Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [sekolahrumah] WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?

Expand Messages
  • Victoria Ariwita
    amin. silakan d share... ... ________________________________ From: acan ayuk To: sekolahrumah@yahoogroups.com Sent: Wed, December 1,
    Message 1 of 7 , Nov 30, 2010
    • 0 Attachment
      amin. silakan d share...
      :)




      ________________________________
      From: acan ayuk <acan_only@...>
      To: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Sent: Wed, December 1, 2010 1:35:27 PM
      Subject: Re: [sekolahrumah] WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?


      So inspiring...
      Saya ijin men-share ke MP dan FB yaa...Mudah2an menambah pelajaran untuk kita
      semua....
      Trimss ^^

      Salam,

      Rahayu Fatnawati (ayuk)

      http://www.ayufatnawati.webatu.com

      --------------------------------

      Situs mengenai Anda dan bayi Anda

      http://tentangbayi.co.nr

      --- On Tue, 11/30/10, Victoria Ariwita <ariwita_victoria@...> wrote:

      From: Victoria Ariwita <ariwita_victoria@...>
      Subject: [sekolahrumah] WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?
      To:
      Date: Tuesday, November 30, 2010, 10:38 AM



      Just share..and lets learn together.

      GBU.

      ============================================

      WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?

      Bill Cosby memang berharga. Ketika beberapa tahun silam, anaknya Bill Cosby

      Jr diterjang peluru, hampir sebagian warga dunia berguncang. Seorang ayah

      'ideal' kehilangan anaknya. Puluhan pertanyaan berhamburan dibalik kejadian

      itu. Orang-orang tidak membayangkan Bill Cosby Jr punya masalah dengan

      bandit-bandit pengedar obat terlarang. Bukankah Bill Cosby seorang ayah

      ideal, humoris, sabar, pengertian, enak dan perlu.

      Tidaklah berlebihan, kalau Alvin F. Poussaint M.D, seorang Asisten Profesor

      dari Harvard MedicalSchool, membutuhkan 10 halaman untuk menjelaskan

      kehebatan sang tokoh. Namun ada satu pertanyaan inti yang tidak mampu

      dijawab secara transparan oleh Bill.yaitu, "Where has Bill gone?".

      Kemanakah Bill pergi selama ini. Apakah yang ia lakukan sepanjang hari

      dengan anaknya. Kenapa, Bill tidak mengetahui sedikitpun tentang sepak

      terjang anaknya?

      Malam, ketika tulisan ini sedang dirampungkan, telpon rumah saya berdering.

      Interlokal dari kampung saya disebuah dusun pedalaman Sumatra. Suara gagap

      dan ragu-ragu kakak perempuan saya mengabarkan, dua orang keponakan kami

      masuk penjara. Satu orang tertangkap sebagai pengedar Narkoba dan satu lagi

      sebagai pemakai Narkoba kronis. Sama seperti Bill Cosby, tiba-tiba puluhan

      pertanyaan menyergap dan mengepung ruang dalam otak kanan saya. Semua

      pertanyaan itu berputar-putar dan akhirnya berpilin pada sebuah

      pertanyaan...

      "Where has their father gone ?"

      Kemanakah ayah mereka pergi selama ini ?

      Sehari sebelum saya terima kabar dari kampung, dalam sebuah dialog antara

      pemerhati pecandu Narkoba, seorang ibu bercerita. Katanya, tak ada kesakitan

      yang lebih mencekam ketimbang cengkraman Narkoba pada anaknya.

      Dengan menahan tangis dan sedikit dendam, ia mengatakan anaknya adalah

      korban dari hilangnya lelaki dewasa (ayah) dalam putaran kehidupan rumah

      tangganya.

      "Where has the father gone ?"

      Dimana sih ayah-ayah mereka?

      Anak-anak yang ditakdirkan menjadi pelaku sejarah diatas hanyalah sebagian

      kecil di antara berjuta anak yang sebenarnya tidak membutuhkan konseling

      psikologi.

