Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

Expand Messages
  • lingmajaya
    Dear Ibu Nara, Saya sangat senang dengan pengalaman Ibu dengan coklat yang akhirnya tidak jadi ibu beli itu. Ibu sudah merupakan teladan bagi anak-anak Ibu,
    Message 1 of 7 , Jan 21, 2013
    • 0 Attachment
      Dear Ibu Nara,

      Saya sangat senang dengan pengalaman Ibu dengan coklat yang akhirnya tidak jadi ibu beli itu. Ibu sudah merupakan teladan bagi anak-anak Ibu, yaitu melakukan sendiri apa yang Ibu ingin mereka lakukan, walaupun itu berarti harus menahan keinginan diri sendiri. (Yang saat itu pasti sedang sangat ingin makan coklat ;-)).

      Saya percaya kedua anak Ibu akan tumbuh kembang jadi manusia yang cerdas, bertanggung jawab dan bisa menjaga diri sendiri.

      Saya juga senang Ibu kasih kebebasan kepada mereka sekali-kali untuk membeli barang yang diinginkan. Walaupun dalam cerita ibu mereka tidak jadi beli (karena dalam usia sedini itu mereka sudah tau baik buruknya suatu konsekuensi.) Semua itu secara tidak langsung mengajarkan anak untuk mengerti dan toleransi terhadap suatu keinginan. Itu adalah hal yang manusiawi sekali bukan?

      Terima kasih atas sharing pengalaman Ibu Nara, semoga juga bisa dicontoh keluarga yang lain.

      Salam hangat,

      Ling Majaya
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      -----Original Message-----
      From: nara nih <nara_ckp@...>
      Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Date: Mon, 21 Jan 2013 14:40:24
      To: sekolahrumah@yahoogroups.com<sekolahrumah@yahoogroups.com>
      Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Subject: Re: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

      Sepakat banget dengan tulisan ini. Berdasarkan pengalaman saya, memang orang tua punya peranan sangat besar terhadap pola jajan anak. Anak saya dua, umur 3 tahun 4 bulan dan 2 tahun 4 bulan. Saya biasa belanja kebutuhan sehari-hari di hari sabtu/minggu saat libur kerja, sekalian bawa anak-anak juga. Biasanya saya beli apa yang saya butuhkan, sudah buat catatan dari rumah, tak ada waktu untuk lihat2 barang pajangan di rak supermarket. Biasanya sambil saya bilang ke anak-anak kenapa saya beli barang itu.

      Kebiasaan ini rupanya terekam baik di memori mereka. Suatu kali, saya pengen banget makan coklat. Maka saya dorong kereta belanja ke deretan coklat yang berdekatan dengan deretan biskuit. Saat tangan saya meraih coklat, sulung saya bertanya barang apakah yang saya ambil. Saya bilang kalau saya ambil coklat. Dia bertanya lagi kenapa ambil itu? buat masak apa di rumah? Saya pun kelabakan untuk menjawabnya, akhirnya coklat pun saya kembalikan.

      Pas lewat deretan biskuit, saya tawarkan ke mereka untuk memilih. Sesekali kasih jajanan buat anak-anak tak apalah pikir saya. Anak-anak tak ada yang bergerak. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa kali ini mereka boleh ambil jajanan sesuka mereka. Si sulung yang duluan beranjak, pegang-pegang berbagai biskuit, tapi dikembalikan lagi. Sesekali sambil bilang "ini bikin sakit gigi.... ini bukan buat anak-anak... ini pake pemanis..." Adiknya pun ikut-ikutan. Jadinya tak ada satupun biskuit yang diambil.


       




      ________________________________
      From: Teacher Recruitment <lembagaedukasi@...>
      To:
      Sent: Thursday, December 6, 2012 10:32 AM
      Subject: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

      *Jangan Larang Anak Belanja!*

      *
      *

      Artikel ini adalah lanjutan dari artikel saya terdahulu: “Ajari Anak Makna
      Uang.” Dari membaca judul ini saya yakin banyak yang akan langsung protes.
      Bagaimana mungkin? Udah dilarang saja begitu pulang tentengan di tangan
      sudah berkantong-kantong. Orang tua anak dari berbagai usia pasti pernah
      menghadapi masalah ini. Anak yang suka belanja mainan, anak yang ada aja
      keperluannya, remaja yang beli pernak-pernik dsb. Bahkan pernah saya baca
      ada survey yang mendapatkan bahwa uang jajan anak remaja bisa melebihi gaji
      seorang PNS. Hmmm….itu pasti anak orang kaya dong!

