Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Rintangan Meningkatkan Mutu Pendidikan

Expand Messages
  • Han S
    Salam, just sharing Rintangan Meningkatkan Mutu Pendidikan   Keinginan masyarakat agar kelulusan siswa ditentukan oleh guru, seperti warta Media Indonesia
    Message 1 of 1 , Aug 31, 2011
    • 0 Attachment
      Salam,

      just sharing

      Rintangan Meningkatkan Mutu Pendidikan
       
      Keinginan masyarakat agar kelulusan siswa ditentukan oleh guru, seperti warta
      Media Indonesia tanggal 9 April 2010, yang berjudul “Sekolah Lebih Layak Tentukan Siswa Lulus”, sangat menarik perhatian. Saya bersetuju dengan warta itu apabila mutu guru baik. Bagaimana mutu guru ?.
       
      Mutu Guru
      Anak-anak bangsa Indonesia mampu menunjukan prestasi fantastis di dunia
      Internasional seperti pada lomba olimpiade Fisika yang sering dapat
      mendali emas, bahkan pernah juara umum. Anak-anak bangsa ini juga tidak
      akan kalah dengan anak-anak bangsa lainnya kalau proses pendidikan kita
      sudah tepat dan benar. Artinya jika mutu guru baik maka output
      pendidikan berkualitas. Sumber Daya Manusia Indonesia sudah unggul.
      Indonesia sudah menjadi Negara industri maju. Tetapi kenyataannya sampai sekarang Indonesia masih dikelompokan Negara berkembang. Padahal
      Indonesia merdeka sudah lebih 64 tahun.
      Kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan oleh guru berkualitas rendah adalah
      penilaiannya berdasarkan kerajinan saja. Asal peserta didik rajin datang ke sekolah dan sopan pasti dinaikan kelas oleh pihak guru/sekolahnya
      setiap tahun. Walaupun pelajaran yang sedang dipelajarinya tidak tuntas. Akibatnya peserta didik akan menemui kesulitan-kesulitan lebih serius
      lagi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Masalah-masalah
      pelajaran peserta didik seperti ini terakumulasi sehingga sulit
      terpecahkan. Oleh karena itu, guru baik harus memberi nilai secara
      objektif, tanpa dikatrol.

      Sebenarnya perbaikan mutu guru tergantung pada usaha, pelayanan, dan kreativitas
      guru itu sendiri. Asal guru tahu kesulitan peserta didik dalam memahami
      pelajarannya, kemudian membantunya sampai  mengerti, berarti guru sudah bermutu baik. Seperti guru eksakta memberikan
      photokopi contoh penyelesaian soal buatannya sebanyak mungkin. Sehingga
      dengan contoh ini, peserta didik akan terbantu mengerjakan PR dan
      memahami pelajarannya secara otodidak sampai tuntas. Pemberian photokopi  contoh soal akan mengefisien waktu karena tak perlu mencatat ulang oleh guru
      maupun peserta didik. Waktu ini bisa digunakan untuk berdialog oleh guru dengan peserta didik. Guru kreatif seperti ini pasti disenangi peserta
      didik.
      Mulai sekarang perekrutan guru harus hati-hati. Guru yang diterima harus
      mampu, kreatif, loyal alias bermutu. Sarjana ilmu murni direkrut untuk
      memenuhi  kebutuhan guru berkualitas adalah ide
      cemerlang karena dari sisi keilmuan, sarjana ilmu murni mengusai lebih
      banyak daripada sarjana ilmu pendidikan. Keberhasilan sarjana ilmu murni sudah terbukti pada bimbingan belajar yang gurunya direkrut dari alumi
      IPB, UI, ITB, UNAND dan lain-lain.
       
      Kebijakan Pemerintah
      Rendahnya mutu pendidikan tidak bisa menyalahkan guru saja. Kebijakan
      pemerintah-lah sangat dominan. Kebijakan pemerintah orde baru terhadap
      kesejahteraan profesi guru tidaklah pantas. Guru cukup diberi gelar
      Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Pekerjaan guru sangatlah mulia. Sementara
      kebijakan untuk kesejahteraan belum memadai apalagi membuat karier guru
      lebih dihargai. Seseorang yang bercita-cita jadi guru berarti dia sudah
      siap untuk menjadi sengsara. Akibatnya seseorang yang punya kemampuan
      intelektual, sikap, perilaku di atas rata-rata alias pintar tidak mau jadi guru. Guru yang ter-rekrut selama ini sebagian besar mutunya biasa-biasa saja.
         Sekarang berlaku Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP). KTSP yaitu
      kurikulum berbasis pada kemampuan guru ; kurikulum yang dibuat dan
      dijalankan oleh guru di sekolah. Wajarlah pada kenyataan banyak sekolah
      sulit untuk mengimplementasikan KTSP itu. KTSP tidak didukung oleh mutu
      guru, perlu dievaluasi. Murid tidak mungkin menjadi pintar kalau mutu
      kurikulumnya rendah.
      Kebijakan pemerintah menjadi rintangan meningkatkan mutu pendidikan. Kebijakan
      pemerintah yang salah berakibat output pendidikan berkualitas rendah.
      Kurikulum buatan guru yang mutunya rendah outputnya berkualitas rendah.
      Suatu keberuntunganlah bagi peserta didik kalau gurunya berkualitas
      baik. Peluang peserta didik ini menggapai cita-citanya sangat besar
      seperti bersekolah tinggi dll. Tetapi bagaimana cita-cita / masa depan
      peserta didik kalau gurunya berkualitas rendah?. Sadar atau tidak sadar
      pembuat kebijakan pendidikan ini sudah membuat generasi bangsa Indonesia sekarang maupun yang akan datang tidak mampu bersaing dengan
      bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.
      Walaupun demikian perlu kita berikan apresiasi kepada pemerintah yang telah menaikan anggaran pendidikan sebesar  20% dari APBN. Kesejahteraan sebagian besar guru sudah ditingkatkan.
      Mudah-mudahan ini bisa membawa pengaruh besar kepada yang punya
      kemampuan intelektual, sikap, perilaku di atas rata-rata, bersemangatmenjadi guru. Kita bangkit untuk memajukan generasi bangsa Indonesia yang akan
      datang. Apalagi pemerintah mau menaikan anggaran pendidikan lagi menjadi   25% dari APBN. Sehingga biaya pendidikan SLTA dan Perguruan Tinggi menjadi lebih ringan.
                  Selain kebijakan pemerintah, ada dua hal lagi sebagai rintangan untuk meningkatkan mutu pendidikan yakni :
      1. Kepedulian masyarakat
      2. Anak itu sendiri
       
