Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools

Expand Messages
  • khusnul.khotimah82@gmail.com
    Sebenernya menurut saya bagus jika anak termotivasi, mungkin yang perlu diperluas adalah ruang lingkupnya. Bukan hanya rangking 1 di kelas, tetapi termotivasi
    Message 1 of 10 , Oct 31, 2010
    • 0 Attachment
      Sebenernya menurut saya bagus jika anak termotivasi, mungkin yang perlu diperluas adalah ruang lingkupnya.
      Bukan hanya rangking 1 di kelas, tetapi termotivasi untuk menjadi yang terbaik di berbagai bidang.

      -K.K-
      *maminya Milia (4y 9m)
      Powered by Telkomsel BlackBerry®
    • pujinev@yahoo.com
      Mangga di copas. Selama ranking 1 bukan dosa si gak pa-pa menurut sy bu. Asal jangan kayak pendidikan sekarang, ranking 1 seolah jaminan masuk surga, dan
      Message 2 of 10 , Nov 1, 2010
      • 0 Attachment
        Mangga di copas. Selama ranking 1 bukan dosa si gak pa-pa menurut sy bu. Asal jangan kayak pendidikan sekarang, ranking 1 seolah jaminan masuk surga, dan rangking 40 seolah hidup dalam neraka.

        Salam
        Sent from my BlackBerry�
        powered by Sinyal Kuat INDOSAT

        -----Original Message-----
        From: inas sekar <inas.sekar@...>
        Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
        Date: Mon, 1 Nov 2010 08:41:27
        To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
        Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
        Subject: Re: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools

        Okehhhh banget...... good luck Pak!!
        Boleh ijin copas Pak Andry?
        Anak saya beberapa waktu lalu mulai keranjingan dengan rangking 1.
        Nggak tahu diapain sama gurunya disekolah, sehingga dia termotivasi
        banget. Bagus juga sih, tapi motivasinya mbok ya jangan ranking 1
        gitu lho....



        [Non-text portions of this message have been removed]
      • pujinev@yahoo.com
        Ibu nurul, silahkan di share. Memang kasus2 pd Perusahaan2 besar ceritanya luar biasa. Kita bisa lihat GE (General Electric), perusahaan yg dibuat Thomas Alva
        Message 3 of 10 , Nov 1, 2010
        • 0 Attachment
          Ibu nurul, silahkan di share.

          Memang kasus2 pd Perusahaan2 besar ceritanya luar biasa. Kita bisa lihat GE (General Electric), perusahaan yg dibuat Thomas Alva Edison seabad yg lalu, begitu berkembang sampai mnjadi sebesar sekarang ini. Orang bilang karena dia Yahudi. Tapi menurut saya, karena perusahaannya tak hanya bisa membuat penemuan, MELAINKAN JUGA MENDIDIK GENERASI2 BERIKUTNYA.

          Saya yakin mereka melakukan pendidikan kpd para calon putera mahkotanya bukan dengan menyekolahkan ke Uni dsb. Melainkan dgn pengajaran khusus.

          MATSUHITA juga orang yg luar biasa. Hari ini perusahaannya menggurita. Padahal dulunya cuma modal 3 barang ajaib yg dibutuhkan setiap ibu2, Kulkas, TV dan Radiotape.

          Setelah saya pelajari, mereka tak hanya pandai mencipta, melainkan juga handal dalam mendidik sendiri generasi penerus berikutnya.

          Lain halnya dengan jago kandang kita, pabrik rokok SAMPOERNA. Susah2 moyangnya alm Poetra Sampoerna membangun dan bikin pabrik rokok dari gudang kecil hingga besar,,, eh.... tiba2 sang cucu menjualnya. Udah gitu duitnya dibuat beli business yg haram pula, Rumah Judi di Vegas. Mungkin cucunya rada beneran, gak ngerokok kayak kakenya. Tapi,,,,.. Judi... Hiks,.,. Beneran apa lebih parah yak!..hehehe...