      Apa yang mereka butuhkan namun seringkali tidak mereka miliki- adalah ayah

      yang peduli padanya dan punya waktu untuk bersama. Anak-anak itu tidak butuh

      tenaga psikiater tapi dia butuh seseorang yang bisa dipercaya. Lalu

      dimanakah ayah-ayah mereka? Ada dua jawaban.

      Pertama, ayah yang ada tapi suka membolos. Tipe ini kita temukan

      dimana-mana. Di lapangan golf, tenis, bulu tangkis, kantor dan tempat

      lainnya.

      Ada ayah yang dinas luar (tugas kantor atau dakwah) ke daerah-daerah hampir

      setiap bulan.

      Ada ayah yang bekerja, berangkat sesudah subuh dan pulang larut malam.

      Ada juga ayah yang nongkrong, tidur-tiduran ditempat tertentu hanya untuk

      melegitimasi bahwa ia sibuk sepanjang hari. Sehingga seolah-olah hanya ada

      waktu sisa buat anak-anaknya.

      Kesimpulannya, ayah-ayah ini ada di mana-mana, tapi mereka sering membolos

      dari waktu bersama anaknya. Mereka (ayah-ayah ini) sulit ditemukan di

      rapat-rapat POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru), karena ada

      peninggalan purba yang menyatakan bahwa urusan sekolah adalah hak mutlak

      sang ibu semata .

      Kita jarang menemukan ayah di tempat praktek dokter menggendong anaknya yang

      sakit.

      Kita juga tidak melihatnya di kantor kepolisian mengurus anaknya yang

      melakukan tindakan kriminal.Ayah-ayah ini apabila ditanyakan pada

      mereka:apakah yang penting dalam hidupmu ? Biasanya mereka menjawab:keluarga

      dan

      anak-anak. Naifnya, jawaban ini sering tidak tercermin dalam kehidupan

      sehari-hari, khususnya bagaimana mereka mengatur waktu dan tenaga mereka

      sehari-hari antara pekerjaan dan anak. Simaklah dialog berikut ini:

      Sang Anak : "Ayah, Yah main bola yuk!"

      Sang Ayah : "O, ya. Ayah baca koran dulu!"

      "O, ya. Ayah nonton berita dulu !"

      "O, ya. Ayah janji main bola hari Sabtu!"

      "O, ya. Ayah ada acara nih"

      "O, ya. Ayah lagi cape ? "

      "O, ya. Ayah lagi banyak kerjaan"

      "O, ya. Ayah mau tapi ? "

      Mungkin ayah seperti inilah yang dimaksudkan oleh hasil need assesment dari

      Lembaga Demografi salah satu universitas negeri di Jakarta. Jajak pendapat

      itu menerangkan empat ciri menonjol ayah tipe Pertama ini. Cepat

      marah, jarang ada waktu ngobrol dengan anak, ditakuti anak dan selalu

      menakar seluruh pekerjaan dengan uang.

      Kedua, ayah yang ada (fisik) dan rajin tapi tidak tahu harus berbuat

      apa.Kita menemukan ayah-ayah ini sering berada di rumah. Mereka mengerjakan

      banyak hal, tapi tidak terlalu mengerti apa yang dikerjakannya. Sebuah

      gelombang rutinitas menjebak dan membawanya berputar-putar ke dalam

      pekerjaan yang memiliki kualitas rendah.

      Anak-anak menjumpai tokoh ini sepanjang waktu di rumah, namun sayangnya

      lambat laun sang tokoh menjadi tidak berarti dalam kehidupan mereka. Tidak

      ada lagi kejutan-kejutan psikologis yang biasa ditunggu-tunggu anak dari

      seorang ayah yang normal. Ritme komunikasi berjalan tanpa greget dan hambar.

      Sebagian besar korban Narkoba dan pelecehan seksual di kalangan remaja

      memiliki ayah tipe kedua ini.

      Bukan Superman tapi Superstar. Benar, ayah bukanlah superman, tapi ia adalah

      superstar.

      Ia bintang di tengah keluarga. Ia pembawa dan penentu model sekaligus agen

      sosial. Lewat aksi panggungnya yang memikat, ia menggemuruhkan keceriaan

      keluarga. Tapi, sebagai seorang bintang, ia tidak lahir dengan sendirinya.

