Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [sekolahrumah] Seri #7: Oleh-oleh dari negeri Sakura

Expand Messages
  • widyagung94@yahoo.com
    Di Ind ini yg sy alami ya pak. Disiplin n tepat waktu hanya ada di dunia militer. Jika mendpt undangan dr kalangan militer, baik und resmi (rapat dll) atau
    Message 1 of 2 , Apr 11, 2012
      Di Ind ini yg sy alami ya pak. Disiplin n tepat waktu hanya ada di dunia militer. Jika mendpt undangan dr kalangan militer, baik und resmi (rapat dll) atau tidak resmi (perkawinan, pisah sambut dll), kita jgn coba2 dtg terlambat.
      Jika senior atau yg dihormati di acara itu blm pulang, maka tdk ada undangan yg angkat pantat.

      Berbeda dg masy sipil, datang terlambat tdk masalah, trmsk tdk malu utk tetap maju duduk di depan krn merasa undangan terhormat. Belum lagi acaranya, dijamin molor 2jam....
      Terkadang acara di undangan mulai jam 9, maka jam 9 pula panitia baru menyiapkan perlengkapan acara.....alamaaaak

      Manusia hidup krn kebiasaan. Kl mendpt und dr kalangan militer, sy sdh wajib tepat waktu, atau hadir 30 menit sblm acara. Tp kl undangan sipil sy juga menyesuaikan berlambat2.....

      Mau sama dg Jepang, pake cara militer dulu....mau tidak? ‎​​♓ΐ:D♓ΐ:D♓ΐ

      Salam
      Widya
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      -----Original Message-----
      From: Markus Tan <tanmarkus@...>
      Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Date: Wed, 11 Apr 2012 11:48:59
      To: Rekan-rekan Trainersclub<trainersclub@yahoogroups.com>; Rekan-rekan The Profec<theprofec@yahoogroups.com>; Indonesia NLP Society<idnlpsociety@yahoogroups.com>; Pendidikan Katolik<pendidikan_katolik@yahoogroups.com>; Sekolah Rumah<sekolahrumah@yahoogroups.com>
      Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Subject: [sekolahrumah] Seri #7: Oleh-oleh dari negeri Sakura

      Kelanjutan oleh2 dari negeri Sakura



      Seri #7: Rahasia Karakter Bangsa Jepang



      Karakter 5: Disiplin diri

      Disiplin
      bangsa Jepang sudah sering kita dengar sebelumnya. Entah itu disiplin
      dari para profesional bisnis atau disiplin dalam berlalu lintas di jalan
      raya Jepang. Kali ini saya ingin berbagi bagaimana karakter disiplin
      masyarakat Jepang ini dan bagaimana kita bisa menirunya.

      Kedisiplinan
      sudah mulai terasa ketika kami disambut di bandara Kansai saat petugas
      dengan sopan meminta kami berbaris rapi mengantri menunggu giliran
      pemeriksaan keimigrasian. Dan keluar dari bandara, lalu dalam mencari
      rute kereta api menuju stasiun Namba, berhadapan dengan pemandangan
      orang-orang Jepang yang mengantri di mana-mana. Demikian juga para
      petugas bandara dan stasiun Kansai bekerja serius tanpa banyak
      mengobrol, membungkuk hormat kepada konsumen, dan banyak lagi sikap yang
      unik, karena tidak saya
      jumpai di tanah air. Persis sama seperti yang digambarkan buku-buku
      yang saya baca atau cerita dari beberapa teman yang sudah ke jepang.

      Saya
      sempat tanyakan model disiplin ke beberapa karyawan hotel tempat kami
      menginap. Ada yang mengatakan sudah dari sononya begitu; sejak kecil
      kami sudah belajar tentang hal itu; bahkan ada yang balas bertanya,
      “Bukankah dengan disiplin dan bekerja keras lebih banyak manfaatnya
      daripada kerugiannya?” Pertanyaan balik ini seakan menjadi bentuk
      keheranan : kok pertanyaan seperti itu kamu tanyakan? Bukankah itu
      perbuatan baik? Perbuatan baik tidak perlu dipertanyakan mengapa ia
      harus dilakukan, karena semua sudah mengerti alasannya…. untuk kebaikan
      pula.

      Maka mulailah saya mempelajari bagaimana orang Jepang
      dididik. Sebab, ada benang merah yang tanpa sadar menyambungkan
      cerita-cerita yang saya dengar dari orang Jepang tentang
      kedisiplinannya, dan itu adalah pendidikan. Saya semakin yakin bahwa
      sikap
      disiplin itu dibangun di sekolah.

