf Braille dengan lebih cepat, dan alat-alat untuk mencetak buku Braille dalam jumlah yang banyak.

       

      Mulai dari penciptaan mesin tik Braille, yang memungkinkan tunanetra menulis secara manual dengan lebih cepat. Lalu ”thermoform”, yang sistem kerjanya sama dengan mesin cetak atau foto copy. Hingga mulai tahun 90an, pembuatan buku Braille telah menggunakan komputer.

       

      Penemuan dan perkembangan teknologi komputer tidak hanya memudahkan kehidupan orang-orang yang berpenglihatan normal saja. Kehidupan para tunanetra pun dimudahkan oleh teknologi tersebut. Untuk mencetak naskah atau buku dalam huruf Braille dengan bantuan komputer, di samping membutuhkan komputer itu sendiri, kita juga membutuhkan perangkat lunak yang mampu mengubah dokumen teks dalam huruf latin atau yang biasa kita sebut ”dokumen word” menjadi file berformat huruf Braille secara otomatis; software ini biasa disebut ”Braille converter atau Braille translater”. Di samping itu, kita membutuhkan mesin cetak timbul dalam huruf Braille yang juga disebut ”Braille embosser”, yang berfungsi mencetak naskah atau buku Braille sesuai yang kita butuhkan atau inginkan.

       

      Dengan sistim komputerisasi ini, seseorang yang tidak memahami huruf Braille juga dapat berperan dalam proses pembuatan buku Braille. Caranya, cukup dengan mengetik ulang teks buku yang akan diproses menjadi buku Braille ke dalam dokumen ”word”. Proses selanjutnya adalah mengkonversi dokumen ”word” tersebut menjadi ”file berformat huruf Braille” dengan bantuan software ”Braille converter/translator”. Dengan sekali ”klik atau enter”, software ini akan mengubah berapa halaman pun file ”word” menjadi file ”Braille”. Begitu mudahnya...... File yang telah berbentuk huruf Braille ini kemudian harus diatur penempatannya dalam halaman-halaman, mengingat ada perbedaan jumlah antara halaman dokumen ”word” dan dokumen ”Braille”, yaitu satu banding tiga. Setelah file Braille ini tertata rapi dalam halaman-halamannya, saatnya kemudian mencetak dengan mesin ”Braille embosser”, menjilid, dan jadilah sebuah buku Braille.

       

      Mitra Netra, yang sejak awal pendiriannya mengembangkan sistem produksi dan distribusi buku Braille di Indonesia, secara berkesinambungan melakukan upaya-upaya untuk membuat proses produksi dan distribusi buku Braille di Indonesia semakin efektif dan efisien.

       

      Dimulai dengan penciptaan dan pengembangan software Braille converter yang dinamai Mitranetra Braille Converter (MBC) sejak tahun 1996. MBC yang secara bertahap terus dikembangkan, terakhir MBC versi 4 tahun 2004, saat ini kembali mengalami penyempurnaan. Proses ini diharapkan usai bulan Maret mendatang, dan, seperti MBC versi-vversi sebelumnya, MBC versi 5 ini juga akan dihibahkan ke seluruh produser buku Braille di Indonesia. Dengan software MBC, proses produksi buku Braille dapat dilakukan dengan lebih cepat. Tidak hanya buku dalam teks bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggris. Tidak hanya mampu mencetak alfabet/huruf latin, tapi juga simbol-simbol tanda baca, matematika dan kimia.

       

      Menyadari luasnya negeri Indonesia tercinta ini, yang akan berdampak pada tingginya biaya pengiriman untuk distribusi buku Braille jika dilaksanakan terpusat di Ibu Kota Negara, maka, perpustakan Braille on-line www.kebi.or.id pun diciptakan; KEBI singkatan dari Komunitas E-Braille Indonesia, yang berangotakan produser buku Braille di seluruh Indonesia.

       

      Dengan menjadi anggota KEBI, produser buku Braille yang telah memiliki mesin Braille embosser dapat dengan mudah mengunduh (download) file-file buku Braille yang ada di dalamnya, dan mencetak menjadi buku Braille untuk keperluan tunanetra yang ada di wilayahnya. Di samping itu, para produser buku Braille juga bisa saling berbagi tugas, siapa memproduksi buku apa, untuk kemudian diunggah (upload) ke KEBI, guna  dimanfaatkan oleh anggota KEBI lainnya. Mekanisme KEBI ini telah membangun kerja sama sangat harmonis di antara para produser buku Braille di seluruh Indonesia, sehingga bisa memangkas begitu tingginya biaya pengiriman  yang terjadi sebelum KEBI dilahirkan.

       

       

      Ketersediaan buku Braille di Indonesia.

       

      Setelah melakukan penelitian diawal usia remajanya selama lebih dari tiga tahun, dan sesudah  berjuang hampir 20 tahun hingga akhirnya huruf Braille resmi diakui di Perancis dan kemudian secara bertahap di seluruh dunia, Louis mengharapkan para tunanetra di mana pun di bumi ini  dapat terpenuhi kebutuhan mereka akan buku.

       

      Namun, faktanya belum semudah yang diharapkan. Bahkan, setelah memasuki milenium kedua ini, setelah 167 tahun sejak huruf Braille diakui keberadaannya secara resmi, tunanetra di Indonesia misalnya, masih harus berjuang keras untuk mendapatkan buku yang perlu atau ingin mereka baca.

       

      Lebih dari 10 tahun lalu, Pemerintah melalui kerja sama pinjaman lunak (soft loan) dengan Pemerintah Norwegia telah mengimpor ratusan buah mesin Braille embosser, dari yang berkapasitas kecil 40 huruf per detik, hingga kapasitas besar 400 huruf per detik. Hal ini tentunya dilakukan agar tunanetra di negeri ini tidak lagi kesulitan mendapatkan buku Braille yang dibutuhkan. Namun, meski telah menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki mesin Braille embosser terbanyak, fakta menunjukkan tunanetra masih kesulitan mendapatkan buku.