      Kepedulian masyarakat
      Bagi masyarakat/orang tua yang mampu tentu menggunakan berbagai macam cara
      yang dilakukannya, agar anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Orang tua terus memacu anaknya belajar hingga jenjang yang tertinggi.
      Orang tua juga aktif mencarikan informasi  agar
      pendidikan anaknya sukses dan lancar. Semua kebutuhan anak terpenuhi.
      Orang tua bisa saja mendatangi guru les privat ke rumahnya.
                  Sebaliknya di masyarakat kita juga masih ada berpikiran bahwa prestasi peserta
      didik tergantung hanya kepada kemauan anak bersangkutan. Kadang kala
      orang tua seperti ini tak bisa disalahkan karena segala keterbatasannya. Anak sangat dirugikan oleh keadaan ketidakmampuan orang tuanya. Padahal jika diberi kesempatan dan fasilitas, banyak juga anak seperti ini
      mampu menunjukan prestasi mencengangkan.
                  Oleh karena itu kami LSM Peduli Mutu Pendidikan Nasional sebagai anggota
      masyarakat terpanggil mengadakan bimbingan belajar gratis. Kita perlu
      bekerja sama membantu peserta didik yang tidak beruntung secara
      finansial. Tetapi rencana kami ini belum terlaksana karena ditolak oleh beberapa SMA di kota Bogor, Jawa Barat.
       Kami sadar kegiatan ini tak bisa dipaksakan karena bertentangan dengan
      otonomi sekolah. Walaupun kami tahu bahwa kegiatan ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Padahal kami sudah dapat rekomendasi dari dinas
      Pendidikan Pemuda dan Olahraga kota Bogor, dan menjalin kerjasama dengan FMIPA IPB untuk mengsukseskan kegiatan ini. Jadi otonomi sekolah
      merugikan sebagian peserta didik. Otonomi sekolah atau kebijakan
      pemerintah terbukti sebagai rintangan untuk meningkatkan mutu
      pendidikan.
       
      Anak itu sendiri
      Anak sekolah sampai mahasiswa dapat dikelompokkan menjadi dua ; kelompok
      pertama sebagai peserta didik dan kelompok kedua sebagai peserta duduk.
      Kelompok sebagai peserta didik adalah anak sekolah/mahasiswa yang
      belajar dengan sungguh-sungguh, selalu mengerjakan PR, sopan santun
      selalu dijaga pada setiap orang, taat pada aturan sekolah/kampusnya,
      selalu mencari imformasi sebanyak mungkin ilmu pengetahuan yang sedang
      dipelajarinya dll.
      Sedangkan kelompok peserta duduk adalah anak sekolah/mahasiswa yang berangkat ke
      sekolah/kampus hanya untuk menghindari pekerjaan tua yang harus
      dibantunya, dengan tujuan lain supaya pamor dia baik di mata masyarakat, selalu mencari contekan jika sedang ujian, atau takut menghadapi UN
      dll. Output pendidikan kelompok peserta duduk ini pasti tidak baik.
       
      Penutup
      Seharusnya kita tidak perlu mencari kambing hitam atas penyebab rendahnya mutu
      pendidikan. Selain menghabiskan waktu untuk berdebat, juga bisa merusak
      persatuan dan kesatuan, yang tidak ada gunanya. Mari kita satukan
      pikiran-pikiran untuk mencari terobosan-terobosan sehingga kita bisa
      keluar dari kebodohan ini. Marilah kita menyiapkan anak Bangsa, agar
      dapat meningkatkan daya saingnya baik di tingkat Nasional maupun
      Internasional. Kita perlu solusi masalah pendidikan. Kita perlu
      peningkatan mutu pendidikan. Untuk memperoleh mutu pendidikan yang
      unggul, sangat diperlukan kerja keras dan kerjasama yang baik dari guru, sekolah dengan orang tua, masyarakat maupun pemerintah. Tanpa
      kerjasama, kerja keras, dan mengoreksi kebijakan maupun diri sendiri,
      upaya kita untuk meningkatkan mutu pendidikan akan sia-sia belaka.


      http://pedulimutupendidikan.net/article/detail/rintangan-meningkatkan-mutu-pendidikan

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.