Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [sekolahrumah] Re: kajian tentang indonesia

Expand Messages
  • Yanuar Nugroho
    mBak Ines, Benar sekali. Studi soal Indonesia yang demikian berharga di mata peneliti internasional justru dianaktirikan di negeri asalnya sendiri. Masih
    Message 1 of 37 , Apr 1 1:37 AM
    • 0 Attachment
      mBak Ines,

      Benar sekali. Studi soal Indonesia yang demikian berharga di mata
      peneliti internasional justru dianaktirikan di negeri asalnya sendiri.
      Masih banyak kalangan melihat studi sosial, budaya, bahasa itu kalah
      'gengsi' dibandingkan studi teknik/rekayasa dan ekonomi, misalnya. Ini
      diperparah dengan seluruh paradigma tentang "kemajuan" yang
      melatarbelakangi seluruh agenda pembangunan. Dan celakanya, pendidikan
      yang di banyak negara maju adalah substrat utama pembangunan, di
      republik ini hanyalah 'pelengkap penderita' pembangunan itu. Pendidikan
      bukan mengarahkan pembangunan, namun pembangunan yang menentukan agenda
      pendidikan.

      (Joke: Siapa bilang studi sosial dan budaya hanya untuk anak-anak yang
      intelegensinya rendah dan masuk kategori hafalan? Justru hanya mereka
      yang punya abstraksi tinggi yang mampu memahami kerumitan persoalan
      sosial budaya dan kaitannya dengan gagasan kemanusiaan ... hehehe ..)

      Mudah-mudahan bersekolahrumah memungkinkan kita mengembangkan minat
      anak-anak kita dan membangun paradigma tentang "kemajuan" yang lebih
      holistik.

      Jika cerita kecil itu ada gunanya, silakan diteruskan.

      Salam,
      y

      inessetiawan wrote:
      > sebagian besar sekolah kita masih melihat studi mengenai Indonesia hanya sebatas textbook wajib, menganggapnya hanya untuk anak-anak yang intelegensianya rendah dan yang lebih buruk lagi, memasukkannya dalam kategori pelajaran hafalan.
    • Pelangi Kartika
      Bu Jesica yth., Pemikiran mengenai kata terima kasih (minahasa: Tarimakase) memang menarik. Banyak suku bangsa di indonesia (khususnya Indonesia Timur) tidak
      Message 37 of 37 , Apr 13 2:39 PM
      • 0 Attachment
        Bu Jesica yth.,

        Pemikiran mengenai kata terima kasih (minahasa: Tarimakase) memang menarik. Banyak suku bangsa di indonesia (khususnya Indonesia Timur) tidak memiliki kata asli dari terimakasih. Lalu bagaimana mereka mengatakan terima kasih. Mereka tidak mengatakannya, mereka melakukannya. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan sikap dan perbuatan.

        Bahasa adalah bunyi dan simbol (atau rangkaian gambar) yang mewakili suatu makna, yang tentunya harus disepakati oleh komunitas pemakai bahasa tersebut. Makna apa saja yang terkandung dalam suatu bahasa kurang lebih menggambarkan nilai-nilai yang ada pada si komunitas.

        Saya pernah membantu menyusun 'kamus' bahasa Hatam di Pegunungan Arfak, ternyata kata-kata (bunyi) yang dikenal di suku tersebut dituliskan tidak sampai 20 lembar halaman folio (bandingkan dengan tebalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tetapi setiap hari mereka (orang Hatam) dengan leluasa berbahasa dan baik-baik saja. Dalam hidup mereka tidak ada makna atau konsep pemikiran yang terlalu ruwet yang perlu mereka komunikasikan. Mereka juga tidak mengenal kata 'terima kasih'.

        Ketika disampaikan kata 'istri', mereka bingung mencari padanan katanya dalam bahasa mereka; akhirnya disepakati istri = atnema = 'perempuan yang di rumah'. Apakah leluhur mereka tidak mengenal makna istri dalam kehidupan keseharian mereka? Kami berusaha keras dan asik memahami bahasa mereka dalam mengenali berbagai  makna seperti: keluarga, setia, belajar, dosa, keselamatan, akhirat (??) dan sebagainya.

        Etnolinguistik, bahasa suku. bahasa ibu, ...atau apalah namanya, menarik untuk dipelajari bagi yang berminat. Apakah perlu diajarkan pada anak-anak kita? Biarlah mereka sendiri yang memutuskan, mungkin kelak ketika mereka ingin kuliah di fakultas budaya jurusan anthropologi.

        Salam:
        BudiT
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.