Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bls: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!

Expand Messages
  • Elizabeth Caroline
    wah makasih ya...udah bikin saya terbahak-bahak dengan sukses pagi ini    berarti tips buat anak berhasil di sekolah adalah cobalah si anak untuk mengerti
    Message 1 of 19 , May 31, 2010
    • 0 Attachment
      wah makasih ya...udah bikin saya terbahak-bahak dengan sukses pagi ini 
       
      berarti tips buat anak 'berhasil' di sekolah
      adalah cobalah si anak untuk mengerti jalan pikiran guru
      jadi pas mengisi ulangan, anak harus mikir, kira-kira bu guru maunya jawaban spt apa ya?

      nah lho, bukannya kebalik ya?
      guru yang harusnya ngerti murid?
      yang lebih dewasa sapa ya? hihihi...

      salam,
      betty
      FB+YM: istri_fery@...
      www.blog.mamaola.com






      ________________________________
      Dari: Ameliasari Kesuma <leakanzen@...>
      Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Terkirim: Sel, 1 Juni, 2010 08:53:05
      Judul: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!

       
      gini, hahahaha..ada tuh jaman anak saya sekolah
      pertanyaan essay di buku IPA nya,
      Kita melihat dengan .... anak saya menulis mata, ternyata jawaban itu disalahkan, yang benar adalah
      Kita melihat dengan dua mata...tragis ya,
      bahayanya adalah ketika anak dipersalahkan seperti itu jangan-jangan membuat mereka down dan tidak percaya diri

      saya bersyukur tidak lama kemudian dia minta homeschool aja...hehe

      Salam,
      Amel

      --- Pada Sen, 31/5/10, G. Lini Hanafiah <thegaris@...> menulis:

      Dari: G. Lini Hanafiah <thegaris@...>
      Judul: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
      Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
      Tanggal: Senin, 31 Mei, 2010, 12:23 AM

       

      mau sharing sedikit, ambil tulisan lawas di blog saya

      http://thedenels.via-lattea.org/bu-guru-belajar-dong

      Hari Sabtu pagi itu, aku dan Si Ayah janjian dengan wali kelas Si Sulung.

      “Mau konsultasi, Bu,” begitu alasanku. Tepatnya: aku mau mempertanyakan

      hasil ulangan Si Sulung yang sedikit aneh.

      Si Sulung memang cerdas, nilainya banyak yang sembilan atau sepuluh. Tapi

      selalu kutekankan, “Dapat nilai enam saja Ibu sama Ayah sudah bangga, Nak!”

      Jadi ketika hasil ulangannya dibagi dan ada dua kali ulangan Matematikanya

      yang dapat nilai DUA dan LIMA, aku hanya bisa tersenyum. Dua angka yang

      jeblok blas dibanding seluruh nilainya yang anggap saja rata-rata delapan

      belum sampai 10%-nya.

      Jadi, apa yang aneh dari hasil ulangan itu? Ada dua hal. Pertama, di

      pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan, ada pertanyaan “berkokok

      adalah suara…” Jawaban Si Sulung adalah “ayam”. Tapi dianggap salah.

      Harusnya ayam jantan. D’oh!! Emang ayam jantan bukan ayam ya?

      Kedua, di pelajaran Agama Katolik, ada pertanyaan “apa gunanya sekolah?”

      Jawaban Si Sulung adalah “penting untuk anak-anak belajar”. Disalahkan juga.

      Yang betul adalah “tempat menuntut ilmu”. HAH?? Si Sulung sampai bertanya,

      “Bu, apa bedanya belajar dan menuntut ilmu?” Oh, Tuhan! Aku hanya bisa

      menjawab, “Nak, besok Ayah dan Ibu mau ketemu Bu Guru, ya? Besok ditanya.”

      Itulah sebabnya Sabtu pagi itu aku buat janji dengan Bu Guru. Dari

      penjelasan Bu Guru, “berkokok” jelas memang bahwa yang diminta adalah

      spesifik “ayam jantan”. Sebetulnya aku mau protes, “Tidak bisakah diberi

      nilai setengah? Toh dijawab ayam, bukan kuda.” Tapi ya sudah lah. Gak

      penting-penting amat nilai di rapor, yang penting Si Sulung paham.

      Lalu pertanyaan berikutnya adalah soal “belajar” dan “menuntut ilmu” itu

      tadi. Kata Bu Guru, “Karena itu pelajaran Agama, silakan bertanya pada Bu

      Guru Agama.” Jawaban yang tepat dan diplomatis. Setelah selesai, aku dan Si

      Ayah menemui Bu Guru Agama.

      Penjelasan Bu Guru Agama justru di luar dugaan. “Begini Bu, yang saya

      tekankan adalah tempat, bangunan sekolahnya. Berguna untuk apa?” HAH?? Jadi

      ini masalah bangunan sekolah? Kalau banjir datang, tentu saja berguna untuk

      menampung komplek elit yang memang tidak antibanjir itu! “Oh jadi beda ya

      Bu, antara “belajar” dan “menuntut ilmu”?” Aku dan Si Ayah berusaha

      menegaskan. Penjelasan lanjutannya membuatku sakit kepala, “Kalau menuntut

      ilmu itu di sekolah. Kalau belajar kan bisa di tempat les, di rumah teman,

      di mana saja.” Ooohh Mii Goot… (bukan Oh My God, itu kalau masih bisa

      tertolong. Oh Mi Got adalah sekarat tak tertolong lagi). Jadi kalau menuntut

      ilmu harus di sekolah? Tidak bisa homeschooling? Kalau belajar di

      perpustakaan atau sekolah outdoor seperti Kandang Jurang Doank punya Dik

      Doank tidak termasuk sekolah maka kegiatannya bukan menuntut ilmu?

      Tidak tahan lagi, disudahi saja pembicaraan itu. Gak mutu! Menuntut ilmu

      harus di sekolah, bukan di tempat lain. Yang aku tau, menuntut secara pidana

      dan perdata itu tempatnya memang harus di pengadilan!

      Bu Guru, belajar dong! Nanti Bu Guru bisa dibodoh-bodohin dan dijadikan

      bulan-bulanan anak murid kalau tetap begitu. Anak sekarang kan kritis, jujur

      dan terbuka. Kecuali Bu Guru siap dilabeli, “Bu Guru saya tidak sepandai

      saya ternyata!”

      Salam Damai,

      G. Lini Hanafiah

      Via Lattea Foundation

      www.Via-Lattea.org <http://www.via-lattea.org/>

      www.YukNulis.com <http://www.yuknulis.com/>

      ym: thegaris

      *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward

      Donasi Peduli Yuk Nulis!