      Ia membutuhkan dukungan, karena bagi lelaki peran ayah bukanlah peran

      instingtif.

      Peran ini lebih membutuhkan bimbingan sosial dari pada wanita dengan

      perannya sebagai ibu. Sebelum dukungan datang dari luar, maka sang ayah

      harus mencari dukungan dari dirinya sendiri. Mereka haruslah secara kontinyu

      merangsang dialog dengan hati nurani secara intens dan apresiatif.

      Dialog-dialog ini harus mampu meyakinkan bahwa ia tidaklah satu-satunya ayah

      yang sedang belajar menjadi superstar. Bahwa anak-anak membutuhkan cinta,

      dukungan, dorongan dan perlindungannya. Bahwa melalui anak-anak

      para orang tua diajarkan makna hidup, cinta, kesucian, kesabaran dan

      sebagainya. Bahwa anak-anak melihat dunia luar dengan perantara jendela sang

      superstar.

      Dukungan dalam diri tidak akan berarti tanpa tekun dan sabar berlatih.

      Sampai suatu saat hilangnya kekakuan dalam berhadapan dengan anak-anak.

      Muncullah ayah yang dengan ikhlas membantu anaknya mengerjakan PR,

      memandikan anak, mencuci baju dan belanja. Ayah yang membacakan buku cerita

      untuk anaknya, mengantar anak les komputer.

      Ayah-ayah inilah yang akan membuat dunia ini berputar dan menjawab

      pertanyaan : "Where have all the fathers gone?" dengan "Here I am. Now and

      forever!"

      [Non-text portions of this message have been removed]

      [Non-text portions of this message have been removed]







      [Non-text portions of this message have been removed]
    • Buddy Winz
      Kalo menurut sy, yg sebenarnya salah krn telah menyebabkan waktu yg tersedia antara bpk dan anak makin dikit adlh PEMERINTAH. Liat aja Jakarta yg makin parah
      Message 2 of 7 , Dec 1, 2010
      • 0 Attachment
        Kalo menurut sy, yg sebenarnya salah krn telah menyebabkan waktu yg tersedia antara bpk dan anak makin dikit adlh PEMERINTAH. Liat aja Jakarta yg makin parah macetnya akibat pemerintah tdk becus ngurusin transportasi dan tetek bengeknya. Jadi jgn serta merta salahkan bpk yg kekurangan waktu luang bersama anaknya. GBU 2...


        -----Original Message-----
        From: Victoria Ariwita <ariwita_victoria@...>
        Sent: Tuesday, 30 November, 2010 10:38 AM
        Subject: [sekolahrumah] WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?


        Just share..and lets learn together.
        GBU.

        ============================================

        WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?

        Bill Cosby memang berharga. Ketika beberapa tahun silam, anaknya Bill Cosby
        Jr diterjang peluru, hampir sebagian warga dunia berguncang. Seorang ayah
        'ideal' kehilangan anaknya. Puluhan pertanyaan berhamburan dibalik kejadian
        itu. Orang-orang tidak membayangkan Bill Cosby Jr punya masalah dengan
        bandit-bandit pengedar obat terlarang. Bukankah Bill Cosby seorang ayah
        ideal, humoris, sabar, pengertian, enak dan perlu.

        Tidaklah berlebihan, kalau Alvin F. Poussaint M.D, seorang Asisten Profesor
        dari Harvard MedicalSchool, membutuhkan 10 halaman untuk menjelaskan
        kehebatan sang tokoh. Namun ada satu pertanyaan inti yang tidak mampu
        dijawab secara transparan oleh Bill.yaitu, "Where has Bill gone?".

        Kemanakah Bill pergi selama ini. Apakah yang ia lakukan sepanjang hari
        dengan anaknya. Kenapa, Bill tidak mengetahui sedikitpun tentang sepak
        terjang anaknya?

