Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Jadi DOKTER, harus 175 Juta Rupiah?

Expand Messages
  • pelangi_kartika
    Ytksh. Bu Ines. Yang masuk kedokteran itu anak pertama saya Vincent, dia lewat Ujian Masuk UGM Yogya tahun 2004. Waktu isi formulir, ada pilihan, mau nyumbang
    Message 1 of 14 , Jan 31, 2009
    • 0 Attachment
      Ytksh. Bu Ines.

      Yang masuk kedokteran itu anak pertama saya Vincent, dia lewat Ujian
      Masuk UGM Yogya tahun 2004. Waktu isi formulir, ada pilihan, mau
      nyumbang 0 atau 20jt. Sekarang pilihannya 0, 10jt,15jt, 20jt. Kalau
      pilihannya 0, harus ada surat keterangan orangtua tidak mampu.

      Yang mendaftar di kedokteran ugm sekitar 15000 dan yang diterima hanya
      100 siswa setiap tahun. SPP per semester tidak sampai Rp 2jt.

      Banyak beasiswa ditawarkan bagi yang mereka memenuhi syarat, baik dari
      pemerintah maupun swasta. Anak saya memperoleh beasiswa dari Tanoto
      Foundation, seluruh biaya kuliah dibayar dan dapat uang saku Rp
      500rb/bulan. Tahun 2007 anak saya itu sudah wisuda lulus S.Ked,
      sekarang sedang praktek di rumahsakit2 di Yogya-Jawa Tengah, terakhir
      sedang di Banyumas. Lulusnya suma cumlaude lho..umurnya baru 21 tahun.
      Belajarnya sampai sma banyak diajar papa mamanya saja...hehehe bangga
      nih, maklum anak.

      Anak kedua Shimon keterima di Teknik Elektro UI tahun 2005. Dimintakan
      sumbangan rp 25jt setelah diterima. Saya tiap pagi menunggu untuk
      jumpa dekan untuk minta keringanan, tapi saya gak mau bikin surat
      keterangan miskin. Saya gak miskin koq, cuma gak punya duit banyak
      aja. Akhirnya dipersilakan membayar serelanya, saya kasih sumbangan rp
      3jt. Kalau Tuhan berkati tahun ini anak saya lulus, dia sedang test
      kerja di Toshiba Jepang. Semoga diterima. Anak saya ini jadi tim
      Kontes Robot Indonesia UI, dapat juara II dan kontrak dengan salah
      satu perusahaan. Lumayan, spp bisa bayar sendiri. Beasiswa juga dia
      dapat dari pemerintah.

      Menurut saya, kalau anak memang punya tekad dan kemampuan, jangan
      takut soal biaya, maju terus. Masak Bapa di Surga gak lihat dan
      menolong anak-anakNya.

      Salam
      Buditri
    • Wiwiet Mardiati
      Pak budi, info ini sangat inspiratif sekali. Terima kasih atas sharingnya. Semoga teman2 yang tertarik homeschool semakin tidak perlu takut soal ijasah. :-)
      Message 2 of 14 , Feb 1 3:46 AM
      • 0 Attachment
        Pak budi, info ini sangat inspiratif sekali. Terima kasih atas sharingnya. Semoga teman2 yang tertarik homeschool semakin tidak perlu takut soal ijasah. :-)
      • dinar :)
        YTH Bapak Budi, Mohon maaf, karena saya masih proses menuju HS atau mungkin unschooling lebih tepatnya untuk anak saya, maka sedang meyakinkan diri dan
        Message 3 of 14 , Feb 1 6:37 PM
        • 0 Attachment
          YTH Bapak Budi,

          Mohon maaf, karena saya masih proses menuju HS atau mungkin unschooling
          lebih tepatnya untuk anak saya, maka sedang meyakinkan diri dan lingkungan
          sekitar akan pilihan saya tsb (walaupun kelak tetap keputusan utama ada pada
          anak saya, mau pilih jalur apa school atau unschool).

          Sekiranya, kisah anak Bapak hingga SMA diajari papa-mama apakah benar2 tidak
          sekolah di sekolah umum atau gimana ya ?

          Terima kasih.

          -dinar-


          [Non-text portions of this message have been removed]
        • Aar
          Terima kasih atas inspirasinya pak Budi, Kita tunggu sharingnya lebih jauh... bagaimana proses belajar Vincent dan Shimon bersama papa dan mamanya... Naik
          Message 4 of 14 , Feb 1 10:36 PM
          • 0 Attachment
            Terima kasih atas inspirasinya pak Budi,

            Kita tunggu sharingnya lebih jauh... bagaimana proses belajar Vincent
            dan Shimon bersama papa dan mamanya... Naik turun, jatuh-bangun, what
            works what doesn't work sesuai pengalaman keluarga pak Budi.
            Mudah-mudahan bisa menjadi gambaran dan inspirasi buat kita semua...