          Salam

          Sent from my BlackBerry®
          powered by Sinyal Kuat INDOSAT

          -----Original Message-----
          From: nurulis9@...
          Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Date: Sun, 31 Oct 2010 23:12:39
          To: sekolah rumah<sekolahrumah@yahoogroups.com>
          Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Subject: Re: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools

          campur aduk perasaan saya membaca tulisan bapak. Terharu,geli,bangga,..
          Persis yg Helmi Yahya katakan,dia menyesal terus menerus jadi juara kelas tapi kalah kaya dg abangnya yg biasa2 saja. Menyadari akan hal itu barulah dia berpikir ttg pentingnya "personal selling", dan kayalah dia skrg.
          Dan memang 100 org terkaya di dunia semuanya adlh pengusaha.
          Mohon ijin,apakah tulisan yg sungguh natural ini bisa sy share pak??
          Terima kasih...
          Nurul

          Sent from my BlackBerry®
          powered by Sinyal Kuat INDOSAT

          -----Original Message-----
          From: pujinev@...
          Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Date: Sun, 31 Oct 2010 03:39:07
          To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
          Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Subject: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools

          Dear Sekolah Rumah,

          Barangkali judulnya terlalu extreem. Tapi emang bener. Temen2 sekolah gue yg pade pinter2 dulunya, sekarang kagak ada yg kaya.

          Mereka jago banget dalam matematika, bahasa, pendidikan moral pancasila (sekarang ppkn atau apalah), dan pelajaran2 lainnya. Sedangkan gue, sama temen2 yg barisan belakang, rata2 jadi figur bad sample, publik enemy, eee... kira2 seperti murid2 sampah yg kerjanya bikin onar kelas aja.

          Sekolah Rumah,
          Itu 26 tahun yg lalu, ketika kami para cowok baru pada kaget sekolahnya pake celana panjang, dan para ceweknya bagaikan bunga baru pada mentik.

          Sekolah Rumah,
          Anda tahu yg terjadi hari ini ?
          Kawan2 kami yg duduk dibaris depan, cowok2 kacamata setebal pantat botol, sisiran belah pinggir atawa cepak ngehe, dimana cewknya pada di kepang jadul dan tampang kutu bukun, pada jadi pegawai negeri, pegawai swasta, sipil, guru, dosen, dan sebagainya.

          Sedangkan kami, barisan yg duduk di belakang, warga negara kelas dua, cowok gondrong jorok dan tukang bolos, kebanyakan gak ada yg jadi pegawai. Rata2 self employment atau usahawan.

          Saya tidak akan membandingkan profesi karyawan vs usahawan, karena bukan disitu titik penekanannya. Namun ada sesuatu yg dipelajari sendiri oleh kami, para murid badung yg suka bolos dan pergi ke kebun binatang bersama teman pada jam pelajaran sekolah. Yakni pelajaran di luar sekolah. Sejak es-em-pe, kebun binatang adalah surga saya. Kami tahu benar tabiat2 binatang2 di kebun binatang bahkan sampai kenal namanya. Sahabat saya si Kliwon, gajah pemarah yg selalu ingat orang yg jail kepadanya.

          Kadang kami membolos ke toko penyewaan komik. Namun ketika teman kami ada yg mengajak ke perpustakaan LIPI, disitulah kami mulai keranjingan bolos. Setiap bolos sekolah pagi kami selalu ke perpustakaan LIPI. Siangnya kami main ding-dong (game di blok M). Anda tahu buku yg saya suka?! Relativitas ! Hiks,.,. Abis Einstein itu menurut sy luar biasa, bisa bilang Fisika Newton gak sempurna. Stelah itu, sy keranjingan ilmu pengetahuan.

          Tidak hanya uang jajan, uang bayaran sekolah dan sebagainya kami sikat buat main game. Sering kami di usir karena memakai seragam. Tapi...hehehe... Boro2 yg namanya kapok. Cuma sebentar, karena selalu kami mix, antara perpustakaan LIPI dan ding-dong.

          Ketika kami kebingungan untuk mengganti uang bayaran sekolah yg terpakai, kami mendapat jalan dengan menjual koran2 bekas yg ada di rumah. Kami baru tahu, bahwa koran bekas ternyata berharga. Kamipun semakin rajin mengumpulkan koran2 bekas itu, bahkan, rumah teman2 yg lain, tetangga, koran di warung, selalu sy minta, untuk kemudian kami jual.