        Malam, ketika tulisan ini sedang dirampungkan, telpon rumah saya berdering.
        Interlokal dari kampung saya disebuah dusun pedalaman Sumatra. Suara gagap
        dan ragu-ragu kakak perempuan saya mengabarkan, dua orang keponakan kami
        masuk penjara. Satu orang tertangkap sebagai pengedar Narkoba dan satu lagi
        sebagai pemakai Narkoba kronis. Sama seperti Bill Cosby, tiba-tiba puluhan
        pertanyaan menyergap dan mengepung ruang dalam otak kanan saya. Semua
        pertanyaan itu berputar-putar dan akhirnya berpilin pada sebuah
        pertanyaan...

        "Where has their father gone ?"

        Kemanakah ayah mereka pergi selama ini ?

        Sehari sebelum saya terima kabar dari kampung, dalam sebuah dialog antara
        pemerhati pecandu Narkoba, seorang ibu bercerita. Katanya, tak ada kesakitan
        yang lebih mencekam ketimbang cengkraman Narkoba pada anaknya.
        Dengan menahan tangis dan sedikit dendam, ia mengatakan anaknya adalah
        korban dari hilangnya lelaki dewasa (ayah) dalam putaran kehidupan rumah
        tangganya.

        "Where has the father gone ?"

        Dimana sih ayah-ayah mereka?

        Anak-anak yang ditakdirkan menjadi pelaku sejarah diatas hanyalah sebagian
        kecil di antara berjuta anak yang sebenarnya tidak membutuhkan konseling
        psikologi.

        Apa yang mereka butuhkan namun seringkali tidak mereka miliki- adalah ayah
        yang peduli padanya dan punya waktu untuk bersama. Anak-anak itu tidak butuh
        tenaga psikiater tapi dia butuh seseorang yang bisa dipercaya. Lalu
        dimanakah ayah-ayah mereka? Ada dua jawaban.

        Pertama, ayah yang ada tapi suka membolos. Tipe ini kita temukan
        dimana-mana. Di lapangan golf, tenis, bulu tangkis, kantor dan tempat
        lainnya.

        Ada ayah yang dinas luar (tugas kantor atau dakwah) ke daerah-daerah hampir
        setiap bulan.

        Ada ayah yang bekerja, berangkat sesudah subuh dan pulang larut malam.

        Ada juga ayah yang nongkrong, tidur-tiduran ditempat tertentu hanya untuk
        melegitimasi bahwa ia sibuk sepanjang hari. Sehingga seolah-olah hanya ada
        waktu sisa buat anak-anaknya.

        Kesimpulannya, ayah-ayah ini ada di mana-mana, tapi mereka sering membolos
        dari waktu bersama anaknya. Mereka (ayah-ayah ini) sulit ditemukan di
        rapat-rapat POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru), karena ada
        peninggalan purba yang menyatakan bahwa urusan sekolah adalah hak mutlak
        sang ibu semata .

        Kita jarang menemukan ayah di tempat praktek dokter menggendong anaknya yang
        sakit.

        Kita juga tidak melihatnya di kantor kepolisian mengurus anaknya yang
        melakukan tindakan kriminal.Ayah-ayah ini apabila ditanyakan pada
        mereka:apakah yang penting dalam hidupmu ? Biasanya mereka menjawab:keluarga
        dan
        anak-anak. Naifnya, jawaban ini sering tidak tercermin dalam kehidupan
        sehari-hari, khususnya bagaimana mereka mengatur waktu dan tenaga mereka
        sehari-hari antara pekerjaan dan anak. Simaklah dialog berikut ini:

        Sang Anak : "Ayah, Yah main bola yuk!"

        Sang Ayah : "O, ya. Ayah baca koran dulu!"

        "O, ya. Ayah nonton berita dulu !"

        "O, ya. Ayah janji main bola hari Sabtu!"

        "O, ya. Ayah ada acara nih"

        "O, ya. Ayah lagi cape ? "

        "O, ya. Ayah lagi banyak kerjaan"

        "O, ya. Ayah mau tapi ? "

        Mungkin ayah seperti inilah yang dimaksudkan oleh hasil need assesment dari
        Lembaga Demografi salah satu universitas negeri di Jakarta. Jajak pendapat
        itu menerangkan empat ciri menonjol ayah tipe Pertama ini. Cepat
        marah, jarang ada waktu ngobrol dengan anak, ditakuti anak dan selalu
        menakar seluruh pekerjaan dengan uang.