            Salam,
            Aar

            pelangi_kartika wrote:
            >
            > Ytksh. Bu Ines.
            >
            > Yang masuk kedokteran itu anak pertama saya Vincent, dia lewat Ujian
            > Masuk UGM Yogya tahun 2004. Waktu isi formulir, ada pilihan, mau
            > nyumbang 0 atau 20jt. Sekarang pilihannya 0, 10jt,15jt, 20jt. Kalau
            > pilihannya 0, harus ada surat keterangan orangtua tidak mampu.
            >
            > Yang mendaftar di kedokteran ugm sekitar 15000 dan yang diterima hanya
            > 100 siswa setiap tahun. SPP per semester tidak sampai Rp 2jt.
            >
            > Banyak beasiswa ditawarkan bagi yang mereka memenuhi syarat, baik dari
            > pemerintah maupun swasta. Anak saya memperoleh beasiswa dari Tanoto
            > Foundation, seluruh biaya kuliah dibayar dan dapat uang saku Rp
            > 500rb/bulan. Tahun 2007 anak saya itu sudah wisuda lulus S.Ked,
            > sekarang sedang praktek di rumahsakit2 di Yogya-Jawa Tengah, terakhir
            > sedang di Banyumas. Lulusnya suma cumlaude lho..umurnya baru 21 tahun.
            > Belajarnya sampai sma banyak diajar papa mamanya saja...hehehe bangga
            > nih, maklum anak.
            >
            > Anak kedua Shimon keterima di Teknik Elektro UI tahun 2005. Dimintakan
            > sumbangan rp 25jt setelah diterima. Saya tiap pagi menunggu untuk
            > jumpa dekan untuk minta keringanan, tapi saya gak mau bikin surat
            > keterangan miskin. Saya gak miskin koq, cuma gak punya duit banyak
            > aja. Akhirnya dipersilakan membayar serelanya, saya kasih sumbangan rp
            > 3jt. Kalau Tuhan berkati tahun ini anak saya lulus, dia sedang test
            > kerja di Toshiba Jepang. Semoga diterima. Anak saya ini jadi tim
            > Kontes Robot Indonesia UI, dapat juara II dan kontrak dengan salah
            > satu perusahaan. Lumayan, spp bisa bayar sendiri. Beasiswa juga dia
            > dapat dari pemerintah.
            >
            > Menurut saya, kalau anak memang punya tekad dan kemampuan, jangan
            > takut soal biaya, maju terus. Masak Bapa di Surga gak lihat dan
            > menolong anak-anakNya.
            >
            > Salam
            > Buditri
            >
            >
          • pelangi_kartika
            ytksg. bu Dinar dan rekan-rekan lain, khususnya pak Aar yang budiman. Seluruh anak saya ada 5, cowok semua, mereka homeschooling sejak kecil, tetapi untuk
            Message 5 of 14 , Feb 2 7:02 PM
            • 0 Attachment
              ytksg. bu Dinar dan rekan-rekan lain, khususnya pak Aar yang budiman.

              Seluruh anak saya ada 5, cowok semua, mereka homeschooling sejak
              kecil, tetapi untuk memperoleh pengakuan/ijasah, ujian 'nunut' di
              sekolah formal, hanya anak ketiga Dharma yang kemarin ikut paket C di
              bulan November. Dharma lahir november 1993, sebelumnya sampai smp dia
              ujian di sekolah formal.

              Adiknya dharma, salmon, lahir tahun 1995, kelas 10 sma, ujian di paket
              B/unpk dan sekolah formal, jadi ijasahnya ada dua. Yang bungsu,no. 5,
              lahir 1997 kelas VIII smp ujian di sd negeri/formal, mungkin dia juga
              akan menempuh UN dan UNPK, biar mantabs...

              Buat kami homeschooling itu mudah pak, intinya cuma membudayakan
              belajar sejak kecil. Anak-anak terus diberi motivasi, fasilitas dan
              tentunya keteladanan; untuk terus belajar. Penuhi rumah dengan bukun
              media belajar lainnya. Tentu saja kedua orangtua juga mestinya senang
              belajar dan memperhatikan anak kalau mereka bertanya (walaupun tidak
              selalu harus bisa menjawab semua). Dengan adanya internet, semua
              menjadi lebih mudah.

              Kami di rumah sangat ketat untuk TIDAK MENONTON TV, tidak main PS/Game
              Komputer, tidak merokok, dan tentu saja setiap hari belajar bersama.
              Semua anak dibiasakan bangun pagi jam 5.00 dan bekerja dengan tugasnya
              masing-masing. Setiap hari kami beribadah bersama.

              Semakin besar anak, semakin sulit pelajaran (akademis) mereka, tetapi
              semakin mudah mereka belajar mandiri dan mencari sumber2 sendiri. Yang
              penting, sejak kecil mereka sudah terbiasa belajar, kerja keras, dan
              tidak membuang-buang waktu
              untuk hal tidak berguna. Itu saja.