      [Non-text portions of this message have been removed]



      ------------------------------------

      Yahoo! Groups Links
    • lingmajaya
      Terima kasih juga atas tanggapan dan contoh pengalaman dari Ibu Aulin tentang jajanan dan penjaja makanan keliling. Saya senang adanya real case disertai trik
      Message 2 of 7 , Jan 21, 2013
      • 0 Attachment
        Terima kasih juga atas tanggapan dan contoh pengalaman dari Ibu Aulin tentang jajanan dan penjaja makanan keliling. Saya senang adanya real case disertai trik mengatasi hal tersebut.

        Salam hangat,

        Ling Majaya
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        -----Original Message-----
        From: aulin kharisma <karisa_milenia@...>
        Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
        Date: Tue, 22 Jan 2013 12:18:06
        To: sekolahrumah@yahoogroups.com<sekolahrumah@yahoogroups.com>
        Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
        Subject: Bls: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

        betul, saya juga setuju bila kebijakan dan pola asuh orangtua menentukan sikap dan perilaku anak dalam bertindak. Ada orangtua yang marah2 bila anaknya selalu memanggil tukang makanan apa aja yg lewat di depan rumah? Kenapa harus marah? Ortunya sendiri yang mengajarkaan dia juga beli makanan/jajan dari tukang makanan keliling itu. Kalaupun dia menolak dan memarahi anak pada akhirnya dia meluluskan permintaan anak juga karena si anak tantrum nangisnya...hal yang tidak konsisten inipun membuat anak hilang pendirian dan seolah2 mengijinkan dengan cara tantrum keinginannya terpenuhi. Alhamdulilah, anak2 saya mau berapapun tukang makanan lewat hanya ikut nari2 saja mengikuti lagunya tidak pernah meminta untuk dibelikan, karena saya juga tidak membiasakan anak "jajan", lebih suka membuat cemilan sendiri bareng anak2..kalopun anak2 pengen sesuatu ada waktu dan hari khusus "jajan" bersama saya juga untuk pendampingan. Dan tiap kali memilih sesuatu, anak2
        bertanya duluan ke saya, ambil ini boleh ma?. Beri pengertian pelan2 dan contoh ke anak2 dari ortu sangat penting sehingga mereka juga mengerti dalam bersikap dan cara meminta yg baik.



        ________________________________
        Dari: nara nih <nara_ckp@...>
        Kepada: "sekolahrumah@yahoogroups.com" <sekolahrumah@yahoogroups.com>
        Dikirim: Senin, 21 Januari 2013 13:40
        Judul: Re: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

         
        Sepakat banget dengan tulisan ini. Berdasarkan pengalaman saya, memang orang tua punya peranan sangat besar terhadap pola jajan anak. Anak saya dua, umur 3 tahun 4 bulan dan 2 tahun 4 bulan. Saya biasa belanja kebutuhan sehari-hari di hari sabtu/minggu saat libur kerja, sekalian bawa anak-anak juga. Biasanya saya beli apa yang saya butuhkan, sudah buat catatan dari rumah, tak ada waktu untuk lihat2 barang pajangan di rak supermarket. Biasanya sambil saya bilang ke anak-anak kenapa saya beli barang itu.

        Kebiasaan ini rupanya terekam baik di memori mereka. Suatu kali, saya pengen banget makan coklat. Maka saya dorong kereta belanja ke deretan coklat yang berdekatan dengan deretan biskuit. Saat tangan saya meraih coklat, sulung saya bertanya barang apakah yang saya ambil. Saya bilang kalau saya ambil coklat. Dia bertanya lagi kenapa ambil itu? buat masak apa di rumah? Saya pun kelabakan untuk menjawabnya, akhirnya coklat pun saya kembalikan.

        Pas lewat deretan biskuit, saya tawarkan ke mereka untuk memilih. Sesekali kasih jajanan buat anak-anak tak apalah pikir saya. Anak-anak tak ada yang bergerak. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa kali ini mereka boleh ambil jajanan sesuka mereka. Si sulung yang duluan beranjak, pegang-pegang berbagai biskuit, tapi dikembalikan lagi. Sesekali sambil bilang "ini bikin sakit gigi.... ini bukan buat anak-anak... ini pake pemanis..." Adiknya pun ikut-ikutan. Jadinya tak ada satupun biskuit yang diambil.