          Tapi dasar basic insting, kebutuhan kami meningkat, karena buku2 di LIPI gak bisa dibawa pulang. Kami sudah keranjingan ke toko buku Scientific (Gunung Agung dan Gramedia gak masuk hitungan). Buku2 disana begitu mahal. Maka, mulailah kami cari akal. Dan kami temui, bukan hanya koran yg berharga untuk dijual, tetapi besi bekas ternyata lebih berharga lagi.

          Maka, mulailah kami menjadi madura kecil2an, menjual segala jenis logam yg ada di rumah kami. Jangan kan logam bekas, velg ban mobil orang tua kami pun jadi sasaran. Dan trnyata, kebiasaan ini makin menggila. Sampai2 kami menjadi pengemis barang2 bekas, terutama logam.

          Ketika orang tua kami mulai menyadari kehilangan barang2nya, mulailah usaha kami bangkrut. Boro2 mau beli buku asing di toko buku Scientific, buat biaya game saja udah gak bisa. Kamipun tak dapat lagi membeli buku2 dari Scientific.

          Saya pernah mengaku bahwa saya jual barang2 itu buat beli buku Schaum series. Tapi... Boro2 dapat support, malahan orang tua kami bilang kami ngawur. Bukannya buku2 sekolah yg dibaca malahan buku2 luar negeri yg gak jelas. Sedangkan reputasi kami sebagai anak bergajul udah jelas nempel dijidat2 kami.

          Di sekolah, kami juga bukan murid juara. Karena sy cuma gila Einstein, makanya sy cuma gandrung Matematika dan Fisika. Untuk dua mata pelajaran itu, gak ada yg bisa lawan, termasuk guru saya. Alhasil, sy berantem doang sama guru2 saya yg pada bego itu. Sumpah Sekolah Rumah, guru2 Fisika dan Matematika sy semuanya gak ada yg pintar.

          Suatu ketika pernah ada seleksi Olympiade Matematika. Untungnya, semua murid dicoba. Dan... Hehe,,, si juara sekolah masih dibawah saya. Satu sekolah bingung sama hasilnya. Dan kamipun dikirim (10 terbaik). Dari 300 murid terbaik se Indonesia,,, hehe.. Muridnya si Einstein dapat urutan 15. Sayang, yg diambil cuma 10 orang. Dan anda tahu kenapa sy bisa jawab soal2 Olympiade ?! ... Hihi... Bukan karena sy nya pintar, tapi karena soal2 yg keluar mirip banget dengan buku2 schaum series, buku2 yg kami beli dari hasil usaha madura2an.

          Sekolah Rumah,
          Saya bukan bermaksud cerita bahwa sekarang sy sukses atau kaya. Saya cuma mau bilang, bahwa ada banyak sekali pelajaran2 yg ada di luar sekolah. Dari mulai Kebun binatang ragunan, buku2 LIPI, buku2 Scientific, adalah sumber2 pelajaran yg masih menempel di kepala sy sampai sekarang.

          Dan juga ada sebuah pelajaran yg luar biasa. Pelajaran surfival, ketika kami mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan2 kami dgn menjadi madura kecil2an.

          Ini cuma sekelumit kisah dimasa kecil. Tapi sy bersumpah, tidak akan sy ulangi kesalahan orang tua sy, yg tidak memberikan support kpd apa yg sy gandrungi. Dan sy pun bersumpah, tidak akan menyekolahkan anak sy untuk di ajar dengan guru2 matematika lulusan perguruan tinggi ilmu pendidikan yg (maaf) pada bego2 itu.

          Ada sesuatu lagi yg sy miliki selain surfival di bidang koran dan logam bekas, yakni manis getirnya pengalaman sy dalam usaha. Semua gak ada dibuku, hanya ada dikepala sy. Dan akan sy ajarkan ini semua kepada anak sy. Hingga judul tulisan ini mungkin bisa di revisi menjadi, "if you want to be success, don't go to school".