        Kedua, ayah yang ada (fisik) dan rajin tapi tidak tahu harus berbuat
        apa.Kita menemukan ayah-ayah ini sering berada di rumah. Mereka mengerjakan
        banyak hal, tapi tidak terlalu mengerti apa yang dikerjakannya. Sebuah
        gelombang rutinitas menjebak dan membawanya berputar-putar ke dalam
        pekerjaan yang memiliki kualitas rendah.

        Anak-anak menjumpai tokoh ini sepanjang waktu di rumah, namun sayangnya
        lambat laun sang tokoh menjadi tidak berarti dalam kehidupan mereka. Tidak
        ada lagi kejutan-kejutan psikologis yang biasa ditunggu-tunggu anak dari
        seorang ayah yang normal. Ritme komunikasi berjalan tanpa greget dan hambar.

        Sebagian besar korban Narkoba dan pelecehan seksual di kalangan remaja
        memiliki ayah tipe kedua ini.

        Bukan Superman tapi Superstar. Benar, ayah bukanlah superman, tapi ia adalah
        superstar.

        Ia bintang di tengah keluarga. Ia pembawa dan penentu model sekaligus agen
        sosial. Lewat aksi panggungnya yang memikat, ia menggemuruhkan keceriaan
        keluarga. Tapi, sebagai seorang bintang, ia tidak lahir dengan sendirinya.
        Ia membutuhkan dukungan, karena bagi lelaki peran ayah bukanlah peran
        instingtif.

        Peran ini lebih membutuhkan bimbingan sosial dari pada wanita dengan
        perannya sebagai ibu. Sebelum dukungan datang dari luar, maka sang ayah
        harus mencari dukungan dari dirinya sendiri. Mereka haruslah secara kontinyu
        merangsang dialog dengan hati nurani secara intens dan apresiatif.

        Dialog-dialog ini harus mampu meyakinkan bahwa ia tidaklah satu-satunya ayah
        yang sedang belajar menjadi superstar. Bahwa anak-anak membutuhkan cinta,
        dukungan, dorongan dan perlindungannya. Bahwa melalui anak-anak
        para orang tua diajarkan makna hidup, cinta, kesucian, kesabaran dan
        sebagainya. Bahwa anak-anak melihat dunia luar dengan perantara jendela sang
        superstar.

        Dukungan dalam diri tidak akan berarti tanpa tekun dan sabar berlatih.
        Sampai suatu saat hilangnya kekakuan dalam berhadapan dengan anak-anak.
        Muncullah ayah yang dengan ikhlas membantu anaknya mengerjakan PR,
        memandikan anak, mencuci baju dan belanja. Ayah yang membacakan buku cerita
        untuk anaknya, mengantar anak les komputer.

        Ayah-ayah inilah yang akan membuat dunia ini berputar dan menjawab
        pertanyaan : "Where have all the fathers gone?" dengan "Here I am. Now and
        forever!"

        [Non-text portions of this message have been removed]



        [Non-text portions of this message have been removed]
      • aley_by2@yahoo.co.id
        Ayah yang kurang intensitasnya dengan sang anak, menarik. Banyak hal yang menjadi faktonya. Bukan hanya pekerjaan atau waktu yang terbuang dengan kejadian yang
        Message 3 of 7 , Dec 1, 2010
        • 0 Attachment
          Ayah yang kurang intensitasnya dengan sang anak, menarik. Banyak hal yang menjadi faktonya. Bukan hanya pekerjaan atau waktu yang terbuang dengan kejadian yang tidak penting seperti macet, mogok atau lain2nya.
          Menyikapi hal tersebut, opini saya -sebenarnya hal yan terpenting adalah apakah sang ayah sudah siap menjalankan salah satu perannya dalam keluarga yaitu sebagai orang tua. Dimana peran itu mau tak mau akan menuntutnya untuk memiliki waktu ekstra dengan sang anak.
          Walaupun seandainya sang ayah sibuk 18 jam bekerja dan aktivitas lainnya, sebenarnya ia masih memiliki waktu disela2 kesibukannya itu *anggap 6 jam sisa digunakan untuk tidur. Ia masih dapat menyisihkan wktu 30menit saat sarapan untuk berkomunikasi efektif,30 menit saat makan malam, 15menit saat istirahat siang, 1jam saat dalam perjalanan beraktivitas *karena tertahan macet, 15 menit saat waktu tidur. Itu waktu minim yg bernilai optimal*seandainya sang ayah sesibuk itu.
          Yang jadi permasalahn sebenanya adalah apakah sang ayah mau melakukannya tanpa alasan apapun atau berfikiran bahwa ibulah yang seharusnya memiliki andil dalam hal ini. Jika semua ayah berfikiran bahwa ibu yang berperan, maka anak2 lelaki kita akan kehilangan figur seorang ayah *dan itu sangat disesalkan.