         

        ________________________________
        From: Teacher Recruitment mailto:lembagaedukasi%40gmail.com>
        To:
        Sent: Thursday, December 6, 2012 10:32 AM
        Subject: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

        *Jangan Larang Anak Belanja!*

        *
        *

        Artikel ini adalah lanjutan dari artikel saya terdahulu: “Ajari Anak Makna
        Uang.” Dari membaca judul ini saya yakin banyak yang akan langsung protes.
        Bagaimana mungkin? Udah dilarang saja begitu pulang tentengan di tangan
        sudah berkantong-kantong. Orang tua anak dari berbagai usia pasti pernah
        menghadapi masalah ini. Anak yang suka belanja mainan, anak yang ada aja
        keperluannya, remaja yang beli pernak-pernik dsb. Bahkan pernah saya baca
        ada survey yang mendapatkan bahwa uang jajan anak remaja bisa melebihi gaji
        seorang PNS. Hmmm….itu pasti anak orang kaya dong!

        [Non-text portions of this message have been removed]




        [Non-text portions of this message have been removed]



        ------------------------------------

        Yahoo! Groups Links
      • aulin kharisma
        sama2 dan terima kasih juga apresiasinya ...disini kita saling berbagi pengalaman dan ilmu ya :) ________________________________ Dari:
        Message 3 of 7 , Jan 22, 2013
        • 0 Attachment
          sama2 dan terima kasih juga apresiasinya ...disini kita saling berbagi pengalaman dan ilmu ya :)



          ________________________________
          Dari: "lembagaedukasi@..." <lembagaedukasi@...>
          Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Dikirim: Selasa, 22 Januari 2013 11:40
          Judul: Re: Bls: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

           
          Terima kasih juga atas tanggapan dan contoh pengalaman dari Ibu Aulin tentang jajanan dan penjaja makanan keliling. Saya senang adanya real case disertai trik mengatasi hal tersebut.

          Salam hangat,

          Ling Majaya
          Powered by Telkomsel BlackBerry®

          -----Original Message-----
          From: aulin kharisma mailto:karisa_milenia%40yahoo.com>
          Sender: mailto:sekolahrumah%40yahoogroups.com
          Date: Tue, 22 Jan 2013 12:18:06
          To: mailto:sekolahrumah%40yahoogroups.commailto:sekolahrumah%40yahoogroups.com>
          Reply-To: mailto:sekolahrumah%40yahoogroups.com
          Subject: Bls: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

          betul, saya juga setuju bila kebijakan dan pola asuh orangtua menentukan sikap dan perilaku anak dalam bertindak. Ada orangtua yang marah2 bila anaknya selalu memanggil tukang makanan apa aja yg lewat di depan rumah? Kenapa harus marah? Ortunya sendiri yang mengajarkaan dia juga beli makanan/jajan dari tukang makanan keliling itu. Kalaupun dia menolak dan memarahi anak pada akhirnya dia meluluskan permintaan anak juga karena si anak tantrum nangisnya...hal yang tidak konsisten inipun membuat anak hilang pendirian dan seolah2 mengijinkan dengan cara tantrum keinginannya terpenuhi. Alhamdulilah, anak2 saya mau berapapun tukang makanan lewat hanya ikut nari2 saja mengikuti lagunya tidak pernah meminta untuk dibelikan, karena saya juga tidak membiasakan anak "jajan", lebih suka membuat cemilan sendiri bareng anak2..kalopun anak2 pengen sesuatu ada waktu dan hari khusus "jajan" bersama saya juga untuk pendampingan. Dan tiap kali memilih sesuatu, anak2
          bertanya duluan ke saya, ambil ini boleh ma?. Beri pengertian pelan2 dan contoh ke anak2 dari ortu sangat penting sehingga mereka juga mengerti dalam bersikap dan cara meminta yg baik.



          ________________________________
          Dari: nara nih mailto:nara_ckp%40yahoo.com>
          Kepada: "mailto:sekolahrumah%40yahoogroups.com" mailto:sekolahrumah%40yahoogroups.com>
          Dikirim: Senin, 21 Januari 2013 13:40
          Judul: Re: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

           
          Sepakat banget dengan tulisan ini. Berdasarkan pengalaman saya, memang orang tua punya peranan sangat besar terhadap pola jajan anak. Anak saya dua, umur 3 tahun 4 bulan dan 2 tahun 4 bulan. Saya biasa belanja kebutuhan sehari-hari di hari sabtu/minggu saat libur kerja, sekalian bawa anak-anak juga. Biasanya saya beli apa yang saya butuhkan, sudah buat catatan dari rumah, tak ada waktu untuk lihat2 barang pajangan di rak supermarket. Biasanya sambil saya bilang ke anak-anak kenapa saya beli barang itu.

