Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

742press release

Expand Messages
  • Sahabat Lingkungan
    Dec 26, 2010

      PRESS RELEASE

      Environmentalist SHALINK Yogyakarta | WALHI Yogyakarta | LBH Yogyakarta VIP [Voluntir Indonesia Pulih]

       

      Kawasan Pesisir Selatan D.I Yogyakarta dikenal kaya dengan ekosistemnya, mulai dari kawasan konservasi pesisir, wasata alam dengan ragam ekosistem yang unik hingga kawasan gumuk pasir ( sand dunes) satu-satunya di Asia bahkan hanya dua di dunia setelah negara Meksiko.

      Kekayaan alam ini telah mengakar menjadi bagian dari budaya masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat yang berada di pesisir selatan, Gunung Kidul, Bantul dan Kulon Progo.

       

      Tidak hanya itu, sukses pertanian, perikanan dan pariwista di pesisir menunjukkan alam telah memberikan anugerah sekaligus penyangga bagi sumber-sumber penghidupan masyarakat di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta.

       

      Sebuah Ancaman Baru

      pasca penandatanganan Kontrak Karya (KK) Kementrian ESDM dengan PT JMI pada 4 November 2008 silam, gejolak masyarakat pesisir kian menguat. Perlawanan ini sesungguhnya bukan semata manolak pembangunan, tetapi semata-mata ingin mempertahankan kearifan lokal yang telah menyatu dengan sumber-sumber penghidpan rakyat dan bagian perekat akar budaya setempat. Inilah salah satu nilai kearifan ekologi pesisir selatan yang membentang dari timur hingga barat (Gunung Kidul – Kulon Progo).

       

      Nilai kearifan ini akan ‘terpaksa’ ditukar dengan nominal 2 milyar perminggu dari proses eksploitasi pesisir Kulon Progo yang konon ditemukan kandungan biji besi dan kandungan bawaan lainnya. Sebuah ancaman baru ditengah carut-marutnya akar budaya masyarakat di Indonesia akibat eksploitasi alamnya. Sementara BAPPEDA DIY pada tahun 2009 telah merilis peta kawasan pesisir Kulon Progo masuk dalam kategori rawan bencana tsunami dan banjir, tapi disisi lain upaya eksploitasi sepertinya menjadi panglima untuk dalil pembangunan.

       

      Maka tepat hari ini, Senin, 27 Desember 2010 environmentalist muda yang tergabung dalam Sahabat Lingkungan (SHALINK) Yogyakarta akan menggelar ‘ritual’ penyerahan kuasa perlindungan kepada POLDA DIY sebagai salah satu perangkat negara untuk turut serta menjaga Tapak Kearifan Ekologi Pesisir Kulon Progo. Aksi ini juga berbarengan dengan WALHI dan LBH Yogyakarta yang akan melaporkan Bupati dan DPRD Kulon Progo ke POLDA DIY atas terbitnya Ijin Pemanfaatan ruang Kawasan pesisir menjadi kawasan pertambangan pasir besi, yang tertuang dalam SK BUPATI NO. 140 IZIN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN PESISIRSELATAN KULONPROGO (11 Mei 2010)Keputusan DPRD Kab. Kulon Progo No. 1/Kep/DPRD/2010, tentang persetujuan ijin pemanfaatan ruang pesisir Kulon Progo

       

      Ijin ini melanggar pasal 37 ayat 7 UU No. 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang “Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang”.Serta melanggar pasal 51 jo 53 PP No. 26 Tahun 2008 tantang Rencana Tata Ruang Nasional, yang mengatur kawasan lindung nasional “kawasan rawan bencana tsunami dan banjir” berdasarkan peta kawasan rawan bencana DIY. Pelanggaran terhadap UU Tata Ruang No. 26 Tahun 2007 dapat dipidanakan sesuai dengan pasal 73 ayat 1 dengan ancaman maksimal 5 tahun dengan denda maksimal 500 juta. Selain sanksi tersebut, juga dapat dikenakan pidana tambahan berupa pemberhentian secata tidak dengan hormat dari jabatannya.

       

       Untuk itu, environmentalist muda SHALINK Yogyakarta menggalang dukungan publik secara luas melalui ritual tumpengan beserta sesajihasil bumi pesisir, dengan berbalut lengkap pakaian adat jawa akan menyerahkan perlindungan kepada negara dan masyarakat melalui pesan sebagai berikut;

      1. Pemerintah tidak boleh mengabaikkan kearifan masyarakat pesisir dan kepentingan lingkungan hidup sebagai penyangga sumber-sumber penghidupan

      2. Bahwa tambang pasir besi justru akan mengancam tercerabutnya masyarakat dari akar budayanya (kearifan ekologi pesisir)

      3. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA ANDAL) rencana pertambangan pasir besi Kulonprogo telah mencederai hati masyarakat yang telah turun-temurun menyatu dengan alamnya.

      4. Mengajak seluruh environmentalis dan lapisan masyarakat turut serta dalam ritual penyerahan penyerahan kuasa perlindungan kepada negara [POLDA DIY] untuk turut serta menjaga kearifan Ekologi Pesisir Kulon Progo pada; Senin,27 Dec 2010, pukul 09.00 Wib bertempat di halaman POLDA DIY, Ring Road Utara – Yogyakarta

       

       

      Contac Person: Chandra Dwi R (08572 9998877) |Masykur Isnan (08572 928 0206)

      


    • Show all 2 messages in this topic