          Nice share n_n thanks
          Powered by Telkomsel BlackBerry�

          -----Original Message-----
          From: Buddy Winz <budz2320@...>
          Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Date: Wed, 1 Dec 2010 21:43:58
          To: Sekolahrumah<sekolahrumah@yahoogroups.com>
          Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Subject: RE: [sekolahrumah] WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?

          Kalo menurut sy, yg sebenarnya salah krn telah menyebabkan waktu yg tersedia antara bpk dan anak makin dikit adlh PEMERINTAH. Liat aja Jakarta yg makin parah macetnya akibat pemerintah tdk becus ngurusin transportasi dan tetek bengeknya. Jadi jgn serta merta salahkan bpk yg kekurangan waktu luang bersama anaknya. GBU 2...


          -----Original Message-----
          From: Victoria Ariwita <ariwita_victoria@...>
          Sent: Tuesday, 30 November, 2010 10:38 AM
          Subject: [sekolahrumah] WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?


          Just share..and lets learn together.
          GBU.

          ============================================

          WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?

          Bill Cosby memang berharga. Ketika beberapa tahun silam, anaknya Bill Cosby
          Jr diterjang peluru, hampir sebagian warga dunia berguncang. Seorang ayah
          'ideal' kehilangan anaknya. Puluhan pertanyaan berhamburan dibalik kejadian
          itu. Orang-orang tidak membayangkan Bill Cosby Jr punya masalah dengan
          bandit-bandit pengedar obat terlarang. Bukankah Bill Cosby seorang ayah
          ideal, humoris, sabar, pengertian, enak dan perlu.

          Tidaklah berlebihan, kalau Alvin F. Poussaint M.D, seorang Asisten Profesor
          dari Harvard MedicalSchool, membutuhkan 10 halaman untuk menjelaskan
          kehebatan sang tokoh. Namun ada satu pertanyaan inti yang tidak mampu
          dijawab secara transparan oleh Bill.yaitu, "Where has Bill gone?".

          Kemanakah Bill pergi selama ini. Apakah yang ia lakukan sepanjang hari
          dengan anaknya. Kenapa, Bill tidak mengetahui sedikitpun tentang sepak
          terjang anaknya?

          Malam, ketika tulisan ini sedang dirampungkan, telpon rumah saya berdering.
          Interlokal dari kampung saya disebuah dusun pedalaman Sumatra. Suara gagap
          dan ragu-ragu kakak perempuan saya mengabarkan, dua orang keponakan kami
          masuk penjara. Satu orang tertangkap sebagai pengedar Narkoba dan satu lagi
          sebagai pemakai Narkoba kronis. Sama seperti Bill Cosby, tiba-tiba puluhan
          pertanyaan menyergap dan mengepung ruang dalam otak kanan saya. Semua
          pertanyaan itu berputar-putar dan akhirnya berpilin pada sebuah
          pertanyaan...

          "Where has their father gone ?"

          Kemanakah ayah mereka pergi selama ini ?

          Sehari sebelum saya terima kabar dari kampung, dalam sebuah dialog antara
          pemerhati pecandu Narkoba, seorang ibu bercerita. Katanya, tak ada kesakitan
          yang lebih mencekam ketimbang cengkraman Narkoba pada anaknya.
          Dengan menahan tangis dan sedikit dendam, ia mengatakan anaknya adalah
          korban dari hilangnya lelaki dewasa (ayah) dalam putaran kehidupan rumah
          tangganya.