          Salam
          andry cahya
          Sent from my BlackBerry®
          powered by Sinyal Kuat INDOSAT

          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links





          ------------------------------------

          Yahoo! Groups Links
        • Nurseha Tp
          ijin copy&share y pak,makasih sbelumnya ... Dari: pujinev@yahoo.com Judul: [sekolahrumah] If you want to be rich, don t go to schools
          Message 4 of 10 , Nov 1, 2010
          • 0 Attachment
            ijin copy&share y pak,makasih sbelumnya

            --- Pada Ming, 31/10/10, pujinev@... <pujinev@...> menulis:


            Dari: pujinev@... <pujinev@...>
            Judul: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools
            Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
            Tanggal: Minggu, 31 Oktober, 2010, 3:39 AM


            Dear Sekolah Rumah,

            Barangkali judulnya terlalu extreem. Tapi emang bener. Temen2 sekolah gue yg pade pinter2 dulunya, sekarang kagak ada yg kaya.

            Mereka jago banget dalam matematika, bahasa, pendidikan moral pancasila (sekarang ppkn atau apalah), dan pelajaran2 lainnya. Sedangkan gue, sama temen2 yg barisan belakang, rata2 jadi figur bad sample, publik enemy, eee... kira2 seperti murid2 sampah yg kerjanya bikin onar kelas aja.

            Sekolah Rumah,
            Itu 26 tahun yg lalu, ketika kami para cowok baru pada kaget sekolahnya pake celana panjang, dan para ceweknya bagaikan bunga baru pada mentik.

            Sekolah Rumah,
            Anda tahu yg terjadi hari ini ?
            Kawan2 kami yg duduk dibaris depan, cowok2 kacamata setebal pantat botol, sisiran belah pinggir atawa cepak ngehe, dimana cewknya pada di kepang jadul dan tampang kutu bukun, pada jadi pegawai negeri, pegawai swasta, sipil, guru, dosen, dan sebagainya.

            Sedangkan kami, barisan yg duduk di belakang, warga negara kelas dua, cowok gondrong jorok dan tukang bolos, kebanyakan gak ada yg jadi pegawai. Rata2 self employment atau usahawan.

            Saya tidak akan membandingkan profesi karyawan vs usahawan, karena bukan disitu titik penekanannya. Namun ada sesuatu yg dipelajari sendiri oleh kami, para murid badung yg suka bolos dan pergi ke kebun binatang bersama teman pada jam pelajaran sekolah. Yakni pelajaran di luar sekolah. Sejak es-em-pe, kebun binatang adalah surga saya. Kami tahu benar tabiat2 binatang2 di kebun binatang bahkan sampai kenal namanya. Sahabat saya si Kliwon, gajah pemarah yg selalu ingat orang yg jail kepadanya.

            Kadang kami membolos ke toko penyewaan komik. Namun ketika teman kami ada yg mengajak ke perpustakaan LIPI, disitulah kami mulai keranjingan bolos. Setiap bolos sekolah pagi kami selalu ke perpustakaan LIPI. Siangnya kami main ding-dong (game di blok M). Anda tahu buku yg saya suka?! Relativitas ! Hiks,.,. Abis Einstein itu menurut sy luar biasa, bisa bilang Fisika Newton gak sempurna. Stelah itu, sy keranjingan ilmu pengetahuan.

            Tidak hanya uang jajan, uang bayaran sekolah dan sebagainya kami sikat buat main game. Sering kami di usir karena memakai seragam. Tapi...hehehe... Boro2 yg namanya kapok. Cuma sebentar, karena selalu kami mix, antara perpustakaan LIPI dan ding-dong.

            Ketika kami kebingungan untuk mengganti uang bayaran sekolah yg terpakai, kami mendapat jalan dengan menjual koran2 bekas yg ada di rumah. Kami baru tahu, bahwa koran bekas ternyata berharga. Kamipun semakin rajin mengumpulkan koran2 bekas itu, bahkan, rumah teman2 yg lain, tetangga, koran di warung, selalu sy minta, untuk kemudian kami jual.

            Tapi dasar basic insting, kebutuhan kami meningkat, karena buku2 di LIPI gak bisa dibawa pulang. Kami sudah keranjingan ke toko buku Scientific (Gunung Agung dan Gramedia gak masuk hitungan). Buku2 disana begitu mahal. Maka, mulailah kami cari akal. Dan kami temui, bukan hanya koran yg berharga untuk dijual, tetapi besi bekas ternyata lebih berharga lagi.