      BCA KCP Bulevar HIjau

      a/c 5210570707

      G. Liniasari DP

      [Non-text portions of this message have been removed]

      [Non-text portions of this message have been removed]






      [Non-text portions of this message have been removed]
    • G. Lini Hanafiah
      Bu Dinar, masih ada kok guru yang sabar. masa? iya lah! kita yang jadi guru HS kan sabar2 toh? ... Salam Damai, G. Lini Hanafiah Via Lattea Foundation
      Message 2 of 19 , May 31, 2010
      • 0 Attachment
        Bu Dinar,
        masih ada kok guru yang sabar.
        masa?
        iya lah!
        kita yang jadi "guru" HS kan sabar2 toh?
        :D

        Salam Damai,
        G. Lini Hanafiah
        Via Lattea Foundation
        www.Via-Lattea.org
        www.YukNulis.com
        ym: thegaris

        *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward

        Donasi Peduli Yuk Nulis!
        BCA KCP Bulevar HIjau
        a/c 5210570707
        G. Liniasari DP


        2010/5/31 Dinar Ardanti (^_^)/ <ardanti78@...>

        >
        >
        > ah saya jadi terkenang akan guru saya ...
        >
        > *Kenangan dengan Guru IPS :*
        >
        > Saya memang salah kasih jawaban untuk pertanyaan," Ada berapa kah jumlah
        > provinsi di pulau Jawa ?"
        >
        > saat itu, saya masih kelas 4 SD, saya hanya tahu ada 4 saja : DKI Jakarta,
        > Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
        >
        > Saya penasaran, karena kan salah ya jawaban tsb, "Bukan 4 Dinar, tapi ada
        > 5,
        > ada satu lagi yaitu Daerah Istimewa Jogjakarta", demikianlah jawaban dari
        > guru saya untuk rasa penasaran saya.
        >
        > Sampai sekarang jadinya saya ingaaaaattt selalu akan jawaban dari guru saya
        > itu.
        >
        > Dialog sederhana namun berkesan.
        >
        > *Kenangan dengan Guru IPS :*
        > **
        > Saya menggunakan kata,"Saking" pada lembar mengarang, dicoretlah oleh guru
        > Bahasa Indonesia, "Saking bukan bahasa indonesia EYD ya Dinar", demikian
        > penjelasan dari guru saya atas (lagi2) rasa penasaran saya kenapa dicoret
        > ;)
        >
        > (nyambung ga ya dengan topiknya ? :O).
        >
        > ** Masih ada ga ya guru yang suabar kayak gitu ?
        >
        > -dinar-
        >
        >
        > 2010/5/31 Debby Daandel <debbydaandel@... <debbydaandel%40ymail.com>
        > >
        >
        > >
        > >
        > > masih ada ya tenyata (di jaman sekarang ini), guru yang "text book"
        > seperti
        > > itu? sangat disayangkan... begitu membatasi anak untuk explorasi berpikir
        > > dan berpendapat...
        > >
        > > [Non-text portions of this message have been removed]
        > >
        > >
        > >
        >
        > --
        > Best Regards,
        > Dinar Ardanti
        > www.Lapak.Info
        > Mampir Boleh, Memesan Tiada dilarang :)
        >
        >
        > [Non-text portions of this message have been removed]
        >
        >
        >


        [Non-text portions of this message have been removed]
      • Dewi Asmorowati
        Kalo saya mau cerita pengalaman saya sendiri waktu SD. Ini gak ngarang, saya emang bener-bener ingat karena saya orangnya agak-agak traumatik... (hehehe...
        Message 3 of 19 , Jun 1, 2010
        • 0 Attachment
          Kalo saya mau cerita pengalaman saya sendiri waktu SD. Ini gak ngarang, saya emang bener-bener ingat karena saya orangnya agak-agak traumatik... (hehehe... lebay yah)
          Dulu ada pertanyaan ulangan:
          Sehabis buang air, kita harus....
          dan saya jawab CEBOK. (bener kan??? sampe skrg pun saya bilangnya cebok) dan jawaban saya langsung dicoret merah gede-gede.
          Ternyata jawabannya adalah BERSUCI...

          Pernah juga guru saya nanya:
          Anak-anak... PBB singkatan dari apa???
          Lalu saya satu-satunya yang angkat tangan...
          Persatuan Bangsa-Bangsa ibu....
          Ternyata jawaban saya belum memuaskan guru saya...
          Salah!!! bukan itu...
          Tapi saya tetep kekeuh,
          Saya baca dimajalah bobo kemaren itu bu...
          Guru saya malah nyuekin
          Ada jawaban lain anak-anak???
          Lama gak ada yang jawab

          Yg dimaksud guru saya, PBB itu adalah Pelajaran Baris Berbaris...
          Oalahhh... padahal jawaban saya gak salah kan??? emang bener kan PBB itu bisa artinya Persatuan Bangsa-Bangsa...


          Best Regards,

          Dewi Asmorowati
          http://funnyfunky.multiply.com
          http://funnywifey.blogspot.com
          http://martyrskitchen.blogspot.com/
          http://shoptomartyr.multiply.com






          ________________________________
          From: Ameliasari Kesuma <leakanzen@...>
          To: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Sent: Tue, June 1, 2010 8:53:05 AM
          Subject: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!


          gini, hahahaha..ada tuh jaman anak saya sekolah
          pertanyaan essay di buku IPA nya,
          Kita melihat dengan .... anak saya menulis mata, ternyata jawaban itu disalahkan, yang benar adalah
          Kita melihat dengan dua mata...tragis ya,
          bahayanya adalah ketika anak dipersalahkan seperti itu jangan-jangan membuat mereka down dan tidak percaya diri

          saya bersyukur tidak lama kemudian dia minta homeschool aja...hehe

          Salam,
          Amel

          --- Pada Sen, 31/5/10, G. Lini Hanafiah <thegaris@...> menulis:

          Dari: G. Lini Hanafiah <thegaris@...>
          Judul: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
          Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
          Tanggal: Senin, 31 Mei, 2010, 12:23 AM



          mau sharing sedikit, ambil tulisan lawas di blog saya

          http://thedenels.via-lattea.org/bu-guru-belajar-dong

          Hari Sabtu pagi itu, aku dan Si Ayah janjian dengan wali kelas Si Sulung.

          “Mau konsultasi, Bu,” begitu alasanku. Tepatnya: aku mau mempertanyakan

          hasil ulangan Si Sulung yang sedikit aneh.

          Si Sulung memang cerdas, nilainya banyak yang sembilan atau sepuluh. Tapi

          selalu kutekankan, “Dapat nilai enam saja Ibu sama Ayah sudah bangga, Nak!”

          Jadi ketika hasil ulangannya dibagi dan ada dua kali ulangan Matematikanya

          yang dapat nilai DUA dan LIMA, aku hanya bisa tersenyum. Dua angka yang

          jeblok blas dibanding seluruh nilainya yang anggap saja rata-rata delapan

          belum sampai 10%-nya.

          Jadi, apa yang aneh dari hasil ulangan itu? Ada dua hal. Pertama, di

          pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan, ada pertanyaan “berkokok

          adalah suara…” Jawaban Si Sulung adalah “ayam”. Tapi dianggap salah.

          Harusnya ayam jantan. D’oh!! Emang ayam jantan bukan ayam ya?

          Kedua, di pelajaran Agama Katolik, ada pertanyaan “apa gunanya sekolah?”

          Jawaban Si Sulung adalah “penting untuk anak-anak belajar”. Disalahkan juga.

          Yang betul adalah “tempat menuntut ilmu”. HAH?? Si Sulung sampai bertanya,

          “Bu, apa bedanya belajar dan menuntut ilmu?” Oh, Tuhan! Aku hanya bisa

          menjawab, “Nak, besok Ayah dan Ibu mau ketemu Bu Guru, ya? Besok ditanya.”