              Masalah mulai muncul menjelang puber dan selama puber. Ketika teman
              lebih disukai dari pada orangtua...
              Kami harus bersaing merebut hati mereka dengan teman2 mereka...
              Kalau mulai kalah...saya percaya wejangan:

              Amsal 13
              13:24 Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi
              siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.

              salam.
              Buditri
            • pelangi_kartika
              Bu ines. Saya menerapkan secara leterlek, dengan kasih dan pada waktunya. Tongkat itu seringkali lebih baik daripada verbal yang menusuk tajam ke dalam hati.
              Message 6 of 14 , Feb 3 1:10 PM
              • 0 Attachment
                Bu ines.
                Saya menerapkan secara leterlek, dengan kasih dan pada waktunya.
                Tongkat itu seringkali lebih baik daripada verbal yang menusuk tajam
                ke dalam hati. Ingat lho bu, saya punya 5 anak lelaki yang penuh
                energi dan karakternya beda satu sama lainnya. Kebayang deh kalau
                punya satu anak perempuan yang manis...

                Salam
                Buditri

                --- In sekolahrumah@yahoogroups.com, "inessetiawan" <inessetiawan@...>
                wrote:
                >
                > Ayatnya dimaknai secara harafiah/literal begitu Pak?
                > Di rumah kami punya beberapa tongkat. Satu untuk cari buah kismis
                > (Jamaican cherry), satu untuk Da Hye latihan gerakan tongkat seperti
                > 'cadet', Satu lagi untuk dilepar seperti dalam lempar lembing
                > (ujungnya lancip). Semuanya dari bambu.
                >
                > Ines Setiawan
                >
                >
                > > Amsal 13
                > > 13:24 Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi
                > > siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.
                > >
                > > salam.
                > > Buditri
                > >
                >
              • ary susanti
                Yth Pak Budi, saya senang sekali membaca postingan Bapak. Saya jadi tambah yakin kalo HS itu bisa mencapai sesuatu . Pak , saya curious nih. Kalo bisa
                Message 7 of 14 , Feb 7 2:46 AM
                • 0 Attachment
                  Yth Pak Budi,

                  saya senang sekali membaca postingan Bapak. Saya jadi tambah yakin
                  kalo HS itu bisa mencapai 'sesuatu'.

                  Pak , saya curious nih. Kalo bisa di-share pengalamannya untuk
                  me-'nunut'-kan anak ikut ujian di sekolah formal. Bagaimana
                  prosedurnya? Apakah ada hubungan khusus antara Bapak dengan SD
                  tersebut? Atau siapa pun dimungkinkan untuk mendapatkan kesempatan itu?

                  Salam,
                  ary
                • pelangi_kartika
                  Ibu Ary Susanti yang baik, Komunitas kami sejak awal ujiannya memang di sekolah formal. Pada masa sebelum UU no 20/2003, dimana istilah pendidikan mandiri oleh
                  Message 8 of 14 , Feb 7 6:28 AM
                  • 0 Attachment
                    Ibu Ary Susanti yang baik,

                    Komunitas kami sejak awal ujiannya memang di sekolah formal.
                    Pada masa sebelum UU no 20/2003, dimana istilah pendidikan mandiri
                    oleh keluarga belum dikenal (pasal 27, yaitu tentang pendidikan
                    informal), komunitas Sekolah Pelangi dianggap sekolah formal yang
                    belum ada ijinnya.

                    Dengan pertolongan Pengawas TK/SD Kecamatan Ciputat waktu itu, Hj Siti
                    Widodari, anak2 komunitas pelangi diijinkan 'menumpang' ujian di
                    sekolah formal yang berada di bawah pengawasannya. Itu mulai sekitar
                    awal 1992. Terus ujian menumpang demikianlah yang dilakukan.

                    Saat ini depdiknas telah membuat Panduan Kemitraan SekolahRumah,
                    Panduan Penyelenggaraan SekolahRumah, Panduan Pengawasan SekolahRumah,
                    dll.; tetapi sayangnya berbagai panduan itu belum atau tidak
                    diterbitkan. Maklum, khawatir mainstream pendidikan (sekolah formal)
                    yang merupakan investasi terbesar depdiknas jadi ditinggalkan (suudon
                    nih).

                    Intinya bu, kalau mau ikut ujian di sekolah formal, pada awal tahun
                    ajaran kelas 6 SD atau kelas 3 SMP/SMA, anak-anak dimutasi/dipindahkan
                    ke sekolah formal tersebut. Seringkali ini bergantung visi Kepala
                    Sekolah dan Pengawas Diknas di sekolah tersebut. Walaupun UU sudah
                    membolehkan dan melindungi, tetapi ...tahulah di negara kita ini,
                    seringkali UU kurang berwibawa dan kalah sama kepala sekolah.

                    Bagaimanapun, hal itu harus diperjuangkan.

                    Salam.
                    Buditri
                  Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.