Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [sekolahrumah] Sudah beredar: Seri Mendidik Anak Ala Homeschool

Expand Messages
  • faito_putori@yahoo.co.jp
    Dear mom Uti, Thankyou ulasannya.pasti anak2 senang punya mom cerdas sprti mom Uti. Nama saya Putri, nama kecil juga Uti ;) Saya sdg menunggu buku2 mom Uti
    Message 1 of 5 , Aug 29, 2012
    • 0 Attachment
      Dear mom Uti,
      Thankyou ulasannya.pasti anak2 senang punya mom cerdas sprti mom Uti. Nama saya Putri, nama kecil juga Uti ;)
      Saya sdg menunggu buku2 mom Uti dikirim ke rumah dr Gramedia Online.
      Jadi,kesibukan mom Uti skrg adl mendidik semi homeschooling plus menulis pelbagai buku anak,ya? Saya lihat mom sdh menerbitkan buanyaaak buku. Karir yg indah n membuat saya jd pny cita2 jd sprti mom Uti.

      Semoga sukses
      Putri @bogor
      Sent from my BlackBerry� smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

      -----Original Message-----
      From: "valpine" <utias@...>
      Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Date: Wed, 22 Aug 2012 09:10:46
      To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
      Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Subject: Re: [sekolahrumah] Sudah beredar: Seri Mendidik Anak Ala Homeschool

      Dear Bunda Dina,

      senang sekali menerima email dari Ibu.
      Karena saya menerima beberapa pertanyaan serupa, mohon ijinkan saya untuk menjawab semuanya disini. Maaf sekali jika jawabannya jadi agak panjang.

      Latar Belakang Penulisan Serial Mendidik Anak ala Homeschool Bagi Anak Prasekolah.

      Banyak yang bertanya mengapa saya menulis serial Homeschool bagi anak-anak. Apa saya sendiri punya anak � sampai dapat menulis serial ini. Dan beberapa pertanyaan serupa.

      Saya mengerti, hal ini adalah pertanyaan-pertanyaan wajar, mengingat banyak sekali buku tentang mendidik anak di pasaran. Yang isinya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

      Karenanya saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, sebelum mengulas serial ini.

      Saya adalah sarjana teknik mesin lulusan UI yang bekerja di Austria,sebagai Project Manager di perusahaan yang membuat pabrik baja. Ketika saya mempunyai dua anak, saya berhenti bekerja, karena saya memilih untuk mengasuh anak-anak saya sendiri, ketimbang menitipkan mereka di daycare/tempat penitipan anak selama saya bekerja.

      Dari situ saya melihat, perbedaan dua dunia. Di Austria, balita dibiarkan menjadi balita. Mereka dibiarkan bermain, bersosialisasi dengan teman sebaya, mengenal dunianya tanpa dijejali rumus-rumus atau bahan-bahan sekolah. Baru di kelas 1 SD, anak diajari membaca dan berhitung. Dan di akhir kelas 1 SD baru diajarkan menulis.

      Awalnya, memang terasa kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mengingat banyak TK sudah mendrill anak asuhnya untuk membaca, berhitung bahkan menulis. Namun setelah semakin dalam saya mempelajari dunia anak, tentunya belajar dengan ahlinya, dokter anak, team pengajar, ahli pedagogik, saya melihat kalau semua itu ada alasannya.

      Syaraf (baik motorik dan sensorik) anak berkembang di saat ia balita. Dan tiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda. Bagaimana anak diharuskan menulis rapi ketika syaraf motorik halusnya belum berkembang baik? Bagaimana anak diharuskan menghitung angka rumit ketika daya kognisi/ persepsi anak belum berkembang baik?

      Benar, sekarang adalah jaman serba cepat. Sehingga banyak orang tua yang menginginkan anaknya sukses secara express. Namun efek sampingnya menjadi: anak-anak dipaksa untuk belajar secepat kilat, diharuskan melakukan sesuatu yang belum sejalan dengan perkembangan daya motorik, sensorik, orientasi lingkungan dan mental mereka.

      Jika dilihat dalam jangka pendek, aturan mengajar anak cepat pintar memang mampu dianggap sukses. Namun jika kita mau melihat dalam jangka panjang, banyak anak yang akhirnya hanya pintar di permukaan, tapi tidak mengerti makna belajar yang ia lakukan. Pemaksaan aktifitas yang tidak sesuai umur juga mampu memberikan stress pada anak yang nantinya membuat anak malas belajar, apatis atau sukar bersosialisasi.

      Karenanya buku ini dimaksudkan untuk bermain sambil memberikan pengertian pada sang anak, membuat mereka mandiri, paham, mengerti dan cerdas tanpa paksaan. Banyak aktifitas dalam tiap buku yang dapat dilakukan dengan anak-anak lain yang sebaya, membuat sang anak mampu mengasah rasa sosialisasi mereka.