          Itulah sebabnya Sabtu pagi itu aku buat janji dengan Bu Guru. Dari

          penjelasan Bu Guru, “berkokok” jelas memang bahwa yang diminta adalah

          spesifik “ayam jantan”. Sebetulnya aku mau protes, “Tidak bisakah diberi

          nilai setengah? Toh dijawab ayam, bukan kuda.” Tapi ya sudah lah. Gak

          penting-penting amat nilai di rapor, yang penting Si Sulung paham.

          Lalu pertanyaan berikutnya adalah soal “belajar” dan “menuntut ilmu” itu

          tadi. Kata Bu Guru, “Karena itu pelajaran Agama, silakan bertanya pada Bu

          Guru Agama.” Jawaban yang tepat dan diplomatis. Setelah selesai, aku dan Si

          Ayah menemui Bu Guru Agama.

          Penjelasan Bu Guru Agama justru di luar dugaan. “Begini Bu, yang saya

          tekankan adalah tempat, bangunan sekolahnya. Berguna untuk apa?” HAH?? Jadi

          ini masalah bangunan sekolah? Kalau banjir datang, tentu saja berguna untuk

          menampung komplek elit yang memang tidak antibanjir itu! “Oh jadi beda ya

          Bu, antara “belajar” dan “menuntut ilmu”?” Aku dan Si Ayah berusaha

          menegaskan. Penjelasan lanjutannya membuatku sakit kepala, “Kalau menuntut

          ilmu itu di sekolah. Kalau belajar kan bisa di tempat les, di rumah teman,

          di mana saja.” Ooohh Mii Goot… (bukan Oh My God, itu kalau masih bisa

          tertolong. Oh Mi Got adalah sekarat tak tertolong lagi). Jadi kalau menuntut

          ilmu harus di sekolah? Tidak bisa homeschooling? Kalau belajar di

          perpustakaan atau sekolah outdoor seperti Kandang Jurang Doank punya Dik

          Doank tidak termasuk sekolah maka kegiatannya bukan menuntut ilmu?

          Tidak tahan lagi, disudahi saja pembicaraan itu. Gak mutu! Menuntut ilmu

          harus di sekolah, bukan di tempat lain. Yang aku tau, menuntut secara pidana

          dan perdata itu tempatnya memang harus di pengadilan!

          Bu Guru, belajar dong! Nanti Bu Guru bisa dibodoh-bodohin dan dijadikan

          bulan-bulanan anak murid kalau tetap begitu. Anak sekarang kan kritis, jujur

          dan terbuka. Kecuali Bu Guru siap dilabeli, “Bu Guru saya tidak sepandai

          saya ternyata!”

          Salam Damai,

          G. Lini Hanafiah

          Via Lattea Foundation

          www.Via-Lattea.org<http://www.via-lattea.org/>

          www.YukNulis.com<http://www.yuknulis.com/>

          ym: thegaris

          *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward

          Donasi Peduli Yuk Nulis!

          BCA KCP Bulevar HIjau

          a/c 5210570707

          G. Liniasari DP

          [Non-text portions of this message have been removed]

          [Non-text portions of this message have been removed]







          [Non-text portions of this message have been removed]
        • tantrinti@yahoo.com
          Wkt sekolah dulu saya dan kakak saya sering bgt dpt masalah gara2 dianggap melawan guru/ menjwb diluar kunci jwbn. Sementara di rumah orgtua saya sangat open
          Message 4 of 19 , Jun 1, 2010
          • 0 Attachment
            Wkt sekolah dulu saya dan kakak saya sering bgt dpt masalah gara2 dianggap melawan guru/ menjwb diluar kunci jwbn.

            Sementara di rumah orgtua saya sangat open minded. Untungnya ortu saya cukup bisa menjelaskan knp anaknya sering "berulah" di dpn guru2.

            Ngga kebayang gmn saya nanti menghadapi anak saya saat sekolah, mengingat anak saya jauuuuuh lebih kritis drpd saya + pelajaran di sekolah jg banyak yg makin tdk relevan (mnrt saya loh ;))
            Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

            -----Original Message-----
            From: sen22112001@...
            Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
            Date: Tue, 1 Jun 2010 04:17:33
            To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
            Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
            Subject: Re: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!

            Kemarin saya ajarin anak saya bahasa indonesia salah satu soalnya
            Buah mangga jika masih muda bisa dibuat .....
            A. Rujak. B. Sayur. C. Bumbu


            Pertanyaan yang mengambang jawabannya

            Powered by Telkomsel BlackBerry®

            -----Original Message-----
            From: Ameliasari Kesuma <leakanzen@...>
            Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
            Date: Tue, 1 Jun 2010 09:53:05
            To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
            Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
            Subject: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!

            gini, hahahaha..ada tuh jaman anak saya sekolah
            pertanyaan essay di buku IPA nya,
            Kita melihat dengan .... anak saya menulis mata, ternyata jawaban itu disalahkan, yang benar adalah
            Kita melihat dengan dua mata...tragis ya,
            bahayanya adalah ketika anak dipersalahkan seperti itu jangan-jangan membuat mereka down dan tidak percaya diri

            saya bersyukur tidak lama kemudian dia minta homeschool aja...hehe

            Salam,
            Amel

            --- Pada Sen, 31/5/10, G. Lini Hanafiah <thegaris@...> menulis:

            Dari: G. Lini Hanafiah <thegaris@...>
            Judul: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
            Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
            Tanggal: Senin, 31 Mei, 2010, 12:23 AM







             









            mau sharing sedikit, ambil tulisan lawas di blog saya

            http://thedenels.via-lattea.org/bu-guru-belajar-dong



            Hari Sabtu pagi itu, aku dan Si Ayah janjian dengan wali kelas Si Sulung.

            “Mau konsultasi, Bu,” begitu alasanku. Tepatnya: aku mau mempertanyakan

            hasil ulangan Si Sulung yang sedikit aneh.



            Si Sulung memang cerdas, nilainya banyak yang sembilan atau sepuluh. Tapi

            selalu kutekankan, “Dapat nilai enam saja Ibu sama Ayah sudah bangga, Nak!”

            Jadi ketika hasil ulangannya dibagi dan ada dua kali ulangan Matematikanya

            yang dapat nilai DUA dan LIMA, aku hanya bisa tersenyum. Dua angka yang

            jeblok blas dibanding seluruh nilainya yang anggap saja rata-rata delapan

            belum sampai 10%-nya.



            Jadi, apa yang aneh dari hasil ulangan itu? Ada dua hal. Pertama, di

            pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan, ada pertanyaan “berkokok

            adalah suara…” Jawaban Si Sulung adalah “ayam”. Tapi dianggap salah.

            Harusnya ayam jantan. D’oh!! Emang ayam jantan bukan ayam ya?



            Kedua, di pelajaran Agama Katolik, ada pertanyaan “apa gunanya sekolah?”

            Jawaban Si Sulung adalah “penting untuk anak-anak belajar”. Disalahkan juga.

            Yang betul adalah “tempat menuntut ilmu”. HAH?? Si Sulung sampai bertanya,

            “Bu, apa bedanya belajar dan menuntut ilmu?” Oh, Tuhan! Aku hanya bisa

            menjawab, “Nak, besok Ayah dan Ibu mau ketemu Bu Guru, ya? Besok ditanya.”



