Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [sdmmigas] PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA

Expand Messages
  • Mona
    Masih banyak orang yang disekeliling kita yang tidak berkesempatan seperti kita (bisa kerja dengan upah yg cukup). Sejak aku diminta bantuan oleh keluarga
    Message 1 of 6 , Jul 1, 2009
      Masih banyak orang yang disekeliling kita yang tidak berkesempatan seperti kita (bisa kerja dengan upah yg cukup).
       
      Sejak aku diminta bantuan oleh keluarga untuk membantu menangani sebuah Yayasan yang melayani panti asuhan dan panti werdha, disitulah mataku melihat dan hatiku terenyuh.  Mata anak-anak panti itu begitu polos (yang kecil-kecil ya umur sekitar 3 s/d 11 tahunan lah, yg remaja ya...seperti anak kebanyakan udah kenal dunianya), dengan riang mereka menjalani hidup.  Problema tidak cuma untuk makan dan pakai tetapi pendidikan ya yang tidak sedikit menyedot dana.
      Untung ini diluar kota kalo di Jakarta wuahhhh ga kebayang.  Di Jakarta kita beli makan minimal Rp 5.000 sekali makan, disana Rp 10,000 dana yg diperuntukan makan sehari/perorang hehehe..... belum pendidikan mereka.  Kita hanya bantu sampai SMU, tapi aku mau memperjuangkan agar mereka sampai bangku perguruan tinggi.  Doa'in yaaa....
       
      Click Me!
       
      -------Original Message-------
       
      Date: 30/06/2009 22:20:15
      Subject: Re: [sdmmigas] PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
       

      Sangat menyentuh,.. ..tapi apa yang sudah saya anda perbuat..... rasanya terlalu kecil,..untuk mengadakan perubahan, mengangkat derajat orang miskin....paling yah sedikit sumbangan ...., ke.....??
       
      "sholehan sosial"  kita perlu dipertanyakan loh ....., daripada di pertanyakan nanti,....?? ?
       
       


      From: Darwin Chalidi <dchalidi@yahoo. com>
      To: SDM Migas <sdmmigas@yahoogroup s.com>
      Sent: Tuesday, June 30, 2009 7:05:30 PM
      Subject: [sdmmigas] PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA


      Apa model begini mau di Lanjutkan ????

      PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA Salemba, Warta Kota

      PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong
      mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.. Penumpang kereta
      rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6).
      Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn)
      tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
      memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa
      KRL.

      Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas
      dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban
      kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas
      karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa
      Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

      Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari
      terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke
      Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke
      puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
      meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan
      botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar
      bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di
      Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan
      sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan
      kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai
      hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

      Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa
      menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
      Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam
      gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
      siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
      termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
      kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai
      harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
      Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat
      itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
      menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap
      di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

      Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
      Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
      jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan
      terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang
      Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono
      menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

      Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang
      menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh
      Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor
      spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung
      berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi
      menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang
      ambulans hitam.

      Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
      Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
      permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
      terbujur kaku.

      Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya
      telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh
      adiknya.

      Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut,
      lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono
      harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung
      sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan
      uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di
      RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan
      Muriski di perjalanan.

      Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
      benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
      karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi
      perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
      seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
      Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
      tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
      Indonesia,” ujarnya.

      Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa
      itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan
      kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini,
      pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin
      kata Wardah.


       
      FREE Animations for your email - by IncrediMail! Click Here!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.