      Budaya antri dengan tertib sudah mendarah daging di Jepang
      Budaya
      antri yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jepang, pantas dapat
      acungan jempol dan patut di jadikan contoh. Selama delapan hari di
      Jepang, saya sering melihat orang berbaris berjejeran dengan rapi, di
      depan tempat pembelian tiket, pintu masuk pertunjukan, menunggu giliran
      masuk di suatu restoran, dan lainnya berhubungan dengan antri. Tanpa ada
      rasa dorong mendorong, dan berebutan saling mendahului.

      Antri Kereta di Jepang, ada prosedurnya juga lho..
      Kereta
      JR Loop line sering dipakai oleh para pekerja di Jepang, merupakan
      jenis kereta listrik (di Indonesia dikenal dengan nama KRL) yang
      dikelola oleh JR (Japan Railway), meskipun ada beberapa kereta jalur
      lain yang dikelola oleh perusahaan swasta lainnya. Gimana ketertibannya?
      Saya akan coba jelaskan dari metode masuk
      dan keluarnya penumpang lewat ilustrasi berikut:

      Tata cara masuk
      dan keluarnya penumpang seakan sudah menjadi kebiasaan umum. Saat
      kereta berhenti di stasiun, calon penumpang memberi jalan keluar kepada
      penumpang yang akan keluar kereta, Lantas baru penumpang yg baru, bisa
      masuk kereta dengan tertib. Tak ada desak-desakan di pintu masuk kereta
      seperti yang sering kita temui di kereta KRL atau Bus Transjakarta.
      Namun ini bukan kesalahan kita sepenuhnya. Luas halte busway yang memang
      sangat terbatas turut berperan dalam menyulitkan kita meniru tata cara
      orang Jepang di atas.

      Dari segi kenyamanan, kondisi di dalamnya
      umumnya hampir sama dengan kereta api kelas bisnis di Indonesia.
      Sedangkan perbedaan yang cukup kelihatan adalah banyaknya pintu kereta,
      kondisi bangku yang dilengkapi penghangat, dan sebuah monitor penunjuk
      nama stasiun/halte di atas pintu. Bila kita naik kereta di Indonesia
      hanya punya pintu kecil di ujung-ujung gerbong, maka
      di kereta Jepang akan menjadi empat pintu masuk/keluar. Hal ini akan
      sangat memudahkan penumpang untuk keluar walaupun kereta dalam keadaan
      padat. Dan satu lagi, monitor kecil penunjuk nama stasiun di atas pintu
      keluar/masuk sangatlah tepat menurut saya. Tidak semua orang ingat akan
      ciri2 sebuah stasiun sehingga pengumuman seperti ini sangatlah penting,
      terutama buat orang asing yang pertama kalinya menggunakan sarana
      transportasi itu.

      Lokasi antri di kereta
      Ini
      yang membuat saya agak bingung pertama kali saat ikut antri kereta JR
      Loop Line di stasiun Osaka. Bila kita perhatikan lebih seksama, maka di
      lantai stasiun ada tanda segitiga, tanda lingkaran, di beberapa lokasi.
      Ternyata tanda itu sebagai petunjuk bagi mereka yang antri kereta. Untuk
      tanda lingkaran bagi kereta lokal, sedang tanda segitiga bagi kereta
      luar kota. Ada juga tanda kotak berisi gambar orang pakai tongkat,
      itu untuk penumpang usia lanjut. Dan ada juga tanda bertuliskan women
      only, berarti ini tempat antri untuk gerbong wanita. Dan herannya, saya
      lihat ke sekeliling stasiun, semua orang tertib mengikuti petunjuk antri
      diatas. Saat kereta datang dan berhenti, mereka bisa langsung masuk ke
      kereta sesuai tempatnya. Termasuk tanda women only, bisa masuk langsung
      ke kereta yang khusus wanita. Jadi lewat petunjuk tsb, para penumpang
      tidak perlu berlari-larian bingung dengan gerbong yang diinginkan. Semua
      taat mengikuti petunjuk dan aturan yang sudah mereka hafal.

      Kalau
      di Jepang, penumpang tidak mungkin naik ke atap kereta seperti para
      bonek di Surabaya. Kenapa? Karena itu adalah kereta listrik sehingga
      bagian atas kereta tersebut berhubungan langsung dengan listrik. Jadi,
      kalau nggak pingin mencoba sengatan listrik, jangan coba hal tersebut.