            Itulah sebabnya Sabtu pagi itu aku buat janji dengan Bu Guru. Dari

            penjelasan Bu Guru, “berkokok” jelas memang bahwa yang diminta adalah

            spesifik “ayam jantan”. Sebetulnya aku mau protes, “Tidak bisakah diberi

            nilai setengah? Toh dijawab ayam, bukan kuda.” Tapi ya sudah lah. Gak

            penting-penting amat nilai di rapor, yang penting Si Sulung paham.



            Lalu pertanyaan berikutnya adalah soal “belajar” dan “menuntut ilmu” itu

            tadi. Kata Bu Guru, “Karena itu pelajaran Agama, silakan bertanya pada Bu

            Guru Agama.” Jawaban yang tepat dan diplomatis. Setelah selesai, aku dan Si

            Ayah menemui Bu Guru Agama.



            Penjelasan Bu Guru Agama justru di luar dugaan. “Begini Bu, yang saya

            tekankan adalah tempat, bangunan sekolahnya. Berguna untuk apa?” HAH?? Jadi

            ini masalah bangunan sekolah? Kalau banjir datang, tentu saja berguna untuk

            menampung komplek elit yang memang tidak antibanjir itu! “Oh jadi beda ya

            Bu, antara “belajar” dan “menuntut ilmu”?” Aku dan Si Ayah berusaha

            menegaskan. Penjelasan lanjutannya membuatku sakit kepala, “Kalau menuntut

            ilmu itu di sekolah. Kalau belajar kan bisa di tempat les, di rumah teman,

            di mana saja.” Ooohh Mii Goot… (bukan Oh My God, itu kalau masih bisa

            tertolong. Oh Mi Got adalah sekarat tak tertolong lagi). Jadi kalau menuntut

            ilmu harus di sekolah? Tidak bisa homeschooling? Kalau belajar di

            perpustakaan atau sekolah outdoor seperti Kandang Jurang Doank punya Dik

            Doank tidak termasuk sekolah maka kegiatannya bukan menuntut ilmu?



            Tidak tahan lagi, disudahi saja pembicaraan itu. Gak mutu! Menuntut ilmu

            harus di sekolah, bukan di tempat lain. Yang aku tau, menuntut secara pidana

            dan perdata itu tempatnya memang harus di pengadilan!



            Bu Guru, belajar dong! Nanti Bu Guru bisa dibodoh-bodohin dan dijadikan

            bulan-bulanan anak murid kalau tetap begitu. Anak sekarang kan kritis, jujur

            dan terbuka. Kecuali Bu Guru siap dilabeli, “Bu Guru saya tidak sepandai

            saya ternyata!”

            Salam Damai,

            G. Lini Hanafiah

            Via Lattea Foundation

            www.Via-Lattea.org <http://www.via-lattea.org/>

            www.YukNulis.com <http://www.yuknulis.com/>

            ym: thegaris



            *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward



            Donasi Peduli Yuk Nulis!

            BCA KCP Bulevar HIjau

            a/c 5210570707

            G. Liniasari DP



            [Non-text portions of this message have been removed]
























            [Non-text portions of this message have been removed]




            [Non-text portions of this message have been removed]




            [Non-text portions of this message have been removed]
          • ita
            Dulu saya pernah lihat kertas ujian Bahasa Indonesia anak teman saya yang duduk di kelas 3 SD. Soalnya tenyang menyusun kata. Disitu diberikan kata
            Message 5 of 19 , Jun 1, 2010
            • 0 Attachment
              Dulu saya pernah lihat kertas ujian Bahasa Indonesia anak teman saya yang duduk di kelas 3 SD. Soalnya tenyang menyusun kata. Disitu diberikan kata -menanami-desa-orang-tanah-gundul-

              Anak itu menjawab, "Orang gundul menanami tanah desa" dan disalahkan oleh gurunya. Setelah dikonfirmasi, ternyata yang benar adalah "Orang desa menanami tanah gundul". Ha ha ha... (Si anak protes, "Memangnya orang gundul tidak boleh menanami tanah desa ya?") :-D