            Maka, mulailah kami menjadi madura kecil2an, menjual segala jenis logam yg ada di rumah kami. Jangan kan logam bekas, velg ban mobil orang tua kami pun jadi sasaran. Dan trnyata, kebiasaan ini makin menggila. Sampai2 kami menjadi pengemis barang2 bekas, terutama logam.

            Ketika orang tua kami mulai menyadari kehilangan barang2nya, mulailah usaha kami bangkrut. Boro2 mau beli buku asing di toko buku  Scientific, buat biaya game saja udah gak bisa. Kamipun tak dapat lagi membeli buku2 dari Scientific.

            Saya pernah mengaku bahwa saya jual barang2 itu buat beli buku Schaum series. Tapi... Boro2 dapat support, malahan orang tua kami bilang kami ngawur. Bukannya buku2 sekolah yg dibaca malahan buku2 luar negeri yg gak jelas. Sedangkan reputasi kami sebagai anak bergajul udah jelas nempel dijidat2 kami.

            Di sekolah, kami juga bukan murid juara. Karena sy cuma gila Einstein, makanya sy cuma gandrung Matematika dan Fisika. Untuk dua mata pelajaran itu, gak ada yg bisa lawan, termasuk guru saya. Alhasil, sy berantem doang sama guru2 saya yg pada bego itu. Sumpah Sekolah Rumah, guru2 Fisika dan Matematika sy semuanya gak ada yg pintar.

            Suatu ketika pernah ada seleksi Olympiade Matematika. Untungnya, semua murid dicoba. Dan... Hehe,,, si juara sekolah masih dibawah saya. Satu sekolah bingung sama hasilnya. Dan kamipun dikirim (10 terbaik). Dari 300 murid terbaik se Indonesia,,, hehe.. Muridnya si Einstein dapat urutan 15. Sayang, yg diambil cuma 10 orang. Dan anda tahu kenapa sy bisa jawab soal2 Olympiade ?! ... Hihi... Bukan karena sy nya pintar, tapi karena soal2 yg keluar mirip banget dengan buku2 schaum series, buku2 yg kami beli dari hasil usaha madura2an.

            Sekolah Rumah,
            Saya bukan bermaksud cerita bahwa sekarang sy sukses atau kaya. Saya cuma mau bilang, bahwa ada banyak sekali pelajaran2 yg ada di luar sekolah. Dari mulai Kebun binatang ragunan, buku2 LIPI, buku2 Scientific, adalah sumber2 pelajaran yg masih menempel di kepala sy sampai sekarang.

            Dan juga ada sebuah pelajaran yg luar biasa. Pelajaran surfival, ketika kami mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan2 kami dgn menjadi madura kecil2an.

            Ini cuma sekelumit kisah dimasa kecil. Tapi sy bersumpah, tidak akan sy ulangi kesalahan orang tua sy, yg tidak memberikan support kpd apa yg sy gandrungi. Dan sy pun bersumpah, tidak akan menyekolahkan anak sy untuk di ajar dengan guru2 matematika lulusan perguruan tinggi ilmu pendidikan yg (maaf) pada bego2 itu.

            Ada sesuatu lagi yg sy miliki selain surfival di bidang koran dan logam bekas, yakni manis getirnya pengalaman sy dalam usaha. Semua gak ada dibuku, hanya ada dikepala sy. Dan akan sy ajarkan ini semua kepada anak sy. Hingga judul tulisan ini mungkin bisa di revisi menjadi, "if you want to be success, don't go to school".

            Salam
            andry cahya
            Sent from my BlackBerry®
            powered by Sinyal Kuat INDOSAT

            ------------------------------------

            Yahoo! Groups Links







            [Non-text portions of this message have been removed]
          • Dinar Ardanti :)
            Permisi, ah saya jadi ingat, pernah rangking ke 41 dari 42 anak. Alhamdulillaah ga ada yg merah nilainya. Penyebabya, hanya karena, saya tidak mau ikut2an
            Message 5 of 10 , Nov 1, 2010
            • 0 Attachment
              Permisi, ah saya jadi ingat, pernah rangking ke 41 dari 42 anak.
              Alhamdulillaah ga ada yg merah nilainya.
              Penyebabya, hanya karena, saya tidak mau ikut2an bayar nilai di satu pelajaran, jadi deh kedepak jauh bener rangkingnya ;D
              Ortu ga marah karena tahu penyebabnya, dan saya tetap boleh ikut karyawisata ke Bali, cihuy ! :D

              so, buat saya, rangking memang bukan hal yg terlalu penting :)

              Yg penting, anak mampu belajar mandiri tanpa disuruh2, tanpa di-dikte, tanpa diawasi. Kelak, insya Allah, anak akan mampu mandiri dan berpikir sendiri hal tepat apa yang perlu dilakukan atau dapat mengambil keputusan sendiri. Ini sih kata orang2, benar ya ?