      Cara Antri bus kota
      Angkutan
      darat
      yang saya gunakan hampir selalu kereta. Kecuali jika di Kyoto, saya
      lebih pilih naik bus, namun jaraknya cukup dekat. Dari segi ketepatan
      waktu, sepertinya semua angkutan di Jepang tepat waktu. Dari segi
      kenyamanan, kualitasnya sama seperti bus eksekutif/bisnis di tempat
      kita. Kereta dan bus merupakan angkutan umum yang paling banyak
      digunakan di Jepang. Selain kedua angkutan tersebut, terdapat juga taksi
      dan monoreal. Bagaimana gambarannya? Rasanya sama juga dari segi
      pelayanan dan ketepatan waktunya.

      Pengalaman naik bis kota di Kyoto
      Cara
      naik bus kota ini yang unik, khususnya sewaktu saya banyak menggunakan
      bis kota di selama Kyoto. Pagi itu, tujuan saya ke Sanjusangedo Temple.
      Saya masuk bis dari pintu belakang lalu mencari tempat duduk. Di dalam
      bis sudah cukup banyak penumpang baik sedang baca buku atau duduk
      tenang. Sepuluh menit lagi sudah sampai tujuan, Sanjusangedo.
      Ternyata ada sekitar 10 orang yang turun di halte ini. Ini uniknya,
      cara bayar tiket, semua orang memasukkan uang receh 220 yen (22 ribu) ke
      coin box dan keluar lewat pintu depan. Maklum di setiap bis tidak ada
      kondektur, hanya sopir seorang diri. Jika anda punya tiket pass, tinggal
      tunjukkan ke sopir, anda tidak perlu bayar 220 yen. Nah itu yang saya
      lakukan, karena hari itu saya membeli tiket pass seharga 500 yen, dan
      bisa naik bis kota bebas bayar (gratis) selama satu hari kemanapun di
      seluruh Kyoto. Lumayan khan, lebih ngirit jadinya.

      Di Escalator, ada caranya antri juga lho
      Ini
      yang saya lihat tampak unik di Jepang, para pejalan kaki yang melewati
      eskalator (tangga berjalan), umumnya khan diam berdiri sampai menunggu
      di ujung eskalator. Namun di Kyoto, jika anda melewati sebuah eskalator,
      Anda harus berdiri rapi di sisi kiri, agar memberi jalan kepada mereka
      yang mau
      mengejar kereta. Lebih aneh lagi, jika kita di Osaka, lokasi berdiri
      kita di eskalator, adalah di sisi kanan, sedangkan sisi kiri untuk
      mereka yang mendahului kita mungkin untuk mengejar kereta. Unik juga ya,
      naik eskalator di Jepang saja harus tertib dan rapi.

      Antri di Restoran/rumah makan
      Kalau
      antri untuk membeli tiket kereta, itu hal biasa yang saya lihat di
      sini.Tapi yang paling saya heran, yaitu antri ingin masuk di sebuah
      tempat makan /restoran waktu kami mengunjungi Sinsekai, Osaka. Padahal
      kalau saya pikir tempat makan yang lain banyak yang masih kosong, kenapa
      harus antri lama lama yaaa..Tapi yang lebih aneh lagi sekarang, saya
      & Lina ikut-ikutan antri ..he..he..hee..… Padahal kami juga belum
      pernah makan ditempat itu. Karena rata rata kalau sudah orang banyak
      antri di tempat itu, artinya masakan di restoran itu pasti enak,,,
      Apalagi aroma makanan sudah tercium
      dari tempat antri. Gara gara enak, kami bela belain tunggu 1 jam lebih.
      Hitung-hitung ikut merasakan suka dukanya antri seperti orang Jepang
      ya.

      Karena kedisiplinan di Jepang dianggap paling penting,
      sehingga budaya disiplin sudah diajarkan sejak di sekolah dasar.  Masuk
      sekolah setiap hari tidak terlambat, ikut pelajaran secara rajin,
      hal-hal seperti itu adalah dasar disiplin untuk karir dalam dunia
      bisinis. Benar benar disiplin yang diajarkan pada hal hal kecil akan
      membuat kita menjadi disiplin secara keseluruhan.