              -ita-

              --- In sekolahrumah@yahoogroups.com, sen22112001@... wrote:
              >
              > Kemarin saya ajarin anak saya bahasa indonesia salah satu soalnya
              > Buah mangga jika masih muda bisa dibuat .....
              > A. Rujak. B. Sayur. C. Bumbu
              >
              >
              > Pertanyaan yang mengambang jawabannya
              >
              > Powered by Telkomsel BlackBerry®
              >
              > -----Original Message-----
              > From: Ameliasari Kesuma <leakanzen@...>
              > Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
              > Date: Tue, 1 Jun 2010 09:53:05
              > To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
              > Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
              > Subject: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
              >
              > gini, hahahaha..ada tuh jaman anak saya sekolah
              > pertanyaan essay di buku IPA nya,
              > Kita melihat dengan .... anak saya menulis mata, ternyata jawaban itu disalahkan, yang benar adalah
              > Kita melihat dengan dua mata...tragis ya,
              > bahayanya adalah ketika anak dipersalahkan seperti itu jangan-jangan membuat mereka down dan tidak percaya diri
              >
              > saya bersyukur tidak lama kemudian dia minta homeschool aja...hehe
              >
              > Salam,
              > Amel
              >
              > --- Pada Sen, 31/5/10, G. Lini Hanafiah <thegaris@...> menulis:
              >
              > Dari: G. Lini Hanafiah <thegaris@...>
              > Judul: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
              > Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
              > Tanggal: Senin, 31 Mei, 2010, 12:23 AM
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >  
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              > mau sharing sedikit, ambil tulisan lawas di blog saya
              >
              > http://thedenels.via-lattea.org/bu-guru-belajar-dong
              >
              >
              >
              > Hari Sabtu pagi itu, aku dan Si Ayah janjian dengan wali kelas Si Sulung.
              >
              > “Mau konsultasi, Bu,” begitu alasanku. Tepatnya: aku mau mempertanyakan
              >
              > hasil ulangan Si Sulung yang sedikit aneh.
              >
              >
              >
              > Si Sulung memang cerdas, nilainya banyak yang sembilan atau sepuluh. Tapi
              >
              > selalu kutekankan, “Dapat nilai enam saja Ibu sama Ayah sudah bangga, Nak!”
              >
              > Jadi ketika hasil ulangannya dibagi dan ada dua kali ulangan Matematikanya
              >
              > yang dapat nilai DUA dan LIMA, aku hanya bisa tersenyum. Dua angka yang
              >
              > jeblok blas dibanding seluruh nilainya yang anggap saja rata-rata delapan
              >
              > belum sampai 10%-nya.
              >
              >
              >
              > Jadi, apa yang aneh dari hasil ulangan itu? Ada dua hal. Pertama, di
              >
              > pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan, ada pertanyaan “berkokok
              >
              > adalah suara…” Jawaban Si Sulung adalah “ayam”. Tapi dianggap salah.
              >
              > Harusnya ayam jantan. D’oh!! Emang ayam jantan bukan ayam ya?
              >
              >
              >
              > Kedua, di pelajaran Agama Katolik, ada pertanyaan “apa gunanya sekolah?”
              >
              > Jawaban Si Sulung adalah “penting untuk anak-anak belajar”. Disalahkan juga.
              >
              > Yang betul adalah “tempat menuntut ilmu”. HAH?? Si Sulung sampai bertanya,
              >
              > “Bu, apa bedanya belajar dan menuntut ilmu?” Oh, Tuhan! Aku hanya bisa
              >
              > menjawab, “Nak, besok Ayah dan Ibu mau ketemu Bu Guru, ya? Besok ditanya.”
              >
              >
              >
              > Itulah sebabnya Sabtu pagi itu aku buat janji dengan Bu Guru. Dari
              >
              > penjelasan Bu Guru, “berkokok” jelas memang bahwa yang diminta adalah
              >
              > spesifik “ayam jantan”. Sebetulnya aku mau protes, “Tidak bisakah diberi
              >
              > nilai setengah? Toh dijawab ayam, bukan kuda.” Tapi ya sudah lah. Gak
              >
              > penting-penting amat nilai di rapor, yang penting Si Sulung paham.
              >
              >
              >
              > Lalu pertanyaan berikutnya adalah soal “belajar” dan “menuntut ilmu” itu
              >
              > tadi. Kata Bu Guru, “Karena itu pelajaran Agama, silakan bertanya pada Bu
              >
              > Guru Agama.” Jawaban yang tepat dan diplomatis. Setelah selesai, aku dan Si
              >
              > Ayah menemui Bu Guru Agama.
              >
              >
              >
              > Penjelasan Bu Guru Agama justru di luar dugaan. “Begini Bu, yang saya
              >
              > tekankan adalah tempat, bangunan sekolahnya. Berguna untuk apa?” HAH?? Jadi
              >
              > ini masalah bangunan sekolah? Kalau banjir datang, tentu saja berguna untuk
              >
              > menampung komplek elit yang memang tidak antibanjir itu! “Oh jadi beda ya
              >
              > Bu, antara “belajar” dan “menuntut ilmu”?” Aku dan Si Ayah berusaha
              >
              > menegaskan. Penjelasan lanjutannya membuatku sakit kepala, “Kalau menuntut
              >
              > ilmu itu di sekolah. Kalau belajar kan bisa di tempat les, di rumah teman,
              >
              > di mana saja.” Ooohh Mii Goot… (bukan Oh My God, itu kalau masih bisa
              >
              > tertolong. Oh Mi Got adalah sekarat tak tertolong lagi). Jadi kalau menuntut
              >
              > ilmu harus di sekolah? Tidak bisa homeschooling? Kalau belajar di
              >
              > perpustakaan atau sekolah outdoor seperti Kandang Jurang Doank punya Dik
              >
              > Doank tidak termasuk sekolah maka kegiatannya bukan menuntut ilmu?
              >
              >
              >
              > Tidak tahan lagi, disudahi saja pembicaraan itu. Gak mutu! Menuntut ilmu
              >
              > harus di sekolah, bukan di tempat lain. Yang aku tau, menuntut secara pidana
              >
              > dan perdata itu tempatnya memang harus di pengadilan!
              >
              >
              >
              > Bu Guru, belajar dong! Nanti Bu Guru bisa dibodoh-bodohin dan dijadikan
              >
              > bulan-bulanan anak murid kalau tetap begitu. Anak sekarang kan kritis, jujur
              >
              > dan terbuka. Kecuali Bu Guru siap dilabeli, “Bu Guru saya tidak sepandai
              >
              > saya ternyata!”
              >
              > Salam Damai,
              >
              > G. Lini Hanafiah
              >
              > Via Lattea Foundation
              >
              > www.Via-Lattea.org <http://www.via-lattea.org/>
              >
              > www.YukNulis.com <http://www.yuknulis.com/>
              >
              > ym: thegaris
              >
              >
              >
              > *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward
              >
              >
              >
              > Donasi Peduli Yuk Nulis!
              >
              > BCA KCP Bulevar HIjau
              >
              > a/c 5210570707
              >
              > G. Liniasari DP
              >
              >
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
              >
              >
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
            • G. Lini Hanafiah
              hahahaaa... lucu2 ya kasus anak dan guru di sekolah Masih soal menyusun kata dalam pelajaran bahasa Indonesia. kebersihan-jagalah-selalu kata2 itu bisa
              Message 6 of 19 , Jun 1, 2010
              • 0 Attachment
                hahahaaa... lucu2 ya kasus anak dan guru di sekolah

                Masih soal menyusun kata dalam pelajaran bahasa Indonesia.
                "kebersihan-jagalah-selalu"
                kata2 itu bisa disusun dengan banyak cara dan tidak menyalahi aturan EYD
                maupun teori sastra.
                "jagalah kebersihan selalu"
                "jagalah selalu kebersihan"
                "selalu jagalah kebersihan"

                tapi yang dibenarkan hanya 1. saking emosinya, saya sampai lupa mana yang
                benar menuru bu guru. maklum, jurnalis kalau diajak debat soal tata bahasa
                bawaannya emosi. apalagi curhat sama temen yang editor bahasa malah
                diketawain hehehe...

                belajar dari situ, ada kejadian berikutnya menyusun kata juga
                "ima-budi-dan-bersama-belajar"
                kusuruh anakku bikin 2:
                "ima dan budi belajar bersama"
                "budi dan ima belajar bersama"

                jadi pin-pin-bo sama guru deh
                hehehe

                Salam Damai,
                G. Lini Hanafiah
                Via Lattea Foundation
                www.Via-Lattea.org
                www.YukNulis.com
                ym: thegaris

                *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward

                Donasi Peduli Yuk Nulis!
                BCA KCP Bulevar HIjau
                a/c 5210570707
                G. Liniasari DP


                [Non-text portions of this message have been removed]
              • Sunarsih Samidjan
                Enak ya punya Orang tua murid yang bisa memberi kita masukkan.... baik itu menyakitkan ataupun menyenangkan... daripada omong jelek dibelakang, didepan manis
                Message 7 of 19 , Jun 2, 2010
                • 0 Attachment
                  Enak ya punya Orang tua murid yang bisa memberi kita masukkan.... baik itu menyakitkan ataupun menyenangkan... daripada omong jelek dibelakang, didepan manis (pengalaman) Sebagai guru kami selalu mencoba untuk memperbaiki cara, tehnik, kemampuan atau apapun yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran ... mungkin cara dan aturan yang kami ketahui tidak dapat menyenang semua pihak. untuk itu diperlukan kerja sama orang tua dan guru... untuk kesalahan dalam penilaian yang benar disalahkan ataupun sebaliknya yang salah dibenarkan untuk pelajaran yang pasti ( matematika ). bila ada komplain dari orang tua, guru pasti akan memperbaiki, (pengalaman sesama guru disekolah kami). dan kami lebih senang bila hal itu terjadi... jadi kami bisa koreksi diri ternyata kami masih perlu belajar teliti atau belajar lagi pelajaran itu sehingga tidak ada kesalahan lagi.untuk hal yang lain seperti PBB. saat pelajaran apa guru ibu bertanya... bila saat olah raga atau
                  pelajaran yang berhubungan dengan jasmani jawaban ibu betul, tapi pada saat pelajaran IPS jelas itu salah.. ( sepengetahuan saya yang sedikit ini)di SD untuk ayam selama ini memang dibedakan bunyinya, kukuruyuk untuk ayam jantan dan petok - petok untuk ayam betina.  aneh ya ... tapi biasanya guru kelas 1 dan kelas 2 ( negeri tapi swasta saya tidak tahu )  tidak terlalu saklek dalam penilaian yang penting mendekati dan masuk akal ya dapat nilai kami selalu belajar ibu/bapak. Baik dari pengalaman, saran, kritik ataupun cacian dari orang tua, dan sumber lain... ( ya milis ini termasuk bahan belajar saya, ) 
                  salam 
                  --- Pada Rab, 2/6/10, G. Lini Hanafiah <thegaris@...> menulis:

                  Dari: G. Lini Hanafiah <thegaris@...>
                  Judul: Re: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
                  Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
                  Tanggal: Rabu, 2 Juni, 2010, 3:10 AM
















                   









                  hahahaaa... lucu2 ya kasus anak dan guru di sekolah



                  Masih soal menyusun kata dalam pelajaran bahasa Indonesia.

                  "kebersihan-jagalah-selalu"

                  kata2 itu bisa disusun dengan banyak cara dan tidak menyalahi aturan EYD

                  maupun teori sastra.

                  "jagalah kebersihan selalu"

                  "jagalah selalu kebersihan"

                  "selalu jagalah kebersihan"



                  tapi yang dibenarkan hanya 1. saking emosinya, saya sampai lupa mana yang

                  benar menuru bu guru. maklum, jurnalis kalau diajak debat soal tata bahasa

                  bawaannya emosi. apalagi curhat sama temen yang editor bahasa malah

                  diketawain hehehe...



                  belajar dari situ, ada kejadian berikutnya menyusun kata juga

                  "ima-budi-dan-bersama-belajar"

                  kusuruh anakku bikin 2:

                  "ima dan budi belajar bersama"

                  "budi dan ima belajar bersama"



                  jadi pin-pin-bo sama guru deh

                  hehehe



                  Salam Damai,

                  G. Lini Hanafiah

                  Via Lattea Foundation

                  www.Via-Lattea.org

                  www.YukNulis.com

                  ym: thegaris



                  *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward



                  Donasi Peduli Yuk Nulis!

                  BCA KCP Bulevar HIjau

                  a/c 5210570707

                  G. Liniasari DP



                  [Non-text portions of this message have been removed]





























                  [Non-text portions of this message have been removed]
                • tantrinti@yahoo.com
                  Halo Bu Sunarsih, Saat sekolah saya termasuk anak yg sulit . Misal: sampai kls 4 hrs terus ditemani ortu/caregiver krn cengeng, tdk menonjol scr akademik +
                  Message 8 of 19 , Jun 2, 2010
                  • 0 Attachment
                    Halo Bu Sunarsih,

                    Saat sekolah saya termasuk anak yg "sulit". Misal: sampai kls 4 hrs terus ditemani ortu/caregiver krn cengeng, tdk menonjol scr akademik + sering berperilaku + berpendpt beda dg anak lain, dsb. Kebetulan ortu saya sangat perhatian walau keduanya bekerja dg jam kerja sangat panjang. Mrk jg sangat cerdas berkomunikasi dg para guru di sekolah. Saya ingat berhari-hari saya pernah mogok sekolah. Kalau bukan krn ortu saya yg bisa memotivasi (bukan membujuk dg iming2 hadiah) saya rasa saya tdk bisa spt skrg.

                    Saya sependpt dg ibu bhw
                    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

                    -----Original Message-----
                    From: Sunarsih Samidjan <su_sih@...>
                    Sender: sekolahrumah@yahoogroups.com
                    Date: Wed, 2 Jun 2010 17:36:54
                    To: <sekolahrumah@yahoogroups.com>
                    Reply-To: sekolahrumah@yahoogroups.com
                    Subject: Re: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!

                    Enak ya punya Orang tua murid yang bisa memberi kita masukkan.... baik itu menyakitkan ataupun menyenangkan... daripada omong jelek dibelakang, didepan manis (pengalaman) Sebagai guru kami selalu mencoba untuk memperbaiki cara, tehnik, kemampuan atau apapun yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran ... mungkin cara dan aturan yang kami ketahui tidak dapat menyenang semua pihak. untuk itu diperlukan kerja sama orang tua dan guru... untuk kesalahan dalam penilaian yang benar disalahkan ataupun sebaliknya yang salah dibenarkan untuk pelajaran yang pasti ( matematika ). bila ada komplain dari orang tua, guru pasti akan memperbaiki, (pengalaman sesama guru disekolah kami). dan kami lebih senang bila hal itu terjadi... jadi kami bisa koreksi diri ternyata kami masih perlu belajar teliti atau belajar lagi pelajaran itu sehingga tidak ada kesalahan lagi.untuk hal yang lain seperti PBB. saat pelajaran apa guru ibu bertanya... bila saat olah raga atau
                    pelajaran yang berhubungan dengan jasmani jawaban ibu betul, tapi pada saat pelajaran IPS jelas itu salah.. ( sepengetahuan saya yang sedikit ini)di SD untuk ayam selama ini memang dibedakan bunyinya, kukuruyuk untuk ayam jantan dan petok - petok untuk ayam betina.  aneh ya ... tapi biasanya guru kelas 1 dan kelas 2 ( negeri tapi swasta saya tidak tahu )  tidak terlalu saklek dalam penilaian yang penting mendekati dan masuk akal ya dapat nilai kami selalu belajar ibu/bapak. Baik dari pengalaman, saran, kritik ataupun cacian dari orang tua, dan sumber lain... ( ya milis ini termasuk bahan belajar saya, ) 
                    salam 
                    --- Pada Rab, 2/6/10, G. Lini Hanafiah <thegaris@...> menulis:

                    Dari: G. Lini Hanafiah <thegaris@...>
                    Judul: Re: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
                    Kepada: sekolahrumah@yahoogroups.com
                    Tanggal: Rabu, 2 Juni, 2010, 3:10 AM
















                     









                    hahahaaa... lucu2 ya kasus anak dan guru di sekolah



                    Masih soal menyusun kata dalam pelajaran bahasa Indonesia.

                    "kebersihan-jagalah-selalu"

                    kata2 itu bisa disusun dengan banyak cara dan tidak menyalahi aturan EYD

                    maupun teori sastra.

                    "jagalah kebersihan selalu"

                    "jagalah selalu kebersihan"

                    "selalu jagalah kebersihan"



                    tapi yang dibenarkan hanya 1. saking emosinya, saya sampai lupa mana yang

                    benar menuru bu guru. maklum, jurnalis kalau diajak debat soal tata bahasa

                    bawaannya emosi. apalagi curhat sama temen yang editor bahasa malah

                    diketawain hehehe...



                    belajar dari situ, ada kejadian berikutnya menyusun kata juga

                    "ima-budi-dan-bersama-belajar"

                    kusuruh anakku bikin 2:

                    "ima dan budi belajar bersama"

                    "budi dan ima belajar bersama"



                    jadi pin-pin-bo sama guru deh

                    hehehe



                    Salam Damai,

                    G. Lini Hanafiah

                    Via Lattea Foundation

                    www.Via-Lattea.org

                    www.YukNulis.com

                    ym: thegaris



                    *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward



                    Donasi Peduli Yuk Nulis!