              Dulu, ketiga hal tsb alhamdulillaah jarang dilakukan ortu saya kepada saya. Ow, pernah dua kali disuruh2 belajar, malah bete :D

              Dinar.
              Maaf, agak OOT ya ?

              carasehatalame.blogspot.com

              -----Original Message-----
              From: pujinev@...
              Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
              Date: Mon, 1 Nov 2010 11:15:42
              To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
              Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
              Subject: Re: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools

              Mangga di copas. Selama ranking 1 bukan dosa si gak pa-pa menurut sy bu. Asal jangan kayak pendidikan sekarang, ranking 1 seolah jaminan masuk surga, dan rangking 40 seolah hidup dalam neraka.

              Salam
              Sent from my BlackBerry®
              powered by Sinyal Kuat INDOSAT

              -----Original Message-----
              From: inas sekar <inas.sekar@...>
              Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
              Date: Mon, 1 Nov 2010 08:41:27
              To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
              Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
              Subject: Re: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools

              Okehhhh banget...... good luck Pak!!
              Boleh ijin copas Pak Andry?
              Anak saya beberapa waktu lalu mulai keranjingan dengan rangking 1.
              Nggak tahu diapain sama gurunya disekolah, sehingga dia termotivasi
              banget. Bagus juga sih, tapi motivasinya mbok ya jangan ranking 1
              gitu lho....



              [Non-text portions of this message have been removed]



              ------------------------------------

              Yahoo! Groups Links
            • Sumardiono
              Mas Andry, Inspiring. Terima kasih untuk sharingnya. Senang melihat cara pandang yang beragam untuk memaknai keberhasilan, yang tak hanya dibatasi oleh
              Message 6 of 10 , Nov 1, 2010
              • 0 Attachment
                Mas Andry,

                Inspiring. Terima kasih untuk sharingnya.

                Senang melihat cara pandang yang beragam untuk memaknai keberhasilan,
                yang tak hanya dibatasi oleh keberhasilan di bangku sekolah.
                Keberhasilan di sekolah tentu saja adalah sebuah hal yang baik, tapi
                saya setuju bahwa itu bukan satu-satunya ukuran. Kegagalan berprestasi
                di sekolah tak sama dengan kegagalan hidup.

                Itu seperti canda waktu kuliah dulu tentang IP (indeks prestasi): IP >
                3.5 jadi pegawai multinasional; di bawahnya jadi dosen atau pegawai; dan
                yang paling bawah akan jadi pengusaha yang mempekerjakan teman-temannya
                yang pandai.