          Kebiasaan ini rupanya terekam baik di memori mereka. Suatu kali, saya pengen banget makan coklat. Maka saya dorong kereta belanja ke deretan coklat yang berdekatan dengan deretan biskuit. Saat tangan saya meraih coklat, sulung saya bertanya barang apakah yang saya ambil. Saya bilang kalau saya ambil coklat. Dia bertanya lagi kenapa ambil itu? buat masak apa di rumah? Saya pun kelabakan untuk menjawabnya, akhirnya coklat pun saya kembalikan.

          Pas lewat deretan biskuit, saya tawarkan ke mereka untuk memilih. Sesekali kasih jajanan buat anak-anak tak apalah pikir saya. Anak-anak tak ada yang bergerak. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa kali ini mereka boleh ambil jajanan sesuka mereka. Si sulung yang duluan beranjak, pegang-pegang berbagai biskuit, tapi dikembalikan lagi. Sesekali sambil bilang "ini bikin sakit gigi.... ini bukan buat anak-anak... ini pake pemanis..." Adiknya pun ikut-ikutan. Jadinya tak ada satupun biskuit yang diambil.

           

          ________________________________
          From: Teacher Recruitment mailto:lembagaedukasi%40gmail.com>
          To:
          Sent: Thursday, December 6, 2012 10:32 AM
          Subject: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!

          *Jangan Larang Anak Belanja!*

          *
          *

          Artikel ini adalah lanjutan dari artikel saya terdahulu: “Ajari Anak Makna
          Uang.” Dari membaca judul ini saya yakin banyak yang akan langsung protes.
          Bagaimana mungkin? Udah dilarang saja begitu pulang tentengan di tangan
          sudah berkantong-kantong. Orang tua anak dari berbagai usia pasti pernah
          menghadapi masalah ini. Anak yang suka belanja mainan, anak yang ada aja
          keperluannya, remaja yang beli pernak-pernik dsb. Bahkan pernah saya baca
          ada survey yang mendapatkan bahwa uang jajan anak remaja bisa melebihi gaji
          seorang PNS. Hmmm….itu pasti anak orang kaya dong!

          [Non-text portions of this message have been removed]




          [Non-text portions of this message have been removed]



          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links






          [Non-text portions of this message have been removed]
        • agma.sifa
          Saya juga pengalaman menarik ketika berbelanja dengan putri saya Amira yang baru berusia 2 tahun. . Waktu itu kami mampir di salah satu swalayan (a.. . . t)
          Message 4 of 7 , Jan 22, 2013
          • 0 Attachment
            Saya juga pengalaman menarik ketika berbelanja dengan putri saya Amira yang
            baru berusia 2 tahun. . Waktu itu kami mampir di salah satu swalayan (a.. .
            . t) ketika berada di deretan jajanan. . Putri kecilku ini hanya bilang. .
            Bunda. . Bunda. . Bunda. . Dan berhenti di depan sosis. . Sambil matanya
            terus menatap sosis tersebut. .. . Ia tidak berani memintanya, dan aku
            tersenyum sambik berkata "ade mau sosis?" lalu ia menjawab dengan memegang
            sosis tersebut. . "ia ade mau jajan". . dan meledaklah tawaku. . Kalau
            jajan sosis atau makanan sehat boleh kok sayaaaang. . .
            Alhamdulillah putri kecilku tahu mana yang boleh ia konsumsi dan mana yang
            tidak boleh. . Mudah2an ini membuahkan hasil yang positif di kemudian hari.
            . . Amin YRA

            Salam hangat,
            sifa

            sent from my samsung puyer
            On Jan 22, 2013 4:54 AM, <lembagaedukasi@...> wrote:

            > **
            >
            >
            > Dear Ibu Nara,
            >
            > Saya sangat senang dengan pengalaman Ibu dengan coklat yang akhirnya tidak
            > jadi ibu beli itu. Ibu sudah merupakan teladan bagi anak-anak Ibu, yaitu
            > melakukan sendiri apa yang Ibu ingin mereka lakukan, walaupun itu berarti
            > harus menahan keinginan diri sendiri. (Yang saat itu pasti sedang sangat
            > ingin makan coklat ;-)).
            >
            > Saya percaya kedua anak Ibu akan tumbuh kembang jadi manusia yang cerdas,
            > bertanggung jawab dan bisa menjaga diri sendiri.
            >
            > Saya juga senang Ibu kasih kebebasan kepada mereka sekali-kali untuk
            > membeli barang yang diinginkan. Walaupun dalam cerita ibu mereka tidak jadi
            > beli (karena dalam usia sedini itu mereka sudah tau baik buruknya suatu
            > konsekuensi.) Semua itu secara tidak langsung mengajarkan anak untuk
            > mengerti dan toleransi terhadap suatu keinginan. Itu adalah hal yang
            > manusiawi sekali bukan?
            >
            > Terima kasih atas sharing pengalaman Ibu Nara, semoga juga bisa dicontoh
            > keluarga yang lain.
            >
            > Salam hangat,
            >
            > Ling Majaya
            > Powered by Telkomsel BlackBerry�
            >
            > -----Original Message-----
            > From: nara nih nara_ckp@...>
            > Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
            > Date: Mon, 21 Jan 2013 14:40:24
            > To: sekolahrumah@yahoogroups.comsekolahrumah@yahoogroups.com>
            > Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
            > Subject: Re: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!
            >
            > Sepakat banget dengan tulisan ini. Berdasarkan pengalaman saya, memang
            > orang tua punya peranan sangat besar terhadap pola jajan anak. Anak saya
            > dua, umur 3 tahun 4 bulan dan 2 tahun 4 bulan. Saya biasa belanja kebutuhan
            > sehari-hari di hari sabtu/minggu saat libur kerja, sekalian bawa anak-anak
            > juga. Biasanya saya beli apa yang saya butuhkan, sudah buat catatan dari
            > rumah, tak ada waktu untuk lihat2 barang pajangan di rak supermarket.
            > Biasanya sambil saya bilang ke anak-anak kenapa saya beli barang itu.
            >
            > Kebiasaan ini rupanya terekam baik di memori mereka. Suatu kali, saya
            > pengen banget makan coklat. Maka saya dorong kereta belanja ke deretan
            > coklat yang berdekatan dengan deretan biskuit. Saat tangan saya meraih
            > coklat, sulung saya bertanya barang apakah yang saya ambil. Saya bilang
            > kalau saya ambil coklat. Dia bertanya lagi kenapa ambil itu? buat masak apa
            > di rumah? Saya pun kelabakan untuk menjawabnya, akhirnya coklat pun saya
            > kembalikan.
            >
            > Pas lewat deretan biskuit, saya tawarkan ke mereka untuk memilih. Sesekali
            > kasih jajanan buat anak-anak tak apalah pikir saya. Anak-anak tak ada yang
            > bergerak. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa kali ini mereka boleh ambil
            > jajanan sesuka mereka. Si sulung yang duluan beranjak, pegang-pegang
            > berbagai biskuit, tapi dikembalikan lagi. Sesekali sambil bilang "ini bikin
            > sakit gigi.... ini bukan buat anak-anak... ini pake pemanis..." Adiknya pun
            > ikut-ikutan. Jadinya tak ada satupun biskuit yang diambil.
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            > ________________________________
            > From: Teacher Recruitment lembagaedukasi@...>
            > To:
            > Sent: Thursday, December 6, 2012 10:32 AM
            > Subject: [sekolahrumah] [Opini] Jangan Larang Anak Belanja!
            >
            > *Jangan Larang Anak Belanja!*
            >
            > *
            > *
            >
            > Artikel ini adalah lanjutan dari artikel saya terdahulu: �Ajari Anak Makna
            > Uang.� Dari membaca judul ini saya yakin banyak yang akan langsung protes.
            > Bagaimana mungkin? Udah dilarang saja begitu pulang tentengan di tangan
            > sudah berkantong-kantong. Orang tua anak dari berbagai usia pasti pernah
            > menghadapi masalah ini. Anak yang suka belanja mainan, anak yang ada aja
            > keperluannya, remaja yang beli pernak-pernik dsb. Bahkan pernah saya baca
            > ada survey yang mendapatkan bahwa uang jajan anak remaja bisa melebihi
            > gaji
            > seorang PNS. Hmmm�.itu pasti anak orang kaya dong!
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            >
            >
            > ------------------------------------
            >
            > Yahoo! Groups Links
            >
            >
            >
            >
            >


            [Non-text portions of this message have been removed]
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.