                    BCA KCP Bulevar HIjau

                    a/c 5210570707

                    G. Liniasari DP



                    [Non-text portions of this message have been removed]





























                    [Non-text portions of this message have been removed]




                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  • G. Lini Hanafiah
                    Dear Ibu Suniarsih, Biasanya, ortu murid komplain karena peduli pada pendidikan anaknya. Terutama di kota besar yang biaya pendidikannya ga murah, tentu ingin
                    Message 9 of 19 , Jun 2, 2010
                    • 0 Attachment
                      Dear Ibu Suniarsih,
                      Biasanya, ortu murid komplain karena peduli pada pendidikan anaknya.
                      Terutama di kota besar yang biaya pendidikannya ga murah, tentu ingin
                      mendapat yang "setimpal".
                      Celakanya, ga semua guru berlapang dada seperti Bu Suniarsih.
                      anak seorang kawan juga mengalami hal serupa: diperlakukan buruk setelah
                      kawan saya melapor pada kepala sekolah.
                      Semoga banyak guru seperti Bu Suniarsih agar murid di sekolah tidak memiliki
                      pengalaman buruk.

                      Salam Damai,
                      G. Lini Hanafiah
                      Via Lattea Foundation
                      www.Via-Lattea.org
                      www.YukNulis.com
                      ym: thegaris

                      *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward

                      Donasi Peduli Yuk Nulis!
                      BCA KCP Bulevar HIjau
                      a/c 5210570707
                      G. Liniasari DP


                      2010/6/2 Sunarsih Samidjan <su_sih@...>

                      >
                      >
                      > Enak ya punya Orang tua murid yang bisa memberi kita masukkan.... baik itu
                      > menyakitkan ataupun menyenangkan... daripada omong jelek dibelakang, didepan
                      > manis (pengalaman) Sebagai guru kami selalu mencoba untuk memperbaiki cara,
                      > tehnik, kemampuan atau apapun yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
                      > pembelajaran ... mungkin cara dan aturan yang kami ketahui tidak dapat
                      > menyenang semua pihak. untuk itu diperlukan kerja sama orang tua dan
                      > guru... untuk kesalahan dalam penilaian yang benar disalahkan ataupun
                      > sebaliknya yang salah dibenarkan untuk pelajaran yang pasti ( matematika ).
                      > bila ada komplain dari orang tua, guru pasti akan memperbaiki, (pengalaman
                      > sesama guru disekolah kami). dan kami lebih senang bila hal itu terjadi...
                      > jadi kami bisa koreksi diri ternyata kami masih perlu belajar teliti atau
                      > belajar lagi pelajaran itu sehingga tidak ada kesalahan lagi.untuk hal yang
                      > lain seperti PBB. saat pelajaran apa guru ibu bertanya... bila saat olah
                      > raga atau
                      > pelajaran yang berhubungan dengan jasmani jawaban ibu betul, tapi pada saat
                      > pelajaran IPS jelas itu salah.. ( sepengetahuan saya yang sedikit ini)di SD
                      > untuk ayam selama ini memang dibedakan bunyinya, kukuruyuk untuk ayam jantan
                      > dan petok - petok untuk ayam betina. aneh ya ... tapi biasanya guru kelas 1
                      > dan kelas 2 ( negeri tapi swasta saya tidak tahu ) tidak terlalu saklek
                      > dalam penilaian yang penting mendekati dan masuk akal ya dapat nilai kami
                      > selalu belajar ibu/bapak. Baik dari pengalaman, saran, kritik ataupun cacian
                      > dari orang tua, dan sumber lain... ( ya milis ini termasuk bahan belajar
                      > saya, )
                      > salam
                      >


                      [Non-text portions of this message have been removed]
                    • G. Lini Hanafiah
                      Eeehh... maap Bu Sunarsih, salah ketik jadi Suniarsih maafff... ... Salam Damai, G. Lini Hanafiah Via Lattea Foundation www.Via-Lattea.org www.YukNulis.com ym:
                      Message 10 of 19 , Jun 2, 2010
                      • 0 Attachment
                        Eeehh... maap Bu Sunarsih, salah ketik jadi Suniarsih
                        maafff...
                        :)

                        Salam Damai,
                        G. Lini Hanafiah
                        Via Lattea Foundation
                        www.Via-Lattea.org
                        www.YukNulis.com
                        ym: thegaris

                        *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward

                        Donasi Peduli Yuk Nulis!
                        BCA KCP Bulevar HIjau
                        a/c 5210570707
                        G. Liniasari DP


                        2010/6/2 G. Lini Hanafiah <thegaris@...>

                        > Dear Ibu Suniarsih,
                        > Biasanya, ortu murid komplain karena peduli pada pendidikan anaknya.
                        > Terutama di kota besar yang biaya pendidikannya ga murah, tentu ingin
                        > mendapat yang "setimpal".
                        > Celakanya, ga semua guru berlapang dada seperti Bu Suniarsih.
                        > anak seorang kawan juga mengalami hal serupa: diperlakukan buruk setelah
                        > kawan saya melapor pada kepala sekolah.
                        > Semoga banyak guru seperti Bu Suniarsih agar murid di sekolah tidak
                        > memiliki pengalaman buruk.
                        >
                        > Salam Damai,
                        > G. Lini Hanafiah
                        > Via Lattea Foundation
                        > www.Via-Lattea.org
                        > www.YukNulis.com
                        > ym: thegaris
                        >
                        > *When someone does you a big favor, don't pay it back... Pay It Forward
                        >
                        > Donasi Peduli Yuk Nulis!
                        > BCA KCP Bulevar HIjau
                        > a/c 5210570707
                        > G. Liniasari DP
                        >
                        >
                        > 2010/6/2 Sunarsih Samidjan <su_sih@...>
                        >
                        >
                        >>
                        >> Enak ya punya Orang tua murid yang bisa memberi kita masukkan.... baik itu
                        >> menyakitkan ataupun menyenangkan... daripada omong jelek dibelakang, didepan
                        >> manis (pengalaman) Sebagai guru kami selalu mencoba untuk memperbaiki cara,
                        >> tehnik, kemampuan atau apapun yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
                        >> pembelajaran ... mungkin cara dan aturan yang kami ketahui tidak dapat
                        >> menyenang semua pihak. untuk itu diperlukan kerja sama orang tua dan
                        >> guru... untuk kesalahan dalam penilaian yang benar disalahkan ataupun
                        >> sebaliknya yang salah dibenarkan untuk pelajaran yang pasti ( matematika ).
                        >> bila ada komplain dari orang tua, guru pasti akan memperbaiki, (pengalaman
                        >> sesama guru disekolah kami). dan kami lebih senang bila hal itu terjadi...
                        >> jadi kami bisa koreksi diri ternyata kami masih perlu belajar teliti atau
                        >> belajar lagi pelajaran itu sehingga tidak ada kesalahan lagi.untuk hal yang
                        >> lain seperti PBB. saat pelajaran apa guru ibu bertanya... bila saat olah
                        >> raga atau
                        >> pelajaran yang berhubungan dengan jasmani jawaban ibu betul, tapi pada
                        >> saat pelajaran IPS jelas itu salah.. ( sepengetahuan saya yang sedikit
                        >> ini)di SD untuk ayam selama ini memang dibedakan bunyinya, kukuruyuk untuk
                        >> ayam jantan dan petok - petok untuk ayam betina. aneh ya ... tapi biasanya
                        >> guru kelas 1 dan kelas 2 ( negeri tapi swasta saya tidak tahu ) tidak
                        >> terlalu saklek dalam penilaian yang penting mendekati dan masuk akal ya
                        >> dapat nilai kami selalu belajar ibu/bapak. Baik dari pengalaman, saran,
                        >> kritik ataupun cacian dari orang tua, dan sumber lain... ( ya milis ini
                        >> termasuk bahan belajar saya, )
                        >> salam
                        >>
                        >