                Salam,
                Aar


                On 31/10/2010 10:39, pujinev@... wrote:
                > Dear Sekolah Rumah,
                >
                > Barangkali judulnya terlalu extreem. Tapi emang bener. Temen2 sekolah gue yg pade pinter2 dulunya, sekarang kagak ada yg kaya.
                >
                > Mereka jago banget dalam matematika, bahasa, pendidikan moral pancasila (sekarang ppkn atau apalah), dan pelajaran2 lainnya. Sedangkan gue, sama temen2 yg barisan belakang, rata2 jadi figur bad sample, publik enemy, eee... kira2 seperti murid2 sampah yg kerjanya bikin onar kelas aja.
                >
                > Sekolah Rumah,
                > Itu 26 tahun yg lalu, ketika kami para cowok baru pada kaget sekolahnya pake celana panjang, dan para ceweknya bagaikan bunga baru pada mentik.
                >
                > Sekolah Rumah,
                > Anda tahu yg terjadi hari ini ?
                > Kawan2 kami yg duduk dibaris depan, cowok2 kacamata setebal pantat botol, sisiran belah pinggir atawa cepak ngehe, dimana cewknya pada di kepang jadul dan tampang kutu bukun, pada jadi pegawai negeri, pegawai swasta, sipil, guru, dosen, dan sebagainya.
                >
                > Sedangkan kami, barisan yg duduk di belakang, warga negara kelas dua, cowok gondrong jorok dan tukang bolos, kebanyakan gak ada yg jadi pegawai. Rata2 self employment atau usahawan.
                >
                > Saya tidak akan membandingkan profesi karyawan vs usahawan, karena bukan disitu titik penekanannya. Namun ada sesuatu yg dipelajari sendiri oleh kami, para murid badung yg suka bolos dan pergi ke kebun binatang bersama teman pada jam pelajaran sekolah. Yakni pelajaran di luar sekolah. Sejak es-em-pe, kebun binatang adalah surga saya. Kami tahu benar tabiat2 binatang2 di kebun binatang bahkan sampai kenal namanya. Sahabat saya si Kliwon, gajah pemarah yg selalu ingat orang yg jail kepadanya.
                >
                > Kadang kami membolos ke toko penyewaan komik. Namun ketika teman kami ada yg mengajak ke perpustakaan LIPI, disitulah kami mulai keranjingan bolos. Setiap bolos sekolah pagi kami selalu ke perpustakaan LIPI. Siangnya kami main ding-dong (game di blok M). Anda tahu buku yg saya suka?! Relativitas ! Hiks,.,. Abis Einstein itu menurut sy luar biasa, bisa bilang Fisika Newton gak sempurna. Stelah itu, sy keranjingan ilmu pengetahuan.
                >
                > Tidak hanya uang jajan, uang bayaran sekolah dan sebagainya kami sikat buat main game. Sering kami di usir karena memakai seragam. Tapi...hehehe... Boro2 yg namanya kapok. Cuma sebentar, karena selalu kami mix, antara perpustakaan LIPI dan ding-dong.
                >
                > Ketika kami kebingungan untuk mengganti uang bayaran sekolah yg terpakai, kami mendapat jalan dengan menjual koran2 bekas yg ada di rumah. Kami baru tahu, bahwa koran bekas ternyata berharga. Kamipun semakin rajin mengumpulkan koran2 bekas itu, bahkan, rumah teman2 yg lain, tetangga, koran di warung, selalu sy minta, untuk kemudian kami jual.
                >
                > Tapi dasar basic insting, kebutuhan kami meningkat, karena buku2 di LIPI gak bisa dibawa pulang. Kami sudah keranjingan ke toko buku Scientific (Gunung Agung dan Gramedia gak masuk hitungan). Buku2 disana begitu mahal. Maka, mulailah kami cari akal. Dan kami temui, bukan hanya koran yg berharga untuk dijual, tetapi besi bekas ternyata lebih berharga lagi.
                >
                > Maka, mulailah kami menjadi madura kecil2an, menjual segala jenis logam yg ada di rumah kami. Jangan kan logam bekas, velg ban mobil orang tua kami pun jadi sasaran. Dan trnyata, kebiasaan ini makin menggila. Sampai2 kami menjadi pengemis barang2 bekas, terutama logam.
                >
                > Ketika orang tua kami mulai menyadari kehilangan barang2nya, mulailah usaha kami bangkrut. Boro2 mau beli buku asing di toko buku Scientific, buat biaya game saja udah gak bisa. Kamipun tak dapat lagi membeli buku2 dari Scientific.
                >
                > Saya pernah mengaku bahwa saya jual barang2 itu buat beli buku Schaum series. Tapi... Boro2 dapat support, malahan orang tua kami bilang kami ngawur. Bukannya buku2 sekolah yg dibaca malahan buku2 luar negeri yg gak jelas. Sedangkan reputasi kami sebagai anak bergajul udah jelas nempel dijidat2 kami.