          "Where has the father gone ?"

          Dimana sih ayah-ayah mereka?

          Anak-anak yang ditakdirkan menjadi pelaku sejarah diatas hanyalah sebagian
          kecil di antara berjuta anak yang sebenarnya tidak membutuhkan konseling
          psikologi.

          Apa yang mereka butuhkan namun seringkali tidak mereka miliki- adalah ayah
          yang peduli padanya dan punya waktu untuk bersama. Anak-anak itu tidak butuh
          tenaga psikiater tapi dia butuh seseorang yang bisa dipercaya. Lalu
          dimanakah ayah-ayah mereka? Ada dua jawaban.

          Pertama, ayah yang ada tapi suka membolos. Tipe ini kita temukan
          dimana-mana. Di lapangan golf, tenis, bulu tangkis, kantor dan tempat
          lainnya.

          Ada ayah yang dinas luar (tugas kantor atau dakwah) ke daerah-daerah hampir
          setiap bulan.

          Ada ayah yang bekerja, berangkat sesudah subuh dan pulang larut malam.

          Ada juga ayah yang nongkrong, tidur-tiduran ditempat tertentu hanya untuk
          melegitimasi bahwa ia sibuk sepanjang hari. Sehingga seolah-olah hanya ada
          waktu sisa buat anak-anaknya.

          Kesimpulannya, ayah-ayah ini ada di mana-mana, tapi mereka sering membolos
          dari waktu bersama anaknya. Mereka (ayah-ayah ini) sulit ditemukan di
          rapat-rapat POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru), karena ada
          peninggalan purba yang menyatakan bahwa urusan sekolah adalah hak mutlak
          sang ibu semata .

          Kita jarang menemukan ayah di tempat praktek dokter menggendong anaknya yang
          sakit.

          Kita juga tidak melihatnya di kantor kepolisian mengurus anaknya yang
          melakukan tindakan kriminal.Ayah-ayah ini apabila ditanyakan pada
          mereka:apakah yang penting dalam hidupmu ? Biasanya mereka menjawab:keluarga
          dan
          anak-anak. Naifnya, jawaban ini sering tidak tercermin dalam kehidupan
          sehari-hari, khususnya bagaimana mereka mengatur waktu dan tenaga mereka
          sehari-hari antara pekerjaan dan anak. Simaklah dialog berikut ini:

          Sang Anak : "Ayah, Yah main bola yuk!"

          Sang Ayah : "O, ya. Ayah baca koran dulu!"

          "O, ya. Ayah nonton berita dulu !"

          "O, ya. Ayah janji main bola hari Sabtu!"

          "O, ya. Ayah ada acara nih"

          "O, ya. Ayah lagi cape ? "

          "O, ya. Ayah lagi banyak kerjaan"

          "O, ya. Ayah mau tapi ? "

          Mungkin ayah seperti inilah yang dimaksudkan oleh hasil need assesment dari
          Lembaga Demografi salah satu universitas negeri di Jakarta. Jajak pendapat
          itu menerangkan empat ciri menonjol ayah tipe Pertama ini. Cepat
          marah, jarang ada waktu ngobrol dengan anak, ditakuti anak dan selalu
          menakar seluruh pekerjaan dengan uang.

          Kedua, ayah yang ada (fisik) dan rajin tapi tidak tahu harus berbuat
          apa.Kita menemukan ayah-ayah ini sering berada di rumah. Mereka mengerjakan
          banyak hal, tapi tidak terlalu mengerti apa yang dikerjakannya. Sebuah
          gelombang rutinitas menjebak dan membawanya berputar-putar ke dalam
          pekerjaan yang memiliki kualitas rendah.

          Anak-anak menjumpai tokoh ini sepanjang waktu di rumah, namun sayangnya
          lambat laun sang tokoh menjadi tidak berarti dalam kehidupan mereka. Tidak
          ada lagi kejutan-kejutan psikologis yang biasa ditunggu-tunggu anak dari
          seorang ayah yang normal. Ritme komunikasi berjalan tanpa greget dan hambar.