      Di tiap bukunya terdapat 52 aktifitas (cerita /kegiatan) yang dapat dilakukan oleh satu anak, atau/dan bersama dengan anak-anak sebaya. Jika setiap kegiatan dilakukan minimum 1 kali seminggu (tentunya lebih baik lebih sering), maka kelima buku ini dapat memberi kegiatan untuk satu TAHUN penuh. (1 tahun = 52 minggu x 5 hari kerja)

      Buku I : 52 x Mengasah Nurani Anak (Judul resmi menjadi: Membuat Anak Pede dan Kreatif)
      BukuII: 52 x Mari Bergerak (Judul resmi menjadi: Membuat Anak Aktif dan Lincah)
      Buku III: 52 x Melatih Berpikir (Judul resmi menjadi: Memacu Otak Anak Berpikir Cepat)
      Buku IV: 52x Meluaskan Wawasan (Judul resmi tetap sama)
      Buku V: 52 x Eksperimen Bagi Anak (Judul resmi tetap sama)

      Di tiap buku terdapat campuran cerita, aktifitas, Ide yang menarik dilakukan bagi anak-anak. Juga penjelasan apa yang anak pelajari dari kapitel tersebut. Contoh tema yang dibahas di seri ini adalah: bahasa tubuh, pola makan, aman di jalan, konsentrasi, perkembangan motorik, orientasi, kebersihan, perkembangan anak, komunikasi antar anggota keluarga, sosialisasi dengan teman sebaya, kreatif, mengenal diri dan banyak lagi.

      Dengan alasan di atas, sasaran pembaca buku ini adalah :
       Orang tua (calon orang tua) yang ingin mengasuh anaknya sendiri di rumah,
       Orang tua (calon orang tua) yang ingin memberikan tambahan bekal ilmu bagi anaknya, di luar program Taman Kanak-Kanaknya,
       Orang tua (calon orang tua) yang ingin anaknya belajar secara alami dan sesuai perkembangan diri sang anak tanpa pemaksaan,
       Orang tua (calon orang tua) yang percaya kalau perkembangan anak hanya akan berhasil jika dilakukan setahap demi setahap.
       Seluruh pemerhati anak

      Tentu ada yang bertanya, apa saya sudah mencoba semua yang saya tulis ke anak-anak saya. Jawabannya adalah iya. Dan saya juga telah meliat hasilnya. Saya pikir tidak fair, jika saya mencoba berbagi �ilmu" dengan orang lain, jika saya belum mencobanya sendiri. Seperti memberi resep makanan yang saya sendiri belum pernah memasaknya atau bahkan memakannya. Bagaimana saya tahu kalau makanan itu enak?

      Kini anak-anak saya berumur 11 tahun (SMP kelas 2) dan 8 tahun (SD kelas 3). Saya bersyukur, mereka termasuk murid terbaik di kelasnya (baik dalam hal akademis ataupun tingkah laku). Mereka juga belajar di konservatorium musik dan juga termasuk murid terbaik di usianya.

      Sampai sekarang saya masih menerapkan semi Homeschooling di rumah, sebagai tambahan yang tidak didapat dari sekolahnya.

      Mengapa tidak homeschooling murni? 100% diajar di rumah.
      1. Tidak bisa. Karena di Austria ada keharusan wajib belajar 9 tahun. 4 tahun SD, 4 tahun SMP dan 1 tahun SMA atau sekolah kejuruan. Setelah itu anak dapat bekerja atau meneruskan ke pendidikan yang lebih tinggi.
      2. Tidak mau. Karena saya ingin anak-anak saya bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Melihat dunia luar, baik sisi baik dan buruknya, sehingga jiwa mereka terasah untuk melihat apa yang baik/buruk, benar/salah, layak/tidak layak. Mengembangkan wawasan di luar rumah dengan mengalami sendiri hal-hal yang tidak dapat dilakukan di rumah.

      Last but not least, ada satu �cerita" yang disampaikan kepala sekolah SD anak saya di saat pertemuan orang tua murid dengan team guru. �Rumput tidak tumbuh subur dan lebat karena kita tarik-tarik setiap hari. Tapi karena kita beri air, pupuk, sinar matahari dan perhatian. Hal ini juga berlaku bagi anak."

      Mudah-mudahan penjelasan ini dapat menjawab semua pertanyaan. Tentunya saya akan berterima kasih jika ada yang mau meluangkan waktu untuk mengomentari buku-buku saya.

      Terima kasih,
      Uti



      -------- Original-Nachricht --------
      > Datum: Tue, 21 Aug 2012 03:43:00 -0700 (PDT)
      > Von: Bunda Dina <mpbundadina@...>
      > An: utias@...
      > Betreff: Re: [sekolahrumah] Sudah beredar: Seri Mendidik Anak Ala Homesc

      > Dear bunda Uti
      > Salam kenal sebelumnya dari saya, Dina, bunda dari 2 balita di Tangerang.
      > Terima kasih banyak sudah menulis buku homeschoolnya, saya akan cari di
      > Gramedia kalau ada kesempatan keluar nanti, inshaAllah.
      > Kalau boleh tau, anak2nya bunda Uti sekarang sudah umur berapa sekarang?
      > Apakah mereka homeschool secara full time (di Austria)?
      > Semoga bukunya laris manis selalu, amiin..
      > Salaam,Dinahttp://blog.sweetbatik.com
      > The best among you are those who are most beneficial/assisting to others
      >




      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.