      Disiplin waktu
      Disiplin
      waktu misalnya.  Bagi orang Jepang, keterlambatan tanpa kabar berarti
      akan membuat orang lain khawatir dan berfikir  pada hal-hal buruk yang
      mungkin terjadi seperti kecelakaan, sakit atau halangan yang
      menyulitkan. Sehingga ketika seseorang tidak bisa menghindari
      keterlambatan, mereka akan memberikan kabar terlebih
      dahulu. Apabila mereka membiarkan keterlambatan tanpa pemberitahuan
      apapun adalah suatu kesalahan besar karena dianggap tidak menghargai
      perasaan orang lain. Kebiasaan orang Jepang untuk menghindari
      keterlambatan adalah datang lebih awal dari waktu yang disepakati.

      Pepatah
      Samurai Jepang “Kunshi wa hitori otsutsa shinu,” artinya orang hebat
      selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri menggambarkan
      bagaimana orang Jepang mengedepankan disiplin dan tidak mau
      mempertaruhkan nama baiknya hanya untuk melanggar aturan. Ada sebuah
      kasus yang cukup menarik bagi penulis untuk menggambarkan hal ini.

      Jepang
      merupakan negara yang cukup liberal untuk mengakses hal-hal yang berbau
      pornografi melalui internet atau medianya. Namun demikian jangan
      coba-coba mengakses situs-situs porno pada saat jam kerja. Seorang
      pegawai negeri di Jepang berhasil mengunjungi 780.000 alamat situs porno
      melalui komputernya saat jam kerja. Akibatnya ia harus
      rela turun jabatan sekaligus penurunan gaji USD190 setiap bulannya.  
      Saya jadi agak heran di negeri yang tidak mendewakan agama sebagai jalan
      hidupnya tetapi ternyata pelanggaran moralitas pada waktu jam kerja
      ternyata masih ada sangsinya.  Kira-kira kalau ditempat kita bagaimana
      ya?

      Apakah Bangsa Jepang Sudah Disiplin Sejak Dulu ?
      Sebelumnya
      saya banyak membaca cerita kisah-kisah tentang kedisiplinan orang
      Jepang. Saya berangkat ke Jepang waktu itu dengan sebuah pertanyaan :
      mencari tahu kenapa bangsa Jepang bisa se-disiplin itu?

      Dari mana Disiplin ini berasal?
      Satu
      penelitian yang kuat bahwa kedisiplinan mulai lahir pasca perang dunia,
      yaitu ketika Jepang kalah dalam peperangan, dan merasa tidak ada jalan
      lain untuk bangkit kecuali berdisiplin dalam bekerja dan mengutamakan
      kerja
      keras. Maka wajarlah, dengan asumsi ini, banyak orang tua di Jepang
      bekerja siang malam, bahkan tidak pulang ke rumah, ketika mereka masih
      kuat bekerja. Generasi yang merasakan akibat langsung peperangan adalah
      generasi yang tertempa dan tidak mau lagi masuk dalam penderitaan yang
      sama. Untuk itu mereka memegang teguh prinsip bekerja keras dan penuh
      kedisiplinan.

      Lalu, setelah bangkit dan menjadi raksasa ekonomi
      dunia, apakah mereka menurun semangat disiplin dan kerja kerasnya?
      Dengan jelas jawabannya: Tidak! Karena konsep moral ini telah berhasil
      ditanamkan dan “dikawal” dengan ketat agar senantiasa terwariskan dengan
      baik, yaitu melalui jalur pendidikan sekolah. Memang tidak dikatakan
      bahwa Jepang memberikan pelajaran agama kepada para siswa sekolah,
      tetapi konsep disiplin dan etos kerja keras adalah nilai-nilai yang
      diakui bersama sebagai bagian dari konsep bushido yang harus disampaikan
      dari masa ke masa.

      Hebat juga negara Jepang
      ini, jika nilai-nilai leluhur itu bisa semakin meningkatkan kualitas
      bangsa mereka, seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, maka nilai2 itu
      pantas untuk diajarkan dari generasi ke generasi. 

      Bagaimana ya
      dengan nilai-nilai luhur bangsa kita, seperti bangsa yang ramah,
      toleransi, cinta damai, apakah hal ini masih dianggap penting oleh
      Bangsa kita? Saya berharap bangsa Indonesia bisa bangkit dari
      keterpurukan moral saat ini, bila mau mengambil tekad reformasi mental
      bangsa secara utuh.

      Salam Disiplin,
      Markus Tan

      > Penulis buku best seller "18 Plus Rahasia Sukses Anthony Robbins"



      [Non-text portions of this message have been removed]




      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.