                >
                > Di sekolah, kami juga bukan murid juara. Karena sy cuma gila Einstein, makanya sy cuma gandrung Matematika dan Fisika. Untuk dua mata pelajaran itu, gak ada yg bisa lawan, termasuk guru saya. Alhasil, sy berantem doang sama guru2 saya yg pada bego itu. Sumpah Sekolah Rumah, guru2 Fisika dan Matematika sy semuanya gak ada yg pintar.
                >
                > Suatu ketika pernah ada seleksi Olympiade Matematika. Untungnya, semua murid dicoba. Dan... Hehe,,, si juara sekolah masih dibawah saya. Satu sekolah bingung sama hasilnya. Dan kamipun dikirim (10 terbaik). Dari 300 murid terbaik se Indonesia,,, hehe.. Muridnya si Einstein dapat urutan 15. Sayang, yg diambil cuma 10 orang. Dan anda tahu kenapa sy bisa jawab soal2 Olympiade ?! ... Hihi... Bukan karena sy nya pintar, tapi karena soal2 yg keluar mirip banget dengan buku2 schaum series, buku2 yg kami beli dari hasil usaha madura2an.
                >
                > Sekolah Rumah,
                > Saya bukan bermaksud cerita bahwa sekarang sy sukses atau kaya. Saya cuma mau bilang, bahwa ada banyak sekali pelajaran2 yg ada di luar sekolah. Dari mulai Kebun binatang ragunan, buku2 LIPI, buku2 Scientific, adalah sumber2 pelajaran yg masih menempel di kepala sy sampai sekarang.
                >
                > Dan juga ada sebuah pelajaran yg luar biasa. Pelajaran surfival, ketika kami mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan2 kami dgn menjadi madura kecil2an.
                >
                > Ini cuma sekelumit kisah dimasa kecil. Tapi sy bersumpah, tidak akan sy ulangi kesalahan orang tua sy, yg tidak memberikan support kpd apa yg sy gandrungi. Dan sy pun bersumpah, tidak akan menyekolahkan anak sy untuk di ajar dengan guru2 matematika lulusan perguruan tinggi ilmu pendidikan yg (maaf) pada bego2 itu.
                >
                > Ada sesuatu lagi yg sy miliki selain surfival di bidang koran dan logam bekas, yakni manis getirnya pengalaman sy dalam usaha. Semua gak ada dibuku, hanya ada dikepala sy. Dan akan sy ajarkan ini semua kepada anak sy. Hingga judul tulisan ini mungkin bisa di revisi menjadi, "if you want to be success, don't go to school".
                >
                > Salam
                > andry cahya
                > Sent from my BlackBerry®
                > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
                >
                > ------------------------------------
                >
                > Yahoo! Groups Links
                >
                >
                >
              • Buddy Winz
                Apakah yg jelek sekolah di seluruh dunia atau di Indonesia aja? Sy jd ingat bbrp kebohongan yg diajarkan di sekolah kita seperti negara2 barat kayak Amrik itu
                Message 7 of 10 , Nov 1, 2010
                • 0 Attachment
                  Apakah yg jelek sekolah di seluruh dunia atau di Indonesia aja? Sy jd ingat bbrp kebohongan yg diajarkan di sekolah kita seperti negara2 barat kayak Amrik itu sistem perekonomiannya brutal & saling makan-memakan, sedangkan Indonesia perekonomian berdasarkan Pancasila yg menjadi idaman bangsa2 ;)
                  Trus dongeng G30S/PKI yg telah memakan korban sekitar 3 jt org akibat sepak terjang Suharto dan antek2nya. Pasti saudara2 masih ingat tiap tahun kita hrs nonton film G30S/PKI itu yg kualitas syutingnya jelek & penuh kebohongan...

                  Regards,

                  Buddy Winz
                  Sent from my HTC Touch Pro 2 & Telkomflexi

                  -----Original Message-----
                  From: khusnul.khotimah82@...
                  Sent: Monday, 01 November, 2010 09:54 AM
                  To: sekolahrumah@yahoogroups.com
                  Subject: Re: [sekolahrumah] If you want to be rich, don't go to schools


                  Sebenernya menurut saya bagus jika anak termotivasi, mungkin yang perlu diperluas adalah ruang lingkupnya.
                  Bukan hanya rangking 1 di kelas, tetapi termotivasi untuk menjadi yang terbaik di berbagai bidang.

                  -K.K-
                  *maminya Milia (4y 9m)
                  Powered by Telkomsel BlackBerry®

                  ------------------------------------

                  Yahoo! Groups Links
                Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.