          Sebagian besar korban Narkoba dan pelecehan seksual di kalangan remaja
          memiliki ayah tipe kedua ini.

          Bukan Superman tapi Superstar. Benar, ayah bukanlah superman, tapi ia adalah
          superstar.

          Ia bintang di tengah keluarga. Ia pembawa dan penentu model sekaligus agen
          sosial. Lewat aksi panggungnya yang memikat, ia menggemuruhkan keceriaan
          keluarga. Tapi, sebagai seorang bintang, ia tidak lahir dengan sendirinya.
          Ia membutuhkan dukungan, karena bagi lelaki peran ayah bukanlah peran
          instingtif.

          Peran ini lebih membutuhkan bimbingan sosial dari pada wanita dengan
          perannya sebagai ibu. Sebelum dukungan datang dari luar, maka sang ayah
          harus mencari dukungan dari dirinya sendiri. Mereka haruslah secara kontinyu
          merangsang dialog dengan hati nurani secara intens dan apresiatif.

          Dialog-dialog ini harus mampu meyakinkan bahwa ia tidaklah satu-satunya ayah
          yang sedang belajar menjadi superstar. Bahwa anak-anak membutuhkan cinta,
          dukungan, dorongan dan perlindungannya. Bahwa melalui anak-anak
          para orang tua diajarkan makna hidup, cinta, kesucian, kesabaran dan
          sebagainya. Bahwa anak-anak melihat dunia luar dengan perantara jendela sang
          superstar.

          Dukungan dalam diri tidak akan berarti tanpa tekun dan sabar berlatih.
          Sampai suatu saat hilangnya kekakuan dalam berhadapan dengan anak-anak.
          Muncullah ayah yang dengan ikhlas membantu anaknya mengerjakan PR,
          memandikan anak, mencuci baju dan belanja. Ayah yang membacakan buku cerita
          untuk anaknya, mengantar anak les komputer.

          Ayah-ayah inilah yang akan membuat dunia ini berputar dan menjawab
          pertanyaan : "Where have all the fathers gone?" dengan "Here I am. Now and
          forever!"

          [Non-text portions of this message have been removed]



          [Non-text portions of this message have been removed]




          [Non-text portions of this message have been removed]
        • Kiki
          memang negara kita ini cenderung mengarah ke negara yg fatherless, ayah ada tapi tiada dirumah. Gak bs di pungkiri, sebagian besar dari kita dididik dengan
          Message 4 of 7 , Dec 1, 2010
          • 0 Attachment
            memang negara kita ini cenderung mengarah ke negara yg fatherless,
            ayah ada tapi tiada dirumah. Gak bs di pungkiri, sebagian besar dari
            kita dididik dengan budaya seperti itu. sebagian besar orang masih
            beranggapan urusan domestik termasuk urusan mendidik anak adalah urusan
            ibu-ibu, ayah tugasnya adalah mencari nafkah..

            tetapi, sekarang juga berkembang apa yang disebut dengan New Dad, jenis
            ayah yang jarang sekali ditemui zaman kakek buyut kita. New dad ini
            adalah jenis ayah yang ikut mengasuh anak, terlibat dalam pendidikan
            anak, terlibat dalam pekerjaan rumah tangga di keluarga, dan sensitif
            terhadap kebutuhan emosional dan psikologis keluarga.
            kondisi new dad ini terbentuk karena banyak hal, salah satunya adalah
            evaluasi sang ayah baru ini terhadap pengalaman pengasuhan ayahnya
            sendiri. new dad ingin anak-anaknya mendapatkan ayah yang lebih baik
            ketimbang kakek mereka..

            tapi, sebagai istri.. kita tak bisa mencap suami kita sebagai golongan
            fatherless or new dad.. semua butuh proses karna mungkin mengasuh anak
            dan membantu kerjaan rumah bukan sesuatu yang mengalir dalam darah
            seperti para ibu2.. kita butuh mendorong dan mendukung mereka.. ( saya
            sering ingetin suami untuk maen sama anak kalo anak-anak lagi pada
            semangat maen sama bapak mereka.. minta hp atau laptopnya ditinggalin
            dulu.. )

            i wish my husband keep trying become "new dad"..
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.