                        [Non-text portions of this message have been removed]
                      • tantri suryokusumo
                        Halo Bu Sunarsih, Saat sekolah saya termasuk anak yg sulit . Misal: sampai kls 4 hrs terus ditemani ortu/caregiver krn cengeng, tdk menonjol scr akademik/pun
                        Message 11 of 19 , Jun 2, 2010
                        • 0 Attachment
                          Halo Bu Sunarsih,

                          Saat sekolah saya termasuk anak yg "sulit".
                          Misal: sampai kls 4 hrs terus ditemani ortu/caregiver krn cengeng, tdk
                          menonjol scr akademik/pun fisik + sering berperilaku/ berpendpt beda dg anak
                          lain, dsb.

                          Kebetulan ortu saya sangat perhatian. Mrk jg sangat cerdas berkomunikasi dg para
                          guru di sekolah, shg saya bisa lebih nyaman bersekolah & para guru (seingat saya) tdk tersinggung dg masukkan mrk.Saya ingat betul bagaimana usaha ayah & ibu  tahap demi tahap
                          mengembalikan kepercayaan diri anaknya yg cengeng & low self esteem ini untuk bisa gabung dg siswa lain
                          & juga dg guru serta staf sekolah. Mulai dr memasukkan ke berbagai ekskul sampai mengkursuskan di luar sekolah (spy saya menemukan apa yg saya suka & bisa lebih gaul) Kalau bukan krn ortu saya yg bisa memotivasi (bukan membujuk dg iming2
                          hadiah) barangkali saya tdk bisa spt skrg.

                          Saya sependpt dg ibu bhw jika tdk ada feedback dr ortu siswa maka guru2 pun tdk bisa memperbaiki sistem belajar mengajar (makanya saat ini sbg pengajar & trainer saya senang sekali minta dievaluasi o/ mahasiswa/peserta trainingnya;)). saya rasa itu juga pendpt ortu saya dulu. Makanya mrk rela meluangkan wkt sedemikian besarnya u/ menjelaskan masalah saya ke pihak sekolah (pdhl masih ada dua anak lain yg hrs mrk urus) & mendiskusikan jln keluarnya bersama.

                          Saya ingat benar kata ayah  saat saya berkeras bhw guru saya melakukan kesalahan: "Sepanjang hidup kamu akan ketemu terus dg org2 yg tdk sependpt dengan kamu. selain belajar berani berpendpt, kita jg hrs berani menerima org lain yg berbeda dg kita."

                           Kalimat ini saya ingat ketika saya memperbaiki jawaban salah 1 guru SMP  yg marah besar krn diralat siswanya. Juga saya ingat saat saya mendebat seorang profesor yg pitch suaranya sdh meninggi saat ujian krn saya argumentasi penjelasannya, serta saya usahakan ingat saat berdebat dg mantan2 bos  saat saya bekerja di bbrp perusahaan media. Sampai sekarang beda pendpt dg org lain tentunya masih sering saya temui sambil terus belajar mampu  mendengarkan pendpt2 yg berbeda tsb.

                           Memang kunci keberhasilan ortu saya disebabkan banyak hal. Krn mereka a/ orgtua yg top abis (ini bukan krn saya anaknya lo, krn tmn2 saya pun "tergila-gila" dg ortu saya yg sangat demokratis dlm mendidik  anak2nya :p), Krn saya cocok dg "terapi" yg dilakukan orgtua saya, dan tentunya jg sangat didukung o/ para guru yg pernah mengajar saya.

                          Saya rasa faktor orgtua, anak & guru dlm pendidikan memang mrpkan sebh sistem yg nggak bisa dipisah-pisah. Tapi kembali ke inti kalimat almarhum ayah saya: berbeda itu biasa, asal kita bisa mendiskusikannya bersama. Kalau tetap berbeda jg, ya hormatilah pendapat org yg berbeda itu :) termasuk dlm hal memilih metode belajar mengajar :)



                          Tantri Suryokusumo

                          http://serampangan-bermedia.blogspot.com

                          --- On Wed, 6/2/10, Sunarsih Samidjan <su_sih@...> wrote:

                          From: Sunarsih Samidjan <su_sih@...>
                          Subject: Re: Bls: [sekolahrumah] artikel: Bu Guru, Belajar Dong!
                          To: sekolahrumah@yahoogroups.com
                          Date: Wednesday, June 2, 2010, 5:36 AM







                           









                          Enak ya punya Orang tua murid yang bisa memberi kita masukkan.... baik itu menyakitkan ataupun menyenangkan... daripada omong jelek dibelakang, didepan manis (pengalaman) Sebagai guru kami selalu mencoba untuk memperbaiki cara, tehnik, kemampuan atau apapun yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran ... mungkin cara dan aturan yang kami ketahui tidak dapat menyenang semua pihak. untuk itu diperlukan kerja sama orang tua dan guru... untuk kesalahan dalam penilaian yang benar disalahkan ataupun sebaliknya yang salah dibenarkan untuk pelajaran yang pasti ( matematika ). bila ada komplain dari orang tua, guru pasti akan memperbaiki, (pengalaman sesama guru disekolah kami). dan kami lebih senang bila hal itu terjadi... jadi kami bisa koreksi diri ternyata kami masih perlu belajar teliti atau belajar lagi pelajaran itu sehingga tidak ada kesalahan lagi.untuk hal yang lain seperti PBB. saat pelajaran apa guru ibu bertanya... bila saat olah raga
                          atau

                          pelajaran yang berhubungan dengan jasmani jawaban ibu betul, tapi pada saat pelajaran IPS jelas itu salah.. ( sepengetahuan saya yang sedikit ini)di SD untuk ayam selama ini memang dibedakan bunyinya, kukuruyuk untuk ayam jantan dan petok - petok untuk ayam betina.  aneh ya ... tapi biasanya guru kelas 1 dan kelas 2 ( negeri tapi swasta saya tidak tahu )  tidak terlalu saklek dalam penilaian yang penting mendekati dan masuk akal ya dapat nilai kami selalu belajar ibu/bapak. Baik dari pengalaman, saran, kritik ataupun cacian dari orang tua, dan sumber lain... ( ya milis ini termasuk bahan belajar saya, ) 

                          salam >







                          [Non-text portions of this message have been removed]
                        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.