       

      Dari ratusan Braille embosser yang diimpor tersebut, bahkan, masih ada yang disimpan di gudang. Mengetahui hal ini, komunitas tunanetra yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) berkeinginan memanfaatkannya, guna keperluan aktivitas di organisasi tersebut. Namun, untuk mendapatkan sebuah printer Brailo Commet berkapasitas 40 karakter per detik, setidaknya para pengurus Pertuni harus mengeluarkan uang dua juta rupiah untuk oknum di Departemen Pendidikan Nasional yang berkuasa membuka pintu gudang tempat penyimpanan printer tersebut.

       

      Situasi semacam ini tentu tidak boleh dibiarkan. Ratusan mesin Braille embosser itu adalah aset tunanetra, aset rakyat Indonesia yang telah dibeli dengan uang dan keringat rakyat melalui kerja sama hutang lunak Pemerintah. ”Raksasa yang diimpor dari Norwegia  yang seharusnya melayani tunanetra masih tidur saja, kalaulah ia bangun, raksasa ini lebih suka bermalas-malasan.”

       

      Melalui penciptaan MBC dan KEBI, Mitra Netra bermaksud membangunkan raksasa yang tidur itu, mengajaknya bekerja melayani tuan dan nona yang telah mendatangkannya.

       

       

      Huruf Braille Dan Komputer Bicara.

       

      Sejak awal tahun sembilanpuluhan tunanetra di dunia mulai memanfaatkan teknollogi komputer. Dengan diciptakannya  perangkat lunak pembaca layar yang membantu membacakan semua tampilan berupa teks di layar komputer, tunanetra juga mampu memanfatkan teknologi ini. Di Indonesia, Mitra Netra berperan menghadirkan perangkat lunak pembaca layar di tahun 1992, sampai detik ini, secara bertahap ada lebih banyak telinga tunanetra yang telah terbiasa mendengarkan suaranya.

       

      Kini, di abad teknologi multi media ini, bahkan ada sebagian tunanetra yang mulai meninggalkan ”Braille”. Mereka menulis dengan komputer bicara, dan membaca  buku dalam bentuk buku elektronika (e-book) atau ”digital talking book – buku audio dalam bentuk CD”. Tak heran jika organisasi tunanetra dunia ”World Blind Union (WBU)” sempat mengkhawatirkannya. WBU merasakan dengan makin seringnya tunanetra bersentuhan dengan teknologi, kemampuan mereka membaca dan menulis Braille makin menurun.

       

      Sebenarnya teknologi komputer bicara tak akan sepenuhnya dapat mengantikan Braille. Tidaklah tepat jika karena telah piawai memanfaatkan komputer, tunanetra lalu meninggalkan Braille sama sekali. Bagi mereka yang beragama Islam misalnya, sangatlah penting mampu membaca Al Qur’an dalam Braille. Bagi mereka yang belajar musik dan ingin memahami notasi dengan baik, tak dapat dihindari harus belajar ”notasi Braille”. Bagi mereka yang belajar dan ingin menjadi ahli matematika, fisika dan kimia, juga harus mengunakan dan memahami simbol Braille untuk bidang-bidang tersebut. Namun, jika frekuensi penggunaan Braille – khususnya di kalangan tunanetra dewasa – saat ini cenderung menurun akibat lebih sering memanfatkan komputer sebagai pendukung aktifitas sehari-hari, hal ini sama saja dengan mereka yang tidak tunanetra.

       

      Semoderen apapun jaman yang akan dihadapi tunanetra nanti, mengenal dan memiliki ketrampilan membaca dan menulis Braille adalah penting. Menggunakan indera perabaan untuk mengorientasi lingkungan, termasuk membaca adalah salah satu cara yang tunanetra lakukan guna mengantikan indera penglihatan. Jika kita sedang dalam situasi sedemikian rupa di saat kita tidak bisa menggunakan teknologi, membaca dan menulis dengan tangan masih tetap bisa kita lakukan. Secara pribadi, sebagai tunanetra yang sehari-hari menggunakan komputer bicara, saya merasakan adanya kenikmatan yang berbeda saat membaca dan menulis Braille.

       

      Lebih dari itu semua,  tetap membaca dan menulis Braille merupakan penghargaan dan penghormatan kepada sang penemu, pahlawan yang telah mengubah persepsi dunia pada tunanetra, yang telah menginspirasi banyak orang di dunia, baik para tunanetra sendiri maupun mereka yang bukan tunanetra dan memperjuangkan kepentingan tunanetra.

       

       

      Abjad Braille

       

      Di bawah ini adalah huruf Braille, kombinaasi titik-titik yang menakjubkan itu. Untuk diketahui, huruf Braille bisa kita lihat dari dua sisi. Sisi negatif, yaitu sisi saat kita menulis, dari kanan ke kiri – seperti menulis huruf Arab. Sedangkan sisi positif, yaitu sisi saat membaca, dari kiri ke kanan, sama seperti huruf latin biasa.

       

       Mengapa demikian? Ya, karena yang dibaca dengan indera perabaan adalah sisi yang timbul, yaitu sisi sebaliknya, yang kita sebut sisi positif. Sedangkan saat menulis dengan tangan – dengan menggunakan slade atau riglet dan stylus, tunanetra menulis dari kanan ke kiri dengan cara menusukkan stylus pada kertas yang ditempatkan dan dijepit pada slade.

       

       

      HURUF BRAILLE

      MEMBACA

      MENULIS

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      Jakarta, 4 Januari 2010.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.